Google+

Teori Ekonomi Akuntansi dalam Agama Hindu (weda Arthasastra)

Teori Ekonomi Akuntansi dalam Agama Hindu (weda Arthasastra)

Sumber utama sistem akuntansi dalam kitab suci Veda adalah pada kitab Arthasastra. Kitab yang diindikasikan sudah ada setidaknya tahun 300 SM telah menguraikan akuntansi secara panjang lehar bahkan telah menerapkan sistem tata buku berpasangan untuk mencatat kegiatan keuangan pemerintahan. Kitab yang membicarakan masalah akuntansi secara komprehensip ini ditulis oleh Kautilya. Sementara itu, keberadaan sistem akuntansi modern saat ini diindikasikan baru ada sejak 1400 Masehi yang diawali oleh para pedangan besar Venesia. Buku Arthasastra memuat hal-hal pokok tentang politik dalam negeri/luar negeri, ekonomi, akuntansi, hukum, pertahanan negara, budaya, dsb.nya

Ilmu akuntansi utamanya menguraikan tata cara pencatatan yang harus dilakukan terhadap aktiva, kewajiban/hutang dan modal. Pada zaman masyarakat sebagian terbesar masih buta huruf, maka cara pencatatan yang dilakukan adalah dengan menggoreskan kapur atau alat lainnya untuk dasar mengingat satu kejadian/peristiwa atau suatu jumlah yang bernilai uang.

Lontar Cempaka Gadang

Lontar Cempaka Gadang


1b.     Om Awighnamastu nama siddham.
        Nihan kaweruhaning Dewi Ratnakama duk sira nguni karyya kama, karman sira Sanghyang Taya cemara geseng, tiba ring suyanya ring patanu ika, kumenar katon luwir Sanghyang Suryya, sinang magalang prapteng Siwa Bhuwana, minannya ring wwe ika tan hana wani amangan kama ika, apan luwih kama ika, watek mina kabeh angemit ring wwe patanu ika. Asing ngatonan padha ulap, apan luwih kawibhawanya luwir suryya kanta yan upa-

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Satuan ukur dalam arsitektur tradisional Bali disebut dengan "GEGULAK", yang diturunkan dari bagian-bagian fisik pemilik atau pemakai bangunan. Satuan ukur ini ditetapkan dalam sebilah bambu sebagai modul dasar. Melalui gegulak ditentukan ukuran setiap dimensi arsitektur mulai dari ukuran pekarangan, tata letak masa bangunan hingga pada elemen bangunan yang kecil, seperti: 
  • panjang tiang (sesaka), 
  • panjang balok tarik (lambang, pementang, dan tada paksi), 
  • panjang usuk (iga-iga), 
  • hiasan pada tiang (kekupakan). dll
Ukuran pekarangan digunakan satuan DEPA, yakni ukuran panjang tangan terentang dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri dengan variasi "depa alit", "depa madia" dan "depa agung". 

Jumlah kelipatan satuan ukur depa yang ditambah "PENGURIP" merupakan panjang sisi-sisi pekarangan yang diukur.

Makna filosofis Konsep Dapur bagi Masyarakat Bali

Makna filosofis Konsep Dapur bagi Masyarakat Bali

Paon, dalam bahasa Jawa disebut Pawon atau dapur, sering juga disebut dengan Perantenan, suci serta sebutan lainnya, merupakan bangunan adat bali yang letaknya di sisi selatan, dekat dengan pintu rumah (angkul-angkul) dan apabila rumah adat tersebut merupakan sikut satak, letak dapur biasanya berhadap-hadapan dengan palinggih sedahan karang.

Dalam kehidupan beragama di Bali, dapur merupakan stana dewa Brahma.Penggambaran Dewa Brahma di masyarakat Hindu Bali tidak jauh berbeda dengan penggambarannya di India. Dalam kepercayaan di Bali Dewa Brahma diyakini sebagai Dewanya Dapur, Penguasa dan pelindung arah Selatan, bersenjatakan Gada, berwahana Angsa, memiliki Sakti Dewi Saraswati, atribut serba merah. disamping itu dapur juga erat kaitannya dengan Dewa Agni terutama "tungku dapur (cangkem paon)", yang memiliki sifat "sarwa baksa", membakar apapun yang berada disekelilingnya. disamping itu dapur merupakan perlambang dewa Rudra. Begitu pentingnya fngsi dapur dipandang dari sisi stana dewatanya, sehingga bila terjadi permasalahan magis, biasa orang bali selalu "nunas panglukatan" di dapur

Tips Atasi Bayi menangis di tengah malam

Tips Atasi Bayi menangis di tengah malam

bagi pasangan yang baru memiliki balita, terutama usia rentan bagi orang bali (0-3 bulan), masalah klasik yang sering dihadapi oleh para orang tua yang selalu bikin kelimpungan, galau dan resah adalah tangisan bayinya yang tiada hendi di jam/waktu tertentu, misalnya menangis pada saat sandikala (antara jam 5 - 7 pagi, jam 12 siang, serta jam 6 - 7 malam), bayi menangis saat tengah malam serta bayi yang sering menangis di waktu rahinan/piodalan jagat seperti kajeng klion dll.

banyaknya kejadian bayi menangis di waktu-waktu tertentu tersebut mungkin saja dikarenakan oleh sebab MEDIS, karena itu sebelum lebih jauh bertindak, ada baiknya bayi anda diperiksakan dulu ke para medis baik dokter, perawat maupun bidan. nah.. apabila secara medis ternyata tidak ada masalah, barulah pendekatan non-medis dijalankan.

berikut ini beberapa pendekatan non-medis untuk mengatasi Bayi menangis di tengah malam maupun diwaktu-waktu tertentu.
  1. Kelengkapan upakara/uparengga dan ritual di lokasi menamam ari-arinya serta ritual hariannya
  2. uparengga di depan pintu kamar tidurnya
berikut ini penjelasannya:

Perbandingan Surga antara versi Hindu dengan Agama Abrahamic

Perbandingan Surga antara versi Hindu dengan Agama Abrahamic

setelah melewati banyak diskusi tentang pandangan umum kita tentang tujuan agama, ternyata umat beragama diindonesia masih lebih condong dengan promosi agama yang meng-agung-agungkan SURGA, sebuah capaian setelah manusia meninggal. dan yang cukup mengkejutkan, ternyata ada juga umat hindu yang sangat fanatik dengan pengetahuan surganya, dan berupaya mengkonversi lawan bicaranya agar meyakini surga-surga dambaan setelah meninggal tersebut.

salah satu umat hindu yang sangat dengat dengan bahasan keindahan surgawi adalah umat hindu yang memeluk aliran Hare Krisna (HK) dengan salah satu kitab rujukannya adalah Bhagavata Purana. 
memang belakangan terjadi perselisihan dikalangan umat hindu terutama hindu dibali dengan keyakinan yang dianut oleh Umat HK ini, karena ada beberapa prinsif agama yang telah membudaya dibali secara perlahan-lahan di "tabukan" untuk dijalani, sehingga ada beberapa pendapat yang mengacu pada pesan singkat mahagurunya bahwa HK bukanlah hindu. ini kembali manambah parah situasi, tatapi umat HK dibali masih menyatakan dirinya sebagai umat Hindu walau ada sedikit gesekan. salahsatunya adanya keyakinan yang mirip surga yang diberi sebutan Vaikunta.

baik, mari kita bandingkan vaikunta surga menurut versi Bhagawad purana dengan Al-jannah alias surga versi Islam dalam kitab Al-Qurnan.



bersambung..........

tentang Catur Yuga - Perputaran Jaman menurut Weda

tentang Catur Yuga - Perputaran Jaman menurut Weda

Dalam konsep Hindu kita kenal dengan empat jaman yaitu Catur Yuga. Yuga (Dewanagari: युग) atau 1 Mahayuga adalah suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di muka bumi, yang terbagi menjadi empat zaman
Adapun zaman tersebut secara berturut-turut berputar searah jarum jam adalah zaman:
  1. Kerta Yuga atau Satya Yuga, 
  2. Treta Yuga, 
  3. Dwapara Yuga, dan 
  4. Kali Yuga. 
Menurut ajaran Hindu, keempat zaman tersebut membentuk suatu siklus, sama seperti siklus empat musim. Siklus tersebut diawali dengan Satyayuga, menuju Kaliyuga. Setelah Kaliyuga berakhir, dimulailah Satyayuga yang baru. Perubahan zaman dari Satyayuga (zaman keemasan) menuju Kaliyuga (zaman kegelapan) merupakan kenyataan bahwa ajaran kebenaran dan kesadaran sebagai umat beragama lambat laun akan berkurang, seiring bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Dimana pada akhirnya manusia akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika bumi renta, ketika kerusakan moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya untuk kiamat.

Lontar Roga Sangara Bumi

Lontar Roga Sangara Bumi

Secara umum, lontar ROGA SANGARA BHUMI berisi tentang :
  1. Sebab-sebab malapetaka/bencana terjadi di dunia,
  2. Jenis-jenis malapetaka/bencana yang dapat terjadi di dunia
  3. Beberapa ciri akan datangnya malapetaka/bencana
Lontar Roga Sangara Bumi diartikan:
  • Roga: penyakit, sakit, dan cacat badan.
  • Sanghara /Samhara: menarik kembali; meniadakan; rusak; lebur; kehancuran; pembinasaan (Mardiwarsito, 1981: 507). 
  • Bhumi: bumi.
Jadi ROGA SANGARA BUMI berarti menetralisir atau meniadakan bencana di dunia.

benarkah memuja leluhur itu salah?

Benarkah memuja leluhur itu salah?


Belakangan ini semeton Hindu Bali agak sedikit terganggu dengan penafsiran yang mungkin kurang pas tentang bhakti marga, dimana dikatakan bahwa umat hindu bali yang menjalani tradisi gama bali atau gama tirta kurang mengikuti ajaran sesuai weda sesuai aslinya. ini diakibatkan oleh penafsiran atas sloka Bhagawad Gita oleh sekelompok umat hindu yang mengikuti ajaran sampradaya. bagi mereka memuja leluhur itu kurang tepat, karena yang lebih tepat adalah memuja tuhan, dimana tuhan yang dimaksud dalam penafsiran mereka terhadap kitab bhagawad gita adalah sosok tokoh sri krisna.

dalam anggapan mereka, krama bali yang meneruskan tradisi gamabali sebagai "terbelakang" atau "kurang paham ajar­an agama" atau sebutan lainnya, yang mengesankan seolah-olah mereka lebih tahu masalah agama dibandingkan kita orang bali?