Google+

Sanggah Tawang dan Sanggah Surya

Sanggah Tawang dan Sanggah Surya

contoh sanggah surya
seperti kita ketahui, umat hindu bali secara tidak langsung memberikan posisi penting pada salah satu dari 33 dewa dalam Rg Weda, yaitu Dewa Surya. Buktinya dengan menempatkan Sanggar Surya pada setiap aktifitas yadnya, minimal ada posisi tinggi yang menggambarkan linggih (kehadiran) dewa surya.

SANGGAH SURYA

di beberapa daerah, danggah surya sering uga disebut dengan SANGGAH AGUNG.
Sanggah mengandung arti sumber, sedangkan Agung merupakan kewibawaan atau kharisma Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Surya.
lebih lanjut silahkan baca: "Hyang Siwa raditya"

sanggar surya, dibuat lebih tinggi dari pinggang, bahkan saat upacara mlaspas bangunan, merehab bangunan serta saat melakukan karya piodalan (dewa yadnya), sanggar surya dibuat lebih tinggi dari tinggi penghuni rumah tempat dilaksanakan karya yadnya. secara umum, sanggar surya dibuat dengan 4 batang bambu yang ditancapkan disisi timur laut tempat melakukan karya yadnya. Sanggah ini berbentuk segi empat panjang mirip dengan Sanggah Tawang hanya ruangannya satu dan memakai atap lalang atau kelabang. Sanggah ini digunakan pada setiap upacara keagamaan yang merupakan stana pemujan kepada Sang Hyang Siwa Raditya.

SANGGAH SURYA ” ini selalu dibangun dan difungsikan serta dianggap tidak sah ( selesai ) suatu upacara yajna, bila tidak disaksikan oleh Sang Hyang Surya. kelengkapan sanggah surya diantaranya pohon pisang yang disebut ” Kadali ” lengkap dengan bunganya atau biu lalung ( Kadalipuspa ) dan pohon ” Peji uduh ” itu sebagai pengganti pohon-pohon sorga, mengingat pohon-pohon lainnya seperti beringin dan ancak selalu digunakan dalam upacara agama Hindu. Dengan demikian penempatan pohon pisang dan peji uduh tersebut terkait dengan Sang Hyang Surya yang tidak memiliki sthana di bumi, oleh karenanya sthananya disebut ” SANGGAR TAWANG “, altar di langit.


SANGGAH TAWANG

Perangkat upacara ini dibuat dari bambu, berbentuk segi empat panjang, memiliki pinggiran yang disebut "ancak saji", tidak memakai atap, bertiang empat buah sebagai kaki, biasanya terbuat dari pohon pinang.

Sanggah tawang memliki tiga macam ruangan (rong tiga) dan setelah berdiri pada sisi sebelah kanan depan dipasangkan yang disebut "biyu lalung" (pucuk pisang) dan disebelah kiri depan dipasangkan satu tangkai pohon "uduh peji", dan sebuah tempat berisi berem yang dinamakan "kelukuh". Sanggah twang ini diletakkan pada posisi arah timur laut ( arah gunung )dan tingginya 3 - 5 meter. Timur lalut merupakan letak alam para Dewa. Sanggah tawang mempunyai makna sebagai simbul pada pelaksanaan karya di Pura.

Untuk mengetahui maknanya kita kaji sebagai berukut :
Sanggah tawang berasal dari kata:
  • canggah yang dapat diartikan sebagai "sumber".
  • tawang berasal dari suku kata Ta dan wang. Ta dapat diartikan "ada" dan awang agar memiliki arti, diberi sifat majemuk menjadilah awang-awang yang berarti "sepi atau sunia". Sunia diinterpretasikan sebagai Sang Hyang Widhi.

Dengan demikin Sanggah tawang mempunyai makna sebagai simbul stananya Sang Hyang Widhi beserta manisfestasi-Nya, yang menjadi sumber permohonan umat Hindu dalam suatu upacara agama.
Didalam pustaka Bhuwana kosa 1.2.10 disebutkan :
Sunyasca Nirbanadhika,
Siwangga Twe Rniksyate,
Kutah Tad Wakyama Tulam,
Srutwa Dewo Watista.
maksudnya :
Ada alam sunia yg dianggap alam moksah sangat sakti, itulah disebut Sang Hyang Siwa.

Niskalancana Noropeksam,
Kewalyam Paramamsiwam,
Agarbha Janma Maranam,
Lalate Pari Sanyaset,
maksudnya :
Yang paling atas ada yang bernama Parama Kewalya, dengan sebutan Parama Siwa bersama Bhatara Sadha Siwa dan hal ini tidak dapat dijangkau oleh manusia

Dari seloka diatas dapat lebih dimaknai tentang Sanggah Tawang memakai tiga ruangan, masing-masing ruangan sebagai simbul stananya Sanghyang Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa dengan sebutan "Sang Hyang Tri Purusa"

Pada Sanggah Tawang dilengkapi dengan perangkat lainnya seperi :
  1. JANTUNG PISANG KAYU atau BIU LALUNG, sebagai simbul kekuatan Purusa (centana) dari Sang Hyang Widhi.
  2. BUAH PINANG, sebagai simbul permohonan umat kepada Ida Sang Hyang Widhi, supaya apa yang dipersembahkan berpahala sesuai dengan persembahannya.
  3. BUAH UDUH PEJI ( sejenis enau kurus ), merupakan simbul manefestasi Sang Hyang Widhi sebagai Bathara dan Bathari, Dewa dan Dewi yang ikut menyaksikan persembahan umat, dan memberi anugrah sesuai karmanya.
  4. KELUKUH BERISI BEREM, Kelukuh terbuat dari pelepah pinang yang dibentuk seperti kantong dan berisi berem. Kelukuh merupakan simbul kekuatan Prakerti (acetana) dari Sang Hyang Widhi. Berkekuatan prakerti beratti Beliau memberikan kekuatan pada setiap material yang dipersembahkan sebagai sarana memberikan anugrah kepada Umat Hindu.
Jadi persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi harus yang masih segar dan dilandasi rasa bakti yang tulus dan ikhlas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar