Google+

Jumat, 30 April 2010

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.

Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adan inilah agama.

Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.

Pengetahuan Wariga adalah pengetahuan tentang Dewasa (Dewa = Jiwa = Cahaya = Sinar = Teja), yaitu pengaruh cahaya benda-benda angkasa terutama bintang. Surya Koti berarti ratusan ribu bintang, matahari, melalui sinar yang dipancarkannya dari angkasa raya, dapat mempengaruhi kehidupan mahluk dunia, terutama kehidupan manusia.

Pengetahuan tentang bintang, yaitu Ilmu Falak atau Astronomi bersumber dari India, diajarkan oleh para yogi yang sudah memiliki pandangan tajam, pandangan suci.

Kitab-kitab yang bersumber dari pustaka suci Weda, antara lain: Adi Parwa, Bhawana Mabah, Sundari Bungkah, menerangkan bahwa sebelum ada matahari, bulan, dan bintang serta benda-benda langit lainnya semuanya hanya berwujud kabut, dan pada zaman itu kehancuranlah yang menguasai semuanya, dan zaman itu disebut zaman pralaya.

Unsur-unsur atau elemen-elemen yang disebut Panca Mahabutha, yaitu pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa, semuanya hancur dan mengabut (menjadi kabut serta manunggal dan bersenyawa) sehingga terjadilah letusan-letusan yang dahsyat tak berkeputusan, karena unsur teja memiliki kekuatan panas bersuhu +/- 6000 derajat Celsius, menghancurkan serta menghanguskan keempat zat-zat lainnya.

Dapat dibayangkan seberapa deras aliran kabut yang dalam keadaan bergolak pada zaman mahapralaya itu. Para ahli berpendapat bahwa sebelum terjadi mahapralaya sudah pernah ada dunia, bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya. Setelah sekian lama terjadi masa pralaya, kemudian masing-masing elemen mengadakan hubungan sejenis, sehingga terjadilah lima kelompok teja yang menciptakan surya (yang dalam ajaran Hindu dipakai sampai sekarang sebagai saptawara). Dalam pada itu keempat unsur-unsur zat lainnya dan sedikit campuran unsur teja memisahkan diri. Panasnya makin lama makin berkurang, dari kabut yang panas akhirnya menjadi kabut yang dingin kemudian mencair, memadat, dan akhirnya terciptalah misalnya bumi, planet-planet, dan satelit-satelit lainnya.

Karena unsur teja selalu ingin menuju surya, yaitu kumpulan teja, sedangkan keempat unsur lainnya selalu menjauhkan diri dari teja maka terjadilah gerakan tarik menarik yang mengakibatkan putaran kadang-kadang letusan sampai sekarang (terjadinya meteor).

Di lain pihak, karena planet bumi beredar terjadilah perubahan iklim, perubahan musim. Iklim dan musim berbeda-beda di tiap bagian dunia dan tempat menurut letak atau jarak antara bumi dengan matahari.

Pada waktu setelah dunia (bumi) ada isinya terutama mahluk hidup yang paling utama adalah manusia, menurut ajaran Hindu pada pustaka suci menyebutkan terjadinya dua zaman, yaitu zaman Ketu dan zaman Rau, yang kisahnya sebagai berikut:
Tersebutlah Sanghyang Sandhi Reka beryoga, maka terciptalah Sanghyang Ekajalarsi. Kemudian Sanghyang Ekajalarsi beryoga maka terciptalah Dwi Sanghyang, yaitu Sanghyang Ketu dan Sanghyang Rau.
Sanghyang Ketu beryoga maka terciptalah yang serba terang segala yang bersifat Dewa, segala yang baik, utama, dan mulia. Dharmatattwa dan aksara suci juga segala tattwa wariga.
Berbeda dengan yoganya Sanghyang Rau, yang diciptakannya adalah segala yang gelap, semua yang bersifat bhuta, bhuti yaksa, yaksi, sarwa dengen, dan adharmatattwa.
Ternyata ciptaan Sanghyang Ketu dan Sanghyang Rau tentang sifat-sifat ciptaannya itu sangat berbeda dan berlawanan, maka alam semesta inipun dipenuhi oleh sifat-sifat yang baik dan buruk, benar dan salah, terang dan gelap.
Hal ini berjalan terus silih berganti dengan tak berkeputusan sepanjang zaman dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia misalnya pengaruh waktu siang dan malam. Ternyata bahwa Sanghyang Ketu dan Sanghyang Rau memegang peranan sangat penting selama peredaran waktu dan zaman.
Tiap-tiap zaman lama waktunya berbeda-beda, zaman besar waktunya lama sekali, zaman kecil waktunya sangat singkat sedangkan zaman madya lama waktunya berada diantara zaman besar dan zaman kecil, misalnya lingkaran siang dan malam lamanya 24 jam, triwara lama waktunya tiga hari dan lima malam, dan demikian seterusnya.
Penting untuk dimaklumi bahwa sifat atau watak dari berbagai zaman (zaman besar atau zaman kecil) adalah sama saja, sama-sama mengandung unsur-unsur baik dan buruk.
Menurut astronomi India, beberapa planet dijadikan nama-nama hari:
Planetdi Indiadi Balidi Indonesia
MatahariRaviRedite/ RadityaMinggu
BulanCandraComa/ SomaSenin
MarsKuja/ ManggalaAnggaraSelasa
MercuriusBhudaBudaRabu
JupiterGuru/ BrahaspatiWraspatiKamis
VenusBhrigu/ SukraSukraJumat
SaturnusSaniSaniscaraSabtu

Nama-nama sasih juga mengambil pedoman dari nama-nama kelompok bintang yang disebut Naksatra. Dari 27 kelompok, 12 diantaranya dijadikan nama sasih (bulan):

  1. Sravana,
  2. Bhadrapada,
  3. Asvina,
  4. Kartika,
  5. Margasira,
  6. Pausha,
  7. Magha, 
  8. Phalguna,
  9. Chaitra,
  10. Vaisakha,
  11. Jyestaha,
  12. Asadha.

Diperkirakan pada abad IV atau V Masehi di India telah tersusun buku-buku mengenai astronomi/ astrologi yang disebut Panca Siddhanta:

  1. Surya Siddhanta
  2. Pitamaha Siddhanta
  3. Wasistha Siddhanta
  4. Pauli Siddhanta
  5. Romaka Siddhanta

Di samping Panca Siddhanta, ada lagi Arya Siddhanta, Wyasa Siddhanta, Atri Siddhanta, Parasara Siddhanta.Demikianlah perkembangan dan kemajuan astronomi/ astrologi (Jyotisa Wedangga) yang sejak ribuan tahun sebelum Masehi menyebar ke seluruh pelosok dunia (banyak sekali orang-orang manca negara yang mempelajari masalah Wariga di Bali).

Bhagawan Garga-lah pada mulanya sebagai pengemban dan penyebar ilmu ini. Konon beliau pernah memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang astronomi/ astrologi pada abad I sebelum Masehi. Oleh karena Jyotisa Wedangga itu merupakan pelengkap Weda yang berarti tak dapat dipisahkan dari agama, maka dalam penyebarannya selalu bersama-sama dengan penyebaran agama Hindu. Pengaruh Hindu datang ke Indonesia diperkirakan pada permulaan tarih Masehi.

Maka terjadilah perpaduan kebudayaan Hindu dengan Indonesia termasuk astronomi/astrologinya yang ada di Bali dikenal dengan sebutan Wariga. Mungkin nama lengkapnya adalah Wariga Dewasa, lalu disingkat dengan sebutan Wariga saja.

Di Bali ada juga lontar Wariga yang bernama Bhagawan Garga. Di samping itu banyak lontar-lontar Wariga di Bali yang isinya sesuai dengan astronomi/astrologi Hindu. Suatu bukti bahwa Wariga di Bali pada umumnya banyak mendapat pengaruh Hindu.

Maka dalam pendidikan Agama Hindu mengajarkan tiga kerangka dalam agama Hindu, yaitu Tattwa, Susila, Upacara. Upacara Agama Hindu meliputi pengetahuan tentang yadnya, hari-hari suci atau pedewasan, orang-orang suci, bangunan-bangunan suci dan sebagainya. Pengetahuan tentang hari-hari suci atau pedewasan, hal ini dapat dipelajari melalui pengetahuan Wariga.

Pada hakekatnya pengetahuan Wariga itu, bukan saja mempelajari tentang hari-hari suci (baik) untuk kepentingan upacara, tetapi juga mempelajari tentang pesasihan, pawukon, wawaran, dadawuhan, tanggal dan panglong, pakarman dan segala sesuatu yang diakibatkan oleh sifat atau pengaruhnya bintang-bintang.

Wariga, menurut arti kata bahasa ialah: Wari = wara = uttama, wari = wara = warah = petunjuk = penuntun. Ga = gerak = jalan = perbuatan.

Menurut kamus Bali, wariga adalah tentang perhitungan baik buruknya hari, sedangkan menurut kamus Jawa Kuna – Indonesia karya L. Mardiwarsito, wariga adalah juru nujum, bertugas mencari hari/saat yang baik untuk berbagai keperluan di desa.

Ada pula berpendapat lain, bahwa wariga adalah suatu ilmu tentang baik buruknya bagi suatu pekerjaan kegiatan atau yadnya, agar memperoleh keselamatan segala upacara yang kita lakukan.

Wewaran dalam lontar Bhagawan Garga

Mengenai mitologi (cerita) lahirnya wewaran dikemukakan dalam Lontar Bhagawan Garga. Dalam Lontar tersebut di atas diuraikan kelahiran wuku dan juga menceritakan para Dewa dan Rsi adalah berwujud menjadi wewaran sebagai berikut :
Hana ta dewa anglayang, guru tunggal, ingaran sang hyang licin, suksma nirmala, endah snenya maring sunya, pantaranya rumawak tuduh, yan ta sang hyang licin, rumaga rama tan sahayebu. Mayoga sang hyang licin, hana bhagawan bregu, mayoga bhagawan bregu hana rwa mimitan, nga, rahayu mimitan, rupanya kadi tunggal, nga, dewakala, rahu mawak ketu lwirya: sang hyang rahu hangadakna, kala kabeh, sang hyang ketu ika hamijil kna dewakabeh, mwang wewaran (Transkripsi Lontar Bhagawan Garga, 3-4)
Terjemahan :
Ada tersebut sinar suci melayang-layang, beliau itu dewa suci yang disebut Sang Hyang Licin, wujudnya sangat gaib dan sangat suci, bermacam-macam wujudnya di alam yang kosong ini, itulah sebabnya berwujud Sang Hyang Tuduh, Ia itulah juga Sang Hyang Licin, beliau yang ada pertama kali, tanpa ayah dan ibu. Beryogalah Sang Hyang Licin, lahirlah dua hal yaitu positif dan negatif, wujudnya seperti tunggal (satu) adalah Dewa Kala; yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Sang Hyang Rahu menciptakan semua Kala, Sang Ketu itu menciptakan para Dewa dan Wewaran.
Selanjutnya diuraikan bahwa
"Sang Hyang Licin sebenarnya menjadi Ekawara yaitu Luang. Kemudian lahir wuku Sinta dan Sungsang maka ada Dwiwara yaitu Menga, Pepet; inilah yang menyebabkan adanya baik buruk (ala ayu). Sang Hyang Menga menjadi siang adalah Sang Hyang Rahu; Hyang Pepet menjadi malam adalah Sang Hyang Ketu. Ada wuku Tambir lahirlah Triwara yaitu Dora, Waya, Byantara. Sesungguhnya Dora adalah Kala, Waya adalah Manusa dan Byantara adalah Dewa. Ada wuku Kulawu lahirlah caturwara yaitu Sri, Laba, Jaya, Mandala; sesungguhnya adalah Batari Gangga, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Sang kara, Sang Hyang Kancanawidhi.
Ada wuku Watiga lahirlah Pancawara, yaitu : Umanis, Pahing. Pon, Wage, Kliwon. Sebenarnya adalah Sang Hyang Iswara Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Mahadewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Siwa. Ada wuku Pahing lahirlah Sadwara yaitu: Tungleh Aryang, Urukung, Paniron, Was, Maulu. Sesungguhnya Tungleh adalah Antabuta; Aryang adalah Padabuta; Urukung adalah Anggabuta; Paniron adalah Malecabuta; Was adalah Astabuta; Maulu adalah Matakabuta. Ada wuku Bala lahirlah Saptawara yaitu: Radite, Coma, Anggara Buda, Wraspati, Sukra, Sanicara; sebenarnya adalah Sang Hyang Banu, Hyang Candra, Sang Manggala, Hyang Buda, Hyang Wraspati, Bhagawan Sukra, Dewi Sori. Ada wuku Kulantir, lahirlah Astawara yaitu: Sri, Indra, Guru, yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma. Sebenarnya adalah Batari Giriputri, Hyang Indra, Sang Hyang Guru, Sang Hyang Yama, Hyang Ludra, Hyang Brahma, Hyang Kalantaka, Sang Hyang Amerta. Ada wuku langkir lahirlah Sangawara yitu: Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan, Tulus, Dadi. Sebenarnya Buta Urung; Jangur adalah Buta Pataha; Gigis adalah Buta Jingkrak; Erangan adalah Buta Jabung; Urungan adalah Buta Kenying; Tulus adalah Sang Hyang Saraswati; Dadi adalah Sang Hyang Dharma.
Ada wuku Uye, lahirlah Dasawara yaitu Pandita, Pati, Suka Duka, Sri Manuh, Manusa, Raja, Dewa, Raksasa. Sebenarnya Sang Hyang Aruna adalah Pandita; Kala adalah Pati; Smara adalah Suka; Durga adalah Duka; Sang Hyang Basundari adalah Sri; Kalalupa adalah Manuh; Sang Hyang Suksmajati adalah Manusa; Kalatangis adalah Raja; Sang Hyang Sambu adalah Dewa; Sang Kalakopa adalah Raksasa. (Transkripsi Lontar Bhagawan Garga, 4-5).

Berdasarkan uaraian kelahiran wewaran tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa semua wewaran itu adalah ciptaan Sang Hyang Widhi melalui yoganya. Pada mulanya beliau disebut Sang Hyang Licin yang beryoga lahirlah Bhagawan Bregu. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Sang Hyang Rahu beryoga lahirlah para Kala dan Sang Hyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran. Maksudnya adalah Sang Hyang Widhi itu tunggal tidak ada duanya yang diwujudkan dengan Ekawara adalah Luang. Luang artinya kosong. Pada mulanya belum ada apa-apa atau alam ini kosong; yang ada hanya kekosongan (luang), itu adalah sebenarnya perwujudan Sang Hyang Widhi yang tunggal disebut juga Paramasiwa dalam Saptaloka beliau berkedudukan pada Satyaloka. Pada tingkat ini beliau suci nirmala belum terpengaruh oleh apapun juga sehingga disebut dengan Nirguna Brahma. Dari yoganya Sang Hyang Widhi ada Bhagawan Bregu, beliau ada pada tingkat Mahaloka, saat itu Sang Hyang Widhi sudah terpengaruh oleh hal-hal maya. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Pada tingkatan Mahaloka Sang Hyang Widhi diberi gelar Sadasiwa yang disebut dengan Saguna Brahma karena sudah terpengaruh oleh maya. Itulah sebabnya muncul dua kekuatan Cetana Acetana, Purusa Predana atau Sang Hyang Ketu dan Sang Hyang Rahu. Berpadunya dua kekuatan ini pada jenjang Siwatama yang disebut dengan Gunakarya barulah muncul ciptaan yaitu Sang Hyang Rahu beryoga lahir para Kala, Bhuta dan Sang Hyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran, demikian seterusnya.
 

Urip Wewaran dalam Lontar Bhagawan Garga

Cerita yang menjadi dasar adanya urip/neptu wewaran berawal dari adanya sebuah peperangan dan proses penghidupan kembali. Lontar Bhagawan Garga juga menyebut tentang hurip/neptu dari tiap-tiap wewaran yang ada sebagai berikut.
Kunang ikang wewaran kabeh sakeng yoganira sang hyang ketu, ika wak dewa kabeh ri mangke sang hyang ketu. Mwang sang hyang rahu kinon denira sang hyang licin magawe ana abeking trimandalanya, iwasira, awargadesa ring wayabya pranahnya, tan ana madani ikang awarga wayabya teja kadi surya koti. Kinon taya kabeh mwang dewa kabeh tekeng wewaran agrebat desa ri wayabya, neher sira sang hyang sangkara jumunjung ring wayabya. Ika ingadu kala lawan dewa, sang hyang rahu, sang hyang ketu, angadu prangira kabeh arebat awarga wayabya. Rame kang prang silih suduk, nyakra, enak adameng kasaktennya. Pejah tang kala kabeh, ingurip mwah denira sang hyang adikala, sidhi yoganya. (Transkripsi Lontar Bhagawan Garga,7).
Terjemahan :
Demikianlah tentang wewaran semuanya lahir dari yoganya Sang Hyang Ketu, begitu juga para Dewa ada karena Sang Hyang Ketu. Sedangkan Sang Hyang Rahu disusruh oleh beliau Sang Hyang Licin untuk mengadakan ciptaan yang memenuhi Trimandala, lalu beliau menjadi warga desa yang bertempat di arah Wayabya (Barat laut), tidak akan menyaingi keluarga desa di wayabya, bersinar seperti matahari sebanyak sepuluh ribu. Diperintahkannya semua para dewa dan wewaran untuk menyerang desa yang ada di wayabya, lalu beliau Sang Hyang Sangkara berdiri (ada) di wayabya. Itu di adu oleh para kala melawan para dewa, Sang Hyang Rahu, Sang Hyang Ketu, sebagai pemimpin perang menyerbu seluruh warga yang ada di wayabya. Sangatlah seru pertempuran itu saling tusuk menusuk, panah memanah, semua mengeluarkan kesaktiannya, matilah kala semuanya, kehidupan kembali oleh Sang Hyang Adikala yang telah berhasil yoganya.

Selanjutnya,
setelah para kala hidup semuanya, lagi terjadi peperangan yang sangat dasyat, sehingga akibatnya banyak diantara dewa, wewaran terbunuh menjadi korban perang, tetapi akhirnya juga kembali dihidupkan. Oleh karena Kala dihidupkan hanya sekali saja, itulah sebabnya Sang Hyang Kala mempunyai hurip 1 (satu). Hyang Sangkara dibunuh oleh Kala Mretyu sekali, itulah sebabnya sehingga mempunyai urip 1 (satu). Batara Siwa dibunuh oleh Kala Ekadasabumi delapan kali, itu sebabnya Kliwon mempunyai urip 8 (delapan), Hyang Iswara dibunuh oleh Kala Sanjala lima kali, oleh karenanya Umanis mempunyai urip 5 (lima).

Hyang Brahma terbunuh oleh Kala Wisesa sembilan kali, itulah sebabnya Pahing mempunyai urip 9 (sembilan), Hyang Mahadewa dibunuh oleh Kala Agung tujuh kali, karenanya Pon mempunyai urip 7 (tujuh). Hyang Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka empat kali, oleh karena itu Wage mempunyai urip 4 (empat). Demikian pula Saptawara, Hyang Aditya dibunuh oleh Kala Limut lima kali, karenanya Radite mempunyai urip 5 (lima). Hyang Candra terbunuh oleh Kala Angruda empat kali, karenanya Coma mempunyai urip 4 (empat). Sang Manggal dibunuh oleh Kala Enjer tiga kali, oleh sebab itu Anggara mempunyai urip 3 (tiga).sang Buda terbunuh oleh Kala Salongsongpati tujuh kali, karenanya Buda mempunyai urip 7 (tujuh).

Sang Hyang Wraspati terbunuh oleh Kala Amengkurat delapan kali, itulah sebabnya Wraspati mempunyai urip 8 (delapan). Sang Hyang Kawia terbunuh oleh Kala Greha enam kali, oleh karenanya Sukra mempunyai urip 6 (enam), Dewi Sori terbunuh oleh Kala Telu sembilan kali, itulah sebabnya Saniscara mempunyai urip 9 (sembilan). Begitu pula Astawara, Hyang Giriputri dibunuh oleh Kala Luang enam kali, karenanya mempunyai urip 6 (enam), Hyang Guru dibunuh oleh Kala Durgastana delapan kali, oleh sebab itu Guru mempunyai urip 8 (delapan), Hyang Yama dibunuh oleh Kalantaka sembilan kali, karenanya Yama mempunyai urip 9 (sembilan). Hyang Rudra terbunuh oleh Kala Pundutan tiga kali, sehingga Ludra mempunyai urip 3 (tiga), Hyang Brahma dibunuh oleh Kala Agni tujuh kali, sehingga Brahma mempunyai urip 7 (tujuh). Hyang Kala terbunuh oleh Hyang Guru sekali, sehingga kala mempunyai urip 1 (satu). Hyang Mreta terbunuh oleh Kala Padumarana empat kali, sehingga Uma mempunyai urip 4 (empat). Lain lagi halnya Sangawara, Dangu terbunuh 5 kali. Jangur terbunuh 6 kali, Gigis terbunuh 8 kali, Nohan terbunh 1 kali (sekali). Ogan terbunuh 8 kali, Erangan terbunuh 3 kali, Urungan 7 kali. Tulus terbunuh 9 kali, Dadi terbunuh 4 kali. Itulah semuanya menjadi uripnya masing-masing. Mengenai Sadwara, Tungleh terbunuh 7 kali, Aryang terbunuh 6 kali, Urukung terbunuh 5 kali, Paniron terbunuh 8 kali, Was terbunuh 9 kali, Maulu terbunuh 3 kali Begitu pula halnya Caturwara, Hyang Angga terbunuh 4 kali, sehingga Sri mempunyai urip 4 (empat), Hyang Bayu terbunuh 5 kali, sehingga Laba mempunyai urip 5 (lima). Hyang Purusa dibunuh 9 kali, sehingga Jaya mempunyai urip 9 (sembilan), Hyang Kencanawidi terbunuh 7 kali, sehingga mandala mempunyai urip 7 (tujuh) (Transkripsi Lontar Bhagawan Garga, 8).

Wewaran dan Pangider Bhuwana dalam Lontar Bhagawan Garga

Telah disampaikan di atas cerita tentang kehidupan Wewaran berperang melawan Kala semuanya yang akhirnya dihidupkan kembali oleh Hyang Taya, itulah sebabnya semua wewaran mempunyai urip/neptu seperti telah tersebut di atas. Dari sinilah kiranya Padma Anglayang yang juga disebut dengan pengider-ngider, setiap arahnya mempunyai urip tertentu. Sehubungan dengan terciptanya alam semesta yang keadaannya sudah stabil, sempurna dan sejahtera artinya masing-masing dari benda-benda alam (Brahmanda) telah berdiri sendiri-sendiri disebut dengan Swastika sebagai lambang suci agama Hindu. Lambat laun dari Swastika itulah berkembang menjadi lukisan Padma Anglayang, artinya tunjung terbang melayang-layang di awang-awang mengedari matahari (Suryasewana). Daunnya yang delapan menjadi 8 (delapan) arah dari bumi yaitu :
  1. Purwa (Timur).
  2.  Gneya (Tenggara).
  3. Daksina (Selatan).
  4. Nairiti (Barat Daya).
  5. Pascima (Barat).
  6. Wayabya (Barat Laut).
  7. Uttara (Utara).
  8. Airsanya (Timur Laut).
Dalam Sapta loka yaitu tingkat keempat dari atas atau dari bawah Sang Hyang Widhi itu disebut Loka Pala artinya pemimpin alam. Dalam kepemimpinan ini Sang Hyang Widhi digelari bermacam-macam menurut tempat dan tugasnya, misalnya Panca Brahma, Panca Dewata, Nawa Dewata atau Dewata Sangga. Di antara gelar-gelar Sang Hyang Widhi itu di sini akan diuraikan tentang Nawa Dewata atau Dewata Sangga yang berhubungan langsung dengan Padma anglayang atau Pangider-ider sebagai berikut:
  1. Sang Hyang Iswara bertempat di Timur.
  2. Sang Hyang Maheswara bertempat di Tenggara.
  3. Sang Hyang Brahma bertempat di Selatan.
  4. Sang Hyang Rudra bertempat di Barat daya.
  5. Sang Hyang Mahadewa bertempat di Barat.
  6. Sang Hyang Sangkara bertempat di Barat Laut.
  7. Sang Hyang Wisnu bertempat di Utara.
  8. Sang Hyang Sambhu bertempat di Timur Laut.
  9. Sang Hyang Siwa bertempat di Tengah.

Terutama para Dewata Sangga inilah diperintahkan oleh Sang Hyang Widhi untuk menjaga semua penjuru mata angin dunia supaya stabil dengan memiliki urip masing-masing seperti yang telah diuraikan dalam Lontar Bhagawan garga seperti di bawah ini.
  1. Sang Hyang Iswara melawan para Kala, beliau terbunuh oleh Kala Sanjaya 5 kali, tetapi dihidupkan 5 kali oleh Sang Hyang taya. Sang Iswara diperintahkan oleh Sang Hyang Widhi mengatur memimpin alam bagian Timur. Itulah sebabnya dalam pangider-ngider arah Timur mempunyai 5 (lima).
  2. Sang Hyang Maheswara atau Sang Hyang Wraspati terbunuh oleh Kala Amengkurat 8 kali, dihidupkan oleh Sang Hyang Taya 8 kali, sehingga Sang Hyang Maheswara yang memimpin arah Tenggara mempunyai urip 8 (delapan)
  3. Sang Hyang Brahma terbunuh 9 kali oleh Kala Wiwesa, kemudian dihidupkan 9 kali oleh Sang Hyang Taya, sehingga Hyang Brahma yang diperintahkan memimpin arah Selatan mempunyai urip 9 (sembilan).
  4. Sang Hyang Rudra dibunuh 3 kali oleh Kala Pundutan dan dihidupkan juga 3 kali oleh Sang Hyang Taya, sehingga Sang Hyang Rudra memperoleh tugas dibagian Barat daya mempunyai urip 3 (tiga).
  5. Sang Hyang Mahadewa dibunuh 7 kali oleh Kala Agung, tetapi dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 7 kali, sehingga Sang Hyang Mahadewa yang ditugaskan memimpin arah Barat mempunyai urip 7 (tujuh).
  6. Sang Hyang Sangkara terbunuh oleh Kala Mretiu sekali, kemudian dihidupkan juga sekali oleh Sang Hyang Taya, sehingga Sang Hyang Sangkara yang ditugaskan memimpin arah Barat Laut mempunyai urip 1 (satu).
  7. Sang Hyang Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka 4 kali, juga dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya, sehingga Sang Hyang Wisnu yang ditugaskan menagtur atau memimpin arah Utara mempunyai urip 4 (empat).
  8. Sang Hyang Sambhu atau Sang Hyang Kawia dibunuh oleh Kala Greha 6 kali kemudian dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 6 kali, sehingga Sang Hyang Sambhu yang ditugaskan memimpin arah Timur Laut mempunyai urip 6 (enam).
  9. Sang Hyang Siwa terbunuh 8 kali oleh Kala Eka Dasabumi, dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 8 kali juga, sehingga Sang Hyang Siwayang ditugaskan di bagian Tengah sebagai proses mempunyai urip 8 (delapan). (Transkripsi Lontar Bagawan Garga, 7)

Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang menyangkut masalah “wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh” dimana kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .
didalilkan sebagai berikut:
  • Wewaran dikalahkan oleh wuku 
  • Wuku dikalahkan oleh tanggal panglong 
  • Tanggal panglong dikalahkan oleh sasih 
  • Sasih dikalahkan oleh dauh 
  • Dauh dikalahkan oleh de Ning WETUniya Sanghyang Triodasa Sakti (keheningan hati).

Untuk dapat memahami hubungan kesemuanya itu perlu mempelajari arti wewaran dan hubungannya dengan alam ghaib.

Wewaran

Yang dimaksud dengan WEWARAN adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai URIP/ NEPTU, TEMPAT, dan DEWATA yang dominan. Wewaran berasal dari kata “wara” yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dll. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya.  Semua unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan (baik-buruknya dewasa). Siklus ini dikenal misalnya dalam sistim kalender hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut;
  1. Eka wara; luang (tunggal) 
  2. Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup). 
  3. Tri wara; pasah, beteng, kajeng. 
  4. Catur wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah). 
  5. Panca wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur). 
  6. Sad wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak). 
  7. Sapta wara; redite (minggu), soma (senin), Anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), Taru (kayu), sato (binatang), patra ( tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung). 
  8. Asta wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara). 
  9. Sanga wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi). 
  10. Dasa wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), eraja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras)
Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentuk ukuran baik buruknya suatu hari. Nilai itu disebut “urip” atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan.

Wuku

Disamping perhitungan hari berdawarkan wara sistim kalender yang dipergunakan dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memilihi umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite). setiap juga mempunyai urip/ neptu, tempat dan dewa yang dominan, juga ke semuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan.
1 tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari.
Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut;
Sita, landep, ukir, kilantir, taulu, gumbreg, wariga, warigadean, julungwangi, sungsang, dunggulan, kuningan, langkir, medangsia, pujut, Pahang, krulut, merakih, tambir, medangkungan, matal, uye, menial, prangbakat, bala, ugu, wayang, klawu, dukut dan watugunung.

Tanggal dan Panglong

Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh).
Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
  1. Padewasasan menurut catur laba (empat akibat: baik – buruk – berhasil – gagal)
  2. Padewasaan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda)
  3. Padewasaan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita)
  4. Padewasaan berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong (misalnya: Amerta dewa, yaitu Sukra penanggal ping roras, baik untuk semua upacara)

Sasih

Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan, yadnya, dll. adapun pembagian sasih tersebut adalah;
  • Kedasa = Mesa = Maret – April.
  • Jiyestha = Wresaba = April – Mei.
  • Sadha = Mintuna = Mei – Juni.
  • Kasa = Rekata = Juni– Juli.
  • Karo = Singa = Juli –Agustus.
  • Ketiga = Kania = Agustus – September.
  • Kapat = Tula = September – Oktober.
  • Kelima = Mercika = Oktober – November.
  • Kenem = Danuh = November – Desember.
  • Kepitu = Mekara = Desember – Januari.
  • Kewulu = Kumba = Januari – Februari.
  • Kesanga = MIna = Februari – Maret.

Dauh/dedauhan

Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIT). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain;
  • Redite = Siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00 
  • Coma = Siang; 7.54 – 10.18, malam; 24.42 – 3.06 
  • Anggara = Siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00 
  • Buda = Siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06 
  • Wraspati = Siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30 
  • Sukra = Siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30 
  • Saniscara = Siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30
Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu:
  1. Dawuh Sekaranti (berdasarkan jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan dengan penanggal/ pangelong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh)
  2. Panca Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh)
  3. Astha Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh)
  4. Dawuh Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong)
  5. Dawuh Inti (waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca dawuh dengan Astha dawuh)
Yang dimaksud dengan WETU adalah kodrat atau kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang berdasarkan MANAH (pikiran) hening suci nirmala.

Dalam pengertian ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu.

Misalnya jika tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal sebagai korban peperangan, huru-hara, dll., maka padewasaan dapat dikecualikan dengan upacara maguru piduka, macaru ala dewasa, mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dll.

Yang dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…”

Pelaksanaan padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:
  • padewasaan sadina artinya sehari-hari, dan
  • padewasaan masa artinya berkala.
Padewasaan sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku). Semut sadulur adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon.

Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung.

Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu.

Di samping itu ada juga dewasa YANG TIDAK BAIK untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/ Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang BUKAN Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di Gni saja masih dibolehkan.
untuk refrensi silahkan simak artikel berikut ini:
demikian sekilas Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar