Google+

Selasa, 18 November 2014

Banten Piodalan Alit di Sanggah Kemulan (Mrajan Alit)

Banten Piodalan Alit di Sanggah Kemulan (Mrajan Alit)

berikut ini Kramaning Banten Piodalan Alit di Sanggah Kemulan ataupun Merajan Alit. adapun upekaranya:

Banten di Sanggah Surya (Sanggah Pesaksi)

upekara: 

  1. Daksina Peras Ajuman (a soroh)
  2. Canang Lenge-wangi Burat-wangi,
  3. Rayunan Putih Kuning,
  4. Canang Pengrawos,
  5. Toye (air) anyar
  6. Beras Kuning mewadah takir (pewarna kuning dari bahan kunyit)
  7. Pasucian, dan
  8. Canang Sari

Banten Ring Pelingih

Upekara Mungah:

Belajar Tenaga Dalam Asli Bali Level 1

Belajar Tenaga Dalam Asli Bali Level 1

Tanpa kita sadari, sebenarnya kita memiliki energi "prana" yang luar biasa, yang sering disebut juga dengan "tenaga dalam". Setiap manusia berpeluang untuk mempunyai tenaga dalam yang hebat, tentunya harus melalui latihan-latihan tertentu untuk membangkitkan cakra atau tenaga dalam tersebut.

Cara Belajar Tenaga Dalam Asli Bali Level 1 dengan cepat diantaranya adalah dengan berlatih pernafasan. Dengan teknik pernafasan tertentu serta keinginan kuat untuk mempunyai tenaga dalam, maka kita dapat mengaktifkan tenaga inti dalam tubuh kita.

Latihan-latihan yang akan kita lakukan ini merupakan latihan yang hal terpenting dalam dasar tenaga dalam dasar kekuatan tenaga dalam dan ilmu terawangan.

Maka hendaknya dapat diperhatikan benera-benar dan tanpa kesalahan sama sekali didalama pelaksanaan nanti. semua ini akan memberikan banyak sekali faedah di dalam hidup kita. Cara melakukan adalah sebagai berikut :

Sabtu, 15 November 2014

Carcan Siap Tajen dalam Lontar Pengayam-ayam

Carcan Siap (Ayam) Tajen dalam Lontar Pengayam-ayam

sebelum membaca ringkasan dari lontar pengayam-ayam dibawah ini, baiknya para pembaca mengetahui dulu penamaan ayam bali secara umum, sehingga para pembaca lontar tentang Tajen ini tidak bingung dengan istilah-istilah sebutan ayam di bali.
adapun penamaan umum untuk ayam dibali diantaranya:
  • Buik, merupakan sebutan untuk Ayam Jago yang bulunya berwarna-warni
  • Kelau atau kelawu, untuk ayam jago berbulu abu-abu
  • Bihing atau Biying, sebutan ayam jago yang berbulu merah
  • Wangkas, sebutan untuk ayam jago yan dadanya berbulu putih dengan sayapnya berwarna merah
  • Brumbun untuk “petarung” dengan kombinasi bulu merah, putih, dan hitam. 
  • Sa, sebutan ayam berbulu putih.
  • Ook, sebutan untuk ayam jago yang memiliki keadaan bulu leher sangat lebat
  • Jambul, merupakan sebutan untuk ayam jago bila tumbuh bulu (jambul) di kepala
  • Godek, untuk ayam yang berbulu dikaki. 
  • Sangkur, untuk ayam jago dimana keadaan fisiknya tanpa bulu ekor
Carcan Ayam Bali dalam Lontar Pengayam-ayam Tajen
berdasarkan Lontar Pengayam-ayam, berikut ini nama-nama ayam yang memiliki pengaruh kuat dalam arena aduan Sabung Ayam Tajen di Bali, diantaranya:
  1. Ayam Ratun Sa kuning : Sakuning jambul bangkarna saha gondala dimpil aneh
  2. Ayam Sa kedas matania putih
  3. Ayam Suarga Gumawe Ayu : Sekedas jambul bangkarna dimpil karo
  4. Ayam Se kedas mata selem
  5. Ayam Se kedas sandeh tegil pemanggahan
  6. Ayam Penjor Petung : Serawah kuning bulun ikutnia selem akatih bulun lanangne
  7. Ayam Se jagat Mata : Serawah kuning rerajah sesoring tegil

Kamis, 13 November 2014

Tabuh Rah Tajen bukanlah sekedar Judi sabung ayam

Tabuh Rah Tajen bukanlah sekedar Judi sabung ayam

Tajen di Bali 1915
Bali sebagai tujuan wisata, banyak tamu asing yang kebetulan lewat dan melihat aktifitas Tabuh Rah Tajen, ini mungkin perlu mendapatkan penjelasan yang benar dari pemandu wisatanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap tradisi Tabuh Rah Tajen ini.
Maraknya sabung ayam Tajen alias gocekan di seluruh pelosok Bali disebabkan bukanlah karena umat Hindu di Bali tidak taat beragama, tetapi karena belum memahami bahwa Tajen yang dibarengi judi itu dilarang dalam Agama.

Kalau kita lihat kehidupan dan aktifitas seputar tempat tajen akan banyak dijumpai orang berjualan nasi, kopi, buah-buahan, bakso dan lain-lain. Bebotoh dan penonton menikmati sekali makanan yang dijajakan oleh para pedagang tersebut. Selain pedagang, yang bisa mengais rejeki di tempat tajen adalah tukang ojek, tukang parkir, tukang sapu, dan tukang karcis. Itulah sebabnya, para pembela tajen senang mengatakan bahwa uang yang berputar di tempat tajen tidak lari keluar pulau, melainkan hanya berputar dikalangan masyarakat. Maksudnya barangkali menyindir togel (toto gelap) yang menyedot uang masyarakat dan uang tersebut lari keluar pulau.
karenalah itu, untuk memberantas tajen memang sangat dilematis sekali, sekarang kita saja, masyarakat Bali yang harus menilai, apakah tajen ini perlu dilestarikan atau tidak.


Tajen adalah sebutan dari kegiatan Tabuh Rah, dimana kata Tajen ini diperkirakan berasal dari kata "Tajian", Taji merupakan sejenis pisau tajam yang memiliki 2 sisi mata pisau, yang panjangnya kira-kira sejari telunjuk orang dewasa yang dipasang di kaki ayam jago. tujuan dari pemasangan "Taji" ini agar ayam jago yang diadu tersebut dapat melukai lawannya sehingga ada darah yang menetes ke tanah. nah, tetesan darah inilah yang disebut "Tabuh Rah" yang artinya ritual menebarkan darah suci.

Sabtu, 08 November 2014

Ramalan Jodoh dan Perkawinan berdasarkan Garis Tangan

Ramalan Jodoh dan Perkawinan berdasarkan Garis Tangan

berikut ini ramalan jodoh anda berdasarkan garis tangan, dimana ramalan ini dapat menggambarkan kapan ada akan melangsungkan pernikahan. ramalan ini baik dibaca untuk anda yang belum menikah ataupun yang belum mendapatkan jodoh. sekali lagi, ini hanyalah ramalan, jadi jangan terlalu dipercayai. adapun Ramalan Jodoh dan Perkawinan berdasarkan Garis Tangan, diantaranya:

temukan Garis Jodoh anda dibawah jari kelingging anda, di pinggir telapak tangan anda. apabila sudah ditemukan cocokkan dengan gambar-gambar ramalan garis tangan berikut ini.

Garis Tangan dekat dengan garis hati

jika anda memiliki garis jodoh 2 atau lebih, pilihlah yang terpanjang. dan bila terpanjang posisinya lebih dengat dengan garis hati, maka diramalkan anda akan menikah diusia muda, mungkin pada umur 20 tahunan.

Selasa, 04 November 2014

Desain Rumah Bali tanah 1 are

Desain Rumah Bali tanah 1 are

banyaknya lahan kavling yang kita jumpai di daerah Bali sebagai akibat dari semakin berkembangnya keluarga kecil umat hindu bali serta tingginya harga tanah di bali dan sekitarnya sehingga umat hindu memerlukan konsep design rumah adat bali yang tetap berpatokan pada konsep kehinduan asta kosala-kosali.
berikut ini contoh tata letak bangunan atau Desain Rumah Bali untuk tanah 1 are atau 80 m2.
secara umum, dalam membangun rumah di bali haruslah mengikuti aturan umum yang tercantum dalam Asta Kosala-Kosali. jadi, yang harus diperhatikan adalah:

Landasan Filosofis dalam membangun Rumah Bali.

  1. Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung. Pembangunan perumahan adalah berlandaskan filosofis bhuwana alit bhuwana agung. Bhuwana Alit yang berasal dari Panca Maha Bhuta adalah badan manusia itu sendiri dihidupkan oleh jiwatman. Segala sesuatu dalam Bhuwana Alit ada kesamaan dengan Bhuwana Agung yang dijiwai oleh Hyang Widhi. Kemanunggalan antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit merupakan landasan filosofis pembangunan perumahan umat Hindu yang sekaligus juga menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini.

Minggu, 02 November 2014

Palinggih Indra Blaka untuk Karang Panes

Palinggih Indra Blaka untuk Karang Panes

Ajaran agama Hindu dengan konsep alam semestanya senantiasa menekankan betapa perlu dan pentingnya diciptakan suatu kondisi harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya. Kondisi harmonis itulah yang akan mengantarkan umat Hindu untuk mencapai tujuan Hidupnya yaitu Jagadhita dan Moksha. Untuk itulah pemilihan sebuah pekarangan untuk dibangun rumah/tempat tinggal(palemahan/pekarangan) hendaknya memperhatikan hal-hal yang diyakini akan turut berperan menciptakan kondisi yang harmonis.
Bila dikaji lebih jauh, pengaruh baik-baiknya maupun upaya yang dilakukan untuk menghindari atau menetralisir pengaruh negatifnya, senantiasa mempertautkannya dengan hal-hal yang bersifat fisik, tangible, nyata (sekala) maupun prihal yang intangible, tak kasat mata (niskala).
Dengan kata lain ”berkorelasi” horizontal maupun transendental (vertikal). Ada religiosistas dan proses ritual di dalamnya. Suatu totalitais kearifan dan harmonisasi kehidupan.

Penelusuran dan eksplorasi nilai dan makna yang terkandung dalam ketentuan tata letak tanah dan bangunan bercitra kearifan lokal Bali, kiranya lebih memberi peluang, untuk lebih membuka pemahaman atau penafsiran yang benar tentang tata cara membangun paumahan menurut tafsir (smerti) agama Hindu.
Seperti yang ada tertuang dalam lontar-lontar, membuat secara rinci mengenai cara memilih tanah, jenis tanah, tata ruang (spasial) halaman, prosedur membangun hingga upacara yang berhubungan dengan nyakap palemahan dan melaspas bangunan. Juga ada petunjuk atau ketentuan tentang bagaimana memiliki letak tanah, merujuk pada letak yang baik atau sebaliknya.
ada beberapa lontar yang memuat tentang baik-buruknya tata letak dan bentuk pekarangan atau tanah untuk tempat tinggal atau perumahan. Di antaranya, Tutur Bhagawan Wiswakarma, Bhamakretti, Japakala dan Asta Bhumi. seperti yang dikutif dari lontar bhama kertih, yang dimaksud dengan karang paneh diantaran:
Iki ling ira BHAGAWAN WISWAKARMA, pangalihan karang, anggen karang pahumahan, mangda tan kabheda – bheda dening lara kageringan, helingakna padhartania, lwirnia: Yan hana karang tegeh ring paschima, hayu nga, nemu labha sang ngumahin.

tegesin Dewa Tatwa

tegesin Dewa Tatwa

Om awighnamastu nama sidam.

Iti tegesing DÉWA TATWA.


  1. Nihan tingkahing makérti ring parhyangan, wnang kapagêhang maka anggén awig-awigring makrama pura, né ngaran trikrama siwa tirta, tgêsnia, trikrama, ng, tingkahé tatiga, lwir, siwa, ng, panyiwi, darma, ng, widi, tirta, ng, toya. Kang toya, ng, tan adwa. Lingania, siwa darma tirta, ng, nyiwi ring widi, antuk budi laksana suci jati. Marmaning sarwa babantênan wnang pinrascitanan ruhun, maka pangilanganing sarwa lêtuh, olih tirtaniong sang wiku pandita putus, ring parhyangan kunang. Wi, ng, nora, ku, ng, céda, pandita, ng, pradnyan, putus, ng, puput, tgêsnia sang sida pradnyantan pacéda.
  2. Nihan tingkah angadêgang pamangku. Yan kaputungan pamangku, wnang ikrama pura twi ipamaksan, malih mamilih pacang pamangku, kramania, dén upakara dumun, saparipolah gamania, mapadêngên-dêngên, mawintên marajah, majaya-jaya. An wus madêg mangku, dugi malih ngrêrêh rabi, sawusé winarang, wnang imangku lanang wadon nyapuh déwék, mwang ngaturang panyêpuhan ring palinggihé ring pura.

Sabtu, 01 November 2014

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

seperti telah diketahui bahwa warna (profesi) dalam hidup ini ada empat yang utama. itu Artinya warna menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada Manawa Dharmasastra Bab II pasal 18, dikatakan bahwa:
tasmidece ya acarah parampyakramagatah,warnamam santralanam sa sadacara ucyate.
Artinya:
Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”
Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri.

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran. Kitab Sarasamuscaya 61 menyatakan bahwa:

Jnana Marga Menyebarkan Pengetahuan adalah yadnya utama

Jnana Marga Mengajarkan Ilmu adalah yadnya utama

Bekerja serta berbuat untuk sesama (Karma Marga) dan menyayangi mengasihi berbakti (bakti marga) tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan (jnana marga) yang benar akan sia-sia. Lebih-lebih pada zaman modern ini apa pun yang kita lakukan kalau tanpa pengetahuan yang jelas akan menjadi sia-sia. Melakukan kegiatan beragama tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah ditentukan dapat menimbulkan penyimpangan.

Dalam kehidupan ini ilmu pengetahuan (jnana) tersebut demikian pentingnya. Karena itu, beryadnya dengan ilmu pengetahuan dinyatakan dalam Sloka Bhagawad Gita yang dikutip dalam tulisan jauh lebih utama daripada beryadnya dengan harta benda dalam bentuk apa pun. seperti yang disebutkan dalam Bhagawad Gita Bab IV ayat 33 yang menyebutkan:
srayan dravyamayad yajnajjnanayajnah paramtapasarvam karma ‘khilam parthajnane perisamapyate (Bhagawad Gita IV.33)
artinya:
Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa, lebih bermutu daripada persembahan materi; dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan, oh Parta.
Karena itu, dalam Manawa Dharmasastra III.70 dinyatakan, 
Adhyapanam brahma yajnah, pitr yajnastu tarpanam, homo daiwo balibhaurto, nryajno'tithi pujanam (Manawa Dharmasastra III.70)
maksudnya: belajar dan mengajar dengan keikhlasan disebut Brahma Yadnya. Karena proses belajar dan mengajar itu bertujuan untuk memberikan orang ilmu pengetahuan untuk menopang hidupnya mendapatkan kebahagiaan. 

Tradisi belajar dan mengajar dalam masyarakat Hindu di Bali pernah mandek karena salah dalam memahami istilah ayuwa wera. Pada hal konsep "ayuwa wera" itu adalah baik. Artinya, janganlah menyebarkan dengan sembarangan sastra agama tersebut.

membedah Hari Siwaratri dalam Siwa Ratri Kalpa

Hari Siwaratri dalam Siwa Ratri Kalpa

Hari Siwaratri dilaksanakan setiap setahun sekali, yaitu pada hari ke 14 paruh gelap bulan ke tujuh (panglong ping 14 sasih kepitu). Penyambutannya ditandai dengan pelaksanaan brata Siwaratri yang terdiri atas : jagra, upawasa, dan mono brata. Dalam hal ini siwaratri bagi umat hindu adalah sebagai malam perenungan dosa.

Siwaratri dalam agama hindu memiliki ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya untuk manusia bagaimana untuk melakukan suatu perubahan untuk penyadaran diri. Siwaratri terdapat sumber-sumber ajaran siwaratri. Dalam kepustakaan sansekerta uarian tentang siwaratri, upacaranya sekaligus dengan si pemburunya yang naik sorga, tepatnya mendapat anugerah siwa di siwa loka, dapat ditemui dalam empat buah purana yaitu dalam padma purana, siwa purana, skanda purana,dan Garuda Purana. 

Demikianlah sumber sansekerta yang memuat tentang uraian siwaratri. Dalam Kekawin siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung. Kekawin yang dibentuk oleh 20 wirama dan dnegan jumlah bait 232 buah ini, di samping dengan secara indah menguraikan kisah perjalanan si lubdaka, Bagaimana sadhana atau pencarian tersebut yang penuh dengan makna simbol-simbol akan dibahas dalam makna filosofis Siwaratri, juga dengan cukup mendasar menguraikan pelaksanakan upacara dan brata siwaratri.