Google+

Hindu Bali

Hindu Bali

Hindu Bali disebut pula Agama Hindu Dharma atau Gama Tirtha (agama Air Suci) adalah suatu praktik agama Hindu yang umumnya diamalkan oleh mayoritas suku Bali di Indonesia.

Hindu Bali merupakan sinkretisme atau penggabungan sekte - kepercayaan Hindu atau dimasa sekarang lebih dikenal dengan sebutan Sampradaya, baik aliran Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha dengan kepercayaan asli (local genius) suku Bali.
akibat dari penggabungan (sinkretisme) sekte tersebuat, banyak ritual-ritual dibali terlihat berbeda dengan ritual agama hindu diluar bali, baik di indonesia maupun dengan India (asal agama hindu). Pada dasarnya, Ritual Hindu Bali tidaklah berubah 100% dari aslinya, melainkan penyesuaian kesepahaman agar semua unsur pemujaan dari kesemua sekte yang telah digabungkan tercermin dalam setiap ritual upacara yadnya dibali. 

Untuk tetap menjaga kondisi tersebut, para pemuka agama (sadaka/sulinggih) maupun para pujangga pada jaman itu dan selanjutnya atas perintah Raja Udayana diwajibkan membuat lontar-lontar Sastra yang dijadikan acuan dalam menjalankan ritual upacara yadnya.  sehingga lontar-lontar dan karya sastra yang berkaitan dengan spiritual dibali selalu mengacu pada perintah raja udayana, yang hingga kini diwariskan oleh masyarakat Bali.
jadi,
"bila ada Ritual dibali selalu dilakukan dan dilaksanakan sesuai petunjuk lontar bali, dan apabila sebuah ritual tanpa ada dasar sastra lontar bali, maka ritual itu dianggap keliru".
dasar pemikiran diatas, kemudian terus berkembang, sehingga apabila ada umat yang menanyakan ritual hindu bali, memang akan sulit memilah-milahnya, karena kesemua ritual yang diyakini oleh sekte yang pernah tingal dibali sudah terlebur menjadi ritual hindu bali, salah satunya Banten.

bila sebuah ritual, khususnya Banten ditarik dasar sastranya langsung ke ajaran weda, maka akan sangat sulit ditemukan, karena dasar pembuatan banten adalah renungan para pemuka agama dibali, hasil meditasi, serta penyamaan pemahaman spiritual sekte-sekte yang sudah tentu awalnya berdasarkan weda khususnya purana-purana yang mereka pegang sebelumnya.

Sejarah Hindu Bali

Sesuai dengan sifat Sejarah, bahwa pengetahuan mengenai kedatangan Hinduisme di Bali didasarkan atas fakta yang dapat dikumpulkan. Menurut hasil penelitian para ahli sejarah, bahwa Hinduisme yang datang di Bali, ada yang datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan ada juga datang dari Thailand.
Kapan mulai masuknya Hinduisme di Bali ? 
menurut bukti-bukti dalam Stupika Buddha yang terdapat di Pura Penataran Sasih di Pejeng, bahwa dalam abad ke 8 di Bali telah terdapat Hinduisme dalam wujud agama Buddha Mahayana dan agama Siwa. Juga prasasti tembaga yang tersimpan di desa Sukawana­Kintamani tahun 882 Masehi sudah menyebutkan nama-nama Bhiksu Siwa Nirmala, Bhiksu Siwa Praja dan Bhiksu Siwa Kangsita. lni berarti keberadaan agama Siwa dan agama Buddha di Bali adalah pada kurun waktu yang bersamaan.

Dari data-data sejarah Bali Kuna, diperoleh keterangan, bahwa raja-raja Bali Kuna sebelum kedatangan Gajah Mada ke Bali tahun 1343 Masehi, adalah memeluk agama Buddha Mahayana. Agama Buddha Mahayana di Bali dianut oleh raja-raja dan para pejabat tinggi pemerintahan Bali Kuna dahulu, sedangkan agama Siwa dianut oleh masyarakat.

Perluluhan agama Siwa dengan Buddha secara intensif di Bali, dimulai sejak akhir abad ke 10, ditandai dengan perkawinan Dharma Udayana raja Bali Kuna yang beragama Buddha Mahayana dengan Mahendradatta putri raja Jawa Timur yang beragama Siwa. Sejak itu agama Siwa berkembang secara meluas di Bali dan agama Buddha tidak mengembangkan dirinya, melainkan lu1uh ke dalam agama Siwa (baca : Hindu).

Pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu di Bali (abad ke 11), datanglah Empu Kuturan dari Jawa Timur ke Bali. Be1iau berkedudukan di Silayukti Padangbai sekarang. Empu Kuturan datang ke Bali, mengajarkan konsepsi pemujaan Tri Murti dan diterapkan pada masing-masing desa pakraman. Beliau juga mengajarkan tentang Upaeara Ngaben Swasta, tentang upacara Manusa-Yajna (Dharmakahuripan), tentang cara membuat meru di Besakih, tentang pedagingan pa1inggih dan mendirikan Sad Kahyangan Jagat Bali serta beberapa Kahyangan lainnya lagi dan lain-lainnya. Disamping itu beliau juga menyempumakan kehidupan agama Hindu di Bali dari sebelumnya serta menghimpun beberapa sekte agama Hindu yang telah ada di Bali seperti : sekte Kala, sekte Sambhu, sekte lndra, sekte Brahma, sekte Waisnawa dan sekte Saiwa.
  1. Kala paksa (Wanakrtih): mengajarkan tentang upacara untuk tanam-tanaman (pertanian).
  2. Sambhu paksa (Jagatkrtih): mengajarkan tentang mengupacarai jagat (bhuwana), mengadakan tawur dan caru kepada Panca maha bhuta.
  3. Indra paksa (Samudrakrtih): mengajarkan tentang mengupacarai laut, gunung, merebu bumi ngenteg linggih (Dewahara).
  4. Agni paksa (Atmakrtih): mengajarkan tentang mengupacarai atma atau rokh manusia serta sekalian mahluk (sarwa prani).
  5. Waisnawa paksa (Danukrtih): mengajarkan tentang mengupacarai danau, sawah, ladang dan segala pembersihan lahir bathin.
  6. Saiwa paksa (Janakrtih): mengajarkan tentang mengupacarai manusia dalam bentuk upacara-upacara Janmaprawerti dan Dharmakahuripan.

Ajaran tersebut diatas disebut Sad-Kertih yang menjadi dasar dari bentuk-bentuk upacara agama Hindu di Bali yang akhimya disempumakan dan dicakup ke dalam Panca Yadnya, disertai paham Tantrayana.

Pada masa pemerintahan Dalem Baturenggong di Gelgel (1460-1550 Masehi), datanglah Dang Hyang Nirartha dari Kediri Jawa Timur Ke Bali. Kedatangan beliau ke Bali bertujuan ganda yaitu :
  1. Mempertahankan Bali dari desakan paham baru (baca : Islam) yang telah meruntuhkan Majapahit.
  2. Meningkatkan dan menyempurnakan cara-cara hidup beragama Hindu di Bali menuju kepada kemurniannya.
Beliau mengajarkan tentang Tripurusa dalam konsepsi Siwa Sidhanta yaitu : Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa yang diidentikkan dengan Tri Murti. Beliau juga mengajarkan membuat palinggih Padmasalla sebagai linggih Hyang Widhi. Beliau melakukan Karya Ekadasarudra di Besakih, guna memohon kesentosaan rakyat Bali. Selain itu beliau juga mengajarkan tentang Panca Yadnya yang disempurnakan di Bali dan juga menyusun Weda yang dipakai pegangan oleh para Pedanda sekarang di Bali. Beliau adalah sastrawan besar dan berbagai karya sastra beliau diwariskan di Bali sekarang seperti : Dharmasunya, Nitisastra, Ekapratama, Usana Bali, Ampik, Sebun Bangkung dan sebagainya. Perjalanan beliau sebagai dharmayatra di Bali banyak diabadikan dalam Pura, seperti : Purancak, Rambut Siwi, Tanah Lot, Peti Tenget, Uluwatu, Sakenan, Air Jeruk, Ponjok Batu dan sebagainya. Beliau berdharmayatra sampai ke Lombok dan Sumbawa dan akhimya moksa di Uluwatu.

Dalam periode ini pula datanglah Dang Hyang Astapaka dari Jawa Timur ke Bali. Beliau adalah seorang pendeta Buddha dari keturunan Dang Hyang Angsoka yang beraliran Wajrayana dengan pemujaan yang terutama kepada Wairocana yaitu Dhyani Buddha yang di tengah dalam susunan Panca Tatagatha Buddha. Keturunan beliau sekarang terdapat di desa Budha Keling Karangasem, di desa Batuan-Gianyar dan juga tempat lain.

Pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali yang berasal dari Majapahit menerapkan tradisi yang berlaku di Majapahit seperti dalam upacara-upacara agama yang besar dipimpin oleh pendeta Siwa dan Buddha, sebagaimana diuraikan didalam Negarakertagama yang kita warisi sekarang ini di pulau Bali dan berkembang menurut desa, kala dan patra.

Dalam perkembangan lebih lanjut, bahwa sejarah mencatat terjadinya perubahan sistem kenegaraan di Indonesia. Dengan dijajahnya Indonesia oleh Belanda, maka mulailah diterapkan pendidikan klasikal di Indonesia, dengan sistem pendidikan baru. lni mengakibatkan berkembangnya pemikiran intelektual di masyarakat termasuk dikalangan umat Hindu. Dengan demikian maka ajaran-ajaran agama Hindu mulai dikaji secara mendalam dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan analisis-analisis rasional. Hal yang demikian itu dipelopori oleh orang-orang Hindolog yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di India. Mereka mulai memperkenalkan Kitab Bhagawadgita dan Kitab-kitab Upanisad yang sebelumnya kurang dikenal di Indonesian. Pandangan-pandangan rasional bermunculan dan secara perlahan-Iahan menggugah hati nurani Umat Hindu untuk memperdalam pengetahuan serta keyakinannya terhadap agama Hindu. Ini adalah proses awal terbentuknya Parisada.

Sekarang Umat Hindu telah tersebar di seluruh propinsi di Indonesia, lebih-Iebih lagi di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Berkembangnya kembali Umat Hindu di Indonesia yang pemah mengalami masa kejayaan di Indonesia jaman Majapahit, bukanlah berarti menyebarkan agama baru, melainkan mereka sendiri dengan penuh keyakinan untuk kembali menganut agama Hindu yang dianut oleh nenek moyangnya dahulu.

Tantrayana di Bali

Tantrayana berpangkal pada Konsepsi-Dewi (Mother Gooddes) yang bukti-buktinya terdapat di Lembah Sidhu. Dari Konsepsi-Dewi itu muncullah Saktiisme yaitu suatu ajaran yang mengkhususkan pemujaannya kepada Sakti, yaitu kekuatan dari Dewa, terutama sekali pemujaan terhadap Dewi Durga. Golongan pemuja Sakti disebut SAKTA. Perkembangan lebih lanjut dari Saktiisme itu munculan Tantrisme. Golongan itu memuja Sakti secara Ekstrim dan mereka disebut Tantrayana.
Tantra berasal dari kata "Tan" artinya memaparkan (memaparkan kekuatan dari Sakti itu). 
Dari Tantrisme ini muncullah suatu pada Bhairawa yang artinya Iwhat. Paham Bhairawa itu secara khusus memuja kehebatan daripada Sakti itu, dengan cara­cara yang spesifik. Mereka melaksanakan barata lima MA, yaitu: mamsa, matsya, madhya, maituna dan mudra yang disebut Panca Tattwa. Praktek ajarannya pada waktu malam diatas kuburan serta ditempat yang angker dan mereka menggunakan masker. Kegunaan dari pada ini adalah untuk mendapatkan kharisma yang tinggi yang diperlukan dalam suatu pengendalian pemerintahan. Maka dari itu aliran ini hanya diikuti oleh Raja dan Staf Pejabat Tinggi saja jaman dahulu. Bhairawa ada tiga macam yaitu : Bhairawa Heruka, Bhairawa Kalacakra dan Bhairawa Bhima. Aliran ini mempunyai tendensi politik dalam suatu pemerintahan dalam menghadapi musuh.

Di Bali, perkembangan dari Konsepsi-Dewi itu nyata sekali yaitu pemujaan Dewi/Bhatari lebih menonjol dari pada pemujaan Dewa/Bhatara, misalnya pemujaan terhadap Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Ibu Pertiwi dan sebagainya. Di dalam sistem kekeluargaan di Bali, banyak sekali dijumpai Pura Ibu.

Perkembangan Saktiisme di Bali, menjurus kepada dua aliran (Leak Bali) yaitu: Pangiwa dan Penengen. Kelompok Pangiwa memunculkan : Leyak, Desti, Teluh Taranjana dan Wegig. Kelompok Panengen memunculkan Kawisesan dan Pragolan. Pangiwa berasal dari sistem Niwerti dalam Bhairawa, sedangkan Panengen berasal dari sistem Prawerti dalam Bhairawa.

Cakupan Substansi Hindu Bali

pertama, Alam pikiran (baca : Bali) adalah bersifat fleksibel dan elastis yaitu mau menerima unsur-unsur pengaruh luar secara selektif untuk memperkaya pemikiran di Bali dan memberikan wama tersendiri serta mengembangkannya menurut alam pikiran Bali, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan sifat-sifat dan kepribadian masyarakat Bali. Pandangan yang luwes itu melandasi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali, sehingga mampu beradaptasi dengan produk-produk pemikiran dari luar, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip kepribadian masyarakat Bali.

Sebelum kedatangan agama Hindu di Bali, Bali (baca : Indonesia) telah memiliki unsur-unsur kebudayaan yang bemilai tinggi yang di dalam bahasa populernya disebut local genious, disamping juga memiliki alam pikiran kerohanian dalam wujud religi yang bemilai tinggi. Alam pikiran inilah yang disebut alam pikiran lokal yang telah ada sebelum datangnya pengaruh Hindu di Bali.

Setelah datangnya pengaruh Hindu di Bali dalam wujud sosial, budaya dan agama, maka terjadilah akulturasi kebudayaan dan sinkritisme kepercayaan anatara alam pikiran lokal di Bali dengan pengaruh Hindu yang selanjutnya berproses sedemikian rupa dan muncullah tatanan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali. Oleh karena kualitas alam pikiran Hindu lebih tinggi daripada alam pikiran lokal di Bali, maka dalam proses akulturasi dan sinkritisme itu alam pikiran lokal menjadi dasamya dan pengembangannya diwamai oleh alam pikiran Hindu. Dengan lain perkataan, bahwa tatanan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali sekarang adalah agama Hindu yang dilandasi oleh alam pikiran lokal di Bali.

Terjadinya hubungan harmonis antara alam pikiran lokal dengan alam pikiran Hindu di Bali disebabkan oleh dua hal yaitu :
  1. Alam pikiran lokal mau menerima alam pikiran Hindu secara selektif dan menyesuaikannya dengan alam pikiran lokal yang hidup di Bali.
  2. Alam pikiran Hindu yang masuk ke Bali tidak bersifat kaku, melainkan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi alam pikiran lokal di Bali. Hal itu disebabkan karena adanya konsep : desa, kala, patra dan kallistlta, madya, utama dalam alam pikiran Hindu. Inilah menyebabkan mengapa agama Hindu dapat hidup sepanjang zaman sehingga selalu up to date.
Beranjak dari analisis ini, maka tidak semua pengaruh Hindu diserap secara utuh di Bali, melainkan diambil dan dipilih yang sesuai dengan alam pikiran lokal di Bali (baca : Indonesia), Catur Weda, Manawadharmasastra, Nawadarsana, Ajaran Sekte, Tata Kemasyarakatan, Seni-Budaya, upacara dan lain-lainnya. Dari sini dapat diketahui bahwa dalam banyak hal kehidupan agama Hindu di India berbeda dengan agama Hindu di Bali, kecuali sumbernya yang sama yaitu Weda.

kedua adalah Sinkritisme Substansi Sekte, lebih lanjut silahkan baca "Sejarah Sekte di Bali"

ketiga, Agama harus dihayati, dicamkan, direnungkan dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Agama bukan hanya diomongkan, melainkan dilaksanakan dengan penuh keyakinan yang bermuara pada logika dan rasa batin (atmanastuti). Ada dua komponen yang terpadu dalam agama yaitu: rasa dan rasio. Didalam perpaduan ini, rasa (baca : rasa batin) mendominasi, karena Sang Hyang Widhi tidak membedakan orang yang pintar dengan orang yang bodoh, melainkan membedakan orang yang batinnya suci dengan orang yang batinnya kotor. Dalam hal ini ada dua istilah yang dapat diangkat, yaitu: ahli agama dan agamawan. Ahli agama belum tentu agamawan, tetapi agamawan sudah tentu tahu agama walaupun sangat minim. Karena itu agamawan lebih tinggi nilainya dari pada akhli agama.

Metoda yang baik untuk mewujudkan adalam dalam kehidupan adalah melaksanakan Catur-Marga (bhakti-marga, karma-marga, jnana-marga dan yoga-marga) secara utuh, karena hal itu merupakan suatu kesatuan. Tidaklah dibenarkan apabila Catur-Marga itu dilaksanakan secara terpisah-pisah, karena kualitas sumber daya manusia umat tidak sama kuatnya, maka adanya penonjolan salah satu marga itu dapat dipahami, namun harus tetap dalam konteks kesatuan Catur-Marga itu secara utuh.

Kita memahami, bahwa agama Hindu memiliki tattwa, susila, upacara dan acara. Inipun harus diwujudkan secara nyata didalam kehidupan sehari-sehari, karena semuanya itu merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila menonjolkan tattwa (baca: filsafat) saja tanpa diwujudkan dengan susila, ini akan dapat memunculkan kemunafikan. Apabila menonjolkan susila saja tanpa melaksanakan upacara (dalam arti luas), ini sulit menamakan apakah mereka beragama atau tidak. Apabila upacara saja tanpa disadari tattwa dan susila, ini dikatakan dogmatis. Demikian pula apabila melaksanakan acara (tradisi) saja tanpa didasari tattwa dan susila, ini dikatakan buta.

Maka dari itu kewajiban kita umat Hindu haruslah melaksanakan agama secara utuh, mencakup tattwa, susila, upacara dan acara, sehingga suatu kesempurnaan akan dapat dicapai didalam kehidupan ini. caranya adalah : tattwa harus dicamkan, susila harus dijadikan pedoman dan arahan berperilaku, upacara harus dilakukan atas dasar Catur-Marga, dan acara harus dihormati sebagai nilai luhur warisan budaya bangsa. Dengan demikian kesejahteraan batin dan kemantapan rohani serta kestabilan jiwa akan dapat dicapai dalam kehidupan.

KOMPARASI KEHINDUAN DI INDIA DENGAN BALI

Sosial, Budaya dan Agama Hindu di India

Masyarakat Hindu di India terdiri dari beberapa ethnis dan tribes seperti: Dravida, Arya, Naga, Sikh dan lain-lain (Agama Sikh adalah campuran Hindu dengan Islam) yang masing-masing menampakkan kharakternya sendiri-sendiri. Di sana ada perkampungan-­perkampungan seperti desa di Bali yang disebut Grama. Grama yang besar atau kumpulan beberapa Grama disebut Pura yang berarti kota semacam Kota Kecamatan di Bali. Kehidupananya sangat kumuh dan kotor berbaur dengan ternak sapi yang diperliharanya dan banyak sekali sapi liar yang berkeliaran di jalan-jalan.

Keadaan perkonomian masyarakatnya sangat lemah dan mundur serta banyak pengemis yang berkeliaran di jalan-jalan. Pada umumnya tanah-tanah dikuasai oleh tuan-tuan tanah dan banyak rakyat kecil yang tidak mempunyai tanah. Hal ini mungkin disebabkan penduduk India sangat padat ± 900 juta jiwa, disamping juga karena dampak politik swadesi dan satyagraha yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi yang menyebabkan ketertutupan India dari pengaruh  dunia luar.

Suatu hal yang menarik perhatian dan merupakan suatu ironis adalah murahnya harga kain sutra dan woll. Demikian pula buku-buku yang bagus berstandar internasional sangat banyak dan murah harganya bila dihitung dengan rupiah Indonesia. Makanan pokok sehari-­hari adalah susu dan tepung beras dan gandum yang diramas sedemikian rupa dicampur gula dan bumbu-bumbuan yang pedas. Jenis makanan yang paling umum di India adalah capati (seperti jajan kering) dan tali (semacam jajan dicampur kentang dan sayur-sayuran). Orang India sebagian besar vegetarian, lebih-lebih lagi di daerah Resikesh dan Haridwar di India Utara yang menerapkan kehidupan full vegetarian dan juga didalam kehidupan Ashram-Ashram.

Pada umumnya orang India pandai bersilat lidah, kikir dan sulit dapat menepati janji. Mereka sangat berorientasi kepada nilai-nilai spiritual dan agaknya menyampingkan nilai-nilai kehidupan duniawi, sehingga tampaknya kurang seimbangnya antara kehidupan skala dan niskala.

Produk budaya dalam wujud ilmu pengetahuan, teknologi, kesusastraan dan filsafat, sangat maju di India. Demikian pula arsitektur bangunan suci seperti Mandir, misalnya memakai style Gotic dan iconografi style Hellen memancarkan wujud yang anggun dan megah.

Di India terdapat penganut agama Hindu (?) yang mayoritas, dan penganut agama Sikh serta penganut agama Islam yang sedikit jumlahnya. Situasi kehidupan antar umat beragama di India, menampakkan suasana yang tidak rukun dan sangat mudah munculnya bentrokan antara yang satu dengan yang lain.

Setelah memperhatikan buku-buku yang dikeluarkan oleh Sekte Saiwa, sekte Waisnawa, sekte Tantrayana dan Budhis serta buku-buku dari berbagai aliran dan paham di India, serta menyaksikan foto maupun siaran TV tentang beberapa Ashram di India, dikesimpulan bahwa di India tidak ada yang disebut agama Hindu sebagai suatu kesatuan di India. Di India tidak ada satu lembaga umat yang mengkoordinasikan dan membina masyarakat Hindu seperti parisada di Indonesia. Di India ada Parisad (baca : Parisada), namun lembaga itu bukanlah lembaga atau majelis umat, melainkan merupakan suatu parlemen yang bersifat lembaga politik dalam  negara sekuler.

Untuk memperoleh gambaran mengenai kehidupan agama di India, disini diangkat hal-hal yang menonjol di India seperti berikut ini:
  1. Keagamaan di India bersifat Sektarian. Sekte yang menonjol ada tiga, yaitu : Saiwa, Waisnawa dan Tantrayana, disamping juga adanya banyak sekte yang lain. Pemujaan terhadap Brahma juga ada, namun keadaannya tidak seperti pemujaan terhadap Siwa, Wisnu dan Durga. Pemujaan Tri Murti disana dilakukan horizontal dan masing-masing Dewa dipuja terpisah secara tersendiri oleh pemujanya masing-masing. Disamping itu disana ada banyak Ashram yang mengajarkan sistem pendidikan kerohanian sendiri-­sendiri dengan pola orientasi dan arahan sendiri pula.
  2. Theisme atau Konsepsi Ke-Tuhanan di India agaknya kabur antara pemujaan terhadap Dewa dan Dewi dengan pemujaan terhadap individu yang suci seperti terhadap : Rama, Krishna, Hanoman dan lain-lain. Juga terjadi kekaburan antara personel dengan impersonal dalam imaginasi perwujudan Dewa dan Dewi. Demikian pula pentokohan terhadap seorang Guru Suci adalah sangat penting di hati para pengikutnya. Guru Suci inilah yang berperan sangat besar dalam kehidupan kerohanian di India seperti Swami Wiwekananda misalnya. Peran pemerintah di bidang keagamaan tidak begitu besar, karena India merupakan suatu Negara Sekuler
  3. Aktivitas keagamaan menonjolkan doa-doa dan pujian-pujian dalam bentuk Hymne daripada upacara ritual yang ceremonial.
  4. Prasarana keagamaan terlihat dalam wujud Mandir dan Arca-Arca, sedangkan sarana pemujaan yang digunakan hanyalah: bunga, air dan api. Penggunaan bunga dan air dalam pemujaan adalah berasal dari kebudayaan bangsa Arya, sedangkan penggunaan api adalah berasal dari kebudayaan bangsa Dravida. Suatu hal yang menarik perhatian adalah pada setiap tempat suci terdapat Arca (image) yang menjadi fokus konsentrasi pemujaan. Secara konseptual rupa-rupanya personifikasi Tuhan yang abstrak atau impersonal itu sangat dominan didalam imaginasinya.
  5. Kehidupan yang tidak seimbang. Orang-orang di India lebih menitikberatkan orientasi kehidupannya kepada sunyata dan mengesampingkan nilai-nilai sekala atau duniawi. Mereka dalam kesehariannya sebagian besar waktunya disita untuk merenung dan berdoa serta memuji-muji tokoh kerohanian yang dipujanya. Oleh karena itu tampaknya mereka kurang bersemangat meningkatkan kualitas kehidupan duniawinya. Disana sulit membedakan antara orang Sanyasin dengan orang peminta-minta yang sangat banyak berada disekitar tempat-tempat suci. Selain itu sifat mengkultuskan sapi sangat berlebihan di India.

Sosial, Budaya dan Agama di Bali

Kita patut bersyukur, bahwa kita diwarisi suatu tatanan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu yang telah mantap dan konseptual. Aktivitas agama Hindu di Bali cukup semarak dan meriah serta konseptual, karena ditopang oleh adat yang kukuh dan elastis, seni budaya yang kreatip serta bernilai tinggi. Agama Hindu menyinari kehidupan sosial budaya yang memberikan orientasi dan arahan di dalam kehidupan, sedangkan sosial budaya menopang dan mewujudkan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat, sehingga menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat socio-religius yang mantap dan etis-moralis serta dharmais.

Konsep kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bersama (Jagadhita) melalui keseimbangan antara kesejahteraan pisik (sekala) dengan kesejahteraan rohani (niskala), sesuai dengan hakikat daripada Rwabhnieda yang mencanakangkan suatu konsep monodualis.

Kita mengakui, bahwa memang benar agama Hindu di Bali berasal dari India dalam arti konsepsi, pokok-pokok ajaran dan sumber kerohanian namun sosialisasi dan penerapannya di masyarakat Bali adalah berbeda dengan di India. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali, telah memiliki akar yang kuat dalam kepribadian bangsa Indonesia khususnya Bali, sehingga menampilkan identitasnya tersendiri. Maka dari itu adalah tidak pas, apabila konsep-konsep pemikiran India di terapkan secara utuh di Bali, tanpa terlebih dahulu mengkajinya secara mendalam dan menerapkannya tanpa penyesuaian dengan alam pikiran dan kultur masyarakat Bali yang telah mantap secara turun-temurun.

Apabila keadaan ekonomi memungkinkan, akan sangat baik apabila kita datang ke India untuk menyaksikan kehidupan sosial, budaya dan agama di India serta rnerasakan getaran kesucian kerohaniannya. Setelah berada di India, maka lihatlah Bali milik kita sendiri. Kita  akan memperoleh kesan, bahwa sesungguhnya kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu serta getaran kesucian kerohaniannya di Bali adalah jauh lebih baik daripada di India. Hal ini telah diakui oleh beberapa orang India sendiri yang telah berkunjung ke Bali.

Demikianlah tentang Kehinduan di Bali kemudian sering disebut HINDU BALI, yang diungkapkan secara garis besarnya saja, mengingat keterbatasan penulis akan banyaknya kitab yang harus dibaca dan keterbatasan lainnya. Dengan memahami ini, diharapkan dapat memberikan suatu gambaran bagaimana eksistensi dan identifikasi Agama Hindu di Bali. rujukan tulisan ini dari berbagai sumber. semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar