Google+

Ajaran Kanda Pat Sari

Ajaran Kanda Pat Sari

Kanda Pat di dalam ajaran Jawa dikenal dengan istilah “Sedulur papat kelima pancer”. Pancer adalah diri kita. Setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Ketika manusia masih berupa janin didalam perut ibunya, keempat saudara itu nyata. Kasat mata. 
Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kutipan Kidungan Jaya Wedha berikut ini: 
Ana kidung akadang premati among tuwuh ing kuwasanira nganaken saciptane kakang kawah puniku kang rumeksa ing awak mami anekaken sedya pan kuwasanipun adhi ari-ari ika kang mayungi ing laku kuwasaneki anekaken pangarah. Ponang getih ing rahina wengiangrowangi kang kuwasa andadekaken karsane puser kuwasanipun nguyu-uyu Sumbawa mami nuruti ing panedha kuwasanireku jangkep kadang ingsun papat kalimane pancer wus dadi sawiji nunggal sawujudingwang
Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sungguh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya. Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari-ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan kekuasaannya, yang menyampaikan tujuan. Sedangkan darah siang dan malam membantu Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Puser kekuasaannya, memerhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaanku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal dengan wujudnya.
Dari kedua bait kidung diatas, jelas sudah apa yang dinamakan saudara empat. Semuanya merupakan saudara kandung ketika manusia masih berupa janin. Mereka semua menjaga pertumbuhan manusia di dalam kandungan ini. 
  • Anak yang pertama tentu saja kakak dari sang janin, yaitu ketuban atau kawah. Ketika seorang ibu melahirkan, yang pertama kali keluar adalah ketuban. Karena itu disebut saudara tua. Kakang kawah. Dia berfungsi sebagai penjaga badan sang janin di dalam rahim.
  • Setelah itu, saudara sekandung yang lebih muda adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin di dalam rahim. Dinyatakan bahwa ari-ari memayungi tindakan sang janin didalam perut ibu. Yang menyampaikan tujuan. Begitu bayi lahir, maka ari-ari itu ikut ke luar. Ia mengantarkan sampai tujuan, yaitu lahir dengan selamat disertai pengorbanan dirinya.
  • Berikutnya adalah darah. Inipun saudara janin. Tanpa adanya darah, janin bukan saja tidak bisa tumbuh tetapi juga akan mengalami keguguran. Darah disebut membantu Tuhan siang dan malam, untuk mewujudkan kehendak Tuhan, jangan salah pengertian! Tuhan sendiri hakekatnya tidak memerlukan bantuan siapapun. Ini dari segi hakekatnya. Tapi dari segi syarat, segi mekanisme alamnya, kehendak Tuhan untuk menumbuhkembangkan janin hingga menjadi bayi itu lewat perantaraan darah. Seolah-olah darah itu nyawa bagi janin.
  • Saudara yang keempat adalah pusar (Jawa: puser atau wudel). Dalam bahasa Jawa Kuno, istilah untuk pusar adalah nabi. Yang dimaksudkan dengan pusar, tentu saja tali pusar. Sedangkan pusar sendiri sebenarnya hanyalah bekas menempelnya tali pusar pada perut. Tali pusarlah yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Ia sebagai alat untuk menyalurkan makanan dari Ibu ke bayi dalam kandungan. Dengan tali pusar itu bayi mendapatkan pasokan makanan dari ibunya. Pusar berfungsi untuk memenuhi permintaan si jabang bayi.
Dalam pandangan budaya Jawa, pandangan yang telah diterima orang Jawa yang beragama apapun "orang Jawa yang mengerti pandangan Jawa" meski beragama apapun tetap mempercayai bahwa dalam hdiup di Dunia ini, saudara empat itu tetap menjaga baik semasih di kandungan maupun di Dunia nyata. Yang kembali ke anasir-anasir Bumi, air, udara dan api hanyalah keempat jasadnya. Begitu bayi lahir, jasad saudara empat itu kembali ke asalnya. Air ketuban dan darah dibersihkan, begitu bayi dilahirkan. Ari-ari dan potongan tali pusar dipendam atau dihanyutkan di sungai. Jasad yang terlahir hidup adalah bayinya. Sedangkan secara metafisik saudara empat itu kita tetap menjada kita hingga mati. Selanjutnya perhatikan kutipian ini : Dialah yang berkuasa atas semua hamba-Nya. Dan dia mengutus kepada kalian penjaga-penjaga untuk melindungimu.

Dari kutipan tersebut di atas, jelas sekali dalam kehidupan di alam ini, Tuhan memberikan penjaga-penjaga kepada setiap orang. Meskipun telah disebutkan bahwa Tuhan itu mahakuasa atas segala hamba-Nya, tapi ada mekanisme alam yang telah ditetapkan-Nya. Tuhan tidak bertindak secara langsung. Ada beberapa penjaga yang dikirimkan kepada setiap orang. Bukan satu penjaga buat seorang. Tapi beberapa penjaga!

Tentu saja penjaga-penjaga tersebut tidak terlihat oleh mata jasmani. Karena mereka berupa roh. Kalau toh ada yang bisa melihat mereka, itu disebabkan yang bersangkutan berjuang keras untuk dapat melihat mereka. Atau, orang itu berada dalam situasi yang menyebabkan saudara-saudara rohaninya itu menampakkan diri. Itu pun hanya dirinya yang bisa melihat. Orang lain disekitarnya tidak akan melihat merka.

Menurut konsep Jawa, penjaga-penjaga itu adalah saudara gaib kita sendiri! Bukan orang lain. Yang dalam pandangan agama Hindu di Jawa disebut dengan Dewa atau Bhatara. Tetapi bagi konsep budaya Timur Tengah, penjaga manusia itu disebut Malaikat. Dari sudut pandang hakekat, apapun sebutan yang diberikan kepada penjaga-penjaga itu sama saja.

Kanda Pat Sari Panugrahan Dalem

Ini adalah ajaran utama, panugrahan Ida Bhatara Dalem. Yang disebut "sarining kanda pat tanpa sastra". Banyak sekali gunanya. Bila ditempatkan di dalam rumah, berguna untuk menjaga rumah dan orang-orang sekeluarga. Segala perbuatan orang jahat dapat ditolaknya. Segala mara bahaya disingkirkan olehnya. Apabila kita dapat memahami isi ajaran ini, bisa menjadi sari patinya mantra, juga mencapai nirwana. Serta dapat melepaskan derita para leluhur semuanya. Bila untuk menyucikan diri sendiri, tercapailah adanya bila kita bhakit dan hormat kepada Beliau, dapat memberikan kesaktian, yang tak dapat terkalahkan oleh segala mantra. Mantra yang berasal dari seratus lontar, dikalahkan oleh ucapan secakep. Tutur seratus cakep lontar, ditundukkan oleh satu bentuk saji. Banten seratus jenis, dikalahkan oleh satu jenis dulang.

Demikianlah utamanya sifat dari orang yang memahami ajaran ini. Tetapi jangan dilecehkan dan disebarluaskan kepada orang yang tidak sepatutnya. Bila dilecehkan musnahlah segala kegunaannya, dan menjadi bumerang bagi penganutnya. Dan kemudian menyakiti diri sendiri, seperti; gila, marah-marah, boros, sakit secara mendadak, sakit lepra, buta serta pendek umurnya. Demikianlah janji Bhatara Dalem, terhadap mereka yang mengikuti ajaran ini. Bila disiplin mengikuti ajaran ini, dapatlah dicapai segala yang dicita-citakan dan disayang oleh para Dewata.
Inilah janji Bhatara Dalem
Bila bercita-cita menjadi orang bijaksana, dan dicintai oleh sesame makhluk hidup di Dunia, jangan menyimpang dari tata krama kehidupan ini. Kelak, apabila telah pandai, hendaknya tetap rendah hati. Jangan lupa belajar hidup prihatin, mencari nafkah dengan halal, agar selagi hidup beroleh manfaat. Sekali pun pandai, tetapi bila kurang rajin, akibatnya kurang baik. Lagipula hendaknya selalu berlatih kecerdasan hati, paham akan sasmita, isyarat, lambang, perubahan air muka, dan lain-lain, ini diibaratkan mengadu kekuatan diri.

Dalam menuntut ilmu jangan kepalang tanggung, harus berani mengatasi berbagai rintangan, jangan berhenti di tengah jalan. Seseorang yang telah menguasai diri sendiri dan memahami segala macam ilmu, lahir dan batin, disebut jadma luwih atau sujana.

Seterusnya agar harus dipahami kekotoran tubuh. Jangan besar mulut, jika berbicara jangan sembarangan, perkataan terhadap sesama jangan curang-bogbog-membohongi orang. Jangan pula jail, angkuh, sombong, congkak, dan takabur. Hindarilah semua itu. Supaya tidak mendapat celaka, jangan sembrono. Barang siapa culas, akan sengsara, sedang kesulitan. Lagi pula jangan cemas, bimbang dan ragu sebab barang siapa cemas, bimbang dan ragu, akan dibelenggu iblis, dan setan gentayangan. Sedang barang siapa angkuh, sombong, iri dengki, akan dihukum Hyang Widhi, pasti akan rusak batinnya.

Seterusnya jangan gemar tidur dan senggama, apalagi selingkuh, itu pantang bagi mereka yang menuntut ilmu. Jikalau makan sekedar sebagai obat pengganjal perut, tidur sebagai obat rasa kantuk saja, sedang apabila melakukan kewajiban sebagai suami-istri, agar dugapayoga, artinya jangan terlalu sering. Demi kebaikan semuanya. Jika hanya mengutamakan makan dan tidur saja, hati akan tersendat, dan sulit mencapai cita-cita.

Di samping itu hendaknya diketahui adanya 4 macam bhuta, yakni Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspati Raja Adalah merupakan simbol nafsu. Siang dan malam nafsu-nafsu tersebut berperang memperebutkan keutamaan. Nafsu putih diserang 3 nafsu lainnya. Jika nafsu putih mau sadar, mengajak mengurangi makan, tidur dan senggama, agar bisa menekuni ilmu, tetapi nafsu hitam dibantu merah dan kuning melawan nafsu putih, dan tidak mau diajak berbuat baik, itulah yang disebut perang siang malam.

Waspadalah dan ketahuilah sifat masing-masing nafsu, mana diantara sifat itu yang layak diturut. Jauhilah nafsu hitam, merah dan kuning, kendalikan dengan kuat, dengan sraddha dan bhakti. Itu laku terpuji. Kembangkanlah nafsu putih agar bersatu dengan empat sukma yang berada di alam gaib.Disitulah tempatnya hati suci, sebagai sukma luhur, sukma purba, sukma langgeng, dan sukma wisesa. Mereka mengendalikan keempat macam nafsu. Nafsu merah memuja sukma langgeng, nafsu hitam memuja sukma purba, sedang nafsu kuning dikuasai sukma wisesa. Ketiga nafsu tersebut diperintahkan agar menyamun-menggoda hidup manusia-hingga hidup selalu menjadi celaka. Nafsu putih suksma luhurlah pujaannya. Jika nafsu putih sudah dekat dengan Tuhan, terbukalah jalan menuju kebahagiaan dan kemujuran. Apabila tekun mempelajari ilmu, cita-cita pasti akan tercapai, mendapat kekuasaan, kebahagiaan dan kemuliaan.

Demikianlah tingkah laku manusia terpuji. Jadikanlah Bhuta Anggapati, Mrajapati, Banaspati, dan Banaspati Raja sebagai prajurit untuk menghadapi musuh. Kuasailah, sebab apabila tidak disadari, akan mengajak rusuh, mengganggu, mengacau, pasti tubuh akan menjadi rusak. Semua bhuta itu akan datang mengganggu pada saat melakukan yoga Samadhi atau meditasi. Kelak apabila melihat bayangan berwarna hitam, berarti Bhuta Banaspati Raja yang datang menggoda. Jika tampak bayangan warna kuning Bhuta Banaspati yang datang menggoda. Mereka semua mengajak ke kesesatan.

Barang siapa mendapat Panugrahan Dalem akan melihat warna putih selebar rambut, itu sukma luhur, cahaya sejati atau Wisnu, nyata-nyata utusan Tuhan. Maka waspadalah selalu, agar selamat sejahtera. Bila sudah mendapat Panugrahan Dalem, hendaklah berbudi mulia, berbuatlah kebajikan, sebatas kemampuan.

Ajaran Kanda Pat Sari

Inilah ajaran Kanda Pat Sari;
  • Kanda = tutur; petuah; cerita; tetingkah; kesaktian; kasidian; kawisesan. 
  • Pat = empat. 
  • Sari = utma. 
Jadi Kanda Pat Sari berarti empat macam ajaran yang utama tentang kesaktian, kesidian dan kawisesan. 
Beginilah ceritanya; 
pada waktu kita lahir ke Dunia ini, pada saat yang sama lahir pula Sang Hyang Panca Maha Bhuta, yang lahir bersama-sama dengan Sang Hyang Tiga Sakti. Beliaulah Sang Hyang Tiga Sakti, amor ring Buwana Agung, kemudian dipuja oleh semua makhluk di Dunia. Beliau berstana di Pura Dewa, Pura Puseh dan Pura Dalem.

Sedangkan Sang Hyang Panca Mahabhuta, menjadi pepatih disegala penjuru. Sebagai pemelihara Dunia. Dan semuanya maha sakti, tiada terhingga. Bila dipuja, diyakini, dan diresapi, maka beliau dapat merangsuk ke dalam badan. Dapat member jalan menuju kebijaksanaan, juga kewibawaan, kesaktian, kesidian, kawisesan, dan kemulyaan. Inilah adanya beliau : 
yang paling tua berwujud yeh nyom (air ketuban) disebut Sang Bhuta Anggapati, menjadi patih di Pura Ulun Suwi, bergelar I Ratu Ngurah Tangkeb Langit. Ida dadi dewan Bedugul, dadi dewan sawah, dadi dewan angempu Bumi, dan dewan semua binatang. Dan di pekarangan rumah beliau berstana di tugu, segara tanpa tepi, dengan bentuk aksaranya “Sang”, berwujud amertha sanjiwani, rembesannya keluar dalam bentuk keringat. Berguna untuk menghilangkan segala penderitaan pada badan, termasuk penyakit berat maupun ringan. Penjelmaan beliau adalah berbentuk langit yang cemerlang, menjadi damuh. Demikianlah saktinya I Ratu Tangkeb Langit.
Bantennya : ketipat dampulan, dengan ikan telur bokasem, canang pesucian, segehan kepelan putih, ikannya bawang jahe. 
Yang paling wayahan, berwujud getih (darah), bernama Sang Buta Mrajapati, menjadi patih di Pura Sada, bergelar I Ratu Wayan Tebeng. Beliau sebagai dewan alas, dewan Gunung, dewan jalan, dewan Lebuh. Bila di dalam badan beliau berstana di dalam darah. Sebagai amerta kamandalu, rebesannya menjadi Bayu. Aksaranya “Bang” disebut tampaking kuntul ngalayang. Berguna untuk menolak segala perbuatan jahat, baik sekala maupun niskala. Penjelmaannya menjadi api unggun, menjadi gunung, hutan, jalan dan pohon besar.
Bantennya : ketipat galeng, dengan ikan telur itik, segehan kepelan barak, ikannya bawang dan jahe, canang pesucian. 
Yang paling madenan, berwujud ari-ari (plasenta), bernama Sang Bhuta Banaspati, menjadi patih di Pura Puseh, bergelar I Ratu Made Jelawung. Sebagai dewan tegalan, dewan perkebunan, dewan panginih-inih. Dan segala yang mau berbuat jahat/baik di luar atau pun di dalam pekarangan musnah olehnya. Bila di dalam badan beliau berstana pada daging, dan pada semua lubang di badan. Aksaranya adalah “Tang”, disebut sebagai galihing kangkung. Rembesannya berbentuk rambut. Penjelmaan menjadi angin kencang, menjadi gumatat-gumitit, menjadi tegalan, perkebunan, dan rumah besar yang bertembok tinggi.
Bantennya : ketipat gangsa, dengan ikan sate gede, canang pesucian, segehan kepelan kuning, ikannya bawang dan jahe.
Yang paling nyomanan, berwujud lamad (pungsed/puser/pusar). Bernama Sang Buta Banaspati Raja, menjadi patih di Pura Dalem, bergelar I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan. Beliau sakti tanpa tandingan. Beliau sebagai pemelihara Dunia. Sebagai dewan kuburan, sebagai dewan sungai, dewan jurang atau pangkung, dewan dete, tonyo, dewan samar, dewan pantai, dewan semua jenis burung, dewan kekuatan dukun, balyan, pengiwa dan penengen. Beliaulah yang menjadi kekuatan segala mantra. Bila di dalam badan, beliau bersemayam di dalam urat. Sebagai perwujudan amerta maha tirta, rembesannya menjadi maolah. Aksaranya adalah “Ang” disebut isining buluh bumbang, dapat menolak segala bahaya. Perwujudannya menjadi lautan, pantai, sungai, jurang pangkung, kuburan, burung, berwujud manusia seperti kita, bisa berwujud orang tua dengan kampuh poleng.
Bantennya : katipat gong, ikannya telur diguling, pesucian, segean kepelan selem. Ikannya bawang dan jahe, ditambah rokok, dengan sesari pis bolong 11. 
Yang lahir ketutan, berwujud iraga (diri kita), disebut Sang Bhuta Dengen. Menjadi patih di Pura Desa, bergelar I Ratu Ketut Petung. Beliau sebagai Dewatanya Balang Tamak Bale Agung, sebagai dewan pelangkiran, dewan pasar, dewan tukang, sangging, undagi, pande. Juga sebagai Dewatanya segala jenis ikan. Bila di badan beliau berstana di tulang dan sum-sum. Sebagai perwujudan amerta pawitra, rembesannya menjadi rasa, aksaranya “Ing”, disebut Lontar tanpa tulis. Beliau sebagai pemelihara kandungan, dan sebagai pemelihara diri sendiri. Beliau dibenarkan membunuh musuh yang berniat jahat kepada kita. Penjelmaannya berwujud kilat, berwujud pasar, bale agung, berwujud ikan, berwujud lelaki ganteng atau wanita cantik
Bantennya : Ketipat lepet, ikannya telur bebek, canang pesucian, segehan kepelan brumbun, ikannya bawang dan jahe. 
Demikianlah sakti beliau Sang Hyang Panca Maha Bhuta. Bila ingin memiliki kesaktian tersebut, wujudkanlah kekuatannya, masukkanlah di dalam badan. Supaya cepat menyatu dengan kia. Tidak dibenarkan merokok. Ini adalah mantra pemujaan beliau : 
Ong Ang Ang Ang Ong, 
Ong Ing Ong Ung Ang Ah Ah Tang, 
Ong Kyah Kyah Ong Shah, 
Ung Rung Reng Rong Wasat, 
Ong Ong Mang Wyang Syah.
Dan ini adalah mantra permohonannya :
I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Tebeng, I Ratu Made Jelawung, I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan, I Ratu Ketut Petung, aja sira lali asanak ring ulun, apan tulun tan lali astiti bhakti ring sira, wehan ta ulun panugrahan…… (sakti sidhi ngucap)……. Ong winursita rasyamuka angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha. 
Jangan dilecehkan, karena mantra ini adalah ciptaan beliau Bhatara Dalem. Dapat dipergunakan sekehendak hati Tinggal menambahkan kalimat pada tanda titik-titik tersebut. Mau sakti dalam segala perwujudan. Tidak dapat ditundukkan dalam segala kewibawaan. Yang jauh dapat dinyatakan dekat, dan yang dekat dapat dibuat jauh, segala yang ganas menjadi jinak. Begitulah kesaktian beliau Sang Hyang Panca Maha Bhuta.

Tata cara dan upakara Kanda Pat Sari

Apabila ingin memiliki kesaktian Sang Hyang Panca Maha Bhuta. Agar segera menyatu kepada diri kita, pada hari sabtu kliwon wuku landep, atau hari tumpek landep, buatlah banten seperti berikut : 
Bantennya : 
Rayunan satu pajeg, dengan ikan diolah sampai matang (ikan babi boleh, ikan ayam boleh, dan ikan itik pun boleh) suci satu soroh, daksina gede satu dengan sesari 41 uang kepeng, segehan agung satu, penyambleh ayam samululung, metatabuhan arak berem.
Sedangkan untuk Sang Hyang Panca Mahabhuta, dibuatkan banten sesuai dengan apa yang telah dijelaskan di muka. Ditambah dengan satu banten prayascita, dan satu banten byakaon.
Bebanjahan banten ini hanyalah sebuah contoh dan tidak harus seperti itu. Tergantung menghadap kemana banten itu akan dihaturkan. Menghadap ke utara sesuai dengan contoh, atau menghadap ke timur. Jadi tinggal menyesuaikan saja, khususnya letak-letak banten bagi Sang Hyang Panca Mahabhuta. 
Banten ini dihaturkan dihadapan Sanggah Kemulan. Tapi bila tidak memungkinkan, karena situasi atau kondisi. Umpamanya tidak enak sama tetangga, atau saudara yang lain, maka banten ini bisa dihaturkan di bale Bali. Bila tidak bisa juga, maka dapat dihaturkan di pakarangan rumah.
Setelah banten diatas lengkap, maka duduklah dengan tenang, kemudian ucapkanlah mantra permohonan seperti yang telah disebutkan dimuka, ditambah dengan ucapan-ucapan sendiri sesuai dengan keinginan, dengan menggunakan bahasa Bali, sesuai dengan permohonannya. 
Apa kemauannya?
Umpama seperti ini. 
Mantra : 
I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, metu kita saking jagat wetan, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken; Katipat dampulan maulam taluh bekasem, canang pesucian, segehan nasi kepelan putih, be ne bawang jahe. 
I Ratu Wayan Tebeng, metu kita saking jagat kidul, ajaken waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken; Katipat galeng maulam taluh bebek, canang pesucian, segehan kepelan barak, be ne bawang jahe. 
I Ratu Made Jelawung, metu kita saking jagat kulon, ajakan waduanira, roang sira kabeh, apupul ring pasemuan, manusanta angaturaken; Katipat gangsa maulam sate gede, canang pesucian, segehan nasi kepelan kuning, be ne bawang jahe. 
I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan, metu kita saking jagat lor, ajaken waduanira, roang sira kabeh, apupulring pasemuan, manusanta angaturaken; Katipat gong maulam taluh bebek maguling, canang pesucian, segehan nasi kepelan selem, be ne bawang jahe, medaging lanjaran, mesari 11 kepeng. 
I Ratu Ketut Patung, metu kita saking jagat madya, ajakanawaduanira, roang sira kabeh, apupul ring pesamuan, manusanta angaturaken; Katipat lepet akelan mauling taluh angsa, canang pesucian, segehan kepelan brumbun, be ne bawang jahe. 
Ri sampun kita kabeh apupul ring pesamuan, kenak paduka bhatara amuktisari aturan manusanta. Kenten taler ring wadua nira lan roang sira mekabehan. 
Tiosan saking punika wenten malih aturan manusanta mekadi suci sorohan, daksina gede, rayunan lan pemanisan, rantasan, segehan agung, muang penyembleh ayam samululung, metabuhan arak berem. Aja sira lali asanak ring ulun apan ulun tan lali astiti bakti ring sira wehan ulun panugrahan 
Ong winursita rasyamuka angamet sarining amerta kusuma ya nama swaha.
Tentu saja sebelumnya harus memohon doa restu dulu ring Ida Sang Hyang Tiga Sakti, dan juga Ida Bhatara Guru, Ida Bhatara Kawitan dan para leluhur, meduluran mengatrang peras pejati sejangkepnyane. 

Mantra di atas diucapkan berulang-ulang secara pelan dan lirih, sambil meresapi dan menghayati setiap katanya. Bila diterima, tidak berapa lama kita akan merasakan adanya getaran yang berbeda-beda, yang menyelimuti. Itulah ciri kedatangan Ida Sang Hyang Panca Mahabhuta.

Angrasuk Kanda Pat Sari

Setelah kita menerima ciri-ciri kedatangan beliau (Sang Hyang Panca Mahabhuta), dan beliau pun sudah dipersilahkan untuk menikmati sesaji yang kita haturkan, maka langkah selanjutnya adalah memohon agar beliau bisa merangsuk ke dalam badan. Berikut adalah mantra pengrasukan warisan I Warga Sari dan I Rangke Sari.
Mantranya : 
I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, mungguh ta ring kulit. Ratu Wayan Tebeng, mungguh ta ring getih. Ratu Made Jelawung, mungguh ta ring isi. Ratu Nyoman Sakti Pengandangan, mungguh ta ring uat. Ratu Ketut Petung, mungguh ta ring jajah. Aja sira lali asanak ringulun, mapan ulun tan lali astiti bhakti ring sira, wenang ulun nugrahaken ...(diisi menurut keperluan)... Om, windu sida rasya muka, angamet sarining merta kesuma nama swaha, om
Selain itu, ada juga mantra pengrasukan warisan I Buda Kecapi. Berikut adalah kutipannya. 
Mantranya : 
Ih, Ratu Ngurah, mungguh ta sira ring pepusuhan, anerus ring kulitku, rumaksa jiwanku pageh. Ih Ratu Wayan, mungguh sira ring atinku, anerus ring dagingku, rumaksa bayunku kukuh. Ih, Ratu made, mungguh sira ring ungsilanku, anerus ring ototku, rumaksa idepku tan obah. Ih, Ratu Nyoman Sakti, mungguh ta sira ring nyalinku, anerus ring walungku, rumaksa sabdanku, sakti sidi ngucap. Ih, Ratu Ketut, mungguh ta sira ring sumsumku, anerus ring tumpuking atinku, rumaksa atmanku pageh

Dan bila berkehendak memohon bantuan atau pertolongan kepada Sang Hyang Panca Mahabhuta, salah satunya juga bisa. Umpamanya kita memohon hanya kepada Ida I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan saja, bisa. Karena untuk selanjutnya, Beliaulah yang akan memanggil kakak dan adiknya, untuk ikut merestui permohonan tersebut. 
Inilah ciri-cirinya, bahwa beliau telah menyatu pada diri kita : 
  • Bila terasa badan kita besar, dan keluar keringat seketika, itu tandanya, Beliau I Ratu Ngurah Tangkeb Langit telah menyatu pada diri kita, segala penyakit dan penderitaan musnahlah adanya.
  • Bila terasa panas pada telinga, dan terbelalak rasanya mata, tidak mampu berkedip, itu tandanya beliau I Ratu Wayan Tebeng, yang menyatu pada diri kita. Segala mara bahaya dan penyakit ditolak adanya. 
  • Bila terkejut dan merasa takut, bulu kuduk rasanya berdiri, seperti ditiup angin dingin, itu tandanya Beliau I Ratu Made Jelawung, yang menyatu pada diri kita. Segala penyakit yang berasal dari upas, dan cetik musnah semuanya. 
  • Bila berdenyut pada kemaluan, dan hidup secara tiba-tiba, badan terasa berat, mendadak ingat dan rindu bertemu sesuatu yang bersifat gaib, itu tandanya Beliau I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yang menyatu pada diri kita. Menjadi pemberani, dan tidak takut menghadapi segala bentuk rintanga.
  • Bila tiba-tiba kita menjadi pintar, mampu berbicara banyak, pembicaraan yang halus dan manis, itu tandanya Beliau I Ratu Ketut Petung, yang datang menyatu pada diri kita. Segala penderitaan sirna adanya. 
Sedangkan bila di Bhuana Agung-Alam semesta, Beliau mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 
Bila bertemu dengan bau harum, seperti bunga, kemudian ada suara magledug, seperti bunyi jatuhnya buah kelapa, ada juga bunyi seperti suara bedeg diinjak-injak, itu semua adalah tanda kedatangan para pengikut Beliau, I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan. Beliau memanggil semua saudaranya agar mau menyatu pada diri kita.

Sakti tanpa Guru

Panugrahan ajaran Dalem adalah sarinya kautamaan. Beliau sebagai Dewatanya kesaktian. Beliau adalah sebagai utamaning kemoksan, dan merupakan keputusan kalepasan. Bila kita bisa mendapatkan panugrahan ini, maka jadilah manusia sakti mawisesa, di dalam alam nyata, menjadi sidhi ngucap, di alam niskala mendapat kebahagiaan. Bila berdosa pada waktu menjelma menjadi manusia, dapat diampuni adanya, oleh panugrahan ini. Jauhlah penderitaan itu, dan juga dapat melepaskan segala penderitaan semua keturunan dan para leluhur semua.

Ini agar dapat diketahui asal usul Beliau Bhatara Dalem. Sebenarnya Beliau adalah perwujudan Amerta, berbentuk sangkaning paran, tatkala Beliau menyepi berwujud Sangkan Paraning Suci, berstana di tengah lautan disebut Bhatara Wisnu, disini Beliau bergelar Sang Hyang Sunia Merta. Asalnya Agni bersatu dengan angin. Dan Beliau sebenarnya adalah perwujudan toya. Sebagai sarinya amerta. Sebagai sarinya tumuwuh, Beliau juga berada di dasar Bumi. Beliau juga berstana di Gunung Tapsai, mengendarai Padma Nglayang, kemudian Beliau disebut Sang Hyang Sunia Merta. Beliau juga berstana di Puncak Ulun Suwi, berwujud Amerta Sanjiwani. Selain itu, Beliau juga berstana di Gunung Batur, dan juga di Puncak Pangelengan, berwujud Gni tanpa leteh.

Pada saat Beliau berstana di Pura Dalem Balingkang, inilah pengastawanya : 
Ung Ang Ong Mang Ung
Kemudian Beliau turun, dan berstana di Pura Dalem Kahyangan, sebagai keputusan panglepasan berbentuk kawisesan, dan sakti sakama-kama, inilah pengastawanya : 
Angh Angh Maya Swasti
Kepada beliaulah memohon kesaktian, memohon amerta, memohon segala sesuatunya, seperti kebutuhan sandang dan pangan. Patih Beliau bernama I Ratu Nyoman Sakti Pangandangan. Beliau berwujud Agni Jati.

Beliau bisa maya-maya, bisa tampak bisa menghilang. Dipuja oleh semua makhluk hidup, dan semua orang sakti. Tidak dapat diatasi karena Beliau berada paling atas. Tapi, Beliau juga berada di lapisan Bumi terbawah, dan tiada lagi yang berada lebih dibawah. Perwujudan Beliau adalah Sang Hyang Ening Jati Tanpa Leteh. 

Ida Bhatara Dalem sebagai pabresihan, sebagai penglukatan, inilah mantra penglukatan, anugrah Ida Bhatara Dalem, sarananya air suci-air bersih berisi bunga, dan tanpa saranapun boleh. Asalkan diucapkan mantra ini. 
Mantra : 
Ong Ah
Dan, ada juga yang menggunakan mantra : 
Ang Ah
Dapat dipakai nglukat leteh, termasuk leteh jagat, nglukat sang pitra, dilebur segala dosanya, sehingga akhirnya bisa mencapai sorga. Apabila dipakai panglukatan penakit, sehatlah adanya. Bila manusia dilukat dengan panglukatan diatas, sempurnalah tingkat kemanusiaannya. Demikianlah adanya panugrahan ini.

Demikianlah pua Beliau Bhatara Dalem, jika dimasukkan ke dalam badan, berwujud ideplah Beliau berstana di otak. Tatkala Beliau keluar ke jaba inang, Beliau berwujud Buddhi. Disebut Sang Hyang Manon. Beliau keluar melalui soca kalih - kedua mata. Beliau bisa berwujud Wisnu Murti, bisa juga berwujud Bhatari Durga. Beliau sakti tiada tarana, sebagai bentuk kesidian. Maupun kawisesan, sebagai bentuk karahayuan, sebagai pujaan seisi Dunia, berwujud nirmala. Bila memuja Ida Bhataa Dalem, tidak dibenarkan pada siang hari, sedapat mungkin pada malam hari. Lebih bagus lagi pada saat tengah malam. Apalagi menjelang rerahinan kajeng kliwon, diusahakan agar bisa tengah malam, pasti mendapat anugrah.

Meditasi mantra Kanda Pat

Kanda Pat banyak mengajarkan mantra. Semua kitab Kanda Pat pasti berisi mantra. Mulai mandi pagi, makan, bepergian, bekerja, hingga kembali pulang dan tidur, semua ada mantranya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan adalah keselamatan. Dengan mengucapkan suatu mantra tertentu, diharapkan seseorang dapat melindungi dirinya, dari berbagai gangguan dan selamat. Mantra juga dimaksudkan untuk membebaskan diri, dari serangan berbagai penyakit. Karena itu, di dalam bahasa mantra dengan tegas menyatakan bahwa, ini berguna untuk menyelamtkan diri dari penyakit, semua mata petaka, jin dan setan serta perbuatan orang salah. Guna-guna pun tidak mau mendekat, segala ilmu hitam takut padanya. 
Mengapa? 
Karena mantra itu, kalau dibaca dengan keyakinan dan penghayatan yang tinggi, akan, membangkitkan suatu daya gaib, yang bisa disebut kesaktian.

Kesaktian ini kemudian akan bekerja lewat pikiran. Melalui pikiran, kesaktian itu diarahkan kepada yang dituju. Yaitu, untuk pencegahan penyakit, pengobatan, tolak bala dan mala petaka, menolak teluh dan guna-guna, serta segala hal-hal yang negatif lainnya. Mantra yang diucapkan engan penuh keyakinan, akan membuat “api” menjadi “air”. Artinya orang yang marah menjadi sadar. Penyakit balik ke tempatnya. Semua akhirnya menjadi anugrah. Kalau sudah demikian, semua senjata pun takan mengena. Bahkan, racunpun akan kehilangan daya bisanya. Pohon dan tanah angker akan menjadi tawar.
Mengapa mantra bisa mempunyai kesaktian? 
Karena mantra itu adalah wujud dari kesaktian Sang Hyang Panca Maha Bhuta. Sekarang perhatikanlah mantra berikut : 
Ih, I Ratu Ngurah Tangkeb Langit dadi angin, I Ratu Wayan Tebeng dadi api, Iratu Made Jelawung dadi sinar, I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan dadi air, I Ratu Ketut Petung dadi Sang Hyang Panca Mahabhuta, metu ta sira saking adnyana, raksa sriranku rahina lan wengi, yan ana wong ala paksa, leak mawisesa, upas sasab merana gerubug, tulaken ta sira ajak lelima. Pomo, pomo, pomo
Dari bahasa yang digunakan, jelas sekali mantra tersebut difungsikan untuk keselamatan. Mantra dibaca bukan untuk menghancurkan musuh atau lawan. Sifat mantra tidak menghancurkan. Tapi menolak! Karena itu, mantra biasanya disebut juga “doa tolak bala”. Dengan mantra tidak ada bagian alam yang dihancurkan. Namun, mala petaka pun ditolak kedatangannya.

Hama dan penyakit itu tidak dibunuh, tetapi mereka menyingkir. Bukan disingkirkan! Pencuri pun urung, tidak jadi mencuri. Guna-guna batal, tak jadi ke tempat yang dituju. Bukan diperangi, tapi daya negatif yang datang itu terpental dengan sendirinya. Dalam buku “Delapan langkah meditasi menuju kebahagiaan”, seorang Budhis Bhante Henepola Gunaratanan menyebutkan bahwa, orang yang dipenuhi dengan persahabatan penuh kasih, maka ketika itu api, racun dan senjata tak melukai orang itu.

Orang seperti itulah yang disebut sakti, bukan karena dia tidak mempan senjata, atau bisa memukul orang sampai mental hingga muntah darah, tidak!. Tapi karena dia sudah tidak tersentuh oleh segala macam mara bahaya itu sendiri yang tidak ingin menyentuh. Mau mohon keselamatan, mohon pekerjaan, mohon rejeki, mohon pelarisan, mohon kewibawaan, kawisesan, kesidian, kesaktian dan sebagainya. Semua bisa! tinggal menambah atau merubah beberapa kata, mantra pun berubah makna dan fungsinya. 

Di bawah ini adalah contoh bagaimana seandainya bila kita hanya memohon salah satu saja dari Ida Sang Hyang Panca Mahabhuta. 
Umpamanya Ida I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, yang berstana di tugu pekarangan yang ada di barat laut. Maka buatkanlah banten sebagai berikut : 
Bantennya : 
Ketipat dampul maulam taluh bokasem, canang pesucian, canang sari, burat wangi, segehan kepelan putih-kuning, be ne bawang jahe, ditambah garam dan iari bersih dalam gelas.
Mantranya : 
Ong sinembah ingsun marep ring I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, mangda ingsun tan keneng raja pinulah rauh tangkil, jaga praya ngaturang ketipat dampul, maulam taluh bokasem, rauh seperetingkahing ipun kabeh, ingsun mangda kalugraha dening sira Bhatara Mangku Bumi, kada dosang manusa sidhi sakti mandraguna, katekapingrat, muah kapica rahayu sekala niskala. Ong nama satu ya namah swaha
Persiapan sarana di atas, persembahkan semua persembahan itu dengan mantra tersebut, boleh ditambah dengan bahasa sendiri, sesuai keinginan. Bila sudah selesai, ambil tirta dalam gelas tadi yang telah ditempatkan di tugu. Kemudian percikan di kepala tiga kali, raup tiga kali, sisanya diminum habis. Mudah-mudahan anugrah keselamatan sekala-niskala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar