Google+

Sekilas tentang Desa Adat Beluangan Perean Kangin, Kecamatan Baturiti Tabanan

Sekilas tentang Desa Adat Beluangan Perean Kangin, Kecamatan Baturiti Tabanan

Kata “BELUANGAN” bagi warga masyarakat Banjar Adat Beluangan belum ada persamaan pengertian mengenai asal mula dari kata tersebut. Asal mula kata ini begitu penting diketahui karena ada kemungkinan memiliki nilai-nilai sejarah dan makna spiritual yang sangat berguna bagi kita generasi penerus Banjar Adat Beluangan.

Karena sampai saat ini tidak ada atau belum ditemukan buku-buku atau lontar-lontar yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan “ BELUANGAN”, disini penulis mencoba berusdaha mengungkap dari sudut pandang lain mengenai asal kata “BELUANGAN”. Mudah-mudahan bisa memberi tambahan wawasan bagi warga semua, untuk nantinya bisa ikut bersama-sama mengungkap kebenaran yang terkandung atau menyertai kata tersebut, sehingga dijadikan nama sebuah banjar oleh nenek moyang kita, dimana di tempat ini kita terlahir dan di tempat ini kita pula akan menutup mata dan menghembuskan napas untuk menghadap kepada kebenaran yang tertinggi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


Dari uraian beberapa buku, terutama sekali buku-buku babad yang banyak sekali mencantumkan nama-nama tempat, penulis menemukan suatu kebiasaan dari nenek moyang kita terdahulu dimana nama suatu tempat diberikan berdasarkan adanya kejadian-kejadian khusus atau benda-benda tertentu atau sesuai bentuk geografis daerah tersebut yang bisa di pakai kenangan atau sejarah bagi pretisentananya. Disamping itu nama sering kali di-plesetkan secara tidak sengaja bila dipakai di tempat lain, misalnya :
  • selasah-selisih menjadi selesehan
  • titiempeg menjadi timpag
  • pupul (berkumpul) menjadi puluk-puluk
  • taruka (kampung) menjadi penarukan
  • pau aan menjadi apuan
  • arungan menjadi penarungan
  • nyusulang menjadi  sulang menjadi sulangai
  • bulihan menjadi bungkulan
Dari kebiasaan di atas penulis berusaha mencoba menelusuri asal kata “BELUANGAN” yang kita kenal sekarang. Dari nama-nama tempat yang terdapat dalam buku-buku babad, yang mempunyai kemiripan dengan kata “BELUANGAN” antara lain :
  1. Banjar Belubang, Desa Kawan Bangli
  2. Banjar Kaja, Desa Belubang Tabanan
  3. Banjar Belulang, Desa Mangesta Tabanan
  4. Banjar Belulang, Desa Sangkan Gunung, Karangasem
  5. Banjar Desa, Desa Balulang, Sidemen, Karangasem
  6. Banjar Balulang, Desa Sepang, Negara
Itulah diantaranya nama tempat yang memiliki kemiripan dengan nama “BELUANGAN”. Adanya perbedaan-perbedaan kecil yang terjadi, menurut penulis disebabkan terjadi plesetan yang secara sengaja maupun tidak disengaja dalam jangka waktu yang lama dan turun-temurun menyebabkan adanya perbedaan dari  kata asalnya.

Di dalam buku Babad Pasek karangan Jro Mangku Gde Ktut Soebandi dan buku Babad Pasek terjemahan I Gusti Bagus Sugriwa ada diuraikan sebuah nama asal yang ada kemiripan dengan nama “BELUANGAN”. Di dalam buku-buku tersebut diuraikan sebagai berikut:

Saat kejadian “RUG TULAMBEN” tahun 1680 banyak orang-orang Tulamben pergi dari desanya, termasuk diantaranya Ki Pasek Bale Agung yang bernama Wayan Pasek Subratha atau Wayan Pasek Desa. Dari Tulamben pindah Sibetan, kemudian Pesangkan. Dari Pesangkan pindah ke Sidemen bersama pengiringnya 75 KK. Disana mereka bernaung kepada Ide Gde Dangin Jambe. Oleh I Dewa Gde Dangin Jambe mereka ditempatkan pada tempat bekas Sang Caplokan. Sang Caplokan dahulunya bersaudara 2 orang yang perempuan bernama Sang Ayu Giri adalah bekas istri datuknya I Dewa Gde Dangin Jambe yang bernama I Dewa Gde Ngurah. Tempat yang terletak di Bukit Galah ini akhirnya disebut Banjar Sanggem dan Banjar Balulang. Kedua banjar ini pernah ditempati oleh pelayannya Ki Dukuh Belatung setelah Ki Dukuh Belatung dikalahkan oleh Ida Bagus Manik Angkeran. Setelah mendapat ijin dari saudaranya Gde Pasek Padang Subrata di Sangkan Gunung yang bernama I Gusti Sangkan Gunung maka tempat tersebut di atas di beri nama Banjar Sanggem dan Banjar Desa yang termasuk Desa Balulang.

Berpegang pada sejarah di atas dapat disimpulkan nama Desa Balulang diambil dari kata “balu” (janda/bekas istri), sesuai dengan status Sang Ayu Giri yang seorang “balu” dari I Dewa Gde Ngurah. Maka dari nama Balulang ini terplesetkan menjadi kata “Belubang” atau “Belulang” atau “Beluangan”. Jadi nama “BELUANGAN” kemungkinan berasal kata “balu = walu = janda = bekas istri”. Kesimpulan ini tidak mengesampingkan pendapat sebagian warga yang mengatakan kata “BELUANGAN” berasal dari kata “ belu atau pohon belu” atu pendapat yang lain yang mengatakan kata “BELUANGAN” berasal dari kata “beluang” atau sejenis serangga

ORANG YANG PERTAMA-TAMA MENEMUKAN ATAU MENEMPATI BANJAR BELUANGAN

Untuk menentukan siapa yang sebenarnya yang pertama-tama   menemukan tempat yang sekarang bernama “BELUANGAN” , penulis menemukan kesulitan. Seperti kita ketahui bersama bahwa hampir sama sekali tidak ada prasasti atau lontar yang menjelaskan hal tersebut.

Penulis akan mencoba menelaah hal-hal di atas dengan melihat beberapa kenyataan yang ada di lingkungan Banjar Beluangan yang dihubungkan dengan tulisan-tulisan yang ada di dalam babad.

Kebiasaan dari nenek moyang kita terdahulu dalam perpindahannya dari seatu tempat ke tempat lainnya yang akan dipakai pemukiman baru . Faktor utama yang ditentukan apakah suatu tempat layak ditempati atau tidak, adalah ada tidaknya sumber air di tempat tersebut. Hal ini juga dilakukan oleh Maharesi Markandya yang berasal dari Gunung Raung, Jawa Timur untuk membuka pemukiman baru di “PULO DAWA” atau Pulau Bali.

Tempat baru yang akan dipakai sebagai tempat pemukiman masih kebanyakan berupa hutan belantara. Dimana prosesnya akan diawali dengan perabasan hutan, pembakaran dari rabasan tadi untuk tempat membuat rumah dan untuk kebun atau ladang.

Secara geografis sumber air yang pertama-tama ditemukan adalah sumber air yang mengairi “TUKAD DANGKANG” . Sumber air yang paling hulu dan berdebit cukup besar yang mengalir di Tukad Dangkang adalah sumber air yang sekarang kita kenal dengan “BIJI-BIJIAN KEMULAN”. Sumber air ini oleh penemunya dipakai sebagai pemenuhan kebutuhan primer kehidupan mereka yaitu memasak dan minuman.

Dari nama sungai Tukad Dangkang kita ulas nama “DANGKANG”. Yang paling mendekati kata dasar Dangkang adalah “DANGKA”. Kata Dangka sendiri persis sama dengan nama salah satu soroh pasek yaitu “PASEK DANGKA” yang merupakan keturunan salah seorang resi dari Sapta Resi yaitu Mpu Dangka.

Kata “KEMULAN” juga bisa dihubungkan dengan keberadaan dari Pasek Dangka. Seperti diketahui kebiasaan dari nenek moyang kita membawa atau memakai nama asal dan dipakai di tempat yang baru untuk mengenang dan mengingatkan pada keturunannya bahwa leluhurnya berasal dari tempat yang namanya dipakai di tempatnya sekarang. Dalam Babad Pasek dijelaskan mengenai adanya Pasek Dangka di Banjar KEMULAN, Desa Jagapati Badung. Dijelaskan pula bahwa Pasek Dangka di Banjar Kemulan, Desa Jagapati menurunkan Pasek Dangka di Banjar Sema, Desa melinggih, Payangan. 
Berikut garis besar keturunan Mpu Dangka sampai adanya Pasek Dangka di Banjar Kemulan, Desa Jagapati Badung:
  • Mpu Dangka
  • Mpu Wira Dangka
  • Sang Wira Dangka
  • De Pasek Lurah Kadangkan di Banjar Kawan, Desa Selisihan, Kelungkung (diangkat Amancabhumi tahun 1335 M)
  • Pasek Dangka di Banjar Dukuh, Desa Nyalian, Kelungkung
  • Pasek Dangka di Banjar KEMULAN, Desa Jagapati, Badung
  • Pasek Dangka di Banjar Sema, Desa Melinggih, Payangan, Badung
Dengan memperhatikan penjelasan di atas dapat diperkirakan bahwa orang yang pertama menemukan atau bertempat tinggal di Banjar Beluangan adalah warga Soroh Pasek Dangka, dimana kemungkinan besar beliaulah yang memberi nama sungai yang berada di sebelah Barat Banjar dengan nama “TUKAD DANGKANG” dan member nama sumber air yang beliau temukan dengan nama “KEMULAN”.

Dengan berasumsi Pasek Dangka di Banjar Sema, Desa Melinggih, Payangan yang pertama menemukan tempat yang sekarang bernama Banjar Beluangan dan berpatokan pada De Pasek Lurah Kedangkan di angkat Amancabhumi tahun 1335 M, asumsi umur saat diangkat kira-kira 30 tahun, maka dapat disimpulkan orang pertama yang menemukan tempat yang sekarang bernama Banjar Beluangan terjadi sekitar tahun 1455M (catatan : keturunan pindah ke tempat lain saat sudah berumur kira-kira 30 tahun)

PASEK KUBAYAN

Dengan berasumsi dari kebiasaan nenek moyang kita memberi nama tempat yang baru ditempati, berdasarkan nama tempat atau kejadian-kejadian khusus yang pernah dialami oleh leluhurnya terdahulu di tempat yang lama, penulis mencoba menelusuri orang pertama yang memberi nama tempat yang sekarang bernama Banjar Beluangan.

De Pasek Lurah Kubayan di angkat amancabhumi oleh Raja Sri Gajah Waktra tahun 1335 M yang mewilayahi Desa Bayad sampai Desa Wangaya dan bertugas ngamong Pura Batukaru dan Pucak Penulisan. Dari keturunannya yang kebanyakan berada di Daerah Tabanan, ada dua nama tampat yang mirip dengan dengan nama “BELUANGAN”,  yaitu “Banjar JAGASATRU” dan “Banjar BELULANG”.

  • Selengkapnya garis besar dari keturunan De Pasek Lurah Kubayan dapat dijelaskan sebagai berikut :
  • Mpu Ragarunting
  • Mpu Wirarunting/Mpu Paramadhaksa
  • De Pasek Lurah Kubayan di Banjar Bendul, Desa Wangaya Gede(diangkat Amancabhumi tahun 1335M)
  • Pasek Kubayan di Banjar Bendul, Desa Wangaya Gede menurunkan 2 yaitu (1)  Pasek Kubayan di Banjar JAGASATRU, Desa Kediri Tabanan, kemudian enurunkan Pasek Kubayan di Desa Pejaten, Tabanan,  (2)  Pasek Kubayan di Banjar Kedampal, Desa Mangesta, Tabanan menurunkan Pasek Kubayan di Banjar Wangaya Betenan, Desa Mangesta, Tabanan kemudian menurunkan Pasek Kubayan di Banjar BELULANG, Desa Mangesta, Tabanan.
Dari uraian di atas adanya Pasek Kubayan di Banjar JAGASATRU, Desa Kediri Tabanan, sama persis dengan nama sumber mata air yang di pakai “biji-bijian”/tempat pesucian oleh warga masyarakat Beluangan yaitu “Biji-bijian JAGASATRU”. Dan juga adanya Pasek Kubayan di Banjar BELULANG, Desa Mangesta, Tabanan, yang sangat mirip dengan nama Banjar BELUANGAN. Ada kemungkinan nama BELULANG terplesetkan menjadi BELUANGAN. Dengan asumsi pendapat itu benar, maka dapat ditarik kesimpulan nama “BELUANGAN” dipakai pertama kali oleh Warga Pasek Kubayan yang datang ke tempat yang sekarang bernama Banjar Beluangan.

Berdasarkan pengangkatan Amancabhumi terjadi tahun 1335 M, maka kedatangan Warga Pasek Dangka dan Pasek Kubayan di tempat yang sekarang dikenal dengan Banjar Beluangan selang waktunya berdekatan, namun diperkirakan Pasek Dangkalah yang datang lebih dahulu karena karena warga pasek inilah yang memberi nama sumber kehidupan yang paling vital yaitu air dengan memberi nama sungai di Barat Banjar dengan nama “TUKAD DANGKANG”. Dan perlu diketahui sumber air “KEMULAN” dan “JAGASATRU” merupakan sumber paling hulu dari sungai TUKAD DANGKANG, disamping juga sumber air “MUMBUL”.

Dengan perkiraan kedatangan Warga Pasek ke tempat yang Bernama  Banjar Beluangan sekitar tahun 1455 M, dapat disimpulkan pula kedatangan Brahmana Mas yang sempat menempati Banjar Beluangan jauh rentang waktunya dari kedatangan Warga Pasek yang pertama. Hal ini dapat dijelaskan dari kedatangan Dang Hyang Nirartha ke Bali terjadi pada tahun 1489 M saat pemerintahan Raja sri Waturenggong di Gelgel.

BENDESA MAS DI BANJAR BELUANGAN

Keberadaan Pasek Bendesa Mas di Banjar Beluangan, memang sesuai dengan uraian dari buku Babad Pasek jilid III oleh Jro Mangku Gde Ktut Soebandi, 1991 hal, 24. Dimana dijelaskan keturunan Pasek Bendesa Mas di Banjar Beluangan menurunkan Pasek Bendesa Mas di Banjar Tumbak Bayuh, Gunung Pande, Buduk Badung dan Pasek Bendesa Mas di Banjar Kawan, Desa Senganan, Penebel Tabanan.
Selanjunya keberadaan Pasek Bendesan Mas di Banjar Beluangan dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut :
  • MPU  WITHADHARMA(SALAH SATU SAPTA RESI)
  • MPU WIRADHARMA menurunkan 3 yaitu : (1) MPU LAMPITHA, (2) MPU PANANDA, (3) MPU PASTIKA
  • MPU LAMPHITA
  • MPU DWIJAKSARA   
  • KI PATIH ULUNG / KI AGUNG PANGERAN GELGEL
  • KI AGUNG PANGERAN         BENDESA MAS  menurunkan 2 yaitu I GUSTI BENDESA MANIK MAS/I GUSTI BENDESA MAS/  PASEK  BENDESA MAS/BENDESA MAS dan I GUSTI SEMARANATHA
  • I GUSTI SEMARANATHA
  • I GUSTI  RAREANGON
  • I GUSTI PASEK GELGEL,   I GUSTI BENDESA MANIK MAS/   I GUSTI BENDESA MAS/PASEK BENDESA  MAS /BENDESA MAS 
  • PASEK BENDESA MAS DI BANJAR   TARUKAN, TAMAN PULE
  • PASEK BENDESA MAS DI BANJAR MAWANG KELOD, LOD TUNDUH 
  • PASEK BENDESA MAS DI BANJAR PENOPENGAN,  ABIANTIMBUL-SANUR 
  • PASEK BENDESA MAS DI BANJAR  BELUANGAN, PEREAN-TABANAN menurunkan 2 yaitu : (1)PASEK BENDESA MAS DI BANJAR  TUMBAK BAYUH,   BUDUK-BADUNG  DAN (2) PASEK BENDESA MAS DI BANJAR KAWAN, SENGANAN-PENEBEL-TABANAN

PASEK GADUH DI BANJAR BELUANGAN

Seperti yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat kita bahwa warga Banjar Mandul, Desa Luwus Tabanan, pernah menetap di wilayah Banjar Beluangan. Banyak hal yang bisa membuktikan keadaan ini seperti lokasi pembuatan Kahyangan Tiga yang diempon Banjar Adat Mandul, hari piodalan di pura-pura tersebut sama persis dengan hari piodalan Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Beluangan, ini kemungkinan sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat yang pernah ditinggali dan ilen-ilen piodalan di masing-masing pura tak pernah mendahului waktu ilen-ilen piodalan di Desa Adat Beluangan.
Di dalam Babad Pasek dijelaskan adanya Warga Pasek Gaduh yang tinggal di Banjar Adat Mandul, Desa Luwus Tabanan, secara ringkas bisa diuraikan sebagai berikut :
  • Mpu Dangka
  • Mpu Wira Dangkya
  • Mpu Wira Dangka
  • De Pasek Lurah Gaduh di Banjar Peminggir, Desa Gelgel, Klungkung
  • Pasek Gaduh di Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar
  • Pasek Gaduh di Banjar Gaduh, Desa Sesetan, Badung
  • Pasek Gaduh di Banjar Sengguhan, Desa Buduk, Badung
  • Pasek Gaduh di Banjar Gaduh, Desa Kaba-Kaba, Tabanan
  • Pasek Gaduh di Banjar Mandul, Desa Luwus, Tabanan.
Menetapnya warga yang sekarang menjadi Warga Banjar Mandul di wilayah Banjar Beluangan tentunya banyak terjadi assimilasi, pembauran baik itu di areal pekarangan rumah maupun hubungan kekerabatan dengan Warga Banjar Beluangan. Mengingat di jaman dahulu sangat jarang terjadi perkawinan dimana rumah mempelai pria dan wanitanya letaknya  berjauhan, berbeda keadaannya dengan jaman sekarang.

Berpedoman dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dari sekian banyak jumlah Warga Banjar Beluangan saat ini, kemungkinan besar beberapa diantaranya merupakan keturunan dari De Pasek Lurah Gaduh yaitu “Pasek Gaduh”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar