Google+

Senin, 09 Juli 2012

Nama Orang Bali

Nama orang Bali ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Bali dan hingga saat ini sebagian besar orang Bali masih menggunakannya.
Mungkin Anda yang bukan orang Bali bertanya-tanya; mengapa nama depan orang Bali ada kemiripan satu sama lainya. 

Orang Bali umumnya memiliki nama depan seperti I Putu, I Wayan, I Gede, I Made, I Nyoman, I Ketut, dst. Ada juga yang memiliki nama depan seperti: Ida Bagus, Cokorda, I Gusti, Anak Agung, dst. Lalu apa sebenarnya makna dari nama depan tersebut?

Nama Orang Bali pada umumnya relatif panjang. Sebagai contoh I Dewa Agung Made Mahendra. Cukup panjang bukan? Itu padahal nama intinya hanya satu kata yaitu “Mahendra”, bisa jadi lebih panjang lagi jika nama intinya lebih dari satu kata.

Lalu apa maksud dari “I Dewa Agung Made” pada nama saya?


Nama orang Bali umumnya diawali dengan sebutan yang mencirikan kasta (wangsa) dan urutan kelahiran. Sebelum saya melanjutkan, disini saya tidak ingin membahas masalah kasta yang sering menjadi pro dan kontra di masyarakat khususnya di Bali.

Jadi, nama orang Bali menjadi panjang karena di depannya ada embel-embel kasta atau nama keluarga (semacam marga) dan urutan kelahiran. Seperti saya, “I Dewa Agung” adalah mencirikan saya berasal dari kasta Ksatria. Selain itu ada juga I Gusti, I Gusti Ngurah, Anak Agung, Cokorda, I Dewa, Ida Bagus, Ida Ayu dan lainnya. Selain embel-embel kasta, ada juga kata "Made". Ini adalah ciri bahwa saya anak kedua. Jadi pada umumnya orang Bali bisa diketahui dia anak ke berapa dari nama depannya. 

Menurut "sastra kanda pat sari", Nama-nama depan khas Bali itu sejatinya tidak lebih sebagai semacam penanda urutan kelahiran sang anak, dari pertama hingga keempat, adalah sebagai berikut:
  1. Anak pertama biasanya diberi awalan “Wayan” diambil dari kata wayahan yang artinya tertua / lebih tua, yang paling matang. Selain Wayan, nama depan untuk anak pertama juga kerap kali digunakan Putu atau Gede. Dua nama ini biasanya digunakan oleh orang Bali di belahan utara dan barat, sedangkan di Bali Timur dan Selatan cenderung memilih nama Wayan. kata “Putu” artinya cucu. Sedangkan “Gede” artinya besar / lebih besar. Dan untuk anak perempuan kadang diberi tambahan kata “Luh” Contoh : I wayan budi mahendra, Ni Putu Erni Andiani, I Gede Suardika, Ni Luh Putu Santhi dll
  2. "Made" diambil dari kata madya (tengah) sehingga digunakan sebagai nama depan anak kedua. Di beberapa daerah di Bali, anak kedua juga kerap diberi nama depan "Nengah" yang juga diambil dari kata tengah. Ada juga yang menggunakan kata “Kadek” merupakan serapan dari “adi” yang kemudian menjadi “adek” yang bermakna utama, atau adik. Contoh: I Kadek Mardika, Ni Made Suasti, Nengah Sukarmi dll
  3. Anak ketiga biasanya diberikan nama depan "Nyoman" atau "Komang" yang  konon diambil dari kata nyeman (lebih tawar) yang mengambil perbandingan kepada lapisan kulit pohon pisang, di mana ada bagian yang selapis sebelum kulit terluar yang rasanya cukup tawar. Nyoman ini konon berasal dari serapan “anom + an” yang bermakna muda.  Kemudian dalam perkembangan menjadi komang yang secara etimologis berasal dari kata uman yang bermakna “sisa” atau “akhir”.  Jadi menurut pandangan hidup kami, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja.  Setalah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak. Contoh: I Nyoman Indrayudha, Ni Komang Ariyuni dll
  4. Anak keempat : diawali dengan sebutan “Ketut”, yang merupakan serapan “ke + tuut” – ngetut yang bermakna mengikuti mengikuti atau mengekor. Ada juga yang mengkaitkan dengan kata kuno Kitut yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak bonus yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bertitel Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini. Contoh: I Ketut Nugraha, Ni Ketut Sudiasih dll
Orang Bali memiliki sebuah tabu bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, di Bali disebut bikul,  di sawah, karena hal ini bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial  ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.

Bila keluarga berancana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak? Di sini ada 2 alternatif yang bisa dipakai orang tua untuk memberi nama depan pada anak kelima, keenam, dan seterusnya:
  • nama depan untuk anak kelima dan seterusnya mengulang kembali nama-nama depan sebelumnya sesuai urutannya.
  • Ada orang tua yang sengaja menambahkan kata "Balik" setelah nama depan anaknya untuk memberi tanda bahwa anak tersebut lahir setelah anak yang keempat. Contohnya: I Wayan Balik Suandra. Jadi nama depannya adalah "I Wayan Balik" yang menandakan bahwa dia adalah anak kelima, atau anak yang lahir setelah putaran 1 sampai 4.
Selama ini, kalau seseorang sudah menggunakan nama depan Made, Komang atau Ketut, bisa dipastikan sebagai orang Jaba-kecuali untuk kelompok Brahmana di desa Buda Keling, Karangasem yang masih mempertahankan tradisi pemakaian nama Ida Wayan, Ida Made dan seterusnya.

Tidak jelas benar, kapan tadisi pemberian nama depan ini mulai muncul di Bali. Yang pasti, menurut pakar linguistik dari Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U. nama depan itu ditemukan muncul pada abad ke-14 yang dipakai oleh raja Gelgel saat itu bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang kemudian dilanjutkan putranya, DalemKetut Ngulesir. Dalem Ketut Kresna Kepakisan merupakan putra keempat dari Sri Kresna Kepakisan yang dinobatkan mahapatih Majapahit, Gajah Mada, sebagai penguasa perpanjangan tangan Majapahit di Bali.

Namun, Jendra belum berani memastikan apakah hal itu berarti tradisi pemberian nama depan itu sebagai pengaruh Majapahit atau bukan. Yang jelas, hal ini terpelihara sebagai tradisi yang cukup lama. Masyarakat Bali hingga akhir abad XX masih tunduk menggunakannya hingga akhirnya menjadi semacam ciri khas untuk membedakan orang Bali dengan orang luar Bali, sebelum akhirnya secara perlahan mulai bergeser, tidak lagi ditaati secara ketat oleh orang Bali. Pengingkaran ini sejatinya telah dimulai ketika nama-nama pokok yang mengikuti nama depan orang Bali juga mulai bergeser.

Selanjutnya, untuk membedakan jenis kelamin, orang bali mengawali setiap nama dengan menambah satu kata lagi, yaitu
  • Awalan “I” untuk anak lelaki
  • Awalan “Ni” untuk anak perempuan
Tapi tidak semua kasta (wangsa) orang Bali menggunakan kata I atau Ni. Misalnya dari golongan Anak Agung semuanya akan diawali dengan kata “Anak Agung”, "cokorda" dll.

Selain menunjukkan urutan kelahiran, ada nama depan tertentu yang menunjukkan kasta di bali. Penamaan berdasarkan Kasta ini merupakan gelar warisan turun temurun yang melekat pada keturunan orang Bali yang dulunya memiliki kelas tersendiri berdasarka profesinya.
  • Nama depan seperti "Ida Bagus" untuk pria atau "Ida Ayu" untuk wanita, menunjukkan bahwa dia berasal dari keturunan kasta Brahmana di Bali. Brahmana adalah kasta dari penggolongan profesi sebagai pemuka agama; misalnya pendeta. Contohnya: Ida Bagus Dharmaputra, Ida Ayu Diah Tantri.
  • Nama depan seperti "Anak Agung", "I Gusti Agung", "Cokorda", "I Dewa", "Desak" (perempuan), "Dewa Ayu" (perempuan), "Ni Gusti Ayu" (perempuan), dan "I Gusti Ngurah", ini berasal dari kasta Ksatria yang merupakan golongan profesi dari pelaksana pemerintahan dan pembela negara. Contohnya: Anak Agung Komang Panji Tisna, Anak Agung Ayu Wulandari, Cokorda Rai Sudarta, I Dewa Putu Kardana, I Gusti Ngurah Adiana, dll.
Namun sering kali nama depan dari kasta-kasta (wangsa) di atas juga diikuti dengan urutan kelahiran. Seperti misalnya: Ida Bagus Putu Puja, Ida Ayu Komang Rasmini, I Gusti Agung Made Jayandara, Ni Gusti Ayu Putu Anggraeni, dll.

Sehingga bila ada yang bernama “I Dewa Agung Made Mahendra” itu artinya
  • I” menunjukan jenis kelamin Pria
  • Dewa Agung” menunjukan gelar Wangsa bukanlah kasta di bali
  • Made” menujukan urutan kelahiran, dalam hal ini anak ke 2
  • Mahendra” menunjukan nama.
Disamping itu ada sapaan yang biasa diberikan oleh orang yang lebih kecil kepada yang lebih tua dan sebaliknya. Diantaranya:
  • sapaan “Bli” untuk setiap pria yang ditemui. Terlepas itu benar atau salah, orang Bali tidak pernah mempermasalahkan. Mereka lebih cenderung untuk menghargai pengunjung yang berusaha “menghormati” dengan sebutan yang lebih akrab seperti “Bli”.
  • sebutan “Mbok” diberikan untuk wanita Bali.
  • Sapaan “Adi / adik” atau menyebut nama langsung diberikan kepada wanita ataupun pria yang lebih muda.
Selain itu ada panggilan akrab yang sering didengar untuk memanggil orang bali yang masih kecil, anak remaja  atau lebih muda (kira – kira belum menikah) diantaranya
  • panggilan "Gus" untuk laki-laki. Gus ini bersumber pada kata “bagus” yang artinya tampan, ganteng
  • panggilan "Gek" merupakan singkatan dari “Jegeg” yang artinya cantik, ayu.

Bila kita melihat maksud dan tujuan dari penyampaian yang tersirat dalam budaya masyarakat asli Bali, ada pelajaran yang dapat kita ambil didalamnya, yaitu kita harus selalu dapat menghormati kepada yang lebih tua. Dengan kata lain budaya merupakan pembelajaran norma-norma kehidupan yang tidak terlepas dari pada apa yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita dalam hidup di alam semesta ini.

Demikian penjelasan saya tentang arti di balik nama-nama orang Bali. Semoga bermanfaat buat rekan yang membacanya. Mohon maaf bila ada nama saudara-saudara di Bali yang kebetulan saya sebutkan sebagai contoh dalam tulisan saya ini. Apabila ada kekurangan dalam penjelasan ini, saya menerima kritik dan saran dari rekan sekalian. Terima kasih

50 komentar:

  1. Om Swastiastu

    Salam Kenal saking Rare Angon Nak Bali Belog , becik niki artikelnya, Namun Sayang sekali Keluarga Berencana menjadi bencana bagi Bali, I Nyoman I ketut, semakin sedikit saja, karena 2 anak cukup, dan yang mikirin Bali saat ini pun semakin sedikit .... Kembalilah pada KB kita yang 4 anak, sehingga semakin banyak orang Bali ... suksma salam rahayu Om Santih Santih Santih

    BalasHapus
  2. sebenarnya KB dibali itu 3 anak..
    penjelasannya bs dilihat diatas..
    tp guna tetap mengakui keberadaan pasuecan lelangit, anak ke 4 juga dimasukkan dan menjadi kebangga keluarga...
    semoga orang bali kedepan tidak meninggalkan jati dirinya karena tergoda oleh kehidupan luar yang belum tentu baik dan berfilosofi seperti dibali..

    BalasHapus
  3. artikelnya sangat menarik, saya mau tanya , kenapa orang dari daerah buleleng tidak menggunakan 'i' atao 'ni' di depan nama nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu masalah kebiasaan... karena dibali sangat flaksible, jadi penggunaan itu bs gunakan bs tidak.. tp untuk menjadikan pembeda jenis kelamin, orang tua dahulu selalu menggunakan istilah "i atau ni"

      Hapus
  4. bagus sekali, suksma :))
    salam kenal tyang dayu saking geria suci, dencarik, buleleng tapi sejak kecil tinggal di surabaya. semoga dengan ini bisa saling akrab dan lebih mempererat tali persaudaraan

    BalasHapus
    Balasan
    1. suksma atu...
      mogi artikel2 tyg niki bs menambah kansanah pengetahuan semeton tyg diluar bali...

      Hapus
    2. Nama saya Dewanggi.. Bukan orang Bali.. Tapi kalau saya ingin pakai nama Bali boleh enggak ? Saya anak perempuan nomor 2.. Baiknya saya dapat nama seperti apa ya kalau mau pakai nama ada Dewa nya ?

      Hapus
    3. bole...
      selama ini, saya blm pernah membaca larangan untuk penggunaan nama orang bali.
      dan dalam hal ini, saya merasa terhormat dengan keinginan mbak untuk menggunakan nama orang bali..
      sebagai masukan, karena anda bukan orang bali, baiknya untuk nama anak anda, diawali dengan "bagus made........." untuk cowok atau "ayu made...." untuk cewek
      tapi bila sudah memiliki rencana nama lain, dipersilahkan...

      Hapus
  5. Bagus sekali artikelnya.. banyak orang kenal saya dan menanyakan arti nama saya, bahkan mengejek nama saya yang berbeda dari temen2 saya. Dikarenakan saya masih keturunan campuran (bukan bali asli) dan berdomisili diluar bali sejak lahir. membaca artikel ini selain tau jelas, saya jadi merasa bangga dg nama ini dan alm. leluhur saya. Thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga postingan tyang niki bermanfaat kelanjutannya... suksma

      Hapus
  6. Klo nama cowok menurut hindu bagusan mana... Satya Merta Sedana ato Putra Merta Sedana n artina apa sih.??

    BalasHapus
    Balasan
    1. becikan putra sedana.. artinya putra yg diberkahi dewa sedana (kekayaan)

      Hapus
  7. artikel yang menarik, karena saya selalu suka dengan semua hal tentang BALI! saya mau bertanya apakah nama Bali sebagian ada yang mengikuti marga dari ibu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tentu ada,.. kalau kluarga tbs ikut sistim nyentana alias pihak ayah ikut di kluarga pihak ibu

      Hapus
  8. Bagus artikel nya, jadi tau tentang nama Bali..
    saya mau nanya arti / maksud dari nama I Ketut Dewa Surat Atmaja..,,??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ampura wawu ngwales...
      ampure yen tyg iwang nggih..

      kalau tidak salah nama inti pak dewa "SURATMAJA"
      yang berasal dari kata SURA dan ATMAJA
      SURA = pemberani, ksatria
      ATMAJA = anak, putera/putra
      maksud nama tersebut " orang tua berkeinginanagar anaknya menjadi jiwa ksatria, yang teguh pada pendirian (dharmaning satrya), berani dalam hidupnya, apapun resikonya"

      tapi kalau diambil dari akar kata "SURAT ATMAJA"
      SURAT = tertulis
      ATMAJA = anak lelaki/putra
      mungkin maksudnya "agar anaknya bisa menentukan takdirnya kedepan" karena kata SURAT disini diidentikan dengan segala keputusan yang berimplikasi terhadap masa depannya.

      sekian dumun, yening wenten iwang mangde ke ampureyang :)

      Hapus
  9. perlu diluruskan lagi kiranya tentang 'kasta'. karena hindu tidak mengenal kasta. kasta(caste) berasal dari bhs portugis sedangkan dalam sanskrit tidak ada kata 'kasta'. kata ini diperkenalkan sebagai media adu domba pada saat era penjajahan dulu. yang ada dalam hindu adalah 'warna'

    BalasHapus
    Balasan
    1. ingih, nike sampun cetak tebal tyg lan sampun tyg sisipkan LINK pembahasannya..
      suksma masukannya. mogi rahayu :)

      Hapus
  10. mbak, bisakah ajari saya bahasa bali? sedikit saja, hanya untuk kalimat tertentu.
    saya lagi riset untuk novel terbaru saya.. :)terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya... sebisa mungkin sy bnt... kira2 apa yg mst sy ajari..? :D sy jg bingung krn sy jg msh sedang belajar :)

      Hapus
  11. begitu ya, baru tau silsilah nama orang bali, ternyata dari nama depan bisa dilihat anak keberapa

    BalasHapus
  12. Kalo "I Gede Arif Mangaraja" artinya apa? Sama "I Putu"? trms.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gede = Putu = Wayan ---> menunjuk anak pertama

      kl dilihat dr akar katanya:
      Gde/Gede = besar, lebih besar
      Putu = cucu, kesayangan
      Wayah = lebih tua
      semua itu menunjuk anak ke pertama :)

      Hapus
  13. terima kasih... dpt tambahan banyak info

    BalasHapus
  14. makasih, saya orang jawa yang suka menggunakan nama-nama dari sabang sampai merauke dalam profesi saya sebagai guru...penget tentang nama dalam artikel ini...membantu saya share dengan murid saya...

    BalasHapus
  15. kalo lelong artinya apa?
    PUTU GEDE JUNI ANTARA berarti.....

    BalasHapus
  16. ngomong-ngomong soal nama nama saya paling aneh,,,.
    rodo priodo
    nah ditambah ida bagus kade,,... hehehheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. apapun itu, itu merupakan simbol kasih sayang orang tua kepada anaknya

      Hapus
  17. Saya orang jawa dan saya sangan menyukai semua tentang bali,alam,masyarakatnya,semua hal tenttang bali saya suka dan sejak pertama berkunjung ke Bali saya langsung jatuh cinta dan ingin stay disana..dan ini Artikel yg sangat bagus dan nmenambah pengetahuan sekali tentang budaya indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih...
      semoga mbak semakin mencintai bali dengan menghormati dan menjaga bali :)
      salam knal dari bali

      Hapus
  18. Senang sekali mmbaca artikel ini.Salam buat Bli Mahendra dan Saudara2 di Bali smua.Nama sy Dhoni, aseli orang Jawa. Sy benar2 terkesan dengan Bali dan seisinya serta kearifan budaya-nya. Sy kpengen kalo pny anak bsk dikasih tambahan nama Bali boleh atw tdk, semisal Dewa atau Gusti bgtu?? Terima Kasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. silhakan... semoga penamaantsb bermanfaat kedepannya :)

      Hapus
  19. om swastiastu, maaf sebelumnya apa boleh minta tolong, saya ingin mengetahui arti nama saya "dewa ketut rai bagus sadewa", terima kasih

    BalasHapus
  20. Saya orang jawa asli, tapi saya sangat tertarik dengan semua yang berhubungan dengan bali. terimakasih atas info yang sudah di berikan di atas. semoga suatu saat nanti jodoh saya orang bali asli amin. :)

    BalasHapus
  21. om swastyastu bli'''
    bisa minta tolong gak buatkan nama
    yang artinya (orang yang bijaksana rendah hati dan kaya raya)
    anak kedua''

    danmohon bantuan usulsn nama yg bagus buat putra kami''

    BalasHapus
  22. Bisa minta saran Buku yang membahas tetang nama dan Kasta?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sy sarankan beli buku manawa dharma sastra, sarasamusaya, nitisastra dan bhagawad gita..

      disamping itu, ada banyak buku2 yang mengulas tentang kasta, silahkan saja cari di beberapa outlet buku di daerah bali dan sekitarnya

      Hapus
  23. bli, tiang mau nnyak, klo "ida bagus krishnanda" itu artinya apa ya ?
    sebelumnya terimakasih :D

    BalasHapus
  24. untuk anak kembar, apakah sama-sama dinamai wayan, atau wayan dan kadek?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak... walaupun kembar, pasti ada yang lebih dahulu lahir... sesuaikan dengan urutan kelahirannya

      Hapus
  25. om swastiastu. maaf kalo misal bukan orang bali mau pake nama bali, kemudian menggunakan nama dewa atau anak agung atau ida bagus/ayu, bukan kah dia bukan berasal dari keturunan nama tersebut? apakah boleh ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh2 saja... karena itu hanya sebatas nama, itu dikembalikan ke raya nyaman menggunakannya.

      Hapus
  26. Gmana kabarnya bali bli???

    BalasHapus
  27. kalau wi juga sinonim dari bli ya ?

    BalasHapus
  28. kalau wi dipakai di daerah bali mana saja ya bli?

    BalasHapus
  29. wah jadi ingat pelajaran SMP tapi ini kamus komplitnya, tapi bingung juga yah kalau ada banyak nama i made dalam satu kampus. nanti kita panggil made semuanya bisa menyahut....hehe

    BalasHapus