Google+

Selasa, 17 Juli 2012

Perang Kerajaan Badung Vs. Kerajaan Mengwi

Pada Waktu Kerajaan Mengwi dibawah pemerintahan putra dari yaitu I Gusti Agung Sakti, I Gusti Made Agung Alangkajeng hubungan Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung agak membaik, hal tersebut terjadi karena I Gusti Made Agung langkajeng merelakan putrinya yaitu Ni Gusti Ayu Bongan kawin dengan Angurah Pemecutan III/ Ida Bhatara Maharaja Sakti sehingga melahirkan putra yang dibuatkan Anak Agung Gde OkaJero di Kaleran Kawan. Dan sebagai hadiah perkawinan maka daerah pesisir seseh sampai bukit Uluwatu diberikan kepada Kerajaan Badung , tetapi adanya Pura Ulunsuwi dan Pura Uluwatu harus dipelihara oleh Kerajaan Badung.



Semenjak itu Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Badung hidup rukun sebagai suatu keluarga besar demikian seterusnya sampai berjalan empat keturunan. Setelah pemerintahan dipegang oleh I Gusti Agung Bhima Sakti politik pemerintahan Kerajaan Mengwi mengalami perubahan antara lain dengan adanya keinginan untuk mengambil bekas wilayah Mengwi yang diambil oleh kerajaan Badung. Selain itu pada masa pemeritahan I Gusti Agung Bhima Sakti dengan dibantu oleh 2 adipati Agung yaitu Gusti Putu Mayun dan Gusti Made Ngurah timbul kecendrung dari pemuka-pemuka Kerajaan Mengwi untuk bertindak lebih bebas dari kekuasaan Dewa Agung di Klungkung sehingga kerajaan Mengwi mempunyai kedudukan yang sama dengan Kerajaan lain di Bali. Hal demikian tentunya ditentang keras oleh Dewa Agung di Klungkung yang meghendaki agar semua kerajaan di Bali dihimpun dibawah kekuasaan Kerajaan klungkung.

pada awal tahun 1891 mulai timbul kekacauan di Kerajaan Mengwi karena percekcokan antara Raja dengan Adipati Agung Gusti Agung Made Alangkajeng yang terkenal sebagai pimpinan perang yang ulung dan gagah perkasa sehingga beliau mendapat julukan sebagai Macan Kerajaan Mengwi. Gusti Agung Made Alangkajeng mengambil istri dari Puri Arya Tegeh Kuri di Badung dan karena perselisihan tersebut beliau meninggalkan Kerajaan Mengwi dengan membawa pusaka-pusaka Kerajaan dan menetap di Badung.

Selain itu punggawa Sibang juga memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Kerajaan Mengwi dan ingin berdiri sendiri, hal tersebut terjadi karena punggawa tersebut dihukum akibat dituduh melakukan tindak pidana melanggar sopan santun. Raja Mengwi minta bantuan Dewa Agung dari Klungkung untuk menengahi persoalan tersebut, akan tetapi campur tangan Dewa Agung ternyata malah merugiakan Kerajaan Mengwi sendiri karena Dewa Agung justru membujuk Punggawa Sibang untuk memberontak terhadap rajanya. Alasan Dewa Agung bertindak demikian karena tindakan raja Mengwi yang menduduki sebagian daerah Negara seusai pemberontakan Cokorde Gde Oka Negara terhadap Dewa Manggis (VII) Raja Gianyar.

Oleh karena itu Dewa Agung dengan didukung oleh Adipati Agung Dewa Agung Rai dengan penasehat Agung Pedanda Ida Ketut Pidada ingin mengail didalam air keruh dan mengadakan campur tangan dalam kekacauan politik di Mengwi. Hubungan Kerajaan Karangasem dan Kerajaan Mengwi erat karena adanya pertalian persaudaraan, maka Dewa Agung Minta bantuan Raja karangasem Gusti Gde Jelantik untuk pergi ke kerajaan Mengwi dengan tujuan untuk mengusahakan perdamaian di sana. Gusti Gde Jelantik bersedia memenuhi permintaan Dewa Agung tersebut. Dewa Agung mengharapkan misi tersebut dapat mencapai hal sebagai berikut :
  • Permusuhan di Mengwi antara golongan dan ketegangan dengan Kerajaan Badung harus dihentikan.
  • Menyakinkan Raja Mengwi untuk menghentikan usahanya mendapatkan kebebasan dari Klungkung dan kembali lagi pada keadaan dahulu yaitu Kerajaan Mengwi merupakan bagian dari Kerajaan Klungkung dimana Dewa Agung memegang kekuasaan tertinggi.
  • Meyakinkan Raja Mengwi agar menarik pasukannya dari daerah Negara dan menghentikan pendudukan di daerah tersebut.
  • Hasil kunjungan Raja Karangasem menghasilkan kesepakatan bahwa Raja Mengwi bersedia pergi ke Klungkung menghadap Dewa Agung untuk minta Maaf atas keikhlafannya, tetapi dengan syarat Raja Karangasem Gusti Gde Jelantik harus turut serta. Raja Mengwi takut hal yang sama akan menimpanya seperti raja Gianyar Dewa Manggis (VII) pada tahun 1885 diasingkan di Satria ketika akan menghadap Dewa Agung.
  • Hasil kunjungan Gusti Gde Jelantik telah dilaporkan kepada Dewa Agung dan kedatangan Raja Mengwi ditungu tunggu di Klungkung namun Raja Mengwi tidak muncul muncul. Penundaan keberangkatan Raja Mengwi disebabkan karena Punggawa Sibang tidak bersedia turut serta dengan rombongan Raja Mengwi, Raja Mengwi takut Punggawa Sibang akan mengadakan pemberontakan tatkala dirinya tidak ada di Puri Mengwi. Namun dibalik itu semua ternyata Dewa Agunglah yang memberi nasehat kepada Punggawa Sibang agar tidak ikut dalam rombongan Raja Mengwi ketika menghadap dirinya ke Kerajaan Klungkung.
Ketidakharmonisan hubungan Kerajaan Mengwi dan Badung dimulai ketika Kerajaan Mengwi membendung empelan Tukad Mambal sehingga sawah sawah yang ada di wilayah Kerajaan Badung menjadi kekeringan dan gagal panen yang berkali kali sehingga menimbulkan kepalaran. Dekimian pula di daerah Tegal Linggah , Kerobokan, Mergaya, Abiantimbul, berkali kali Mengwi melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah Badung secara gelap sehingga menimbulkan rasa tidak aman bagi penduduk di wilayah tersebut, untuk mengantisipasi hal tersebut maka Puri Pemecutan mengambil langkah langkah sebagai berikut :
  • Daerah Mergaya ditugaskan kepada Anak Agung Gde Banjar dari Jero Dawan Kanginan untuk membuat perkemahan di tepat tersebut bersama putra putra beliau.
  • Daerah Umaduwi ditugaskan kepada Anak Agung Putu Pande untuk membuat perkemahan di Agel Abiantimbul.
  • Desa Jimbaran ditugaskan Anak Agung Gde Pande dari Jero Dawan Tegal untuk membuat perkemahan di Br tegal Jimbaran.
  • Daerah Kuta sampai Seminyak ditugaskan kepada Putra putra Kiyai Lanang Ukiran Jero peken Pasah yaitu Jero Seminyak, Jero legian Kaja dan Jero Temacun dipimpin oleh Kiyai Lanang Legian
Diceritakan keadaan disemua front, infiltrasi laskar Mengwi semakin meningkat, tiap hari terjadi pertempuran kecil-kecilan, masing masing berusaha mengintimidasi satu sama lainnya. Di daerah Sempidi mulai pecah perang antara Pemecutan melawan Mengwi. Laskar andalan Mengwi sudah bersiap-siap disebelah utara sedangkan laskar Pemecutan dipimpin oleh Anak Agung Made Banjar dengan bersenjatakan keris pusaka Rereg Langse, cucu dari Kiyai Agung Lanang Dawan dengan dibantu oleh para Wargi, Tambyak dan laskar Bugis berada di sebelah selatan.

Kedua belah pihak sama sama mengeluarkan senjata andalannya, dari pihak Sempidi mengeluarkan keris Penglipuran dan Ki Sekar Gadung sedangkan laskar Padangsambian mengeluarkan tombak Sableg yang mengeluarkan cahaya biru yang amat ditakuti oleh laskar Sempidi, sebab mereka telah membuktikan keampuhan senjata tersebut pada waktu mereka mengikuti I Kiter menyerang Desa Tegallinggah.

Kiyai Wayan Lemintang di Jero Peguyangan mengirim putranya untuk membantu laskar Padangsambian, mereka menuju desa Benoh dan membuat perkemahan di Petangan Ubung dan sampai sekarang keturunan beliau masih bertempat tinggal di Petangan Ubung. Laskat Bugis diperintahkan maju menuju desa Sibang, disana mereka dihadang oleh laskar Sibang yang sudah siap tempur sehingga pertempuran tidak terelakkan lagi dan menimbulkan korban yang cukup banyak dari kedua belah pihak.

Laskar Bugis menembakkan senjata meriam sehingga tepat mengenai pohon beringin di pasar Sibang sehingga pohon tersebut tumbang dan membuat ketakutan laskar Sibang, Semua laskar Sibang kemudian mengundurkan diri ke Desa Mambal dan laskar Peguyangan dan laskar Bugis terus mengepungnya.Pertemuan di wilayah Sempidi tidak kalah serunya, Laskar Padangsambian dibantu oleh Tambiyak dan laskar Jero Petangan mendesak laskar Sempidi sampai di bencingah Jero Sempidi.

Anak Agung Putu Kuskus, Anak Agung Putu Riyong dan Anak Agung Putu Gde Grejeg pimpinan laskar Pemecutan sedang memburu I Gusti Agung Rai pimpinan laskar Sempidi. I Ngetis dari laskar Pemecutan sedang terlibat pertempuran dengan memutar mutar tombak Sableg sehingga laskar Sempidi banyak yang menemui ajalnya sedangkan sisanya yang masih hidup lari menyelamatkan diri. I Gusti Agung Rai karena sudah terdesak melarikan diri kedalam Jero.Tidak berapa lama dari dalam Jero Sempidi berkibarlah bendera putih tanda menyerah, seorang utusan keluar dari Jero Sempidi membawa bendera putih menuju markas Pemecutan dengan membawa surat.

Dalam surat tersebut I Gusti Agung Rai menyatakan menyerah dan menyatakan tunduk kepada Pemecutan dan siap mengabdi. Anak Agung Made Banjar sebagai pimpinan tertinggi Laskar Pemecutan menerima permohonan tersebut tetapi dengan syarat I Gusti Agung Rai tidak diperkenanan lagi untuk tinggal di Jeronya semula, Jero tersebut akan dihancurkan semua sebagai pembayaran pampasan perang. Untuk pembangunan jero yang baru I Gusti Agung Rai diperkenankan disebelah barat pasar Sempidi. Laskar Padangsambian membongkar semua bangunan di Jero Sempidi.
  • Anak Agung putu Grejeg mengambil keris yang bernama Ki Sekar Gadung dan seperangkat bale gede saka roras meperada. Keris tersebut sampai sekarang masih tersimpan di Pemerajan Jero Dawan Tegal.
  • Putra Kiyai Wayan Lumintang mengambil keris yang bernama Si Penglipuran dan sampai sekarang masih tersimpan di Pemerajan Jero Petangan Ubung.
  • Anak Agung Gde Banjar mengangkut seperangkat bale gede saka roras meperada terus dibangun di Jero Dawan kanginan.
  • Anak Agung Putu Reyong mengangkut bale bale yang telah dibongkarnya dan dibangun kembali di Br Buana Agung.
  • bekas Jero Sempidi disita dibagi oleh 5 kemoncolan Dawan. Masing masing moncol membangun Jero ditempat tersebut.
Setelah pertahan Kerajaan Mengwi di Desa Sempidi, Dalung dan Sibang dapat dihancurkan maka kekuatan induk pertahanan kerajaan mengwi dipusatkan di desa Mengwitani dan diperkuat oleh pasukan andalan Mengwi yaitu Pasukan Terua Batu Bata.

Melihat situasi demikian Anak Agung Made Banjar sebagai pimpinan tertinggi Laskar Pemecutan berpedapat bahwa jika laskar Pemecutan mengempur daerah tersebut tentunya akan menimbulkan korban yang sangat banyak dari pihak Pemecutan sehingga beliau memutuskan untuk merubah siasat akan menyelinap ke jantung pertahanan musuh didampingi oleh pasukan berani mati laskar Pemecutan.

Anak Agung Made Banjar sendiri yang akan memimpin laskar berani mati tersebut dibantu oleh 4 orang pilihannya dari jero Pekandelan ada yang namanya Nang Semblong. Pada jam 3 pagi berangkatlah Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya menuju Mengwi.

Sesampainya di desa Pupuhan, beliau dicegat oleh laskar Mengwi sehingga terjadilah pertempuran namun hal tersebut berhasil diatasninya. Desa tersebut sekarang dinamakan desa Pupuan (Pupuh berarti dikeroyok dan dipukuli)

Pada jam 8 pagi Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya telah sampai di bencingah Puri Mengwi, beliau beristirahat sejenak sambil melihat situasi untuk melakukan penyerangan. Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang benar benar berjibaku tanpa membawa senjata kecuali kain putih yang digunakan kekudung. Selama berteduh di Bencingan Puri Mengwi sama sekali tidak ada orang yang menaruh curiga kepada Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya.

Tanpa disangka sangka keluarlah iringan Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti dengan dikawal oleh pasukan berani mati Taruna Batu Bata yang bermaksud akan muspa ke Pura Taman Ayun. Beliau diusung dengan tandu kebesaran, diapit oleh permaisuri dan para selir semuanya berpakaian serba putih bagaikan orang yang akan maju ke medan perang.

Suasana menjadi sangat hening, rakyat menundukkan kepala memberi penghormatan kepada Raja yang lewat.Kesempatan tersebut tidak disia siakan oleh Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya dengan secepat kilat melompat keatas tandu sang Raja. Hal tersebut menimbulkan kepanikan dari Raja dan pengiringnya sehingga pertempuran tidak terelakkan lagi.

I Gusti Agung Bhima Sakti menghunus keris sakti Ki Bintang Kukus yang mengeluarkan cahaya yang gemerlapan langsung ditusukkan ke dada Anak Agung Made Banjar, namun keris tersebut ternyata tidak mampu menembus badan Anak Agung Made Banjar.Perang tanding kemudian dilanjutkan di bawah dan berlangsung dengan sangat hebatnya. Masing masing berusaha secepatnya menjatuhkan lawannya sampai akhirnya Anak Agung Made Banjar mengeluarkan kekudung putih yang membuat Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti jatuh tak sadarkan diri.

Pasukan Taruna Batu Bata kemudian melarikan Rajanya menuju desa Kaba Kaba. Pertempuran kemudian berlanjut antara Anak Agung Made Banjar bersama 4 orang pengiringnya melawan pasukan Taruna Batu Bata, karena lawan yang tidak seimbang 4 orang pengiring Anak Agung Made Banjar tewas dalam pertempuran tersebut. Sedangkan Anak Agung Made Banjar menderita luka yang cukup parah terus mengamuk dengan kekudung putihnya sehingga pasukan Taruna Batu Bata banyak yang menjadi korban, sisanya yang masih hidup lari menyelamatkan diri.

Diceritakan kembali kedaan Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti didalam perjalanan menuju desa Kaba-Kaba masih dalam keadaan belum sadarkan diri, sesampainya beliau di desa Mengwitani menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau dinyatakan wafat pada tanggal 20 Juni 1891 jam 11 siang. Dengan gugurnya Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti, seluruh masrkas pertahanan Kerajaan Mengwi kehilangan semangat tempurnya sehingga banyak yang sudah meninggalkan pos pos pertahanannya.

Kedua Adipati Agung Kerajaan Mengwi yaitu Gusti Putu Mayun dan Gusti Made Ngurah dapat menyelamatkan diri ke desa Seseh dan dari tempat tersebut menuju padang cove untuk seterusnya menuju Kerajaan Karangasem menghadap Raja Gusti Gde Jelantik. Pada waktu kedua adipati tersebut menghadap raja Karangasem kontrolir Belanda J.H Liefrinck sedang berada disana dan menurut lasporannya Raja Karangasem memperlihatkan sepucuk surat dari Raja Badung menjawab surat darinya yang mempertanyakan mengapa kerajaan Badung menyerang daerah Sibang.

Jawabannya bahwa hal tersebut dilakukan atas perintah langsung Dewa Agung. Mengetahui hal tersebut kedua adipati sangat menyesalkan sikap Dewa Agung tersebut yang menyarankan kepada Kerajaan Mengwi untuk berdamai dengan kerajaan Badung sehingga Kerajaan Mengwi tidak sempat membangun benteng-benteng pertahanan untuk mengantisipasi serangan tersebut. Raja Karangasem Gusti Gede Jelantik sangat malu karena beliaulah yang menjadi utusan Dewa Agung ke Kerajaan Mengwi untuk menyampaikan amanat dari Dewa Agung tersebut yang ternyata semua itu adalah muslihat untuk menghancurkan Kerajaan Mengwi.

Di Markas besar laskar Dawan Pemecutan di Sempidi setelah mendengar wafatnya Raja Mengwi I Gusti Agung Bhima Sakti, seluruh pasukan diperintahkan maju memasuki Puri Mengwi. Didalam perjalanan menuju Puri Mengwi tidak ada perlawanan yang berarti. Seluruh lascar Dawan Pemecutan sudah berada di sekitar areal Puri Megwi dengan pegelaran bulan sabit, siap tempur sehingga tak satupun warga Mengwi yang berani keluar rumah semuanya bersembunyi di rumah masing-masing.

Sebagian laskar Dawan Pemecutan menyelamatkan pimpinan pasukan Anak Agung Made Banjar yang menderita luka sangat parah untuk dibawa menuju desa Pangsambian. Pada jam 4 sore sampailah rombongan tersebut di Padangsambian dan Anak Agung Made Banjar karena menderita sangat parah akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada jam 6 sore. Namun sebelum beliau meninggal beliau masih sempat memberikan petuah-petuah untuk kelurganya.

Hingga saat ini masih dijumpai benda benda peninggalan sejarah yang berkaiatan dengan perang antara Kerajaan Mengwi dan Badung tahun 1891 diantaranya di Pemerajan Jero Padangsambian masih disimpan Keris bernama Rereg Langse dan tulup yang masih disungsung oleh keturunan Kiyayi Agung Lanang Dawan di Padang Sambian demikian pula keris penglipuran yang dirampas dari kerajaan Mengwi yang kalah di Sempidi dibawah pimpinan putra Kiyayi Wayahan Lumintang masih tersimpan di Jero Peguyangan.

Kembali ke keadaan Puri Mengwi, bendera putih berkibar di di pintu gerbang Puri sebagai pertanda Kerajaan sudah menyerah dan tunduk kepada kekuasaan kerajaan Pemecutan. Dan tidak berapa lama 2 orang utusan keluar dari puri dengan membawa bendera putih berjalan menuju markas laskar Dawan Pemecutan yang sedang membuat tenda di Bencingah Puri mengwi. Utusan tersebut bernama I Gusti Agung Kerug dan I Gusti Agung Bedu keduanya masih kerabat Raja Mengwi dan mereka berdua datang sebagai wakil kerajaan Mengwi untuk mengadakan perudingan dengan pimpinan Laskar Dawan Pemecutan yang sekarang diambil oleh Anak Agung Putu Kukus.

Dalam perundingan tersebut kerajaan Mengwi menyatakan menyerah dan mulai saat ini seluruh daerah kekuasaan Kerajaan Mengwi diserahkan kepada Puri pemecutan dan disertai permohonan agar semua keluarga Puri masih tetap diperkenankan diperkenankan untuk tinggal di dalam Puri. Untuk sementara waktu pimpinan laskar Dawan Pemecutan Anak Agung Putu Kukus dapat menerima hal tersebut tetapi dengan catatan apabila terjadi perbuatan yang dapat merugiakan pihak Pemecutan maka Puri Mengwi akan dihancurkan seperti halnya Jero Sempidi diratakan dengan tanah sebagai pampasan perang.

Setelah kerajaan Mengwi menyerah, maka untuk menjalankan pemerintahan sementara diambil oleh Anak Agung Putu Kukus , dan beliau membangun Puri disebelah utara Puri Mengwi menghadap keselatan bernama Puri Dawan Mengwi.

Laskar Kyai Lanang Kemoning dari Jero Bantanmoning Grenceng ikut mematahkan perlawanan Mengwi dari arah barat. Untuk mengantisipasi terjadinya pemberontakan kembali maka laskar Lanang Kemoning diperintahkan membangun Jero disebelah Puri Mengwi. Untuk melestarikan persatuan seluruh laskar Pemecutan di Mengwi maka dibangun Bali banjar diberi nama Banjar Badung.

Dengan kekalahan tersebut hancurlah Kerajaan Mengwi yang pada masa lampau merupakan salah satu kerajaan besar dan Jaya di Bali. Sebagaimana diketahui pada abad ke 18 Badung masih merupakan bagian dari Kerajaan Mengwi dan baru pada awal abad ke 19 Badung dibawah pimpinan Gusti Ngurah Made Pemecutan/ Maharja Bhatara sakti/ Anglurah pemecutan III melepaskan diri dari Kerajaan Mengwi dan muncul sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

Wilayah bekas kerajaan Mengwi sekarang diduduki oleh Kerajaan Pemecutan Badung untuk wilayah selatan dan wilayah barat dikuasai oleh Kerajaan Tabanan. Dengan dikuasainya desa kapal dan Mengwitani oleh kerajaan Pemecutan maka kerajaan ini mempunyai gubungan langsung dengan Kerajaan Tabanan yang senantiasa diidam-idamkan oleh dua kerajaan ini. Daerah Sibang diperintah langsung oleh Dewa Agung dari Klungkung sedangkan desa Bongkasa, Carangsari dan Angantaka dikuasai oleh Punggawa Ubud Cokorde Gde Sukawati.

Mengapa kerajaan Tabanan ikut serta memperoleh pembagian wilayah dengan jatuhnya Kerajaan Mengwi, karena pada Perang antara Badung dengan Mengwi Kerajaan Tabanan dibawah pemerintahan Raja Singasana ikut serta membantu laskar Badung untuk menundukkan Kerajaan Mengwi. Hubungan antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Tabanan dalam beberapa tahun terakhir memang kurang baik yang disebabkan oleh beberapa hal.

Ki Gusti Ngurah Teges dari Puri Kaba-Kaba yang ikut berperang dibawah panji Kerajaan Mengwi berhasil ditundukkan dan menyerah pada Puri Kaleran Tabanan, sehingga rakyat dan seluruh wilyah kekuasaanya jatuh ke tangan Kerajaan Tabanan. Melihat keadaan yang demikian Raja Karangasem Gusti Gde Jelantik yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Kerajaan mengwi merasa mempunyai tanggung jawab untuk bertindak.

Raja Karangasem ingin pergi ke Mengwi dengan pasukan yang lebih besar untuk memulihkan keadaan dan keamanan di wilayah Mengwi. Untuk itu raja Karangasem minta ijin kepada Dewa Agung untuk melewati wilayahnya dalam perjalanan menuju Mengwi. Permintaan tersebut ditolak oleh Dewa Agung dan hanya 50 orang orang yang dijinkan melalui daerahnya untuk pergi ke Mengwi, itupun tanpa membawa senjata kecuali keris. Dewa Agung khwatir apabila hal tersebut dibiarkan maka keadaan akan semakin kacau dan perang besar tidak akan bisa dihindarkan antara Kerajaan Karangasem dengan Kerajaan Pemecutan Badung.

Dewa Agung kemudian memerintahkan menutup perbatasan Klungkung dengan Karangasem dan memerintahkan dibangun kubu-kubu pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.. Hal tersebut menimbulkan reaksi dari Kerajaan karangasem yang kemudian membangun pula benteng-benteng pertahanan dan pertempuran kecil-kecilan tidak terhindarkan sehingga menyebabkan kedua kerajaan dalam keadaan perang.

Kerajaan Lombok ingin membantu Kerajaan Karangasem dalam peperangan melawan Klungkung, namun hal tersebut diketahui oleh Residen/Komisaris pemerintah Hindia-Belanda di Singaraja M.C Dannenbargh yang mengkwatirkan Raja Selaparang Lombok akan mengail di air yang keruh memanfaatkan setuasi yang demikian. Dalam kunjungannya ke Lombok, M.C Dannenbargh berhasil meyakinkan Raja Selaparang untuk membatalkan keinginannya tersebut sehingga terhindarlah perang yang lebih besar terjadi di daerah Bali.

Sebagai balasan atas tindakan Dewa Agung, maka Raja Karangasem Gusti Gde Jelantik diam-diam memberi ijin kepada punggawa-punggawa Kerajaan Gianyar yang mengalami pengasingan di Karangasem kembali ke daerah asalnya. Oleh karena itu punggawa Abianbase, Punggawa Blahbatuh Gusti Ngurah Made dan Punggawa Sukawati Anak Agung Gde Agung bertolak kembali ke daerah asalnya masing-masing sehingga memaksa punggawa-punggawa yang diangkat oleh Dewa Agung terpaksa kembali ke Klungkung seperti Cokorde Lingsir yang bertugas di Blahbatuh.

Ketiga Punggawa-punggawa tersebut telah kembali ke Gianyar dan menempatkan diri dibawah kekuasaan Raja KarangasemKembali ke keadaan di wilayah Badung Pemecutan, Setelah perang antara Badung dengan megwi berakhir maka tiga serangkai Raja Tabanan, Raja Badung Pemecutan dan Raja Gianyar sepakat untuk mengadakan perjanjian kerjasama di bidang pertahanan. Perjanjian tersebut dilaksanakan di daerah Badung dan Raja Tabanan diwakili oleh Sirarya Ngurah Made Kaleran, sedangankan Raja Gianyar I Dewa Pahang hadir secara langsung dalam acara tersebut.

Di Badung tepatnya di Pura Nambangan Badung ketiga raja tersebut beserta Manca dan pejabatnya masing masing mengangkat sumpah (padewa Saksi) untuk menjalin hubungan persahabatan untuk saling membantu satu sama lainnya. Setelah acara selesai Raja Gianyar I Dewa Pahang kembali ke Puri Gianyar sedangkan wakil Raja Tabanan Sirarya Ngurah Made Kaleran menginap semalam di Puri Pemecutan.

Keesokan harinya rombongan mampir ke Puri Denpasar dan disuguhi hidangan. Ketika rombongan sedang bersantap tiba tiba Sirarya Ngurah Made Kaleran ditikam oleh Kiyai Ngurah Rai dari Jero Beng Kawan dengan keris yang bernama I Ratu Puri kaleran yang merupakan keris anugrah dari Dalem Klungkung. Sirarya Ngurah Made Kaleran tewas ditempat dan seisi puri menjadi panik dan kentongan tanda bahayapun di bunyikan sehingga pengawal Puri berhamburan masuk ketempat kejadian. Kyai Ngurah Rai kemudian ditangkap dan dibunuh di tempat tersebut dan mayatnya ditarik lewat sombah (lubang pembuangan air dibawah tembok) karena saking marahnya rakyat Badung karena kejadian tersebut.

Peristiwa tersebut menyisakan duka yang dalam bagi Kerajaan Badung dan Tabanan dan jenazah Sirarya Ngurah Made Kaleran diusung kembali ke Tabanan dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Sirarya Ngurah Made Kaleran setelah meningal diberi julukan I Ratu Karuwek Ring Badung.

Kembali kedaerah Mengwi setelah pemerintahan Anak Agung Putu Kukus berjalan 5 tahun mulai terjadi pemberontakan kecil kecilan oleh rakyat Mengwi yang dipimpin oleh I Gusti Agung Kerug. Namun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan I Gusti Agung Kerug dapat meloloskan diri menuju desa Angantaka. Keadaan dapat dipulihkan kembali berkat kesigapan laskar Pemcutan mengantisiasi hal tersebut.

Pewaris Kerajaan Mengwi Gusti Gde Agung masih mencoba untuk mengadakan pemberontakan terhadap kekuasaan Kerajaan Badung dengan bantuan rakyat mengwi yang yang masih setia, akan tetapi dalam pertempuran di desa Penarungan pada tahun 1895 pasukan yag dipimpinnya dapat dihancurkan oleh pasukan Badung dibawah panglimanya yang terkenal yaitu Gusti Alit Raka Debot.

Dengan kekalahan tersebut Gusti Gde Agung terpaksa hijrah lagi ke Ubud dan menempatkan dirinya dibawah perlindungan Cokorda Gde Sukawati sambil menunggu kesempatan lagi untuk merebut Mengwi kembali.

Pada tahun 1898 Gusti Gde Agung meninggalkan Ubud menuju Desa Carangsari Tabanan dan beliau berhasil meyakinkan Manca Sarangsari untuk membantunya. Dengan bantuan Manca tersebut beliau menerukan perjalanan ke Desa Abiansemal dan selanjutnya menetap disana. Beliau menamakan dirinya Cokorda Abiansemal sebagai penguasa yang berdiri sendiri tidak dibawah kekuasaan Kerajaan Badung. Kerajaan Badung tidak bermaksud mengirimkan pasukan untuk menggempur Cokorda Abiansemal namun lebih condong untuk mengadakan kompromi yang menghasilkan kesepakatan bahwa kerajaan Badung tidak akan mengganggu kedudukan Cokorda Abiansemal asalkan beliau berjanji tidak akan melebarkan pengaruhnya keluar dari wilayah Abiansemal.

Demikianlah akhir dari peperangan antara Kerajaan Badung dan Kerajaan Mengwi dimana Kerajaan Mengwi tidak berhasil dikembalikan lagi dalam bentuk dan susunan yang terdahulu dan wilayahnya tetap terpecah belah dibawah kekiuasaan beberapa penguasa dan golongan tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar