Google+

Upacara Yadnya Membangun Rumah Adat Bali

Upacara Yadnya Membangun Rumah Adat Bali

tujuan diadakannya upacara ini adalah untuk menyeimbangkan alam yang akan ditempati oleh calon penghuninya, agar diperoleh "kerahajengan sekala-niskala" terpenuhi apa tujuan dari penghuni ataupun pemiliknya.

setiap bangunan yang dibuat/dibangun, dikatakan belum selesai pengerjaannya apabila belum diupacarai. karena itu, janganlah menempati bangunan tersebut, karena akan mengganggu keharmonisan dari orang yang menempati. itu akan dianggap selesai apabila setelah selesai diupacarai sesuai dengan aturan yang tertuang dalam sastra agama. adapun sarananya berupa bebantenan serta keanteb/kapuput oleh pinandita atau pandita.
adapun tatacara urutan Upacara Yadnya dalam Membangun Rumah Adat Bali, diantaranya:


NYAKAPAN PALEMAHAN

sesuai dengan petunjuk agama, seperti ajaran Tri Hita Karana, upacara nyakapan Palemahan ini berfungsi sebagai permakluman kepada penguasa wilayah tersebut, agar tanah ini sudah menjadi hak milik penyakapnya (pemilik tanah secara sekala). ini bertujuan agar secara niskala, tanah pekarangan yang akan dibangun dibersihkan dan diberikan pengakuan dari penguasa wilayah tersebut, bahwa penyakap adalah pemilik yang sah dan orang lain termasuk mahluk halus tidak berhak lagi atas tanah tersebut. nyakapan palemahan ini menyatuhan tanah pekarangan dengan pemiliknya bagai masakapan (kawin) sebagai suami istri.
adapun banten nyakapan karang ini:

Banten Piuning.

Tujuannya untuk permakluman ke penguasa wilayah secara niskala, baik ke pura khayangan tiga maupun khayangan terdekat. Bantennya: Pras Daksina, Ajuman dan Canang Sari. adapun tatacaranya:
  • bila tanah pekarangan berasal dari tanah sawah, maka membuat Banten Piuning dan dihaturkan di Pura Hulun carik atau Pura Bedugul.
  • bila tanah pekarangan berasal dari tanah tegalan, maka banten piuning dihaturkan di Pura Panguluning Tegalan
  • selain dari tersebut diatas, cukup mengahturkan piuning di Pura Khayangan Tiga atau Pura lainnya yang terdekat. dan mohonkan "Tirta Pakuluh Pemarisudha" yang akan digunakan "nyiratin" pekarangannya.

Banten Ring Sor (Banten Caru)

caru ini berfungsi sebagai laba, penyucian "malaning palemahan" yang disebabkan oleh para bhuta kala. sehingga upacara sekecil-kecilnya diantaranya:
Nganggen Itik Bulu Ireng, maolah saha majejatah, lembat asem, urab barak urab putih, sejangkepnya.
caru inucap dados 5 tanding, medaging ketengan 33 tanding, swang-swang ngawa sengkwi. kulit itik punika maka malayangan. malih banten buh, mawadah suyuk, dadosang 5 tanding, saha pras, tur asesari 27 keteng.
Bante Ring Laapan:
ini merupakan banten untuk "angganing yadnya", gunanya untuk menyucikan angga sarira pawongan sang pemilik yadnya (pekarangan) serta menyucikan palemahannya dan menyatukan "pramaning pasilih asih" aura keduanya agar lebih harmonis.

............ bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar