Google+

Sabtu, 02 Agustus 2014

Para Putra Wang Bang menyebar di Bangli

Para Putra Wang Bang menyebar di Bangli

Diceritakan sekarang para putra raja Baleagung yang tidak wafat, ada yang mengungsi ke jagat Karangasem di Sindhu bernama I Gusti Dauh, disertai oleh Pendeta Manuaba, membawa pusaka I Loting serta pariagem (prasasti). Di sana disambut oleh I Gusti Sidemen. Putra I Gusti Tumenggung bertempat di Pekandelan Baleagung Bangli, di selatan Dalem Bujangga, turun wangsa setelah mengawini perempuan asal Pasek Bendesa menjadi watek Dangin. Serta ada yang berpindah membawa ayam menuju Manikliyu dihaturkan kepada Sanghyang Surya menyembah dengan ancak-ancak ayam, tetapi Dalem Bujangga masih diingat, karena itu di sana ada Pura Ancak.

Keturunan I Gusti Caling Lingker teguh memegang wangsanya tinggal di Bale Agung, memelihara Pura Dalem Bujangga
Putra I Gusti Batan Waringin, ada dua orang:

  1. menjadi pengemong di arca
  2. I Gusti Ngurah Kancing Masuwi, mengungsi menuju sungai Melangit naik ke desa Tambaan tempat kediaman leluhurnya Ida Bang Wayabiya melakukan yoga dahulu. Seterusnya menjadi Arya Bang Tambaan.

Keturunan I Gusti Dangin Pasar, yang pertama:

  1. I Gusti Ngurah Lukluk,
  2. I Gusti Ngurah Demang diam-diam pergi ke daerah Petak. 
  3. I Gusti Demung pergi diam-diam di sebelah barat Bebalang, di desa pulung

Keturunan I Gusti Praupan bernama:

  • I Gusti Wayahan, pergi diam-diam ke hutan Belancan, Kintamani, membawa pusaka berang serta kawitan. Disertai dengan setia oleh rakyatnya I Pasek serta I Bendesa. Lama beliau itu di Plancan Bonyoh, membuat tempat suci bernama Pura Anggarkasih
  • I Gusti Ngurah Anom Tengen, pergi diam-diam ke Bebalang
  • I Gusti ayu Alit. 
  • I Gusti Gede Raka Oka, pergi berdiam di Alas Tugak, disertai oleh pengikutnya I Pasek Bendesa.

Gusti Ngurah Praupan menjadi Raja Bangli

Gusti Ngurah Praupan menjadi Raja Bangli

Pada masa pemerintahan Ida I Gusti Ngurah Praupan, memang benar-benar beliau itu terkenal akan kecakapannnya dalam mengatur tata pemerintahan serta juga mengasihi rakyatnya semua. Itu sebabnya beliau sangat dipuja oleh rakyat semua se kawasan Bangli. Apalagi beliau didampingi oleh Ida Peranda yang bertempat tinggal di Griya Bebalang, sebagai bhagawanta beliau yang memegang kekuasaan, menjadi subur makmur dan sejuk kawasan Singharsa Bangli pada waktu itu .

Diceritakan sekarang raja di Taman Bali yang bernama I Dewa Gede Tangkeban, sentosa kerajaannya. Tetapi tidak lupa pada pertikaiannya dengan penguasa kawasan Singharsa Bangli. 

Pada saat pemerintahan I Gusti Praupan, diceriterakan di Taman Bali ada petugas jaga (gebagan) menginap di istana Taman Bali, mereka disuruh mencuri di Puri Singharsa Bangli. Mereka itu disuruh agar datang diam-diam kemudian membunuh I Gusti Ngurah Praupan beserta tanda mantrinya bernama Ki Arya Batan Waringin. Dan lagi mereka itu diberikan keris. Lalu berangkatlah kedua orang itu . Setibanya di Bangli di Puri Baleagung, dilihatnya di sana I Gusti Ngurah Praupan sedang dihadap di Balai Penghadapan. Lengkap di balai itu, dan semuanya membawa senjata. Saat itu merasa takut keduanya, merasa tidak akan berhasil melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, karena sangat menanggung resiko dan berbahaya untuk menuju tempat I Gusti berdua. 
Kemudian I Gusti Ngurah Praupan melihat kedua orang itu. Lalu segeralah berhatur sembah keduanya karena kehabisan akal, kepada I Gusti Ngurah Praupan. Katanya : 
“Inggih palungguh Gusti, mohon dimaafkan, mohon hidup hamba. Hamba sebenarnya diutus oleh Dewa Taman Bali, agar hamba membunuh palungguh I Gusti. Namun tidak berani hamba kepada tuanku. Sekarang agar tahu tuanku akan daya upaya I Dewa Taman Bali. Karena besar nian iri hatinya kepada tuanku “. 
Demikian atur mereka bedua, menjadi gembiralah I Gusti Ngurah Praupan serta berkata ; 
“Duh engkau utusan dari Taman Bali, memang demikiankah katamu. Kalau memang benar engkau tidak berani padaku, dan juga memang tidak akan berhasil melaksanakan perintah yang ditugaskan kepadamu, nah sekarang aku memberitahu, jika engkau ingin, dengan senang hatilah engkau kembali ke Taman Bali. Bunuhlah tuanmu di Taman Bali. Jika engkau berhasil melaksanakan perintahku ini, jika sudah mati tuanmu olehmu, kuberikan engkau memerintah negara Taman Bali”. 

Gusti Bija Pulagaan menjadi penguasa Bangli

Gusti Bija Pulagaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Ngurah Bija Pulaga menjadi penguasa Bangli

Diceriterakan sebelum itu di wilayah Bangli. Ada penguasa di sana yang melawan pemerintahan Dalem. Kekuasaannya meliputi 17 desa. Itu sebabnya Dalem mengutus tanda mantrinya seperti:

  1. Ki Arya Jelantik, 
  2. Ki Arya Pinatih Perot
  3. Ki Gusti Nyoman Rai, menyelipkan keris bernama Ki Tanpa Kandang, diiringkan oleh balatentaranya. 

Setibanya di Bangli, ramai perang di sana, Ki Gusti Ngurah Jelantik berhadapan melawan Ngakan Pog, juga berhadapan dengan Ki Gusti Nyoman Rai dan di tengah-tengah perang itu kalahlah Ngakan Pog serta balatentaranya semua. 

Di sebelah selatan Bangli pasukannya dikalahkan oleh Ki Gusti Pinatih Perot. Takut semua orang Bangli, semua tidak berani melawan, maka amanlah kawasan Bangli itu, namun juga tidak ada yang berkuasa menjadi raja. 

Diceritakan kemudian I Pasek Bendesa, Ki Pasek Telagi, Ki Pasek Kayu Selem, bermusyawarah pula mereka. Karena negara Bangli tidak memiliki raja. Keinginan semua warga Pasek itu, meminta kepada Raja Dalem Ketut Smara Kepakisan di Gelgel agar ada raja yang memerintah kawasan Bangli Singharsa. 
Demikian perbincangan Ki Pasek semuanya, kemudian berjalanlah Ki Pasek semuanya menghadap kepada Dalem Gelgel. Tidak diceritakan di perjalanan. Setelah sampai di hadapan Dalem, Ki Pasek matur, memohon agar Dalem memberikan seorang penguasa yang memerintah kawasan Bangli itu.

Ida Wang Bang Wayabiya

Ida Wang Bang Wayabiya

Dikisahkan sekarang Ida Wang Bang Wayabiya mempunyai seorang putra laki-laki bernama sama dengan ayah beliau Ida Wang Bang Wayabiya atau Ida Bang Kaja Kauh bertempat tinggal di Besakih. Sang ayah, Ida Wang Bang Wayabiya, kemudian berusia lanjut, dan wafat moksa ke Sorgaloka.

Diceriterakan kemudian pada saat Ida Bang Panataran – putra Ida Wang Bang Tulusdewa, bertemu wicara dengan adik sepupunya Ida Bang Wayabiya. Ida Bang Wayabiya berkehendak ingin melamar putri Ida Panataran yang bernama Ida Ayu Puniyawati, namun sudah didahului oleh I Gusti Pinatih Rsi, dari Kerthalangu, Badung, keturunan dari Ida Wang Bang Banyak Wide. Karena tidak berhasil, maka Ida Wang Bang Wayabiya tanpa mohon diri kepada kakaknya meninggalkkan tempat itu. Tanpa arah tujuan perjalanan beliau, tidak jelas ke mana tempat yang akan dituju.

Lama kelamaan Ida Sang Bang Wayabiya menuju Dalem Balingkang, tidak lama beliau di sana, kemudian berdiam di Pura Panarajon Panulisan Tegeh Kuripan. Di Gunung Panulisan itu beliau mendapatkan anugerah, kemudian menjadi pendeta utama dan beliau bergelar Ida Sang Bang Bujangga Panulisan

Belakangan ada wabah sampar di kawasan Bangli, susah masyarakat Bangli karena tidak kuasa melenyapkan penyakit yang melanda masyarakat Bangli itu. Kemudian ada yang mendengar sabda , agar Ida Sang Bang Bujangga Panulisan turun menghilangkan penyakit sampar yang mewabah di Bangli. Memang banyak benar saat itu anggota masyarakat Bangli yang meninggal dan juga banyak yang sudah pindah berhamburan ke luar daerah, meninggalkan kawasan Bangli. Segera Ida Bang Bujangga turun ke Bangli yakni ke hutan Jarak Bang menuju Pura Hyang Ukir yang juga disebut dengan Pura Ida Hyang Api

Puri Bun diserang Mengwi

Puri Bun diserang Mengwi

Diceriterakan sekarang, tidak begitu lama keadaaan ini aman, kemudian tiba masa Kalisengara – kekacauan, dan ternyata marah besar Ida Cokorda Mayun di Mengwi berkehendak menyerang I Dewa Karang yang ada di Puri Mambal.

Karena demikian didengar oleh I Dewa Karang, beliau berbincang dengan ipar beliau di Puri Bun. 
Setelah selesai bertukar pikiran, maka kembali pulang dengan tidak merasa sak wasangka lagi. 

Singkat ceritera, pasukan Mengwi sudah datang menyebabkan penuh sesak mengitari. Puri di Mambal sudah dipenuhi oleh para putra Mengwi, dipimpin oleh Cokorda Mayun. Setelah dikelilingi puri Mambal itu, sangat duka hati I Dewa Karang, kemudian keluar ke depan Puri itu. Yang sebenarnya diandalkan oleh Puri Mengwi hanyalah pasukan dari Bun. Dan yang ternyata mengitari Puri I Dewa Karang juga hanya pasukan Bun. Karena itu I Dewa Karang dapat disembunyikan oleh Pasukan Bun di tengah-tengah mereka. Menjadi takjub pasukan Mengwi, heran dengan kesaktian I Dewa Karang, yang hilang tidak ada di Puri, karena sudah diungsikan – diamankan oleh pasukan Bun. Itu sebabnya pulanglah pasukan Mengwi tanpa hasil. I Dewa Karang kemudian mencari saudaranya yang berdiam di Banjar Tegal wilayah Tegalalang yang bernama I Dewa Bata.

Sesudah lama, tahulah Ida Cokorda Mayun akan tipu muslihat I Gusti Ngurah Made Bun, yang menyebabkan hilangnya I Dewa Karang karena dipakai menantu oleh Anglurah Bun. Penguasa Mengwi kemudian menyuarakan kentongan agung , serta kemudian berangkat Cokorda Mayun beserta balanya semua, akan merusak dan merebut Kyai Anglurah Bun. Bila saja berani dalam medan perang, akan dihabiskan sampai anak cucu Anglurah Bun.

Kyai Anglurah Made Sakti Pinatih di Jenggala Bija

Kyai Anglurah Made Sakti Pinatih di Jenggala Bija

Diceriterakan sekarang Kyai Anglurah Made Sakti, tidak mengikuti kakaknya, berpindah tempat dari desa Tulikup menuju Jenggala bija diiringi oleh rakyat lengkap dengan bawaannya. Jenggala Bija itu dekat dengan tempat kediaman I Dewa Karang yang dipakai menantu di wilayah Mambal.

Kyai Anglurah Made Sakti sudah memiliki Puri di Jenggala bija, sampai kepada rakyatnya sudah memiliki perumahan sesuai dengan keadaan pedesaan yang sudah ada.

Kyai Ngurah Made Sakti benar-benar bijak memegang kekuasaan, beliau ahli dalam sastra, serta senang melaksanakan dewaseraya berbhakti kepada Ida Hyang Widhi dan Bhatara semua. Pada saat itu ada anugerah dari Ida Sanghyang Widhi pada hari Selasa Kliwon – Anggara Kasih, bulan Bali yang kesembilan – Kesanga di tengah malam, Kyai Ngurah Made melakukan upacara persembahyangan di hutan ladang Bun, di sebelah timur Desa Pangumpian. Sesudah sampai di tepi hutan itu, dilihat ada asap tegak berdiri putih seakan-akan sampai di angkasa. Tempat itu kemudian dicari oleh Kyai Ngurah Made. Sesampai di tempat itu, layaknya sebagai bun – pohon merambat dilihat oleh beliau asap yang berdiri tegak itu, seperti aneh rasanya dan juga menakutkan. Ketika hilang asap itu, kembali perasaan beliau Ida Kyai Anglurah Made Sakti seperti sediakala, kemudian menaiki timbunan bun itu. Sesudah sampai di puncak, kira-kira ada 80 depa, kemudian ada sabda terdengar dari angkasa : 
“Nah, dengarkanlah sabdaku ini ! Segera bersihkan hutan bun ini, kemudian pakai desa ataupun perumahan. Sejak sekarang Kyai Ngelurah Pinatih Made menjadi Kyai Ngelurah Pinatih Bun, sampai kepada keturunanmu kelak di kemudian hari menjadi warga Bun”.
Setelah selesai mendengar sabda dari angkasa itu, kemudian Ida Kyai Ngurah Made turun. Setelah sampai di tanah kemudian beliau berkeinginan untuk memberi tanda tempat itu dengan kapur – diberikan tanda silang – tapak dara, sebagai tanda, kemudian beliau pulang ke Puri.

Pada pagi harinya sampailah kemudian di Puri beliau di tegal Bija, kemudian memberitahukan kepada Perbekel serta rakyat semuanya. Setelah semua rakyat berdatangan menghadap, kemudian I Gusti Ngurah Made berkata : 
“Nah Paman semuanya, saya sekarang memerintahkan paman semuanya untuk merabas hutan bun itu, saya akan membangun desa serta perumahan”.
Rakyat semuanya menyambut dengan perasaan senang hati, menuruti keinginan I Gusti Ngurah Made, semuanya lengkap membawa alat akan merabas Alas Bun itu.

Runtuhnya Kerajaan Kertalangu Arya Penatih

Runtuhnya Kerajaan Kertalangu Arya Penatih

Sesudah satu bulan tujuh hari lamanya berselang kutukan dari Dukuh Pahang, datanglah ciri Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi didatangi semut tak terhitung banyaknya merebut, ada dari bawah, dari atas jatuh berkelompok-kelompok. Itu sebabnya merasa gundah hati Kyai Anglurah Agung Pinatih besereta para isteri, putra, cucu semuanya. 

Karena demikian keadaannya, kemudian diadakan pertemuan dengan sanak saudara semuanya, berencana akan berpindah dari Purian, menuju Pura Dalem Paninjoan. Sesampainya di sana, kemudian diberitahukan semua rakyatnya untuk membuat Taman dikitari dengan telaga, telaga itu dikelilingi dengan api, di tengahnya telaga barulah dibangun tempat peraduan. Namun masih saja dicari, direbut oleh semut, berbukit-bukit tingginya kemudian jatuh di tengahnya Taman itu.

Karena itu halnya, kembali Kyai Anglurah Agung Pinatih menyelenggarakan pertemuan, bertukar pikiran dengan saudaranya semua serta didampingi oleh rakyatnya. Semuanya merasa masgul, kemudian meninggalkan Pura Dalem Paninjoan, berpindah lalu berdiam di sebelah timur sungai, diiringi rakyatnya semua. Tentu saja Kyai Anglurah Agung Pinatih berpikir tentang kedigjayan sira Dukuh. Kemudian beliau merencanakan akan berpindah dari tempat itu, serta diberitahukan kepada balanya, siapa yang sanggup menjaga Pura Dalem itu, boleh tidak ikut mengiringkan Kyai Anglurah Pinatih. Kemudian segera matur anggota masyarakat beliau yang bernama Ki Bali Hamed, ia akan menuruti kehendak beliau untuk menjaga Pura Dalem itu.

Pada saat itu I Gusti Tembawu menyatakan tidak bisa mengikuti keinginan ayahandanya, demikian juga I Gusti Ngurah Kepandeyan, yang pernah berpaman dengan I Dukuh, dan karena memang tidak baik dalam hubungan bersanak saudara, karena sudah terlanjur bertempat tinggal di sana serta memperoleh kebaikan di wilayah Intaran. Usai sudah perbincangan yang diadakan, kemudian diputuskanlah hubungan pasidikaraan dengan I Gusti Tembawu dan I Gusti Kepandeyan.

Disebabkan karena masih juga diburu oleh semut, kembali beliau beralih tempat bersama menuju Geria milik Ida Peranda Gde Bandesa dan di tempat tinggal Ida Peranda Gde Wayan Abian, seperti para putranya semua, yang ada di Kerthalangu, ke Padanggalak, di sana Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal diiringi rakyatnya semua.

Wilayah Kertalangu Tentram dan Dukuh Sakti Pahang moksa

Wilayah Kertalangu Tentram dan Dukuh Sakti Pahang moksa

Diceriterakan kembali Kyai Anglurah Pinatih Rsi sudah berusia lanjut, kemudian berpulang ke Sorgaloka. Demikian juga Ida Kyai Anglurah Made Bija, juga sudah meninggalkan dunia fana ini. 

Kyai Anglurah Pinatih Rsi kemudian digantikan oleh putranya memegang kekuasaan, yang bernama sama dengan ayahandanya yakni:

  • I Gusti Anglurah Agung Gde Pinatih Rsi 
  • disertai oleh adiknya I Gusti Anglurah Made Sakti Pinatih, 

didampingi oleh paman beliau dan para putra Kyai Anglurah Made Bija seperti:

  1. I Gusti Gde Tembuku, 
  2. I Gusti Putu Pahang, 
  3. I Gusti Nyoman Jumpahi, 
  4. I Gusti Nyoman Bija Pinatih, 
  5. I Gusti Nyoman Bona, 
  6. I Gusti Benculuk serta 
  7. I Gusti Ketut Blongkoran.

Banyak memang keturunan Ki Arya Pinatih ketika beristana di Kerthalangu, tidak bisa dihitung jumlahnya. Semasa pemerintahan beliau berdua tidak ada orang lain yang berani bertingkah, semuanya bersembah sujud, serta tentram wilayah itu semasa kekuasaan I Gusti Ngurah Gde Pinatih beserta I Gusti Ngurah Made. Tidak ada manusia yang berani, subur makmur kawasan itu jadinya serta sejuk keadannya karena sang penguasa sangat welas asih suka memberi serta tiada pernah lupa menghaturkan sembah bhaktinya kepada Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya wilayah beliau menjadi tentram dan kertaraharja.

Lama beliau berkuasa di kawasan Pinatih Badung, menjadi tertib kerajaan Kerthalangu yang bernama Kawasan Pinatih, sebab Pinatih lah yang memegang kekuasaan di sana.

Patut diketahui Ida I Gusti Anglurah Gde Pinatih mempunyai putra banyak yakni:

  1. I Gusti Ngurah Gde Pinatih – sama namanya dengan sang ayah, 
  2. I Gusti Ngurah Tembawu, 
  3. I Gusti Ngurah Kapandeyan, 
  4. I Gusti Ayu Tembawu, 
  5. I Gusti Bedulu, 
  6. I Gusti Ngenjung, 
  7. I Gusti Batan, 
  8. I Gusti Abyannangka, 
  9. I Gusti Mranggi, 
  10. I Gusti Celuk, 
  11. I Gusti Arak Api, 
  12.  I Gusti Ngurah Anom Bang, 
  13. I Gusti Ayu Pinatih, 
  14. I Gusti Blangsingha.

Adik beliau I Gusti Anglurah Made Sakti mempunyai putra:

  1. I Gusti Putu Pinatih, 
  2. I Gusti Ngurah Made Pinatih, 
  3. I Gusti Ngurah Anom, 
  4. I Gusti Ngurah Mantra, 
  5. I Gusti Ngurah Puja. 
 Saudara sepupunya I Gusti Putu Pahang mempunyai putra:


  1. I Gusti Putu Pahang – sama dengan nama sang ayah, I Gusti Made Pahang, 
  2. I Gusti Ayu Pahang – yang diambil oleh I Dewa Manggis Kuning, serta 
  3. I Gusti Nyoman Pahang.

I Dewa Manggis Kuning Menikahi Gusti Ayu Nilawati dan Gusti Ayu Pahang

I Dewa Manggis Kuning Menikahi Gusti Ayu Nilawati dan Gusti Ayu Pahang

Setelah malam, I Gusti Putu Pahang bertimbang rasa dengan I Dewa Manggis Kuning : 
“:Aum I Dewa Manggis anakku I Dewa, merasa sulit Bapak menyembunyikan I Dewa di sini. Sekarang lebih baik I Dewa berpindah tempat dari sini, sebab Bapak malu dengan Ki Arya Kenceng. Dan lagi Bapak sangat mengasihi ananda I Dewa, agar I Dewa bisa meneruskan hidup – panjang umur. Ini ada anak Bapak seorang, agar mendampingi ananda dipakai isteri. Putri Bapak ini bernama I Gusti Ayu Pahang”. 
Demikian hatur I Gusti Putu Pahang disaksikan oleh ayahandanya Ki Arya Bija Pinatih. Kemudian dijawab oleh I Dewa Manggis dengan rasa penuh prihatin :
”Aum ayahanda Ki Arya Pinatih, sangat besar rasa kasihan Ayahanda kepada saya, tidak akan bisa saya membayar prihal kasih saying Ayahanda kepada diri saya”.

Menjawab Ki Arya Bija Pinatih :
”Duh mas juwintaku I Dewa, janganlah Ananda berkata demikian. Ini cucu Bapak I Gusti Ayu Pahang akan mendampingi I Dewa bersasma kemenakan Bapak I Gusti Ayu Nilawati, di mana saja I Dewa bertempat tinggal kelak. Kalau ada kasih Ida Hyang Parama Kawi, ada keturunan dari anak-anak Bapak, maka mudah-mudahanlah ada anugerah Ida Sanghyang Widhi Wasa, kelak mungkin ananda memiliki banyak rakyat, saat itu I Dewa Manggis agar ingat pernah memperoleh kasih saying dari Bapakmu ini. Jikalau nanti Bapakmu ini tidak lagi hidup di dunia, juga I Dewa Manggis sudah tidak ada, di kelak kemudian hari agar keturunan I Dewa Manggis senantiasa ingat dengan perjalanan Bapak mengupayakan keselamatanmu seperti sekarang ini, serta dapat memberikan nasehat kepada para putra, terus sampai ke cucu, wareng, kelab agar tidak putus bertali asih” 
Demikian perbincangan mereka semua seraya sepakat untuk tidak akan lupa ber sanak saudara I Dewa Manggis Kuning dengan kasih sayang dari Ki Arya Pinatih.

Kemudian samalah kehendak I Dewa Manggis Kuning seperti perjanjiannya dengan Ki Arya Pinatih, dan usailah perbincangan itu, kemudian I Dewa Manggis Kuning menyunting dua isteri, seorang puteri Anglurah Agung Pinatih Rsi yang bernama I Gusti Ayu Nilawati serta putri I Gusti Putu Pahang, atau cucu Anglurah Pinatih Bija yang bernama I Gusti Ayu Pahang.

Kiayi Gusti Tegeh Kori memohon Putra Dewa Dimade Sagening

Kiayi Gusti Tegeh Kori memohon Putra Dewa Dimade Sagening

Diceriterakan Kiayi Gusti Tegeh Kori keturunan Arya Kenceng di Badung berkehendak akan memohon seorang putra Dalem Sagening di Puri Gelgel, akan dijadikan penguasa di kawasan Badung. Konon setelah sampai di jaba tengah atau halaman dalam Puri Gelgel di Sumanggen, terlihat oleh Kiayi Gusti Tegeh Kori api bagaikan lentera di Sumanggen, kemudian diperhatikan oleh Kiayi Gusti Tegeh Kori  sudah pasti halnya dia itu adalah putra Dalem Segening. Kemudian Kiayi Gusti Tegeh Kori mengambil kapur seraya digoreskan menyilang atau dibubuhi tampak dara anak kecil itu. Keesokan harinya diingat kembali , karena dia itu memang betul putra Dalem yang bernama I Dewa Manggis Kuning. Kemudian Kiayi Gusti Tegeh Kori datang menghadap berhatur sembah kepada Ida Dalem seraya mengatakan untuk memohon putra beliau seorang, akan dijadikan penguasa di negara Badung.

Ida Dalem merasa senang dan memberikan putranya yang dimohon itu, yang bernama I Dewa Manggis Kuning, dan kemudian diiringkan pulang ke Puri Badung. Sesudah diberi tempat di Badung, sangat disayang oleh Kiayi Gusti Tegeh Kori, disebabkan karena kebagusan rupanya, ganteng seperti Arjuna, dan bagaikan Sanghyang Asmara yang menjelma di Puri Badung.

Diceriterakan Kiayi Gusti Tegeh Kori memiliki seorang putera laki-laki bernama I Gusti Ngurah Tegeh, dipertunangkan dengan putri Ida Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi yang menjadi penguasa di istana Puri Kerthalangu. 
Putrinya bernama I Gusti Ayu Nilawati, Paras rupanya sangat cantik tanpa tanding bagaikan Dewi Ratih yang menjelama ke dunia. 

Anglurah Pinatih Resi menyunting Ida Ayu Puniyawati

Anglurah Pinatih Resi menyunting Ida Ayu Puniyawati

Dikisahkan sekarang Ida Bang Panataran, putra Ida Wang Bang Tulus Dewa, bertempat tinggal di Bukcabe Besakih bersama adik sepupunya yang bernama Ida Bang Kajakauh atau Ida Bang Wayabiya.

Diceriterakan Ida Bang Panataran, mempunyai seorang putri bernama Ida Ayu Punyawati, cantik tanpa tanding seperti bidadari layaknya, bahkan seperti Sanghyang Cita Rasmin yang menjelma. Banyak para penguasa dan pejabat yang melamar, namun tidak diberi.

Karena sudah terkenal di seluruh pelosok negeri tentang kerupawanan beliau Ida Ayu Punyawati, maka hal ini didengar juga oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi di Puri Kerthalangu, Badung. Kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi mengirim utusan untuk melamar Ida Ayu Punyawati.

Yang ditugaskan untuk melamar Ida Ayu Punyawati, adalah adik disertai para kemenakan beliau yang bernama I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Jumpahi
Itulah keponakan yang diutus, bagaikan Baladewa Kresna dan Arjuna, demikian kalau diperumpamakan, diiringi oleh bala rakyat yang jumlahnya cukup banyak mengiringkan.

Tidak diceriterakan di tengah jalan, akhirnya sampailah di Geria Ida Bang Sidemen Penataran kemudian melakukan pembicaraan. Prihal lamaran itu diajukan seperti ini :
”Inggih Ratu Sang Bang, kami datang kemari hanyalah utusan dari Ki Arya Bang Pinatih, yang beristana di Kerthalangu kawasan Badung, yang merupakan paman kami, yang bermaksud untuk melamar puteri palungguh I Ratu akan dijadikan permaisuri”.

Kaget Ida Bang Panataran, seperti gugup tak bisa berkata-kata, kemudian menjawab : 
 “Saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Ki Arya Pinatih, karena tidak boleh sang Arya melamar sang Brahmana”. 
Demikian ucap Ida Bang Sidemen Panataran. Menjawab sang utusan I Gusti Gde Tembuku serta I Gusti Putu Pahang : 
“Ah bagimana rupanya ratu Bang Sidemen, mungkin tiada ingat dengan nasehat leluhur dahulu? 
Hamba berani melamar putri tuanku Bang Sidemen ke sini, karena kawitan hamba dahulu sesungguhnya adalah wangsa Brahmana. Sekarang mohon didengar atur hamba agar merasa pasti. Pada saat dahulu ada nasehat dari leluhur hamba, yang bernama Ida Bang Banyakwide, bersaudara dengan Ida Bang Tulus Dewa serta Ida Bang Kajakauh. Ida Bang Banyak Wide pergi dari Besakih guna mencari kakeknda Ida Sang Pandya Siddhimantra di Jawa, namun tidak dijumpainya, kemudian berjumpa dengan Ida Mpu Sedah, dan kemudian belakangan dijadikan menantu oleh Ki Arya Buleteng. Karena Ki Arya Buleteng tidak memiliki keturunan langsung atau sentana, maka Ida Bang Banyak Wide dijadikan sentana Ki Arya, sehingga Ida Bang Banyak Wide menjadi Arya. Ida Bang Banyak Wide itu merupakan leluhur kami yang menurunkan Ki Arya Pinatih Rsi. Demikian halnya dahulu. Nah, sekarang ini bagaimana Sang Bang Sidemen, apakah tidak ada ceritera dari Leluhur seperti itu ? “. 
Demikian hatur I Gusti Gde Tambuku. Segera ingat Ida Sang Bang Sidemen, pada nasehat dari sang leluhur kepada beliau, pada saat dulu.

Karena mendengar hal itu, maka diberikanlah putri Ida Bang Panataran Sidemen kepada Ki Arya Bang Pinatih, dan dengan segera mau bersama menjadi Arya Ksatrian.

Demikian prihalnya Ida Bang Panataran menjadi Arya : Arya Bang Sidemen diwariskan sampai sekarang turun temurun bersaudara dengan Arya Bang Pinatih.

Ida Bang Wayabiya, saat itu juga datang menghadap kakaknya berkehendak untuk melamar putri Ida Bang Panataran Sidemen yakni Ida Ayu Puniyawati. Karena sudah didahului oleh Ida I Gusti Anglurah Pinatih Rsi, lamaran itu tidak bisa dipenuhi. Itu sebabnya kemudian Ida Bang Wayabiya kemudian pergi tanpa pamit dari Besakih, tanpa tujuan. Perjalanan Ida Bang Wayabiya akan diceriterakan nanti.

Kembali sekarang dikisahkan prihal Ki Arya Bang Panataran, sudah selesai perbincangannya dengan Ki Arya Bang Pinatih, sebab semuanya memang benar, menjaga nama leluhurnya. Karena sudah selesai perbincangan itu, kemudian Ki Arya Bang Pinatih bertiga memohon diri, pulang menuju Kerajaan Kerthalangu.

Sesudah selesai pembicaraan mengenai hari baik berkenaan dengan rencana pernikahan itu, kemudian diselenggarakanlah upacara Pawiwahan itu seraya mengundang semua penguasa serta rakyat dan warga.

Tentram wilayah Pinatih pada saat pemerintahannya I Gusti Ngurah Pinatih Rsi serta adiknya Ida I Gusti Ngurah Made Bija Pinatih. Hentikan dahulu.

Diceriterakan kemudian sesudah beristerikan Ida Ayu Puniyawati, kemudian lahir putra beliau:

  1. Kyai Anglurah Agung Gde Pinatih
  2. Kyai Anglurah Made Sakti
  3. I Gusti Ayu Nilawati.

Lama juga Kyai Anglurah Bang Pinatih Rsi bersama adiknya Kyai Anglurah Pinatih Bija memegang kekuasaan di wilayah Jagat Kerthalangu, Badung, tentram wilayah itu, serta sang raja dipuja dengan taat oleh rakyat dan warga semuanya. Wilayah itu menjadi makmur, hama menjauh, mereka yang ingin berbuat jahat tidak berani. Inggih, demikian keadaannya di kawasan Kerthalangu.