Google+

Minggu, 30 September 2012

kalpika dan karawista, salah satu piranti sembahyang

kalpika dan karawista, salah satu piranti sembahyang


Ada berbagai peranti yang digunakan dalam persembahyangan. Peranti tersebut biasanya digunakan dalam persembahyagan lengkap (resmi). adapun piranti tersebut antara lain: 

KARAWISTA  

adalah simbol dari Sang Hyang Widhi karena ada unsur-unsurTri Murti yang terkandung di dalamnya, seperti ilalang yang berwarna hijau melambangkan Wisnu, bunga merah dan putih simbol Brahma dan Siwa, lalu pada bagian depan karawista ada yang berbentuk yang bulat dan berdiri atau tegak, itu adalahwindu dan ardacandra, sehingga karawista adalah simbol Omkara atau simbol Sang Hyang Widhi 

KALPIKA

yang terbuat dari daun kembang sepatu atau kembangpucuk dalam bahasa Bali. Berbentuk segitiga yang merupakan simbol Trilingga. Trilingga adalah alam semesta ciptaan Sang Hyang Widhi yang terdiri dari bulan, bintang, dan matahari. Kemudian ada juga unsur-unsur Tri Murti, yaitu bunga putih,bunga merah, dan daun pucuk yang berwarna hijau di mana hijau dianggap sebagaihitam. Kemudian yang ketiga adalah bunga biasa. Bunga biasa, kalau yang berwarnaputih itu adalah simbol Siwa, yang berwarna merah simbol Brahma, yang berwarnakuning itu simbol Mahadewa, berwarna biru atau hijau itu adalah simbol Wisnu. 

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bangunan Suci Sanggah dan Pura

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bangunan Suci di Bali


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa, Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.

Asta Bumi menyangkut pembuatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut:

Tujuan Asta Bumi adalah

  • Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi
  • Mendapat vibrasi kesucian
  • Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali

angkul - angkul bagian dari asta kosala kosali
Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.
  • Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. 
  • Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.
Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana. Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali.

Belajar meMantra atau meWeda

Belajar meMantra atau meWeda


Dilarang belajar mantra, banyak orang takut belajar mantrà,
karena belum mengerti apa itu sesungguhnya mantrà disamping itu, sering mendengar sebuah kalimat; “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, jangan disembarangkan, perilaku yang sembarangan itu sangat tidak baik manfaatnya. Kemudian lebih lanjut tutur-dituturkan oleh tetua kita di Bali; Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé. Jangan mempelajari aksarà Modré/aksarà suci, nanti bisa gila. Dua pernyataan seperti ini sudah cukup menakutkan bagi orang Bali yang lugu dan hormat kepada tutur, orang tua dan orang yang disucikan.

Maka kita tidak cukup menerima begitu saja, tutur tetua kita dan kalimat “Aywà Wérà tan sidhi phalanià”, dan Dà melajahin aksarà modré/aksarà suci nyanan buduh nasé, kalimat ini harus ditelusuri lebih mendalam. Dari mana sesungguhnya kalimat tersebut muncul, dan dari buku mana dan apa tujuannya.

Kalimat tersebut muncul dari Purwa Adhi Gama Sesana, (Ringga Natha, 2003:3) yang menyatakan: 
Yan han wwang kengin weruhing Sang Hyang Aji Aksara,
mewastu mijil saking aksara,
tan pangupadyaya/maupacara mwah tan ketapak, tanpa guru,
papa ikang wwang yan mangkana.
Bibijat wwang ika ngaranya,