Google+

Sabtu, 04 Juli 2015

Tutur Catur Siwa Samapta

TUTUR CATUR SIWA SAMAPTA
PATITIS SWADHARMA AGURON-GURON
PIRANTI NGAWERDIANG MANUSA SANE SUJAN

Ring aab jagat sekadi mangkin sane ketah kabawos Kali Yuga utawi Kali Sengara kawentenan jagat druwe, gumanti sampun nyihnayang sipta sane rahat muatang uratian saking para janane. Sipta sane metu pinaka caciren jagat kali sangarane punika prasida kacingak ring makudang-kudang pikobet sane nibenin kauripan imanusa ring jagate. Minakadi akeh para janane maparilaksana lempas ring uger-uger satra agama,sekadi memaling, mamarikosa, miwah marebat pantaraning banjar mawiwilan antuk tapal batas utami wates desa miwah wicara sane tiosan. Indike punika ring ajeng sampun sepatutnyane polih uratian, mangdane prasida ngerereh pemargi anggen nepasin kawentenan jagate. Antuk punika guru wisesa utawi pemerintah sampun ngelimbakang makudang-kudang pemargi nganinin nepasin pikobet sane pinih utama. Pemargi punika sampun kemargiang majalaran antuk ngawentenan bebawosan sareng instansi sane mapaiketan nganenin wicara punika, inggian ngemargiang paiketan sareng Kementrian Agama Republik Indonesia, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Para Pandita, lan Panglingsir Adat, miwah sane lianan.

Jumat, 03 Juli 2015

Persepsi Masyarakat Bali tentang Ilmu Leak

Persepsi Masyarakat Bali tentang Ilmu Leak

Benarkah Ilmu Leak di Bali itu Ilmu Hitam (Black Magic)?

rerajahan ilmu leak bali
salah satu contoh rerajahan leak bali
Agama Hindu merupakan agama yang bersumber dari Weda dan merupakan agama yang membawa pengaruh besar bagi kebudayaan masyarakat indonesia pada umumnya dan khususnya di Bali. Agama hindu juga merupakan agama wahyu yang diterima oleh maharsi berdasarkan pengalaman spritual, dalam kitab-kitab (upanisad) pengalaman – pengalaman ini bersifat langsung dan sempurna. Kekuatan spiritual maharsi mampu mendengarkan suara alam yang diwahyukan Tuhan dan dipercaya oleh umat manusia sebagai seebuah ajaran agama yaitu agama Hindu (Shivananda, 2003:2)

Kekuatan spritual yang diterima oleh maharsi merupakan warisan kepada seluruh umat manusia untuk mencapai kebebasan. Dalam kitab suci Weda terdiri dari empat macam bagian yang ditulis dalam bahasa sansekerta kuno, bahasa suci india dan Weda merupakan otoritas religi yang tertinggi bagi hampir seluruh tradisi hinduisme. Masing-masing bagian Weda memiliki beberapa periode berbeda kemungkinan antara tahun 1500 dan 500 SM. Bagian tertua dari Weda adalah Reg Weda yang berisikan kidung pujian dan doa-doa suci dilanjutkan dengan ritual-ritual pengorbanan yang berkenaan dengan kidung pujian vedik dan terakhir adalah kitab-kitab upanisad. Kitab upanisad berisikan mengenai intisari pesan spritual hinduisme, filosofis dan praktisnya (Capra, 2000:80).

Rabu, 24 Juni 2015

Lontar Tutur Sarining Adhi Phala

Lontar Tutur Sarining Adhi Phala

Lontar ini merupakan salah satu penegasan dari ajaran Kanda Pat, dimana lontar ini lebih menekankan ajaran Kanda Pat Manusa. lontar ini sangat cocok sebagai refrensi bagi para penekun ajaran kanda pat. dengan membaca lontar ini diharapkan para penekun spiritual ajaran kanda pat tidak lagi saling berselisih paham tentang ajaran adiluhung ini.
berikut ini isi Lontar Tutur Sarining Adhi Phala tersebut

Lontar Tutur Sarining Adhi Phala

Om Awighnamastu Namo Siddham. Nihan Tutur Sarining Adhi Phala. Iki panugrahan Bhatara ring Dalem, nga. sarining adhi phala nia, temah, wisya, dusta ring awak ngawe gering salah beda, buduh, kalanan, ampah yusa, kohos ring brana mulya. Yan sira pingit nganggo panugrahan iki, moga sidhi ngucap, akadang Dewa, katwaning jagat kabeh,wenang sira nunas ica ring Dewa, wus mangkana wenang sira nuduh Sang Hyang Panca Maha Bhuta, wenang ngasorang sehananig tenung, sakeluiring mantra, tutur satus cakep alah denia, banten asoroh alah denig ajuman adulang, mangkana uttama nia ya sira ngangge panugrahan iki, nanging sira tan weruh ring kawisesanta, yan genahang ring umah, Sang Ratuning sarira, dadi pangijeng umah, sedaging pekarangan kaempu denia, nanging elingakna baktinin dening banten ngangken dina rahayu, wenang sira ngangge pangijeng umah, tan kewasa sira kelangkahin, tan keneng wisya, pepasagan, papendeman, acep – acepan, umik – umikan, sakwehig pagawe ala alah denia.

Selasa, 23 Juni 2015

Belajar Tenaga Dalam Spiritual Bali

Belajar Tenaga Dalam Spiritual Bali

melanjutkan artikel terdahulu yang bertajuk "Belajar Tenaga Dalam Asli Bali" yang mungkin dapat dikatakan sebagai level atau tingkat dasar dari sekian banyak ilmu spiritual asli bali, berikut ini tyang bermaksud membagikan pemahaman pribadi tyang tentang pengenalan diri manusia, dimana dalam sastra bali lebih dikenal sebagai ajaran Kanda Pat atau sering juga disebut tutur catur sanak. Tetapi untuk mempelajari ajaran ini hendaknya para semeton HARUS mawinten saraswati dulu, agar ilmu yang akan dipelajari ini bisa meresap (midep ring hati) dan dapat tuntunan beliau serta tidak kena raja panulah dari beliau.

sebelum lebih jauh membahas Belajar Tenaga Dalam Spiritual Bali dalam hal ini tentang Ajaran Kanda Pat atau catur sanak, lebih dahulu tyang akan memberikan dasar sastra, kenapa ajaran spiritual ini menjadi kuat dalam keyakinan agama hindu bali atau gama tirta di Bali, dimana dalam keyakinan gama tirtha, manusia sejatinya berwujud 3 yakni bhuta, manusa dan dewa.
nah pertanyaannya..
kapan manusia itu disebut bhuta? 
kapan manusia itu disebut manusa/jatma? 
kapan manusia itu disebut dewa? 
manusia disebut bhuta biasanya pada saat manusia dikuasai oleh sifat tamas, yang selalu agresif, egois, mengutamakan kepentingan pribadinya saja, serta sifat-sifat keraksasan yang telah dipaparkan dalam agama. tetapi apabila sifat bhuta ini dapat dikuasai, maka sosok manusia akan disebut rajabhuta yaitu penguasa bhuta-kala yang sering digunakan dalam hal ilmu kawisesan, baik ilmu pengleakan, maupun ilmu lainnya yang bersifat agresif dan digunakan untuk menyerang musuhnya.

Rabu, 17 Juni 2015

Lontar Calonarang

Lontar Calonarang

Naskah lontar yang berisi Cerita Calon Arang itu ditulis dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, asing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12). 
Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561, Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.

Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.

berikut ini salah satu versi Lontar Calonarang yang beredar di bali:

[1b] Om awighnam astu nama sidam. (H)ana ta wuwusira sang mahatuwa, umujaraken ri katatwanira sira Sri Mpu Baradah, ri sedengira hana ng sramanira, i ngkana ng Lemah Tulis. Tan popama ri kasaktinira, mankanguni de nira angrasani darma. Telas sireng pangrasa, weruh pasuk wetu ning buwanatah. Antyanta de nira umulahaken kusutapanira. Ya ta maputri pwa sira sasiki, mangaran Sang edawati, kanya sedeng papangkas, antyanta ri hayunira, lwir tâpsaru angindarat. Ryuwus mahangkanâgering pwa sira, swaminira Sri Mpu Baradah, renanira Sang sira. Alara tangisira mangaran edawati, akusa ta ya ring sawa nikang renanya, sambat-sambatnya amelas arsa, “Wuduh indung(ng)hulun kita, sapa pwa ya asihenghulun kasyasih.”
[1b] Semoga tidak ada halangan. Ada perkataan orang-orang tua yang mengisahkan hakikat Sri Mpu Baradah ketika beliau tinggal di pertapaannya di Lemah Tulis. Tidak ada tandingan mengenai kesaktiannya, terutama dalam menghayati Dharma. Beliau sempurna dalam hal penghayatan, mengetahui ilmu kesempurnaan dunia. Demikianlah pelaksanaan kesempurnaan tapanya. Beliau mempunyai seorang putrid, bernama Sang Wedawati, gadis belum bersanggul, sangat cantik(nya), bagaikan bidadari turun ke bumi. Setelah itu sakitlah istri Sri Mpu Baradah, ibu Sang Wedawati itu. Akhirnya beliau meninggal. Wedawati sedih dan menangis. Dia memeluk mayat ibunya, keluh kesahnya mengharukan, “Aduhai, ibuku, siapakah yang akan mengasihi hamba lagi?”

Minggu, 14 Juni 2015

Agni Hotra versi Hindu Bali

Agni Hotra versi Hindu Bali

banyaknya kalangan warga bali yang ikut sekta/sampradaya dibali, yang sering melakukan pemujaan Agni hotra atau homa di berbagai tempat dibali, yang dikatakan merupakan salah satu yadnya utama dalam weda, membuat banyak kalangan pencinta bali bertanya-tanya:
  • Siapakah Dewa Agni (dewa api)?
  • apakah benar, kalau dibali sejak dahulu tidak pernah memuja dewa agni?
  • apakah agni hotra tersebut tidak pernah diajarkan dibali? sehingga upacara tersebut terkesan baru bagi masyarakat awam dibali?
  • jika Agni hotra (memuja dewa api) itu dikatakan penting, dimanakah posisi dewa agni di jajaran dewa penting di hindu bali? mungkinkah beliau termasuk dewa tertinggi menyamai trimurti?
untuk menjawab hal tersebut, saya akan mencoba mengupas tentang agni hotra yang intinya merupakan pemujaan kepada dewa api.

Dewa Agni 

adalah perwujudan Tuhan sebagai Dewa Api (Fire God). Dalam Rig Weda, Dewa Agni adalah salah satu dari tiga dewa utama (three supreme deities) yakni Agni, Vayu dan Surya. Ketiga dewa ini penguasa atas tanah (earth), udara (air) dan angkasa (sky). Dalam Rig Weda terdapat 200 mantra yang ditujukan pada Dewa Agni. Ini menunjukkan pentingnya peran Dewa Agni dalam kehidupan. Ia adalah api dari matahari, api dari semua sinar, api pada cahaya hati semua manusia.

Jumat, 12 Juni 2015

Tanya Jawab Tatwa dan Filsafat Hindu Bali

Tanya Jawab Tatwa dan Filsafat Hindu Bali

Hiruk pikuk dunia modern menuntut kita memberikan waktu lebih banyak untuk mengejar kehidupan duniawi dan kadang-kadang melupakan kehidupan spiritual kita. Dari percakapan Guru dan Murid di Asrama Jagathita, mungkin kita dapat bersantai sejenak dan menyimak pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Agama dan Dharma yang diajukan oleh sang murid kepada gurunya. ini merupakan cara belajar yang sering disebut dengan Upadesa, yakni duduk di dekat guru. 
semoga percakapan ini bermanfaat.

Tersebutlah seorang guru suci yang bernama Rsi Dharmakerti. Beliau tinggal di dalam asrama Jagathita yang telah terkenal karena pengetahuan dan laksananya dalam kebenaran yang tinggi yaitu Dharma atau Dhamma.

Atma Tatwa - Panca Sradha

Atma Tatwa - Panca Sradha

Atman atau Atma (IAST: Ātmā, Sanskerta: आत्म‍ ) dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari dengan sinarnya. Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk

Dalam kitab suci Hindu dinyatakan bahwa atma adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab upanisad yang menyatakan bahwa 
Brahma Atma Aikyam” yang artinya brahman dan atman adalah tunggal. 
Atma diumpamakan sebagai setitik embun yang berasal dari penguapan air laut, karena adanya pengaruh suatu temperatur tertentu kemudian embun itu terpencar keseluruh alam semesta.

Rabu, 10 Juni 2015

Dewa Tertinggi Orang Hindu Bali

Dewa Tertinggi Orang Hindu Bali

Konsep Ketuhanan dibali adalah Memuja Tuhan berdasarkan FungsiNya, yang lebih dikenal dengan manifestasi Brahman, sering disebut Dewa (Div: sinar suci Brahman bersifat positif). karena fungsi Tuhan yang meresap dalam hukum Karma ciptaanNya sangat banyak, maka semakin banyak pula sebutan tuhan yang terrefeksi dengan penamaan Dewa.
semakin banyaknya film Itihasa dan purana dipertontonkan di indonesia, menyebabkan kebingungan beberapa umat hindu bali yang sedang "mencari jati diri" dan mencari pembenaran atas keyakinannya. kejadian ini menjadi semakin goyangnya keyakinan gama tirtha dibali, karena beberapa umat tersebut mulai mengesampingkan ajaran dari mpu kuturan, yang telah berjuang mempersatukan sekte/sampradaya yang dulunya banyak berkembang di Bali.
bila dipikir kembali, mungkinkah umat hindu bali kembali mundur pemahaman agama hindunya?
dari mendalami ajaran universal hindu melompat mundur mempelajari sekte-sekte yang diidolakan. bukankah sekte tersebut bagian dari hindu? inilah yang aneh bin ajaib yang terjadi dibali.
orang-orang beramai-ramai memuja dewa-dewanya, dan mengesampingkan local-genius yang sudah mengakar sebagai konsep hindu yang universal.
dengan memuja satu dewa tertinggi dan menggapnya sebagai tuhan, bukankah itu sudah menyalahi dasar keimanan hindu sendiri?
mohon diingat, bahwa pokok-pokok keimanan hindu adalah percaya dengan adanya Tuhan, Atma, Karmaphala, Punarbhawa, dan Moksa.

Makna Banyu Pinaruh

Makna Banyu Pinaruh


”Banyu Pinaruh” Sucikan Pikiran dengan Air Ilmu Pengetahuan Wuku Watugunung adalah wuku terakhir pada penanggalan Bali. Satu tahun kalender Bali terdiri dari 210 hari. Minggu terakhir dari setahun penanggalan Bali adalah Watugunung, yang ditutup pada hari Sabtu – Umanis – Watugung, dimana umat Hindu Dharma merayakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Saraswati. Nah keesokan harinya pada hari Minggu - Pahing adalah hari pertama pada tahun baru kalender Bali, yang dimulai dengan wuku Sinta, umat Hindu Dharma melaksanakan ritual Banyu Pinaruh.

Apa artinya Banyu Pinaruh?

Banyu Pinaruh adalah air ilmu pengetahuan. Pada hari ini umat Hindu Dharma melaksanakan asuci laksana dengan jalan membersihkkan diri di laut atau di sungai di pagi hari, tepatnya lagi disaat matahari terbit. Setelah mandi di laut atau di sungai, umat berkeramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga-bunga segar dan harum. Setelah itu umat mempersembahkan sesajen berupa labaan nasi kuning serta loloh di merajan, setelah menghaturkannya, kemudian diakhiri dengan nunas lungsuran.

Hukum Ahli Waris Adat Bali

Hukum Ahli Waris Adat Bali

Telah diketahui, bahwa di Indonesia berlaku lebih dari satu sistem Hukum Perdata yaitu, Hukum Barat (Hukum Perdata Eropa), Hukum Adat dan Hukum Islam. Ketiga sistem hukum tersebut semuanya antara lain juga mengatur cara pembagian harta warisan. Hukum Waris Perdata ini digunakan bagi orang yang mengesampingkan Hukum Adat Waris dalam mendapatkan penyelesaian pembagian warisan.
Hukum Waris Perdata Barat berlaku bagi :
  1. Orang-orang keturunan Eropa.
  2. Orang-orang keturunan Timur Asing Tiong Hoa.
  3. Orang-orang yang menundukan diri sepenuhnya kepada Hukum Perdata Barat.