Google+

Senin, 31 Maret 2014

Pertempuran Stria Taman Bali - Tirtha Harum Bangli

Pertempuran Stria Taman Bali - Tirtha Harum Bangli

Tersebut seorang raja di Bangli bernama Kyayi Anglurah Prawupan (keturunan Arya Batan Jeruk).
Raja Taman Bali I Dewa Gede Tangkeban II atau Dewa Taman Bali mengutus dua orang prajurit untuk membunuh raja Bangli, namun gagal.
Kemudian Raja Bangli mengutus kembali dua ksatria itu untuk membunuh Raja Taman Bali dengan janji bila berhasil diberikan hadiah kekuasaan di daerah itu, ksatria itu berusaha membunuh I Dewa Taman Bali, namun ksatria itu dapat dibunuhnya. I Dewa Taman Bali hanya menderita luka berat dan lama belum pulih.

Sedang dalam penderitaan luka parah, istri I Dewa Taman Bali serong (abamia) digauli oleh putranya sendiri yang bernama I Dewa Kaler. Diperintahkan untuk membunuh I Dewa Kaler dan istrinya yang serong itu. Namun tidak diijinkan oleh Dalem Gelgel. Hanya derajat kebangsawanannya diturunkan menjadi Pungakan, yang kemudian dikenal dengan Pungakan Bagus. I Dewa Kaler diusir dari Taman Bali kemudian bernama Pungakan Kedisan karena dalam perjalanannya disambar burung gagak, juga disebut Pungakan Don Yeh karena waktu berangkatnya mengarungi hujan lebat dan banjir.

Minggu, 30 Maret 2014

Taman Narmada Baliraja Tirtha Harum

Taman Narmada Baliraja Tirtha Harum

Pura Taman Narmada Tirtha Harum - Taman Bali
Di Desa Taman Bali terdapat sebuah Taman yang merupakan peninggalan Kerajaan Taman Bali. 
Taman ini dilengkapi kolam dan tempat pemujaan berupa bangunan Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum Tamanbali sehingga tempat ini dijadikan tempat rekreasi oleh raja Tamanbali. 

Taman Narmada Baliraja luasnya sekitar 50 are dikelilingi oleh areal persawahan. 
Kerama subak mendirikan bangunan Pura Subak yang berada di sebelah Barat Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum Tamanbali. 

Disamping itu terdapat pula peninggalan berupa Jempeng Raja (WC) yang berbentuk lembu dan Bangunan Bale Emas (tempat penyimpanan kekayaan raja) yang berada di lingkungan SD No. 1 Tamanbali. Bale emas itu sudah direnovasi pada tahun 1986 oleh warga Desa Tamanbali. Peninggalan ini tentunya mempunyai daya tarik dan sekaligus potensial dikembangkan sebagai obyek wisata, khususnya wisata memancing yang bisa dikaitkan dengan olah raga sepeda gayung dan lari lintas alam

Warih Satria Taman Bali (tirtha harum) ring Dapdap Putih Buleleng

Warih Satria Taman Bali (tirtha harum) 

ring Jero Wisnu Bhuana Kerobokan Dapdap Putih Buleleng

Ida I Dewa Gde Rai ,setelah menjadi raja bergelar seperti gelar ayahnya ( Ida I Dewa Gde Tangkeban VII ) dan memperistri dua bersaudara yaitu I Desak Kompyang Sepi dan I Desak Nyoman Simpen yang berasal dari Tambahan bangli dan beliau masih mempunyai banyak selir lainnya,

Selanjutnya akan di ceritakan perjalan warih dari Ida I Dewa Gde Tangkeban VII dari Desak Kompyang Sepi; dalam keadaan Hamil 6 bulan berdasarkan cerita dan bukti dari pengelingsir di puri soka dan juga pengemong pura dalem Suladri yang terletak dibangli berdekatan dengan lokasi puri semarebawa bangli, karena sesuatu hal menyebabkan Desak kompyang sepi mengambil keputusan untuk keluar dari lingkungan puri demi menyelamatkan dirinya beserta cabang bayi yang dikandungannya maka bersembunyilah beliau di dalam gedong bata pura dalem suladri, setelah beberapa hari terlewatkan dan dirasa keadaan sudah agak aman Desak kompyang sepi keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan perjalanan menuju kearah Gianyar tepatnya Desa Beng, dan kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya mengabdikan diri di Puri Gianyar mengasuh putra raja yang bernama Anak Agung Gede Tali, kemudian karena datangnya Belanda Ke Gianyar dan merasa keadaan tidak aman maka ditinggalkanlah Puri gianyar.

sekilas Kawitan Maha Gotra Tirta Harum

sekilas Kawitan Maha Gotra Tirta Harum

Babad Tirtha Harum
Maha Gotra Tirta Harum, yang berorientasi pada Pura Tirta Harum sebagai Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum, ini ada benarnya karena leluhur Maha Gotra Tirta Harum dilahirkan di Tirta Harum.

Tapi kini penulis akan mencoba mengutarakan bahwa disamping Pura Kawitan Tirta Harum, masih ada lagi Pura Kawitan yang lain yang belum dikenal oleh para pembaca dan khususnya oleh para kebanyakan Maha Gotra Tirta Harum.

Sebagai jawaban atas pertanyaan : Putra siapakah bayi yang dilahirkan di Tirta Harum, dan dimana stana beliau tempat melakukan Tapa Yoga Semadi.

Berdasarkan Lontar Pura Dalem Sila Adri, satu-satunya sumber yang penulis temukan, mengutarakan pada pokoknya sebagai berikut :

Disebutkan dalam Lontar bahwa, beliau yang bergelar Danghyang Subali berstana di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) membangun stana tempat beryoga di Pura Bukit Batur (150 m disebelah timur Pura Tirta Harum). Dan daerah di sekitar pesraman tersebut diberi nama Brasika yang berarti ikan Nyalian.

Disamping membangun stana tempat melakukan Tapa Yoga, beliau juga membangun dua buah permadian yaitu : Tirta Harum dan Taman Bali

Rabu, 19 Maret 2014

Hari Baik Nikah Tahun 2014

Hari Baik Nikah Tahun 2014

ilustrasi pernikahan bali. sumber: google.com
melanjutkan artikel sebelumnya "hari baik untuk menikah di tahun 2014 dewasa ayu NGANTEN" disamping banyaknya Request yang masuk, meminta pertimbangan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan, pawiwahan, makerab kambe atau icab kabul, berikut ini saya paparkan sedikit ulasan Hari Baik Nikah Tahun 2014.

berikut ini, Hari Baik Nikah Tahun 2014 menurut perhitungan Wariga Bali, baik menurut wariga gemet maupun lontar-lontar wariga lainnya.

Hari Baik Nikah Bulan Mei 2014

sasih Jyestha = ALA dewasa nikah, akan berakibat sering bertengkar dan selalu berbuat memalukan.

Hari Terbaik Nikah Bulan Mei 2014 adalah

  • 9 Mei 2014, Sukra Pon Julungwangi, Penanggal 10.


Hari Yang Kurang Baik untuk melaksanakan Upacara Pernikahan /Icab Kabul di bulan Mei 2014:

  • 2 Mei 2014, Sukra Umanis Warigadean. ini merupakan wukunya Rangda Tiga
  • 5 Mei 2014, Soma Wage Julungwangi, penanggal kaping 6, berakibat mempelai kedepannya selalu berduka.
  • 7 Mei 2014, Budha Umanis Julungwangi, Penangal kaping 8, artinya pasangan akan mendapatkan halangan tanpa henti dalam kehidupannya.
  • 8 Mei 2014, Wrespati Paing Julungwangi, Pnanggal 9, artinya pasangan akan selalu menderita.
  • 12 Mei 2014, Soma Umanis Sungsang, merupakan wuku carik walanggati, hidupnya tidak akan pernah sukses
  • 14 Mei 2014, Budha Pon Sungsang, merupakan wuku carik walanggati, 
  • 15 Mei 2014, Wrespati Wage Sungsang (Sugihan Jawa), juga merupakan wuku carik walanggati,
  • 16 Mei 2014, Sukra Klion Sungsang (Sugihan Bali), juga merupakan wuku carik walanggati,
  • 19 Mei 2014, Soma Pon Dunggulan, juga merupakan wuku Was Penganten serta Uncal Balung, ini berakibat perceraian dan pertikaian berdarah disamping penyakit yang tiada henti. ini akibat uncal balung. selain itu Pengelong 6 juga berakibat kedukaan yang mendalam yang terus dialami pasangan penganten.

Sabtu, 22 Juni 2013

Kesiman Dalam Meluasnya Pengaruh Belanda

Kesiman Dalam Meluasnya Pengaruh Belanda

Melalui jalan yang dibuka NHM, Belanda memperoleh jalan menguasai Bali. Satu persatu kerajaan Bali dapat ditaklukkan. Proses penaklukan diawali dengan terdamparnya kapal “Overijse” di dekat Pulau Serangan tanggal 25 Juli 1841. Raja Badung dari Puri Kesiman melarang rakyatnya menguasai barang-barang dan benda-benda kapal, namun rakyat serangan membangkang. Sesuai dengan hukum tawan karang, mereka menganggap semua barang dan harta benda kapal itu adalah hak mereka. Raja Kesiman akhirnya mengikuti kehendak rakyat Serangan.[Ida Anak Agung Gde Agung, op. cit., pp. 88-89]

Kesiman Dalam Sejarah Politik dan Ekonomi Abad XIX

Kesiman Dalam Sejarah Politik Abad XIX

Pada tahun 1809-1810 ketika Mengwi berada di bawah kekuasaan I Gusti Agung Ngurah Made Agung, Kerajaan Badung menyerbu Sibang yang merupakan daerah kekuasaan Puri Sibang yang merupakan negara bagian Kerajaan Mengwi. Kerajaan Badung yang dimotori oleh tentara bayaran Belanda mampu menaklukkan Sibang. Kerajaan Mengwi tidak mampu memberikan bantuan kepada Sibang seperti dulu ketika Badung menaklukan Padangluah. Dengan ditaklukkannya Puri Sibang, walaupun tidak seluruh kekuasaannya berhasil dilucuti, namun kerajaan Badung akhirnya memperoleh kuasa untuk melakukan penggalian sebuah saluran tambahan yang mengalirkan air dari sungai Ayung ke daerah persawahan di Badung. Pada periode kepemimpinan Raja I Gusti Agung Ngurah Made Agung itu, Raja Mengwi tidak lebih dari pemimpin satelit dari Raja Badung. Ia harus menyetorkan sebagian dari penghasilan kerajaan untuk dan mengirimkan bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan Puri Denpasar dan diharapkan memberikan sumbangan pada upacara pengebenan di Badung. [Nordholt, p.139]

Sejarah Lahirnya Puri Kesiman

Sejarah Lahirnya Puri Kesiman

PURI KESIMAN: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Kehadiran Puri Kesiman, menurut Gora Sirikan diawali dengan sikap politik I Gusti Ngurah Made. Ia adalah salah seorang cucu I Gusti Gde Oka alias I Gusti Ngurah, seorang Manca Puri Kaleran Kawan, yang merupakan pejabat tinggi di bawah punggawa dalam kerajaan Badung. Diceritakan oleh Sirikan, I Gusti Gde Made tidak puas dengan jabatannya sebagai seorang manca. Ia ingin memperoleh kekuasaan yang lebih tinggi, karena menganggap dirinya pantas memperolehnya, mengingat kebesaran kerajaan Badung terjadi berkat cicitnya, putri raja Mengwi yang dibekali sejumlah desa saat menikah dengan Raja Pemecutan. Ia pun melirik kekuasaan I Gusti Ngurah Jambe di Puri Kesatria.[Gora Sirikan, p. 79]

Jangan pernah membayangkan istana Jambe Merik itu di Puri Kesatria adalah Puri Satria yang terwariskan sampai sekarang itu. Puri Satria yang dihuni oleh keluarga Anak Agung Ngurah Puspayoga, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali, dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1929 di atas areal pura peninggalan I Gusti Jambe Merik. Puri Satria dimaksudkan sebagai tempat tinggal regent (wali pemerintahan) yang tiada lain adalah datuk Anak Agung Ngurah Puspayoga, salah satu keturunan raja Badung yang dapat menyelamatkan diri dalam perang 1906, kemudian ditawan Belanda di Lombok. Sementara Puri Kesatria yang dikisahkan dalam tulisan ini berasal dari Puri Peken Badung yang didirikan oleh I Gusti Jambe Merik. Setelah I Gusti Jambe Merik mangkat, ia digantikan oleh putranya, I Gusti Jambe Tangkeban. I Gusti Jambe Tangkeban digantikan lagi I Gusti Jambe Ketewel. Pada masa Jambe Ketewel, kekuasaan Puri Peken Badung meluas, yang disebabkan karena Raja Sukawati menghadiahinya daerah Batubulan. Hadiah itu diberikan sebagai balas budi atas jasanya mendamaikan pertengkaran antara Tjokorda Made dan Tjokorda Anom di Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi penyebab dari lahirnya Kerajaan Sukawati.[Gora Sirikan, p. 23]

Puri Kesiman

Puri Kesiman: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Artikel ditulis dalam rangka menyambut acara “Restorasi Makna, Nilai, Jatidiri Puri Agung Kesiman Sebagai Benteng Pelestari dan Pengembangan Budaya Bali” di Puri Agung Kesiman, tanggal 2 Juli 2011. 

“Tuanku I Gusti Ngurah Mayun,andai tuan masih ada hari penghabisan itu, apakah tuan kuasa tak akan membakar istana, seperti dilakukan dua saudara tuan,di Denpasar dan Pemecutan.” 

“Itulah sebab aku mendahului pergi,aku tak mau bakar membakar,mati tertembak peluru lawan.” 

“Jadi, karena itukah Tuan titahkan pandita,menikam keris pusaka ke dada.” 

Jumat, 14 Juni 2013

Pengobatan Gratis di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2013

Pesta Kesenian Bali (PKB)

Pesta Kesenian Bali (PKB)
untuk tahun ini pelaksanaannya dimulai Sabtu Tanggal 15 Juni 2013 s.d. 13 Juli 2013 dengan tempat yang sama yaitu di Art Centre Denpasar.
Pada pesta kesenian bali (PKB) yang ke 35 di tahun 2013 ini akan mengangkat tema yaitu
“Taksu : Membangkitkan Daya Kreatif Dan Jati Diri”
Tujuan pengangkatan tema ini yaitu guna mendorong kreativitas dan pemberdayaan aktivitas tradisional dan seni kerajinan masyarakat . Hal tersebut mengacu pada Perda PKB N0. 4 tahun 2006. 

Adapun materi PKB XXXV Tahun 2013 tetap mengacu pada 6 materi pokok yaitu pawai, pagelaran, lomba/parade, pameran, sarasehan dan dokumentasi.

Rabu, 05 Juni 2013

Memilih Hari Baik Pernikahan berdasarkan pertemuan Otonan

Dewasa Ayu Nganten

contoh foto natab Nganten
masyarakat dibali, dalam menentukan / memilih hari baik (dewasa Ayu) untuk melangsungkan hari pernikahan menggunakan metoda Wariga. dimana dalam metode wariga terdapat aturan  aturan khusus yang sudah tentunya bila dilanggar atau tidak diindahkan maka akan berakibat kurang baik kedepannya bagi pengguna atau mengganggu kelancaran kegiatan yang dilangsukan (dilaksanakan).
adapun uger-uger (aturan) umum dari wariga, yang menjadi prioraitas dalam pemilihan dewasa ayu diantaranya:
  1. pemilihan  Wewaran yang tepat,
  2. Pemilihan Wuku (mingguan) yang tepat
  3. Pemilihan  Penanggal yang tepat
  4. pemilihan Sasih (bulan) yang tepat
  5. pemilihan Dauh (waktu/jam) yang tepat
kelima aturan diatas haruslah diperhatikan. tetapi sudah sangat pasti, tidak ada dewasa ayu yang sempurna, oleh karena itu pemilihan dewasa ayu berdasarkan prioritas dari urutan teratas, seperti yang tercantum dalam aturan Wariga.

disamping menggunakan aturan diatas, pemilihan dewasa ayu harusnya juga memperhatikan petemon calon mempelai (pasangan yang akan menikah).
langkah awal untuk mendapatkan hari baik (dewasa ayu) yang baik adalah dengan cara menjumlahkan urip/neptu Sad Wara dari Pasangan Mempelai yang kemudian ditambah dengan urip/neptu Panca Wara dan Sapta Wara rencana hari pernikahannya.