Google+

Ki Pasek Gobleg Berhasil Membujuk Danghyang Wiragasandi

Ki Pasek Gelgel (Ki Pasek Gobleg) Berhasil Membujuk Danghyang Wiragasandi, Sehingga Membatalkan Rencananya Kembali ke Jawa.


Ki Pasek Gelgel alias Ki Pasek Gobleg kepada Dewa Kayuputih daerah Buleleng, berhasil membujuk Danghyang Wiragasandi putra sulung dari Danghyang Nirartha untuk membatalkan niatnya kembali ke Jawa. Hal ini dilakukan oleh Danghyang Wiragasandhi, akibat terjadi perselisihan dengan Dalem Gelgel, dan kemudian Danghyang Wiragasandhi meninggalkan Gelgel hendak kembali ke Jawa. 

Di dalam perjalanannya, beliau melewati hutan lebat di pegunungan Pulau Bali. Entah berapa lama perjalanannya bersama anak istri, pada suatu hari Danghyang Wiragasandhi sampai di desa Kayuputih, Buleleng. Tatkala itu yangberkuasa adalah Ki pasek Gelgel dan dengan senang hati menerima Danghyang Wiragasandhi bersama keluarganya. Seterusnya Danghyang Wiragasandhi dipersilahkan beristirahat di rumah Ki Pasek Gelgel dan disampingnya disediakan tempat bermalam, juga dijamu serta disuguhkan makanan dan minuman, layaknya seorang tamu, lebih-lebih sebagai sulinggih. Apalagi Ki Pasek Gelgel dapat memahami, bahwa keadaan Danghyang Wiragasandhi bersama anak istrinya cukup lelah.


Di sana Ki Pasek Gelgel dengan hormat dan sopan santun bertanya siapa nama, dari mana, dan hendak kemana sang panditha bersama anak istrinya. Dijawab oleh Danghyang Wiragasandhi bahwa beliau adalah putra sulung dari Danghyang Nirartha. Beliau berasal dari Gelgel dan dalam perjalanan menuju Jawa. Hal ini diakibatkan terjadinya perselisihan dengan Dalem Gelgel, sebab itu beliau merasa tidak berguna lagi tinggal di Bali. Lalu Ki Pasek Gelgel meminta maaf, dan momohon kepada Danghyang Wiragasandhi berkenan tetap tinggal di Desa Kayuputih dan membatalkan niatnya pulang ke Jawa. Nanti rakyat desa Bangkangan, Banyuatis dan Kayuputih yang menghormatinya. Untuk tempat tinggal Danghyang Wiragasandhi bersama keluarga, Ki Pasek Gelgel menyerahkan rumahnya, dan dijawab oleh Dang Hyang Wiragasandi bahwa beliau tidak berani menolak permohonan Ki Pasek Gelgel, apalagi beliau sudah berutang budi kepada Ki Pasek Gelgel yang telah menerimanya dan menjamunya.

Namun ada permintaan Dang Hyang Wiragasandi, yaitu demi keselamatan beliau bersama Ki Pasek Gelgel, supaya keberadaan beliau di desa Kayuputih dipermaklumkan oleh Raja Buleleng sebagai guru wisesa di daerah itru. Besok paginya Ki Pasek Gelgel berangkat ke Singaraja lalu menghadap Raja Buleleng yang sedang dihadap para Bahudandanya. Di sana Ki Pasek Gelgel dipermaklumkan kepada raja Buleleng, bahwa sekarang di desa Kayuputih ada Dang Hyang Wiragasandi bersama keluarganya dan peristiwa seluruhnya dari awal sampai akhir telah dipermaklumkan sampai rinci. Raja Buleleng memerintahkan Ki Pask Gelgel supaya selalu menjaga keselamatan Dang Hyang Wiragasandi, karena tidak sampai lewat dari esok harinya Raja Buleleng akan datang ke desa Kayuputih untuk menemui Dang Hyang Wiragasandi.

Esok harinya Raja Buleleng berangkat menuju desa Kayuputih dan setibanya di sana terus menuju penginapan Dang Hyang Wiragasandi. Begitu Dang Hyang Wiragasandi melihat kedatangan Raja Buleleng I Gusti Panji Sakti, lalu beliau turun dari tempat duduknya. Dang Hyang Wiragasandi memperlihatkan sikap hormatnya dengan mengelu-elukan kedatangan Raja Buleleng. Lalu dengan sopan dan kata-kata manis Dang Hyang Wiragasandi menyambut kedatangan Raja Buleleng, bahwa beliau merasa sangat berbahagia atas kedatangan Baginda Raja Buleleng. Dijawab oleh I Gusti Panji Cakti dengan diawali dengan permohonan maaf, dengan mengatakan kedatangannya tidak lain karena ada permakluman dari Ki Pasek Gelgel kepadanya tentang Sang Pandita ada disini dalam perjalanan ke Jawa. Selanjutnya Raja Buleleng meminta Dang Hyang Wiragasandi agar tetap tinggal di desa Kayuputih dan berkenan menerima keadaan seperti itu baik suka maupun duka. Ditambahkan oleh Raja Buleleng, bahwa beliau ingat tentang kisah kedatangan Dang Hyang Wiragasandi bersama saudara-saudaranya dulu. Tujuannya tidak lain untuk menajalankan dharma kawikon demi kesucian Pulau Bali.

Seterusnya Raja Buleleng meminta kepada Dang Hyang Wiragasandi bersedia menjadi Bhagawanta Kerajaan Buleleng. Lalu dijawab oleh Dang Hyang Wiragasandi, bahwa beliau meminta maaf yang sebesar-besarnya tidak dapat memenuhi permintaan Raja Buleleng, karena beliau merasa berhutang budi kepada Ki Pasek Gelgel yang telah banyak membantu dirinya beserta anak-anaknnya. Ditambahkan pula bahwa Dang Hyang Wiragasandi merasa sangat berhutang budi atas kerelaan Ki Pasek Gelgel dan beliau menyatakan, bahwa beliau akan tetap tinggal di Desa Kayuputih. Seterusnya Dang Hyang Wiragasandi menyatakan bersedia menjadi Bhagawanta Kerajaan Buleleng, dan sewaktu-waktu apabila diperlukan beliau bersedia datang ke Buleleng. demikianlah pembicaraan antaraRaja Buleleng dengan Dang Hyang Wiragasandi. Kemudian Raja Buleleng kembali ke Singaraja, dan sejak itu Dang Hyang Wiragasandi bersama keluarganya tinggal di desa Kayuputih. Adapun Dang Hyang Wiragasandi berputra empat orang laki-laki yaitu:
  • Padanda Cakti Bukian,
  • Padanda Cakti Ngurah Pamade,
  • Padanda Cakti Kemenuh, dan
  • Padanda Cakti Bukit.
Adapun Raja Mengwi bergelar Cokorda Cakti Belambangan ingin mengangkat Bhagawanta dari warga keturunan Brahmana Kamenuh, lalu datang menghadap Raja Klungkung I Dewa Agung Jambe, mohon seorang Brahmana Kamenuh untuk diangkat menjadi bhagawanta. Dijelaskan oleh I Dewa Agung Jambe, bahwa warga Bahmana Kamenuh tidak masih ada di Klungkung, tapi konon ada di Buleleng. Apabila ingin bertemu dengan warga Brahmana Kamenuh disarankan agar datang ke Buleleng.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar