Google+

Senin, 28 Juli 2014

sekilas Babad Khabayan utawi kebayan ring jagat Guwang

sekilas Babad Khabayan utawi kebayan (khubayan) ring jagat Guwang

secara umum, wit trah/wangsa khubayan di guwang berasal dari trah khubayan di wongaya gde tabanan. sekilas tentang keberaaan wangsa khubayan di Wongaya Gde Tabanan tersirat dalam Purana PURA LUHUR BATUKARU, yang berangka tahun tahun Saka 911/999, saat itu raja yang berkuasa di Bali adalah Sri Kesari Warmmadewa.

adapun isi singkat dari purana tersebut adalah:
"Warnnanen ri prapteng aryeng Hindu anakrawerti ring Bali juga agwangun ndan anabdab kahyangan bhuwana titanem makadi sira Abhiseka Sri Wira Dalem Kesari wangunakna kang Pura Sad Kahyangan kwirya: ring Pura Penataran Besakih, ring Pura Bukit Gamongan, ring Pura Watukaru, ring pura Uluwatu, ring Pura Erjeruk, ring Pura Penataran Pejeng. Mwang yanana sawonging Bali tanmeling angabhakti kadi arep, sinapakna buwat hupadrawan mwah asuduk lawan rowangnya. Nimita samwa sidha anunggalaken hyun lawan para hulu, khabayan, paraning wwang ngawiwit kahyangan kalano. Lwir ring Pura Luhur Watukaru samana anabdab kahyangan lawan pada khubayan ing kana. Risampun puput punang pura-pura kabeh, mahyun ta sira angaci, ngwit aci ring; Bu, Ka, Sinta, praya angaci gelar Pagerwesi ngaranya. Wus ta ngaci gelar, kaci sikep ayuddha, ring Sa, Ka, Landep. Tumpek Landep haranya. Ring: Sa, Ka, Wariga, malar kaci maharam Tumpek Uduh, apan sira mahyun angaci Widhi mwang para dewatha kang lina ajurit, ring Bu, Ka, Dungulan, mawasta Galungan. Pamupulan sarin tahun saking duranagara, Makasar, Sumbhawa, Sasak, mwang Blambangan, kang kawawa olih Sri Maha Raja Bali. Wre, Wa, Sungsang, anama Sugyan Jawa, Punang Bali Dwipa, ring Su, Ka, Sungsang anama SugyanBali. Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan, sasih ka-catur, tang dina 15, Isaka warsaning bumi 804. Bangun Indrabhawana ikang Bali rajya, atabuhan awanti-wanti siyang latri, makadinya gending laluwangan, salonding, pada ngastiti Widhi lan dewa-dewatha. Gemah ripah punang nagara sawengkoning Bali rajya kang sinengguh murddharning para Bhatara ika AbhisekaSri Kesari Warmmadewa."
terjemahannya:
Diceritakan ketika datangnya arya-arya Hindu yang menguasai bumi Bali juga ikut membangun dan memperbaiki kahyangan jagat seperti yang bernama Sri Wira Dalem Kesari kembali memperbaiki Pura Sad Kahyangan, antara lain: Pura Penataran Besakih, Pura Bukit Gamongan, Pura Batukaru, Pura Uluwatu, Pura Erjeruk, Pura Penataran Pejeng.
Dan lagi kalau ada orang Bali tidak ingat dan bakti seperti tersebut diatas dikutuk kena pastu, dan ribut dengan saudara. Itulah sebabnya semua mampu menyatakan pikiran bersama para pemimpin, kubayan, yang sebagai warga yang mengawali kahyangan tersebut, seperti di Pura Batukaru bersama menata kahyangan dengan para kubayan disana. Setelah selesai perbaikan semua pura, berkeinginan beliau pada bakti pemujaan, dimulai aci pada:
  • Buda/Rabu/Kliwon Sinta dinamakan hari suci Pagewesi, setelah selesai kemudian diupacarai.
  • Para prajurit pada Sabtu Kliwon Landep, dinamakan Tumpek Landep,
  • di hari Sabtu Kliwon Wariga dinamakan Tumpek Uduh,
  • karena beliau ingin memuja Sanghyang Widhi sekalian para dewa yang gugur saat perang, di hari Buda Kliwon Dungulan dinamakan Galungan. Dikumpulkan upeti (sarin tahun) dari berbagai Negara (kerajaan) Makasar, Sumbawa, Sasak dan Blambangan, yang dikuasai oleh Raja Bali. Wrespati Wage Sungsang dinamai Sugian Jawa.
  • Pada hari Sukra Kliwon Sungsang dinamakan Sugian Bali.
  • Saat itulah aci Galungan dimulai, Hari Buda Kliwon Dungulan bulan ke-empat tanggal 15 tahun Isaka 804/882 Masehi Dimulainya pembenahan penataran kerajaan Bali, suara gambelan bersahutan siang malam, seperti gending lahwangan, salonding, semua bersujud kehadapan Sanghyang Widhi dan dewa-dewa.
Berkelebihan, sentosa pulau Bali dan yang menjadi pimpinan raja-raja adalah Sri Kesari Warmadewa.

Yoga Ghantasana

Yoga Ghantasana

Salah satu hal yang baik dalam ajaran ☆GHANTA YOGA☆ adalah kita selalu mengundang orang untuk bertanya.
dalam tehnik Yoga Ghantasana, praktisi akan diajari beberapa hal  yang nantinya nyasar beberapa point penting kehidupan, diantaranya:
  • Sehat (pembersihan TRI NADHI),
  • Sikap pemujaan ibu PERTIWI dan ayah AKASHA,
  • Pembersihan rintangan hidup (sikap pemujaan GANESHA, VINAYAKAM),
  • Kecerdasan pikiran (Sikap pemujaan DEWI SARASWATI),
  • Kebijaksanaan & kemakmuran (Sikap pemujaan DEWI SRI),
  • Murah rejeki, berkelimpahan (Sikap pemujaan SRI SEDANA),
  • Menjadi bijak cerdas dan keberlimpahan (Sikap pemujaan TRI SADHANA),
  • Menikmati kebahagiaan (SUKAWIBAWANAM),
  • Mencapai kebahagiaan tanpa terputus (NITYANANDAM),
  • Materi (uang, harta benda, kekayaan) sangat dibutuhkan sekarang ini, diakui/tidak ..seringkali materi menjadi pemicu masalah dalam kehidupan, baik di keluarga/di masyarakat.

Yoga Ghantasana merupakan salah satu tehnik yoga asana yang dalam prakteknya menekankan pada olah sikap, pernafasan dan afirmasi.
Yoga Ghantasana terdiri dari 12 tehnik asana disebut Dua dasa ghanta yang merupakan bagian dari ajaran ghanta yoga.
Jika melatih yoga ghantasana dengan tekun segala potensi energi spiritual dalam diri akan menjadi aktif sehingga bermanfaat untuk kesehatan, kerejekian, kharismatik, perlindungan diri dan membuat selalu bahagia.
Disamping itu manfaat lain dari yoga ghantasana adalah menyembuhkan berbagai penyakit di dalam diri baik medis maupun non medis. Sangat baik bila dilatih oleh orang yang sedang sakit.

MANFAAT YOGA GHANTASANA:

  1. Menyembuhkan penyakit dan Meningkatkan kesehatan baik fisik maupun mental.
  2. Memberikan vitalitas, energi dan semangat.
  3. Meningkatkan kesadaran yang tinggi pada diri
  4. Memperlancar segala bentuk usaha dan murah rejeki
  5. Menjadikan anda lebih kharismatik dan berwibawa
  6. Menjaga pkiran selalu jernih, tenang, tentram dan damai
  7. Membantu mengatasi dan memberikan solusi dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan hidup dan kehidupan

Yoga Asli Bali ini dikemas dalam sebuah untaian gerakan yoga yang dapat dipelajari oleh sumua orang tanpa memandang suku, agama dan kepercayaan.

bila Anda memiliki pertanyaan, silahkan hubungi saya melalui:
atau via
contact us MMM indonesia

0361-8757377

lakukan dan buktikan khasiatnya.

Senin, 31 Maret 2014

Pertempuran Stria Taman Bali - Tirtha Harum Bangli

Pertempuran Stria Taman Bali - Tirtha Harum Bangli

Tersebut seorang raja di Bangli bernama Kyayi Anglurah Prawupan (keturunan Arya Batan Jeruk).
Raja Taman Bali I Dewa Gede Tangkeban II atau Dewa Taman Bali mengutus dua orang prajurit untuk membunuh raja Bangli, namun gagal.
Kemudian Raja Bangli mengutus kembali dua ksatria itu untuk membunuh Raja Taman Bali dengan janji bila berhasil diberikan hadiah kekuasaan di daerah itu, ksatria itu berusaha membunuh I Dewa Taman Bali, namun ksatria itu dapat dibunuhnya. I Dewa Taman Bali hanya menderita luka berat dan lama belum pulih.

Sedang dalam penderitaan luka parah, istri I Dewa Taman Bali serong (abamia) digauli oleh putranya sendiri yang bernama I Dewa Kaler. Diperintahkan untuk membunuh I Dewa Kaler dan istrinya yang serong itu. Namun tidak diijinkan oleh Dalem Gelgel. Hanya derajat kebangsawanannya diturunkan menjadi Pungakan, yang kemudian dikenal dengan Pungakan Bagus. I Dewa Kaler diusir dari Taman Bali kemudian bernama Pungakan Kedisan karena dalam perjalanannya disambar burung gagak, juga disebut Pungakan Don Yeh karena waktu berangkatnya mengarungi hujan lebat dan banjir.

Minggu, 30 Maret 2014

Taman Narmada Baliraja Tirtha Harum

Taman Narmada Baliraja Tirtha Harum

Pura Taman Narmada Tirtha Harum - Taman Bali
Di Desa Taman Bali terdapat sebuah Taman yang merupakan peninggalan Kerajaan Taman Bali. 
Taman ini dilengkapi kolam dan tempat pemujaan berupa bangunan Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum Tamanbali sehingga tempat ini dijadikan tempat rekreasi oleh raja Tamanbali. 

Taman Narmada Baliraja luasnya sekitar 50 are dikelilingi oleh areal persawahan. 
Kerama subak mendirikan bangunan Pura Subak yang berada di sebelah Barat Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum Tamanbali. 

Disamping itu terdapat pula peninggalan berupa Jempeng Raja (WC) yang berbentuk lembu dan Bangunan Bale Emas (tempat penyimpanan kekayaan raja) yang berada di lingkungan SD No. 1 Tamanbali. Bale emas itu sudah direnovasi pada tahun 1986 oleh warga Desa Tamanbali. Peninggalan ini tentunya mempunyai daya tarik dan sekaligus potensial dikembangkan sebagai obyek wisata, khususnya wisata memancing yang bisa dikaitkan dengan olah raga sepeda gayung dan lari lintas alam

Warih Satria Taman Bali (tirtha harum) ring Dapdap Putih Buleleng

Warih Satria Taman Bali (tirtha harum) 

ring Jero Wisnu Bhuana Kerobokan Dapdap Putih Buleleng

Ida I Dewa Gde Rai ,setelah menjadi raja bergelar seperti gelar ayahnya ( Ida I Dewa Gde Tangkeban VII ) dan memperistri dua bersaudara yaitu I Desak Kompyang Sepi dan I Desak Nyoman Simpen yang berasal dari Tambahan bangli dan beliau masih mempunyai banyak selir lainnya,

Selanjutnya akan di ceritakan perjalan warih dari Ida I Dewa Gde Tangkeban VII dari Desak Kompyang Sepi; dalam keadaan Hamil 6 bulan berdasarkan cerita dan bukti dari pengelingsir di puri soka dan juga pengemong pura dalem Suladri yang terletak dibangli berdekatan dengan lokasi puri semarebawa bangli, karena sesuatu hal menyebabkan Desak kompyang sepi mengambil keputusan untuk keluar dari lingkungan puri demi menyelamatkan dirinya beserta cabang bayi yang dikandungannya maka bersembunyilah beliau di dalam gedong bata pura dalem suladri, setelah beberapa hari terlewatkan dan dirasa keadaan sudah agak aman Desak kompyang sepi keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan perjalanan menuju kearah Gianyar tepatnya Desa Beng, dan kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya mengabdikan diri di Puri Gianyar mengasuh putra raja yang bernama Anak Agung Gede Tali, kemudian karena datangnya Belanda Ke Gianyar dan merasa keadaan tidak aman maka ditinggalkanlah Puri gianyar.

sekilas Kawitan Maha Gotra Tirta Harum

sekilas Kawitan Maha Gotra Tirta Harum

Babad Tirtha Harum
Maha Gotra Tirta Harum, yang berorientasi pada Pura Tirta Harum sebagai Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum, ini ada benarnya karena leluhur Maha Gotra Tirta Harum dilahirkan di Tirta Harum.

Tapi kini penulis akan mencoba mengutarakan bahwa disamping Pura Kawitan Tirta Harum, masih ada lagi Pura Kawitan yang lain yang belum dikenal oleh para pembaca dan khususnya oleh para kebanyakan Maha Gotra Tirta Harum.

Sebagai jawaban atas pertanyaan : Putra siapakah bayi yang dilahirkan di Tirta Harum, dan dimana stana beliau tempat melakukan Tapa Yoga Semadi.

Berdasarkan Lontar Pura Dalem Sila Adri, satu-satunya sumber yang penulis temukan, mengutarakan pada pokoknya sebagai berikut :

Disebutkan dalam Lontar bahwa, beliau yang bergelar Danghyang Subali berstana di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) membangun stana tempat beryoga di Pura Bukit Batur (150 m disebelah timur Pura Tirta Harum). Dan daerah di sekitar pesraman tersebut diberi nama Brasika yang berarti ikan Nyalian.

Disamping membangun stana tempat melakukan Tapa Yoga, beliau juga membangun dua buah permadian yaitu : Tirta Harum dan Taman Bali

Rabu, 19 Maret 2014

Hari Baik Nikah Tahun 2014

Hari Baik Nikah Tahun 2014

ilustrasi pernikahan bali. sumber: google.com
melanjutkan artikel sebelumnya "hari baik untuk menikah di tahun 2014 dewasa ayu NGANTEN" disamping banyaknya Request yang masuk, meminta pertimbangan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan, pawiwahan, makerab kambe atau icab kabul, berikut ini saya paparkan sedikit ulasan Hari Baik Nikah Tahun 2014.

berikut ini, Hari Baik Nikah Tahun 2014 menurut perhitungan Wariga Bali, baik menurut wariga gemet maupun lontar-lontar wariga lainnya.

Hari Baik Nikah Bulan Mei 2014

sasih Jyestha = ALA dewasa nikah, akan berakibat sering bertengkar dan selalu berbuat memalukan.

Hari Terbaik Nikah Bulan Mei 2014 adalah

  • 9 Mei 2014, Sukra Pon Julungwangi, Penanggal 10.


Hari Yang Kurang Baik untuk melaksanakan Upacara Pernikahan /Icab Kabul di bulan Mei 2014:

  • 2 Mei 2014, Sukra Umanis Warigadean. ini merupakan wukunya Rangda Tiga
  • 5 Mei 2014, Soma Wage Julungwangi, penanggal kaping 6, berakibat mempelai kedepannya selalu berduka.
  • 7 Mei 2014, Budha Umanis Julungwangi, Penangal kaping 8, artinya pasangan akan mendapatkan halangan tanpa henti dalam kehidupannya.
  • 8 Mei 2014, Wrespati Paing Julungwangi, Pnanggal 9, artinya pasangan akan selalu menderita.
  • 12 Mei 2014, Soma Umanis Sungsang, merupakan wuku carik walanggati, hidupnya tidak akan pernah sukses
  • 14 Mei 2014, Budha Pon Sungsang, merupakan wuku carik walanggati, 
  • 15 Mei 2014, Wrespati Wage Sungsang (Sugihan Jawa), juga merupakan wuku carik walanggati,
  • 16 Mei 2014, Sukra Klion Sungsang (Sugihan Bali), juga merupakan wuku carik walanggati,
  • 19 Mei 2014, Soma Pon Dunggulan, juga merupakan wuku Was Penganten serta Uncal Balung, ini berakibat perceraian dan pertikaian berdarah disamping penyakit yang tiada henti. ini akibat uncal balung. selain itu Pengelong 6 juga berakibat kedukaan yang mendalam yang terus dialami pasangan penganten.

Sabtu, 22 Juni 2013

Kesiman Dalam Meluasnya Pengaruh Belanda

Kesiman Dalam Meluasnya Pengaruh Belanda

Melalui jalan yang dibuka NHM, Belanda memperoleh jalan menguasai Bali. Satu persatu kerajaan Bali dapat ditaklukkan. Proses penaklukan diawali dengan terdamparnya kapal “Overijse” di dekat Pulau Serangan tanggal 25 Juli 1841. Raja Badung dari Puri Kesiman melarang rakyatnya menguasai barang-barang dan benda-benda kapal, namun rakyat serangan membangkang. Sesuai dengan hukum tawan karang, mereka menganggap semua barang dan harta benda kapal itu adalah hak mereka. Raja Kesiman akhirnya mengikuti kehendak rakyat Serangan.[Ida Anak Agung Gde Agung, op. cit., pp. 88-89]

Kesiman Dalam Sejarah Politik dan Ekonomi Abad XIX

Kesiman Dalam Sejarah Politik Abad XIX

Pada tahun 1809-1810 ketika Mengwi berada di bawah kekuasaan I Gusti Agung Ngurah Made Agung, Kerajaan Badung menyerbu Sibang yang merupakan daerah kekuasaan Puri Sibang yang merupakan negara bagian Kerajaan Mengwi. Kerajaan Badung yang dimotori oleh tentara bayaran Belanda mampu menaklukkan Sibang. Kerajaan Mengwi tidak mampu memberikan bantuan kepada Sibang seperti dulu ketika Badung menaklukan Padangluah. Dengan ditaklukkannya Puri Sibang, walaupun tidak seluruh kekuasaannya berhasil dilucuti, namun kerajaan Badung akhirnya memperoleh kuasa untuk melakukan penggalian sebuah saluran tambahan yang mengalirkan air dari sungai Ayung ke daerah persawahan di Badung. Pada periode kepemimpinan Raja I Gusti Agung Ngurah Made Agung itu, Raja Mengwi tidak lebih dari pemimpin satelit dari Raja Badung. Ia harus menyetorkan sebagian dari penghasilan kerajaan untuk dan mengirimkan bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan Puri Denpasar dan diharapkan memberikan sumbangan pada upacara pengebenan di Badung. [Nordholt, p.139]

Sejarah Lahirnya Puri Kesiman

Sejarah Lahirnya Puri Kesiman

PURI KESIMAN: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Kehadiran Puri Kesiman, menurut Gora Sirikan diawali dengan sikap politik I Gusti Ngurah Made. Ia adalah salah seorang cucu I Gusti Gde Oka alias I Gusti Ngurah, seorang Manca Puri Kaleran Kawan, yang merupakan pejabat tinggi di bawah punggawa dalam kerajaan Badung. Diceritakan oleh Sirikan, I Gusti Gde Made tidak puas dengan jabatannya sebagai seorang manca. Ia ingin memperoleh kekuasaan yang lebih tinggi, karena menganggap dirinya pantas memperolehnya, mengingat kebesaran kerajaan Badung terjadi berkat cicitnya, putri raja Mengwi yang dibekali sejumlah desa saat menikah dengan Raja Pemecutan. Ia pun melirik kekuasaan I Gusti Ngurah Jambe di Puri Kesatria.[Gora Sirikan, p. 79]

Jangan pernah membayangkan istana Jambe Merik itu di Puri Kesatria adalah Puri Satria yang terwariskan sampai sekarang itu. Puri Satria yang dihuni oleh keluarga Anak Agung Ngurah Puspayoga, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali, dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1929 di atas areal pura peninggalan I Gusti Jambe Merik. Puri Satria dimaksudkan sebagai tempat tinggal regent (wali pemerintahan) yang tiada lain adalah datuk Anak Agung Ngurah Puspayoga, salah satu keturunan raja Badung yang dapat menyelamatkan diri dalam perang 1906, kemudian ditawan Belanda di Lombok. Sementara Puri Kesatria yang dikisahkan dalam tulisan ini berasal dari Puri Peken Badung yang didirikan oleh I Gusti Jambe Merik. Setelah I Gusti Jambe Merik mangkat, ia digantikan oleh putranya, I Gusti Jambe Tangkeban. I Gusti Jambe Tangkeban digantikan lagi I Gusti Jambe Ketewel. Pada masa Jambe Ketewel, kekuasaan Puri Peken Badung meluas, yang disebabkan karena Raja Sukawati menghadiahinya daerah Batubulan. Hadiah itu diberikan sebagai balas budi atas jasanya mendamaikan pertengkaran antara Tjokorda Made dan Tjokorda Anom di Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi penyebab dari lahirnya Kerajaan Sukawati.[Gora Sirikan, p. 23]

Puri Kesiman

Puri Kesiman: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Artikel ditulis dalam rangka menyambut acara “Restorasi Makna, Nilai, Jatidiri Puri Agung Kesiman Sebagai Benteng Pelestari dan Pengembangan Budaya Bali” di Puri Agung Kesiman, tanggal 2 Juli 2011. 

“Tuanku I Gusti Ngurah Mayun,andai tuan masih ada hari penghabisan itu, apakah tuan kuasa tak akan membakar istana, seperti dilakukan dua saudara tuan,di Denpasar dan Pemecutan.” 

“Itulah sebab aku mendahului pergi,aku tak mau bakar membakar,mati tertembak peluru lawan.” 

“Jadi, karena itukah Tuan titahkan pandita,menikam keris pusaka ke dada.”