Google+

Sabtu, 16 Mei 2015

Kapan seseorang layak disebut Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra?

Kapan seseorang layak disebut Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra?

bicara tentang kelayakan sebutan untuk seseorang, kita harus memahami dulu apa profesi dari orang tersebut. karena dalam ajaran hindu, orang yang bisa disebut Brahmana, Ksatria, Weisya ataupun Sudra itu berkaitan dengan Catur Warna, yang merupakan pembagian tugas daam kehidupannya. lebih tepatnya catur warna merupakan empat profesi manusia. 

Menurut ajaran hindu (weda) dalam membangun sebuah daerah atau bahkan sebuah negara harus ada pembagian tugas jelas dan tegas antara penyebar pengetahuan atau tempat semua orang belajar, siapa yang memimpin  negara ini serta pendukung kebijakannya, siapa yang menggerakkan roda perekonomian serta pendukung negara ini dan siapa yang diberikan perindungan serta diberikan manfaat atas semuanya. karena itu dalam negara ada 4 profesi besar diantaranya: profesi pendidik, profesi penyelenggara negara, profesi ekonom dan pemberi apangan kerja serta profesi karyawan atau tenaga kerja.


sebenarnya apa itu profesi?

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".

Weisya Warna - Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis

Weisya Warna - Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis

bila bertemu orang yang baru di kenal, ada satu pertanyaan yang sering kita jumpai, yaitu:
sugra, antuk linggih'e jro napi? yang artinya; permisi, profesi anda saat ini apa?
menanyakan "linggih" dalam bahasa bali ada beberapa pemahaman:

  • pertama adalah profesi
  • kedua adaah kendaraan
  • ketiga adalah tempat duduk
  • tapi bagi orang gila hormat maka linggih diartikan sebagai kasta/wangsa.

bila orang terpelajar, bila ditanya "antuk linggih" maka dia akan menjawab "profesinya" tetapi anak bali belog akan menjawab dengan "kasta atau wangsanya". 
kenapa jawaban kasta/wangsa disebut "anak belog?
karena mereka itu mengaku orang bali (hindu) tetapi tidak mengetahui ajaran hindu. 

mungkinkah orang yang tidak belajar kita sebut "wikan (pintar)..??"

Gelar Tri Wangsa adalah Keputusan Kolonial Raad Van Kerta

Gelar Tri Wangsa adalah Keputusan Kolonial Raad Kertha

Adapun catatan ini penulis anggap hanya sebagai penambah wawasan belaka. Semata-mata karena ketertarikan akan budaya leluhur beserta dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Tri Wangsa menurut seorang ahli hukum (adat) Bali lampau Mr. Gde Panetje adalah terdiri dari Wangsa Brahmana, Ksatriya, dan Wesya. Sejatinya, Tri Wangsa ini adalah ciptaan Belanda untuk kepentingan politik Pemerintah kolonial Belanda supaya mudah melakukan social control di Bali. Untuk itu, melalui sebuah konferensi yang berlangsung 15-17 September 1910, Belanda merekonstruksi sistem kasta baru dengan golongan triwangsa di atas sudra.

Sudra Warna - Profesi karyawan hingga direktur perusahaan

Sudra Warna - Profesi karyawan hingga Direktur Perusahaan

dalam keseharian kita dibali, sering kali kita mendengar istilah kaum sudra, bahkan adakalanya seseorang menghina dengan perkataan kasar seperti:
"nyen ci? awak jlema sudra" yang artinya siapa kamu? kamu itu hanya seorang sudra (nista)
berangkat dari perasaan "jengah" kami berusaha mencari-cari padanan kata untuk kaum sudra. dan ternyata setelah dirujukan dengan sistem catur warna, ternyata orang sudra menghina sudra. sungguh aneh... karena itu,  melalui artikel ini mencoba memberi pemahaman kepada semeton bali tentang istilah sudra tersebut. sehingga pertanyaan umum yang harus dicermati bersama adalah:
siapa sebenarnya Orang Sudra tersebut?
Sudra (Sanskerta: śūdra) adalah sebuah golongan profesi (golongan karya) atau warna dalam agama Hindu. Warna ini merupakan warna yang paling rendah. Warna lainnya adalah brahmana, ksatria, dan waisya. dalam Catur Warna, Sudra adalah golongan karya seseorang yang bila hendak melaksanakan profesinya sepenuhnya mengandalkan kekuatan jasmaniah, ketaatan, kepolosan, keluguan, serta bakat ketekunannya.

Tugas utamanya adalah berkaitan langsung dengan tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan karya di atasnya, seperti menjadi buruh, tukang, pekerja kasar, petani, pelayan, nelayan, penjaga, dll.

tidak hanya itu saja, yang termasuk kaum sudra dijaman modern saat ini adalah semua staf perkantoran, para pegawai, karyawan, bahkan supervisor hingga direktur merupakan golongan dari sudra warna.

Selasa, 05 Mei 2015

Nunas Tirtha - Air suci

Nunas Tirtha - Air suci

Air merupakan sarana yajnya yang penting. Tirta bukanlah air biasa. Tirta itu berfungsi untuk membersihkan kekotoran maupun kecemaran pikiran. Tirta adalah benda materi yang sakral dan mampu menumbuhkan perasaan, pikiran yang suci. Itu dasarnya adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan, umat Hindu tidak akan dapat membuktikan bahwa itu bukan air biasa.

Setelah upacara persembahan dan persembahyangan selesai dilanjutkan dengan “nunas tirtha” wangsuhpada dari Ida Bhatara yang disembah. Tirtha wangsuhpada atau kekuluh atau banyun cokor Ida Bhatara ini adalah lambang waranugraha-Nya kepada umat yang sujud sembah-bhakti memuja beliau berupa “amrta” yaitu kerahajengan dan kerahayuan hidup.

Adapun pemakaiannya adalah dengan dipercikkan di kepala, diminum, dan diusapkan di muka, sebagai simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep.


Catur Warna dalam Membangun Negara

Catur Warna dalam Membangun Negara

seperti yang telah dijelaskan dalam "Catur Warna Strata Sosial dalam Agama Hindu", bahwa setiap profesi hidup tidaklah ada yang tinggi dan rendah, semua profesi memiliki ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya, semua seimbang, sama penting dan saling melengkapi. tetapi dalam kenyataannya, masih banyak masyarakat kita teracuni oleh peninggalan penjajah, yaitu kasta. krama bali khususnya, masih membedakan status sosial dengan merendahkan profesi lawannya atau semetonnya. ini terlihat dari pergaulan sehari-hari yang selalu ada yang ingin di tinggikan dan ada yang sengaja merendahkan profesi lainnya.

karena itu, melalui artikel ini dicoba untuk menjelaskan Catur Warna dalam Membangun Negara tersebut.
coba perhatikan sloka 67 (30) dari kitab sokantara berikut ini:
Ye wyatitah swakarmabhyah parakarmapajiwinah,dwijatwamawajananti tamsca sudrawadacaret [slokantara 67 (30)]
"mereka yang melalaikan kewajibanya, dan hidup dengan menjalankan kewajiban orang lain, dengan melupakan kewajiban golongannya, maka mereka dapat dianggap sebagai sudra"
senada dengan kitab slokantara diatas, disebutkan dalam Kitab Wrtisasana (Kirtya IIb.78/I)
Ka, ikang wwang yan surud sakeng swakarmanya, manopajiwanya, amangan denyan umulaheken gawening wwang len, kadyungganing sang brahmana, awaking brahmana pinaka kawijilanira tuhu-tuhu dwijati, tumut ta sira ri sagawening sudra, ikang pinaka pangupajiwa ri sira, yan mangkana, hilang kadwijanira. (hana puweka sang wipra mangkana, sudrawat, pada sira lawaning sudra candala, makanimitta denira n kadi ulahning sudra)
dikatakan bahwa orang yang mengundurkan diri atau menyeleweng dari kewajiban yang diharuskan untuk orang lain, umpamanya orang brahmana, yang kelihatan dan kelahirannya benar-benar dari keluarga brahmana, lalu turut dia mengerjakan segala pekerjaan yang ditentukan bagi golongan sudra, dan hasil pekerjaannya itu merupakan sumber kehidupan mereka, jika ada yang demikian kebrahmanaannya ketingalan, kelahirannya lenyap sirna.

Minggu, 03 Mei 2015

siapa saja yang boleh baca weda?

siapa saja yang boleh baca weda? 

ini pertanyaan yang sering terdengar dari semeton non-hindu, yang membuat semeton bali keblinger menjawabnya, apalagi semeton hindu yang dicerca pertanyaan bahwa orang sudra tidak boleh membaca weda. sungguh pertanyaan yang membuat dilema, yang memungkinkan semeton hindu kita pindah agama karena ditakut-takuti akibat telah membaca weda yang kata orang non-hindu adalah salah.

Sebenarnya, untuk pertanyaan ini sudah pernah dijawab dengan artikel "Cara Belajar Weda Hindu", tetapi mungkin terkendala SEO internet, artikel tersebut sepertinya tenggelam diantara pertanyaan-pertanyaan negatif tentang larangan membaca kitab suci weda.

Melalui artikel ini, saya mencoba mengulangi dan memberikan sedikit pemaparan tentang siapa saja sih yang boleh membaca weda?

Jumat, 24 April 2015

Bumi Pernah Kiamat Enam Kali

Bumi Pernah Kiamat Enam Kali

ini artikel baru saya dapatkan dari Saint Kompas, yang merupakan salah bukti pendukung kebenaran ajaran hindu. dimana dalam keyakinan agama hindu, kiamat terjadi berulang-ulang hingga pada saatnya akan ada kiamat maha besar di penghujung jaman kali yuga, tetapi itu bukanlah akhir jaman melainkan awal dari peradaban baru. lebih lanjut silahkan baca: Kiamat dan Pralaya

berikut ini kutipan dari artikel Saint Kompas yang dipublikasikan pada hari Rabu, 22 April 2015 | 09:52 WIB dengan judul "Terungkap, Bumi Pernah "Kiamat" Enam Kali".

Terungkap, Bumi Pernah "Kiamat" Enam Kali

Selama 450 juta tahun, Bumi pernah mengalami "kiamat" atau kematian massal 5 kali. Itulah yang dipahami selama ini.

Rabu, 22 April 2015

Odalan Mingkup Sari dan Caru Rsi Ghana

Odalan Mingkup Sari dan Caru Rsi Ghana

Om Swastiastu
melalui media ini, kami mencoba memberikan gambaran tentang keberadaan keluarga kami, dimana  kami keluarga kebayan Guwang mengadakan upacara yadnya, mulai dari tiga bulanan sentana kami, magedong-gedongan hinga dipuncak acaranya pada tangal 22 April 2015, Buda Umanis Dukut, keluarga kami menghaturkan Upacara Yadnya Mingkup Sari, Caru Rsi Ghana dan Caru bebek bulu selem (hitam) sebagai ciri rasa bhakti kami kehadapan Ida Hyang Widhi dan para leluhur kami.
adapun dudonan acara yadnya kami:
  • Buda Cemeng Klawu, Odalan di Pelingih Sri Sedana dan pada hari itu diadakan pula yadnya nyengker dewasa, ka-enter olih Jro Mangku Desa Adat Guwang
  • Sukra Umanis Klawu, Acara Tiga Bulanan Putri dari Kadek Mardika serta Magedong-gedongan Istri dari Wayan Budi. Kapuput Olih Ida Pandita Mpu Widya Dharma Siwa Dhaksa (sakeng Gria Widya Srama Guwang - Pandita kebayan).
  • Anggara Kliwon Dukut, Yadnya Ngingsah, Ngelingihang Betari Sri. ka-enter olih Jro Mangku Desa Adat Guwang
  • Buda Umanis Dukut, Puncak Karya. Mendak Betara ring Pangungan, Caru Rsi Ghana di Merajan dan Caru Bebek Bulu Hitam di Natah Rumah, serta dilanjutkan Ngaturang Piodalan Mingkup Sari. Kapuput Olih Ida Pandita Mpu Widya Dharma Siwa Dhaksa (sakeng Gria Widya Srama Guwang - Pandita kebayan).
  • Wrespati Paing Dukut. Nyineb Piodalan, Ngantukang Betara ke Panggungan. ka-enter olih Jro Mangku Desa Adat Guwang

Dewa dan Bhatara (betara)

Dewa dan Bhatara (betara)

Om Swastiastu, Om Ano Badrah Kratawo yantu wiswatah
Om Awighnamastu Namo Siddham
semoga Ida Hyang Paramakawi memberikan jalan terang bagi kita semua
ada banyak istilah dibali yang membingungkan keyakinan orang bali itu sendiri, salah satunya istilah Dewa dan Bhatara atau yang lebih dikenal dengan istilah betara.
sebenarnya apakah dewa dan bhatara itu sama? ataukah beda?
semua orang hindu mengetahui arti dari dewa tetapi agak samar dengan istilah bhatara. tetapi orang bali lebih mengenal bhatara/betara dibandingkan dewa, kenapa?
mungkin kita semua pernah mendengar istilah betara rambut sedana, betara dalem, betara khayangan tiga dll. apakah betara dalem sama dengan dewa siwa? ataukah betara rambut sedana atau sri sedana sama dengan dewa kuwera/kubera? dan banyak penamaan dewa serta betara lainnya.
 kita mulai dari istilah umum Dewa dan Bhatara

Minggu, 19 April 2015

Mantra Pangastawa untuk Pemangku

Mantra Pangastawa untuk Pemangku

NGARGA TIRTA :

APSU DEWA ASTAWA :
Om Apsu Dewa pawitrani,
Gangga Dewa namo stute,
sarwa klesa winasa ya,
toyane parisudhyate,

Om sarwa roga winasa ya,
sarwa bhogam awapnuyap,
sarwa pataka winasa ya,
sarwa dosa winasa ya,

Om Sri kara sapahut kara,
roga dosa winasanam,
Siwa lokam maha yaste,
mantra namah papa kelah,

Om sidhim Tri sandhya sa-pala,
sekala mala malahar,
Siwa amertha manggalamca,
nadiningdam namah Siwa ya.