Google+

Reinkarnasi Penjelmaan Kembali (PUNARBHAWA)

Reinkarnasi Penjelmaan Kembali (PUNARBHAWA)

Kata PUNARBHAVA berasal dari bahasa Sansekerta,terdiri dari kata PUNAR dan BHAVA.
  • Punar berarti lagi,kembali.
  • Bhava berarti menjelma atau lahir.
Jadi Punarbhava berarti kelahiran yang berulang ulang yang disebut pula penitisan atau samsara. Di dalam Pustaka Suci WEDA dikatakan bahwa penjelmaan  atma atau roh yang berulang ulang samsriti kedunia ini disebut samsara. Punarbawa atau samsara ini diakibatkan oleh adanya hukum karma, dimana atma yang jelek mengakibatkan atman atau roh menjjelma kembali untuk memperbaiki perbuatan nya yang jelek itu atau atman itu masih di pengaruhi oleh karma wasana atau sisa sisa perbuatan atau juga kenikmatan duniawi sehingga tertarik untuk lahir kedunia. Kelahiran ini adalah samsara(sengsara) sebagai hukuman yang diakibatjan oleh perbuatan atau karma dimasa perbuatan terdahulu.

Sabda Kresna dalam Bhagawadgita:
Saribhagawan Uwaca:
Bahuni Me Wyatitani Janmani Tawaca “Rjuna Tany Aham Weda Sarwani Na Twam Wettha Paramtapa.
Artinya:
Sri Bhagawan bersabda :
Banyak kelahiran-KU di masa lalu demikian pula kelahaianmu Arjuna semuanya ini  aku tahu tetapi engkau sendiri tida o Arjuna.
Semua yang di perbuat  di alam semesta ini,semuanya ,menunggalkan bekas atau wesana dan jiwatman.Dan bekas-bekas perbuatan atau karma wesana ada bermacam-macam.Jika semuanya itu bekas keduniawian,maka jiwatman akan cenderung dan lebih mudah ke dunia,sehingga jiwatman itu lahir kembali.

HAKIKAT SURGA DAN NERAKA DALAM PUNARBHAVA

Kata surga dan neraka sring kita dengarkan dalam kehidupan ini,sulit untuk kita menguraikannya.Dalam ajaran agama yang ,merupakan wahyu tuhan yang diterima oleh para Maharsi merupakan gambaran rasa cinta kasih tuhan terhadap smua makhluk ciptaanya.Dengan harapan agar ciptaanya melakukan perbuatan baik dan menjauhi segala larangan yang telah di tuangkan dalam kitab WEDA.Dengan demikina apabila kita berbuat yang baik maka akan mendatangkan ketentraman bathin.Dengan bathin yang tentram seseorang akan memperoleh kebahagiaan,namun  sebaliknya dengan melakukan perbuatan jahat,hati atau bathin kita tidak tentram.Dengan tidak tentramnya bathin mereka,maka muncullah kemarahan pada dirinya.Sehingga dengan rasa marah ini mereka akan kehilangan control dirinya yang mengakibatkan penderitaan yang di rasakannya.

Perbuatan yang baik maupun yang buruk tidak saja di rasakan di bumi ini namun hal ini akan di rasakan pula di alam akhirat,setelah atma terpisah dari badan wadag yang di sebut STULA SARIRA.
Dalam kitab Wrhspati Tatwa diuraikan akibat dari atma yang memperoleh neraka,sebagai berikut:
Citta Hetuning Nikang Atma Pemukti Swarga,
Citta Hetuning Atma Tibeng Neraka,
Citta Hetuning Pangjanma Manusa,
Citta Hetunya Pamanggihakenkemoksa Mwang Kalepasan Nimitanya Niban.
Artinya:
CITTA (pikiran)menyebabkan atma masuk ke dalam surga.
CITTA pula yang ,menyebabka atma masuk ke dalam neraka .
CITTA pula yang menyebabkan atma lahir mengambil wujud sebagai binatang.
CITTA pula yang  menyebabkan atma lahir m,engambil wujud sebagai manusia.
CITTA pula yang menyebabkan atman mencapai moksa dan kelepasan,demikian keadaan sebenarnya.
Demikianlah hakekat surga dan neraka,dan yang menjadi sumber dari  segala keinginan yang di dambakan semuanya itu ada pada CITTA (pikiran)manusia itu sendiri.

MENGAPA ASUBHA KARMA MENJADI PENYEBAB TERJADINYA  PUNARBHAVA

Perbuatan manusia dapat di bedakan menjadi dua jenis yaitu:
  1. SUBHA KARMA,suatu perbuatan yang baik berdasarkan DHARMA.
  2. ASUBHA KARMA,suatu perbuatan buruk yang berdasarkan DHARMA.
Diantara kedua jenis perbuatan tersebut diatas yang tergolong ASUBHA KARMA yang berakibat buruk membungkus atau menghalangi perjalanan jiwatman mencapai moksa (kebebasan yang kekal abadi).

Semasih jiwatman itu berdosa dan di liputi oleh keduniawiaan maka jiwatman harus menebus dosa-dosanya itu dengan jalan memperbaiki karma buruknya dengan berkarma yang baik atau SUBHA KARAMA.Tempat untuk memperbaiki karma ini hanya di dunia ini saja.Oleh sebab itulah jiwatman harus lahir atau menitis  ke dunia ini dengan mengambil wujud atau tubuh yang sesuai dengan karma wasana jelek yang ,membungkusnya.

Jadi yang menyebabkan punarbhava atau kelahiran yang berulang-ulang ke dunia ini adalah asubha karma atau perbuatan buruk yang dilakukan okeh seseorang pada  waktu hidup didunia ini.

BAGAIMANA PROSES TERJADINYA PUNARBHAVA

Penyebab terjadinya punarbhava adalah asubha karma atau perbuatan yang jelek di masa lampau. Dengaan demikian maka jelaslah untuk mengetahui proses terjadinya punarbhava di mulai dengan hukum karma atau huku sebab akibat. Manusia harus menyadari  bahwa tiada akan luput dari pengaruh hukum karma, karena selama hidup manusia berbuat sesuatu di dunia ini. Dari sejak lahir, manusia sudah membawa karma wasana atau bekas-bekas perbuatan di masa lampau yang menentukan watak seseorang. Apabila selama hidupnya manusia itu perbuatanya baik lebih banyak di bnadingkan dengan perbuatan buruknya maka setelah meninggal rohnya akan di masukkan kealam sorga, di alam surga roh tersebut menikmati segala keindahan lamanya sesuai dengan perbuatan baik yang telah di perbuat. Setelah habis waktunya menikmati keindahan alam surga maka roh itu akan lahir kembali ke dunia ini menjadi manusia lebih baik dari kelahiran sebelumnya. 

Demikianlah seterusnya proses terjadinya punarbhava berulang kali ke dunia ini sampai semua  perbuatan buruknya lenyap di imbangi dengan perbuatan baiknya. Kalau sudah semua perbuatanya baik berdasarkan dharma maka selesailah punarbhava yang di alami oleh orang tersebut, akhirnya jiwatman dapat bersatu dengan asalnya yaitu paramatman. Tetapi sebaliknya apabila selama hidupnya manusia itu perbuatan buruknya lebih banyak di bandingkan perbuatan baiknya, setelah meninggal dunia maka rohnya akan di masukkan ke alam neraka yaitu alam yang penuh kotoran yang sangat menjijikkan dn kawah WECI, BATU MACEPAK,  TIHING PETUNG, TITI UGAL AGIL, KAYU CURIGA dan TEGAL PENANGSARAN tempat menghukum roh-roh yang melakukan perbuatan buruk atau dosa di masa hidupnya di dunia ini. Lamanya roh itu di neraka menjalani hukuman  tergantung dari perbuatan buruk atau asubha karma yang telah di perbuatnya. Setelah selesai menjalankan hukuman yang setimpal maka roh manusia tersebut menjelma lagi kedunia ini menjadi makhluk yang derajatnya lebih rendah dari penjelmaan sebelumnya.

Dalam terjemahan slokantara 20-21 di sebutkan demikian :
"Dewa Neraka (Menjelma) Menjadi Manusia, Manusia Neraka Menjadi Ternak,Ternak Neraka Menjadi Binatang Buas, Binatang Buas Menjadi Burung, Burung Neraka Menjadi Ular, Ular Neraka Menjadi Taring, Taring Yang Dapat, Membahayakan Manusia"
Demikianlah kenerakaan yang di alami oleh roh orang yang selalu jahat dalam hidupnya di dunia ini,sampai akhir penjelmaan menjadi dasar kawah neraka.

APAKAH REINKARNASI AKAN TERJADI SECARA TERUS MENERUS MEMENUHI STANDAR KEBAIKAN,TANPA ADA JAHAT APAKAH SESEORANG ITU AKAN BERHENTI BERREINKARNASI

Tentu saja jawabannya iya, tapi sebelum kita menjwabnya hendknya kita tinjau melalui memahami konsep punarbhava itu sendiri. Kalau kita tidak mengalami konsep atma dan hukum karma, maka reinkarnasi sebagai suatu kepercayaan adanya kelahiran yang berulang-ulang dalam agama hindu agak meragukan, sebab kenyataan yang kita lihat adalah manusia lahir hanya sekali dalam hidupnya. Reinkarnasi, punarbhava tidak terlepas ruang dan waktu,karena di dalam roh tidak di kenal dengan roh arab, india, china dan bali. Yang ada hanyalah roh besar, yang akan mengecil ketika mengisi wadag yang kecil, seperti semut misalnya: dan ia akan menjadi besar ketika mengisi wadag seperti gajah. Roh tidak mengenal masa lampau, masa sekarang atau masa depan: karena roh tidak terpengaruh oleh ke tiga masa itu. Pedanda menegaskan bahwa punarbhava tidak selalu terjadi di lingkungan keluarga saja atau berasal dari leluhur. Punarbhawa bias terjadi dari seluruh, manusia di permukaan bumi ini. Bahkan punarbhava bisa terjadi dari makhluk-makhluk lain selain manusia.

Roh itu ibarat sekumpulan awan yang kemudian berubah menjadi titik-titik air hujan yang kemudian jatuh ke bumi. Ada yang jatuh di laut, ada pula yang jatuh di darat. Dan titik air hujan,baik yang jatuh di laut maupun di darat sulit di kenali lagi karena sudah bercampur dengan ari laut dan tanah. Baik air hujan yang jatuh di laut maupun di darat, nanti pada akhirnya berkumpul dilaut juga. Yang jatuh di laut berarti kembali ke asal, karena awan berasal dari penguapan air laut, sedangkan yang jatuh di pegunungan akan menjadi tirta. Manusia ibarat uap setitik air laut (roh individual) yang karena ringan naik ke angkasa dan berkumpul dengan uap air laut (berbagai roh), membentuk awan  (roh besar), yang lalu karena berat oleh muatan beban (karma vesana masa lalu), jatuh kembali (punarbhava ke bumi ). Gambaran ini merupakan gambaran perjalanan roh melalui punarbhava yang tiada habisnya, sampai ketika suatu saat semua beban-beban yang memberatkan sang roh hilang lenyap, maka ia tidak akan jatuh lagi, tetapi menyatu dengan ida sang hyang widhi menuju moksa.

Oleh karena itu pustaka sarasmuscaya dalam (kadjeng 1993) menyebutkan berbahagialah hidup menjadi manusia, karena dengan perbuatan baik akan mampu memperbaiki perbuatan buruk. Dan ini akan menjadi modal untuk kehidupan nanti melalui punarbhava. Menurut BIBEK DEBBOY 2002 Cerita tentang pelajaran punarbhava ini di sebutkan dalam pustaka agastya parwa (sebuah parwa aliran siva). Melalui percakapan antara bhagawan agastya dengan putranya. Dan percakapan antara sang bhagawan dengan putranya juga menjadi  pelajaran untuk kita agar selalu menjadi pelajaran untuk kita agar selalu terjadi komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya.
Mariana 1994, setelah kita mendalami konsep atma dan hukum karma atau karma phala baru kita jelas bahwa reinkarnasi merupakan kelahiran yang be
rulang-ulang dengan melalui tri loka yaitu BHUR BVAH SVAH. Reinkarnasi dapat di buktikan dalam kehidupan umat hindu dalam mel;akukan upacara mauopun kehidupan sebagai berikut:
  1. Umat hindu di samping percaya adanya panca sradha sebagai tatva atau filsafat agama hindu juga melakukan ritual yaitu upacara ke agamaan. Dalam upacara pemujaan umat hindu percaya adanya panca yadnya yaitu dewa yadnya yaitu pemujaan terhadap sang hyang widhi wasa, pitra yadnya pemujaan terhadap leluhur, rsi yadnya pemujaan para rsi atau pandita, butha yadnya pemujaan kepada sekalian makhluk hidup, manusa yadnya pemujaan tehadap keselamatan umat manusia. Dengan kita percaya adanya pitra yadnya yaitu memberikan korban suci terhadap leluhur kita, artinya kita percaya bahwa leluhur kita itu masih hidup didunia yang halus  dan nanti akan lahir kembali dengan badan lain.
  2. Umat hindu dalam melaksanakan ajaran-ajarannya juga melakukan dana punia seperti orang menabung, karena kita percaya bahwa perbuatan ini akan membawa kebahagiaan setelah meninggal, kalau manusia sudah meninggal bukan berarti atma sudah tiada, ini berarti ada kehidupan lain setelah meninggal yaitu kehidupan di lain loka. Setelah itu tabungan tadi yang di simpan selama hidup di dunia dapat di nikmati yaitu karma-karma yang baik.
  3. Dalam mengarungi kehidupan ini umat hindu berusaha menjalankan kehidupan dengan menegakkan dharma, sebab dengan hidup selalu berlandaskan dharma akan mengurangi dosa-dosa yang pernah di buat sebelum kehidupan saat ini. Dengan selalu berbuat baik kepada sesamanya dengan harapan dalam kehidupan di loka yang lain akan lebih baik
  4. Manusia pada umunya selalu takut datangnya kematian, manusia dengan segala cara selalu menjaga kesehatannya dengan harapan proses kematian jangan terlalu cepat sehingga dapat lama menikmati kehidupan ini. Rasa takut manusia menghadapi kematian adalah suatu pertanda bahwa sudah banyak penderitaan yang lain  pada saat matinya dalam kehidupan yang sudah-sudah.
  5. Bayi yang baru lahir biasanya setelah beberapa hari tanpa di ajari sudah dapat menetek susu ibunya, kesediaan si bayi yang sejak baru lahir untuk menetek susu ibunya menandakan suatu pengalaman yang pernah di alami pada kehidupannya yang sudah-sudah.
  6. Kenyataannya bahwa lahir sebagai manusia berbagai kegemaran yang di sebut hobi dan sampai saat ini tidak dapat di teliti sebab-sebab dari kegemaran tersebut dalam kelahiran seekarang ini, maka ini menunjukkan adanya pengalaman-pengalaman di dalam kehidupannya yang sudah-sudah, yang tidak dapat di ingatkan lagi sebagai sumbernya.
  7. Bayi yang beru lahir menangis, ini menandakan bayi tersebut sudah tau bahwa hidup sebagai manusia banya penderitaannya akibat dari dosa-dosanya, maka ini menunjukkan adanya pengalaman di  dalam kehidupannya terdahulu sebelum lahir sebagai manusia.
Segala kehidupan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) dalam jiwatman.Dan bekas-bekas perbutan (karma wasana) itu ada bermacam-macam, jika bekas-bekas itu hanya bekas-bekas keduniawian, maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang di tarik oleh hal-hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali umpamanya jiwa pada waktu mati ada bekas-bekas hidup mewah pada jiwatman, di akhirat jiwatman itu masih punya hubungan dengan kemawahan hidup, sehingga gampang jitwatman itu di tarik kembali ke dunia. kalau tidak ada bekas apa-apa lagi pada jiwatman, sehingga tidak ada lagi yang menariknya ke dunia fana ini, ia terus bersatu dengan sang hyang widhi waca, jiwatnman sadar akan hakekatnya sebagai atman yang sama dengan sang hyang widhi waca dan mencapai tujuan  dinamai moksa. Tetapi walaupun tujuan mutlak manusia adalah moksa  yaitu tidak lahir kembali, namun kelahiran kita ke dunia ini sebagai manusia adalah suatu kesempatan untuk meningkatkan kesempurnaan hidup guna mengatasi kesengsaraan ini.
Dalam bhagawan gita V.19 juga di nyatakan:
Ihai Va Tair Sargo Yashedam Samye Sthitam Manah
Nirdesyam Hi Samam Brahma, Tasmad Brahmani Te Stitah
Terjemahannya:
Di dunia ini inkarnasi (punarbava) di atasi oleh mereka yang pikirnya seimbang dan seimbang, maka mereka pun bersatu dengan Brahman.(s.pendit,155:1994)
Selanjutnya kembali di pertegas (S.PENDIT,149:1994) dalam petikan slokantara Bhagawan gita V.11 ssebagai berikut:
Kayena Manasa Budhya,Kevalair Indriyair Api
Yoginihan Karma Kurvanti Sangam Tyakva Tamasuddhaye
Terjemahan:
Para yogi menanggalkan keinginannya hanya bekerja mempergunakan badan, pikiran, budhi dan bahkan panca indra demi menyucikan jiwa (mencapai moksa)
Kemudian hal ini di uraikan berkali-kali dalam pustaka Sarasmuscaya.Malah di katakan dewapun perlu lahir sebagai manusia dulu untuk dapat mencapai kebbebasan abadi moksa. Memang kehidupan dalam dunia ini tidak sedikit kesukaran dan penderitaan-penderitaan yang di sebabkan oleh  perbuatan sendiri (prarabdha karma) ataupun perbuatan dalam kehidupan yang lebih dahulu (sancita karma phala), namun demikian berbahagialah orang yang dapat memitis menjadi manusia karena dapat kesempatan atas kesadaran yang suci, perbuatan yang lebih baik subha karma untuk menentukan hasil baik yang akan datang. Karena hanya di dunia inilah kita dapat kesempatan untuk melakukan perbuatan guna meningkatkan kesempurnaan diri kita itu sedangkan di dalam dunia lain kita hanya menerima pahalanya, menurut pustaka Sarassamuscaya. Dan penitisan punarbhava ini akan berakhir setelah manusia dapat menyadarkan dan mewujudkan sifat atmannya yang sebenarnya yaitu suci, abadi dan sempurna. Pada tingkatan inilah orang bebas dari ikatan dunia dan mencapai moksa, tidak menitis kembali di dunia.

Kehidupan saat ini ibarat menulis permohonan untuk perjalanan kehidupan yang akan datang. Kita bersyukur kalau kehidupan nanti masih bias menggunakan badan manusia,jangan sampai memakai badan binatang. Oleh karena itu harus di ingat bahwa semua indra ini adalah pinjaman dari sang hyang widhi, termasuk tubuh ini. Sehingga kalau kita tidak mampu memelihara ”barang” pinjaman ini, maka kita akan pasti di berikan badab yang lebih jelek lagi; misalnya badan binatang atau tumbuh-tumbuhan  dengan mengingat betapa kecilnya manusia ini di banding an ciptaan yang ada di alam semesta ini, maka hendaknya manusia selalu sadar; bahwa semua ini akan berakhir, dan kita semua akan kembali menujunya; untuk mengembalikan semua barang pinjaman tadi dan sekaligus mempertanggung jawabkannya. Punarbhava sebagai salah satu sradha yang harus selalu di yakini oleh umat hindu, dan di pahami juga bahwa punarbhava kita yang sekarang ini adalah proses untuk meuju punarbhava berikutnyya yang lebih baik. Reinkarnasi akan terhenti apabila manusiakh memahami  dan mampu memaknai kehidupan dengan bersikap bijak dan bertindak sesuai dengan aturan yang termuat dalam sastra-sastra agama,maka manusia akan mencapai mokshrtam jagathita ya cai ti dharma, bersatunya atman dan Brahman (realitas tertinggi yang sifatnya abadi)

KONSEP REINKARNASI

Didalam alam semesta material ini ada dua jenis kegiatan atau karma yang pasti diikuti oleh reaksi atau phala, seperti nyala api pasti diikuti oleh asap.  Dua karma tersebut adalah subha-karma atau perbuatan baik /boleh,juga disebut punya-karma. Satunya lagi adalah asubha-karma, perbuatan buruk, disebut juga apunya-karma. Kedua itu, subha dan asubha-karma disebut sebagai karma- bandhana, ikatan karma, yang mengikat orang untuk tetap dalam kesengsaraan kelahgiran dan kematian berulang kali. Entar lahir di dalam material ini menjadi orang salah atau orang jahat, tetap ia adalah karma –badana, ikatan perbuatan. Sel sempit dalam ruang VIP di penjara sama sama mengikat orang untuk tetap berada didalam penjara. Karma-badana atau subha- asubha karma lah yang menyebapkan terjadinya punarbawa. Punah berarti lagi, berulang kali. Perbuatan baik dan perbuatan buruk yang menyebapkan kita haru lahir dan mati berulang kali di dalam penderitaan ini.sumber karma bhadana atau asubha dan asubha karma adalah triguna. Tri artinya tiga, guna artinya tali atau ikatan atau kekat. Tri Guna artinya tiga sifat alam Yang terdiri dari kebaikan, kenapsuan dan tamah. Beraneka ragam bentuk kehidupan di dunia ini, seperti manusia binatang dan tumbuh tumbuhan bahkan para dewa sekalipun semuanya bisa terjadi karna pengaruh tri guna. Sebenarnya seluruh alam semesta ini ditutupi tri guna artinya jenis jenis tri guna di dunia ini di tentukan oleh pengaruh tri guna. Demikian juga, manusia bisa masuk surga atau neraka sesuai dengan sifat guna yang mempengaruhinya, dan setelah menikmati pahala di surga atau neraka, ia dilahirkan kembali ke dunia ini. Itulah sebabnya slokantara menyebutkan istilah Swargacyuta atau nerakacyuta, yaitu mereka yang dilahirkan dari alam neraka atau surga.
Cirri-ciri kelahiran surga dan neraka dijelaskan dalam saramuscaya sebagai berikut: 
maka orang yang melakukan perbuatan baik, kelahirannya dari sorga kelak menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan, hartawan dan berkuasaan; buah hasil perbuatan yang baik, didapat olehnya"
lagi perbuatan orang yang bodoh senantiasa dapat berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka menitislah ia menjadi binatang seperti biri-biri, kerbau dll; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yg hina, sengsara, diombang-ambing kesedihan dan kemurungan hati dan tidak mengalami kesenangan”.
Slokantara juga menjelaskan cirri-ciri surga dan neraka, sebagai berikut:
Berarti, sehat menikmati kesenangan yang halal, berbakti kepada tuhan, menerima harta benda, kehormatan dan cinta dari orang-orang besar dan orang-orang suci, inilah tanda orang berbahagia kelahiran sorga”. 
Orang mandul, orang wandu, orang banji, orang lemah, dan tak punya urat-urat sebaimana mestinya, orang berbentuk bundar, orang tumbuh daging ditempat yang tidak semestinya, orang yang selalu murung, orang yang lidahnya cacat, orang yang berpenyakit tulang, orang yang berpenyakit kencing, berbibir cungih, tuli, ayan, gila, berpenyakit lepra, berpenyakit perut, kemasukan setan, lumpuh bungkuk, buta kedua belah matanya, peceng (buta sebelah), kerdil, berbicara tidak karuan dan orang yang bermata rusak, ini semua orang-orang yang datang dari neraka".
Beberapa sloka yang dikutip dibawah ini, secara eksplisit mengandung konsep tentang reinkarnasi. Sarasamuscaya 7 : sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini, adalah kesempatam melakukan kerja baik atau kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati diakhirat, artinya kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini, di akhirat sesungguhnya kecap akan buah hasilnya itu, setelah selesai menikmatinya, menitislah pengecapan itu lagi, maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatan : wasana disebut sangskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja,yang diikuti penghukuman yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah neraka; adapun perbuatan baik ataupu buruk yang dilakukan diakhirat, tidaklah itu berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik yang dilakukan sekarang juga. 
Sebab dunia ini, perbuatan merupakan warisannya, artinya, pahala baik atau buruk yang diperolehnya, adalah berdasarkan perbuatan baik atau buruk orang-orang itu ; singkatnya : ditentukan oleh perbuatannya dulu orang-orang di dunia ini, hakiktanya kita semua dikuasai oleh purwa karma (perbuatan pada masa kita dulu). Adapun dunia ini, karma (perbuatan) yang merupakan warisannya ; kesti terangannya : pahala karma baik atau buruk diperolehnya, yang pasti erat hubungannya dengan baik buruk karmanya ; jelasnya purwa karmalah yang menentukannya ; demikianlah dunia ini pada hakikatnya kita semua dikuasai oleh purwa karma“ (Sarasamuscaya 352)
Jadi oleh karma-bandana atau subha-asubha-karma yang bersumber dari tri guna, maka makhluk hidup mengalami reinkarnasi atau mengalami janma, mrilyu, vyadhi, jara, duhkha, yaitu: kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan duka cita yang berulang-ulang di dunia maya ini.

CONTOH-CONTOH CERITA YANG MENGANDUNG AJARAN PUNARBHAWA

Seperti kejadian-kejadian berikut :
  1. Ada seorang anak yang bernama Santhi Devi , yang di lahirka pada tanggal 12 Oktober 1926 di Delhi. Santhi Devi dapat menceritakan segala macam pengalamannya yang dialami waktu kehidupannya yang lampau. Sampai pada kejadian yang sekecil-kecilnya. Orang tua Santhi Devi semula tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Orang tuanya menganggap cerita Santhi itu hanya obrolan anak-anak belaka. Namun karena Santhi sering menceritakan hal itu kepada orang tuanya, akhirnya timbul niat orang tuanya untuk membuktikannya. Tenyata apa yang diceritakan oleh anaknya yaitu Santhi Devi adalah benar setelah ditunjukkannya banyak bukti-bukti seperti : tempat tinggalnya dulu di Mutra,  suaminya yang masih hidup bernama Pandit Kadar Natcha Chaubuy, dan banyak lagi bukti-bukti lainnya.
  2. Juga pernah diceriatkan bahwa Pitagoras ketika masih kecil ingat dengan jelas kejadian ketika ia membawa sebuah perisai  di dalam sebuah kuil di Grat yang dilakukan olehnya dalam reinkarnasinya yang dulu bersama dengan pangeran dari Troya.
  3. Sebagaimana telah dilukiskan oleh Svami Sivananda dalam majalah Dinine Life dikatakan bahwa tumimbal lahir itu ada. Svami mengatakan beberapa tahun yang lalu, telah menggemparkan kota Delhi (India). Karena ada kejadian bahwa ada seorang gadis kecil mengetahui kehidupannya (reinkarnasinya yang telah lalu).

Pada masa disusunnya kitab-kitab brahmana, sebelum upanisad juga disebutkan tentang adanya kelahiran kembali. Pada mulanya kelahiran itu dipanding sebagai karunia.

Orang hanya lahir untuk satu kali, akan tetapi timbul permasalahan apa sebab dalam kehidupannya sekarang sudah terdapat perbedaan nasib. Ada yang dilahirkan sebagai brahmana, kesatrya, waisya,sudra dan lain-lain. Ada yang dilahirkan dalam keluarga kaya atau miskin bahkan ada yang lahir dengan berbagai cacat baik fisik maupun mental. Kelahiran seseorang tergantung dari karma yang telah dilaksanakan pada masa kehidupan yang lalu. Demikian pula kehidupannya kini akan menentukan penjelmaannya dimasa yang akan datang. Umat  hindu yakin bahwa penjelmaan sekarang merupakan dari kelanjutan penjelmaan di masa yang lalu dan akan berlanjut pula pada masa yang akan datang. Penjelmaan berulang kembali ini di dalam bahasa sansekertanma atau  disebut punarbhawa, punarjanma atau samsara.

Samsara, punarbhawa, punarjanma atau penjelmaan kembali dapat terjadi ketika atman terbelenggu olah maya. Karena atman terikat oleh maya. Maka atman itu menjelma menjadi makhluk hidup. Untuk membebaskan diri dari keterikatan ini hendaknya manusia dapat melaksanakan karma yang baik. Tentang penjelmaan kembali ini kitab Svetasvatara upanisad menyatakan :
Samkalpana-sparsana-drsti-mohair
Grasambhu-vrstyvirddhi-janma
Karmanugany anukramena dehi sthanesv
Rupany abhi samprapadyate
sthulani suksmani bahuni caira
rupani dehi svagunair vrnoti
kry gunair atmagunais ca tesam
samyoga hetur aparo pidrstah
Dengan mempergunakan kemauan pikiran, perabaan, penglihatan, dan menghayati hawa nafsu atma menjelma kembali (berreinkarnasi) secara berulang-ulang di beberapa tempat dengan mengambil berbagai tubuh. Sesuai dengan hasil karmanya, dan mengalami kedewasaannya, sama seperti tubuh itu dapat mengalami pertumbuhanmelalui makan dan minum.
Atma yang berreinkarnasi sesuai dengan sifat dan karmanya, melibihi tubuh sebagai wujudnya yang kasar atau halus. Dia menjadi Nampak, berkeadaan berbeda dari satu penjelmaan ke penjelmaan berikutnya.

Dari kutipan di atas dijelaskan bahwa karma seseorang akan mempengaruhi penjelmaannya di kemudian hari. Karma pulalah yang menghantarkan seseorang mencapai sorga atau masuk ke dalam neraka. Karma juga yang menuntun seseorang untuk mencapai Brahman

Reinkarnasi Penjelmaan Kembali (PUNARBHAWA)

Pernyataan ini pada umumnya di kaitkan dengan kepercayaan agama agama timur, yang mengetahui bahwa kehidupan manusia tidak hanya bertahan  sejak bayi dalam buaian sampai dengan liang kuburan, melainkan bertahan sampai jutaan jaman, dan pengertian bahwa kita lahir kembali diakui hingga dimana mana. Sebagai mana dikatakan oleh Arthur Sohopenhauer, seorang filsuf terkenal hidup pada abat ke-19  “andai kata ada orang asia yang meminta agar saya memberikan definisi tentang eropah, maka terpaksa saya menjawab :eropah adalah bagian dunia yang dihantui oleh kayalan yang tidak masuk akal seolah olah manusia diciptakan dari kekosongan dan bahwa baru pada kelahiran  yang sekarang ia terjun dalam khidupan untuk pertama kali nya.
Memang, ideologi yang berkuasa di barat,yakni ilmu kekuatan material, sudah berabat abat menutupi segala minat yang serius maupun luas tentang adanya kesadaran sebelum badan ini lenyap. Tetapi sepanjang sejarah barat selalu ada ahli ahli pikir yang memahami atau membenarkan bahwa kesadaran kekal dan bahwa sang roh berpindah pindah. Banyak para filsuf, pengarang, seniman, ahli ilmu pengetahuan dan tokoh politik telah mempertimbangkan gagasan tersebut secara mendalam.

Dikalangan  orang yunani pada jaman purbakala, seperti socretes, phytagoras dan plato, termasuk orang orang yang telah menjadikan reinkarnasi sebagai bagaian pokok dalam ajaran mereka. Pada akhirhayat nya, Socrates berkata: “saya yakin bahwa hal seperti hidup kembali benar benar ada, dan bahwa orang yang masi hidup berasal dari mereka yang sudah mati.”Pythagoras berkata ia dapat ingat penjelmaan penjelmaan yang lama, dan plato mengemukakan uraian yang terperinci dalam reinkarnasi dalam karya karya besarnya, dan secara singkat ia menganggap bahwa sang roh yang murni jatuh dari tingkat kesunyataan yang mutlak karna keinginan indriya-indriya, kemudian ia menerima badan jasmani dalam bentuk manusia, dan yang tertinggi diantara bentuk –bentuk manusia ialah filsuf, orang yang berusaha mencari pengetahuan yang lebih tinggi. Kalau pengetahuan sang filsuf menjadi sempurna, maka ia dapat kembali pada kehidupan yang kekal. Tetapi kalau ia terjerat pada kehidupan duniawi sehingga ia tidak berdaya, maka ia menurun memasuki jenis jenis kehidupan sebagai binatang. Plato percaya bahwa para pelahap dan pemabuk mungkin akan menjadi keledai dalam penjelmaan nya yang akan datang;orang yang melakukan kekerasan dan tidak adil mungkin akan lahir sebagai serigala atau burung raja wali, dan orang mengikuti kebiasaan masyarakat secara membabibuta dapat lahir sebagai lebah atau semut. Sesudah beberapa waktu, sekali lagi sang roh mencapai bentuk manusia dan mendapat kesempatan lagi untuk mencapai pembebasan. Beberapa sarjana percaya bahwa Plato dan filsuf filsuf yunani memperoleh pengetahuan nya melalui reinkarnasi dari agama-agama rahasia seperti Orphismeatau dari india.

Kesusastraan Veda atau Santna Dharma dari india membenarkan bahwa, sang roh menurut penyamaan nya dengan alam material, menerima salah satu diantara 8.400.000 bentuk, dan setelah ia mempunyai badan dalam jeniskehidupan tertentu, ia berevolusi secara otomatis dari bentuk yang lebih rendah hingga bentuk yang lebih tinggi, dan akhirnya mencapai bentuk badan manusia.

Minat terhadap ajaran reinkarnasi dalam filsafat India juga kuat dikalangan pengikut Transcenden-talisme di amerika, termasuk Emerson, Whitman dan Thoreau. Emerson mengikuti dari kata UPANISAD, salah satu kata abadi UPANISAD India, yang menyatakan bahwa: “Sang Roh  tidak lahir:dia tidak mati: dia tidak dihasilkan oleh seseorang…. Tidak dilahirkan, kekal, tidak terbunuh, walaupun badan terbunuh.”

Thoreau, seorang fisuf dariWalden Pond, menulis:  “sejauh ingatan saya, secara tidak sadar saya telah menyebutkan pengalaman dari kehidupan saya terdahulu. Tanda lain mengenai minat yang dalam di hati Thoreau tentang reinkarnasi, terdapat dalam salah satu naskah yang di temukan pada  tahun 1926 , yang berjudul “perpindahan lahir kembali tujuh orang brahmana. “karya tulis singkat ini adalah terjemahan dari sejarah kuno (PURANA) dalam bahasa sanskerta tentang reinkarnasi. Kisah perpindahan tersebut mengikuti penjelmaan penjelmaan tujuh rsi, melalui penjelmaan penjelmaan nya  satu demi satu sebagai seorang pemburu, pangeran, dan binatang.

Setelah kita memasuki abad modern, kita menemukan bahwa ide reinkarnasi menarik pikiran salah seorang diantara seniman yang berpengaruh di barat. Selama tahun tahun terakhir menjelang ajalnya diTahiti. Paul Gaugin menulis bahwa organism jasmani terlebur, “Sang roh masih hidup,” Gaugin menulis : “kemudia Roh menerima badan yang lain kemudian merosot atau naik menurut perbuatan yang buruk.” Seniman itu percaya bahwa gagasan kita terus lahir kembali, dan telah diajarkan untuk pertama kalinya di barat oleh Phytagoras yang telah mempelajarinya dari para Rsi di India pada jaman purbawa.
Banyak ahli ilmu pengetahuan dan ahli pisikologi juga percaya kepada reinkarnasi. Salah seorang diantara ahli pisikologi yang paling hebat pada jaman modern bernama Carl Jung, menggunakan konsep tentang diri yang kekal, yang mengalami banyak penjelmaan sebagai alat dlam usaha usahanya untuk memahami rahasia rahasia yang paling dalam sang diri dan kesadaran . “Saya sungguh sungguh dapat membayang kan bahwa mungkin saya pernah hidup di abad-abad yang lalu dan pada waktu itu sayamenemukan pertanyaan-pertanyaan yang belum dapat saya jawab; bahwa saya harus lahir kembali, karna saya belum memenuhi tugas yang di berikan kepada saya.

Mhatam Gandhi, salah seorang diantara tokoh tokoh politik paling besar pada jaman modern. Yang meyebarkan ajaran tidak melakukan kekerasan (AHIMSA) pernah menjelaskan bagaimana pemahaman praktis tentangreinkarnasi memberikan harapan kepadanya untuk impianya perdamaian dunia. Ghandi berkata: saya tidak dapat membayangkan rasa benci untuk selamanya antar sesama manusia dan oleh karna saya percaya pada teori bahwa kita lahir kembali, saya tetap hidup dengan harapan bahwa, kalau tidak dalam penjelmaan ini mungkin dalam penjelmaan lain saya akan dapat merangkul segenap manusia dalam pelukan persahabatan.” Demikian masalah reinkarnasi menarik perhatian para Cendekiawan dan rakyat umum di Barat. Filim-filim, novel, lagu popular dan majalah, sekarang makin sering membicarakan masalah reinkarnasi, dan berjuta juta orang Barat,cepat- cepat ikutdengan lebih dari 1,5 milyard jiwa, termasuk para pengikut agama Hinda, Budha, Tao dan agama agama lain yang tradisinya memahami bahwa kehidupan tidak mulai pada saat kelahiran atau pun berakhir dengan kematian. Tetapi hanya sekedar ingin tau percaya setidaknya cukup. Hal itu akan merupakan langkah awal dalam memahami ilmu pengetahuan lengkap tentang reinkarnasi, termasuk pengetahuan tentang bagaimana cara membebaskan diri dari predaran kelahiran dan kematian yang sengsara ini.

Untuk  mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang reinkarnasi, banyak orang Barat mencari sumber-sumber pengetahuan yang asli tentang penjelmaan yang lama dan penjelmaan yang akan datang. Diantara segala kesusastraan tang tersedia, kitab-kitab veda dalam bahasa sangsekerta merupakan sastra yang paling tua diDunia yang mengemukakan penjelasan panjang lebar dan logis mengenai ilmu pengetahuan Reinkarnasi. Ajaran itu tetap hidup dan menarik perhatian orang di seluruh Dunia selama lebih dari lima ribu tahun.

Keterangan paling mendasar tenang reinkarnasi tercantum dalam kitab Bhagawan Gita kakekat pengetahuan veda dan salah satu dimana kitab-kitab Upanisad yang paling penting, yang disabdakan tidak kurang dari 50 abad yang lalu oleh Sri krisna kepada Arjuna, pada medan perang Kurukserta, yang menentukan tentang nasib kehidupan, reinkarnasi pada Bhagawan Gita di mulai pada abad II, sloka12 yang berlanjut sampai pada seloka30.

Akan tetapi, mengakui adanya sang Roh bukan lah semata-mata masalah kepercayaan saja. Bhagawan Gita menarik perhatian bukti indriya-indriya dan logika kita, supaya kita dapat menerima jaran Bhagawan Gita dengan sejumlah keyakinan rasional, bukan secara buta sebagai suatu dogma. Kita tiak mungkin memahami tentang reinkarnasi kecuali kita mengetahui perbedaan antara diri sejati (Roh) dengan badan. Bhagawan Gita membantu kita untuk melihat sifat sang Roh dengan mengikuti contoh. “seperti halnya matahari sendiri menerangi seluruh alam semesta, begitu pula mahluk hidup, tinggal didalam tubuh, menerangi seluruh tubuh dengan kesadaran.”

Kesadaran adalah bukti yang nyata tentang adanya sang roh didalam badan. Kalau ada banyak awan, brangkali matahari tidak kelihatan, tetapi kita mengetahui bahwa matahari ada di langit,karna ada sinar matahari. Begitu pula, mungkin kita tidak dapat melihat sang roh secara langsung, tetapi kita dapat menarik kesimpulan bahwa sang roh benar-benar ada, karena adanya kesadaran. Kalau kesadaran tidak ada, maka badan hanya merupakan sebatang kecil unsur-unsur alam yang mati iyu bernafas, berbicara, mencintai dan merasa takut. Pada hakekatnya badan adalah merupakan kendaraan sang roh. Melalui badan sang roh bisa memenuhi aneka keinginan duniawinya. Dalam Bhagawan Gita di jelaskan bahwa mahluk hidup di dalam badan “duduk”seolah-olah diatas mesin yang terbuat dari tenaga material.”secara palsu sangroh mempersamakan diri dengan badan dan membawa aneka paham hidupnya dari satu badan ke badan yang lain, bagaikan udara membawa bau-bauan.

Selama seseorang menjadi semakin tua, perbedaan tersebut yaitu antara diri yang sadar dan badan jasmani menjadi semakin jelas. Selama kehidupan seseorang dapat melihat bah wa badan nya senantiasa berubah. Badan itu tidak tahan lama dan waktu membuktikan nya bahwa masa kanak-kanak adalah masa lahiriah yang bersifat sementara. Badan terwujud pada saat tertentu, tumbuh,menjadi matang, menghasilkan sesuatu (anak –anak) dan barangsur angsur merosot dan mengalami kematian. Karna itu badan jasmani tidak abadi, sebap sesudah beberapa lama, badan jasmani itu akan lenyap. Sebagai mana di jelaskan dalam Bhagawan Gita,”hal hal yang tidak setaji tidak tahan lama”, tetapi walaupun badan jasmani mengalmi banyak perubahan, kesadaran tanda adanya roh  di dalam badan, tetap tidak berubah. Jadi hal-hal yang sejati tidak pernah lenyap. Karena itu, secara logis kita dapat menarik kesimpulan bahwa kesadaran mempunyai kekekalan inti yang memungkinkan kesadaran hidup sesudah terleburnya badan. Tetapi kalau sang roh,”tidak mati walau badan terbunuh. Bhagawan Gita memberikan contoh yang logis untuk membantu pemahaman kita: Seperti halnya sang roh didalam badan terus berjalan  dari masa kanak-kanak sampai masa remaja dan tua, demikian pula sang roh masuk kedalam badan yang lain pada saat meninggal. Orang yang sudah insyaf akan dirinya tidak menjadi bingung akan perubahan seperti ini.

Menurut Veda, ada 8.400.000 jenis kehidupan, mulai dari bakteri dan amoeba, sampai dengan ikan, tumbuh-tumbuhan, serangga, binatang yang merayap, burung dan binatang ternak hingga manusia dan para dewa. Menurut keinginan mereka para, mahluk hidup senantiasa lahir di dalam jenis-jenis kehidupan tersebu.

Pikiran, adalah alat yang mmberi kuasa untuk perpindahan-perpindahan tersebut dengan melemparkan sang roh ke dalam badan-badan baru. Dalam Bhagawan Gita di jelaskan ; “Keadaan hidup mana pun yang di ingat seseorang pada saat ia meninggalkan badan nya, pasti keadaan itulah yang akan di capai nya. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan lakukan selama hidup kita melakukan hidup yang dalam pada pikiran dan jumlah segala kesan tersebut alam material meninggal. Menurut sifat pikiran tersebut, alam material mengabadikan badn yang cocok dengan kita. Karena itu jenis badan yang kita miliki sekarang ini merupakan perwujudan kesadaran kita pada saat mengalami kematian yang lalu sebelum kita lahir ke dunia ini.

Selanjutnya jalan jalan reinkarnasi tidak selalu keatas, tidk menjamin manusia lahir sebagai manusia dalam penjelmaan nya yang akan datang, misalnya manusia meninggaol dengan gambaran mental seperti anjing, maka dalam penjelmaan yang akan datang ia akan menerima mata, hidung, dn sebagainya sebagai seekor anjing, dngan demikian diijinkan menikmati kesenangan anjing.
Sri Krisna Bersabda: orang bodoh tidak dapat memahami bagaimana mahluk meninggalkan badan nya dan juga tidak dapat mi emahami jenis badan mana dinikmati pesona sifat-sifat alam. Tetapi orng yang mata nya terlatih dalam pengetahuan dapat melihat segala hal ini, seseorang rohaniawan yang sedang berusaha dan mantap dalam keinsyafan diri dapat semua hal ini dengan jelas. Tetapi orangf yang belum mantap dalam keinsyafan diri tidak dapat melihat hal yang sedang terjadi, walaupun barang kali mereka berusaha untuk itu.

Roh yang cukup beruntung hinga dapat memperoleh badan manusia, sebaik nya berusaha dengan serius untuk ke insyafan diri untuk memahami prinsip-prinsip renkarnasi dan menjadi bebas dalam kelahiran dan kematian yang diulangi berulang kali, kita mengalami kerugian besar jika kita tidak melakukan hal demikian.

Dari uraian –uraian yang di jelaskan di atas,dapat di tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut;
  1. Konsep karma phala mengalami perkembangan dalam sejarah pemikiran hindu,mulai dari zaman mantra, brahmana dan upanisad, demikian juga dengan zaman purana dan mahabrata. Embrio konsep karma dalam zaman mantra dan brahmana pada mulanya hanya berbentuk ritual karma atau upacara yang di maksudkan sebagai nindi atau deposito di surga setelah seseorang meninggalkan dunia ini. Dalam zaman upanisad dan kesusatraan veda berikutnya, konsep karma di berikani  makna yang lebih luas,tidak hanya berarti ritual, melainkan lebih luas dari I. Sebagai konsep spiritual (salah  satunya: penyerahan diri) yang memberikan pembebasan kepada setiap jiwa dari reinkarnasi.
  2. Puncak dari pemikiran tentang karma di ulas dalam Bhagawan gita  yang m,erupakan inti sari seluruh upanisad.Di sini di sebut karma phala itu adalah suatu yang sangat rahasia dan membingungkan,dan untuk mengerti makna karma yang sejati, serta untuk menghilangkan kebingungan tersebut karena pengaruh tri guna, maka di berikan pengertian tentang karma, vikarma dan akarma.
  3. Berdasarkan kekuasaan bhagwan gita ,subha dan asubha karma atau karma /bandana,yaitu ikatan karma,hanya bias di lepaskan melalui menyerahkan diri  kepada tuhan sri kresna, karena beliau bebas dari pengaruh tiga sifat alam. (SATVAM, RAJAS, TAMAS).
  4. Reinkarnasi adalah kelahiran kematian berulang-ulang ke dunia maya ini yang di alami oleh setiap jiwa karena ikatan karma bandana, atau subha dan asubha karma.

DAFTAR PUSTAKA
Aurobindo, Sri, The Upanisads, Part one, Sri Aurobindo Ashram Pondicherry, India, 1981.
Bahadur, K.P. Upanisad Hindu Scriptures Of Spriritual Truth, Heritage, New Delhi, 1979.
Deussen, Paul, The Philosophy Of The Upanisads Dover Publication, New York, 1905.
Bibek Deboy. 2002. Agni Purana. Surabaya : Paramita.
Kadjeng, I Nyoman, Dkk. 1993  Sarasassamuscaya. Proyek dan Penuluhan Beragama tersebar di Dati II.
Mariana, I Nyoman, Dkk. 1994. Penuntun Belajar Agama Hindu . Bandung : Ganeca Exact.
Ngurah, I Gusti Made, Dkk. 1999. Buku Pendidikan  Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramita.
Pendit, S, I Nyoman. 1994. Bagavadgita. Jakarta : Daya Prana Pres.
Wardhana, Made,dkk. 2007. Karma dan Reinkarnasi. Denpasar : Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia.
Mantik, S, Agus. Upanisad-upanisad Utama, Volume 2, 1992, Jakarta : Yayasan Dharma Sarathi.

2 komentar: