Google+

Catur Warna Strata Sosial dalam Agama Hindu

Catur Warna Status Sosial dalam Agama Hindu

Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: 
Paramasiwa kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya; ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti, guna, dan swabhawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam keadaan begini ia diberi gelar Sadasiwa. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya yang disimpulkan sebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. Dengan sakti, guna, dan swabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaan-ciptaan-Nya, karena itu ia disebut Saguna Brahman. Dalam menciptakan manusia ia tidak membeda-bedakan derajat manusia.
Dalam agama Hindu, istilah Kasta dalam weda tidaklah dikenal, tetapi yang ada adalah Warna (Sanskerta: वर्ण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)".


Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatrya, Wesya, dan Sudra.
Caturwarnyam maya srishtam Guna karma wibhagasah, Tasya kartaram api mam Vidhdhy akartaram avyayam (Bhagavad-Gita IV.13)
Artinya :
Catur Warna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kwalitas kerja, Meskipun aku sebagai penciptanya, ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan
Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra ataupun Waisya, apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.

Dalam tradisi Hindu, Jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra.

Di dalam Bhagawata Purana dan Smrti Sarasamuçcaya pasal 63 dengan tegas dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada suatu warna kalau tanpa dilihat dari segi perbuatannya. Dari perbuatan dan sifat- sifat seperti tenang, menguasai diri sendiri, berpengetahuan suci, tulus hati, tetap hati, teguh iman kepada Hyang Widhi, jujur adalah gambaran seseorang yang berwarna Brahmana. Tetapi orang yang gagah berani, termasyhur, suka memberi pengampunan, perlindungan maka mereka itulah yang disebut Ksatrya.

Purana Sukra Niti memberi keterangan bahwa keempat warna itu tidak ditentukan oleh kelahiran, misalnya dari keluarga Brahmana lalu lahir anak Brahmana juga, tetapi sifat dan perbuatan mereka itulah yang menentukan sehingga mereka menjadi demikian seperti adanya empat warna itu.

Di Dalam Wiracarita Maha Barata juga dijelaskan bahwa sifat- sifat Brahmana ialah: jujur, suka beramal/ berderma, pemaaf, pelindung, takwa, cenderung untuk melakukan pertapaan dan menjadi seorang pemimpin umat dalam melakukan persembahyangan. Dan dijelaskan pula bahwa kelahiran anak dari seorang Sudra yang dikatakan mempunyai sifat- sifat seperti tersebut di atas, mereka bukanlah Sudra tetapi mereka adalah Brahmana. Tetapi seorang keturunan Brahmana yang tidak mempunyai sifat- sifat seperti itu, maka ia sesungguhnya Sudra

Titik lemah yang menghitami agama Hindu adalah penyimpangan pengertian WARNA yang sebenarnya menurut kitab suci Weda menjadi Kasta (caste: keturunan).Sabda suci Tuhan menegaskan bahwa setiap profesi memiliki kedudukan yang sama dan mulia. apakah sebuah sekrup pada sebuah mesin dapat dibandingkan dengan sebuah busi? orang mungkin melihat busi itu sangat vital, tetapi bila sebuah sekrup yang menghubungkan ke aki tidak ada/tak berfungsi, mesin tidak dapat dinyalakan (hidup). demikian pula warna Sudra yang berprofesi sebagai pekerja. 
Pekerja/karyawan, siapapun dia, dari keluarga atau keturunan siapapun dia adalah seorang SUDRA. demikian juga dengan profesi lainnya.
semua profesi memiliki kedudukan yang sejajar, baik itu sudra, weisya, ksatria dan brahmana, sama-sama memiliki kedudukan mulia. Pengertian WARNA menurut pembawaan dan fungsinya dibagi menjadi empat berdasarkan kewajiban. Orang dapat mengabdi sebesar mungkin menurut pembawaannya. Disini ia dapat melaksanakan tugasnya dengan rasa cinta kasih dan keikhlasan sesuai dengan ajaran agama hindu.
Brahmanaksatriavisam Sudranam ca paramtapa, Svabhavaprabhavair gunaih (bhagawad-gita XVIII.41)
artinya:
Arjuna, tugas-tugas adalah terbagi menurut sifat, watak kelahirannya sebagaimana halnya brahmana, ksatriya, waisya dan juga sudra.
Pembagian kelas ini sebenarnya bukan terdapat pada hindu saja, tetapi sifatnya universal. Klasifikasinya tergantung pada tipe alam manusia, dari bakat kelahirannya. Masing-masing dari empat kelas ini mempunyai karakter tertentu. Ini tidak selalu ditentukan oleh keturunan. dalam bhagawadgita teori varna sangat luas dan mendalam. Khidupan manusia diuar, mewujudkan wataknya didalam. Setiap mahluk mempunyai watak kelahirannya (swabhawa) dan yang membuat efektif didalam kehidupannya adalah kewajibannya (swadharmanya).

berikut ini sloka suci tentang persamaan kedudukan catur warna tersebut.
rucam no dhehi brahmanesu, rucam rajasu nas krdhi, rucam visyesu sudresu mayi dhehi ruca rucam (Yayur Weda XVIII.48)
artinya:
ya Tuhan, bersedialah memberikan kemuliaan pada para brahmana, para ksatria, para weisya dan para sudra. semoga engkau melimpahkan kecemelangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.
disloka lainnya terdapat penjelasan dari masing-masing profesi kemasyarakatan yang kemudian dikenal dengan pembagian catur warni ini,
brahmane brahmanam, ksatraya rajanyam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram (Yayur Weda XXX.5)
artinya:
bramana diciptakan untuk pengetahuan, para ksatria untuk perlindungan, para weisya untuk perekonomian dan para sudra untuk pekerja jasmaniah.

sehingga dapat disimpulkan bahwa, Pembagian Catur Warna sebagai berikut:

  1. Brahmana Warna, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan serta memberikan pembelajaran tentang ilmu pengetahuan, contoh dari golongan ini adalah pandita, pinandita, guru, dosen dll lebih lengkap baca: Tugas dan Fungsi Brahmana
  2. Ksatriya Warna, Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara. Ksatriya merupakan golongan para bangsawan yang menekuni bidang pemerintahan atau administrasi negara. Ksatriya juga merupakan golongan para kesatria ataupun Orang-orang yang ahli dalam bidang militer dan mahir menggunakan senjata. Kewajiban golongan Ksatriya adalah melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Apabila golongan Ksatriya melakukan kewajibannya dengan baik, maka mereka mendapat balas jasa secara tidak langsung dari golongan Brāhmana, Waisya, dan Sudra. contoh dari golongan ini adalah PNS, TNI, Polri, serta pejabat Negara, Perangkat Pemerintahan lainnya baik di tingkat kabupaten maupun tingkat Desa. Tugas dan Fungsi Ksatria
  3. Waisya Warna, Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain). Waisya merupakan golongan para pedagang, petani, nelayan, pemilik lahan pertanian perkebunan, investor, pemilik usaha/perusahaan dan profesi lainnya yang termasuk bidang perniagaan atau pekerjaan yang menangani segala sesuatu yang bersifat material, seperti misalnya makanan, pakaian, harta benda, dan sebagainya. Kewajiban mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Tugas dan Fungsi Weisya
  4. Sudra Warna, Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan. Sudra merupakan golongan para pelayan yang membantu golongan Brāhmana, Kshatriya, dan Waisya agar pekerjaan mereka dapat terpenuhi. Dalam filsafat Hindu, tanpa adanya golongan Sudra, maka kewajiban ketiga kasta tidak dapat terwujud. Jadi dengan adanya golongan Sudra, maka ketiga kasta dapat melaksanakan kewajibannya secara seimbang dan saling memberikan kontribusi. contoh golongan sudra adalah karyawan, buruh, penggarap tanah dari golongan weisya, pembantu rumah tangga serta golongan lainnya yang mengabdikan diri atau bekerja dibawah perintah tiga golongan diatasnya. Tugas dan Fungsi Sudra

profesi ke empat warna diatas, semuanya merupakan bagian-bagian yang berasal dari Tuhan yang maha suci, seperti yang disebutkan dalam sloka berikut ini:
brahmano asya mukham asid, bahu rajayah krtah, uru tadasya yad vaisyah, padhyamsudro ajayata (Yayur Weda XXXI.11)
artinya:
brahmana adalah MulutNya, ksatria adalah lengan-lenganNya, weisya adalah paha perutNya dan sudra adalah kaki-kakiNya.
maksud dari mantra ini adalah menunjukan adanya anatomi (strata sosial) masyarakat berdasarkan profesi, dimana brahmana adalah mulut dan kepala, karena dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan daya pikir. Kesatrya sebagai tangan (pelaksana), maksudnya dalam menjalankan profesinya mereka banyak menggunakan ketrampilan. Wesya adalah perut dari masyarakat karena profesi mereka banyak berhubungan dengan pemenuhan kecukupan sandang – pangan – papan. sedangkan Sudra seakan-akan menjadi kaki masyarakat, karena profesi mereka membutuhkan kekuatan jasmani, mengikuti perintah-perintah tiga warna lainnya. singkatnya secara sederhana penduduk dunia ini digambarkan sebagai manusia kosmos. dalam susatra weda dengan tegas dinyatakan bahwa profesi masyarakat ini bukan atas dasar kelahiran, tetapi pilihan profesi yang dipilih oleh setiap individu manusia itu sendiri, atas dasar sifat atau kecenderungan bakat (guna) dan pekerjaan (karma) seseorang dalam masyarakat.

Keempat warna ini justru dibeda-bedakan fungsinya agar masyarakat dan dunia terlindung dari kehancuran. Ini menandakan fungsi-fungsi itu sama penting dalam memperoleh harkat dan martabatnya. Untuk menentukan warna seseorang bukanlah dilihat dari keturunannya tetapi benar-benar ditentukan oleh Guna dan Karma seseorang, hal ini ditegaskan lagi dalam Mahaharata XII, CCCXII. 108. sloka tersebut adalah sebagai berikut:
Nayonir napi samskara Nasrutam naca santatih Karanani dwijatwasya wrttam eva tukaranam.
artinya:
Bukan karena keturunan (yoni), bukan karena upacara semata, bukan pula karena mempelajari Veda semata, bukan karena jabatan yang menyebabkan seseorang disebut dwijati. Hanya karena perbuatannyalah seseorang dapat disebut Dwijati.
Sloka ini diambil dari Wana Parwa bagian dari Mahabhatara pada episode ketika Bima dibelit oleh Naga besar yang disebut Nagendra. Nagendra akan melepaskan Bima apabila Dharma Wangsa mampu menjawab semua pertanyaan dari raja naga tersebut. Salah satu dari sekian banyak pertanyaan adalah : siapa yang dapat disebut Dwijati?. sloka disebut diatas adalah jawaban dari Dharmawangsa.

Catur warna ini adalah suatu konsepsi kemasyarakatan hindu yang tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup catur purusartha dan tahapan hidup catur asrama. Untuk mendapatkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha secara bertahap dalam catur Asrama membutuhkan keterpaduan antara sifat dan bakat yang dibawa lahir dengan pekerjaan yang didapatkan dalam menuntun kehidupan didunia ini. Demikianlah pula landasan etika yang wajib diwujudkan oleh setiap orang dalam melaksanakan profesinya. Jadi catur warna adalah suatu konsep hidup yang benar-benar serius dan sakral karena diwahyukan oleh Tuhan sebagai mana disebutkan dalam Bhagawadgita IV. 13 yang dikutip diatas.

Dalam zaman pembangunan dewasa ini adalah merupakan suatu kewajiban yang amat suci mengembalikan catur warna dalam pengertiannya yang benar dan dibersihkan dari lumpur kasta versi India dan sistem wangsa versi bali.

Catur warna adalah bhisama kitab suci, yang tidak membeda-bedakan hasrat dan martabat manusia. Catur warna benar-benar memberikan manusia jalan hidup untuk bekerja sesuai dengan sifat, bakat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir. sloka lainnya yang menjelaskan tentang pentingnya catur warna diantaranya:
ise pinvasva; urje pinvasva, brahmane pinvasva, brahma dharaya, ksatram dharaya, visam dharaya (Yayur Weda XXXVIII.14)
artinya:
ya Tuhan, perkuatlah para brahmana, ksatria dan weisya, supaya mereka bisa menyediakan pengetahuan, kekuatan (keamanan) dan keberlimpahan pangan.
dalam sarasamussaya yang diterjemahkan dalam bahasa jawa kuno disebutkan bahwa, tri warna tersebut harus di dwijati dan sudra harus di ekajati, diberikan pengetahuan lebih agar negara menjadi aman sentosa, disamping itu ajaran ini tidak mengenal warna ke lima, seperti yang dikutip dalam sloka berikut ini:
brahmano ksatriyo waisyastrayo warna dwijatayah, caturrtha ekajatiyah sudro nastiha pancamah (sarasamuccaya 55)
arti dalam bahasa jawa kuno:
brahmana adining warna, tumut ksatriya, tumut waisya, ika sang warna tiga, kapwa dwijati sira, dwijati ngaraning ping rwa mangjanma, apan ri sedeng niran brahmacari gurukulawasi kinenan sira diksabrata sangskara, kaping rwaning janma nira tika, ri huwus nira krtasangskara, nahan matangnyan kapwa dwijati sira katiga. kunang ikang sudra kapating warna, ekajati sang kadi rasika, tan kadi kinenana brata sangaskara, tatan brahmacari, mangkana kandanikang warna an pat, ya ika catur warna ngarannya, tan hana kalimaning warna ngarannya.
artinya:
brahmana asal muasal dari warna itu, kemudian ksatria, kemudia weisya. itu ketiga warna, semuanya sama-sama dwijati. Dwijati artinya lahir dia kali, sebab waktu melaksanakan brahmacari mereka bertempat tinggal di rumah keluarga gurunya menerima sangaskara diksa brata, dua kali menginjak masa kelahiran setelah selesai menerima sangaskara. demikianlah sebabnya semuanya sama-sama dwijati ke tiga-tiganya. adapun yang disebut sudra, warna yang ke empat disebut ekajati, lahir satu kali, karena tidak memperoleh brata samskara itu, tidak melakukan brahmacari, demikianlah asal-muasal keempat golongan itu. itulah yang disebut catur warna, tidak ada yang dinamakan warna ke lima.
Keempat warna itu sifatnya universal. Dalam lingkaran jalinan kehidupan, mereka saling mengisi dan mencukupi kebutuhan bersama. Filosofi Warna seperti di atas yang ada dalam kitab-kitab suci Hindu, tidak ada hubungannya dengan “kasta”.

Kasta berasal dari bahasa Portugis “Caste” adalah struktur sosial yang berjenjang dalam tatanan feodalisme dimana untuk kepentingan status-quo telah menyimpangkan filosofi Warna.

Sejalan dengan kemajuan zaman, system Kasta makin memudar, karena tidak sesuai dengan azas-azas kemanusiaan.

Sistem Kerja Catur Warna

Caturwarna menekan seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Golongan Brahmana diwajibkan untuk memberi pengetahuan rohani kepada golongan Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Golongan Ksatriya diwajibkan agar melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Golongan Waisya diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan material golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Sedangkan golongan Sudra diwajibkan untuk membantu golongan Brahmana, Ksatriya, dan Waisya agar kewajiban mereka dapat dipenuhi dengan lebih baik.

Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem Caturwarna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis. Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak. Dalam sistem Caturwarna terjadi suatu siklus "memberi dan diberi" jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.

Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta.

Penyimpangan terhadap Catur Warna di Bali

Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Catur Warna cenderung membaur mengarah kepada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa atau Turunan darah. Pada hal Catur Warna menunjukkan pengertian golongan fungsional, sedangkan Catur Wangsa menunjukkan Turunan darah.

Banyak orang yang menganggap Caturwarna sama dengan Kasta yang memberikan seseorang sebuah status dalam masyarakat semenjak ia lahir. Namun dalam kenyataannya, status dalam sistem Warna didapat setelah seseorang menekuni suatu bidang/profesi tertentu. Sistem Warna juga dianggap membeda-bedakan kedudukan seseorang. Namun dalam ajarannya, sistem Warna menginginkan agar seseorang melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya.

Kadangkala seseorang lahir dalam keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi dan membuat anaknya lebih bangga dengan status sosial daripada pelaksanaan kewajibannya. Sistem Warna mengajarkan seseorang agar tidak membanggakan ataupun memikirkan status sosialnya, melainkan diharapkan mereka melakukan kewajiban sesuai dengan status yang disandang karena status tersebut tidak didapat sejak lahir, melainkan berdasarkan keahlian mereka. Jadi, mereka dituntut untuk lebih bertanggung jawab dengan status yang disandang daripada membanggakannya.

Di Indonesia (khususnya di Bali) sendiri pun terjadi kesalahpahaman terhadap sistem Catur Warna. Catur Warna harus secara tegas dipisahkan dari pengertian kasta. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Drs. I Gusti Agung Gde Putera, waktu itu Dekan Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma Denpasar pada rapat Desa Adat se-kabupaten Badung tahun 1974. Gde Putera yang kini Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama mengemukakan:
Kasta-kasta dengan segala macam titel-nya yang kita jumpai sekarang di Bali adalah suatu anugerah kehormatan yang diberikan oleh Dalem (Penguasa daerah Bali), oleh karena jasa-jasa dan kedudukannya dalam bidang pemerintahan atau negara maupun di masyarakat. Dan hal ini diwarisi secara turun temurun oleh anak cucunya yang dianggap sebagai hak, walaupun ia tidak lagi memegang jabatan itu. Marilah jangan dicampur-adukkan soal titel ini dengan agama, karena titel ini adalah persoalan masyarakat, persoalan jasa, persoalan jabatan yang dianugerahkan oleh raja pada zaman dahulu. Dalam agama, bukan kasta yang dikenal, melainkan "warna" dimana ada empat warna atau Caturwarna yang membagi manusia atas tugas-tugas (fungsi) yang sesuai dengan bakatnya. Pembagian empat warna ini ada sepanjang zaman
Kebanggaan terhadap sebuah gelar walaupun jabatan tersebut sudah tidak dipegang lagi merupakan kesalahpahaman masyarakat Bali turun-temurun. Di Bali ini, fanatisme masyarakat terhadap istilah kasta tersebut sudah bisa dikategorikan tingkat memprihatinkan, dimana faktor keturunan sangat diagung-agungkan, sehingga muncul anggapan bahwa derajat / kasta seseorang lebih tinggi dari orang lain.

Ingatlah…, kita lahir telanjang!
Yang artinya bahwa kita tidak membawa kasta dari dunia sana.., dan agama pun tidak pernah mengajarkan tentang kasta. Yang ada itu hanyalah warna, yg bertujuan untuk memberi warna berdasarkan kegiatan mereka. Dengan memiliki kesadaran bahwa kita hidup dan mati tidak akan membawa kasta, dan saat kita terlahir dan meninggal nanti adalah sama dengan orang lain, maka di dalam hati kita akan tumbuh suatu kesadaran bahwa kita adalah sama, tidak ada yg lebih rendah ataupun lebih tinggi, dan hanya perbuatan dan tingkah laku kita sajalah yg menjadikan kita memiliki penilaian lebih ataupun kurang dimata umat dan dimata Tuhan

Akhir kata, mari kita sadari, bahwa kita semua ini adalah bersaudara, dan tidak ada bedanya dimata Tuhan.
ayam bandhurayam neti ganana laghuchetasam udaracharitanam tu vasudhaiva kutumbakam” (Maha Upanishad 6. 72)
Artinya :
Hanya anak kecil menyatakan secara diskriminasi: orang itu adalah sanak keluarga dan yang lain adalah orang asing. Bagi mereka yang hidup murah hati seluruh isi dunia adalah keluarga.
demikian sekilas Catur Warna Strata Sosial dalam Agama Hindu, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar