Google+

Pasar Tradisional yang kian Terpinggir

Pasar Tradisional yang kian Terpinggir

SEKARANG, "pasar swalayan modern" banyak dibangun dalam bentuk mal, minimarket, supermarket atau hypermarket. Kehadirannya seperti mulai kian berlebihan dan memberi dampak pada wajah arsitektur kotanya. 
Terkendalikah pertumbuhannya? 
Sudahkah bercitra Bali? 
Lantas, bagaimana peran, makna dan fungsi keberadaan pasar tradisional ke depan?

Memang banyak faktor yang mempengaruhi makna sebuah tempat (place) dan ruang (space) sebuah pasar secara arsitektural. Eksistensi suatu ruang publik kiranya bisa dikaji dari segi konteks, citra dan estetikanya. Dengan kata lain, keberadaan sebuah pasar tradisional, serta kaitan antara tempat lainnya masing-masing, tak boleh tercerabut dari pemahaman manusia yang hidup dan bergerak di dalamnya. Lantaran dimensi ruang publik bersifat sosio-spasial, maka makna keberadaan sebuah pasar tradisional di dalam kota tak semata memberi nilai bagi diri sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang hidup dan beraktivitas di "ruang" kota setempat.


Di sisi lain, mal, minimarket, supermarket atau semacamnya, boleh dikata sebagai wujud implementasi fisik perdagangan dari sistem budaya asing (kapitalis?), sehingga nilai keuntungan ekonomi jauh lebih banyak direguk pihak "luar". 
Sekarang, "pasar swalayan modern", tumbuh secara sporadis di kota-kota besar Indonesia, maupun di kota-kota kabupaten di Bali. Bahkan ditengarai -- oleh banyak pengamat -- akan menyisihkan unit-unit usaha mikro dan menengah yang umumnya dilakukan kalangan rakyat kecil atau pemodal pas-pasan.

Sementara pasar tradisional memiliki nilai peradaban asal muasal tempat tukar menukar barang atau jual beli bahan makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga. Sekaligus sebagai ajang berkumpul (arti harafiahnya) yang di dalamnya terjadi akomodasi interaksi sosial dan ekonomi. 
Pasar itu sendiri dalam bahasa Bali atau Jawa, disebut dengan peken, konon punya arti "kumpul" (mapeken = berkumpul?).

Pada ruang pasar atau peken tak ada manifestasi kekuasaan atau semata unggulkan keuntungan besar. Namun, arsitektur pasar lebih dipahami sebagai sebuah "wilayah", ranah berkumpul, berperan selaku "media temu muka" saling berinteraksi, tukar menukar barang, jual-beli atau tawar menawar. Justru pemaknaan dan nilai-nilai inilah dianggap sebagai sentralnya. Ihwal tersebut dapat diamati pada awal adanya pasar tradisional di desa yang umumnya berlokasi di area terbuka, di bawah pohon beringin besar atau pepohonan rindang yang di dalamnya terjadi komunikasi antar-personal, interaksi humanistik sosial ekonomi.
Lantas, guna lebih menghidupkan dan mengembangkan pasar tradisional, langkah-langkah apa yang mesti dilakukan? 
Bagaimana wujud arsitektural sebuah pasar yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan ruang publik secara berkualitas? 
Sejauh mana konsep yang baik dari sebuah pasar tradisional bisa diterapkan?

Agaknya diperlukan sebuah konsep yang jelas dan utuh dari sebuah pasar tradisional. Ditransformasikan berdasarkan perkembangan teknologi masa kini. Misalnya, bagaimana mewujudkan tampilan arsitekturalnya yang memenuhi fungsi, kenyamanan dan kenikmatan. Juga sistem penghawaan, drainase atau sanitasi yang hygienis, keamanan serta penyediaan tempat parkir yang memadai. Selain hal-hal teknis juga ada upaya melestarikan "budaya kumpul", interaksi sosial maupun ekonomi. 
Bukankah itu sesungguhnya makna dari keberadaan sebuah peken?

Lebih Humanis

Ada beberapa pendekatan yang mungkin perlu dilakukan untuk memberi nilai-nilai yang lebih humanis dan bermakna. Misalnya dari sisi pendekatan fungsi, teknis maupun estetikanya. Jika pasar memiliki fungsi campuran dari beberapa jenis pedagang yang berjualan hendaknya dilakukan pengelompokan jenis komoditi, agar bisa ditata menurut nilai-nilai tata ruang yang berkearifan lokal. Dengan lain kata, ada tatanan penempatan. Bisa diawali dari hal makro hingga ke mikro. Dari landasan falsafah dan konsep Tri Hita Karana, tatanan tri mandala hingga hirarkhi hulu-teben.

Dari sisi pendekatan teknis secara umum, faktor kekokohan sebuah arsitektur pasar dapat memberi jaminan keamanan secara teknis dan diwujudkan dengan pengawasan yang ketat. Aspek-aspek teknis konstruksinya diupayakan bisa diterjemahkan ke prinsip-prinsip bentuk konstruksi arsitektur Nusantara (Bali). Dengan demikian akan dapat menunjang karakter kekokohan sebuah pasar tradisional, bercitra kearifan lokal.

Bagaimana dengan pendekatan estetikanya? 
Ekspresi arsitektural (termasuk pasar) memiliki unsur-unsur "isi" (content) yang membentuk karakter arsitektur dan unsur "bentuk" (form) yang menampilkan estetika.
Dalam unsur "isi" meliputi beberapa hal penting: 

  1. aktivitas, civitas (orang-orang), falsafah hidup dan perilaku manusia yang ada di dalamnya;
  2. simbol fungsi dan makna, yang memberi gambaran atau kesan kepada pengamat tentang fungsi dan makna suatu bangunan;
  3. ekspresi teknis, pemberi "karakter" teknis konstruktif, baik secara struktural maupun ornamental.


Di sisi lain unsur "bentuk" yang merajut estetika bangunan secara universal diwujudkan melalui suatu komposisi elemen-elemen pembentuknya. Komposisi itu mengandung prinsip penyusunan unsur-unsur yang terdiri dari titik, garis, bidang, warna, tekstur, efek sinar/pencahayaan, skala, ruang, massa, ornamen.

Konsep Rancangan Pasar

Dari paparan di atas, rancangan sebuah pasar tradisional patut menganut kaidah-kaidah rancangan, dijiwai konsep dasarnya sebagai landasan berpijak di dalam merancang sebuah pasar.
Beberapa hal agaknya bisa digunakan sebagai acuan rancangan sebuah pasar tradisional, antara lain: 

  1. sediakan ruang-ruang kegiatan jual beli berdasarkan kelompok pedagang masing-masing, semisal ada area penjualan yang sama jenis barang dagangannya;
  2. wujudkan ruang sirkulasi yang efektif di dalam maupun di lingkungan pasar;
  3. terlindung dari pengaruh cuaca, hujan, panas mentari, bau;
  4. sediakan ruang emergency bagi publik bila mengalami situasi darurat, seperti terjadi kebakaran, gempa bumi;
  5. manfaatkan pemasukan cahaya alami;
  6. posisikan sirkulasi udara secara optimal;
  7. bentuk massa sederhana, struktur rangka ruang, bersifat fleksibel;
  8. sediakan ruang parkir yang cukup dan berpeluang untuk bisa dikembangkan;
  9. selesaikan secara teknis dan arsitektural sanitasi lingkungannya; 
  10. wujudkan rancangan yang dapat memberi rasa aman dan nyaman.


Dengan demikian, kultur lokal sebuah pasar tradisional tetap bisa diangkat dan ditumbuhkembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Tradisi kultural sebuah pasar berakar dari pola kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Bahkan untuk di Bali terkait dengan religiositas-spiritual manusianya selaku pengguna pasar tradisional. Misalnya di area hulu di dirikan tempat suci -- Pura Melanting, tempat para pedagang bersembahyang (muspa) atau berdoa.

Kiranya semua itu ada tertuang di dalam Perda (Peraturan Daerah). Tinggal bagaimana pengawasan atau kontrol dilakukan di lapangan, agar tak terjadi penyimpangan, mulai dari proses perizinan hingga pembangunan fisiknya. Terutama terhadap seberapa jauh diperkenankan tumbuh dan berkembangnya mall, minimarket, supermarket atau hypermarket di daerah, disesuaikan dengan daya dukung lahan Bali. Tentu di dalamnya ada pula diatur tentang peruntukan penggunaan lahan atau ketentuan lain yang mesti dipatuhi.

Mengungkap konsep yang diuraikan di atas, agaknya hal itu bisa diterapkan ke dalam rancangan sebuah pasar tradisional, dengan segala pernik-pernik transformasinya. Kendati ada pihak-pihak yang menghawatirkan pasar tradisional akan jadi redup ke sisi marginal, atau tersingkirkan oleh merebaknya mal, supermarket, hypermarket.

Kekhawatiran itu tentu akan sirna, bila:

  1. peran, makna dan fungsi pasar tradisional dikembalikan pada hakikat dan karakter pasar tradisional yang sebenarnya, dengan transformasi yang disesuaikan dengan kondisi saat ini,
  2. tegas dan konsisten melaksanakan aturan atau ketentuan dalam Perda, utamanya menyangkut tentang batasan jumlah "pasar swalayan modern" yang diperkenankan berdiri di suatu kawasan, dan 
  3. konsep-konsep arsitektural pasar tradisional yang telah dijabarkan bisa diimplementasikan secara bijak.

oleh; I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 27 Mei 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar