Google+

Babad Bali Kisah Gde Pasar Badung

Babad Bali Kisah Gde Pasar Badung

Tersebutlah keturunan Gde Pasar badung diangkat menjadi Bandesa di Desa Kayuan (Karangasem). Sebab itu ia disebut Bandesa Kayuan. Entah berapa lama ia menjadi Bandesa di desa Kayuan, ia lalu menurunkan du anak laki-perempuan yang bernama:

  1. Luh Kayuan
  2. De Kayuan. 
Selagi jejaka, De Kayuan meninggal dunia. Bandesa Kayuan sangat sedih hatinya, karena ditinggal oleh anaknya. Jenazahnya sudah diupakarakan sebagai mana mestinya. Kemudian datanglah brahmana Buddha dari pasraman dalam Wanakeling, Madura. Brahmana yang sedang melakukan perjalanan dharma wisata itu bernama Danghyang Kanaka. Di dalam perjalanannya keliling Bali, beliau sampai di desa Kayuan dan beristirahat di depan rumah Bandesa Kayuan.


Ketika Bandesa Kayuan keluar rumah, ia menjumpai Danghyang Kanaka. Danghyang Kanaka menjelaskan, bahwa beliau datang ke sana di dalam perjalanannya berdharma wisata ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Danghyang Kanaka juga menjelaskan, Pulau Bali sangat terkenal keindahannya.


Bandesa Kayuan lalu mempersilahkan Danghyang Kanaka memasuki rumahnya. Bagi Danghyang Kanaka, rumah itu terasa sunyi. Danghyang Kanaka lalu bertanya mengapa rumah Bandesa terasa sepi. Danghyang Kanaka juga melihat Bandesa Kanaka memendam kesedihan. Bandesa Kayuan lalu menjelaskan bahwa anaknya yang laki-laki meninggal dunia saat masih jejaka. Yang masih hidup adalah anaknya yag perempuan saja. Yang juga menyedihkan, Bandesa Kayuan sudah lanjut umur sehingga tidak mungkin lagi menurunkan parati Santana. Danghyang Kanaka lalu bertanya apakah Bandesa Kayuan menginginkan keturunan lagi. Bandesa kayuan menjawab ia. Oleh sebab itu, Luh kayuan lalu dinikahkan dengan Danghyang Kanakaa. Mereka mengadakan upacara perkawinan di rumah Bandesa kayuan.

Kemudian dari perkawinannya, lahir 2 orang anak laki-laki yang benama:

  1. Pangeran Mas, diserahkan kepada Bandesa Kayuan sebagai keturunanya.
  2. Pangeran Wanakeling,  diajak kembali ke Wanakeling, Madura. 
Sebelum berangkat, Danghyang Kanaka berpesan kepada Bandesa Kayuan, supaya desa tersebut mulai saat itu diganti namanya menjadi Desa Kayumas. Sedang pangeran Mas sudah menggantik kedudukan menjadi Bandesa,bergelar Bandesa Kayumas. Lama-kelamaan seketal Mpu Asthapaka (penganut agama Buddha) datang di Bali dan bertemnpat tinggal di desa Kayumas, desa Kayumas kemudian diubah namanya menjadi Desa Budakeling. Nama itu dijadikan sebagai kenang-kenangan bahwa beliau berasal dari Keling yang memeluk Agama Buddha. Sekarang Mpu Asthapaka disebut Brahamana Buddha.


Pada tahun Caka 1768(tahun 1846 M) yang berkuasa di Pejeng adalah Cokorda Pinatih. Salah seorang putrinya dipinang oleh I Dewa Manggis Dhirangki, Raja Gianyar. Namun pinanganya ditolak Cokorda Pinatih, I Dewa Manggis Dhirangki menjadi sangat marah. 

Panglima pasukan Gianyar I Gusti Ngurah Jelantik XVIII mohon izin kepada Raja Gianyar untuk menggempur Pejeng. Permohonan ini disetujui Raja Gianyar. Sebab itu I Gusti Ngurah Jelantik dengan pasukan pilihannya mendatangi Pejeng dan melakukan penyerbuan. Akan tetapi pihak lawan tidak melakukan perlawanan. Sebaliknya I Gusti Ngurah Jelantik diterima dengan ramah oleh Cokorda Pinatih serta dipersilahkan masuk ke Puri Pejeng. Dengan kejadian ini, I Gusti Ngurah Pejeng berpendapat bahwa sengketa antara Pejeng dengan Gianyar tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan. Mengingat keramah-tamahan Cokorda Pinatih, sengketa ini dapat diselesaikan melalui perundingan.

I Gusti Ngurah Jelantik dengan seluruh pasukanya lalu tinggal di Puri Pejeng pada malam hari itu. Disana dibahas tentang rencana perkawinan tersebut, untuk menghindari pertumpahan darah. Tatkala hari mulai gelap, pasukan Belahbatuh sedang beristirahat. Namun tiba-tiba pasukan Pejeng bersenjata lengkap mengurung Puri Pejeng. Sekeliling Puri dibakar. Lalu I Gusti Ngurah Jelantik memerintahkan agar pasukannya menerobos blockade pasukan Pejeng. Karena memakan waktu yang sangat lama, pertempuran sampai di tengah sawah di sebelah selatan Pejeng. Adik I Gusti Ngurah Pejeng gugur, dan akhirnya bantuan pasukan dari Gianyar tiba dibawah pimpinan putra mahkota Gianyar.

Dengan tibanya Pasukan Gianyar, pasukan Pejeng menyerah kalah setelah menderita kerugian, baik harta benda maupun jiwa. Sedang Cokorda Pinatih menyelamatkan jiwanya di tengah hutan. Karen tidak tahan bersembunyi di hutan, lalu ia menyerah dan Cokorda Pinatih dihukum selong ke Nusa Penida. Sesudah pejeng kalah,saudaranya bernama Cokorda Oka penguasa di desa Belusung ingin membalaskan dendam karena kekalahan adiknya. Begitu pula Cokorda Rembang di Pejengaji Tegalalang menyatakan melepaskan diri dari kekuasaan Gianyar. Rakyat Pejeng sebanyak 6oo orang melarikan diri dan memohon perlindungan kepada Raja Bangli. Yang mohon perlindungan termasuk Pasek Gelgel keturunan Bandesa Pejeng.

Adapun perbedaan jati diri atau sebutan yang terdapat pada Pasek Gelgel keturunan I Gusti Pasek Gelgel di Banjar Pegatepan desa Gelgel (Klungkung), yang tidak lain akibat perbedaan fungsi yang dijabat, antara lain:

  1. Bandesa Manik mas yaitu Pasek Gelgel yang berhasil menyelamatkan harta kekayaan Dalem Gelgel di antaranya berupa perhiasan yang terdiri dari permata manik dan mas
  2. Pasek Pegambuhan yaitu Pasek Gelgel yang berwenang mengatur bidang kebudayaan dan kesenian. Kata gambuh diambil dari nama tarian gambuh yang sangat terkenal.
  3. Pasek Galengan yaitu Pasek Gelgel yang berwenang mengatur dan menentukan batas suatu wilayah. Kata galengan berasal dari kata galeng yang artinya batas. 
  4. Pasek Bea yaitu Pesek Gelgel yang berwenang mengatur dan menentukan upacara atiwa-tiwa atau Pitra Yadnya atau Palebon. Upacara ini juga lazim disebut mbeanin dan kata bea diambil dari kata mbeanin
  5. Pasek Dawuh dan sering disebut Pasek Dawuhalang yaitu Pasek Gelgel yang berwenang menentukan dan nibakang dawuh atau dewasa (memberikan hari baik) untuk melakukan sesuatu.

Demikian antara lain keturunan I Gusti Pasek Gelgel di Banjar Pegatepan Desa Gelgel (Klungkung), yang memakai berbagai jati diri atau sebutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar