Google+

Kerajaan Ubud - Dalem Sukawati

Kerajaan Ubud - Dalem Sukawati

Pasar Ubud Tahun 1910. Foto Claire Holt
Menurut beberapa babad dan penelitian bangsa asing, Ubud di Abad XVII masih terdiri dari sawah ladang dan semak belukar, dan hutan.
Sebagaian kecil sudah di diami oleh penduduk yang terdiri dari Kuwu-kuwu (Pondokan), mereka mendiami wilayah-wilayah, Jungut, Taman dan Bantuyung. Masih menjadi wilayah kekuasaan dari Kerajaan Sukawati yang berdiri sekitar tahun 1710, dengan raja pertamanya yang bernama Sri Aji Maha Sirikan, Sri Aji Wijaya Tanu.

Pada Saat I Dewa Agung Made menjadi raja di Kerajaan Peliatan, dua adik beliau ditugaskan memegang wilayah:

  • Ida Tjokorda Gde Karang di Padang Tegal Ubud. 
  • Ida Tjokorda Tangkeban ditugaskan di Ubud. Banyak pura kemudian berdiri di Ubud dalam masa pemerintahan beliau.

Pada saat Ubud mulai berkembang, dan menjadi daerah Manca, Ida Tjokorda Tangkeban meninggalkan Ubud menuju Jegu, wilayah Tabanan, sedangkan Tjokorda Gde Karang membangun puri di wilayah selatan Ubud, dekat dengan Sukawati, diberi nama Puri Negara di Desa Negara. Jadilah Ubud kemudian tanpa pemimpin. Atas inisiatif dari seorang keturunan Bandesa Mas yang tinggal di Jungut, maka menghadaplah para pemuka masyarakat Ubud ke puri Peliatan, tujuannya adalah untuk nuhur pemimpin untuk Ubud, agar ada yang mengatur kegiatan ekonomi, keagamaan dan kemasyarakatan di Ubud.

Puri Ubud Th 1910, Foto Claire Holt.
Oleh raja Peliatan saat itu, Ida Tjokorda Batuan, diperintahkan Ida Tjokorda Putu Kandel, treh Dalem Sukawati agar memimpin Ubud. Ida Tjokorda Putu Kandel sebagai pemimpin Ubud kemudian mendirikan Puri Saren Kangin Ubud.

Perkiraan angka tahun 1823 sampai dengan tahun 1850, setelah Ida Tjokorda Putu Kandel Wafat, digantikan oleh putranya, yang bernama Ida Tjokorda Putu Sukawati. Pada masa kepemimpinan beliau, Ubud semakin maju di berbagai bidang.

Barong Ket di Ubud Th 1930. Foto Claire Holt

Dibidang spiritual dan budaya Ubud mulai menggeliat dengan dibuatnya Barong Ket sebagai sesuhunan yang bertujuan sebagai alat pemersatu masyarakat. Kegiatan adat, agama dan yadnya lainnya yang semarak di kawasan Ubud telah mengilhami masyarakatnya sehingga tumbuh dan berkembangnya seni dan budaya dikawasan ini merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan antara agama, adat dan budaya serta kehidupan masyarakatnya sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar