Google+

Ramuan Obat Menurut Ayurveda

Ramuan Obat  Menurut Ayurveda

Ayurveda membagi makhluk hidup yang ada di dunia ini berdasarkan atas yoni atau sumber asalnya dalam 4 tipe, yaitu

  1. jarayuja, makhluk hidup yang dibungkus oleh selaput tipis amnion ketika berada dalam kandungan,
  2. andaja, makhluk yang lahir atau hasil penetasan dan telur,
  3. svedaja, makhluk hidup yang mengeluarkan keringat,
  4. audbhija, makhluk yang muncul ke luar menembus tanah, 
Tiga tipe pertama ini terdiri atas makhluk hidup yang berupa binatang sedangkan tipe yang keempat, yakni audbhidja berupa makhluk hidup berwujud tumbuh-tumbuhan.

Pengobatan terhadap suatu vyadhi, abadha, roga atau penyakit pada umumnya mempergunakan ramuan obat yang terdiri dan bahan makhluk hidup, baik yang berasal dan binat ang jarayuja, andaja, svedaya maupun yang berasal dan audbhidja atau tumbuh-tumbuhan.



Selain itu ada lagi bahan ramuan obat yang bahannya berasal dan makhluk tidak hidup yakni yang berasal dan perthivi atau tanah, termasuk logam dan mineral (dhatu dan upadhatu).


Ada pula yang membagi bahan ramuan obat ini atas:

  1. sthavara (benda yang tidak bergerak, termasuk tumbuh-tumbuhan)
  2. jangama (makhluk yang bergerak, binatang). 
Sthavara dibagi lagi atas: 


  1. kanda (rimpang), 
  2. mula (akar),
  3. valkala (batang).
  4. daun,
  5. puspa (bunga), 
  6. phala (buah, termasuk biji). 
Sedangkan jangama atau binatang dibagi atas:

  1. bandhya (binatang yang dikebiri),
  2. abandhya (binatang yang beranak, tidak dikebiri),
  3. gramya (binatang jinak, peliharaan)
  4. aranya (binatang liar, tidak dipelihara).


Di dunia ini ramuan obat dapat berfungsi bermacam-macam, antara lain:

  • obat pencegahan (preventif),
  • obat menghilangkan gejala penyakit saja (simptomatik),
  • sebagai obat menyembuhkan penyakitnya (kuratif),
  • obat meningkatkan derajat kesehatan (promotif) dan
  • obat mengembalikan ke keadaan sehat seperti semula (rehabilitatif).



Bahan Ramuan Obat

Bahan ramuan obat yang berasal dari tanaman atau audbhidja, sering juga tidak dikatakan sebagai obat, tetapi sebagai sayuran (saka). Alasannya karena kebanyakan bahan ramuan obat mempergunakan bagian tumbuhan yang biasa dimakan setiap hari, dan yang terpenting tidak menimbulkan efek sampingan yang merugikan kesehatan. Mereka mengkonsumsi bahan tersebut sebagai sayur bersama derigan nasi dalam kehidupannya sehari-hari.
Bahan dan saka ini merupakan produk yang paling banyak dipergunakan dalam pengobatan Ayurveda. Bahan ramuan yang berasal dari tanaman ini dapat diambil dari :

  • akar (mula), 
  • umbi rimpang (kandha mula), 
  • batang (valkala), 
  • duri (kikasa), 
  • daun (palasa), 
  • bunga (puspa), 
  • buah (phala), dan bagian lainnya. 
Ada pula bahan ramuan yang berasal dan bagian tubuh binatang (janggama) dan ada juga sedikit yang berasal dari prthivi (tanah, logam dan mineral).
Bahan ramuan obat yang diambil dari tubuh binatang, dapat berasal dari:

  • kulit (charma), 
  • daging (mamsa), 
  • lemak (meda), 
  • tulang (asthi), 
  • sumsum (majja), 
  • tanduk (visana, srnga), 
  • kuku (nakha), 
  • empedu (rocana), 
  • darah (rakta), 
  • telur, (anda), 
  • sperma (sukra)
  • susu (ksira, payas). 
Sedangkan bahan ramuan obat yang berasal dari prthivi, di antaranya yang paling sering dipergunakan adalah sejenis logam (dhatu) tertentu, seperti :

  • emas (svarna), 
  • perak (tara), 
  • tembaga (tamra), 
  • timah (vanga), 
  • kuningan (kamaya), 
  • besi (loha), 
  • air raksa (rasa, parada)
bahan non-logam (upadhatu) seperti:

  • belerang (gandhaka), 
  • garam laut (samudra), 
  • garam batu karang (saindhava) dan sebagainya.

Bahan ramuan obat yang berasal dan tanaman (audbhidja), sering juga tidak dikatakan sehagai obat, tetapi sebagai sayuran (saka) Alasannya karena kebanyakan bahan ramuan obat mempergunakan bagian tumbuhan yang biasa dimakan sehari-hani. Bahan dan saka ini merupakan produk yang paling banyak dipergunakan dalam pengobatan Ayurveda Bahan rarnuan yang berasal dari tanaman.


Di Bali, masyarakat sudah terbiasa memberikan bumbu pada sayuran, makanan serta lauk pauknya, bumbu yang berasal dan berbagai jenis daun-daunan dan babungkilan / rimpang yang dicampur menjadi satu, setelah ditumbuk haltis.

Menurut Lontar Dharma Caruban, bumbu yang terkenal adalah base gede atau basa genep, yang terdiri atas bawang merah, kesuna isen/lengkuas, kunyit/ kunir, jahe, cekuh/kencur, disertai cabai, terasi, gamongan, bangle, cabai rambat/tabia bun, jangan ulam, jebug garum, kemiri dan garam. Semua bahan ini ditumbuk halus, kemudian dicampur dengan bahan pokok.

Beberapa macam olahan yang dikonsumsi masyarakat Bali dapat berbentuk

  • sayuran, sambal, sate, lawar (dengan bumbu menica, ginten, kemiri, cabai, kesuna, ketumbai terasi, lengkuas, garam), 
  • urutan (usu muda babi diisi daging dan lemak dipotong-potong diberi bumbu bawang jahe, lengkuas, kencur, ketumbar, sera/ terasi, dan cabal, kern udian digoreng), 
  • brengkes (daging sapi dipotong-potong dengan bumbu bawang merah, kesuna, kencur, kemiri, ketumbar, merica, ginten, jahe, bangle, terasi, cabai, garam dan minyak kelapa, dibungkus daun pisang, dipanggang, jika dipergunakan daging babi, bumbunya tanpa diisi ginten dan bangle; bila membuat brengkes ikan Ide, atau ikat laut, bumbunya berupa bawang merah, kesuna / bawang putih, cabai, garam dan minyak kelapa), 
  • lempet (otak dicampur daging, tulang muda, dengan basa gede, ditumbuk, dibungkus dengan daun pisang seperti pes, dipanggang),
  • tum (sama seperti brengkes),
  • gubah (bahan berupa kulit binatang yang masih lemaknya, diurap dengan kunir dan garam, digoreng setengah matang, dicampur bumbu, dikeringkan, jadilah dendeng), 
  • timbungan (bahannya terdiri dari tulang yang masih ada dagingnya, diberi bumbu : bawang merah, kesuna, gamongan, kemiri, santen, terasi, kencur; bangle, lengkuas, ketumbar, merica, garam, ditambus (dimasukkan ke dalam abu panas atau bara api) dalam bambu muda, atau direbus dalam air), 
  • oret, semuuk, kekomoh, bumbu betutu, bumbu guling, sambel, jejaton, dan berbagai jenis jukut/sayuran. 

Inilah bahan bumbu masakan Bali yang berasal dan berbagai babungkilan atau rimpang jahe, kencur, lengkuas, kunir, serta umbi bawang, kesuna, buah kemiri, cabai, merica serta garam (mineral) yang biasa dikonsumsi oleh penduduk Bali pada umumnya.

Bahan ini merupakan ramuan obat untuk penangkal penyakit yang secara disengaja atupun tanpa disadari dikonsumsi oleh masyarakat Bali hampir setiap hari. Bila dibandingkan dengan makanan Barat akan lain sekali bumbu masakannya. Bumbu dan makanan Barat, dimana bumbunya didominasi oleh merica, garam, cuka dan kecap atau saus (cabe, tomat, dan buah-buahan lainnya), tanpa menyertakan babungkilan atau nimpang. Selain berasal dan tanaman, ada pula bahan ramuan obat yang berasal dan bagian tubuh binatang (janggarna) dan adajuga sedikit yang berasal dan prthivi (tanah, logam dan mineral).

Di dalam kitab Ayurveda ada ribuan banyaknya bahan ramuan obat yang ditulis di dalam kitab tersebut. Tentu tidak mungkin diulas semuanya secara detail. Yang akan dibicarakan hanyalah beberapa bahan ramuan yang mudah dicari dan ada di Indonesia. Selain itu mungkin dapat dimanfaatkan untuk mencegah timbulnya penyakit atau preventif maupun simptomatik. Sedangkan bahan ramuan obat yang menyangkut pengobatan atau kuratif, karena terlalu banyak, serta sulit dikenal dan dicari, maka akan dibahas sepintas yang dianggap perlu saja.

Dravya
Kata dravya bermakna materi atau benda. Dalam hal ramuan obat, pengertian dravya meliputi juga bahan atau materi dan obat. Menurut Ayurveda, obat atau dravya dibagi atas duá jenis, yakni :

  1. Vyakta, yang tampak (obat skala) dan
  2. Avyakta, yang tidak tampak (obat niskala).

Materi atau dravya ini menjadi tampak atau vyakta setelah melalui proses yang disebut panci karana (kombinasi dan panca mahabhuta dan panca tanmatra, lima unsur kasar dan halus). Tampak adanya proses panci karana ini maka vyakta dravya ini kurang lengkap di dalam berbagai kepustakaan yang telah ditelusuri. Mungkin bahan obat yang mengandung unsur panca tanmatra dinamakan obat vyakta dravya, obat yang halus, tidak tampak.

Berdasarkan atas unsur panca mahabhuta (lima unsur kasar, yang tampak, vyakta) yang mendominasi materinya, vyakta dravya terbagi atas lima tipe. Kelima tipe tersebut adalah:

  1. parthiva, 
  2. apya, 
  3. taijasa, 
  4. vayvya 
  5. akasiya vyaktadravya. 

Di samping itu tendapat pula berbagai variasinya.
Variasi ini muncul oleh karena bahan tersebut tercampur dengan unsur panca mahabhuta yang lain dan ada salah satu bhuta yang mendominasinya. Contohnya amat banyak, seperti ramuan audbhidja, jangama, vamana, virecana, samgrahi, brmhana, sammana, dipana, balya, pacang dravya.
Kelima tipe vyakta dravya yang materinya didominasi unsur panca mahabhuta (perthivi, apah, teja, vayu, akasa) adalah:

Parthiva Dravya
Obat yang termasuk tipe parthiva dravya (mungkin lebih tepat disebut parthiva vyakta dravya) bentuknya padat. oleh karena didominasi oleh unsur perthivi (bumi, tanah) dan panca mahabhuta. Pada umumnya ramuan jenis ini memiliki sifat guna gura (berat), sthira (stabil, mantap), sthula (kasar), dan mempunyai kelebihan dibandingkan ramuan obat lainnya dalam hal gandha atau bau. Obat tipe ini dapat berfungsi untuk menambah berat badan, memantapkan atau menstabilkan serta mengompakan (mamadatkan) dan memontokkan tubuh.

Ramuan obat yang tergolong dalam tipe parthiva dravya adalah : mrt (lumpur), sudha (kapur), sarkara (pasir), asman (batu), lavana (garam), kuta sarkjara (batu alkali yang diperoleh dari dalam gua), anjana (kolirium), gairika (oker merah), loha (logam besi), vimala (semacam pirite), kancana (emas), rasa (air raksa), Uparasa, kapala (pecahan periuk tanah), mukta (permata) dan batu mulia.

Apya Dravya
Ramuan obat apya dravya bentuknya cair, karena didominasi oleh apah atau jala (air) dan panca mahabhuta. Ramuan ini mempunyai sifat guna sita (dingin), guru (berat), snigdha (lembut, berminyak), lembam, pekat dan memiliki kelebihan dalam hal rasa atau kecap. Obat ini dapat mengakibatkan badan berminyak, abhisyandi (menyumbat saluran sirkulasi), kleda (bergetah, lengket), prahlada (bahagia) dan bandha (perlekatan penyatuan).

Taijasa Dravya
Ramuan obat taijasa dravya ini memiliki guna raksa (tak berminyak), tiksna (tajam), visada (tak licin), suksma (halus) dan mempunyai kelebihan dalam hal rupa atau varna. Obat ini didominasi oleh unsur teja (sinar, suhu) atau agni (api) dan panca mahabhuta. Obat jenis ini dapat menyebabkan rasa terbakar, bha (aura) dan memberikan corak tertentu pada tubuh.

Vayvya Dravya
Ramuan obat vayvya dravya didominasi oleh unsur vayu (angin, udara, gas) dan panca mahabhuta. Obat ini memiliki guna raksa (tak berminyak), visada (tak licin), laghu (ringan) dan memiliki kelebihan dalam sparsa atau raba.
Obat ini berkhasiat untuk menimbulkan kekasaran atau kekasatan, mendinginkan, bergerak dan glani (merasa lelah tanpa kerja).

Akasiya Dravya
Ramuan obat jenis akasiya dravya didominasi oleh unsur akasa dan panca mahabhuta. Obat tipe ini memiliki guna:

  • suksma (halus), 
  • visada (tak licin), 
  • laghu (ringan). 

Dan memiliki kelebihan dibandingkan dengan ramuan tipe dalam hal sabda, bunyi atau suara. Obat ini berkhasiat dalam penyerapan atau perembesan (penyebaran) dan dapat meringankan tubuh.


Prinsip pengobatan dalam Ayurveda adalah menyeimbangkan kembali unsur tri dosha (vatta, pitta, kapha) yang terganggu di dalam tubuh manusia dengan cara mernasukkan unsur dan luar tubuh. Unsur dan luar itu dapat diambilkan dan binatang, tumbuhtumbuhan atau bahan yang berasal dan bumi. Sebab bahan pembentuk tubuh manusia sama dengan bahan pembentuk tubuh binatang, tumbuh-tumbuhan dan bumi. Bahan pernbentuknya itu adalah sama, yakni terdini dan kelima unsur panca mahabhuta, yakni

  • akasa - hampa  
  • teja - sinar/api/panas
  • vayu - udara/gas
  • apah - air/zat cair 
  • perthivi - tanah/mineral

Bahan ramuan obat yang dipergunakan untuk mengobati orang yang sakit diperoleh terutama dan makhluk hidup, eperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, serta makhluk yang tidak hidup yang berasal dan bumi termasuk air. Bahan ramuan ini sebelurn diberikan kepada pasien ada yang mengalami pemrosesan terlebih dahulu, tetapi ada juga yang dapat dipergunakan langsung tanpa memerlukan pengolahan.


Di dalam kitab Ayurveda ada nibuan banyaknya bahan ramuan obat yang ditulis di dalarn kitab tersebut. Tentu tidak mungkin diulas semuanya secara rinci atau detil. Yang akan dibicarakan hanyalah beberapa bahan ramuan yang mudah dicari dan ada di Indonesia. Selain itu mungkin dapat dimanfaatkan untuk mencegah timbulnya penyakit, sebagai bahan preventif maupun simptomatik (menghilangkan gejalanya saja). Sedangkan bahan ramuan obat yang rnenyangkut pengobatan atau kuratif, karena terlalu’ banyak serta sulit dikenal dan dicari, maka akan disinggung sepintas yang dianggap perlu saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar