Google+

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

seperti yang telah dibahas sebelumnya dalam "Sejarah Sekte di Bali", berikutnya akan dicoba untuk memberikan informasi yang lebih mendalam tentang sekte saiwa.

kenyataan dibali, sekte saiwa memang tidak ada, yang tersisa hanyalah sekte siwa sidhanta, sedangkan cabang sekte pemuja dewa siwa lainnya, telah melebur kesemuanya dalam sekte siwa sidhanta tersebut. 

Penganut Hindu dari sekte Siwa meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.


Mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh ke-Tuhan-an yang kuat dan suci serta untuk mendapat kebahagian sekala-niskala. Pendeta Siwa yang mengucapkan dan meresapkan Mantra Catur Dasa Siwa ingin mendudukkan Siwa dalam tubuh/dirinya mulai dari bagian bawah tubuh sampai ke bagian atas tubuh, yakni:
  1. Om Ang Prasada Kala Siwaya namah (untuk kaki kanan)
  2. Om Ang Stiti Kala Siwaya namah (untuk kaki kiri)
  3. Om Ang Kala-kutha Siwaya namah (untuk perut)
  4. Om Ang Maha-suksma Siwaya namah (untuk pusar)
  5. Om Ang Suksma Siwaya namah (untuk hati)
  6. Om Ang Anta-kala Siwaya namah (untuk tangan kanan)
  7. Om Ang Adhi-kala Siwaya namah (untuk tangan kiri)
  8. Om Ang Parama Siwaya namah (untuk mata kanan)
  9. Om Ang Ati–suksma Siwaya namah (untuk mata kiri)
  10. Om Ang Suksma-tara Siwaya namah (untuk telinga kanan)
  11. Om Ang Suksma-tama Siwaya namah (untuk telinga kiri)
  12. Om Ang Sada Siwaya namah (untuk sela-sela alis)
  13. Om Ang Parama Siwaya namah (untuk ujung hidung)
  14. Om Ang Sunia Siwaya namah (untuk ubun-ubun)
Pemeluk-pemeluk aliran ini sangat optimis terhadap kebulatan kekuasaan dewa Siwa ini, karena ia dipercayai dapat menjelma menjadi berbagai bentuk kedewataan yang menggambarkan akan kekuasaannya yang besar. Kekuasaannya meliputi: penentuan hidup dan matinya manusia dan kekuasaannya adalah yang tertinggi diantara dewa-dewa.

Pada masa permulaan Agama Hindu, Siwa tidak pernah dipuji orang sebagaimana halnya Wisnu. Sebagai tanda kekuasaannya dewa ini digambarkan secara fantastis dengan tangan empat. Bilamana ia sedang menjadi Siwa Maha Dewa (Maheswara) maka tak ada dewa ataupun yang dapat mengalahkan kekuasaannya. Bilamana ia sedang menjelma menjadi dewa Maha Guru maka Siwa adalah sebagai oarang tua berjanggut yang saleh dan suka membimbing manusia ke arah hidup bahagia. Sebagai ciri watak-wataknya sebagai guru, dia disimbulkan dalam bentuk orang yang membawa kendi, sapu lalat (cemara) dan tasbih ( akshamala). Tetapi bilamana ia sedang menjelma menjadi Mahakala, maka watak serta sikapnya dilukiskan sebagai raksasa yang buas merusak apa yang dikehendaki dan kejam. Oleh karena itu sebagai tanda pada Kroda (amarahnya) diberi simbol Parasu (Kanpak), Trisula (lembing dengan tiga mata), dan Fesu (jaring)

Mengenal Dewa Siwa Lebih Dalam

Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Kata Siwa berarti yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya. (Monier,1990:1074). Siwa adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur kembali (aspek pralaya atau pralina dari alam semesta dan segala isinya). Siwa yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Siwa yang belum dipengaruhi Maya (berbagai sifat seperti Guna, Sakti dan Swabhawa) disebut Parama Siwa, dalam keadaan ini, disebut juga Acintyarupa atau Niskala dan tidak berwujud. Istilah Siwa berasal dari bahasa Sanskerta yang dalam ajektivenya berarti mulia, dan dalam bentuk noun masculinenya bermakna dewa atau Tuhan (Sumawa, 1990:301)

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Siwa adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Dewa Siwa memiliki nama lain yaitu, Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra. Bersenjatakan Tri sula, dengan Wahana Lembu Nandini. Beliau memiliki sakti diantaranya Dewi Parwati, Dewi Uma,Dewi Durga, Dewi Kali.

Dewa Siwa adalah dewata bagian dari Trimurti, yang bertanggung jawab terhadap penyerapan alam semesta. Beliau merupakan perwujudan dari sifat tamas, kelembaman sentrifugal. Kecenderungan menuju pelenyapan atau peleburan. Arti sebenarnya dari siwa adalah pada siapa alam semesta ini tertidur setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dilenyapkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar, prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Siwa jauh lebih banyak  dari pada itu, keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, substratum dari segala keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang nampak tanpa batas ini.

Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni: Bertangan empat, masing-masing membawa: trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi. Bermata tiga (tri netra), Pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit), Ikat pinggang dari kulit harimau, Hiasan di leher dari ular kobra. Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sangga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Beliau dipuja di Pura Besakih. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru.

Tiga Lingga itu sebagai simbol sakral sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Purusa. Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa itu dalam fungsinya sebagai jiwa agung alam semesta. Siwa sebagai jiwa Bhur Loka. Sada Siwa sebagai jiwa agung Bhuwah Loka dan Parama Siwa sebagai jiwa Swah Loka. Tujuan pemujaan Tuhan sebagai Siwa jiwa agung Bhur Loka adalah untuk mencapai suka tanpa wali duhkha. Sebagai Sada Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tiada berpangkal dan tiada berujung. Sebagai Parama Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang bersifat niskala yang tidak dapat dibayangkan dalam wujud nyata dan tidak mungkin diberikan ciri-cirinya. Demikian dinyatakan dalam pustaka suci Wrehaspati Tattwa.

Salah satu yang menarik dari keberadaan Dewa Siwa, ialah Beliau berada di mana-mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider-ider;
  • di timur Ia adalah Iswara, 
  • di tenggara Ia adalah Mahesora, 
  • di selatan Ia adalah Brahma, 
  • di barat daya Ia adalah Rudra, 
  • di barat Ia adalah Mahadewa, 
  • di barat laut Ia adalah Sangkara, 
  • di utara Ia adalah Wisnu, 
  • di timur laut 
  • Ia adalah Sambhu dan 
  • ditengah Ia adalah Siwa. 
Sebagai Sang Hyang kala, 
  • di timur Ia adalah kala Petak (putih), 
  • di selatan Ia adalah Kala Bang (merah), 
  • di barat ia adalah Kala Gading (Kuning), 
  • di utara Ia adalah Kala Ireng (hitam) dan 
  • ditengah Ia adalah kala mancawarna.
Realita tertinggi disebut Siwa, yang merupakan kesadaran tak terbatas, yang abadi, tanpa perubahan, tanpa wujud, merdeka, ada dimana-mana, maha kuasa, esa tiada duanya, tanpa awal, tanpa penyebab, tanpa noda, ada dengan sendirinya, selalu bebas, selalu murni dan sempurna. Ia tak dibatasi oleh waktu yang merupakan kebahagiaan dan kecerdasan yang tak terbatas, bebas dari cacat, maha pelaku dan maha mengetahui.

Dewa Siwa adalah Tuhan cinta kasih, yang karunianya tak terbatas, cinta kasihnya tak terbatas dan merupakan penyelamat dan guru. Ia selalu terlibat dalam pembebasan roh-roh dari perbudakan materi. Ia mengenakan wujud seorang guru yang berasal dari cinta kasihnya yang mendalam terhadap umat manusia. Ia menghendaki agar semuanya menghendaki tentang Dia dan mencapa Siwa-pada yang penuh kebahagiaan. Ia menjaga aktifitas dari roh-roh pribadi dan membantunya dalam pergerakan majunya. Ia membebaskan roh-roh pribadi dari blenggu atau ikatan.

Dewa Siwa meresapi seluruh alam dengan Sakti-Nya dan berkarya melalui Sakti-Nya. Sakti merupakan energi dasar dari Dewa Siwa, yang benar-benar merupakan badan dari Dewa Siwa. Diibaratkan seperti tukang periuk adalah penyebab utama dari periuk ; tongkta dan roda adalah penyebab instrumental sedangkan tanah liat adalah penyebab material dari periuk. Demikian pula Dewa Siwa merupakan penyebab pertama dari alam semesta, dan saat itu merupakan penyebab instrumental dan maya merupakan penyebab material.

Siwa memiliki dua aspek, yaitu satu aspek Ia adalah yang tertinggi, tanpa perubahan dan sat-cid-ananda, yang merupakan para Samwit. Niskala Siwa adalah Nirguna Siwa, yang tak terhubung dengan sakti kreatif. Pada aspek lainnya, ia berubah sebagai alam semesta. Penyebab perubahan ini adalah Siwa-Tattwa. Sakti Tattwa adalah aspek dinamis pertama dari Brahman. Siwa-Tattwa dan Sakti-Tattwa ini tidak dapat dipisahkan.

Siwa memiliki delapan sifat menurut pandangan Siwa Sidhanta, yaitu: independen, murni, berpengetahuan sendiri, bebas dari mala, murah hati berlimpah, maha ada, dan kebahagian. Menurut Siwa Sidhanta, Tuhan adalah penyebab operatif alam semesta dan saktinya adalah penyebab instrumentalnya, maya adalah penyebab materialnya. Dari maya dunia ini berevolusi, dan jiwa-jiwa disediakan lokasi-lokasi instrumen dan objek pengetahuan.

Siwa  memiliki lima fungsi yaitu :
  1. Tirodhana (pengaburan),
  2. Srsti (penciptaan),
  3. Sthiti (pemeliharan),
  4. Samhara (penghancuran), dan 
  5. Anugraha (pemberi anugrah). 
Siwa menyembunyikan kebenaran dari jiwa-jiwa dan memproyeksikan dunia ini dalam rangka menyelamatkan jiwa melalui anugrah-Nya.

Sesungguhnya kesadaran Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa sesungguhnya satu dan disebut Kenyataan/Hakikat Siwa. Siwa dibedakan menjadi tiga tingkatan adalah untuk memperlihatkan ada tidaknya dan besar kecilnya pengaruh maya. Siwa kehilangan kesaktian, kesucian dan wisesanya karena pangaruh maya maka kesadaran/ hakikat Siwa disebut atma yaitu jiwa yang ada pada setiap manusia. Atma artinya kesadaran yang terpesona. Kata maya berarti khayal, ketidaknyataan.

Hakikat Paramasiwa dapat dijelaskan bahwa Tuhan tidak terpikirkan, murni, abadi, tak terbatas, memenuhi segalanya, jiwa segala jiwa. Beliau tidak memiliki sifat, kosong/sunya. Ia adalah kesadaran tertinggi yang bersifat transenden. Tuhan dalam wujud Paramasiwa tidak bisa dipikirkan sehingga disebut Nirguna Brahman.

Sadasiwatattwa adalah Paramasiwatattwa yang telah terkena pengaruh maya sehingga Ia memiliki guna, sakti dan swabhawa. Guna adalah hukum kemahakuasaan-Nya sendiri. Karena itu Sadasiwa masih berkuasa atas guna-guna-Nya. Dalam keadaan seperti ini Ia disebut Siwa-swayaparah, Paramasiwa yang telah menyatu dengan saktinya, sehingga Beliau dapat mencipta (Utpati), memelihara (Sthiti), dan melebur (Pralina) alam semesta beserta isinya.

Sadasiwa adalah hakikat-Nya kesadaran aktif. Kesadaran aktif-Nya adalah sarwajnana dan sarwakaryakarta. Sadasiwa adalah Bhatara Siwa yang beratribut karena laksananya Saguna. Artinya, Ia yang bersifat serba maha : tahu, sempurna, kuasa, dan karya. Dengan atribut-Nya inilah eksistensi Tuhan diketahui. Tuhan dalam wujud Sadasiwa dalam menjalankan kemahakuasaannya dibantu tiga hal, yaitu: Guna, Sakti, Swabhawa.

Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

Tuhan dalam wujud Sada Siwa memiliki Sakti yang dsebut dengan  Cadu Sakti, yaitu empat kekuatan dan keistimewaan Tuhan Sada Siwa secara lahir bathin. Adapun yang dimaksud Cadu Sakti, yaitu:
  1. Wibhusakti disebut juga dengan uta-prota, yaitu ada dalam segalanya tetapi keadaannya tidak terpengaruh oleh apa-apa dan tetap suci murni selaanya.
  2. Prabhusakti yaitu menguasai segalanya sehingga semua di bawah kendalinya.
  3. Jnanasakti yaitu sumber pengetahuan yang abadi sehingga beliau tetap maha tau.
  4. Kriyasakti yaitu dapat mengerjakan segala kerja dengan sempurna. 
Tuhan dalam wujud Sada Siwa memiliki Swabhawa yang bernama Astaiswarya yang artinya delapan kemahakuasaan dan keistimewaan Tuhan. Adapun yag dimaksud yaitu: 
  1. Anima : Atom (kecil) sehingga Tuhan dpt meresapi segala benda dan tempat.
  2. Laghima :ringan sehingga mudah melayang di angkasa.
  3. Mahima : maha besar & agung sehingga menjadi dihormati. 
  4. Prapthi :serba sukses sehingga kehendaknya dapat tercapai bebas dari hukum karma.
  5. Prakamya : dapat terwujud segala keinginannya.
  6. Isitwa : Maha pengatur (Rta).
  7. Wasitwa : Mahakuasa.
  8. Yatrakamawasayitwa : apa saja yang dikehendaki dan dimanapun maka seketika itu sukses.
Menurut Saiva Siddhanta, Siva adalah kenyataan tertinggi dan yang terakhir, mahatahu, tidak dijilid dan hadir dimana mana. Ia adalah Pati, terpenting menjadi dan dewata yang tertinggi itu. Siva sendiri adalah yang efisien penyebab semua ciptaan, evolusi, pemeliharaan, perahasiaan dan pemutusan. Ia membawa maju dunia dan mahluk mereka melalui/sampai kuasa/ tenaga dinamis nya, Shakti.

Jivas adalah mahluk atau jiwa-jiwa yang individu. Mereka tidaklah sama halnya Siva. Tetapi mereka dibuat dari inti sari yang sama itu. Menurut Saiva Siddhanta, Siva adalah sama seperti jiwa-jiwa tetapi juga selain dari jiwa-jiwa itu. Banyaknya jiwa-jiwa tinggal tetap dalam keseluruhannya. Jumlah mereka tidak bisa ditingkatkan maupun dikurangi. Mereka boleh mengalami perubahan bentuk tetapi jumlah mereka tetap. Dengan begitu di (dalam) Saiva Siddhanta ada suatu pembedaan bagus antara jiwa-jiwa dan Tuhan. Perbedaan bukanlah di (dalam) inti sari mereka tetapi di (dalam) konstitusi mereka. Hubungan mereka dengan Siva bukanlah suatu status keesaan hanyalah kesamaan. Sebab Siva dan jivas adalah berbeda tetapi juga yang sama pada pokoknya, sekolah ini diperlakukan sebagai dualistic atau keadaan jamak.

Kalau diamati ternyatalah bahwa agama Hindu di Indonesia adalah agama Hindu yang memuja Bhatara Siwa sebagai Tuhan yang tertinggi. Sanghyang Widhi Wasa adalah sebutan Tuhan yang amat umum. Bhatara Siwa adalah Sanghyang Widhi sendiri. Bhatara Siwa dipuja oleh umat Hindu Indonesia. Ia dipuja sebagai Trimurti yaitu : Brahma, Wisnu dan Iswara, sebagai Panca Brahma yaitu: Sadya/Sadyajata, Bamadewa, Tatpurusa, Aghora dan Isana sebagai Dewata Nawa Sangha yaitu ; Mahesvara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu dan Siwa.

Gong Besi termasuk kelompok naskah yang memuat ajaran yang Siwaistik. Di dalam naskah ini, disebutkan bahwa Bhatara Dalem patut dipuja dengan sepenuh hati, penuh rasa tulus iklas. Dalam setiap pemujaannya, Ida Bhatara Dalem dapat dihadirkan (utpeti puja), distanakan (stiti puja) dan dikembalikan (pralina puja). Persembahan bhakti yang utama kehadapan Ida Bhatara Dalem menyebabkan orang mendapatkan kemuliaan lahir dan batin, dan pada akhirnya akan mencapai surga loka atau siwa loka. Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru atau Dewa Siwa itu sendiri sebagai sebutan Ida Sanghayng Widhi dengan segala manifestasi beliau.

Bhatara Dalem ketika berstana disawah sebagai pengayom para petani dan semua yang ada disawah, maka beliau dipuja dengan sebutan sebagai Dewi Uma. Di jineng atau lumbung padi beliau dipuja dengan sebutan Betari Sri. Kemudian didalam bejana atau tempat beras (pulu), Ida Bhatara Dalem dipuja dengan Sanghyang Pawitra Saraswati. Didalam periuk tempat nasi atau makanan, maka beliau disebut Sanghyang Tri Merta. Kemudian di Sanggar Kemimitan (Kemulan) yaitu tempat suci keluarga, Ida Bhatara Dalem dipuja sebagai Sanghyang Aku Catur Bhoga. Aku berwujud laki, perempuan, dan banci. Menjadilah aku manusia seorang, bernama Aku Sanghyang Tuduh atau Sanghyang Tunggal, di Sanggar perhyangan stana beliau. Disebut pula beliau dengan Sanghyang Atma. Pada Kemulan Kanan adalah ayah yakni Sang Pratma (Paratma). Pada Kemulan Kiri adalah Ibu, Sang Siwatma. Pada Kemulan Tengah adalah dirinya atau raganya yakni roh suci yang menjadi ibu dan ayah, nantinya kembali pulang ke Dalem menjadi Sanghyang Tunggal. Ida Bahtara Dalem adalah Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya. Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini, dan beliau adalah penguasa kematian, dalam air, cahaya, udara dan akasa, tidak ada yang dapat melebihi beliau. Sehingga beliau disebut dengan Sanghyang Pamutering Jagat.

Arti Kata Surga Loka atau Siwa Loka : Surga Loka artinya kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi, Siwa Loka artinya Istana atau Stana Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Tuhan, Surga Loka atau Siwa Loka artinya mendapat kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi disisi Tuhan. Dalam hubungannya dengan sembah bhakti (pemujaan) kehadapan beliau, sebaiknya diketahui nama atau julukan beliau. Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana. Ketika beliau yaitu Ida Bhatara Dalem berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa, maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya disebut dengan Sanghyang Sapu Jagat.

Siwa adalah prakash, terang luminositas dan Jnan, Mahatahu, semuanya diketahui-Nya. Prakash also underlines Shiva's transcendence and equipoise in the state of transcendence. Prakash juga menggarisbawahi transendensi Siwa dan imbang di negara bagian transendensi. Siwa sebagai melawan Vedanic Sat, Cit, Anand hanya Cit dan Anand. Hal ini Swarup Kutasth Nya. Luminositas Nya Prakashrupta dan Anand adalah memancar keluar Nya (Uchhalan) untuk bertindak keluar Vilas (olahraga) penciptaan. Siwa tidak memiliki noda-noda keterbatasan dan suksesi. Dia berada di luar Vikaras (cacat). Dia adalah yang pertama dan penyebab terakhir dari manifestasi. Prior to His emergence of will to manifest what is inside Him to Himself, the universe with all its diversities lies in Him in a state of submergence. Sebelum munculnya kehendak-Nya untuk mewujudkan apa yang di dalam-Nya untuk diri-Nya, alam semesta dengan segala keanekaragaman terletak dalam Dia dalam keadaan perendaman. In his monumental work Tantralok, Abhinavgupta conveys the same position of Shiva which is commented upon..

Shiva tidak hanya Prakash tapi Vimarsa juga. Vimarsa as per Dr. Jaidev Singh is the sciring of Shiva's own consciousness. Vimarsa sesuai Jaidev Dr Singh adalah sciring kesadaran sendiri Siwa. Vimarsa is Shakti, the nature of Shiva.Vimarsa adalah Shakti, sifat Siwa.It denotes Shiva's power to act. Ini menunjukkan kekuatan Siwa untuk bertindak. As per Shaiva texts diamond is prakash, but it is absolutely deficient in knowing itself as prakash. Sesuai teks Siwa berlian adalah prakash, tetapi sangatlah kekurangan dalam mengetahui dirinya sebagai prakash. But Shiva knows Himself as prakash.Tapi Shiva tahu diri-Nya sebagai prakash. Various names have been given to Vimarsa. Berbagai nama telah diberikan kepada Vimarsa. It is Kartritva, Swatantrya, and Parashakti.Hal ini Kartritva, Swatantrya, dan Parashakti. Had Shiva been prakash only the universe would not have appeared. Apakah Siwa telah prakash hanya alam semesta tidak akan muncul. It is because of Vimarsa that Shiva manifests the universe on the screen of His own consciousness. Hal ini karena Vimarsa yang memanifestasikan Siwa alam semesta pada layar kesadaran-Nya sendiri. All that we find in the universe is an abhasa and each abhasa is self-expression of Shiva. Semua yang kita temukan di alam semesta adalah abhasa dan setiap abhasa adalah ekspresi diri dari Siwa. What we find outside in the universe is inside Shiva only— yadantastad sahir . Apa yang kita temukan di luar di alam semesta ada di dalam Siwa hanya-yadantastad Sahir.

Siwa adalah agen kreatif. He can be likened to a painter who delineates the universe on the canvas of His own consciousness. Dia dapat disamakan dengan pelukis yang melukiskan alam semesta di kanvas kesadaran-Nya sendiri. When He creates, He is the Shakti.Ketika Dia menciptakan, Dia adalah Shakti itu. He and His divine consciousness pervade the universe, whether animate or inanimate.Dia dan kesadaran ilahi-Nya meliputi alam semesta, baik hidup maupun mati. From man to everything living to dead objects have immanence of Shiva.Dari manusia untuk segala sesuatu yang hidup untuk benda mati memiliki imanensi Siwa. Siwa hadir dalam hidup segala sesuatu atau tidak hidup. As an ultimate destiny everything finds its resting place in Shiva's consciousness supreme.Sebagai tujuan akhir segalanya menemukan tempat peristirahatannya di Siwa kesadaran tertinggi.

Shiva adalah transcendetal, di luar batas-batas ruang dan waktu, tetapi Dia sama imanen, yang hadir dalam segala sesuatu yang tak henti-hentinya menciptakan pada layar kesadaran-Nya sendiri. His is not the case of a semitic God who creates the world and withdraws from it for fear of losing His unity. Nya tidak kasus Tuhan Semit yang menciptakan dunia dan menarik diri dari itu karena takut kehilangan kesatuan-Nya.Shiva creates all the world of animates and equally creates the world of inanimates. Shiva menciptakan semua dunia menjiwai dan sama-sama menciptakan dunia inanimates.A dead stone also has the spark of His creative consciousness, but the spark is slightly weak. Sebuah batu mati juga memiliki percikan kesadaran kreatif-Nya, tetapi percikan sedikit lemah. Whatever appears in the world is within the ambit of His all-pervasive consciousness. Apa pun muncul di dunia adalah dalam ambit dari semua meresap kesadaran-Nya.
Jadi keistimewaan Dewa Siwa ini adalah dapat mempunyai watak/sifat-sifat pribadi yang satu sama lain kadang-kadang berlawanan. Dalam pemujaan-pemujaan demikian mereka memberikan korban-korban dan saji-sajian setiap waktu tertentu dibawah pimpinan pendeta-pendetanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar