Google+

Lontar Roga Sangara Bumi

Lontar Roga Sangara Bumi

Secara umum, lontar ROGA SANGARA BHUMI berisi tentang :
  1. Sebab-sebab malapetaka/bencana terjadi di dunia,
  2. Jenis-jenis malapetaka/bencana yang dapat terjadi di dunia
  3. Beberapa ciri akan datangnya malapetaka/bencana
Lontar Roga Sangara Bumi diartikan:
  • Roga: penyakit, sakit, dan cacat badan.
  • Sanghara /Samhara: menarik kembali; meniadakan; rusak; lebur; kehancuran; pembinasaan (Mardiwarsito, 1981: 507). 
  • Bhumi: bumi.
Jadi ROGA SANGARA BUMI berarti menetralisir atau meniadakan bencana di dunia.

Menurut lontar Widhi Sastra yang terdapat dalam Lontar Roga Sangara Bumi, masyarakat Bali setiap lima tahun sekali harus melaksanakan upacara tawur agung yang disebut dengan Pancawalikrama. Upacara ini dilaksanakan di Pura Besakih. Dikatakan ini merupakan sabda dan titah dari Bhatara Putrajaya yang berstana di Gunung Agung.

Sebagai konsekuensi apabila upacara itu tidak dilakukan, maka Bhatara Putrajaya akan kembali ke Gunung Mahameru. Dari situ beliau akan menyebarkan segala penyakit mematikan dan dunia dibuat hancur. Saudara bertengkar dengan saudara, terjadi kerusuhan di sana-sini. Adapun tujuan dari upacara tawur agung Pancawalikrama adalah untuk menghaturkan persembahan berupa jenis-jenis hasil bumi, beberapa satwa, yang dipersembahkan kepada para dewa dan para bhutakala.

Kepercayaan masyarakat Bali bahwa dalam kurun waktu lima tahun sudah dapat dipastikan daerah Bali dan juga daerah lainnya telah terjadi kekotoran. Setidak-tidaknya kekotoran pikiran manusia (manacika), perkataan (wakcika), dan perbuatan (kayika), yang menyebabkan bumi kotor (cemer ikang bhuwana). Melalui upacara tawur agung Pancawalikrama diharapkan para dewa tidak lagi marah dan dapat memaafkan kelakuan manusia. Bumi menjadi bersih (kaparisudha). Demikian pula para bhutakala dapat dinetralisir sehingga tercipta kedamaian di bumi (sutrepti ikang rat).

Apabila terjadi bencana alam secara insidental, dan masyarakat Bali menginginkan kerahayuan jagat, maka dalam Lontar Roga Sangara Bumi disebutkan ada beberapa jenis upacara keselamatan yang dapat dilakukan:
  1. upacara prayascita, yaitu upacara penyucian bumi pada tatanan yang kecil seperti bangunan pribadi, kebun, dan sebagainya.
  2. Guru Piduka, yaitu upacara permohonan maaf kepada para dewa karena ulah manusia bumi menjadi kotor (cemer),
  3. Labuh Gentuh, yaitu upacara penyucian bumi yang tingkatnya lebih tinggi dari prayascita.
Di sini terlihat apabila terjadi bencana alam, masyarakat Bali tidak akan ribut sana-ribut sini menyalahkan orang, pemerintah dan lain-lain. Bencana yang terjadi justru menyadarkan masyarakat Bali bahwa kita telah banyak mengotori bumi, Para dewa dan bhutakala marah pada manusia. Untuk itu masyarakat Bali lebih banyak menyikapi dengan kearifan lokal yang termanifestasikan di dalam Lontar Roga Sangara Bumi.

Upacara-upacara penyucian bumi segera dilakukan sesuai dengan tingkatan-tingkatannya.  Mulai dari upacara penyucian bumi tingkat rumah tangga, tingkat desa, tingkat kabupaten/kota, dan tingkat propinsi. Upacara ini ditujukan kepada para dewa, bhutakala,  agar sudi memaafkan ulah manusia, mengmbalikan bumi ini menjadi bersih dan suci kembali. Tujuan yang paling penting sudah tentu agar tidak lagi terjadi bencana alam atau dijauhkan dari segala malapetaka.

Lontar Roga Sangara Bumi juga menjelaskan ciri-ciri atau tanda-tanda alam yang bermuara akan terjadi sesuatu yang tidak baik. Di samping itu ada pula ciri-ciri atau tanda-tanda alam yang mengarah ke kebaikan.
Adapun berikut ini beberapa tanda-tanda alam yang berarti keburukan akan terjadi:
  1. Ada pelangi yang masuk ke keraton dan minum air pada saat hujan. Ini pertanda raja atau pemimpin akan berumur pendek. Untuk mengantisipasi hal seperti itu harus dibuatkan caru (kurban) keselamatan.
  2. Ada binatang kijang, menjangan, berlari-lari masuk ke desa, masuk ke rumah-rumah berkeliling. Ini pertanda buruk bahwa desa itu katadah kala (dimakan bhutakala). Para satwa itu diperintahkan oleh para dewa karena desa itu kotor, tidak ada rohnya bagaikan hutan belantara. Untuk mengantisipasi hal itu, penduduk harus segera membuat upacara selamatan.
  3. Kahyangan (tempat pemujaan) ditimpa pohon, terbakar, diterjang angin puyuh, apalagi saat melaksanakan upacara yadnya. Ini pertanda buruk dan akan terjadi bencana yang lebih dahsyat. Masyarakat harus segera membuat upacara prayascita (penyucian).
  4. Ada bintang berekor (bintang kukus) di langit. Ini isyarat raja atau pemimpin akan kena musibah besar seperti ajal dalam sebuah pertempuran.
  5. Bila ada hujan darah, anjing melolong-lolong di jalan raya, burung gagak bersuara di malam hari, burung hantu bertarung dengan burung hantu, ada percikan darah di balai-balai atau di lantai. Ini pertanda masyarakat akan tertimpa wabah penyakit mematikan. Untuk menetralisir akibat dari tanda-tanda itu, masyarakat harus segera melakukan upacara selamatan.
  6. Segala hewan piaraan manusia seperti sapi, kerbau, kambing, dan sebagainya terjadi salah pasangan . Artinya terjadi perkawinan bukan sesama hewan sejenis, umpama: sapi kawin dengan kerbau, ayam dengan itik, anjing dengan babi, dan sebagainya.
  7. Hal salah pasangan juga dapat terjadi pada diri manusia seperti: paman kawin dengan kemenakan, ayah dengan anak, saudara kawin dengan saudara. Ini pertanda bhutakala telah merasuk  ke tubuh manusia. Ini harus segera dinetralisir dengan upacara penyucian jagat agar bhutakala kembali ke alamnya.
  8. Ada orang melahirkan dengan wujud yang tidak normal atau aneh, pohon kelapa di halaman  disambar petir, pintu gerbang  juga disambar petir. Semua tanda-tanda ini menandakan dunia telah kotor dan rusak. Untuk menetralisir segera dibuatkan upacara selamatan.
Di samping tanda-tanda yang menunjukkan alam akan terjadi mala petaka atau alamat buruk, dalam Lontar Roga Sangara Bumi juga berisi beberapa tanda-tanda yang menunjukkan alamat dunia akan baik, yaitu:
  1. Apabila ada hujan airnya tanpak kekuning-kuningan, ini disebut dengan madewa sudha (pembersihan oleh dewa). Hujan ini pertanda baik terutama terhadap orang yang kejatuhan hujan tersebut.
  2. Bila ada hujan airnya keputih-putihan maka ini juga perntada baik. Desa yang kejatuhan hujan seperti itu akan selamat, seperti segala penyakit akan menjauh.
Gempa adalah salah satu peristiwa alam yang amat mengerikan dan membuat manusia traumatis. Gempa dapat terjadi di mana  saja, kapan saja, dan terkadang getarannya kecil tidak membahayakan. Apabila getarannya besar, maka gempa dapat membuat  bumi luluh lantak (pralaya).
Lontar Roga Sangara Bumi juga berisi tentang bencana alam gempa beserta baik buruknya berdasarkan sasih (bulan) terjadinya gempa tersebut. Berikut uraiannya:
  1. Bila sasih kepitu (Januari) datangnya gempa secara terus-menerus, menandakan akan terjadi perang tidak henti-hentinya. Berbagai penyakit akan menimpa masyarakat.
  2. Bila sasih kaulu (Februari), dan sasih katiga (September) datangnya gempa secara terus-menerus, ramalannya akan  terjadi wabah penyakit sampai banyak orang meninggal.
  3. Bila sasih kesanga (Maret) datangnya gempa secara terus-menerus, ramalannya negara tidak akan menentu. Para pembantu meninggalkan tuannya.
  4. Bila sasih kadasa (April), ramalannya negara akan menjadi baik. Ini berarti sebagai pengundang Bhatara berbelas kasih kepada manusia.
  5. Bila sasih jyesta (Mei) dan sasih sada (Juni), ramalannya akan terjadi banyak orang sakit tidak tertolongkan.
  6. Bila sasih kapat (Oktober), sasih kalima (November) ramalannya sebagai pengundang dewata. Para dewa senang tinggal di bumi. Bumi akan mendapat kerahayuan. Segala yang ditanam akan hidup subur dan berhasil (saphala sarwa tinandur). Raja atau pemimpin bijak dan berbudu rahayu.
  7. Bila sasih kanem (Desember), ramalannya banyak orang akan jatuh sakit tidak tertolongkan. Untuk menetralisir patut segera dibuatkan upacara persembahan caru selamatan.
Kecuali pengaruh dan ramalan gempa yang terjadi akan mengarah ke kebaikan, maka gempa yang terjadi dan berakibat buruk pada kehidupan harus segera dibuatkan upacara caru selamatan. Gempa yang terjadi pada bulan-bulan yang berbeda dan berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia akibat marahnya para dewa. Untuk jenis upacara persembahan selamatan dan ditujukan kepada dewa siapa,  tergantung dari sasih (bulan) berapa terjadinya gempa tersebut.

berikut ini salinan dari Lontar Roga Sangara Bumi:

Om Awighnam Astu Namo Sidham
Nihan Widhi Sastra, Roga Sangara Bumi, saking niti Bhagawan Dharmaloka, katama de sang aji ring Majapahit, tekaning Bali Madya, apa lwirnya, ritatkalaning ganti kali bhumi. Dewata matilar ring madhyapada, mantuk maring swargan mahameru, ginantianing Bhuta, sabhumi sami wwang kasusupan Bhuta, bahur ikang jagat perang sumelur, ratu ameseh lawan pada ratu, gering sasab marana tan pegat, ngendah laraning wwang, gumigil panas uyang, akweh pejah, desa tepi ning tasik tembening agering, mutah mising kadadak mati, mantra usada punah. Pandhita bingung, Weda Mantra tanpa sari. 

Aywa tan yatna Sang Bhujangga Aji, angemit praja mandala, anggawe kayowananing rat, danakena watek Paṇḍitaji, anguncaraken Weda, angundurakẹṇ gering marana ika, anggelaraken mantra, akasatawa, Sang Pandhita Buddhi, anggelaraken Weda, Bayu Astawa, sang Pandhita byuh sisya, anggelaraken teja astawa, sadhana;
wedyasuci, 3 soroh, saji 3 soroh, sasayut Dirghayusa Bhumi pras panyeneng, mapanggungan ring pangabhaktyan Sang Ratu, 
lukat ikang bhumi antuk homa tirtha duluran nawa ratna paideran, tekaning jadma kabeh ko angabhakti aneda urip dulurin;
pracaru ring lawang lawang sega sapunjung, iwak bawi ingolah, jajatah lembat asem, ring kahyangan sami 
salwiring sanggar paumahan, katur ring hyang,
punjungan putih kuning, dakṣiṇa canang pateh swang, segehan limang tanding, iwak bawang jahe, caru ika masanggah cucuk, magenah ring singgahaning lawang tengen, mapenjor carang tiing, makober wastra putih masurat ganapati, mwang bajra, cakra, dandha, pasah, trisula.

Pukulun paduka-Bhatara Ganapati, 
manusan paduka Bhatara minta urip, 
kataman gering kameranan, 
prangen tedahaken sarwa bhuta sasab kabeh, 
yan sida waras anak sanak putu rabininghulun, 
hulun angaturaken; tiningkah wedaya gana munggwing sanggar akasa, 
Ong namo stute Ganapati, sarwa wighna winasanam, sarwa mara wicitram, sarwạ roga winasanam.
Yan tepet de sang Pandhitaji anggelaraken, phalanya jerih kang sarwa bhuta sasab marana.
Hana ling Bhatara Putrajaya ring Basukih, uduh sang saji Bali, yatna ta kita mangemit praja mandala, mwang bhaktinta ring sarwa dewa, yan hana wwang ring nagarakrama, kena cukil daking, gering tan wenang tinamban, dening jadma kena sapa, upadrawaning, jadmanya olih dewata, haywa inge ring desa pakraman genahnya, yan sira ratu tan mamituhu pawarah ku, aku mulih maring Giri Mahameru, angadakaken gering sasab marana ring sarwa jaga mangkana ling Bhatara munggwing Widhi Sastra, mwang yan sira punggawa ratu ring Bali Madya, yan sira nora pada ngawe tawur agung, ri panguluning jagat ring Basukih ngalimang tahun pancawalikrama, wastu gumi kali tan pegat idep aku andawut uriping manusa gadakang gering tutumpur sasab marana kweh, tekaning dipanya, macengilan ri samanya kadang tunggalan, masairu lawan kadang, yadyapin hana mangarcana aku, tan mantuk ring Basukih, aku matilar maring Giri Semeru, tan mahyun muwah sinungsung de manusa loka apan manusa loka panjadman kala katung, telas.

Mwah tingkahing gering kameranan, gumigil ngebus, kapati-pati, rebah wwang kataman gering tan tulungen, akweh mati, tan mandi sarwa usadha Pahosyan ikang wwang anahen laragering, sakuwu tan ana ingsal, Hyang ing wukir aweh lara, katur ring Bhatara Suryaloka riluhuring akasa, aparab Bhatara Druwaresi, uriping dewata kabeh, Bhatara Druwesi, maraga Sang Hyang Titah, sira nitah dewata kabeh, mahyun Bhatara Drumesi niwakang gering kameranan, wisya mawak angin, geni mawak angina mawak angin, mretha mawak wishya, ngawisyanin wwang manusa loka, Hyang ring wukir nglebang bhuta sasab munggwing Jawa Jambudwipa, ring gowwa matakep umahing sasab, mengaken lawan bikang giha Bhatara, mampehikang sasab, mahlar pawana, mawisia geni, satengah kalebang de Bhatara, ana sahasra kwehnya, kinwan mangringin manusa, anadah manusa, Bhatara Yama dadi mangwanin sasab, ana sipat Bhatara Yama, mamwiti sang dumadi, patuwuhing janma mati, yatika wenang pati, mangkana ling Bhatara Yama, ring watek bhuta sasab, mwah rupa ning sasab, I Bhuta pangawan wenang agung wenang alit, ngendah rupanya, sumusuping salwiring pangan kenum.

Yan sang aji Bali mrekertiyang gumi rahayu, wenang angaturaken guru piduka, mapinunas urip jagat nira, ri hyanging wukir ring Basukih, mwang ri Hyang ing sagara, mwah ring Panggulan Danu, wenang pada malabuh gentuh, wenang Pancawalikrama ring Basukih, rahayu ikang rat, yan nora mangkana, tan rahayu ikang rat.

Mwang sang amawa bhumi, sabanwarakrama, sapunpunya teka wenang mapinunas, ring hyang Druwaresi akasa, ngaturang guru piduka, Bhatara ring giri Bali, mwah ring Hyang Baruna, lwirnya katupat kelanan sasalaran itik ayam, tiwakang ring samudra, mwah panguluning setra, ngaturang guru piduka, yan mangkana, wenang tiwakin caru panglebar I Bhuta sasab, yan durung  mangkana, tiwakin caru, tan prasida ikang caru, bhuta sumangkin rusuh mwah ikang sasab wireh durung mapinunas ring Hyang catur, mangkana kajaring Widhi Sastra.
ma :
Pukulun hyang Ratnangkara, Hyang sagara geni, manusanira nunas urip bhuktinen sajinira dana becik, Ong sidhirastu yanamah swaha.
Mwah;
  • ka 6. tekaning gering kebus tan tulungan, makweh pejah kemaranan, sasab Bhatara luhuring akasa, mamatenin jadma, ca, tepening desa kidul, iwak bawi, ji, 40, oleh dena sangkep, punjungan petang pujung, iwak petang tanding.
  • Ka. 7. tekaning gering, salwiring lara, mwah sasab, Bhatara Guru maweh lara, :ca, sega amanca warna, iwak ayam berumbun ingolah cinaronaken ring smasana.
  • Ka. 8. ka. 3. tekaning lindu titir, pangataging gering sasab ring desa tepi siring, sasab Bhatara Surya, sasab Bhatara Baruna, sasab Hyanging Wukir, wenang angaturaken guru piduka, ring Bhatara Gunung Agung, ring Bhatara Surya, ring Bhatara Baruna, mangde uriping bhuwana, lwiring guru piduka, : tumpeng guru, sasayut pengambeyan peras panyeneng, sasantun, soda putih kuning makembaran, mwah sasayut dirghayusa bhumi, nga, panulak maranapati, mwang durmanggalapati.
  • Ka. 6. tekaning lindu titir, ika pangataging gering marana, rawuh geringnya ngebus uyang gumigil, rebah wwang agering akweh mati, Bhatara Suryageni ring akasa, maweh lara, I Bhuta Brahma ngungang, sasab Bhatara Surya, pakwih ikang wwang lara kapanasan, mangke teka wenang sang jadma kabeh, angaturaken pangenteg urip, ring kahyangan ring sanggar, lwirnya: canang daksina, sarwa putih sekarnya, soda putih kuning makembaran, malih canang masekar putih kuning.
  • Ka. 7. tekaning lindhu titir, prang sumelur kajarnya.
  • Ka. 8. tekaning lindhu titir, gering kadadak mutah missing, akweh wwang pejah kajarnya.
  • Ka. 9. tekaning lindhu titir, kumebeng ikang rat, ulun minggat ritwannya.
  • Ka. 10. tekaning lindhu titir, hayu ikang rat, pangatagging Bhatara mahyang ring manusha, Jyesta, sadha, tekaning lindhu titir, gering makweh tan tinulungan.
  • Ka. 4. Ka. 5. tekaning lindhu titir, pangataging watek dewata suka girang, mahyang ring madyapada, yowana ikang bhumi phalanya, saing tinandur wredhi, sang ratu dharma rahayu. 
Ling Bhatara Swamandhala, ring bhuh palaka ring rat, anggawe uriping bhuwana, ritatkalaning bhumi kena gering jaramarana, salwiring gering akweh mati, aywa maren mapinunas urip Hyang Bhagawati ri pangulu ning setra agung, ngrihinin mapinunas, nuju rawuh sasih, ka. 4, ka. 5, ka. 6, ka. 7, ka. 8, ka. 9, wusan, banten aturan suci asoroh, daksina pras sega pangkonan iwak bawi, ingolah denasangkep, jadmane pada ngaturang papranian ring dalem, maka swang, satuwuk nangken sasih ka 6, ka. 7, k. 8, ring bale agung, mwang ring puseh, mangkana ling Sanghyang Swamandhala munggwing sastra, yan tetep mangkana, doh ikang gering marana tekaning desa ika, hana Bhatara Swechandawegin desa ika, yan nora samangkana, rug ikang manusa loka, kapara gering marana, dening kali yuga bhumi, dewa maraga bhuta, tan sidha pracaru, Sarwa mahlar maka caru, wus mangkana, sarwa pasu maka caru, wus mangkana, macaru sarwa pasu, sasab sarwa mahelar, I Bhuta Gagak macucukageni, nga, sasab sarwa pasu, I Bhuta Garong, nga, sasab beberes, I Bhuta Kala Singha, nga, sasab manusa, Sang Hyang Kalantaka Mretyu, nga, andawut uriping manusa, samangkana lwirnya.

Iti Widhi Sastra, sangkayan niti Bhatara Druwaresi, sira mustikaning Dewa, wenang sira angurip jagat, amateni jagat, wenang tan kawara dening Bhatara ring martyaloka, sahana ning dewata nawa sanga, panca dewata, catur dewata, Sang Hyang Tri Purusa, asing dewata aparhyangan ring rasatala, yadyan prasada padasana meru kunang, kakawasa denira Bhatara Druwaresi, sira munggweng swarga Surya Loka, mwah Candra Loka, sira jiwaning dewata kabeh, sira humider laku lakuning Bhatara Surya Candra mangetan mangulon, sira maraga siptaning bhumi, hala hayu, sira maraga sarwa rupa, sarwa teja, sarwa tirtha, sarwa rupaning agni, sira nitah Bhatara kabeh, ring martya loka, Sang Hyang Brahma Wisnu Iswara, Siwa sadha Siwa paramasiwa, sira pada pranata ring Hyang Druwaresi, sira maraga titah, karane ana Widhi Sastra, katama de Sang Hyang Empu Yogiswara, sira ta kramaning dadi manusa utama wangsa, dadi panenggeking jagat, sahelwaning Bharatawarsa, yan ritekaning kali yuganing bhumi, prang sumelur, gering makweh, mahabhaya nikang rat, salah wetu salah rupa, ika angadakaken gering mageng, akweh paparitaning  jagat, angajaraken alaning jagat, ndi hangadakaken dhurmanggala ning jagat, sira paduka Bhatara Druwaresi, sangkayan kalemahan dhurmanggala ning jagat, sira paduka Bhatara Druwaresi, sangkayan kalemahan sari-sari, mretan Bhatara Baruna olih manusah sabhumi, tekaning kahyanganira, ring gumi maksya tan pegat kahili dening letuh, sawaning wong sadosa, bwangakni ring samudra, mangkana prawerti sang ratu ring madyapadha, kaplepekana weci lungguhira Bhatara Baruna, mahyun kapratistha Sang Hyang Sagara sidha telas letuhin kahyanganira Bhatara Baruna, hana tinitah denira Bhatara Druwaresi, upakara malabuh gentuh,
lwirnya:
guling pabangkit, matitimamah wedus  sapalaken, kadi tingkahing upakara maslang, malih guling pabangkit asoroh, guling pabangkit katuring Hyang tengahing sagara asoroh, maduluran tatebasan madanadan, madudusa agung, angedagang sanggar tawang rong tiga,
ring tepining sagara, neduhang sahananing pangadegan Widhi ring sagara, sabhumi punpunanira swang, mwah katuring sagara, bwangakna ring samudra, itik, ayam wedus, celeng, sampi, saha tegen-tegenan,maduluran suci, tatebasan, daksina, pras malih caru ring areping sanggar tawang, kebo kinelet, dagingnya ingolah dadi, 40 tanding, asu bang bungkem, sata amanca warna, itik belang kalung, sami ngareping sanggar tawang,
pandhita ngrayunin, Bhuda ring paselang,
mangkana kramanya sang ratu bhakti ri Hyang Arnawa, hayu ikang rat kabeh, yan nora samangkana yasanira sang adrewe gumi, yadyan ring jagat, pupug papalining Hyang ring kentel Bhuwana, ya nora terus makretti ri Sanghyang Arnawa, rebah ikang rat, apa kalane mangkana, krodha Hyang Baruna, Hyang Mina Rudra Hyang Nagaraja, Hyang Lembwara, sira anamburaken wisyeng jagat, saking telenging samudra, gring tan pantara anlugrubug, kala kali laraning wwang gering kadadak, kena upas beruang, tan sidha tinambanan, asing pangan kenum mesi wisia, rusak ikang bhumi, makweh siptaning pejah, kageringan, mangkana sang ratu, yan tan minahayu sagara, Sang Hyang Sagara maka huriping, rat, mangkana kajejring aji, ling sanghyang dhruwaresi, munggwing aji, o.

Nyan paparitaning bhumi rusak, amanggih bhaya sang ratu, ana siptaning bhumi, apa lwirnya, yan ana salwiring salah wetu, salah rupa, sering wetunya mangkana, ika cihnaning jagat rusak, ideping wang salah krama akweh, ne tan wenang wenangaken, gering kabaya-baya ikang bhumi, ideping wang tan bhakti, terpti ring twan, receh ikang bhumi, sang prabhu nuhuk idep asing kinarsa, mamanasi wadwa, wadwa meweh prih daging laku, pan keni kenining twan, panas ideping wwang kreśa, pakuwih kang janma, ideping twas satata angarcana gawe, sang juru loba ring pakolih, rusak ikang rat, haru hara ikang bhumi, ideping wwang kulang kaling, gering tan pegat, yadyan gawen upakara pambayuh bhumi, Hyang karegedan olih bhuta, sarwa saji katur ring Widhi, kalaraban dening letuh, Widhi mur tan suka mahyang ring bhumi, sarwa bhuta mawak dewa mawak kala, pangrubedaning bhumi gawen precaru suka ambhukti caru, sumingkin jenek wehi bhukti, nora maren geringe mangalahlah, dening twara ada panundung sakit, wedha mantra ndatan mandi, mangkana kajaring sastra.

Mwah laraping jagat rusak pidukan Bhatara kalih, ndyata: sira Bhatara Druwaresi malingga luhuring akasa, Sanghyang Anantasana ring sapta patala, pada dhuhka sira, ring sang munggweng andhabhuwana, riteka ning kali sanghara bhumi, Brahma amurti, sarwa Bhuta pisaca gananumadi manusa, horang ikang rat, tan patutur ikang wwang, amesehan lawan sanak, taskara pada galak, ideping wwang Amanda manadi twan, pramada ring sang dharma, mwah paparitaning gumi, sarwa sato tan pinaka kali kalinya, mwah salah rupa, salah wetu, mwah sang sadhaka pralaya tan pakalingan, mwang kapaten patenan, lindhu titir, wwang salah laki lakinya, tan katenger dening wwang coksa baksa idheping wwang, mantra tan mandi, wisia, marana. Letuh ikang bhūmi, kacampuran tekeng rasatala, duhka Sanghyang Anantabhoga, katapak gigir nira dening wwong kasmala, mapanas gigir nira, molah ikutnira, kumeter ikang rat, angajaraken hala hayuning jagat mwang Sanghyang luhuring akasa, paduka Bhatara Druwaresi, sira mustikaning dewa, sinembah dening dewata kabeh, sira uriping dewata, sira umider laku Bhatara Surya ring akasa, angetan angulwan sadaka, dhuka anon ikang rat, harep amuburaken bhuwana manusatala, anggawe hentyaning sang gumantya dewata madeg ring martyaloka, tekeng dhipaning jagat, ring manusha pada, apan panjadman kala katung ika wwang kabeh, tatan ana wanginya tekaning Surya Loka, trus tekaning sapta patala ring Baruna sthana, kapelepekan aweci letuh, mwah capala pakata, tan ana pambayuning Barunasthana, magleng Bhatara Druwaresi winentang lawasnira, makatungtungning astra, wisia kalakuta, tiiwaken ring mānusapada, matemahan raksasa, nga, Bhuta Brekala, tan pawak, kadi windu rupanya, masarira angina, apwi, toya, sira angadakaken gering gerubug, kadadak mati, yakita gering kena hantu, prana, nga : menggal mati, jiwanya age analap, wakne dalem angganya, pinangan olih Si Bhūta Bregala, bhūta ika wenang ageng, wenang alit, kawasta mawak suksma, dadi angunduh daging jajroan sangagering, inwataken ring Sang Hyang Kala Mayapati, ika angadakaken gering gerubug, mutah missing, weteng lara mawuwudesa, tan siddha tinamben, yan dīrghayusa jadma sabhumi nira, maren kataman gering jaramarana, wenang sang ratu punggawa sami, pada ring guminira, ngaksama bhakti nunas urip, ring paduka Bhatara Druwaresi;
banten katur ring akasa, suci lakshana, 2 soroh, maduluran saji, iwak itik putih jambul ginuling, rayunan putih kuning makembaran, iwak sarwa suci, mwah paduluranya kabeh, cecepan, sajeng denasuci, rantasan panca rupa, mwah pasucian, banten gawenang panggungan panyawang, pangadegnya, 6 depa, magenah ring pangabhaktian sang ratu, malih rin sor guling pabangkit asoroh, den agenep, sah panggungan, 
malih caru ring natar, iwak bawi, ji, 900, olah den agenep, dadi 99, ilohin panggungan ika, ulun bawine di tengah, malih iwak mahisha, olah den agenep, dadi 80 tanding, sangkui, 80, mastakaning mahisha ring tengah malih caru banten maolah den agenep, dadi 60 tanding, mastakaning banten ring tengah, maduluran iwak sawah, iwak sagara, iwak gunung, malih iwak mesa ingolah den agenep, dadi 40 tanding, mastakanya ring tengah, asu bang bungkem masambleh, sega sokan, tuak abruk, sega agung, pras penyeneng, panukun jiwa, arta aketi, 
sang angastrenin panyawang sang pandhita, anggelaraken Weda Dhruwathawa, Bhatarane luhuring akasa, manih brāhamana Buddha, anggelaraken weda pangastawan ring Bhatara Anantabhoga. Malih pracaru ring sor, senggu angastrenin, weda pūrwa gumi, pangateg sarwa Bhuta.

Malih pamyak gering kamaranan, akeh mati, ca:
katipat kelanan, katur ring sagara, maduluran tegen-tegenan, masalaran itik ayam, suci a soroh, tiwakakena ring sagara kabeh, mangkana kajaring aji Widhi Sastra katama antuk sira Empu Kuturan, saking Majapahit.

Mwah tingkahing jagat rusak, Bhatara Putrajaya mantuk maring Giri Sumeru, Sang Hyang Basuki mantuk maring Sagara, maraga Sang Hyang Baruna, pada ngawijilang gering sasab, Bhatara Putrajaya ring Basukih, bhuta manca warna, pada suksma mawanan bhayu bajra mahantu bajageni, kruna rupa, marambut agni, naka ganjira malela wresani, sumusuping angga manusa pejah kena sasab, wenang agung alit, yan kacaritan nisya tan kabranan ring para bhuta, gering gumigil, panas karahatan, mangkana panakiting wwang kena gering Brahma, Sasab Bhatara Baruna, bhuta mahulu naga, tan pira kwehnya, angadakang gering, saksana mati, sasab metu saking Surya Loka, gruddha ngebeking antariksa, ngamijilang sasab geni, kahudanan asing kapangan kinum wisia geni, laraning wwang agering ngebus kapati pati, rebah wwang kataman gering, akweh mati tan tulungan, tan wenang carunen, sumingkin angerusuh ring manusa sabhumi, Sasab Bhatara Yama, Bhuta Angga Rare, tan pira kwehnya, sumusup ring garbha, amangan daging jaroning manusa, gering mutah mising kadadak mati tan tinulungan, mangkana lingning sastra, mangke teka wenang Sang Aji Bali, mwah witek punggawa, ngarcana bhatara Siwaditya, Bhatara Siwageni, bhatara giri jagatnatha, minta uriping jagat, ngambe Bhatara Putrajaya, mangke mantuk maring Besakih, makadi Hyang Basukih, sweca urip ring manusa pada lwring upakaranya:
sasayut pangambeyan, pras panyeneng rayunan putih kuning, sasayut dirghayusa bhumi
pinunas ring Bhatara Putrajaya ring Basuki, mapinunas ring Bhatara Basukih, pinunas ring Bhatara Surya, pinunas ring Bhatara Yama, ngarcana Bhatara, ring kahyangan meru, ngarcana Bhatara Surya ring sanggar akasa, ngarcana Bhatara Baruna ring samudra, ngarcana Sang Hyang Basukih nyawang, ngarcana Bhatara Yama ring setragung, pada masuci daksina, sajanma kabeh maturan sasayut pager tuwuh, sinowang sowang, sodaan canang, Bhatarane matur tunasin uriping jagate, samangkana lingira Bhatara ring akasa, munggwing Widhi Sastra, katama olih nira sangaji Bali, ing kina kina.

Nyan Widhi Sastra ngarannya, saking nithi Sang Hyang Swamandala, Sang Hyang Surya akasa, katama de sang ratu ing kina kina, jumeneng ring Bhumi Bharatawarsha, ritatkalaning bhumi nuju kaliyuga, ratu ameseh lawan pada ratu, rug kang ikang bhumi, tan ana tunggal rumaksa bhumi, obah ikang rat, tan pegat kageringan, rabah ikang wwang kataman gering, larania panas, mati makweh, ri gumi nira sang ratu, aywa wineh anyekeh sawa, pendemen juga swang swang, nistha madya uttama wangsa, ne tan wenang pinendem, sang Pinandhita juga, aywa suwe ring greha, age bhina sami juga, sangkane tan wenang sang Pandhita rikalaning antaka pinendem, apan sang Pandhita maraga Surya, maraga geni, yan kedeh pwa sang ratu amandem sang Pandhita, kena upadrawa ikang bhuwana agung, tekeng ratunya, panas ikang rat, mawetu kali rugrag rug ikang bhumi, aja amendem sang pandhita, mwah yan ana pamangku widhi, nora mapodgala, pendemen juga ring setra, yan nora mapendem, sarwa dewa moktah, tan mahyang ring desa ika, mur mantuk maring swargan, lumra sahananing marananusup ring kadatwaning sang ratu, apan guminira kagenahan sawa, suka egar sarwa bhuta, amangan manusa, mwah sarwa bhuta gana pisaca dengen suka girang angambun śawa, sarwa dewa ring para kahyangan telas moksa mantuk maring swarga Surya Loka, sang ratu katama lara, olih para dewata, hyanging wukir Mahameru prasada piduka, dening watek bhuta sama lugraha nusup sarwa sasab, mornahomah ring kahyangan sami, tekaning kahyangan sang ratu, ngawisesa desa ika, teka wenang sahing pejah aja amreteka, ri sedeking bhumi kataman gering, haywa angekes sawa ring wesma, pendemen juga, yan nora pendem olahanya tan papegatan gering marana teka, mangkana lingira Bhatara swamandhala, aja ima-ima,

Mwah yan ana kahyangan sasembahan sang brahmana, mwang sang ratu, pada sinambeh de sang ratu, yan ana pralinggan Bhatara ring kahyangan ika, masanding maparek tan maselat marga, ritekaning kapatian kurenan de mangku Bhatara, age preteka, aja anglimari salek suwenya, yan ana kalangan gumi bhaya, kinwan de sang ratu dohaken anyekeh wangke ika, tan kararaban kahyangan ika, yan pramahimba marep sama juga, dohaken wangke, yang anti pamrateka, mulih ring dunungania nguni aywa nyekeh sawa ring dunungan de mangku, suwe suwenya, leteh parhyangan sang ratu, roh de mangku angukung cemer, maparek, yan doh angekes sawa selat marga selat rurung, limang dina de mangku kena cuntaka, dadi de mangku ulah-ulih ring kahyangan, ngaturang pasucian, yan de mangku nyekeh wangke ring umahnya, salawase tan wenang ulah-ulih ring kahyangan, yan tutug mabasmi, mwah cuntaka, wenang mara ring kahyangan

Mwah tekaning gering kameranan, rebah sang agering mati makuweh sadesa-desa, aywa mreteka wangke, pendem juga, sawangsa nista madya utama, yadyan pamongmong widhi, yan nora masurudayu, kapatak siwa dwara nya de sang pandhita brahmana, dudu amangku Widhi Uttama, wenang pendem juga, ne tan wenang pendem sang Brahmana Pandhita, mangkana ling Bhatara Putrajaya jumeneng ring Basukih, aywa sang punggawa ratu ring Bali, amurug kajaring aji iki, phalanya mur ikang Widhi, mantuk maring giri Sumeru, aniwakaken upadrawa, ring sang ratu ring Bali, maweweh gering kamaranan tan pegat, rug rebah ikang jagat, mangkana kajaring sastra, pakarya sira Empu Kuturan, jumeneng ring Majapahit.

Nyan prawesa guminira sang ratu, katiban durmanghala, lwirnya,
yan ana hyanglalah umanjing ring kadatwanira sang ratu, tur anginum we kalaning hudan, ya ana samangkana, iku tekaning alpa yusa sang ratu cihna ning rusak, age pinahayu, pilih dirghayusha aywa liwar pitung heri, aniwakaken caru, yan liwar pitung heri, tan prasida moktah wighna nira, mangkana kajaring aji, pracarunya;
ngadegang sanggar tawang rong tiga,
ring kadatwannya, mapanggungan agung, maguling pabangkit den agenep, mungah suci ring sanggar tawang, 7 soroh, denasangkep, caru ring sor, maguling babangkit den agenep, carunya kebo, kambing, banteng, angsa, itik belang kalung, siap manca warna, tiningkah kadi tawur agung, mangkana kramanya.

Mwah yan ana buron kidang menjangan sengan, malayu layu larinya, dateng ring desa pakraman, umanjing ring umah, mider palayunya, yan ana samangkana lwirnya dahat mahala, yatika cihnaning desa ika, janma katadah kala, karaning i kidang tinitah de Sang Hyang Kali Yuga, umanjing ring desa ika, apan desa ika tan pajiwa tan pabhayu, tulia karana maha durgama, yan tan pinahayu, satata kawighnam desa ika, mapa laksananya, majengilan lawan rowang, corok cinorok lawan kadangnya, matemahan rusak gumi ika, apan kacatreng kala, pamahayunya;
adegakena sanggar tawang rong tiga, munggah suci, 5 soroh, den agenep, tiningkah kadi madudus agung, caru ring sor, tiningkah panca sanak denagenep, ring catuspata deśa ika genahing acaru.

Malih ring kahyangan, dalem puseh bale agung, ngaturang pangenteg, lwirnya suci daksina, rayunan, pras panyeneng, maduluran sasayut, prayascita, durmanggala, aywa sang rumaksa praja tan prayatna, namel guminira, anggawe kayowananing bhuminira, mangkana tata kramanya.

Nyan prawesaning ratu rusak, kataman durmanggala, lwirnya : yan sang ratu katibeng utpata, kahyangan pangabhaktyanya katunwan, muah katibeng karubuhan taru, yan sira katekaning gering baya, pati tengeranya samangkana.

Mwah sang ratu, ri karya ngawangun karya yadnya, amuja dewa, amuja pitra, katiban utpata, kalinus dening pawana, bayubajra wagyut rempakang umah, mwah linggih arcane widhi pitra ala temen kajaring aji. Mwang yan ana ratu ngawangun sarwa karya, minahayu dewa, pitra, katama bayubajra angrempakaken prasada, umah, linggih dewa, linggih pitra, yogya maprayascita, ngaturang utisaji, ri sira Bhatara Surya ring akasa, makadi ring Bhagawan Druwaresi, dening sira angideraken lakuning Bhatara Surya, sira anggawe durmanggalaning bhumi, agelar sipta eng bhuwana.
Ana carunya;
saji 2, genep saupakaraning saji, wangunan sanggar tawang panyawang, lumekas dang guru amuja parikrama, ngastawa Surya,
ma :
Om Suryaccanam dhruwam dewam, Surya sakalam sariram,
Brahma pawwatho bhaswaram, locanam jagat indranam,

Dewa dewa guru dewa, dhruwa suryo maharodram,

mrettanam sudha bhuhlokam, sarwa nara pratistanam.
Om siddhi swasti ya namah.

Pukulun Sanghyang Surya Candra, lintang tranggana, 
makadi sira Bhatara Bhagawan Dhruwasakti, nghulun angaturaken saji,
uripen, manusaninghulun, sidhaning karya-ninghulun,
tan amanggih upadrawa de Bhatara.

Nyan durmanggalaning sang ratu katibeng gering kabaya baya, apa lwirnya, yan ana kahyangan sang ratu, karubuhan taru agung, matemahan rusak, mwah ana katunwan, mwah ana pralingga arca sasembahannya, runtuh ring gedong panyimpenan, mwah yan ana raja karya uttama, lwirnya, amuja dewa, amuja pitra, bhuta yadnya, katibeng bayu bajra, rempak rug wawangunan, yan ana sang ratu katibeng utpata mangkana, tanurung amangguh baya gering kamaran, age pinihayu, wangunen sanggar akasa panyawangan ring geger;
banten suci genep 2 soroh, saji mwah banten durmanggala, sasayut prayascita, sami sarwa suci, munggah syur mas, syur tambaga, syur salaka, sami madaging tirtha empul, 
upakara ika katur ring Bhatara Surya, makadi ring Sang Hyang Resi Druwasakti, apan siranggawe ala ayuning bhuwana, anggawe sipta ring manushaloka, anggawe durmanggalaning rat, sira Sang Hyang Druwaresi angiderang laku Sang Hyang Surya angetan, mangde sira siddha punah salwiring ala ring sarira.
Iti pangastawanira, ma :
Om Surya jagatpati, surya netram tri bhuh lokam,
Dhruwa dewam maha saktyam, Brahma Surya jagatpatyam.

Bhagawan dhruwastunityam, wahanam Surya awanam,

rupa krura nagarupam, Wisnu wenana sariram.
Cakra dresanya wahanam, Wisnu dewa masariram,

moga ya moga kresna twam warsha sarira amawam.

Agni jwala rudram murtyam, surya tejo maha tiksnam,

Bhagawanta Dhruwatmakam, wahanam surya antaram.
Pukulun Bhatara Siwaditya, manusanira aneda nugraha kadirghayushan,

tan kagelehan dening sarwa dewa bhuta, sarwa durga,

waluya hning jati tan patalutuh, mwah yan ana durmita durmanggalaning jagat,

nugrahen kulun tan kataman wiroga upadrawa, de Bhatara sowing-sowang,
mwah watek Kingkara Bhuta, tan kana miroga nghulun,
Om sidhirastu yanamah swaha.

Malih malikat manawa ratna, salwiring karya prayascita.
Nyan tengeran durmala, yan ana buron umanjing ring umah, durmanggala sang ratu, nagaranira rusak, waneh yan ana yang lalah manjing ri ngumah, tur angnum we, ring kadatwan sang ratu, sang prabhu rusak. Mwah yan karubuhan kaywagung nora kapawanan, rusak sajanma ika, Kunang yan ana lindu titir tan pegat, durmanggala kali ageng, nga, mwang yan ana bintang kukus ring akasa, sang prabhu pejah ring perang, Kunang yan ana bintang dupa, sang brahmana lara pati. 

Malih yan ana lwih mageng sindunya, hudan makesekah, rubuh tang wreksa kahili dening lwah adres, tekaning sagara urugan, durmala dalem ika, pejah ring rana kriya.

Malih yan ana uler lulut kanaka, tumuwuh ring kadatwan sang ratu, mwah groda ring paseban, sinaputan dening sabang lungsir, durmanggalan sang prabhu, mawiwilan ring sanak manca ratu, tekaning rusak saneh-saneh.

Malih yan ana bayu madres, anganubaken grehan sang ratu, yan sang prabhu mangkat aprang pejah ring nira rana, Malih yan hudan rudira, ring kadatwan sag ratu, durmanggalan sang ratu pejah ring paprangan. Muwah yan ana hudan sega, lebhu, hudan api, durmanggalan jagat rusak

Kunang ana asu ngalulu, rahina wengi angalup, ring mangga agung, gagak muni rikala wengi, prawesaning janma katanam gering kabaya baya, aywa prayatna sang bhujangga aji, andamel ikang rat, lamakane apageh ikang bhuwana, aywa sang prabhu ngulah kasukan, kena panas tis ikang jagat, ginawe nira sang ratu

Malih ana durmanggala, sadesa-desa, dok aperang lawan dok, sarwa kumangkang-kumingking, mameseh lawan rowangnya, mwah masirat-sirat rudira ring natar mwang ring salönya, tengeran kaprejayeng satru teka, mwah gering tan papegatan lara, mati samangkana.

Ling Bhagawan Gargha, angajaraken utapataning jagat, ring sang bhupalakeng jagat, munggwing sastra sarwa dresti, prasiptaning jagat kabeh, ala kalawan ayu. Yata pinahayu kang jagat denagelis, asing katibeng durmanggala, gawenen prayascitaning jagat, angadegakena sanggar tutuan, ring kahyangan panghuluning jagat, rawuhing desa kahyangan wwong sudra, sadesa-desa, yan nguttamayang, maguling pabangkit yan madya sasayut durmanggala, mwah sasayut prayascita tanang adegang sanggar tutuan, yan nistha sasayut prayascita juga, gawenan dewek juga, sami sajanma pada maprayascita, mangening-ening, angilangang ludhaka ning jagat, anggawe dirghayusaning sarira. Mwah ana durmanggalaning jagat, wyaktinya, yan ana sima banwa sakrama desa, sapunpunanira sang ratu, ring gumi tepi siring amanca desa, kidul wetan kulwa madya, sapunpunanira sang ratu, kataman durmanggala, pati teka, lwirnya yan ana rudira katon dening wwang, ring sale-salenya, mwah sagenah rudira ika, ala kapanggihannya, gering sasab marana, kapati pati desa ika, rusak bhumi katiban mangkana, desa tan paguna, dewa mur, bayuning wwang kahuyup antuk Sang Hyang Kala Mretyu, manke kayatnakena de sang bujangga aji, ring niti sadananing alaning bhumi.
Ana pamahayunya, Sa: 
asu winangun urip, asu bang bungkem, itik belang kalung, winangun urip, sawung manca warna, kinlet, dagingnya ingolah sami, tandingannya mwah skulnya, kwehnya wilangin uriping dina panca wara, suci 4 soroh, masanggah tutuan, sasayut pangambeyan, genah acaru ring perempatan agung, janma kabeh maprayascita, narira sasayut prayascita.

Mwah angajaraken durmanggala, lwirnya : karubuhan sanggar, karubuhan lumbung, umah katunwan api pantara, yan ana wwang katibeng utpata mangkana, baya teka gering tan pegat, cendet yusa, lungsur kasukan, dewa malalis, age pinahayu, aja angliwari adasa heri, yan liwaring adasa heri, tan prasidha karya, sampun kacatreng kala, lwir upakaranya;
malukat Manawa ratna, sahupakaraning panglukatan, duluri pangambeyan, peras penyeneng, majapati, suci ring puseh, ring bale agung, sira apada abresiha sarwa hening, saha sasayut durmanggala, mangkana kramanya.

Nyan durmanggalaning ratu, kataman gering kabaya-baya, angajaraken ala pati, yan ana parhyanganira sang ratu, rebah katibeng taru, mwah katunwing api, mwang tangis karungu ring puri kala wengi, yatikangajaraken ala baya teka, yan sering ikang tangis karenga denira, mwah wwong ngarenga tangis ika, hyang nyanging puri manangis arep mur dening puri ika kagelehan;
wenang ambe hyangnya, pangenteg linggih ring sanggar, banten suci, sasayut panganbeyan, malih caru panca sanak, madudus alit, 
Mwah pracaru ring sang bhuta tungtung tangis;
itik putih ireng bang 3, pada kinelet dagingya inolah dena sangkep, dadi 18 tanding, skulnya 10 punjung saha rakanya, kakletan ika winadahan don tatlunjungan, 3, kawangi, 18 suci 1, sajeng, daksina, 1 bras catuan, arta, 8000.
ma :
Ong indah ta kita kamung Raja Bhuta, Sang Kala Sungsang Bhuwana, 
Sang Kala Sapu Jagat, Sang Kala Manngsa Bhuwana, 
iti tadah sajinira, 
asing kirang asing luput sampun tan geng rena sinampura, 
mangke sira pada wehen sang amanggih lara, 
manawi kacandet atamnira sang agering, kakungkung antuk Sang Bhuta Tiga Sakti, 
mangke antukaken ring raga walunan ipun,
mengke sang Bhuta Tiga Wisesha mantuk ring kahyanganira swang-swang.
Om Sang Kala Sungsang Bhuwana, mulih ring Bhatara Wisnu maring uttara, 
iniring dening Bhuta Ireng, petang atus petang dasa kwehnya.
Ong Sang Kala Sapuh Jagat, mantuk ring Bhatara Iswara maring purwa, 

kaniring antuk I Bhuta Putih, limang atus limang dasa lima kwehing sarwa bhuta, 
Sang Kala Mangsa Bhuwana, mantuk ring Bhatara Brahma, maring, daksina, 
iniring dening Bhuta Abang sangang atus sangang puluh sanga :
sakwehing bhuta kabeh, poma mundur,
Ong durgampati masariram, kala kingkara mossatam, 
kala mretyu punah sitam, sarwa wighna winasanam. 
Ong yang, Ong Ing, 
Ong mang namaswaha ho sat, 
Ong Ang Ung Mang, 
Ong Ing, Ong Wang, 
Ong sidhi rastu yanamah, 
Ang Ung Mang Ong, Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya Ong.

Nihan prewesaning bhumi katiban ala, apa lwiring prawesa, kebo sampi jaran wedus asu celeng banyak itik ayam, aslwiring iwen iwening manusa, salah kalih, tani rowangnya pinaka lakinya, tani istrinya pinaka istrinya, angapa ulah ning sarwa pasu, mwang triyak, kebo asanggama lawan sampi, sampi asanggama lawan misa, mahisa asanggama alawan kuda, wdus asanggama lawan baberes, sregala asanggama lawan celeng, salwiring salah timpal, kunang ikang wwang, angrabinin anak temen, angrabinin sanak, yatika angajaraken alaning bhumi, mwah wetuning salah rupanya nguni, durbala ikang rat, wwang menggal mati, menggal matuha, gering sasab marana, bhuminira, mwang pan kameranan, dening tikus, we malit, panas karahatan, angadakan gering ngebus, aring ikang rat, harohara sang prabhu angamel ikang rat, apan kasalisuh sangaraning jagat rusak, mangke kayatnankena de sang bhujangga aji, rumaksa punang jagat nggawe kayohananikang rat, ana pamahayunya, age pinahayu ratira, aja angliwari tahunan, pracarunya : 
ambhumi suddha, maprayascita ikang rat, tekeng manusanya,
carunya : asu bang bungkem, itik welang kalung, sata  amanca warna, tiningkah kadi caru manca sanak, malih sata wiring, itik belang, celeng butuhan, pada masambleh, sega triwarna magibung, bawang jahe marajang, siratin getih sasamblehan ika, twak akreci, segehan agung denangenan, sasayut prayascita, durmanggala, pageh tuwuh lara malaradan, masanggah tutuan, banten panglukatan denasangkep, munggah suci 2 soroh, malih panukun jiwa  ri sang bhuta jagat sasantun mawadah sok, bras akulatk, arta 60.000, malih pangenteg bhumi, banten tumpeng 9 warna, dadi awadah, sata brumbun linambarang, katipat pandawa, tulung urip 5  kawangen 9, muncuk dapdap 9 muncuk, tunjung, away inge, sang rumaksa jagat, nggawe pamahayun bhumi, mwah yan ana bhuminira katibang gering anda kacacar, maduluran pariwesa ning gumi teka kadi sahika, gering kacacar saranta rawuh, maweweh gering kameranan, desti teluh trangjana magalak, wwang ritepi siring, desa kulwan kidul mider, gering karahatan wisianira Hyang Baruna, age labahan ri tengahin sagara, malabuh gentuh sangatahun
.

Mwah ana durmanggala, maka cihnaning baya pati teka, apanya parhyangan ngawitin hala, yan ana kahyangan agung pangabhaktyanira, kapangan dening apuy, mwah katekaning gering kabaya-baya, mwah ana tangis ring grehanya, karungu dening wwang, Bhuta Rudita, mwang hyanging umahnya angajaraken pati, I Bhuta teka andawut atmaning agering, muwah yan ana gawe suka duka, tan pantara teka bayu bajra umyut, angrusak wawangunan, durmanggala ika, mapuhara gering kabaya-baya, mwah yan ana wwang katibeng durmanggala kadi sahika, hana tangis karungu ring grehannya wengi.
Iti pambahayunya, panulak durmanggala sang agering, Sa : 
itik belang kinelet, itik putih kinelet, itik ireng kinelet, dagingnya inolah denasangkep, itik bang jajatah, 9, olahannya atanding, itik putih jajatah, 5, olahannya atanding, itik ireng jajatah, 4, olahannya atanding, tumpeng bang, 2, tumpeng putih 2, tumpeng ireng 2, saha raka, daksina 3 bras bang, putih, ireng, sami makulak, pada wijinan sowing, artha 8000, duluran caru manca sata, asu bang bungkem, itik belang kalung, sanggah tutuan, maguling babangkit, saha malukat, sasayut durmanggala, sasayut prayascita, ring natar acaru, sang pandita angastrenin.

Mwah yan ana kalihalah, tiba ring grehanira sang ratu, tur anginum we, katon tejanya ring natar, yan ana samangkana, sang ratu rusak kajarnya. Mwah yan ana hyanglalah rumambat ing awan, mwah ring desa, ring wratmara agung, anyakra bhumi, mider ring awan, yan ana samangkana, bhumi nira sang ratu rusak, kamarana gering, tan pantara wighna, asing katibanan utpata samangkana, ingajaraken mangde pati.

Mwah yan ana wandhira, ring paseban sang ratu, sinaputan dening kabang lungsir, kadi akemul dodot, durmanggala ika, gumin sang ratu rusak, pada majengilan lawan kadang sanak, pada ratu, dadi ameseha lawan pada ratu, ikang jagat tan pahalingan, mwah yan ana lulut emas ring grehanira sang ratu, malawas tan ilang, sawulan rwang tahun, kari teka lawas sang ratu ika tan pegat, kabaya baya-pati.

Mwah guminira sang ratu, tatan pegat katibanan upata, apa luirnya anak ameteng, manak salah rupa, mwah salah wetu, tan pakarupaning mulanya kabeh, ika rupanya, sanggar gumi. Mwah yan ana kori agung, sinambering kilap, ala awanan sang adrewe greha ika, amanggih durbala tan pegat. Mwah grehan sang ratu rusak, katiban dening bayu bajra, yan rikala mangkat aprang sang ratu, kajarnya pralaya ring rana kriya. Mwah yan ana tunggul ketes kapawanan, mwang murddhaning tedung muletak ring ambara, mwah garubuh tan pawanan, ala teka ri sang ratu, wadwan sang ratu mwah para mantra kataman gering pati teka.

Kunang kadatwanira sang ratu, karubuhan taru agung, mwang kahyanganira karubuhan taru agung, ala dahat, angajaraken gering bayapati. Kunang yan ana hudan rudira ri kadatwan sang ratu, mwah hudan sega, durmanggalan sang ratu pejah ring rananggana.

Kunang yan ana hudan lebhu, hudan apwi, durmanggalaning jagat rusak ka jarring aji. Kunang rikalaning sang ratu amanggih lara gering kabaya-baya, ana tangis ring kadatwanira kala wengi, karenga dening wwong, ika durmanggalaning pati teka, sira sang kataman gēring.

Malih durmanggalaning sadesa-desa, dok aperang lawan dok, sregala aprang lawan asu, sarwa kumangkang kumingking, pada ameseh mesehan lawan rowangnya, mwang ikang rah katon ring salaring natar, ring awan agung, tan katon ripanangkanya, kadi sinirat kang rudira katon saunggwannya, ala dahat, tengeran desa ika kena gering sasab marana kapati pati. Mwah yan ana durmanggala hudan sada smu kuning wenya tumiba, madewa sudha, nga : rahayu hudan ika, kang katibanan mangkana.

Mwah yan ana hudan putih wenya, rahayu ikang desa katibeng hudan mangkana, madoh kang phalanya. Yan ana sawang ireng we nikang hudan, baya ikang rat, asing kahudanan mangkana, gering kebayajarnya. Mwang yan abang wening hudan ika, pralaya ikang jagat, kayat de sang ratu rumaksa jagat, anggawe kayowananing jagat, teka wenang sang bhuh lokeng jagat ngarcana Hyang satata, masadya uriping jagat, satang anggawe pambahayuning sarwa durmanggalaning bhuwana, malih bhuwana sarira, pracaruring durmanggala, pamargin caru ika, nista madya utama.
Yan uttamanya caru ika;
ngadegang sanggar tawang rong tiga, pracaru kebo, wdus, banyak, itik belang kalung, sata manca warna, asu bang bungkem, banteng, 
yan madya carunya;
tiningkah manca sanak ngadegang sanggah tutuan, carunya : wedus, banteng, angsa, itik belang kalung, sata manca warna, asu bang bungkem, genahing acaru, ring catuspata, desa katibeng durmanggala, malih ngaturang pangenteg, buminira ring kahyangan, dalem, puseh, mwah sahananing para kahyangan desa ika, bantennya suci den agenep, mwah sakuwu-kuwu mebhumi sudha, mabanten sasayut durmanggala, sasayut prayascita, sasayut pangambeyan, catur ring kamulan, upakara ika sira pandhita wenang amuja, yan nora samangkana, mur ikang dewa, matilar tan pawintun muwah, rug robah, ikang rat, mangkana kajaring sastra.

Nyan pracaru durmanggala, salwiring durmanggala, yan karubuh taru agung, karubuhan lumbung, kapanjingan buron, kapanjingan kuwung-kuwung, kalebon amuk, kasambering gelap, ginepok dening linus, salwiring durmanggala, lwir upakaranya;
tningkah caru panca sanak, maprayascita gumi, nangkludang desa, ring parampatan, genahing acaru, ngadegang sanggar tawang rong tiga, munggah suci den agenep, macatur mawedya, ring sor guling babangkit, den agenep, yan ring kuwunya sowing, mabanten sasayut pangambeyan, prayascita durmanggalaning jagat, ngaturang pengentas ring sanggarnya, suci, 1, daksina 1, canang maraca, ajuman putih kuning, tan Manawa ratna, lwiring toya empul, toya salukat, toya mangening, mangkana kwehing toya, sang angastrenin sang pandhita wenang away sang bhujangga aji asmurung linging sastra.

Mwah durmanggalaning jagat, yan karubuhan sanggar, wwang mangkana karubuhan lumbung tan kapawanan, sangkanya, umah katunwingapwi, yan ana wwang katibeng samangkana, baya pati gering tan pegat, kagenahin bhuta karang ika, pamali gumi magenah ring karang ika, age pinahayu, yan tan pinahayu, gering tan pegat, bicari mili, baya pati cendet tuwuh, lungsur kasukan, dewi malalis, upadrawa mili, saking kawitan, yan mahyun dirghayusa, pina hayu de agelis, yan liwar sampun kacatreng kala, lwring upakaranya;
malukat Manawa ratna ring sanggar banten panglukatan, dhandang 1, isuh-isuh den agenep, sasayut durmanggala, prayascita, pangambeyan 1, pras panyeneng, sang brahmana angastrenin.

Mwah yan durmanggalaning sudra, yan ana umahing sudra, klaphajrah kali ring umahnya, sinambering gelap, yan ana samangkana, age pinahayu;
panca sata, maguling babangkit, asoroh, malukat toya, 20 bulakan, sasayut madan adan, 11 tanding, panyapuh lara, malih toya 7 bulakan, toya empul, segening, sudhamala, pecampuhan, mangening, toya pasih, salukat, malihnya sasih, cengkirnya kinasturi, mwah cengkiring nyuh gading, sibuh pepek nyuh gading, daksina, 1 suci bang, katur ring Hyang Kamulan. 
Malih yan sampun magentos antuk sang madruwe karang karubuhan, yadyan sanggar, lumbung, ikang lakar sami genten, puput kadi dangu, malih macaru manca sanak, ring karang ika, pambahayu sarira, pambahayu karang pomahan, pambahayu wewangunan, mangkana kajaring sastra, niti Bhagawan Gargha, yan nora kadi kajaring sastra ika, amuhara durbala katama sang angastrenin pandhitane sampun wruhing pamarisudha wighna, wruh ring panglukatan nawaratna, yanora samangkana, tan kaparisudha salwiring mala ika.

Mwah durmanggalaning sang ratu, kataman gering kabaya-baya, angajaraken pati, yan ana tangis ring kadatwanira tur sring karungu dening wwang jro puri, hyang hyanging puri arep mur dening puri ika kagelehan, dening sarwa bhuta, ambe hyangnya gawenang pangenteg linggih, Hyang ring sanggar, banten suci, sasayut pangambeyan, durmanggala, pracarun sang bhuta, mawan tangis, 
Sa : 
itik putih, ireng, abang, pada kinlet, daging olah den asangkep, dadiang 18 tanding, punjungan putih kuning, saha rakanya, kakletan ika, mawadah don tarujungan, 3, muncuk kawangen, 18 besik suci, 1 sajeng rateng, daksina 1, bras 4 kulak, genep upakaraning daksina, arta 8000,
Iti mantranya :
Oh indah kita kamung raja bhuta, sang kala sungsang bwana, 
sang kala sapuh bwana, sang kala mangsa bwana, 
iti tadah sajinira, asing kirang luput ipun, geng rena sinampura, 
sang adruwe caru, wehen ya ama nggih dirghayusa, 
manawi kancadet kungkung atma jiwitane syanu, 
mangke antukakena ring raga walunane syanu, 
Ong siddhirastu ya namah swaha, 
Ong Sang Bang Tang Ang Ing, Nang Mang Sing Wang Yang, Ang Ung Mang.

Nyan durmanggalaning jagat, apa lwirnya, nora kalaning wetunya kadi kuna-kuna, mangke wetunya lyan, salah wetu salah rupa, yadiapi sang kanya garbhini, wekasan manak salah rupa, salah wetu, wenang metu, tan metu, wenang manak tan manak katon, yanora kadi kuna-kuna, wiunya, rupanya, kadi patunggal tunggalannya nguni, ala ikang rat, mwah salwiring ameteng, salwiring manak anak, tan ana anaknya katon dening wwang ala ikang rat, kala kali lumarap, corah magalak, gawur kang jagat, eweh sang amawa bhumi, maniking bhumi mur, sarwa mantra usadhi punah, sang pandhita duhka amangguh wyadhi, kretakretpa tan siddha kirti, gring makweh, we malit, sarang ikang rat, ideping wwang amada madani twan, loba moha matsarya, panasangkar ikang rat, harohara ikang rat, ajengilan lawan pada ratu, angadakaen kali tan pegat, Hyang ring ukir miroga bhumi, malih pangdaning Bhatara luhuring akasa, ndya Bhatara luhuring akasa, sira Bhatara Druwagni, umideraken lakuning Surya Candra, siranggawe teja rupa, mwang paparitaning jagay hala hayu, yan mahyun kayowananing jagatira sang ratu, angilanganga sanggar ikang rat, wangun karya ripanguluning jagat, ngeka dasa wikrama, riwus mangkana. 

Mwah wangunen karya sabanwa banwa punpunan sang ratu, ring martyapada madewa hara, amuspa hyang ring bale agung, sabumi bumi ngusaba desa, panyegjeg bhumi, mangkana kramanya, hayu ikang rat, mangkana kajaring sastra.

Nyan paparitaning bumi hala hayu, saking pembedan Bhatara Druwagni, umideraken laku Sanghyang Surya Candra, angetan angulwan, sang gumawe para siptaning bhumi hala hayu, maraga teja, tan kena kaparawa dening hyang kabeh, sira maraga huriping sarwa jagat, mwah yan hana ratu katibeng durmanggala, larapaning baya teka, yan ana kahyangan  sang ratu rusak rebah  tan pakarana, baya sang ratu katekaning rusak, age pinahayu ambe ikang hyang, maguling babangkit, madudus alit macaru manca sanak, mabhumi suddha, mangkana kramanya.

Mwah ana durmanggalaning jagat, baya tekaning rusak, yan ana wang kanya, ameteng taya manak hluh, mwah salwiring manak-anak, sedengnya metu anaknya, dadi tan katon metu anaknya, yan ana gumi kagenahan mangkana, baya ika, mahala sing kagenahan mangkana, kateka ning gumi rusak, ila bhumi sepa ika, nga, maniking jagat mur, tanpa Widdhi, tan pahyang bhumi ika, wenang pinahayu jagat ika, anyegjeg bhumi, ngambe hyanging jagat mangkana kajaring sastra, wusana bhumi Widdhi Sastra. 

Nyan pawiting gring ngebus, rebah tan tulungan, sasih ka 6, tembening gring, desa tepi siring sagara ika, wenang angaturang pracaru, ri tengahing sagara, saha tegen-tegenan, sarwa pikulan, katipat kelanan, bantal, sami katuring sagara, kang sinambat Hyang Baruna, I Lembhuhara, I Sarppa Mina, I Kala Sunya, I Mina Rodra, I Mina Agung, samangkana.

Nyan tingkahing bhuminira sang ratu, katibeng Roga  Sanghara Bhumi, apa lwirnya, tan pegat katibeng gring ila agung, gring tan wenang sambut, kala sanghara bhuminira sang ratu, away ima age pinahayu, amrediaken manda panangkaning gring ika, ana pamarisuddhanya, ring bhuminira sang ratu, anambeyunya, ring kahyangan bale agung, ring desa pakramannya, lwirnya;
maguling babangkit, asoroh, den agenep, sangkepin upakara panyegjeg desa, kadi upakara panyegjeg manusha sarwa rateng, ngadegang linggih Bhatara Surya, pamarginnya nistha Madhya uttama, neduhang parahyangan ring bale agung, saha unen-unennya, upakara ika, mamargi ring purnamaning kartika. Mwah banten ring sanggar paumahannya, sahyunan, daksina pras panyeneng, sasayut prayassita, duluri pangambeyan, sajanmane swang maprayascita, pada swang janmane natab sasayut sagrehannya, 
samangkana upakaranya, saking wacanan Widdhi Hyang Putrajaya ring Besakih, ring sira Mpu Kuturan, yanora mangkana, tan pegating gring mangkana, ngalimbak gring mala ika, kalalahan sang panenggeking jagat, away murug ling sastra iki, panugrahan Bhatara Putrajaya ring Besakih, kena upadrawa, away tan prayatna ring niti, Sang Bhujangga Aji, angemit hala hayuning jagat, mwah catur yuganing jagat, kretta rahaywan ikang rat treat, dwapara, madya rahayuning jagat, kali sanghara, eweh ikang rat, bawur ikang rat, majengilan ikang bhumi, ratu pada ratu, prang tan pegat, gring sasab mrana, arig ikang rat, asing tandur rusak, pari kamaranan, ring guminira sang ratu, sarwa guna lungsur, mantra tan mandiyan anggawe rahayuning jagat, sang prabhu palakeng rat, ngawangun karya uttama ring Basukih, lwirnya;
ngekadasa ludra, malih panyegjeg gumi, Pancawalikrama, mbhuta yajna, magkana ling Bhatara munggwing sastra, telas.

Ling Ang Shara Eka Bhuwana, katama ring Bhagawan Atri, sira angajaraken karogasangharagumi, salwiring utpata durmanggalaning jagat, kalinganya yan ana sima banwa panyegeh bhuminira sang ratu, kataman durmanggalaning, lwirnya kasiratan rudira desanira, tatan katon panangkanya adreswetunya rudira ika, angajaraken hana satru, rumempakeng bhuminira, sang ratu pralaya ika, yanora wetuning rudhira ika, satrunira sang prabhu angrimpinakenaya, lawan sahayanira kabeh, apasang bhiseka arip, angerugaken sang ratu kinelikan, away sang bhujanggaji, tan  prayatna ring niti, ndamel ala ayuning rat,  amuhara pralaya, ikang karaton, yan mayun pamurnaning jagat, apanggih dirghayusa, wenang pinahayu, lwirnya;
guling babangkit asoroh, genep, angadeg sanggar tawang, munggah suci den agenep, yan utama ring puser agung, yan Madhya ring bale agung, madudus alit, maprayascita bhumi, mahayu sanjata ritepining tasik, upakara kadi mamanggung, bhrunasthawa, maduluran caru sata wangkas, itik belang kalung, asu bang bungkem, bawi rega, ji, 250, sami masambleh, sega pangkonan, 5 pangkon, iwak bawi olah den agenep, nasih asu nasi bang, mawadah sok, putih uning ireng, mawadah sok, nasin sata wangkas, abang putih, mawadah sok, sami madaging sarwa embank-emban, buah bancangan, base ambungan, klapa sami mabungkul, sami mawa pras, malih daksina, 1, genep saupakaraning sasantun, arta, 700, acaru wahu sandikala, sang pandhita angastrenin, mantra kala astawa, malih durggastawa, mangkana krama angilangang durmanggalaning bhumi, ayu ikang rat.

Nyan pracaru, salwiring katiben durmala, yan ana hyanglalah manjing ring kadatwan sang ratu, yadyan ring umahing paradesa, mapwara pati kajarnya, pambayunya;
guling babangkit asoroh, genep sahupakaranya, ngadegang sanggar tutuwan, munggah suci laksana, 2 soroh, mawedya, macatur, Magana, ring sanggar den agenep, daksina widdhi widana, arta 4000, ri soring natar guling babangkit, asoroh, manih pagneyan, gelarsanga, malih sor, caru banyak winangun urip, dagingnya olah, dadya, 70, tanding bebek belang kalung, winangun urip, dagingnya oleh, dadya, 80 tanding, itik putih winangun hurip, dagingnya oleh dadya 50 tanding, bawi winangun urip, dagingnya olah, dadya 50 tanding, bawi winangun urip, dagingnya olah, dadyang 40 tanding, mwah nasinya, anut kwehing olahannya, aduluran canang maraca, sami masangkwi, sami mawa suci sowing-sowang, nyiu-nyiuan, 5 klabang mikuh, 5 bidang, maduluran sajeng, toya anyar, takep api, sowing, pabresihan, tpung tawar, lis, tatbus, kwangen, 33 besik, malih asu bang bungkem, malayang-layang, dagingnya olah dadi 90 tanding, gnahing caru, itik putih kangin, angsa kauh, bawi kaja, asu kelod, bebek belang kalung di tengah, malih sata amanca warna, binayang baying, olah dagingnya, tandingannya anut uriping dina, saha nasinya anut warnaning sata, padudusan den agenep, ngaran padudusan mawraspatikalpa, prayascita awak, mwah karang,paruk catur kumbha, genep sahupakaraning padudusan, prayascita, malukat Manawa ratna, sira sang brahmana ngatresnin.

Nyan durmanggalaning bhuminira sang ratu, yan ana hyanglalah, tiba ring umah ring desa ring wratmara, tejanya katon dening wwang, saputering desa ika, ala kapangguh ring desa ika, rug ikang krama desa, tekaning janma ika, majengilan lawan sanak, pada ngagem pisuna, mamati-mati paling saling mesehin, dewa malalis, ring desa ika, karanjingan Kala Dengen, mwah tatangganing Desa Pangrurah, mati bhiniseka dening wwang, rusak ikang bhumi, away sang bhujangga aji, tan yatna ring niti, pinahayunen ikang jagat, sapahomanira, wenang macaru;
sata wangkas masambleh, itik belang kalung, masambleh, suci asoroh, pangkonan 2, iwak bawi madah pras panyeneng acaru ring parampatan, guling babangkit asoroh, sanggar tutuan, munggah suci 2 soroh, macatur mawedhya, madudus mawraspatikalpa, bawi trus gunung, makacaru, ji, 500, kinlet dagingnya oleh, dadi 40 tanding, klabang mikuh, manih asu bang bungkem, masambleh, sata wiring masambleh, segehan agung, iwak bawi akarang, madaging jajrowan matah, pras panyeneng, sasantun, arta, 1700
sang brahmana angastrenin, desa ika, rawuhing manusanya, malukat, sami ngaturang guru piduka, ring dalem puseh desa, lwiring guru piduka; sasayut pangambeyan suci asoroh, salaran bebek syap, tegen-tegenan, nunas pangenteg, janmane sami.

Nihan tingkahing wwang katibeng durmanggala, ndya kunang, sanggar karubuhan taru agung, katunwan apwi, katiban uler lutut, lutut mas lutut salaka, lutut tambaga, sarupaning lutut, yan lutut mas sang ineman baya kapanggih, yan lutut salaka, tan pegat amanggih baya, yan lutut tambaga, wyadi tanapegat gering makweh, wenang pinahayu denagelis, away angliwari salek, yan liwar salek, tan siddha purnha;
guling babangkit iwak itik asoroh, guling babangkit celeng, asoroh, padudusan mawraspatikalpa, ngadegang sanggar tutuan, suci 2 soroh, masasapuh, caru nista Madhya uttama, yan nista panca sata, 
yadyan menak sudra, nista Madhya upakaranya, mangkana kajaring sastra, yanora pinahayu, kadi ilining we, wighna tka, meh katkeng rusak, reh sampun kacatreng Bhatara Kala, ika uripnya, kalinganya aja kapihneng, yan katiban durmanggala, den prayatna juga, mangkana kajaring sastra.

Iti Widhi Sastra Roga Sanghara Purna.
Nyan pracarun gering anut sasih;
  • ka 1, tekaning gring, Kalan Bhatara andadi gring, ngawisyanin jagat, gringnya panas tis, ngetor uyang, carunya, bilang lawang swang mananceb sanggah cucuk, magenah singgahaning lawang kiwa, bantennya tumpeng tri warna, iwaknya ayam putih kuning ingolah, dadi 3 tanding, raka tri warna, sekar tri rupa, canang 3 tanding, ring sor segehan matabuh twak yeh anyar, sambat Kala Bregala.
  • Ka, 2, tekaning gring, Bhatara Ratnaning  Rat maweh lara, gringnya nyapnyap, pati dulame, kebus tur poyok kabhicarinan uripnya, caru bilang lawang, masanggah cucuk, genahang ring lawang kiwa, daging sujang, mesi twak lawan toyanya, bantennya, tumpeng 2, iwak sate lembat bawi urab bang urab putih, canang gantal, rook sapasang, makober wastra putih, ring sor segehan, matabuh twak yeh, sambat balan Bhatara Ratnhaning Rat.
  • Ka, 3, tekaning lara Kalan Bhatara Jagatpati milara, laranya panas uyang, tur ngetor langu linyun, sirah, carunya masanggah cucuk, genahang ring lawang tengen, bantennya katipat maňca warna, iwak palem udang, grang yuyu, isin sawah, canang, 5, tanding segehan, sambat Kala Prayoni.
  • Ka, 4, tekaning gring, Kalan Bhatara Kusumajati maweh lara, laranya kebus buka panggang, uyang tan nahen empah, kanti petang we, tigang wetan, kawasa mangan, mangedot ring we, carunya masangguh cucuk ri singgahaning lawang, maplawa rwaning waringin, bantennya, tumpeng kuning adahanan, iwak sata putih, ingolah, 1 tanding, rakanya sakawenang, canang gantal arum, 5, tanding, rook, 4, mesi menyan, twak asujang, ring segehan matabuh twak yeh, sambat Kala Wigraha Bhumi.
  • Ka, 5, tekaning lara, geringnya warang rakwa, gumigil, panas uyang, sirah langu mangurek, tan kawasa tangi, Kalan Bhatara Jagatkrana amilara, caru masanggah cucuk, magenah singgahaning lawang kiwa, banten penek, 2 iwak bawi ingolah, jajatah lembat asem, saha raka, canang 2 tanding, twak atekor, segehan, sambat Kala Mangsha
  • Ka, 6, tekaning gring, kena sasab merana gringnya, panas buka panggang, paling pati dulame, apuhara pati, dinulurin bicari galak, kalan Bhatara Moda milara, carunya masanggah cucuk, maplawa rwaning taru tulak twak ring sujang, magenah samping lawang, banten tumpeng ireng acanan, iwak jajatah calon, urab bang urab putih, rakanya jaja gina, biu malablab, ring sor segehan, 9 tanding, iwak jajrowan bawi matah rateng, getih atakir, sambat Bhuta Ngadang Samaya Pati.
  • Ka, 7, tekaning lara, laran pasbehel henyem, makuwa kaku wetengnya, ngareges panas bahang basangnya, tur gimigil, ndigang dina makesyeb, mirib tong bakat tulung, caru masanggah cucuk singgahaning lawang, banten tumpeng bang adahanan, iwak ayam wiring pinanggang, saha raka, segehan dinatah sanggah kamulane, caru nasi apunjung, iwak bawi akarang, segehan limang tanding, iwak urab bang putih, twak atapan, sambat kala ngadang samaya.
  • Ka, 8, tekaning gring, gringnya ngutah missing, mangebus langu, pamalinan, lelengedan, Kalan Bhatari Durgha aweh lara, caru masanggah cucuk, ring singgahaning lawang, banten tumpeng, 5 bungkul, matadah don talujungan, iwak rumbah gile, kakomoh abang, kakumbuh kacang, calon agung 5, katih, rakanya geti-geti, biu kayu, twak abungbung, malih nasi atakilan, iwak taluh bukasem, magantung di sanggah cucuke, sambat Sang Kala Dengen.
  • Ka, 9, tekaning lara, kalan Bhatara Geni Milara, laranya marapa huyang, manglu laranya, caru masanggah cucuk ring singgahaning lawang, sanggahika malahapan, bantenya mapupuk atin bawi magoreng, iwak taluh madadar, mwah twak, yeh anyar mawadah sujang, dilahapane, pras panyeneng, ring sor segehan, 9, tanding sambat Kaki Kala Rogha.
  • Ka, 10, tekaning gring, gringnya mangebus uyang, caru masanggah cucuk ring lawang, bantennya sega sapunjung, iwak sasate calon, urab bang urab putih, ring sor segehan, 9 tanding, tabuh twak yeh.
  • Jyesta tekaning lara mwang sadha, tekaning gring, gringnya pahad, ngalangu, caru masangah cucuk, ring lawang, banten tumpeng adahanan, iwak jajatah siap, urab bang urab putih, jangan pepe kinulub, ring sor segehan.
Nyan kalaning gring kamaranan, mwang gring tutumpur, acaru juga ring parampatan lwirnya: 
bencit binalulang katulang mastakanya, daginge matah sasigar, rateng sasigar, olah den agenep, getih mentah salimas, bawang jahe, pisang kembang, sege liwet maworan kacang, ayam pinanggang, mwah srapah ayam, balulang ika, matatahan sangkwi, sambat Bhatara Durga Dewi, Bhuta Kamanjaya.
Malih bilang pamesu;
wangunan sanggah cucuk, bantenya nasi tepeng mawor kacang, iwaknya jajrowan bawi, mentah rateng mentah salimas bawang jahe, rakanya biu, kayu malablab, caniganya rwaning biu kayu, tlujungan, plawanya sembung, miana cemeng, sambat nini Bhatari Durga, Kaki Bhuta Kamajaya,
ring sor; segehan, matabuh twak arak, tekaning di pampatane, yan macaru kala kajeng kliwon, wus acaru, ngawentenang kaklecan, 
sambating acaru, Bhuta Macan Anggereng, Bhuta Patih Padma, Bhuta Dmang Pangwari, Bhuta Rangga Singha, Tumenggung Bontila, Bhuta Rangga Papanggel, amangana samadaya, ri huwus sira amangan, muliha maring sangkanira sowing-sowang, away tengsun pinengguh pati-pati, anglarapaken ewalatengsun. Mwah yaning ambhuta yadnya wenang, yan ring umah, areping lawang, yan ring desa, mwah ring banjar, dulurana puja kanguttama.

Nyan sasuwuk tutumpur, mwah gring kamaranan, 
sa;
timrah rinajah siddha pati, pendem, ritengahing natar, ring tengahing desa kunang, banten tumpeng putih kuning, sata binendem, angadegaken sanggah ring tengahing natar, ring desa kunang, 
iki pembayu desa, Bhuta Sanga kinon rumaksaya, basukining desa, tanananing apakapaka, amaling anumpunga, ambahaka, mari denya, utawi awus, marana baya, mwang tutumpur tan kenadenya.
Sa; 
tumpeng aslinya danan, bawi ji, 900 ingolah denaegep, sasari arta, 900,
ma;
Ong Sang Bhuta Putih, sang Bhuta Dadu, Sang Bhuta Abang,
Sang Bhuta Karah, Sang Bhuta Kuning, Sang Bhuta Ijo,

Sang Bhuta Ireng, Sang Bhuta Biru, Sang Bhuta Siwa Sidhapati,

mapupula ta kita kabeh,

Bhuta Nawa Maha sakti, kita pada rumaksaha basu kining desa,

tan ananing apakapaka, tan hana ning abahaka mwah maling,

tan ana salwiring durmanggala, mwah kamaranan baya, tutumpur, sami tan kenaha,
Ong
siddhirastu, tatastu, astu swaha.
Wong desa ika sami pesu sega kejemetan, ring bale agung, iwaknya ayam sinaraten, ri huwusing pinuja, pinaro sowing, binawa ri tangguning desa, wong desa sami sor singgih, pada ngambil toya ri bale agung, malih wong desa sor singgih, pada mebanten nasi jit kuskusan, ring dalem, iwaknya sudang taluh, uyah areng, Iti mokta siddha lepas.

Mwah yan ana sampi kebo sarwa wenang wenang, yanya gring tutumpur kamaranan, 
sa;
toya wadahi sibuh emeng, wija kuning, mwah kayu panggal buaya, tingkahing amantra, angrepi Sanghyang Surya, 
ma:
Ong siramaya Dhanawa, sira makon I Yayap, 
menguwugin pakarangan mamine, 
tan wenang sira Maya Dhanhawa, 
Makaon I Yayap, manguhungin pakarang ku ne, 
aran I Maya Dhanawa I rubuh, 
I Dewa Maya Dhanhawa, 
makon manguhugin pakarangan jrone, 
toya ika, siratang ider kiwa, ping, 3, ring umah, panggal buaya ika, tancebaken ring umah, rajah sidha pati.

demikian tentang Lontar Roga Sangara Bumi, yang disarikan dari berbagai sumber, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar