Google+

Puri Bun diserang Mengwi

Puri Bun diserang Mengwi

Diceriterakan sekarang, tidak begitu lama keadaaan ini aman, kemudian tiba masa Kalisengara – kekacauan, dan ternyata marah besar Ida Cokorda Mayun di Mengwi berkehendak menyerang I Dewa Karang yang ada di Puri Mambal.

Karena demikian didengar oleh I Dewa Karang, beliau berbincang dengan ipar beliau di Puri Bun. 
Setelah selesai bertukar pikiran, maka kembali pulang dengan tidak merasa sak wasangka lagi. 

Singkat ceritera, pasukan Mengwi sudah datang menyebabkan penuh sesak mengitari. Puri di Mambal sudah dipenuhi oleh para putra Mengwi, dipimpin oleh Cokorda Mayun. Setelah dikelilingi puri Mambal itu, sangat duka hati I Dewa Karang, kemudian keluar ke depan Puri itu. Yang sebenarnya diandalkan oleh Puri Mengwi hanyalah pasukan dari Bun. Dan yang ternyata mengitari Puri I Dewa Karang juga hanya pasukan Bun. Karena itu I Dewa Karang dapat disembunyikan oleh Pasukan Bun di tengah-tengah mereka. Menjadi takjub pasukan Mengwi, heran dengan kesaktian I Dewa Karang, yang hilang tidak ada di Puri, karena sudah diungsikan – diamankan oleh pasukan Bun. Itu sebabnya pulanglah pasukan Mengwi tanpa hasil. I Dewa Karang kemudian mencari saudaranya yang berdiam di Banjar Tegal wilayah Tegalalang yang bernama I Dewa Bata.

Sesudah lama, tahulah Ida Cokorda Mayun akan tipu muslihat I Gusti Ngurah Made Bun, yang menyebabkan hilangnya I Dewa Karang karena dipakai menantu oleh Anglurah Bun. Penguasa Mengwi kemudian menyuarakan kentongan agung , serta kemudian berangkat Cokorda Mayun beserta balanya semua, akan merusak dan merebut Kyai Anglurah Bun. Bila saja berani dalam medan perang, akan dihabiskan sampai anak cucu Anglurah Bun.


Singkat ceritera, pasukan Mengwi semuanya sudah berangkat menuju Puri Bun. Sesampainya di Bancingan Puri Bun, kaget Kyai Ngerurah kemudian memukul kentongan bertalu-talu, serentak rakyatnya semua laki maupun perempuan membawa senjata. Di sana kemudian berkecamuklah perang itu, saling amuk, setapakpun tidak mundur, bersorak saling ejek saling tantang , saling tusuk, saling penggal, saling banting, sama-sama tidak mengenal mana kawan mana lawan, sehingga kemudian peperangan itu sampai ke Puri Bun. Tak dinyana kemudian Cokorda Mayun, sebagai pucuk pimpinan pasukan Mengwi wafat, dapat ditusuk oleh Kyai Nglurah Bun. 

Serta kalahlah pasukan Mengwi. Jenazah Cokorda Mayun, diceriterakan masih di Bun. Kemudian banyak rakyat Mengwi yang masih hidup, kembali ke Mengwi, ada yang langsung menghadap I Gusti Agung Made Munggu, adik Ida Cokorda Mayun yang wafat di Bun. Itu sebabnya murka I Gusti Agung Made Munggu, seraya memerintahkan semua anggota keluarganya untuk menyerang Anglurah Bun. Kemudian berangkat bala pasukan Mengwi dari Munggu dan Mengwi seraya membawa senjata. Di Lambing para putra Mengwi mengadakan pembicaraan. 
Kesimpulan pembicaraan itu, pasukan akan dibagi dua. 

  • Dari barat, sebagai pimpinan pasukan I Gusti Agung Made Kamasan dari Sibang serta I Gusti Agung Jlantik dari Penarungan, 
  • dari utara, bala pasukan di sana mengiringi I Gusti Agung Made Munggu.

Singkat ceritera Kyai Ngerurah Bun Pinatih sudah mendengar rencana balas dendam dari Puri Mengwi, jelas akan mendatangkan bala pasukan dalam jumlah yang besar. Kalau dihadapi jelas akan kalah. Kemudian beliau berpikir untuk tidak melawan, serta bersiap untuk meninggalkan puri, mengungsi ke wilayah Badung, bersama dengan anak cucu, besar kecil, serta rakyat semuanya, dengan mengusung Bhatara Kawitan semuanya seperti Siwapakaranaan serta pusaka I Keborojaya beserta I Baru Upas.

Setibanya di Badung kemudian menuju Taensiat, rakyat beliau ditempatkan di Banjar Bun serta Banjar Ambengan. Ada yang beralih menuju Angabaya, Jagapati , Angantaka, Sibang, Paguyangan. Ada yang mengungsi ke wilayah Pagutan, Negara, Pagesangan, Tamesi . Ada ke Tagtag Negara, Pangrebongan bersama I Gusti Tangeb, I Gusti Meranggi. I Gusti Meranggi pindah ke wilayah Sarimertha. 

Diceriterakan sekarang di Puri Bun, karena semua penduduk di sana mengungsi ke wilayah Badung, maka keadaan di sana menjadi sunyi , tak ada seorangpun yang kelihatan lewat. Setibanya pasukan Mengwi di tempat itu, maka dilakukan penyerobotan, dijarah semua milik Puri Bun serta milik rakyat di sana. Sisa penjarahan adalah purinya, wantilan, merajan, poura dan juga ada perumahan rakyat , semuanya dibakar habis diratakan sama sekali. Jenazah Cokorda Agung Mayun yang meninggal dan tertinggal di Puri Bun kemudian diambil dibawa pulang ke Mengwi.

Kembali diceriterakan I Gusti Ngurah Bun di Taensiat, para putra beliau sekarang ada yang pindah ke desa-desa lainnya, seraya memohon diri kepada ayahnya, seperti:

  • I Gusti Bun Sayoga ke Sigaran Mambal, 
  • I Gusti Ngurah Alit Padang, mengungsi ke Karangasem, bertempat tinggal di Desa Padangkertha. 
  • I Gusti Ngurah Teja, mengungsi ke Denbukit. 
  • I Gusti Teja – namanya sama dengan nama ayahnya , di Dawan Banjar, 
  • I Gusti Demung menuju Timbul, Sukawati. 
Ayahnya I Gusti Ngurah Made Bun kemudian berpuri di Taensiat. 


Diceriterakan I Dewa Karang berpuri di Banjar Tegal, beliau senang melakukan persembahyangan, di sana di Dalem Pamuwusan namanya. Kemudian ada anugerah Ida Sanghyang Widhi, beliau mendapatkan anugerah senjata dua buah. Itu sebabnya sangat suka cita I Dewa Karang, sangat percaya diri di hatinya .
Karena itu beliau bermaksud untuk mencari I Gusti Ngurah Made Bun di Puri Taensiat, agar turut serta berpuri di Banjar Tegal. 

Singkat ceritera, sangat senang hati I Gusti Ngurah Made Bun, demikian juga I Dewa Karang kemudian berjalan diiringi rakyatnya semua dengan membawa perlengkapan menuju Alas Kawos, namun putranya yang bernama I Gusti Ngurah Putu Wija diangkat atau kadharma putra oleh Kyai Pamecutan, kemudian bernama I Gusti Ngurah Pamecutan, berdiam di Taensiat Pamecutan. 
Kemudian diceriterakan I Dewa Karang dan I Gusti Ngurah Made Bun bersama tempat tinggalnya kemudian menuju desa Kengetan.

Diceriterakan I Gusti Wirya yang bertempat tinggal di Kengetan, dan juga di desa Singakertha, ditantang oleh I Dewa Karang dan I Gusti Ngurah Made Bun untuk berperang tanding. Akhirnya seperti keder hati I Gusti Wirya di Kengetan, kemudian beralih tempat semuanya serentak membawa perlengkapan di saat malam menuju ke desa Sigaran terus ke Melanjung.

Sejak itu kemudian Desa Kengetan, Jukutpaku serta Singakertha, dikuasai oleh I Dewa Karang. Karena keberhasilan itu , kemudian I Dewa Karang beserta I Gusti Ngurah Made Bun membuat puri di Karang Tapesan sampai kapada rakyatnya semua.

Entah berapa masa sudah berpuri di sana, ada usulan dari I Gusti Ngurah Made Bun agar membangun Puri yang baik dan indah, sebab keadaan sudah membaik, terus dinamai wilayah Negara. I Gusti Ngurah Made Bun membangun Puri dinamai Puri Negari.

I Dewa Karang mempunyai janji dengan I Gusti Ngurah Made Bun agar bersuka duka berdua, dan semoga terus sampai ke keturunan nantinya. Demikian inti perbincangan I Dewa Karang serta I Gusti Ngurah Made Bun, semuanya merasa suka cita.

Diceriterakan Ida Peranda Nyoman Padangrata, yang pernah menjadi pendeta atau Bagawanta Ida Ngrurah Bun sudah berpindah dari wilayah Bun, diikuti oleh putra serta isteri menuju desa Kutri, sewilayah dengan Negara. Banyak rakyat I Dewa Karang ada di Kutri diberikan kepada Ida Peranda. D

Dilanjutkan sekarang putra I Gusti Ngurah Made Bun di Negari sudah semua diandalkan oleh I Dewa Karang yang berkuasa di Negara. Putra I Gusti Ngurah Made Bun yang paling sulung bernama I Gusti Ngurah Gde Bun atau I Gusti Ngurah Mawang berpuri di Negari, I Gusti Ngurah Anom Angkrah di Banjar Tunon, I Gusti Ketut Alit Bija bertempat tinggal di Kutri , I Gusti Ngurah Tangeb masih di Mawang, serta wanita I Gusti Ayu Oka juga di Negari. Semuanya memiliki jiwa keperwiraan masing-masing Demikian keadaannya.

Diceriterakan sekarang yang menjadi penguasa wilayah Gianyar bernama Ida I Dewa Manggis, memberi perintah kepada I Dewa Karang agar para putra Anglurah Bun Pinatih menjadi pengokoh wilayah Gianyar, paling utama mengawasi Tegal Pangrebongan. Kesimpulan perbincangan itu agar putra Ngrurah Bun yang bernama I Gusti Ngurah Tangeb, yang memang keturunan Pinatih, itu yang mengawasi di Pangrebongan, diberikan rakyat 200 orang . Demikian dicatat di Pariagem

Juga diceriterakan Ida Bang Pinatih memiliki keturunan yang bernama Mangurah Guwa dan Mangurah Campida. Keduanya, ketika masa kerajaan Gelgel atau Sweca Linggarsa Pura, ada di lingkungan Ida Dalem. Namun ketika masa pemberontakan I Gusti Agung Maruti, terjadi huru hara, maka sanak keturunan beliau berdua meninggalkan Gelgel, ke arah timur perjalanannya, serta kemudian berdiam di desa Gunaksa. Di sana membangun kahyangan dinamai Pura Guwa. Tujuannya agar diketahui oleh keturunannya sebagai warga keturunan Mangurah Guwa. Demikian tercatat di dalam prasasti, tentang keadaan Sira Mangurah Guwa.

Diceriterakan juga di kemudian hari mendapatkan panjang umur keturunan Mangurah Guwa, ada yang pindah ke desa Timhun, sanak saudara yang lain menuju desa Aan. Ada juga yang meninggalkan desa Gunaksa menuju desa Akah, Pagubungan, Manduang serta Nusa Panida.

Demikian dahulu kisahnya Mangurah Guwa dan Mangurah Campida.

Dan demikian pula kisah tentang keberadaan sanak keturunan Ida Wang Bang Banyak Wide yang kemudian menjadi warga Arya Bang Pinatih di seluruh pelosok Pulau Bali .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar