Google+

Jumat, 30 April 2010

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah sangatlah penting dalam kaitannya dengan hubungan umat dengan Tuhan. Sering juga umat menanyakan bangunan/pelinggih apa saja yang mesti dibuat dalam pekarangan rumah tersebut. Menurut beberapa sumber, bangunan/palinggih yang harus ada didalam pekarangan rumah adalah sanggah dan tugu Pangijeng/penunggun karang. Berikut penjelasannya;

Sanggah/Merajan

Secara konvensional, pendirian suatu bangunan, apakah nantinya disebut rumah ataupun palinggih telah diatur sedemikian rupa di lontar asta dewa, asta kosala-kosali dan asta bhumi. Jika mengacu pada petunjuk lontar tersebut, maka pembagian peruntukan lahan selalu berpijak pada ajaran tri hita karana, dimana akan disediakan lahan untuk menghubungkan diri dengan tuhan (uttama mandala) dalam bentuk pendirian sanggah/merajan. Lahan untuk menghubungkan dengan antar sesama (madya Mandala) dalam bentuk perumahan. Dan lahan untuk berinteraksi dengan alam lingkungan (nista mandala) dalam bentuk teba lengkap dengan tanaman dan ternak peliharaan.

Pitra puja yaitu pemujaan kepada leluhur merupakan kewajiban bagi umat hindu sebagai pelaksanaan ajaran pitra yadnya dan erat kaitannya dengan adanya pitra rna.

Secara fisik, terutama bagi umat hindu di bali dan sekarang sudah pula dibawa konsepnya di luar bali, wujud nyatu ditandai denga dari pitra puja itu pendirian sanggah/merajan. Merajan inilah yang berfungsi sebagai tempat suci memuja roh suci leluhur yang telah menjadi dewa pitara (sidha dewata).

Diawal pembuatan sanggah, banyak umat yang menggunakan pepohonan, terutama pohon dapdap yang dipercayai sebagai taru sakti. Sanggah dari pohon dapdap ini sering juga sering disebut sanggah turus lumbung. namun sejalan dengan pertumbuhan ekonomi maka didirikanlah sanggah permanen. Mengenai batasan waktu penggunaan turus lumbung memang secara mutlak tidak ada ketentuannya. sebab sesuai dengan sifat ajaran agama hindu yang luwes, pengalamannya selalu dikembalikan kepada umat yang bersangkutan, Terutama masalah kemampuan umat untuk membuat sanggah yang permanen atau tidak.

Menurut suratan lontar siwagama dengan tegas menyatakan bahwa setiap keluarga (hindu) dianjurkan untuk mendirikan sanggah kemulan sebagai perwujudan ajaran pitra yadnya yang berpangkal pada pitra rna, selanjutnya di dalam lontar purwa bhumi kemulan ditambahkan bahwa yang distanakan atau dipuja di sanggah kemulan itu tidak lain adalah dewa pitara atau roh suci leluhur.

Dengan berpijak pada 2 lontar diatas, jelas bahwa syarat minimal untuk membangun tempat suci di sebuah rumah tangga adalah adanya bangunan/palinggih kamulan yang secara fisikmerupakan bangunan merong telu (memiliki tiga ruangan). Namun menurut lontar asthabhumi, palinggih lengkap untuk tempat suci keluarga adalah padma sari, kemulan , taksu dan anglurah plus jika memungkinkan piyasan. Hanya saja dalam prakteknya padmasari tidak selalu didirikan.

Tetapi bagi masyarakat perantauan untuk tetap memelihara hubungan kekrabatan dengan keluarga induk, disamping dengan lahan memang sempit bias mendirikan palinggih padmasari saja.

Padmasari
adalah suatu bangunan/palinggih yang ditempatkan di timurlaut dimana pada bagian diatasnya dibuat terbuka dan pada bagian tabing mahkota dipahat lukisan/relief hyang acintya. Fungsi padmasari adalah sebagai tempat pengayatan (pemujaan) Hyang Widhi dan bhatara-bhatari. Dengan demikian Padmasari selain amat cocok bagi keluarga dengan lahan sempit, yang penting lagi wujud bakti kepada leluhur tetap bias dilaksanakan.

Sanggah kemulan
merupakan tempat berstananya bhatara hyang guru, yang juga merupakan tempat pemujaan/pengayatan Tri Murti. Ini sesuai dengan bunyi mantra saat muspa di hadapan rong tiga; “om brahma wisnu iswara dewam……” selain itu Fungsi sanggah kemulan adalah sebagai tempat suci untuk memuja Bhatara-bhatari leluhur atau dewa pitara, sedangkan kedudukanny sebagai pura kawitan yaitu tempat suci pemujaan dimana para penyungsungnya terikat dalam satu garis keturunan.

Selain sanggah kemulan, yang termasuk ke dalam pura kawitn yaitu pura paibon, panti dan pedarman. Bedanya, lingkup penyungsung sanggah kemulan lebih terbatas yaitu keluarga inti terdekat yang masih serumah atau senatah (beberapa rumah dalam satu halaman).

Sedangkan pura kawitan yang lain, dalam lontar siwagama disebutkan, apabila keluarga inti sudah berkembang menjadi 10 keluarga hendaknya mendirikan pelinggih hedong pertiwi, jika sudah menjadi 20 keluarga hendaknya mendirikan palinggih ibu, dan kalau sudah mencapai 40 keluarga membangun pura panti. Akhirnya pura kawitan (yang fungsinya sebagai pemersatu dari keluarga – keluarga yang satu sama lain memiliki ikatan keturunan meski berasal dari keturunan jauh sekalipun) disebut pura pedharman. Di pura pedharman inilah seseorang akan mengetahui bahwa walaupun dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak saling mengenal, ternyata mereka berasal dari keturunan yang sama. Ibarat ranting – ranting pohon yang tidak saling bersentuhan , tetapi kesemua ranting berpangkal pada akar yang sama (satu).

Palinggih Pangijeng/Panunggun Karang
Konsepsi ketuhanan dalam agama hindu membenarkan adanya pemujaan ista dewata yaitu manifestasi hyang widhi yang diinginkan kehadirannya dalam pemujaan pada suatu palinggih dan atau pura. Oleh karena itu, maka apa yang disebut tugu atau penunggu karang sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari konsep tersebut. Sesuai dengan namanya, fungsi panunggun karang adalah sebagai penjaga karang atau palemahan beserta penghuninya agar senatiasa berada dalam lindunganNya, tentram, rahayu sekala niskala.

Mengenai pendirian palinggih yang disebut dengan tugu dengan berbagai jenisnya sesuai dengan lontar asta dewa, asta kosala-kosali dan asta bhumi, ternyata tidak selalu harus berada di lahan uttama mandala.

Setelah dicermati petunjuk lontar diatas, diketahui bahwa terdapat 5 jenis tugu;
yang apabila bentuk lahan mengarah timur-barat makan penempatannya 2 jenis tugu di lahan uttama mandala (areal sanggah/merajan) yaitu tugu penyarikan, di posisi tenggara menghadap ke barat, dan tugu anglurah sedan dengan posisi di baratlaut menghadap keselatan.
Di lahan madya mandala, juga terdapat 2 jenis tugu, yaitu tugu ajaga-jaga berkedudukan di pintu masuk bagian kanan menghadap ke barat dan tugu (surya) pangijeng natah berkedudukan di tengah-tengah natah (pekarangan) menghadap kebarat/selatan.
Dan akhirnya di lahan nista mandala terdapat jenis tugu yaitu tugu panunggun karang terletak di barat laut menghadap ke selatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar