Google+

Senin, 02 Maret 2015

Penerapan Ajaran Dharma dalam kehidupan masyarakat Bali

Penerapan Ajaran Dharma dalam kehidupan masyarakat Bali

saha-yajnah prajah srstva purovaca prajapatih anena prasavisyadhvam esa vo ‘stv ista-kama-dhuk (BG. III.X)
Terjemahannya :
Dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda; "dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu".
Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya, seperti; korban pikiran, pengetahuan, ucapan, tindakan , sifat, dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban.

dengan semakin pesatnya perkembangan jaman, media internet untuk mencari dan mengkonfirmasi kebenaran sebuah kegiatan yang membudaya semakin gampang, membuat warga bali resah dan galau, hingga umat hindu bali ada yang sampai bingung dengan keyakinannya. sehingga muncul pertanyaan:
apakah kegiatan umat hindu dibali sudah sesuai dengan sastra yang digariskan oleh weda?
apakah budaya bali yang sampai kini berlangsung sudah sesuai dengan ajaran dharam?
dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan umum dari umat dibali, yang masih menanyakan keyakinannya. karena ini, melalui tulisan ini tyang akan coba memberi gambaran tentang prilaku kegiatan yang telah membudaya di bali.

secara umum, ajaran dharma sangatlah simple, dimana cara menjalankan ajaran kita yang paling mendasar adalah "Tri Kaya Parisudha". dimana dengan dasar ini perlahan-lahan dikembangkan untuk dapat mencapai tujuan agama secara umum yaitu "moksatam jagadhita ya ca iti dharma" untuk mencapai moksa yang diawali dengan kebahagiaan duniawi yang berdasarkan ajaran dharma.

Bhuta Yadnya Itu Melestarikan Alam Bukanlah Pembantaian

Bhuta Yadnya Itu Melestarikan Alam Bukanlah Pembantaian

Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh... 
matangnyan prihen tikang bhuta hita, aywa tan maasih-ring sarwa prani... (kutipan Agastia Parwa dan Sarasamuscaya 135).

Maksudnya: 
Bhuta Yadnya namanya mengembalikan unsur-unsur alam itu dengan menghormati tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu usahakanlah kesejahteraan alam itu (Bhuta Hita) jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk hidup (sarwa prani).

UNTUK meningkatkan kualitas dan memperluas pengamalan agama Hindu ada baiknya diadakan pengkajian ulang dan terus menerus agar pengamalan ajaran agama Hindu itu selalu dinamis dalam mengantarkan perkembangan zaman ke arah yang semakin baik dan benar sesuai dengan petunjuk sastra suci. Pengkajian itu bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan penerapan agama Hindu yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita sebelumnya. Dengan kondisi yang serba terbatas leluhur umat Hindu dimasa lampau sudah mewariskan tradisi beragama Hindu yang masih sangat baik dan masih banyak yang relevan dengan isi pustaka suci sabda Tuhan. Namun demikian dalam beberapa hal perlu ada penyempurnaan-penyempurnaan dalam beberapa aspeknya.

Rabu, 25 Februari 2015

Membangun Rumah Tradisional Bali

Membangun Rumah Tradisional Bali

setiap kepala keluarga sudah tentu mendambakan memiliki Rumah Sendiri, lepas dari keluarga induknya. begitupula orang bali, bagi kepala keluarga yang sudah mulai mebanjar adat maupun dinas, rumah tinggal milik sendiri juga menjadi dambaan, terpisah dari keluarga, menghindari masalah klasik orang bali, yaitu persaingan internal di keluarga intinya. untuk itu Membangun Rumah Tradisional Bali menjadi sebuah harapan besar, tetapi Membangun Rumah Tradisional Bali tidak segampang membuat barang dagangan, karena Rumah Tradisional Bali memiliki makna filosofis dan magis yang dapat mempengaruhi orang yang memilikinya serta yang tinggal didalamnya. untuk itu ada tahapan yang harus dilalui untuk Membangun Rumah Tradisional Bali.
adapun tahapan awal sebelum Membangun Rumah Tradisional Bali, diantaranya:

menentukan Lokasi Rumah

dalam penentuan lokasi untuk Membangun Rumah Tradisional Bali ini ada beberapa pertimbangan, salah satu yang sangat penting adalah hindari "karang Panes", seperti tanah yang numbak gang/jalan/sungai, tanah yang berdampingan dengan pura khayangan, tanah yang berhawa panas akibat kurangnya sirkulasi, tananh yang lebih rendah daripada tanah disekelilingnya, tanah yang tidak bisa ditumbuhi oleh tumbuhan maupun hewan dan lain sebagainya.
berikut ini sedikit kupasan dari Lontar Keputusan Sanghyang Anala, yang menjelaskan tentang Hala-Ayuning Palemahan. adapun isinya:
iki ling Ira Bhagawan Wiswakarma, luwire: iki ayuning palemahan; ring pascima manemu labha, ring uttara paribhoga wredhi, palamehan asah madya, palemahan hinang Dewa Ngukuhin lan maambu lalah sihing kanti. 
maksudnya:

Senin, 23 Februari 2015

Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015

Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015

menyambung artikel sebelumnya "Dewasa Ayu Nganten - Hari Baik kawin di 2015" yang baru selesai 6 bulan saja yakni hanya bulan januari - juli 2015, melalui artikel ini "Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015" akan melengkapinya mulai Bulan Juli - Desember 2015.
semoga Artikel Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015 ini bisa menjadi masukan bagi semeton hindu yang ingin melangsungkan pernikahan.

seperti telah dipaparkan dalam artikel-artikel wariga dan dewas ayu sebelumnya, Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015 ini dibuat dengan menitik beratkan pada:
Hari baik - Tanggal dan pangelong - wuku - sasih
selain itu tyang abaikan untuk memberi ruang nafas untuk memilih dewasa ayu apabila ada kejadian memaksa untuk melangsungkan upacara pernikahan.

Pilihan Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015

untuk mempersingkat tulisan ini, mari kita bahas Hari Baik Nikah - Dewasa Ayu Nganten di Tahun 2015 berikut ini:

Sabtu, 21 Februari 2015

Asta Kosala Kosali dan Astabumi

Asta Kosala Kosali dan Astabumi

Om Swastyastu
Katattwaning Ngawangun Manut Sastra Agama Hindu
Pawangunan Krama Hindune utamine ring Bali dahat mitatasang parindikan tata cara ngawangun madasar antuk daging-daging Sastra Agama Hindu, pamekas dasar utama Sanghyang Aji Weda. Palemahan Ida nenten pateh manggeh sekadi napi sane kaunggahang ring Catur Weda sakewanten sampun nyuti rupa manados sari-sarining “Aksara Aji” pawangunan sakadi Hasta Kosala, Hasta Kosali, Hasta Bumi, Wiswakarma, Asta Patali, Aji Janantaka, Taru Pramana, Bhamakertih, Satkertih, Caturlokapala, Astamandala, miwah Lontar Tattwa lan sastra siosan sane muat indik pawangunan. 

Melacak ''Hong Sui'' dalam Arsitektur Bali

Melacak ''Hong Sui'' dalam Arsitektur Bali

Dalam minggu-minggu ini, umat Hindu kembali memasuki hari-hari suci, seperti Galungan dan Kuningan. Hari Raya ''kemenangan'' dharma melawan adharma, sekaligus hari ''perenungan'', kontemplasi atau refleksi diri. Dalam konteks arsitektur, mungkin ada baiknya melakukan ''instrospeksi'' ke dalam. 

Menyingkap ''tirai'' esensi dan substansi kearifan lokal arsitektur Bali. Di antaranya, bagaimana mengangkat nilai-nilai dan makna tatanan arsitektur Bali yang salah satunya ada memiliki kemiripan dengan hong sui. Semisal yang berhubungan dengan tata letak tanah dan bangunan serta pengaruhnya terhadap penghuninya.


SELINTAS, jika merunut perjalanan popularitas hong sui, mungkin dapat disimak dari fungsi dan manfaatnya dalam kehidupan serta orang-orang yang mempublikasikan tentang keunikan yang ada di dalamnya. Sehingga, hong sui memasyarakat hingga ke negeri Eropa selain ke negara-negara Asia.

Menelaah vibrasi Tanah Bali, Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

Menelaah vibrasi Tanah Bali, Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

PULAU Bali juga disebut sebagai ‘Pulau Seribu Pura’. Pura selain merupakan tempat suci Hindu, juga sebagai “sentra rohani”. 
Apa saja yang melatarbelakangi perkembangannya dan bagaimana sebaiknya konsep rancangan sebuah pura ke depan?
Sumber prasasti kerap menyebut gunung dan bukit sebagai sthana para dewa. zaman dulu, tempat – tempat tinggi di Bali, di hulu atau di tanah bervibrasi suci, orang-orang membuat suatu bangunan peribadatan, meski sederhana dan sifatnya sementara.

Ketika itu tiangnya dibuat dari turus pohon dapdap, dan sebuah ruangan dengan balai-balai dirakit dari bambu untuk tempat meletakkan sajian (sesajen). Bangunan suci jenis ini disebut Turus Lumbung, bermakna kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. 

  • "Turus dapdap" bermakna tameng atau perisai-alat pelindung diri. 
  • lumbung” mengandung makna: ranah penghidupan. 

Bangunan Turus Lumbung ini sifatnya sementara yang lambat laun diganti menjadi bangunan yang lebih permanen.

Pura Agung Besakih Awalnya, Penamaman "Pancadatu" Hindari Petaka

Pura Agung Besakih Awalnya, Penamaman "Pancadatu" Hindari Petaka

Pada Purnama Kadasa, di Pura Agung Besakih diselenggarakan piodalan atau upacara Betara Turun Kabeh yang berlangsung (nyejer) selama sebelas hari. Masyarakat umat Hindu berduyun-duyun pedek tangkil silih berganti ke Pura terbesar di Bali yang dibangun di barat daya lambung Gunung Agung itu.
Apa saja yang bisa disimak dari Pura Agung Besakih?
Makna apa yang kira-kira bisa didapat dari ungkapan arsitekturnya?
PURA Agung Besakih berlokasi di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Mungkin sudah ribuan cerita pernah diungkap dan ditulis tentang keagungan pura terbesar di Bali ini. Namun sampai kini belum ditemui data pasti mengenai kapan pura ini pertama kali didirikan. Informasi berupa data yang bernilai historis maupun prasasti-prasasti yang diperoleh hanya sebatas wujud pengembangan puranya. Hanya sekilas, konon ada dimuat dalam lontar "Markandya Pura", mengisahkan kedatangan Rsi Markandya bersama para pengikutnya dari Jawa Timur ke pulau Bali. Namun ada sumber lain yang menyebutkan bahwa Rsi Markandya datang ke Bali sekitar abad ke-8.

Pasar Tradisional yang kian Terpinggir

Pasar Tradisional yang kian Terpinggir

SEKARANG, "pasar swalayan modern" banyak dibangun dalam bentuk mal, minimarket, supermarket atau hypermarket. Kehadirannya seperti mulai kian berlebihan dan memberi dampak pada wajah arsitektur kotanya. 
Terkendalikah pertumbuhannya? 
Sudahkah bercitra Bali? 
Lantas, bagaimana peran, makna dan fungsi keberadaan pasar tradisional ke depan?

Memang banyak faktor yang mempengaruhi makna sebuah tempat (place) dan ruang (space) sebuah pasar secara arsitektural. Eksistensi suatu ruang publik kiranya bisa dikaji dari segi konteks, citra dan estetikanya. Dengan kata lain, keberadaan sebuah pasar tradisional, serta kaitan antara tempat lainnya masing-masing, tak boleh tercerabut dari pemahaman manusia yang hidup dan bergerak di dalamnya. Lantaran dimensi ruang publik bersifat sosio-spasial, maka makna keberadaan sebuah pasar tradisional di dalam kota tak semata memberi nilai bagi diri sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang hidup dan beraktivitas di "ruang" kota setempat.

Jangan Seragamkan Arsitektur Lokal Bali

Jangan Seragamkan Arsitektur Lokal Bali

Mungkin suatu saat ke depan dibutuhkan sebuah “ensiklopedi” yang merupakan himpunan kesatuan pemahaman atau tafsir mengenai arsitektur Bali. Di dalamnya mungkin bisa dimuat landasan fasafah,pemaknaan, dan perihal yang esensial dalam keanekaragaman-keragaman dan keunikan arsitektur Bali. Jelas hal ini samasekali terlepas jauh dari substansi penyeragaman arsitektur dalam cakupan fisik. Namun, justru lebih terkait dalam konteks wilayah penyamaan pemahaman isi dan makna, atas realitas ketidaksamaan wujud penampakan arsitektur Bali di masing-masing tempat.

Kesatuan tafsir itu tentu perlu dipedomani oleh hasil penggalian atau penelitian terhadap saripati arsitektur Bali klasik, tradisional atau vernakularnya. Selain berharap agar tidak ada persepsi maupun penafsiran yang samar terhadap esensi arsitektur Bali.

Jumat, 20 Februari 2015

Penerapan Tri Hita Karana pada Rumah Adat Bali

Penerapan Tri Hita Karana pada Rumah Adat Bali

Rumah dan perumahan yang layak merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dan merupakan faktor penting untuk meningkatkan harkat, martabat dan kesejahteraan. Selain itu rumah dan perumahan merupakan cerminan dari jati diri manusia baik perorangan maupun kelompok dan kebersamaan dalam masyarakat.

Bali pada masa lalu mempunyai bentuk rumah dan perumahan yang didasari oleh konsep Tri Hita Karana, dalam pengaturan ruang, tata letak, bentuk, serta penggunaan bahan, berpedoman pada pemikiran, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Bertambahnya jumlah penduduk, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dibarengi pengaruh pariwisata pada masa ini memberi perubahan cara pandang dalam pengaturan perencanaan perumahan yang akan menimbulkan baik dampak positif maupun negatif.