Google+

Membangun Rumah Tradisional Bali

Membangun Rumah Tradisional Bali

setiap kepala keluarga sudah tentu mendambakan memiliki Rumah Sendiri, lepas dari keluarga induknya. begitupula orang bali, bagi kepala keluarga yang sudah mulai mebanjar adat maupun dinas, rumah tinggal milik sendiri juga menjadi dambaan, terpisah dari keluarga, menghindari masalah klasik orang bali, yaitu persaingan internal di keluarga intinya. untuk itu Membangun Rumah Tradisional Bali menjadi sebuah harapan besar, tetapi Membangun Rumah Tradisional Bali tidak segampang membuat barang dagangan, karena Rumah Tradisional Bali memiliki makna filosofis dan magis yang dapat mempengaruhi orang yang memilikinya serta yang tinggal didalamnya. untuk itu ada tahapan yang harus dilalui untuk Membangun Rumah Tradisional Bali.
adapun tahapan awal sebelum Membangun Rumah Tradisional Bali, diantaranya:

menentukan Lokasi Rumah

dalam penentuan lokasi untuk Membangun Rumah Tradisional Bali ini ada beberapa pertimbangan, salah satu yang sangat penting adalah hindari "karang Panes", seperti tanah yang numbak gang/jalan/sungai, tanah yang berdampingan dengan pura khayangan, tanah yang berhawa panas akibat kurangnya sirkulasi, tananh yang lebih rendah daripada tanah disekelilingnya, tanah yang tidak bisa ditumbuhi oleh tumbuhan maupun hewan dan lain sebagainya.
berikut ini sedikit kupasan dari Lontar Keputusan Sanghyang Anala, yang menjelaskan tentang Hala-Ayuning Palemahan. adapun isinya:
iki ling Ira Bhagawan Wiswakarma, luwire: iki ayuning palemahan; ring pascima manemu labha, ring uttara paribhoga wredhi, palamehan asah madya, palemahan hinang Dewa Ngukuhin lan maambu lalah sihing kanti. 
maksudnya:


  • ring pascima manemu labha apabila ada Palemahan (tanah) yang miring ketimur, dengan lokasi agak tinggi sehingga tidak cahaya matahari, tumbuh-tumbuhan dan hewan akan hidup dengan baik, begitupula manusia yang hidup di tempat tersebut.dengan demikian panen raya pasti akan diperoleh, rejeki menjadi lancar.
  • ring uttara paribhoga wredhi apabila ada Palemahan (tanah) yang miring keutara, sering juga disebut wredhi putra. itu artinya tidak kekurangan makan-minum yang memiliki rumah tersebut. adapun sinar matahari yang menerpa tanah tersebut sama baiknya dengan tanah yang miring ketimur.
  •  palamehan asah madya apabila Palemahan (tanah pekarangan) yang datar, dimana tanah disamping/sebelahnya tidak ada yang lebih tinggi. tanah seperti itu akan mendapatkan sinar matahari yang cukup begitupula dengan hawa udara dan air. sehingga tumbuhan, hewan dan lainnya bisa tumbuh dengan baik.
  • apabila Palemahan (tanah) miring ketimur, keutara ataupun rata/datar, dan bila dirasakan terasa nyaman "hinang", tentram, terasa suasana kesucian itu sering disebut tempatnya dewahyang, maka orang yang akan menempati tanah tersebut akan menemukan "kertha raharja", hingga nantinya akan berkembang menjadi keluarga besar.
  • maambu lalah sihing kanti apabila ketiga tempat tadi diatas, bila tanahnya dicangkul dengan kedalaman lebih dari 30cm (adepa agung) hingga lebih dalam, bila dicium tananhnya berbau seperti bau cabe (bumbu dapur), itu sangatlah baik untuk ditempati.


iki halaing palemahan, luwire Palemahan sane mawarni ireng makliyab ocem, palemahan tan maren mahyus grah malekpek, palemahan manyeleking, karubuhan lan sandang lawe, sula nyupi, kuta banda, teledu nginyah, karang grah, sandang lawang, boros wong, lan suduk angga.
maksudnya:

  • karang Manyeleking, merupakan karang/palemahan dimana dalam 1 natah rumah memiliki 2 atau lebih sanggah/pamerajan maupun yang berbeda kawitan.
  • Sula Nyupi merupakan tanah palemahan pekarangan yang di itari oleh jalan ataupun gang.
  • Kuta kabanda merupakan tanah pekarangan rumah yang diapit jalan/gang.
  • Teledu nginyah, tanah pekarangan yang dilingkari jalan/gang serta numbak rurung/jalan
  • karang grah merupakan tanah pekarangan yang berdampingan (penyanding) dengan Pura Khayangan, 
  • sandang lawang terjadi apabila 2 kepala keluarga dengan satu purusa (ayah) memiliki rumah berseberangan jalan atau rumahnya mengapit gang/jalan, apalagi angkul-angkul (pintu masuk pekarangannya) berhadap-hadapan, itu sangat dihindari.
  • Boros wong adalah tanah pekarangan yang memiliki 2 atau lebih pintu masuk pekarangan (angkul-angkul).
  • Suduk angga merupakan tanah pekarangan yang memiliki tembok pangengker lebih, dimana tembok panyengker tentanganya masuk melewati wilayah pekarangan, menembus tembok panyengker pekarangannya.


Nyukat Tanah untuk Membangun Rumah Tradisional Bali

setelah menemukan tanah pekarangan yang tepat dan dirasa cocok untuk Membangun Rumah Tradisional Bali, langkah berikutnya adalah mulai "Nyukat Palemahan Karang Paumahan". dimana titik awal sebagai sukat karang adalah di pojok timur laut (ersania) tanah pekarangan. berikut ini perhitungan nyukat karang:
makna bilangan per depa, dihitung dari timur ke arah barat:
  1. Teka Prih,
  2. Kwehing bakti
  3. Lwih guna
  4. Kwehing perak
  5. Kabrahman
  6. Lwihing dana
  7. Hayu
  8. Stri kalpa
  9. Raja Bhaya
  10. Kwehing satru
  11. Sugih mas
  12. Kwehing guna
  13. Dana ring wong lian
  14. Lwih Brana
  15. Kweh bakti
  16. Akeh iningun
  17. Teka prih tulung
  18. Makweh bakti
makna bilangan per depa, dihitung dari timur ke arah selatan:
  1. Teka Gering
  2. Tan adruwe putra
  3. Lwih suka
  4. Sugih mas
  5. Teka brahma
  6. Lwih dana
  7. Sugih nanging kageringan
  8. Tan adruwe suta
  9. Dahat kawikaran
  10. Tan rahayu
  11. Teka koos
  12. Kalebwing brahma
  13. Lwih suka
  14. Kakingkingan
  15. Sering magerengan
  16. Tan pegating gering
  17. Tan adruwe suta
  18. Lwih suka
setelah mengetahui makna dari setiap perhitungan tersebut diatas, berikut ini beberapa paket yang sangat direkomendasikan mengenai perhitungan luas pekarangan rumah:
  • Keutara 15 depa, kebarat 14 depa. ini disebut karang  "gajah" (ayu).
  • Keutara 14 depa, kebarat 13 depa. ini disebut karang  "gajah" (ayu).
  • Keutara 13 depa, kebarat 12 depa. ini disebut karang  "singa" (ayu).
  • Keutara 12 depa, kebarat 11 depa. ini disebut karang  "wreksa" (ayu).
  • Keutara 11 depa, kebarat 10 depa. ini disebut karang  "gajah" (ayu).
  • Keutara 10 depa, kebarat 9 depa. ini disebut karang  "dwaja" (ayu).
  • Keutara 9 depa, kebarat 8 depa. ini disebut karang  "singa" (ayu).
  • Keutara 8 depa, kebarat 7 depa. ini disebut karang  "wreksa" (ayu).
dari setiap sukat karang diatas, setiap ukuran pekarangan "harus" memberi kelebihan sikut minimal "se-asta musti", jadi bilangan sisa dihitung dengan perhitungan "se-asta musti". adapun makna dari bilangan kelebihan (sisa) sukat tersebut diantaranya:
  • sisa 1 = umahing Ratu (guru wisesa)
  • sisa 2,4,6,8 = umahing sang Amanca Negara
  • sisa 5 =  umahing Pande
  • sisa 7 = umahing Sang Matani (pemacul/petani)
  • sisa 9 = umahing Brahmana Pandita
  • sisa 10 = umahing wong banci

menentukan ukuran khayangan (sanggah/pamerajan)

setelah menentukan luas pekarangan dengan "nyukat karang", prosesi selanjutnya adalah menentukan luas parhyangan dari tanah pekarangan tersebut. adapun satuan hitung dari sukat palemahan khayangan ini masih menggunakan satuan "depa". berikut ini beberapa sukat parhyangan:
sikut depa alit, diantaranya:
  • 4 x 2 depa alit, sikut parhyangan nista
  • 6 x 4 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 6 x 5 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 8 x 7 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 10 x 9 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 14 x 13 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 15x 15 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 19 x 18 depa alit, sikut parhyangan madya
  • 27 x 26 depa alit, sikut parhyangan Utama
sikut parhyangan dengan depa agung:
  • 11 x 10 depa agung, sikut parhyangan Utama
  • 22 x 21 depa agung, sikut parhyangan Utama

menentukan Luas Bangunan Pawongan
setelah posisi parhyangan ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan lokasi "Paturon" atau bangunan "Bale" tempat tidur/istirahat. aturan ukuran bangunan sama seperti diatas, dimana setiap tembok bangunan harus dibuatkan sisa dari ukuran depa alit maupun depa agung.

bila membuat tembok bangunan di sisi timur, berikut ini bilangin makna sisanya:
  • sisa 1 = Utama
  • sisa 2 = Madya
  • sisa 3 = Teka prih
  • sisa 4 = Kweh sakti
  • sisa 5 = Lwih guna
  • sisa 6 = Kweh prih
  • sisa 7 = Lwih dana
  • sisa 8 = Hala ayu
  • sisa 9 = Stri kadalih
  • sisa 10 = Stri kalpa
  • sisa 11 = Krya bhaya
  • sisa 12 = Kweh musuh
  • sisa 13 = Sugih mas perak
  • sisa 14 = Lwih guna
  • sisa 15 = Dana ring wong lian
  • sisa 16 = Kabrahman
  • sisa 17 = Kweh teka bakti
  • sisa 18 = Kweh utang
  • sisa 19 = Gring karagan
  • sisa 20 = Kweh nembah
bila membuat tembok bangunan di sisi utara, berikut ini bilangin makna sisanya:
  • sisa 1 = Agring
  • sisa 2 = Tan panak
  • sisa 3 = Suka lwih
  • sisa 4 = Sugih mas
  • sisa 5 = Kabrahman
  • sisa 6 = Dana
  • sisa 7 = Kweh teka jenek
  • sisa 8 = Gring pejah
  • sisa 9 = Kesakitan
  • sisa 10 = Tan panak
  • sisa 11 = Kweh tukar
  • sisa 12 = Tan manggih suka
  • sisa 13 = Koos
  • sisa 14 = Lembwing Brahman
  • sisa 15 = Suka lwih
  • sisa 16 = Kasedihan
  • sisa 17 = Gringgingan
  • sisa 18 = Tan tuna gring
  • sisa 19 = Tan maenyah
  • sisa 20 = Lwih suka

melaksanakan Upakara Yadnya

sebelum melaksanakan pembangunan, setelah pemilihan lokasi rumah, yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah melakukan upacara yadnya.
mengenai pelaksanaan Upacara Yadnya Sebelum Mambangun hingga Rumah Siap ditempati akan dibahas di artikel tersendiri yang berjudul "Upacara Yadnya Membangun Rumah Adat Bali"
artikel yang terkait dengan Membangun Rumah Tradisional Bali diantaranya:
Demikian artikel tentang Membangun Rumah Tradisional Bali, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar