Google+

Cakra Mahkota atau Sahasrara Padma (Siwadrawa)

Cakra Mahkota atau Sahasrara Padma (Siwadrawa)

merupakan cakra yang terletak di ubun-ubun kepala.


Pemahaman Cakra Mahkota atau Sahasrara Padma (Siwadrawa)

Di atas Ajna-cakra bersembunyi sebuah cakra rahasia disebut manas-cakra. Cakra ini seperti kembang padma bertaun bunga enam helai, yaitu tempat duduknya sabda-jnana, sparsa-jnana, rupa-jnana, agrano-palabdhi, rasopabhoga, dan svapna atau daya kemampuan untuk mendengar, rasa sentuhan, pengelihatan, penciuman, rasa kecap dan tidur atau ketiadaan semuanya itu. Di atas ini terdapat lagi cakra tersembunyi yang disebut Soma-cakra. Cakra ini berdaun bunga enam belas, yang juga disebut enam belas kala. Kala-kala ini disebut kripa (pengampunan), mriduta (kelembutan), dairya (kesabaran, pengendalian prilaku), vairagya (tanpa nafsu), driti (keteguhan, ketetapan hati), sampat (kemakmuran), hasya (kegembiraan), romancha (terharu), vinaya (rasa memiliki, kerendahan hati), dhyana (meditasi), sustirata (kediaman, ketentraman, berdiam diri), gambirya (bobot), udyama (usaha, bisnis), aksobha (tanpa emosi),audarya (kebesaran), dan ekagatra (konsentrasi). Diatas cakra ini terdapat niralamba-putri (padma anglayang, rumah tanpa penunjang) yang oleh para yogi disana itu dilihat kegemilangan Isvara. Di atas inilah terlihat pranava itu bersinar seperti api dan diatasnya itu terlihat kepingan bulan sabit yang putih yaitu nada, dan diatasnya ini terdapat titik terakhir vindu. Disana itulah terlihat adanya kembang padma putih berdaun bunga dua belas dengan permukaan mengarah (sudha-sagara) dengan pulau batu permata (minidvipa), tempat pemujaan terbuat dari batu permata (manipitha), terdapat tiga lecutan cemerlang a, ka, tha dan disana terdapat Nada dan Vindu. Pada Nada dan Vindu sebagai altar, bersinggasana disana laramahangsa dan ini menyangga kaki Guru : disanalah guru dari semua dan segalanya harus direnungkan. Tubuh hangsa diatas mana kaki guru itu menjejak, tidak lain dari pada jnana-maya, kedua sayapnya adalah Agama dan Nigama, kedua kakinya Siva dan Sakti, paruhnya Pranava, mata dan kerongkongannya kama kala.

Dekat sekali dengan Shasrana Padma ialah garis seperenam belas bagian dari bulan, yang dinamakan ama-kala, yang warnanya merah jernih dan berkilat-kilat seperti bajra. Didalam itulah terdapat lengkung nirvanakala bersinar bagaikan Surya dan lebih lembut dari sehelai rambut dibagi seribu. Di dekat nirvikala terdapat parama-nirvana-sakti, lembut tak terhingga, cemerlang bagaikan surya, pencipta tattva-jnana. Di atasnya itu Vindu dan Visarga-Sakti, pangkal mula dan tempat semua bentuk kebahagiaan abadi (ananda).

Sahasrara-Padma, kembang padma berdaun bunga seribu, memiliki semua jenis warna tergantung dengan muka menghadap kebawah dari Brahma-randra di atas semua cakra. Iniklah mandala bagi penyebab pertama (Brahma Loka), penyebab dari enam penyebab berikutnya. Di dalam surya yang agung, baik secara kosmis maupun secara diri pribadi, di dalam kecermerlangannya itu terdapat Parama-Siva dan Adyasakti. Daya-daya kemampuannya ialah vacaka-sakti atau saguna-brahman, yang di dalam dirinya terdapat level-level kesadaran. Parama Siva mewujudkan diri sebagai Akasa yang agung (Paramakasa-rupi), sebagai atma yang agung (Paramatma), sebagai matahari di alam kegelapan dan kebodohan. Pada masing-masing daun bunga terdapat aemua aksara; dan apakah sudah ada di cakra-cakra yang lebih rendah atau di alam semesta (Brahman) semua terdapat disini sebagai suatu potensi (avyakta-bhava).

Siva menamakan tempat ini sebagai Siva-Sthana Vaisnava menamakan Prakerti-Purusa-Sthana. Parama-brahma, parama-hangsa, parama jyotih, kula-sthana, dan parama-siva-akula. Ataupun nama yang disebutkan, semua bicara tentang hal yang sama. Menembus ke enam cakra bahkan sampai pada Sahasrara Cakra (cakra rahasia) merupakan masalah terpenting yang di bahasa dalam tantra, dan juga merupakan praktek yoga yang di laksanakan. Cara pelaksanaannya secara mendetail hanya bisa di pelajari melalui guru, tetapi prinsipnya pada umumnya dapat di ajarkan secara meluas, yaitu bahwa chit hanya dapat di sadari di sahasrara cakra sebagai berikut : Jivatman di dalam jasad yang halus, yang merupakan wadah bagi panca prana, tiga aspek jiwa yaitu: manas, ahamkara dan budhi, panca karmendriya dan panca jnanadriya di stukan dengan Kulakundalini. Kandarpa atau kama-vayu (enersi karma) di muladhara yang merupakan bentuk dari Apana-Vayu di berikan dorongan untuk berputar ke kiri dengan demikian api yang meliputi kundalini di nyalakan. Dengan vija “hung” dan dengan panasnya api yang di nyalakan itu, kundalini yang tidur melingkar itu di bangunkan. Devi yang tertidur di sekitar svayambhu-linga, dengan lingkaran tiga setengah putaran dan setengah tubuhnya menutupi saluran ujung bawah dari brahma-dvara, setelah di bangunkan itu akan memasuki pintu-pintu di atasnya dan naik ke atas, menyatu dengan jivatma.

Dalam perjalanan ke atas itu, Brahman, Savitri, Dakini-sakti, Sakti, Deva-devi, vija dan vriti, melarut ke dalam tubuh kundalini. Mahimandala atau prativi berubah menjadi vija “lang” dan juga melarut ke dalam tubuh kundalini itu. Ketika Kundalini meninggalkan muladhara cakra, yaitu kembang padma yang mula-mulanya kuncup dan menghadap ke bawah, tetapi setelah kundalini terbangun bunga itu mekar dn menghadap ke atas, tetapi ketika kundalini meninggalkannya kuncup kembali dn menghadap ke bawah. Ketika Kundalini tibba di Svadhisthana-cakra kembang padma itu tebuka dan menghadap ke atas. Dengan masuknya Kundalini, maka mahavisnu, mahalaksmi, sarasvati, rakidi, sakti, deva, matrika dan vriti, vaikuntadhama, golaka,dan deva-devi yang bermukim di sana melarut dalam tubuh kundalini. Prativi melarut menjadi vija “ Lang” dan menyusup ke dalam apah, dan apah berubah menjadi vija “ Vang’ danmenyusup ke dalam tubuh kundalini. Kundalini di dorong naik ke atas lagi, menyentuh manipura-cakra, masuk kedalamnya, kembang itu mekar dan semua unsur yang ada di dalamnya di serap oleh kundalini. Vija “Vang” yang di bawa dari Svadhisthana-cakra melarut kedalam api, dan berubah menjadi vija “Rang” dan larut ke dalamtubuh Kundalini. Cakra ini di sebut juga Brahma-granthi (simpul Brahma). Penembusan cakra ini mungkin mengakibatkan sakit, cacat isik dan bahkan menjadi berpenyakitan. Karena itulah bimbingan guru sangat di perlukan, sehingga dapat di berikan latihan-latihan khusus yoga tertentu agar menembus cakra yang berbahaya ini dapat di hindari, namun sadhakapun masih bisa melanjutkan proses perjalanan kesadaranya menuju ke tingkat yang lebih tinggi.

Selanjutnya kundalini masuk kedalam Anahata-cakra dan semua unsur yang berda di dalam cakra tersebut melarut ke dalam tubuh kundalini. Vija teja “ Rang” berubah menjadi vija vayu “ Yang” dan merasuk ke dalam kundalini. Cakra ini di sebut juga Visnu-granthi (simpul wisnu). Dari sana kundalini melanjutkan peerjalanannya ke atas menuju istana bharati (atau sarasvati) di Visudha cakra. Setelah kundalini masuk kesana, Ardhanarisvara Siva, Shakini, enam belass huruf hidup, mantra sebagai berikut, melarut ke dalam tubuh Kundalini. Dengan menembus lalana cakra. Devi tiba di Ajna-cakra, dan di sana Parama-siva, sidha kali, Deva-deva, guna dan semua yang lain yang ada di tempat itu larut ke dalam tubuh Devi. Vija akasha “Hang” melarut ke dalam Manas-cakra dan jiva itu sendiri selanjutnya larut ke dalam kundalini. Ajna cakra itu juga di kenal sebagai Rudra-granthi (simpul Rudra atau siv). Setelah cakra ini di tembus dengan gerakannya sendiri Kundalini bersatu dengan ParamaSiva dan di dalam perjalanannya ke atas selanjutnya ke dalam tubuhnya itu melarut niralamba puri, pranaya, nada, dan sebaginya.

Didalam perjalanan ke atas selanjutnya, Kundalini menyerap dua puluh empat tatva mulai dari panca-maha-bhuta, dan seterusnya, dan akhirnya menyatukan diri dengan paramaSiva. Inilah proses Maithuna (sanggama) dari sattvika-pancatatva Amritayang tercurah dari persatuan itu membanjiri ksudrabrahmanda dari tubuh manusia. Ketika itulah sadhaka menemukan kesejatian wujud semesta dan merasakan apa yang di sebut kebahagiaan abadi.

Sadhaka lalu memikirkan vayu-vija “ Yang” di pikirkan mengalir melalui lubang hidung kiri memasukkan udara melalui ida, melakukan japa terhadap bija enampuluh empat kali. Kemudian pikirkan “Manusia hitam karena dosa” (papaphurusa) di dalam rongga perut di keringkan oleh udara, dan dengan pikiran tetap demikian, keluarkan nafas melalui lubang hidung kanan pingala melakukan japa terhadap vija tiga puluh dua kali. Sadhaka lalu memusatkan pikiran kepada vija “Rang” yang warnanya merah di Manipuracaraka, tarik nafas enam belas japa. Ketika mengucapkan japa pikirkan “ manusia hitam penuh dosa” itu tebakar dan menjdai abu. Tarik nafas dnegan lubang hidung kanan mengucapkan tiga puluh dua kali japa. Renungkan chandravija “Thang”. Tarik nafas melalui lubang hidung kiri(Ida), japa dengan vija itu enam belas kali, tutup kedua lubang hidung dengan japa sebanyak enampuluh empat kali, dan keluarkan melalui lubang hidung kanan (pingala) seraya melakukan tiga puluh dua kali japa. Ketika menarik nafas, menahan nafas, dan mengeluarkan nafas terus menerus bayangkan bahwa perwujudan dewa sedang di bentukoleh amitra (yang di bentuk oleh semua huruf-huruf, natrikavarna) menetes dari bulan. Dengan cara sama, di gunakan vija ‘Vang’, pembentukan jasad dewata itu di lanjutkan dan dengan vija “Lang” dan pembentukan perwujadan dewata itu selesai dan memiliki kekuatan terakhir dengan menggunakan mantra “ Song-Hang” , sadhaka menggiring jivatma menuju ke hrdaya (sekitar jantung). Demikianlah kundalini, setelah menikmati persatuannya dengan paramasiva, kembali ke tempatnya semula. Ketika melewaticakra-cakra itu, apa yang tadinya di serap, sekarang di keluarkan lagi dan menempatkan diri di tempatnya masing-masing seperti sedia kala. Demikianlah Kundalini kembali ke Muladharacakra dan seluruhnya itupun kembali kepada posisi seperti Kundalini itu masih tidur.

Selanjutnya di jelaskan bahwa seseorang bhakta dengan pengendalian nafas/ pranayama sesuai dengan ketentuan yang ada menggerakkan memperbesar prana dan kemudian menggerakkan cakra satu persatu sampai menjadi gerakan yang serasi. Prana kemudian di pusatkan kepada salah satu Dewa yang di puja kemudina di tingkatkan kepada dewa tertinggi/ ubun-ubun maka sampailah prosesnya kepada puncak yakni berada pada situasi : heneng, hening, henang, henung atau berada dalam diam (sira meneng ana meneng) sebagaimana di sebut di dalam Aji Sang Hyang Dharma, kemudian akan di capai “Sang Hyang Jat Mika” yang tertinggi atau Sang Hyang Moksiana atau Sang Hyang Kelepasan atau (Nora Lewat po saking riki, sang kalepasan aranira). Lontar kalepasan, hal 7). Umumnya ajaran ini sangat di rahasiakan hanya dapat di ajarkan oleh pendeta, bhakta yang telah siap mental an tekun menjalankan dharma kepanditaannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar