Google+

arti Pura di Bali

arti Pura di Bali

Kehidupan masyarakat di Bali, khususnya di masing-masing Desa Pakraman pastilah memiliki sebuah tempat suci/pemujaan yang disebut Pura. 
Istilah “Pura” berasal dari kata Sansekertha, yang berarti “kota” atau “benteng” yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. 
Sebelum dipergunakan kata “pura” untuk menamai tempat suci atau tempat pemujaan digunakan kata kahyangan atau hyang. Pada zaman Bali kuna yang merupakan data tertua ditemukan dalam Prasasti Sukawana A 1 Tahun 882 M. Dalam prasasti Trunyan A 1 tahun 891 M, ada disebutkan
”Sanghyang di turunan“ yang artinya “tempat suci di Trunyan”
Demikian pula dalam prasasti Pura Kehen A (tanpa tahun), disebutkan pemujaan kepada Hyang Karimama, Hyang Api dan Hyang Tanda, yang artinya tempat suci untuk Dewa Karimama, tempat suci untuk Dewa Api dan tempat suci untuk Dewa Tanda (Titib, 2000:91).


Selain itu Pura juga sebagai sarana umat menyampaikan rasa bhakti dan syukur bahkan unek-unek umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa Wasa beserta manifestasi-Nya. Rasa bhakti dan syukur masyarakat umat Hindu di Bali khususnya di Desa Pakraman diwujudkan dalam bentuk pembangunan tempat suci yang disebut Pura Kahyangan Tiga yang merupakan warisan Mpu Kuturan. Sebab pada zaman tersebut Mpu Kuturanlah yang memprakasai terbentuknya Desa Adat/Pakraman, sehingga lebih mudah mengatur tatanan kehidupan masyarakat Bali. Setelah dibentuk Desa Adat/Pakraman agar dapat menunjang keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhannya, maka di setiap Desa Adat/Pakraman dibuatkan tempat pemujaan/Kahyangan Tiga sebagai wujud bhakti kehadapan Tri Murti yaitu Dewa Brahma sebagai dewa pencipta diistanakan di Pura Desa/Bale Agung, Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara di istanakan di Pura Puseh dan Dewa Siwa sebagai dewa pelebur di istanakan di Pura Dalem.

Selain Pura Kahyangan Tiga di masing-masing Desa Pakraman, biasanya memiliki pura-pura besar lainya yang disungsung di sebuah Desa Pakraman. Hal ini tergantung dari historis masing-masing Desa Pakraman tersebut. Pura merupakan tempat suci yang dihormati oleh setiap pengemponnya. Pendirian pura tidak mudah didirikan, sebab tidak sembarang tempat dapat dijadikan kawasan membangun pura dalam tradisi Bali (termuat dalam beberapa lontar) menyatakan tanah yang layak dijadikan pura adalah tanah yang berbau harum, yang gingsing dan tidak berbau busuk, sedangkan tempat-tempat yang ideal membangun pura adalah seperti yang dikutip dari bhavisya purana dan brhat samhita yang secara sederhana disebut sebagai “hyang-hyangin sagaragiri atau sagara-giri adumuka”, tempatnya tentu sangat indah dan memancarkan fibrasi kesucian yang memancar pada lokasi yang ideal di kawasan tersebut (Titib, 2003: 91).

Disamping itu, pendirian pura memerlukan sarana upacara, seperti pemlaspasan, mepadagingan atau upacara paling sederhana Ngambe, serta melarang mereka masuk pura akibat cuntaka, salah satunya ada upacara kematian, wanita haid, pertumpahan darah dan semua yang telah diatur dalam agama Hindu, jika itu dilanggar, maka wajib dibuatkan upacara penyucian ulang. 

Pada waktu upacara piodalan Ida Sang Hyang Widhi, para dewata, roh leluhur, beserta manifestasi-Nya dimohon untuk hadir, sebagai tamu agung yang patut menerima ritual persembahan, berupa upakara, tari-tarian dan lain sebagainya, setelah kehadiran para dewa dalam upacara piodalan, maka seluruh umat diberikan anugrah sesuai wujud bhakti dalam menjalani kehidupanya.

Begitu sulitnya mendirikan pura, setelah upacara pemlaspasan keberadaan pura mesti dijaga kesucianya. Hal ini telah diatur lembaga Hindu dengan menetapkan kawasan suci dibatasi dengan beberapa aturan yang telah ditetapkan, seperti Pura Kahyangan jagat, areal kawasan sucinya sepanjang 5 km, mesti bebas dari berbagai kekotoran yang disebabkan oleh manusia, sehingga secara nyata lingkungan sekitar pura dapat menyeimbangkan ekologi yang selama ini mulai rusak. Sebab Pura diibaratkan atau dipercaya sebagai replika kahyangan tempat para Dewa. Jadi semuanya mesti indah dan ditata sebagai tempat Dewa di dunia, oleh karena itu diperlukan perlindungan, agar kesucian pura tetap terjaga, sehingga para dewa berkenan hadir dan memberikan waranugraha kepada para umatnya.

Setelah upacara pemlaspasan dan keberadaan pura dijaga kesucianya, berdasarkan bhakti masyarakat, tentu mengembangkan rasa cipta, rasa dan karsa dalam menjaga eksistensi pura masing-masing, sehingga terwujudlah tradisi yang berlaku sampai hari ini. Salah satu tradisi unik sebuah pura yaitu adanya tradisi Kerauhan, dimana Ida Bhattara/Bhattari yang berstana di pura tersebut dihadirkan pada waktu piodalan, sebagai wujud kehadiran beliau, para dewa menunjukan kemahakuasaan dengan merasuki tubuh seseorang dengan kekuatan sucinya, sehingga orang tersebut berperilaku tidak seperti manusia biasa, yaitu kebal terhadap senjata tajam yang sengaja ditancap-tancapkan ke dalam tubuhnya, atau bermain-main dengan api tanpa ada rasa sakit sedikitpun, membuka kelapa dengan gigi dan lain sebagainya.

Demikian keberadaan pura yang dibuat umat Hindu dengan sejarahnya masing-masing dan sangat disakralkan serta dijaga kesuciannya, sampai melahirkan tradisi unik yang tetap dilaksanakan sampai hari ini, sehingga apabila seseorang Kerauhan di pura (tempat suci), yang merasuki tubuhnya tiada lain adalah perwujudan tuhan dan manifestasi-Nya, bukan makluk lainnya, berbeda halnya jika seseorang trance diluar pura, seperti di sekolah, tempat hiburan dan lain sebagainya. Orang kerasukan tersebut perlu dipikirkan apakah yang merasuki tubuhnya adalah kekuatan dewa atau kekuatan lainnya. 

daftar Pustaka:
Titib, I Md. Dr. 2003. Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar