Google+

Gede Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender dalam Geguritan Basur

Gede Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender dalam Geguritan Basur

sebagian cerita, Gede Basur dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. 
Penggabungan ini akan makin kompleks jika seorang pengarang memiliki kemauan, kemampuan, penghayatan terhadap persoalan-persoalan yang menyebabkan sebuah karya sastra itu lahir. 
Karya sastra bukanlah lahir dari sebuah kekosongan. Ia berbicara dan menyuarakan masyarakat yang ingin diejawantahkan oleh seorang penulis. Bahasa sebagai sarana untuk merefleksikan persoalan-persoalan sosial yang mengusik seorang penulis. Apalagi sastrawan sekaliber Ki Dalang Tangsub yang karyanya sudah membumi bahkan terkadang tanpa disadari dilantunkan atau dikutip dalam setiap pembicaraan adalah hasil renungan Ki Dalang Tangsub.

Sebuah karya sastra akan bisa eksis hidup jika mampu menyuarakan problematika yang dihadapi masyarakat pada zamannya. Problematika-problematika ternyata ada benang merahnya dengan problematika yang dihadapi masyarakat dalam kekinian. Masa ini tidak bisa dilepaskan oleh masa lalu. Pengarang lewat karyanya bisa mengatasi sang waktu. Artinya, karyanya tidak lekang oleh waktu. Ia akan terus berbicara selama manusia ingin menggali yang terdapat di dalamnya. Nilai-nilai inilah yang perlu direnungi diresapi, dihayati sehingga karya sastra itu berguna dan bermanfaat bagi kehidupan.

Salah satu yang unik dalam Geguritan Basur ini adalah Ki Dalang Tangsub berkeinginan menyuarakan perempuan. Konsep, ide, gagasan, cita-cita, dan cinta dalam diri seorang tokoh Garu-lah itu diwakilkannya. Perempuan yang tidak boleh diremehkan lagi. Perempuan yang pemberani, tegas, dan tegar dalam menghadapi cibiran dalam masyarakat. Tokoh yang menentang sebuah hegemoni yang diciptakan seorang pria, Gede Basur. Hegemoni Basur berusaha mendominasi, memengaruhi Garu agar menerima segala nilai-nilai moral dan budaya dalam dirinya. Akan tetapi, Garu tetap pada sikapnya bahkan berani melakukan perlawanan.


Eksistensi Garu

Keberadaan Garu dalam Basur menarik diperbincangkan. Lebih-lebih tokoh Garu sebagai simbolis perlawanan terhadap hegemoni pria. Suwardi Endraswara (2008 : 143) mengatakan bahwa hampir seluruh karya sastra, baik yang dihasilkan oleh penulis pria maupun wanita, dominasi pria selalu lebih kuat. Figur pria terus menjadi the authority, sehingga mengasumsikan bahwa wanita adalah impian. Wanita selalu sebagai the second sex, warga kelas dua dan tersubordinasi. Ki Dalang Tangsub ternyata berbeda dengan pernyataan di atas. Karya sastra klasik berupa Geguritan Basur ternyata ingin mengukuhkan bahwa wanita tidak selalu berada di bawah bayang-bayang pria. Wanita bisa menunjukkan eksistensinya yang sama dengan laki-laki bahkan melebihi kemampuan laki-laki.

Garu dihadirkan oleh Ki Dalang Tangsub dalam pengembangan tokoh-tokohnya dengan segala tingkah polahnya serta perwatakannya. Tokoh perempuan sebagai petunjuk bahwa tokoh Garu layak mendapatkan perhatian bagi pecinta sastra. Ia seorang tokoh yang mampu mengalahkan Basur. Kemampuan, intelektualitas seorang perempuan wajar diperhitungkan. Perempuan tidak lagi berada di samping pria. Perempuan mampu bersaing dengan pria dan bisa berada di depan pria. Ia bisa menjadi pemimpin golongan pria.

Dalam konteks Geguritan Basur, Garu bukanlah seorang perempuan untuk direndahkan harkat dan martabatnya. Garu membuktikan bahwa dirinya mengatasi pria. Karena pada masa-masa Ki Dalang Tangsub berkarya, pangeleakan amat menonjol, maka ilmu itulah sebagai sarananya. Di samping menunjukkan kepada khalayak bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik pria. Dominasi pria tidak berlaku dalam diri Garu. Garu bukan perempuan yang bisa diarahkan atau diatur oleh pria. Garu adalah Garu yang menyuarakan isi hatinya dan mewujudkan impiannya agar bisa mengalahkan pria. Pria tidak ada hak untuk memenjarakan keinginan, harapan, dan idealismenya sebagai perempuan. Garu ingin membahasakan bahwa ia seorang perempuan yang mempunyai hak untuk berbahasa. Bahasa perempuan pada hakikatnya adalah sebuah wacana sebagai sistem representasi, yakni cara mengatakan, cara menuliskan, atau membahasakan peristiwa, pengalaman, pandangan, dan kenyataan hidup tertentu. Bahasa perempuan selalu mempresentasikan model pandangan hidup tertentu, yakni gambaran sebuah konstruksi dunia yang bulat dan utuh tentang ide hidup dan kehidupan yang sudah ditafsirkan dan diolah oleh perempuan (Anang Santosa, 2009: 23). Perempuan dalam konteks Basur bermaksud agar suaranya didengar, dirasakan, dihayati oleh kaum pria. Artinya, perempuan tidak hanya bersikap menerima saja yang sudah diatur, diarahkan oleh pria.

Asal-usul Garu

Garu, anak dari I Wayan Subandar. Jika ditilik dari segi nama ayahnya, Subandar mengilustrasikan bahwa ayahnya seorang saudagar. Artinya, dari segi perekonomian lebih baik atau minimal seimbang dengan I Gede Basur. Meski tidaklah sepenuhnya benar nama ini berkaitan dengan latar belakang ekonominya. Paling tidak seorang penulis cerita akan memikirkan nama tokoh yang secara tidak langsung berkaitan dengan perekonomiannya. Contoh lain, misalnya pemberian nama I Sugih teken I Tiwas (Si Kaya dan Si Miskin). Pengarang sebelum menuliskan nama tokohnya melakukan observasi kecil sehingga tepat sesuai dengan yang dijadikan tokoh.

Tokoh Garu sebagai perempuan yang pemberani. Ia keluar dari kebiasaan-kebiasaan umumnya seorang perempuan. Keberaniannya menyampaikan isi hatinya perlu mendapatkan acungan. Ia tidak berkeinginan menjadi perempuan yang pasif, pendiam, bersifat menerima. Obsesinya teramat tinggi. Kesempatan baginya tidak akan datang dua kali. Gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya. Garu mengetahui kebingungan seorang pria (I Tigaron) yang isi hatinya tidak terpenuhi. Wajarlah Garu mendekatinya. Garu seorang perempuan yang keluar dari jalur kebiasaan umum. Garu menyadari sikapnya itu tidak akan berterima dalam masyarakat dan wajar masyarakat menilainya negatif. Garu berbeda dari koridor kesepakatan. Sesuatu yang berbeda terkadang dianggapnya melawan arus.

Garu berani menunjukkan bahwa perempuan berhak menyuarakan isi hatinya: 
Tigaron sedekan bungsang, yeh matane paturibis, Ni Garu galak matakon, nguda beli nyakit kayun, matangi beli ngajengang, titiang mai, apti magrereh idewa 
(Tigaron saat bingung, air matanya merembes, Ni Garu galak bertanya, mengapa kakak sakit hati, bangunlah kakak makan, aku datang, untuk mencari engkau). 
Keberanian Garu untuk bersuara bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh seorang perempuan. Garu keluar dari koridor umum yang menyatakan bahwa perempuan mestinya berbicara halus, pelan, dan menyembunyikan isi hatinya, tetapi Garu tidak bersepakat dalam konteks itu. Ia ingin berbeda dan ingin menyampaikan kekhasan yang dimilikinya yang tentu saja akan berbeda dengan yang sudah disepakati. Konsekuensi dari sebuah ketidaksepakatan adalah akan dipandang remeh atau merendahkan dirinya di hadapan seorang pria. Garu tidak sepakat dengan hal itu. Perempuan juga sama dengan pria yang berhak untuk berbicara dan menyuarakan yang ada di hatinya. Ada perlawan terhadap kesepakatan-kesepakatan sosial kemasyarakatan. Kesepakatan-kesepakatan itu lebih banyak ditentukan oleh pria.

Perwatakan

Garu, seorang perempuan yang menurut ukuran Gede Basur kurang berkenan baik secara fisik maupun psikhis. Garu tidak hanya fisiknya yang banyak diceritakan juga perlawanan psikisnya terhadap kelakuan Gede Basur. Perempuan yang berani menentang hegemoni laki-laki. Laki-laki bukan lagi seorang yang istimewa di hadapan Garu. Laki-laki juga punya keterbatasan dan Garu mengetahui hal itu. Kesempatan yang amat baik untuk melawan hegemoni laki-laki adalah dengan meningkatkan kualitasnya salah satunya dengan menguasai ilmu pengleakan. Laki-laki tidak mampu mengalahkan seorang perempuan. Perempuan juga bisa merajai pria. Secara tersirat Garu adalah tokoh Calonarang. Ki Dalang Tangsub mentransformasikan Calonarang ke dalam tokoh Garu.

Perempuan tidak bisa diremehkan dalam penguasaan ilmu pengetahuan atau boleh dikatakan perempuan sama bahkan melebihi laki-laki. Penguasan ilmu bukan hanya milik laki-laki. Perempuan juga mampu. Hegemoni laki-laki berhak untuk dilawan. Perempuan berhak menunjukkan eksistensinya sebagai seorang yang bermartabat bukan selalu berada pada posisi tertindas dari keputusan seorang laki-laki.

Garu sebagai perempuan dapat ditemukan dalam keputusannya untuk mendalami ilmu pengleakan. Salah satu ilmu yang amat tepat digunakan oleh Ki Dalang Tangsub untuk menunjukkan bahwa perempuan tidak pantas untuk direndahkan martabatnya. Garu terus berusaha agar mampu menguasai ilmu pengetahuan. Orang yang berilmu umumnya lebih diperhatikan oleh orang lain. Ada keseganan terhadapnya karena kelebihan terhadap ilmu yang dimilikinya. Garu membuktikan bahwa dengan ilmulah ia berdiri sejajar dengan pria. Tanpa ilmu tidak akan mungkin mengalahkannya. Kualitas keilmuan akan semakin disegani jika memang benar-benar terbukti memliki ilmu. Jika tidak, meski mengaku berilmu, kalau tidak pernah terbukti tidak akan mendapatkan penghormatan dari orang lain. Kualitas diwujudkan dengan kesaktian. Tanpa ada tuah dari ilmu belum dianggap berilmu. Garu menyadari hal itu. Ia ingin sakti. Proses agar bisa sakti tidaklah mudah. Perlu kerja keras, tahan uji dan sering mengadu ilmunya: 
I Basur masih ngiwa, panganggone tuah abedik, maadan Bajera Kalika, peranakane tuah satus, pedas nyai mangalahang, nyai sakti, tan sandang wedi lawan ia 
(I Basur juga menjalankan ilmu kiri, penguasaannya hanya sedikit, yang bernama Bajera Kalika, pasukannya hanya seratus, tentu engkau mengalahkan, engkau sakti, tak usah takut melawan dia).
Kutipan di atas menyiratkan bahwa Garu seorang perempuan yang tangguh sehingga mampu menguasai ilmu pengetahuan secara maksimal. Usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Garu berada di atas Basur. Perlawanannya melalui penguasaan ilmu pengetahuan dapat mengatasi sosok Basur. Jangan menganggap remeh seorang perempuan. Ia bisa menaklukkan seorang pria.

Lingkungan Garu

Lingkungan sosial kemasyarakatan Garu belum siap menerima kebiasaan-kebiasaan yang dijalankannya. Garu keluar dari kebiasaan. Sesuatu yang keluar dianggap berani, menentang, dan melawan aturan-aturan ataupun kesepakatan sosial. Garu tidak mau dibelenggu oleh kesepakatan yang menurutnya mengekang hak asasinya sebagai seorang perempuan. Perlawanan-perlawanan terhadap kesepakatan sosial pun dijalankannya. Cara yang paling sederhana adalah berani berbicara di hadapan seorang pria mengenai yang mengganjal isi hatinya. Masyarakat memandangnya itu bukanlah cermin dari seorang perempuan. Perempuan yang pemberani seperti itu tidak akan mendapatkan penilaian yang positif. Dianggapnya perempuan yang merendahkan martabat dirinya.

Ki Dalang Tangsub berani menghadirkan Garu yang melakukan perlawan terhadap hegomoni pria. Ada semacam protes sosial yang disuarakan. Sebagai pengarang, ia mengadakan reaksi keras terhadap kondisi sosial masyarakatnya (Yakob Sumardjo, 1982 : 18). Masyarakat yang menganggap bahwa seorang perempuan belum waktunya sebagai pemimpin, berani dilawan oleh tokoh Garu. Garu sebagai pengejawantahan ide-ide, pandangan seorang Ki Dalang Tangsub terhadap masyarakatnya. Ia tidak berdiam diri saat melihat seorang perempuan tidak dihargai lagi. Jalan ilmu pengetahuanlah digunakan sebagai jalan untuk mengutarakannya. Kekhasan kualitas sesorang yang membedakan dirinya dari orang lain, yang membuatnya berkemampuan menghadapi kesulitan, ketidakenakan, dan kegawatan (aktualisasi pontensi diri) (Yudi Latif,2009: 81). Dengan kualitaslah seseorang dianggap bermartabat karena mampu mencapai tingkat aktualisasi diri tingkat kebutuhan tertinggi menurut Maslow.

Garu mendapatkan aktualisasi dirinya tidaklah dengan mudah. Ia perlu perjuangan dan jalan panjang. Perempuan yang berani melawan sebuah hegemoni perlu kerja keras tanpa menyerah. Sebuah cita-cita akan terwujud jika ada semangat dari dalam dirinya. Garu mengungkapkan bahwa hegemoni pria berhak untuk dilawan. Yang lebih penting adalah perlawanan untuk beradu ide, argumentasi, gagasan yang memberikan pencerahan bagi sesama. Kualitas dirilah yang diutamakan bukan hanya dalam tataran fisik. Dengan kualitas yang melebihi pria, maka tidak ada tempatnya lagi untuk menjadi perempuan sebagai kelas dua. Pria dan wanita adalah dua makhluk yang diciptakan sama bukan berbeda. Perbedaan hanya ada pada kodratnya saja. Hal-hal inilah yang menarik bagi Ki Dalang Tangsub hingga menghadirkan perempuan Garu yang diremehkan, tetapi mampu mengalahkan sosok pria.

Garu sadar sebagai perempuan perilakunya akan banyak mendapatkan sorotan karena berbeda yang juga dianggap berani oleh kaumnya sendiri. Bukan sebaliknya, sebuah perbedaan meski hadir jika menginginkan kehidupan tetap berjalan. Dengan perbedaan itulah, menjadikan manusia berpikir dan merenungi yang selama ini dijalankan. Bukan berdiam diri lebih-lebih beranggapan bahwa segala sesuatunya sudah mencapai titik puncak. Manusia makhluk berpikir karena itu ia ada, pikiran-pikiran yang mencerdaskan bagi dirinya juga bagi masyarakatnya. Garu itu berpikir. Karena berpikirlah, maka keberadaannya sebagai perempuan diperhitungkan di hadapan laki-laki dan mampu melakukan perlawanan hegemoninya.

artikel yang terkait dengan "Gede Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender dalam Geguritan Basur" adalah"
demikianlah sekilas tentang Gede Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender yang ditulis oleh IBW Widiasa Keniten lewat Balipost. semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar