Google+

Implementasi Dewa yadnya di era modern di Bali

Implementasi Dewa yadnya di era modern di Bali

Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, akar-akar “Yaj”, yang artinya memuja, mempersembahkan, pengorbanan, menjadikan suci.Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam Yadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Kata “upacara” berasal dari bahasa Sansekerta artinya “mendekat”. Sedangkan yadnya artinya ikhlas berkorban untuk tujuan yang benar dan suci. Jadi, upacara yadnya adalah upaya spiritual dengan bentuk ritual dengan tujuan mendekatkan diri pada Tuhan dengan landasan bhakti.
Bhakti pada Tuhan itu lebih lanjut didayagunakan untuk meningkatkan keluhuran moral dan daya tahan mental untuk memelihara kesejahteraan alam serta mengabdi pada sesama manusia dengan landasan punia. Asih dan punia itulah sebagai wujud bhakti kita kepada Tuhan. Jika bhakti itu tanpa rnenyayangi alam Iingkungan dan mengabdi pada sesama dengan tulus maka bhakti akan sia-sia saja. Selanjutnya upacara yadnya itu ada upakaranya. Kata upakara dalam bahasa Sansekerta artinya melayani. Karena itu dalam Lontar Yadnya Prakerti bentuk-bentuk upakara itu sebagai lambang pelayanan kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan juga pelayanan kepada alam atau bhuwana.

Dewa Yadnya, adalah Yadnya yang ditujukan untuk para Dewa. Asal kata Dewa berasal dari  bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Tuhan yang oleh umat Hindu di Bali menyebutnya Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Dewa Yadnya berarti persembahan suci ditujukan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dan para Dewa serta segala manifestasinya.
Adapun tujuan utama melaksanakan Dewa Yadnya adalah:
  1. Menyampaikan rasa hormat, bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan nikmat yang dianugerahkan kepada umatNya.
  2. Memohon perlindungan, berkah, kesejahteraan, panjang umur, kesaksian, kemuliaan, bimbingan untuk menuju keselamatan umat, bangsa dan negara.
  3. Mengucapkan syukur atas peningkatan sesucian lahir batin dengan didasari oleh pembersihan akan bayu, sabda dan idep, yaitu paridhanya laksana kata-kata dan pikiran.
Kalau demikian halnya berarti perbuatan-perbuatan di bawah ini yang termasuk ke dalam Dewa Yadnya Misalnya:
  1. Melaksanakan persembahyangan kepada sang hyang Widhi.
  2. Mempelajari dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan ajaran tentang ketuhanan.
  3. Berziarah ke tempat-tempat suci dan mengembangkan ajaran Dharma.
  4. Membangun tempat-tempat ibadah.
  5. Berdana punia bila ada upacara di Pura.
  6. Menghaturkan canang dengan sarinya tatkala melakukan persembahyangan.
  7. Bakti sosial (ngayah) pada suatu tempat-tempat suci dengan penih keikhlasan.
Perbuatan semacam inilah termasuk perbuatan Dewa Yadnya yang mulia bila dilaksanakan dengan kesadaran batin dan tanpa pamrih. Bukannya besar harta benda yang  menjadi ukuran, tetapi dasar ketulus-ikhlasan itulah yang utama.          

Disisi lain bila ditelusuri tentang hari-hari pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dibedakan dua macam, yaitu Nitya Yadnya dan Naimitika Yadnya. Kedua macam pelaksanaan Dewa Yadnya ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
  • Nitya Yadnya, artinya melaksanakan Dewa Yadnya seperti:
    1. Menghaturkan banten canang sari setiap hari
    2. Menghaturkan Yadnya sesa setiap hari sehabis masak
    3. Melaksanakan Puja Tri Sandhya setiap hari
  • Naimitika Yadnya, artinya melaksanakan Dewa Yadnya berkala dalam sasih dan pertahun, untuk ini dapat diuraikan satu persatu, yaitu:
    1. Melaksanakan Dewa Yadnya berdasarkan hari, Hari Tri Wara, Panca wara, Sapta Wara dan wuku, yaitu:
      • Melaksanakan Dewa Yadnya pada hari Kliwon adalah memuja Dewa Siwa.
      • Hari Kajeng Kliwon memuja Bhatara Durga
      • Hari Anggara Kliwon (Anggara kasih) memuja Dewa Ludra sebagai pelebur keburukan di dunia
      • Hari Budha Kliwon, memuja Sang Hyang Ayu untuk mencapai kesucian batin
      • Hari Budha Wage (Budha Cemeng), memuja Bhatara Manik Galih untuk mencapai ketentraman batin dan mengendalikan diri
      • Hari Saniscara Kliwon (Tumpek), memuja Sang Hyang Parama wisesa untuk mengukuhkan keyakina
      • Hari Budha Kliwon Sinta (Pagerwesi), memuja Sang Hyang Pramesti Guru
      • Budha Kliwon Dunggulan (Galungan), memuja Sang Hyang Pramesti Guru, para Dewa, Pitara sebagai kemenangan dharma melawan adharma
      • Budha Kliwon Pahang (Pegat Uwakan), memuja Sang Hyang Maha Wisesa, Dewa, dan Bhatara sebagai rentetan terakhir upacara hari raya Galungan dan Kuningan.
      • Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Ringgit), memuja Dewa Iswara sebagai Dewa Kesenian
      • Saniscara Umanis Watugunung (odalan Sang Hyang Aji saraswati), memuja Dewi Ilmu Pengetahuan.
    2. Dewa Yadnya berdasarkan Purnama dan Tilem. Dijelaskan tentang beryoganya Sang Hyang Rwa Bhineda yakni Sang Hyang Candra seperti pada hari:
      • Purnamaning Sasih Kapat, pemujaan terhadap Sang Hyang Parameswara atau Sang Hyang Puru Sangkara beserta para Dewa, Widyadara-widyadari, dan para Rsi Gana
      • Purnamaning sasih kedasa; pemujaan terhadap Sang Hyang Surya Merta
      • Tilem Sasih Kapat; juga dilaksanakan pemujaan terhadap kebesaran Tuhan yang telah memberkati umatNya
      • Purnamaning Tilem Kapitu; melaksanakan malam Siwa/Siwa Latri
      • Tilem Kasanga; dilaksanakan upacara menyambut tahun baru Caka, yang diawali dengan melis ke laut atau sungai. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga. Sebagai puncak acara dilaksanakan Nyepi, yakni melaksanakan: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan. Upacara ditutup dengan Ngembak Geni.
      • Berdasarkan Purnama dan Tilem, setiap tahun sekali di Pura Besakih dilaksanakan upacara Dewa Yadnya pada sisih kadasa (Purnama) bernama Bhatara Turun Kabeh. Kalau setiap sepuluh tahun sekali dilaksanakan Panca Wali Krama, kemudian setiap seratus tahun sekali dilaksanakan Eka Dasa Rudra
    3. Upacara Dewa Yadnya yang sifatnya insiden
    4. Dapat kita lihat dalam lontar Catur Weda, misalnya upacara: Melaspas, Memungkah, Catur Rebah, dan Nyatur Niri. Semua Yadnya mempunyai atura sendiri. Juga dalam lontar Bhama Kerti, dijelaskan ada upacara Matani Aluh, seperti: Matarin, Nemakuh dan Ngulapin.
      Dalam lontar Sripurana, berarti dengan pertanian dilaksanakan upacara: mulai mengerjakan sawah, Byakukung dan Mantenin Padi
      Bahwa phala melaksanakan Dewa Yadnya dijelaskan dalam lontar Tatwa Kusuma Dewa, sebagai berikut:
      “Rahayu pahalaya yan mangkana, sadadyani kaya olih sadya kaduluran Whidi, haywa enam ngutpati Dewa astiti ring Sang Hyang Widhi.”
        Artinya:
        “selamat phalanya bila telah demikian seluruh sanak keluarga memperoleh penghasilan dikarunia Tuhan. Janganlah ragu-ragu ber Yadnya pada Dewa dan berbakti Pada Tuhan.”

Dewa Yadnya sebagai salah satu Untuk meningkatkan kualitas diri

Dari segi peningkatan diri, Dewa Yadnya pada hakekatnya merupakan pengorbanan suci dimaksudkan untuk mengurangi rasa keakuan (ego). Tiap-tiap usaha yang membawa akibat mengurangi rasa penyuburan keakuan untuk kea rah penikmatan yang lebih tinggi dan pengurangan dorongan-dorongan nafsu yang rendah , memerlukan pengorbanan/yadnya. Tiap-tiap pengorbanan adalah memberi jalan untuk pertumbuhan pada jiwa dan pengorbanan mencari dasarnya pada keiklasan berbuat untuk tujuan yang lebih mulia. Oleh karena itu setiap pelaksanaan suatu upacara atau yadnya yang pertama-tama untuk dilaksanakan adalah proses penyucian diri dalam arti yang luas, menyangkut aspek jasmani dan rohani untuk menuju peningkatan spiritual. Dalam pelaksanaan yadnya dikembangkan sikap yang paling sederhana dalam kehidupan yaitu cinta kasih danpengorbanan. Tuhan dalam Bhakti marga di pandang sebagai Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan sebagainya. Orang yang memuja, menginginkan kebahagiaan rohani, ia memohon pertolongan Tuhan, memohon ampun, Mohon Kemurahan, cinta kasih dan sebagainya.

Dewa Yadnya Sebagai salah satu cara untuk menghubugkan diri dengan Tuhan yang dipuja. Kita sebagai umat hindu melaksanakan upacara dewa yadnya juga merupakan pelaksanaan Yoga. Tidak saja bagi para pendeta tetapi bagi seluruh masyarakat yang melaksanakannya, karena pelaksanaan upacara dewa yadnya itu sejak awal mula merencanakan, mempersiapkan, dan lebih-lebih pada waktunya untuk melaksanakan dan telah diiringi dengan sikap bathin yang suci dengan konsentrasi yang tertuju kepada tuhan yang dipuja, serta dilandasi dengan perilaku yang menampilkan susila yang tinggi.

1 komentar: