Google+

Rabu, 11 Juli 2012

Sistim Kasta Di Bali

Sistim Kasta di Bali, Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang  paling ampuh bagi umat Hindu agar  menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.

Banyak Orang terpengaruh terhadap propaganda pandangan orang-orang Barat tentang Kasta, padahal di Hindu (Veda) tidak ada kasta yang ada adalah "WARNA".

Apa itu KASTA..?


Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession, or job. Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan, pemisah, tembok, atau batas. 

Timbulnya istilah kasta dalam masyarakat Hindu adalah karena adanya proses sosial (perkembangan masyarakat) yang mengaburkan pengertian warna. Pengaburan pengertian warna ini melahirkan tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang di masyarakat berdasarkan kelahiran dan status keluarganya. Istilah "kasta" tidak diatur di dalam kitab suci Weda. Kata "Kasta" itu sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti "kayu".

Empat Kasta tidak sama dengan Catur Warna dalam Weda. Kasta tidak pernah ada dalam tradisi Hindu baik Zamannya Wayang Mahabaratamaupun Zaman Majapahit.  Kasta mulai ada di India semenjak kedatangan Bangsa Arab dan Kristen, Bangsa Arab dan Kristen terbiasa dengan perbudakan (baca Imamat,timotius dll, Juga An Nisaa, al Mu’kminuum).

Istilah kasta dilekatkan pada agama Hindu mulai ada semenjak Max Muller, menterjemahkan Weda kedalam Bhs Inggris. Max Muller menterjemahkan Catur Warna sama dengan empat colour/ras. bukti kesalahan Muller: Bagawan Wiyasa ( jawa disebut Abiyoso) berkulit hitam,hidung lebar,bibir tebal, mata mellotot,  jelas bukan ras Arya yang berkulit terang, hidung mancung, mata biru. Kasta yang kaku tidak pernah ada di India sebelumnya contohnya:  Bambang  ekalaya seorang rakyat biasa bisa menjadi ksatrya, Radeya anak kusir kereta bisa menjadi adipati/ ksatrya, Govinda anak gembala sapi bisa menjadi raja, Narada anak pelayan (Babu) bisa menjadi Brahmana. Di Jawa sebelum runtuhnya Majapahit seorang perampok Ken Arok, bisa menjadi Raja, seorang pengangon kuda, Damar Wulan bisa menjadi Raja Majapahit dengan gelar Brawijaya. di Bali kasta mulai ada semenjak runtuhnya majapahit. Setelah kedatangan pendeta suci Danghyang Nirarta yang pindah ke bali akibat terdesak  kerajaan Islam dan kemudian diangkat jadi penasehat Raja Gelgel. Danghyang  Nirarta tiba di Bali sekitar abad 15, hamper bersamaan dengan kedatangan Portugis di India (kerajaan Goa India jatuh ketangan Portugis th. 1511 ) dan Istilah kasta mulai diperkenalkan di India.

Kasta sebenarnya ada di mana-mana ketika peradaban belum begitu maju. Atau kelas-kelas sosial di masyarakat ini berusaha dilestarikan oleh golongan tertentu yang kebetulan “berkasta tinggi”. Dari sini muncul istilah-istilah yang sesungguhnya adalah versi lain dari kasta, seperti “berdarah biru”, “kaum bangsawan” dan sebagainya yang menandakan mereka tidak bisa dan tak mau disamakan dengan masyarakat biasa. Bagi mereka yang berada “di atas” entah dengan sebutan “darah biru” atau “bangsawan” umumnya mempunyai komplek pemukiman yang disebut keraton atau puri.

Di masa sekarang ini, kraton atau puri tentu tak punya kuasa apa-apa, namun penghuninya berusaha untuk tetap melestarikannya. Ada pun penerimaan masyarakat berbeda-beda, ada yang mau menghormati ada yang bersikap biasa saja.

Di India kasta itu jumlahnya banyak sekali. Hampir setiap komunitas dengan kehidupan yang sama menyebut dirinya dengan kasta tertentu. Para pembuat gerabah pun membuat kasta tersendiri.

Di Bali juga unik

Riwayat Kasta dibali dimulai ketika Bali dipenuhi dengan kerajaan-kerajaan kecil dan Belanda datang mempraktekkan politik pemecah belah, kasta dibuat dengan nama yang diambilkan dari ajaran Hindu, Catur Warna. Lama-lama orang Bali pun bingung, yang mana kasta dan yang mana ajaran Catur Warna. Kesalah-pahaman itu terus berkembang karena memang sengaja dibuat rancu oleh mereka yang terlanjur “berkasta tinggi”.

Pada masyarakat Hindu di  Bali, terjadi  kesalahan pahaman kasta dibali dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah Catur Warna, yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu Wangsa yang lebih tinggi dari Wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu Wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada Wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi. Oleh karena itu, lebih baik tidak diperdebatkan lagi.

Yang jadi persoalan, ketika kasta diperkenalkan di Bali di masa penjajahan itu, nama-nama yang dipakai adalah nama Catur Warna: Brahmana, Kesatria, Wesya, Sudra. Jadi, pada saat itu semua fungsi Catur Warna diambil alih oleh kasta, termasuk gelarnya.

Celakanya kemudian, gelar-gelar itu diwariskan turun temurun, diberikan kepada anak-anaknya tak peduli apakah anak itu menjalankan fungsi sosial yang sesuai dengan ajaran Catur Warna atau tidak. Contohnya, kalau orang tuanya bergelar Cokorde, jabatan raja untuk di daerah tertentu, anaknya kemudian otomatis diberi gelar Cokorde pada saat lahir. Kalau orangtuanya Anak Agung, juga jabatan raja untuk daerah tertentu, anaknya yang baru lahir pun disebut Anak Agung. Demikianlah bertahun-tahun, bahkan berganti abad, sehingga antara kasta dan ajaran Catur Warna ini menjadi kacau.

Dalam pergaulan sehari-hari pun masyarakat yang berkasta sudra (Jaba) berkedudukan sangat rendah. Seperti misalnya seorang yang berasal dari kasta sudra harus menggunakan Sor Singgih Basa, untuk menghormati kasta-kasta yang lebih tinggi.


Kasta itu dibuat dan dikemas sesuai dengan garis keturunan Patrinial, diantaranya:
  1. Kasta brahmana merupakan kasta yang memiliki kedudukan tertinggi, dalam generasi kasta brahmana ini biasanya akan selalu ada yang menjalankan kependetaan. Dalam pelaksanaanya seseorang yang berasal dari kasta brahmana yang telah menjadi seorang pendeta akan memiliki sisya, dimana sisya-sisya inilah yang akan memperhatikan kesejahteraan dari pendeta tersebut, dan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh anggota sisya tersebut dan bersifat upacara besar akan selalu menghadirkan pendeta tersebut untuk muput upacara tersebut. Dari segi nama seseorang akan diketahui bahwa dia berasal dari golongan kasta brahmana, biasanya seseorang yang berasal dari keturunan kasta brahmana ini akan memiliki nama depan “Ida Bagus untuk anak laki-laki, Ida Ayu untuk anak perempuan, ataupun hanya menggunakan kata Ida untuk anak laki-laki maupun perempuan”. Dan untuk sebutan tempat tinggalnya disebut dengan "Griya". 
  2. Kasta Ksatriya merupakan kasta yang memiliki posisi yang sangat penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali, karena orang-orang yang berasal dari kasta ini merupakan keturuna dari Raja-raja di Bali pada zaman kerajaan. Namun sampai saat ini kekuatan hegemoninya masih cukup kuat, sehingga terkadang beberapa desa masih merasa abdi dari keturunan Raja tersebut. Dari segi nama yang berasal dari keturunan kasta ksariya ini akan menggunakan nama “Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda, dan ada juga yang menggunakan nama Dewa”. Dan untuk nama tempat tinggalnya disebut dengan "Puri". Sedangkan Masyarakat yang berasal dari keturunan abdi-abdi kepercayaan Raja, prajurit utama kerajaan, namun terkadang ada juga yang merupakan keluarga Puri yang ditempatkan diwilayah lain dan diposisikan agak rendah dari keturunan asalnya karena melakukan kesalahan sehingga statusnya diturunkan. Dari segi nama kasta ini menggunakan nama seperti I Gusti Agung, I Gusti Bagus, I Gusti Ayu, ataupun I Gusti. Dimana untuk penyebutan tempat tinggalnya disebut dengan "Jero". 
  3. Kasta Sudra (Jaba) merupakan kasta yang mayoritas di Bali, namun memiliki kedudukan sosial yang paling rendah, dimana masyarakat yang berasal dari kasta ini harus berbicara dengan Sor Singgih Basa dengan orang yang berasal dari kasta yang lebih tinggi atau yang disebut dengan Tri Wangsa - Brahmana, Ksatria dan Ksatria (yang dianggap Waisya). Sampai saat ini masyarakat yang berasal dari kasta ini masih menjadi parekan dari golongan Tri Wangsa. Dari segi nama warga masyarakat dari kasta Sudra akan menggunakan nama seperti berikut : Wayan, Made, Nyoman dan Ketut. Dan dalam penamaan rumah dari kasta ini disebut dengan "umah".

KEHIDUPAN KEMASYARAKATAN KASTA

Pada jaman dahulu, kasta sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Kasta di Bali mulai kental saat masa penjajahan Belanda, sehingga penjajah dapat dengan leluasa memisahkan raja dengan rakyatnya. Selama berabad-abad penduduk Bali telah diajari bahwa kasta yang tinggi harus lebih dihormati, sehingga bila kita berbicara dengan orang yang berkasta tinggi, baik lebih muda, lebih tua, atau seusia, kita harus menggunakan bahasa bali yang halus. Tetapi bila bicara dengan orang berkasta rendah, kita tidak diwajibkan menggunakan bahasa halus.

Misalnya ada seorang ketua organisasi berkasta Waisya, dengan salah seorang anggotanya berkasta Brahmana. Secara otomatis, ketua organisasi tersebut harus menggunakan kata-kata yang halus kepada anggotanya yang berkasta brahmana tersebut. Ada juga kasus seperti seorang guru yang memiliki kasta lebih rendah dari muridnya. Guru tersebut harus berkata sopan kepada muridnya yang berkasta tinggi. Walau begitu, bukan berarti sang murid dapat bertindak sewenang-wenang seperti berkata tidak sopan terhadap gurunya.

Selain perbedaan dalam menggunakan bahasa, kasta juga mempengaruhi tatanan upacara adat dan agama, seperti pernikahan, dan tempat sembahyang. Pada Pura-Pura besar (seperti Pura Besakih), semua kasta bisa sembahyang dimana saja, tetapi pada Pura-Puta tertentu yang lebih kecil, ada pembagian tempat sembahyang antara satu kasta dengan kasta yang lain, agar tidak tercampur.

KASTA DALAM PERNIKAHAN

Kasta juga sangat sering menjadi pro dan kontra, terutama dalam masalah pernikahan. Pada jaman dulu, masyarakat Bali tidak diperbolehkan menikah dengan kasta yang berbeda, layaknya pernikahan beda agama dalam Islam. Seiring perkembangan jaman, aturan tersebut seharusnya sudah tidak berlaku lagi. Namun sebagian penduduk Bali masih ada yang mempermasalahkan pernikahan beda kasta.

Pernikahan dengan kasta yg berbeda dibolehkan dengan syarat kasta yang perempuan harus mengikuti yg laki-laki. Jika kasta perempuan dari kasta yg tinggi, menikah dng kasta yg lebih rendah, maka kasta si perempuan akan turun mengikuti suaminya. Begitu juga sebaliknya, Karena di Bali laki-lakilah yg menjadi ahli waris dari generasi sebelumnya.

Pernikahan beda kasta sendiri ada dua macam, yaitu :
  • Kasta istri lebih rendah dari kasta suami. Pernikahan beda kasta ini-lah yang sudah sering terjadi di Bali. Pernikahan semacam ini biasanya memberikan kebanggan tersendiri bagi keluarga perempuan, karena putri mereka berhasil mendapatkan pria dari kasta yang lebih tinggi. Dan secara otomatis kasta sang istri juga akan naik mengikuti kasta suami. Tetapi, sang istri harus siap mendapatkan perlakuan yang tidak sejajar oleh keluarga suami. Saat upacara pernikahan, biasanya batenan untuk mempelai wanita diletakan terpisah, atau dibawah. Bahkan dibeberapa daerah, sang istri harus rela melayani para ipar dan keluarga suami yang memiliki kasta lebih tinggi. Walaupun jaman sekarang hal tersebut sudah jarang dilakukan, tapi masih ada beberapa orang yang masih kental kasta-nya menegakan prinsip tersebut demi menjaga kedudukan kasta-nya. 
  • Kasta istri tinggi dari kasta suami. Pernikahan beda kasta seperti ini sangat dihindari oleh penduduk Bali. Karena pihak perempuan biasanya tidak akan mengijinkan putri mereka menikah dengan lelaki yang memiliki kasta lebih rendah. Maka dari itu, biasanya pernikahan ini terjadi secara sembunyi-sembunyi atau biasa disebut sebagai "ngemaling" atau kawin lari sebagai alternatifnya. Kemudian, perempuan yang menikahi laki-laki yang berkasta lebih rendah akan mengalami turun kasta mengikuti kasta suaminya, yang disebut sebagai "nyerod". Menurut kabar, sebagian besar penduduk bali lebih menyukai dan lebih dapat menerima laki-laki yang bukan orang Bali sebagai menantu, dari pada menikah dengan laki-laki berkasta lebih rendah, dan mengalami penurunan kasta.

WARNA, apakah itu?


Keterangan yang cukup menarik tentang Catur Warna yang sering dikaburkan dengan kasta dapat kita lihat dalam kitab Pancamo Weda (Bhagavad-Gita) yang menjelaskan struktur masyarakat berdasarkan Warna. Menurut isi dari Bhagavad-Gita ini pembagian masyarakat menjadi empat kelompok- kelompok yang disebut warna itu, terjadi karena pengaruh "guna" yang merupakan unsur pembawaan sejak lahir (bakat).

Dalam hubungan ini dijelaskan sistem warna itu atas dasar pengertian fisik.

Di dalam Bab Karma Kanda-nya dijelaskan bahwa dunia aktif (bergerak, bekerja) dan gerak ini disebabkan oleh guna itu sendiri. Ada tiga macam guna dikemukakan yaitu
  1. Satwam, kebajikan 
  2. Rajah, keaktifan 
  3. Tamah, kepasifan atau masa bodoh
Sifat- sifat ini selanjutnya memberikan pengaruh lebih luas lagi sehingga menimbulkan warna dalam kelahiran manusia di dunia. Seseorang yang kelahirannya diwarnai oleh Guna Satwam akan menampilkan sifat- sifat kesucian, kebajikan, dan keilmuan. Seseorang yang diwarnai oleh Guna Rajah akan menampilkan kehidupan yang penuh kreatif, ingin berkuasa, ingin menonjol. Berbeda dengan seseorang yang kehidupannya diwarnai oleh Guna Tamah, akan selalu menampakkan sifat- sifat malas, bodoh, pasif, lamban dalam segala- galanya.

Ketiga sifat ini terdapat di dalam setiap tubuh manusia yang lahir dan masing- masing guna ini berjuang saling mempengaruhi dalam badan manusia. Bagi mereka yang teguh iman maka Satwam itulah yang menguasainya, sedangkan Rajah dan Tamah itu akan diatasi seluruhnya. Sebaliknya kalau Rajah lebih kuat, maka Tamah dan Satwam itu akan ditundukkannya. Begitu pula apabila Tamah yang berkuasa, maka Rajah dan Satwam akan ditundukkannya. Dengan jalan seperti inilah Bhagavad-Gita menjelaskan timbulnya garis perbedaan pembawaan seseorang yang disebut Warna kelahiran dari kecenderungan sifat- sifat guna itu.

Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:
Chatur Varnyam Maya Srishtam,
Guna Karma Vibhagasah,
Tasya Kartaram Api Mam,
Viddhy Akartaram Avyayam
artinya: 
catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.

Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.

Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi:
Rucam No Dhehi Brahmanesu,
Rucam Rajasu Nas Krdhi,
Rucam Visyesu Sudresu,
Mayi Dhehi Ruca Rucam
artinya: 
Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.

Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:
Brahmane Brahmanam, Ksatraya, Rajanyam, Marudbhyo Vaisyam, Tapase Sudram
artinya: 
Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:
Brahmano Asya Mukham Asid,
Bahu Rajanyah Krtah,
Uru Tadasya Yad Vaisyah,
Padbhyam Sudro Ajayata
artinya: 
Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.

Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81:
Pravakavarnah Sucayo Vipascitah
artinya: 
para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar.

Yajurveda sloka 20,25:
Yatra Brahma Ca Ksatram Ca,
Samyancau Caratah Saha,
Tam Lokam Punyam Prajnesam,
Yatra Devah Sahagnina
artinya: 
di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).

Bhagawata Purana
Di dalam Bhagawata Purana dan Smrti Sarasamuçcaya pasal 63 dengan tegas dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada suatu warna kalau tanpa dilihat dari segi perbuatannya.
Dari perbuatan dan sifat- sifat seperti tenang, menguasai diri sendiri, berpengetahuan suci, tulus hati, tetap hati, teguh iman kepada Hyang Widhi, jujur adalah gambaran seseorang yang berwarna Brahmana. Tetapi orang yang gagah berani, termasyhur, suka memberi pengampunan, perlindungan maka mereka itulah yang disebut Ksatrya.

Sukra Niti
Purana Sukra Niti memberi keterangan bahwa keempat warna itu tidak ditentukan oleh kelahiran, misalnya dari keluarga Brahmana lalu lahir anak Brahmana juga, tetapi sifat dan perbuatan mereka itulah yang menentukan sehingga mereka menjadi demikian seperti adanya empat warna itu.

Warna Brahmana
Wiracarita Mahabarata
Di sini dijelaskan bahwa sifat- sifat Brahmana ialah: jujur, suka beramal/ berderma, pemaaf, pelindung, takwa, cenderung untuk melakukan pertapaan. Dan dijelaskan pula bahwa kelahiran anak dari seorang Sudra yang dikatakan mempunyai sifat- sifat seperti tersebut di atas, mereka bukanlah Sudra tetapi mereka adalah Brahmana. Tetapi seorang keturunan Brahmana yang tidak mempunyai sifat- sifat seperti itu, maka ia sesungguhnya Sudra.

Dari sumber- sumber tersebut di atas kita peroleh suatu pandangan dan pengertian yang sama mengenai Catur Warna, yaitu merupakan pembidangan karya dan sikap mental manusia yang mewarnai pengabdiannya dalam swadharma masing- masing. Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.

Wiana (2000) menjelaskan perbedaan antara warna dan kasta. Warna merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi. Dalam ajaran Agama Hindu dikenal adanya empat warna/Catur Warna yaitu
Warna Ksatria
  1. Brahmana-orang-orang yang menekuni kehidupan spiritual dan ketuhanan, para cendikiawan serta intelektual yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual. Atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai rohaniawan.
  2. Ksatria-orang orang yang bekerja / bergelut di bidang pertahanan dan keamanan/pemerintahan yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya.  Atau seseorang yang memilih fungsi sosial menjalankan kerajaan: raja, patih, dan staf - stafnya. Jika dipakai ukuran masa kini, mereka itu adalah kepala pemerintahan, para pegawai negeri, polisi, tentara dan sebagainya. 
  3. Waisya-orang yang bergerak dibidang ekonomi, yang bertugas untuk mengatur perekonomian atau seseorang yang memilih fungsi sosial menggerakkan perekonomian. Dalam hal ini adalah pengusaha, pedagang, investor dan usahawan (Profesionalis) yang dimiliki Bisnis / usaha sendiri sehingga mampu mandiri dan mungkin memerlukan karyawan untuk membantunya dalam mengembangkan usaha / bisnisnya.
  4. Sudra-orang yang bekerja mengandalkan tenaga/jasmani, yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai pelayan, bekerja dengan mengandalkan tenaga. seperti: karyawan, para pegawai swasta dan semua orang yang bekerja kepada Waisya untuk menyambung hidupnya termasuk semua orang yang belum termasuk ke Tri Warna diatas.
Warna Waisya
Warna dan gelar serta namanya sama sekali tidak diturunkan atau diwariskan ke generasi berikutnya. Warna tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Artinya, warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya. penggolongan ini tidak diturunkan, Artinya kalau sang Ayah Brahmana tidak otomatis anaknya menjadi Brahmana.

Menurut Veda, Brahmana menempati posisi yang diagungkan, artinya Veda mendukung masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang Intelektual/Bijaksana (Civil society) dan tidak sekedar kekuasaan/kekuatan.

Apa yang terjadi di India adalah distorsi dari ajaran-ajaran Veda, di Indonesia sendiri kasta tidak ada, yang ada adalah wangsa (garis leluhur).

Wangsa yang ada di Bali sebagai contoh hanya sebagai pengenal bahwa garis leluhurnya mereka dahulu berasal dari keluarga tertentu :
Warna Sudra
misalnya,
soroh pande, artinya keluarga mereka pada jaman dahulu adalah "pengrajin/pande-besi",
Arya Kenceng Tegeh Kori contoh lain artinya jaman dahulu keluarga mereka dari kelompok "Arya" (ksatria yang berasal dari jawa masuk ke Bali)

Jadi tidaklah benar kalau umat Hindu itu mengenal kasta, ini merupakan bentuk pelecehan. Maka masyarakat Bali dan nama Hindu menjadi buruk, banyak saudara - saudara dibali masih salah paham tentang Kasta, apalagi orang-orang lain yang tinggal di luar Bali. mungkin karena Umat Hindu kurang mensosialisasikan secara gamblang apa itu wangsa/warna.


Nama Orang Bali itu bukan kasta tapi Wangsa

contoh :
nama saya misalnya “I Wayan Bagus”, dan leluhur saya dulu adalah Ksatria yaitu keturunan Dalem Tarukan, apakah saya sudra???  Tentu bukan!

Karena Saya seorang Pegawai Pemerintahan bekerja mengabdikan diri pada negara. Maka saya seorang KESATRIA -  Pegawai pemerintah (punggawa istana)

siapa itu para SUDRA ???
Para sudra adalah orang – orang  yang bekerja di swasta, buruh, konsultan dan atau orang yang digaji orang lain karena usaha kerja kerasnya.

siapa itu para WESIA ???
Para wesiaadalah orang – orang  yang Pemilik Usaha, Bisnisman, Investor yang memiliki karyawan dan menggaji orang lain untuk kemajuan usahanya.

siapa itu para BRAHMANA ???
Para brahmana adalah orang – orang  yang berprofesi sebagai guru, guru spiritual, pemangku (pinandita) dan Pandita (begawan, mpu, pedanda)

Hubungan di antara golongan pada warna hanya dibatasi oleh “dharma”-kewajiban yang berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan yakni kesempurnaan hidup. Jadi, catur warna sama sekali tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dan memberikan manusia untuk mencari jalan hidup dan bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaannya sejak lahir hingga akhir hayatnya.

Sedangkan kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta atau pedanda. Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang belum tentu atau tidak memiliki sifat-sifat brahmana harus disebut sebagai brahmana, dan juga terjadi pada kasta yang lainnya.

Terlebih lagi nama dan gelar warisan masing-masing leluhurnya sekarang ini semakin diagung-agungkan dan digunakan untuk mempertajam kesenjangan di antara golongan kasta yang ada. Tetapi, jika nama dan gelarnya yang dipakai keturunannya hanya dijadikan sebagai tanda penghormatan kepada leluhurnya, maka tindakan ini merupakan tindakan yang sangat mulia dan terhormat.

TRANSFORMASI KEKUASAAN DI BALI

Menurut Agus Salim Pola perubahan sosial ada dua macam yaitu 
  1. datang dari negara (state)
  2. datang dari bentuk pasar bebas (free market).
Perubahan yang dikelola oleh pemerintah berorientasi pada ekonomi garis komando yang datang secara terpusat, sedangkan dari pasar bebas-campur tangan pemerintah sangat terbatas. Negara memberi pengaruhnya secara tidak langsung, sehingga pasar bebas lebih dominan. Jika pada bagian struktur kekuasaan masyarakat Bali telah disampaikan bagaimana sistem kekuasaan Bali melalui sistem kasta, namun setelah mendapat pengaruh globalisasi kehidupan masyarakat Bali yang diwujudkan dalam usaha pengalihan sistem kasta menjadi sistem warna. Adapun gambaran mengenai sistem warna dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bagi sebagian orang di Indonesia dan mungkin sebagian masyarakat Bali tidak mengenal sistem Warna dalam masyarakat Bali karena selama ini mengenal bahwa sistem pembagian masyarakat Bali hanya berdasarkan kasta saja. Namun tidak dapat dipungkiri memang kasta telah menjadi suatu sistem pengelompokan dan pemetaan kuasa masyarakat di Bali.

Warna adalah suatu sistem pembagian atau pengelompokan masyarakat berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang tersebut bekerja sebagai seorang pendeta atau menjalankan fungsi-fungsi kependetaan maka dia akan berfungsi sebagai warna brahmana, jika orang tersebut bekerja sebagai pemimpin di masyarakat maka dia akan berfungsi sebagai wangsa ksatriya, atau jika seseorang bekerja sebagai seorang pejabat penting lainnya dia akan disebut sebagai orang yang menjalankan warna weisya, dan jika seseorang yang melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh atau tenaga lepas dari seseorang maka ia dikatakan sebagai seseorang yang menjalankan fungsi sebagai warna sudra.

Akhir-akhir ini perdebatan mengenai kasta dan warna di Bali semakin menuai banyak pendapat, baik itu yang bersifat menerima apa adanya sebagai warisan leluhur, ada yang mencoba mengkritisi sebagai bentuk protes sosial dan upaya untuk menciptakan sirkulasi elit, ada yang mencoba memilahnya sesuai dengan situasi yang ada misalnya menerapkan konsep kasta ketika pada situasi adat istiadat namun menerima sistem warna sebagai praktek dalam kehidupan modern, dan terakhir ada yang menganggap bukan permasalahan serius ketika kekuasaan bisa diraih dengan berbagai macam cara.

Salah satu pendapat yang mencoba mengkritisi kasta dan warna, sebagaimana yang disampaikan oleh Made Kembar Kerepun, bahwa sistem Kasta di Bali merupakan sebuah rekayasa yang dibuat oleh masyarakat di Bali yang sangat cerdas dimana untuk menguatkan rekayasa tersebut para masyarakat yang disebut dengan aktor cerdas tersebut dengan sengaja membuat acuan-acuan dalam teks yang dalam kehidupan masyarakat Bali disebut dengan lontar yang bertujuan untuk membuat perlindungan utuk menguatkan rekayasa tersebut, dimana penulis mengemukakan sebagai payung hukum, dan pembenar. Made Kembar juga menyampaikan bahwa dengan adanya rekayasa tersebut telah merugikan, mensubordinasi, memarjinalkan, bahkan mendiskriminasi kaum di luar lingkungan Tri Wangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Di Bali tranformasi kekuasaan pada masyarakat ditunjukkan oleh terjadinya pergeseran pada pemegang kekuasaan. Dimana pada kekuasaan dengan sistem kasta menempatkan Puri sebagai penguasa penuh, namun dengan adanya pengaruh pandangan baru terhadap masyarakat Bali merubah peta kekuasaan itu sendiri yang ditandai dengan lahirnya elit-elit baru di masyarakat Bali.

Selain dari dominasi terhadap jabatan Pemerintahan (Gurbernur dan Bupati), indikasi terhadap memudarnya kekuasaan Puri – puri di bali juga bisa dilihat dari munculnya elit-elit baru yang mampu menguasai sumber-sumber ekonomi masyarakat Bali. Dengan pengaruh globalisasi dengan sistem kapitalismenya adanya elit baru di bidang ekonomi tersebut membuat terjadinya pergeseran pandangan masyarakat terhadap siapa yang berkuasa, karena dengan melihat kondisi perekonomian masyarakat Karangasem maka masyarakat akan cenderung “ikut” pada pemilik modal.

Kekacauan Sisitim kemasyarakatan antara KASTA dan WARNA ini lama-lama menjadi kesalah-pahaman. Konsep kasta sangat bertentangan dengan konsep warna dalam ajaran agama hindu. Namun, kesalahan pemahaman tentang kasta dan warna masih saja terjadi dan terus berlangsung hingga sekarang ini. Misalnya, ada anggapan bahwa yang berhak menjadi rohaniawan (pendeta Hindu) hanyalah mereka yang keturunan Brahmana versi kasta, yang nama depannya biasanya Ida Bagus. Mereka yang tak punya nama depan Ida Bagus disebut bukan keturunan Brahmana, jadi tak bisa menjadi pendeta. Begitu pula kasta lainnya, yang berhak menjadi pemimpin hanya keturunan Kesatria. Orang seperti I Made Mangku Pastika yang tak punya “nama gelar” tak akan bisa menjadi pemimpin karena kastanya hanya Sudra. Kenyataan saat ini tentu sudah beda. Saya sendiri yang saat walaka (sebelum menjadi pendeta) bukan bernama awal Ida Bagus, toh nyatanya bisa menjadi pendeta atau Brahmana saat ini. Jika terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik,  perpecahan, dan kekacauan di masa yang akan datang.

Tidak dapat dipungkiri banyak konflik yang terjadi akibat perbedaan kasta ini, seperti Konflik antar masyarakat yang terjadi pada Bulan Maret 2007 di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung-Bali merupakan salah satu buntut dari tidak harmonisnya hubungan antara kaum brahmana dan sudra. Puluhan rumah kaum “kasta brahmana” dirusak dan dihanguskan oleh masyarakat sehingga masyarakat yang rumahnya hancur harus dievakuasi dan diamankan serta ditampung di MAPOLRES (Markas Polisi Resor) Klungkung. Perlu dipertanyakan kenapa ini terjadi? Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana benci dan marahnya masyarakat terhadap kaum brahmana sehingga tega melakukan hal-hal yang anarkis ini. Belum ada penjelasan dari aparat berwenang mengenai penyebab kejadian ini. Walaupun demikian, patut diacungi jempol para masyarakat di sana bisa berdamai dan hidup berdampiangan kembali serta membuat pernyataan damai di antara masyarakat yang berkonflik.

Demikianlah kesalah-pahaman itu, akhirnya dikoreksi terus menerus setelah majelis agama Hindu (Parisada Hindu Dharma Indonesia) berdiri pada 1959. Jauh sebelumnya, yakni pada 1951, DPRD Bali sudah menghapus larangan perkawinan “antar-kasta” yang merugikan “Kasta” bawah seperti Sudra. 

Kesulitan yang dihadapi dalam menghapus Kasta di Bali itu tentu karena masalah ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun, bahkan berganti abad. Namun yang menyebabkan kesalah-pahaman itu bisa dijernihkan adalah adanya toleransi dan merupakan kesepakatan yang tak perlu ditulis, yakni masyarakat akhirnya memperlakukan nama-nama depan yang dulu merupakan gelar pemberian penjajah tetap bisa dipakai sebagai nama keturunan. Tetapi tidak ada kaitan dengan fungsi sosial, juga tak ada kaitan dengan ajaran Catur Warna. Artinya, siapa pun berhak menjadi Brahmana (rohaniawan atau pendeta), tidak harus dari keluarga Ida Bagus. Siapa pun berhak menjadi pemimpin (misalnya Bupati atau Gubernur), tak harus dari yang bergelar Kesatria versi kasta masa lalu.

Era modernisasi ikut mengubur perjalanan kasta di Bali. Banyak orang yang tidak memakai nama depan yang “berbau kasta”, dan nama itu hanya dipakai untuk kaitan upacara di lingkungan keluarga saja. Apalagi nama-nama orang Bali modern sudah kebarat-baratan atau ke india-indiaan. Juga faktor pekerjaan di mana orang yang dulu disebut berkasta Sudra, misalnya, kini memegang posisi penting, sementara yang berkasta di atasnya menjadi staf. Dengan demikian hormat-menghormati sudah tidak lagi berkaitan dengan “KASTA” yang feodal itu.

Ketika Mayor Jenderal Polisi I Made Mangku Pastika mencalonkan diri sebagai Gubernur Bali, ada elite politik di Jakarta yang tak yakin dengan kemenangannya. Alasannya ternyata sangat aneh. Dia mengatakan, pemimpin di Bali harus dari orang yang berkasta tinggi. Kalau kastanya rendah seperti Sudra tak akan bisa terpilih sebagai Gubernur Bali. Lantas dia menyebut nama gubernur-gubernur Bali sebelumnya, seperti Dewa Beratha, Ida Bagus Oka, Ida Bagus Mantra. Made Mangku Pastika dianggap berkasta Sudra.

Pernyataan ini membuktikan bahwa masalah kasta di Bali masih membingungkan banyak orang dan masalah kasta masih dikait-kaitkan dengan berbagai macam pekerjaan. Di Bali sendiri masalah kasta sudah tidak relevan lagi dibicarakan, dan boleh disebutkan sudah tidak lagi menjadi “kesalah-pahaman”. Mungkin hanya masih berlaku di pedesaan dan itu pun pada kalangan tua. Generasi muda Bali sudah lama meninggalkan kasta. Dengan demikian menjadi aneh terdengar justru di luar Bali orang masih membicarakan kasta dengan segala embel-embelnya seperti di masa lalu.

Ajaran Catur Warna dalam Hindu adalah menempatkan fungsi sosial seseorang dalam kehidupan di masyarakat. Orang boleh memilih fungsi apa saja sesuai dengan kemampuannya. Fungsi sosial ini bisa berubah-ubah. Pada awalnya semua akan lahir sebagai Sudra. Setelah memperoleh ilmu yang sesuai dengan minatnya, dia bisa meningkatkan diri sebagai pedagang, bekerja di pemerintahan, atau menjadi rohaniawan. Fungsi sosial ini tidak bisa diwariskan dan hanya melekat pada diri orang itu saja. Kalau orangtuanya Brahmana, anaknya bisa Sudra atau Kesatria atau Wesya. Begitu pula kalau orangtuanya Sudra, anaknya bisa saja Brahmana. Itulah ajaran Catur Warna dalam Hindu.

I Made Mangku Pastika pun bisa menjadi Gubernur Bali, yang kalau dikaitkan dengan kasta masa lalu, tergolong Sudra. Wakil Gubernur adalah Anak Agung Puspayoga, yang kalau dikaitkan dengan kasta masa lalu, tergolong Kesatria. Staf di kantor gubernuran banyak yang bernama depan Ida Bagus, yang jika dikaitkan dengan kasta masa lalu adalah Brahmana. Kalau saja kasta versi masa lalu masih dianggap eksis, tentu aneh Gubernur Bali orang Sudra, wakil dan stafnya orang Kesatria bahkan Brahmana. Ini tentu tak masuk logika, karena itu logikanya memang sudah tak benar.

Dari penjelasan diatas jelas sudah perbedaan pandangan mengenai kasta, warna, dan wangsa. Kita sebagai umat Hindu yang memiliki intelektual sudah menjadi kewajiban memahami konsep ini agar tidak terjadi pandangan yang salah yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial antarumat Hindu lebih-lebih bisa menyebabkan konflik yang berkepanjangan. Namun, sekarang ini nampaknya ada usaha-usaha untuk semakin mempertajam kesenjangan umat Hindu khususnya di Bali. Sebagai contoh mengenai pembagian wewenang, hak dan kewajiban pendeta. Pedanda (pendeta yang berasal dari kalangan Kasta Brahmana) memiliki wewenang yang jauh lebih tinggi dari pada pemangku (pendeta yang berasal dari Kasta Sudra). Pendanda bisa menyelesaikan kelima upacara keagamaan yang ada dalam agama hindu di Bali yang lazim disebut sebagai Panca Yadnya.

Dalam Bhagawad Gita secara jelas disebutkan bahwa dasar persembahan kepada Tuhan adalah “keiklasan” dan sama sekali tidak berdasarkan besar atau kecilnya persembahan dan siapa yang menyelesaikan upacara karena semua manusia sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apa yang dijelaskan di dalam ajaran suci Agama Hindu ini juga mempertegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kita semua. Kita semua mahluk Tuhan dan tak perlu lagi ada pengkotak-kotakan yang berakibat pada perpecahan. Cintailah semua ciptaan Tuhan, semoga damai!

Terbuktilah kini, bahwa kasta masa lalu itu sudah terkubur. Yang tetap berlaku adalah ajaran Catur Warna, orang diberi kebebasan untuk menjadi Brahmana, Kesatria, Wesyaa maupun Sudra, asalkan mampu.
Demikian pemaparan tentang KASTA DI BALI Mudah - mudahaan semua mengerti tentang hal ini, buat yang tidak setuju mohon maaf kalo pemahaman ini salah.

84 komentar:

  1. saya sudah beberapakali membaca tetang topik ini tapi saya belum tau bagaimana meluruskan pemikiran orangbanyak tentang kasta, mohon di share bila ada caranya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya... biarkanlah itu, karena bila dipaksakan akan menjadi masalah lebih besar... karena jarang seorang manusia yg merasa tingi mau direndahkan...
      baiknya, berikan dia buku2 pemahaman tentang agama, atau kasi artikel ini sebagai masukan, minimal mereka mengerti.. apa itu kasta, wangsa dan warna... nanti, mereka akan malu sendiri dengan keadaan saat ini. suksma

      Hapus
    2. Sejujurnya saya mengatakan belum tentu setiap orang yang kastanya dianggap lebih tinggi merasa tinggi derajatnya, kalau dicari prosenrase berapa prosen yang bicaranya kasar, ngapak-apak, malah banyak yang sopan ucapannya, tapi karena pandangan orang begitu tahu namanya berisi Ida Bagus, Ida Ayu, Anak Agung, I Dewa, dsb. sudah dicap berkasta tinggi pasti akan "ngagu" akhirnya sudah timbul perasaan lain, malah ini justru yang tidak benar, tidak ada rasa tattwam asi, Soal kehormatan lain dimana anda diremehkan, jaman ini sudah beda dengan jaman dulu, kalau tak pernah diremehkan ya jangan berfikir meremehkan, menganggap orang lain sombong maka kita yang mendahului sombong, ini tentu kurang baik. Kalau dalam perkawinan, adat istiadat, itulah namanya kebiasaan, siapa yang dapat mengubah kebiasaan kecuali jaman yang mengikisnya secara perlahan, marilah kita sama-sama menghormati hak orang lain, termasuk melalui tulisan tak perlu memojokkan, karena karma phala itu akan mengenai semua orang. Terimakasih

      Hapus
    3. Aduh benar sekali itu Bli, di masyarakat banyak terjadi demikian. Karena tahu saya bernama Anak Agung, malah dia manggil aja sudah biasa "Gung" tentu saya terima, malah ucapannya kasar dan sinis, apa salah saya? Ini orang mengerti atau bagaimana. Saya tanyakan malah dia pegawai. Kok beda, sementara yang lainnya malah sangat halus dan hormat. Saya tentu akan sangat hormat dengan orang yang hormat pada orang lain, tapi yang ngapak-apak itu ingin rasanya membalas biar dia ngerti. Terimakasih

      Hapus
  2. saya mau tanya, apa dari kasta brahmana itu boleh jg ya bkerja kaya jd PNS tapi bkn jd kya pendeta gitu??
    trus antara Cokorda dan Anak Agung itu sama derajatnya?? (mksd saya itu tinggian mana? Cokorda atau Anak Agung?) hhehehehhe :p maaf banyak tanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl berbicara kasta akan berbeda dengan warna...
      walau kasta BRAHMANA tp kl saat keseharian menjadi PNS, maka warnanya akan menjadi KSATRIA.. dan bila menjadi buruh maka warnanya menjadi SUDRA...

      mengenai Cokorda dan anak agung
      cokorda dalam awal era keberadaannya dalam jaman feodal merupakan "putra dari permaisuri" dan menjadi Putra mahkota. sedangkan adik dari putra mahkota dan putra dari selir raja disebut anak agung

      tapi.. saat ini, sehubungan adanya ketakutan atau mungkin karena ketidak tauan, penamaan tersebut masih terkesan rancu...

      Hapus
    2. jangan di lihat apa yg menjadi pekerjaan meraka di era sekarang, tp ini bertujuan untuk mencari jati diri ygsebenarnya agar pemuda jaman sekarang tidak melupakan silsilah keturunannya dulu. agar tidak lupa dgn apa yg sudah diwariskan sejak dulu,,,.,.

      Hapus
    3. salah satu ajaran dibali adalah selalu bakti kpd leluhur..
      tetapi bakti dg leluhur bukannya harus sprt dl, krn era sekarang adalah era bersosialisasi...
      sehingga bila ingin hidup sejahtera,disamping ingat dan bakti kpd leluhur termasuk ortu, ingatlah dg lingkungan... itu tujuan warna dlm hidup.. silahkan baca ulang dr atas, pahami ajaran dg hati tenang..

      Hapus
  3. saya mau tanya.. apakah hubungan beda kasta itu d larang.. dan apa saja dampak na jika hubungan itu tetap d lanjutkan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampai sekarang.. sumber tertulis yang berkaitan dengan keberadaan agama belum ada.. tapi kalau sumber pengukuhan feodal sangat banyak.. tapi anehnya.. mereka belum memahami.. bila semeton bali dianggap kasta lebih rendah trus bagaimana dengan semeton tanpa kasta dari luar bali...? itu sebenarnya pembodohan yang merendahkan derajat mereka yang mengokohkan kasta...

      Hapus
    2. dan dari maka itu mereka harus cari tau jati diri mereka.,.,. kalo sudah seperti ini mereka sudah melupakan silsilah mereka, itu disebabkan oleh beberapa faktor
      1. leluhurnya setelah meninggalkan tidak pernah menceritakan jati diri mereka terhadap anak cucu meraka
      2. setelah mereka mendapatkan pekerjaan dan hidup mewah maupun hidupnya kini melarat, jadi mereka gak menganggap penting silsilah kehidupan garis keturunan meraka dan mungkin berfikiran buat apa itu diketahui .,.apakah akan bisa merubah nasib

      Hapus
    3. wah...
      mohon lebih mencermati bacaan diatas...
      mogi rahayu...

      Hapus
  4. suksma atas infonya.

    BalasHapus
  5. bli kalo ngakan dan sang ayu masuk ke wangsa apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau wangsa sudah pastinga masuk satria wangsa.. tp tergantung sekarang profesinya mendukung atau tidak...?

      Hapus
    2. Saya mw brtanya,soal pernikahan beda kasta. Apabila seorang wanita berkasta/warna lbh tinggi menikah dgn pria yg brkasta/warna lbh rendah,apakh betul pernikahan mereka tdk boleh dipuput oleh pedande? Dan apakah bnar itu dkutuk pada kehidupan mendatang mereka tdk bs terlahir sbg manusia?suksma bli

      Hapus
    3. mengenai itu, tyg belum mendapatkan sumbernya...
      jadi, kl ga ada sumber sastranya ya ga dijamin kebenarannya... hny penafsiran oknum saja

      Hapus
  6. info yang bagus. Sangat mendidik.
    Tapi tolong digali lagi tentang Pedande dan Pemangku, karena kalau dilihat dari fungsi tugas Brahmana "dari golongan brahmana" yang biasa disebut dengan Pedande dan Brahmana "dari golongan sudra" yang biasa disebut dengan Empu adalah sama. Sedangkan untuk pemangku kalau dilihat dari fungsi tugasnya adalah pembantu dari Brahmana sendiri untuk memuput suatu upacara yang bersifat intern (makanya ada yang namanya mangku desa, mangku puseh, mangku dalem, mangku maksan dan banyak lagi). Jadi bisa diumpamakan dengan Presiden dan para Mentrinya. Jadi kalau bicara tentang perbandingan Brahmana, bukan antara Pedande dengan Pemangku, tapi Pedande dengan Sri empu.

    Maaf kalau ada yang salah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wangsa brahmana ada bberapa macam...
      dari golongan guru dan dari golongan pemuka agama/upacara keagamaan
      brahmana yg berasal dari golongan pengenter upacara keagamaan ada 2.. yaitu pandita (dwijati) dan Pinandita (ekajati). dari 2 golongan tersebut sudah tentu jelas garis batas wewenang dan tugasnya..

      berbicara mengenai pandita, agama hindu hanya mengenal 1 pandita yaitu yg telah menyandang dwijati, mengenai sebutannya itu mengikuti wangsa yang diatur setelah keberadaan raja klungkung... jadi apapun sebutannya beliau tetaplah pandita.

      Hapus
  7. Pertama yang ingin saya tanyakan adalah kalau dalam hindu tidak ada kasta namun warna, bagaimana pengaturannya jika Pangeran William dari Inggris atau Putra Mahkota Naruhitu dari Tahta Bunga Kerisan Jepang masuk hindu dan ingin mengganti nama mereka? nama hindu (bali) apa yang harus mereka pakai? apakah putu atau anak agung atau tjokorda mungkin? mengingat di tempat yang sebelumnya mereka berkedudukan sebagai keluarga kekaisaran.

    yang kedua adalah, saat seorang sudra (dalam konteks kasta) beralih menjadi seorang brahmana (dalam konteks warna) mereka berganti nama diksa, misalkan saja I Putu di diksa menjadi Ida Pandita Mpu. lalu kenapa saat seorang sudra (dalam konteks kasta) beralih menjadi seorang ksatria (dalam konteks warna) tidak diganti nama juga menjadi anak agung atau mungkin tjokorda. seperti gubernur kita saat ini, kenapa tidak mendapat "gelar ksatrianya", jika memang yang diatur dalam hindu adalah warna bukan kasta yang berdasar keturunan. mohon penjelasannya atas ketidak-mengertian saya ini. terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengenai penamaan akan mengikuti penugran yang diberikan oleh beliau yang muput upacara sudiwadani..

      mengenai wangsa, sudah tentu mengikuti warna secara hindu, bila dia msh sbg pejabat negara sudah tentu dia memiliki warna "ksatria", tp bila setelah sudiwadani (msk hindu) dia menjadi kuli/buruh/pegawai biasa, tentu warnanya "Sudra"
      perlu diingat "warna itu melekat pada pekerjaan/kegiatan yg saat ini dijalankan"

      yg boleh mengganti nama adalah yg melewati upacara dwijati. bila belum melaksanakan upacara tersebut sudah tentu namanya tidak berubah.

      Hapus
  8. Sebelumnya terimakasih atas informasinya. Mohon maaf saya mau meluruskan, bahwa dalam surat An-Nisa' dan Al-Mu'minun tidak ada satu pun ayat yg menyuruh kepada perbudakan. Jika ada, mohon ditunjukkan kepada saya. Untuk menafsirkan ayat2 Al-Qur'an harus memperhatikan banyak hal. Mulai dari tata bahasa arab yg digunakan, riwayat yg menyertai turunnya ayat tsb, penyebab diturunkannya ayat tsb, kondisi sosial+ekonomi pada saat itu, dan yg tidak kalah pentingnya adalah kaitan dengan ayat2 yg lain. Setelah dilalui itu semua, bru boleh mengambil kesimpulan tafsir. Mohon jangan hanya dibaca secara harfiah bunyi ayatnya saja, namun juga tafsirnya utk mengetahui konteks ayat tsb. Bisa dari tafsir ibnu Katsir.
    Saya takut jika ada pihak yg menyimpulkan bahwa Al-Qur'an menyuruh kepada berbudakan.
    Justru kesimpulan mengenai status manusia di Al-Qur'an hanya dilambangkan dengan derajat. Sedangkan tinggi rendahnya derajat manusia hanya dibedakan oleh banyak/sedikitnya amalan ibadah kebaikan yg dia laksanakan dan tidak dipengaruhi sama sekali oleh jabatan atau status keduniaan yg lain. Dan Al-Qur'an selalu memerintahkan penganutnya untuk memerdekakan budak.

    Mohon maaf sekali, jika ada kesalahan itu pasti dari saya sendiri. Jika ada kebaikan, itu datangnya dari Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mohon maaf...
      ini kita membahas artikel yg mana ya..?
      :D

      Hapus
    2. wkwkwkwkwkwkk
      mabok

      Hapus
    3. Masih di artikel ini kok, kalimat terkahir di paragraf ke 5, " (baca Imamat,timotius dll, juga An Nisaa, dan al Mu'kminuum)

      Lupa ya? :)

      Hapus
    4. ooo mungkin sy salah baca (tafsir)...
      tp mohon jelaskan tentang menikahi (sex dg) budak Surat An-Nisa' (4) Ayat 23 dan Al Mu'minuun: 5-6...

      nikmati dulu budaknya, atau tebus/jual untuk membebaskan dia dari tuan yg lama ke tuan yg baru?
      atau apa....???
      mohon jelaskan... :)

      di Imamat 25:44 dan timotius ataupun lukas 17:7-10...
      terutama Timotius 6:1...
      ibarat atau apa...? sy jg kurang paham :)

      mohon penjelasan tafsir, krn itu ayat suci :)



      Hapus
  9. terima kasih atas info yang telah anda berikan,,
    tapi akan lebih baik jika anda mengunjungi situs kami di http://unsri.ac.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. segera tyg akan berkunjung ksn.. suksma :)

      Hapus
  10. apakah 10th kedepan 'wangsa' masih sangat kental di Bali? bisakah itu terhapuskan? apakah salah saya yg brahmana menikah dgn org bali biasa (sudra)? mohon sarannya, terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tyg kira wangsa tidak akan bisa dihapus... krn itu mslh keturunan (lelintihan)
      tp... minimal pandangan kasta sudah hilang
      mengenai pernikahan beda wangsa, itu sebenarnya sudah bnyk dijalankan
      sekarang tergantung pengetahuan dan cara pandang keluarga serta pengaruh lingkungan disekitarnya...
      contoh... di daerah gianyar, karangasem dan daerah tabanan sudah bnyk menjalankan.. dan sama kasusnya.. wangsa brahmana dengan wangsa sudra, ksatria cokorda jg dg sudra.. smua tidak masalah...
      bahkan skg tren...
      wangsa tinggi menikah dg org tanpa wangsa (org non bali).. kl dibilang diskriminasi, tanpa wangsa sama dengan tanpa status... krn itu pengetahuan dan wawasan sangat penting
      semoga sedikit pandangan itu bs membantu...

      Hapus
  11. Terima kasih beli atas info dan referensi bacaan yang bagus ini. Karena banyak orang di luar sana yang tidak begitu paham makna Kasta yang sebenarnya. Termasuk saya yang berasal dari Jawa. Sakses!

    BalasHapus
  12. artikel yang sangat bagus.
    cuman ada 1 hal yang ingin saya tanyakan. mengenai pernikahan antara mempelai wanita dari suku bali yang berkasta dengan mempelai pria yang diluar suku bali. apakah wanita itu akan dibilang nyerod ataukah masih dengan kastanya ?
    karena di masyarakat luas, hal ini masih jadi suatu hal yang agak buram.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita tidak membahas kasta..
      apabila membahas kasta sudah tentu kastanya hilang, seperti halnya wangsa yang melekat, akan hilang bila menikah keluar dari wangsa keluarganya dan ikut wangsa dirumah barunya.
      sekian...

      Hapus
  13. maaf sebelumnya saya ikut nimbrung dan sedikit memberikan suatu pertannyaan dan suatu gambaran.. yg perlu diingat disini adalah perlu dibedakan antara wangsa dan warna. jika ini ditafsir sama ini tentu akan membingungkan.. dalam Bhagawad Gita catur warna disini perananya difungsikan untuk pengelompokan profesionalisme kerja (kaitannya dengan peranannya dalam dharma Negara tan ketatanegaraan) dari suatu kerajaan/pemerintahan. yg mana dari keseluruhannya menjadi suatu kesatuan sinergitas yg amat penting dalam menjalani roda pemerintahan. satu profesi itu tidak ada maka dijamin roda pemerintahan tidak dapat berjalan dengan baik. ibarat seperti badan manusia. ilmuan/para cendikia/para tokoh spiritual/maha Rsi merupakan pondasi utama(kepala dari sang Badan), pemimpin dan ptajuri ibarat lengan sebagai power negara/kerajaan, para pedagang sebagai tokoh-tokoh penggerak roda perekonomian, dan sudra sebagai profesional-profesional dalam penggerak pembangunan/pekerja yg handal. ini perlu dipahami, disini tidak ada yg tinggi dan rendah namun terkai dengan peranan... tidak ada tinggi dan rendah namun yg mana yg lebih dihormati.
    kaitannya dengan wangsa di bali sesunggunya tidak adan sistem warna (apa lagi kasta), yang ada di Bali adalah sistem siwa sisya/guru dan sisya dimana griya sebagai pusat pendidikan (pasraman) dalam menempa ilmu spiritual dan bahkan ketatanegaraan. karena di Bali menganut sistem Siwa Sidhanta (Siwa Budha). sistem warna baru muncul ketika jaman kolonial masuk Bali yg mempengaruhi sistem perpolitikan kerajaan. perlu dikoreksi sedikit bahwa bahwa Dang Hyang Nirartha yg mengawali sistem wangsa itu sesungguhnya keliru. kita hendaknya sebelum memberikan suatu argumen hendaknya dikaji terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kekeliruan yg dapat menimbulkan dampak yg fatal. sesungguhnya sistem wangsa sudah ada sebelum Dang Hyang Nirartha masuk Bali. wangsa disini terkai dengan wit/wed asal keturunan (darah/genetik) dan kaitannya dengan pemujaan terhadap leluhur. makanya di Bali ada yg namanya pura Paibon/kawitan/padharman. dan adanya pemberian nama gelar seperti Pande, Pasek, Dewa, Bendesa, Anak Agung Ida Bagus dll. dan perlu di telusuri secara benar kenapa gelar itu diberikan (dapat diperoleh) agar pemahaman kita menjadi terbuka dan paham betul akan apa yang ada di tempat yg disebut dengan pulau Bali ini, dan tidak terjerumus pada stigma yg negatif dan terkadang mempermasalahkannya karena ketidak pahaman kita akan ke Balian kita. yg semua itu merupakan suatu petanda dan identitas kekeluargaan. coba kita bayangkan kalau kita tidak diwarisi petanda tersebut? bersukur kita dibekali petanda kita jadi tahu wit kita. jangan disamakan dengan warna. Beliau (Dang Hyang Nirartha) pada saat menjadi Bhagawanta Kerajaan Gelgel hanya memberikan suatu piteket utuk membuat silsilah agar jelas kelak dikemudian hari dan pretisentana kelak tidak kebingungan dalam mencari kawitannya masing-masing. kita hendaknya betul-betul pahami dan dalami terlebih dahulu sehingga karena ketidak pahaman itu ditah menjadi menyalahkan budaya kita sendiri. perlu diingat wangsa disini terkait dengan penandaan kekeluargaan yg merupakan suatu bentuk budaya nusantara, jika orang cina hal ini disebut dengan Marga, dan SUKU Minangkabau juga mengenal sistem marga (sistem kekeluargaan itu). sehingga dalam hal ini Warna dengan wangsa jelas sangat berbeda... karena warna terkait dengan sistem ketata negraan sedangkan wangsa terkait dengan sistem kekeluargaan dan gelar juga yang merupakan ranah budaya.
    pertannyaan yg mengganjal di benak saya. jika ada seseorang yg paginya berprofesi sebagai guru dan sorenya menjual skilnya dengan membuka les prifat atau ada juga yg berjualan/ berdagang masuk dalam tataran mana? ada juga tentara kemudian melatih anak didiknya (mengajar) dalam latihan, ia masuk dalam kategori yg mana?
    mari mencati dan mari menggali nilai luhur yg kita miliki.. terimakasi. shanti.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. inggih suksma masukannya...
      kita akui pernyataan jro memang benar, hanya saja... dalam aplikasi belakangan ini piteket tsb dijadikan pengkastaan...

      mengenai warna... dalam sastra sudah dijelaskan. warna merupakan profesi pokok seseorang..
      bila seseorang menaruh kehidupan tulang punggungnya sbg seorang guru, maka warna org tsb adalah "brahmana" walaupun org tsb memiliki "pekerjaan sampingan"..

      Hapus
  14. Di mata Tuhan,manusia adalah sama dan tidak ada perbedaan sama sekali klo semua mau jadi orang yang berkasta semua yang berinkarnasi di alam roh manusia semua pilih yang berkasta biar ingin disanjung atau dihormati di dunia nanti.Namun di zaman ini kemampuan,bakat adalah syarat dalam suatu prestasi karir dalam mendapatkan pekerjaan karena pekerjaanlah yang memberikan kehidupan bukan dari kasta bahkan saat ini orang yang dianggap sudra menjadi pimpinan atau bos dari orang golongan berkasta dan ini adalah fakta yang terjadi sehingga Tuhan tidak pernah membedakan-bedakan rejeki kepada umat manusia di bumi karena hanya dilihat dari sistem kasta.

    BalasHapus
  15. Di bali khususnya desa-desa kuno yang ada seperti Kintamani,Payangan dan Taro masih ada beberapa Pura/Kahyangan yang tidak dibolehkan menggunakan Ida Pedanda sebagai sulinggih pemuput upacara dan tradisi turun-temurun hanya menggunakan Jro Gede atau Jro Mangku sebagai pemimpin upacara dan bila tradisi itu dilanggar maka terjadi bencana yang ditanggung sendiri oleh sulinggih tersebut baik itu sakit ataupun kematian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin untuk hal tersebut perlu dicarikan purana atau dasar sastranya agar tidak jadi polemik kedepannya, serta biar tidak menyamarkan kesucian pura akibat istilah "nak mule keto". suksma:)

      Hapus
  16. yg berlaku di Bali skrng ini adlh WANGSA bkn KASTA.
    Dan baru berlaku sejak Bali dikuasai/Perintah olh Keturunan orng2 MAjapahit..dgn Tujuan inti KEKUASAAN.
    Dan wangsa di zaman dulu sngt penting artinya bgi status sosial di msyrakat..krn pd golongan WANGSA tertentu akn mndapatkan Hak2 Istimewa di msyarakat.

    Dan di zaman modern ini msalah WANGSA di bali kembali mnjadi trend dan gaya hidup...ini tak lepas dri pengaruh Zaman KALIYUGA dimana sifat Sombong,Angkuh,Egois,iri dan Dengki tlh membuat buta mata hati dan Fikiran.
    Ingat ajaran SAPTA TIMIRA yaitu KULINA = MABUK KARENA GELAR KEBANGSAWANAN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. inggih suksma masukannya... lebih tepatnya wangsa yg dikastakan :)

      Hapus
  17. kalo kata saya adalah.... orang pintar belum tentu bijak dan orang yang bijak sudah pst pintar ( dlm konteks permasalahan duniawi ) aturan tuhan tidak sama dgn aturan yg dibuat oleh manusia!
    jd kesimpulan saya adalah semua yg di dunia tidak ada artinya alias hampa dan yg kekal adalah kehidupan setelah kita meninggalkan dunia ini!
    memperdebatkan urusan dunia hnya sia2 belaka minding kita praktekkan darma dlm kehidupan!
    berisi adalah kosong, kosong adalah berisi tolong di cari maknanya!

    BalasHapus
  18. semangat bro..kami selalu mendukung..semoga niat anda benar benar tulus demi kemajuan agama bali dan hindu di bali, bukan mewakili soroh tertentu...agar agama bali bisa lebih hindu dan pantas di sebut hindu bali, agar umat hindu bali tidak terpengaruh untuk meninggalkan hindu menjadi islam bali, kristen bali, buddha bali atau mungkin atheis bali he3

    BalasHapus
    Balasan
    1. astungkara... moga hindu bali makin ajeg

      Hapus
  19. Mohon Maav kekurang pengertian tiang tentang artikel niki..
    tiang sekarang berkasta brahmana dan untuk warna tiang kurg tau karena tiang menjalani 2 aktifitas yaitu sebagai staff dan juga penekun sepiritual, dan yang ingin tiang mengerti misalakan jika tiang menikah dengan kasta brahmin dan warna sudra, haruskah penamaan untuk anak/keturunan dirubah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. penamaan dibali berdasarkan wangsa, sangat bijak itu diajegkan...
      hanya saja, jnglah kedepannya mengkastakan wangsa kita masing2, sehingga melanggar aturan spiritual yg kita jalani bersama.. mogi rahayu

      Hapus
  20. Waduh , Bagus Informasinya Bli , Padat dan Jelas...............
    suksma Puniki.............. dan posting Informasi Mengenai Kebudayan Di Bali yang lain Lagi Ya saya Tungu Brow...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ingih suksma, ampura antuk bulan2 niki tyg durung wenten ngumpulang artikel, santukan persiapan akhir tahun :) mogi rahayu...

      Hapus
  21. Suksema artikelnya jro...''tyang tambahkan sedikit,jadi yg membedakan semua mahluk hidup khususnya manusia adalah ''KARMA'' "" OM SANTHI SANTHI SANTHI OM ""

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalah karma adalah maslah pribadi yang agung... jadi setiap yg tercipta sudah membawa karmanya sendiri, karena hukum karma diciptakan olehNYA untuk mengikat ciptaannya...
      suksma, mogi rahayu..

      Hapus
  22. mohon diulas lebih detail ttg nama2 untuk sudra,apa arti dari wayan,made,nyoman dan ketut ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampun tyg bahas nike...
      silahkan kunjungi link niki... http://cakepane.blogspot.com/2012/07/nama-orang-bali.html

      Hapus
  23. bagus artikel yg bagus aq org jawa jd ngrti apa itu kasta dan warna, dan arti2 nama

    BalasHapus
  24. Ida Bagus Gde Parwita
    Saya sangat setuju untuk tidak lagi mempermasalahkan soal kasta, ataukah warna atau wangsa atau entah apa namanya. Namun dalam hal muput upacara tentu ada wewenang berbeda antara seorang yang masih ekajati, dan dwi jati. Pemangku, Pinandita, ini baru melaksanakan pawintenan saja tentu wewenangnya terbatas, bila dibandingkan oleh sang dwi jati ( yang sudah mapudgala). Sang Dwi jati ini bukan hanya pedanda, bisa Bhagawan, Resi, Empu yang semuanya termasuk golongan pandita. Sebab kalau wewenang ini diambil oleh eka jati ini namanya nyumuka. Saya kira begitu, bukan membeda-bedakan, hal ini karena kita mengenal istilah dwi jati, lahir kedua kali melalui guru nabe. Mohon maaf bila ada hal kurang berkenan.

    BalasHapus
  25. hemat saya, kasta harus segera dihapus diBali..karena paham kasta itu sama dgn penyakit virus yang akan mnegerogoti ke universalan Hindu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tanpa dihapus pun, secara sosial kasta pasti terhapuskan
      bisa dilihat dari kehidupan sosial saat ini...
      yang dulunya fanatik kasta, tidak akan bs berbuat tanpa ditunjang oleh warnanya..
      jadi... warnalah yg memegang status sosial saat ini, kembali seperti ajaran aslinya :)

      Hapus
  26. Berarti jika ada seseorang naik pangkat dalam pekerjaan (dari karyawan OB jadi atasan),otomatis warna dan kastanya akan naik ya?

    BalasHapus
  27. Saya mau tanya, apakah ada peralihan kasta dari rendah ke kasta yang lebih tinggi?
    terimakasih, mohon jawabany...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang namanya kasta tidak akan ada peralihan...
      karen kasta menunjukan keturunan...
      tapi, dalam pandangan hindu maupun pandangan bali moderen, kasta sudah ditinggalkan
      masyarakat bali, sekarang sudah kembali ke paham agama, dimana agama menuliskan aturan warna
      nah... mengenai bagaimana "warna sosial" di bali, sudah saya jelaskan di artikel ini, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  28. pacar saya bergelar ''anak agung'' dan saya sendiri muslim. saya dan pacar saya sudah 3 tahun dan ingin kejenjang lebih serius. menurut anda, apakah saat pernikahan nanti akan mengalamin kendala? :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. anda cewek atau cwok?

      Hapus
    2. secara unum tidak akan ada kendala, asal ada kesepakatan dr awal tentang masa depan anda dan keluarga :)

      Hapus
  29. OSA :)
    salam kenal tiang mahendra
    tiang tertarik mendiskusikan artikel druwe yg membahas tntg sistem kasta di Bali
    tiang cumpu indik kasta sebenarnya tidak disebutkan di Veda,tp wangsa punika bukankah didapat berdasarkan perjalanan hidup Beliau para leluhur kita pada jaman dahulu? bisa dibuktikan bahwa yang menurunkan raja-raja kelungkung (Ksatrya) adalah Ida Danghyang Soma Kepakisan yang notabene adalah saudara dari Ida Danghyang Semaranatha,dimana Danghyang Semaranatha menurunkan Ida Danghyang Nirartha yang menurunkan kaum Brahmana Siwa di Bali.
    Nah,punapi pendapat ragane indik punika?
    OSSSO

    BalasHapus
    Balasan
    1. om swastiastu...
      patut kadi nikan jrone..
      yening nakenang kasta, pateh kadi nyingak artikel ring ajeng...
      sujatine sami mawit sakeng warna sane matiosan, nanging santukan kawikanang sakeng soang2 manusane, ngemolihang warna sane kasungkemang.
      intinyane... manusa wikan, ngemargiang warnanyane,,, manusa tan wikan, ngangken warna leluhur/rerama'ne pateh kadi warna sane margiange mangkinang... nanging ipun lali, sire sujatina ragan ipun.. :)

      Hapus
    2. trus adanya "warna" nika munculnya dari mana sujatinnyane jero?

      Hapus
    3. warna muncul dr adanya dharma.... napi dharma'n jro, nike sampun sane mewasta warna...
      darmaning pengusaha, nike mewasta wesia warna...
      darmaning prajurit utawi pegawai negeri, nika wastane ksatria warna...
      kadi nike sinamian

      Hapus
  30. Becik pisan niki artikelne. Dumogi ajeg, ngiring melancaran ring situs BUWIk.com suksma...

    BalasHapus
  31. OSA, mau nanya dikit ya? Gusti Randa dan Cok simbara masuk kasta yang mana ya,,,,?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dimasukan ke kastu, sudah tentu dia tidak termasuk 4 kasta diatas (bali)
      jadi logikanya... bila tidak termasuk dalam 4 kasta, maka orang tersebut adalah candala (budak).. he he he

      tetapi... bila merujuk pada dasar veda, kedua orang tersebut memiliki warna sudra, yaitu orang2 yang mencari uang dengan mengandalkan bakatnya, jasmaninya...

      Hapus
  32. Mudah2an yg fanatik membacanya! Krn sesuai pengalaman saya yg menyandang "kasta" biasanny ga tau menau. Mrk boleh berkata biasa(kasar) tp ketika temennya berkata biasa(kasar) kok temen yg berkasta marah2. Dasarrr!!! Mecelep buin kepepek i meme sana!

    BalasHapus
    Balasan
    1. om swastiastu...
      inggih... nike kembali kpd pengetahuan org yang kita ajak berbicara/berkomunikasi...
      apabila orang yang kita ajak komunikasi tidak mengetahui sastra, maka mereka akan menganggap dirinya lebih pintar...

      Hapus
  33. Saya seorang yahudi saya pacaran dengan orang berkasta dibali,tolong bantu saya biar naik pangkat
    Biar saya berkasta

    BalasHapus
    Balasan
    1. asal mau menjadi orang bali, anda akan ikut kasta pacar anda...
      sangat teramat simple...

      tapi, sesuai dengan ajaran kebenaran, Warna anda akan diikuti oleh profesi anda

      Hapus
  34. Suksma Infonya bli, saya sebagai anak rantauan dari Bali sering mendapat pertanyaan mengenai hal ini, dan sekarang saya dapat mengerti lebih jauh dan dapat menjelaskan kepada mereka
    saya tunggu artikel artikel bermanfaat lainnya

    BalasHapus
  35. Suksma
    artikelnya sangat jelas terutama buat orang bukan bali
    keep writing..

    BalasHapus