Apakah Yoga Itu Ibadah atau Kesadaran?
Apakah Yoga Itu Ibadah atau Kesadaran? Meluruskan Jalan yang Disesatkan
Yoga, Bukan Sekadar Nama dan Sujud
Hari ini banyak orang menyangka bahwa yoga itu berarti:
-
Menyembah Krishna dengan nama suci (japa)
-
Tunduk kepada avatāra atau guru (seolah wajib)
-
Melakukan upacara bhakti yang terus-menerus
-
Bahkan menganggap "tanpa guru tertentu" kamu tidak bisa mencapai mokṣa
Tapi pertanyaannya:
Apakah ini definisi sejati Yoga?
Ataukah ini hanyalah bentuk “ibadah” yang menyamar sebagai Yoga?
Mari kita lihat langsung dari sumber tertinggi: Bhagavad Gītā dan Upaniṣad.
Yoga Menurut Gītā: Kesadaran, Bukan Penyembahan
Dalam Bhagavad Gītā 6.6, Kṛṣṇa berkata:
"bandhur ātmātmanas tasya yena ātmāivātmanā jitaḥ"
"Bagi orang yang telah menaklukkan diri, Diri menjadi sahabat sejatinya."
Artinya, Yoga adalah kemenangan atas diri, bukan menyembah guru atau tokoh tertentu.
Yoga adalah kondisi batin, bukan ritual.
Lebih lanjut, dalam BG 6.20–6.21, dijelaskan bahwa:
"yatroparamate cittaṃ niruddhaṃ yoga-sevayā..."
“Dimana pikiran terhenti, tenang dalam Diri melalui latihan yoga.”
Di mana di sini disebutkan ibadah? Mantra? Guru eksternal?
Yang ada adalah diam, keheningan, kesadaran—bukan keramaian bhakti ritus.
Sai Baba dan Hare Krishna Mereduksi Yoga Jadi Ritual Emosional
Kedua kultus ini mengajarkan bahwa Yoga = penyembahan Tuhan tertentu.
Mereka menyamakan japa nama Krishna, atau menyentuh kaki Sai Baba, dengan jalan yoga tertinggi.
Padahal:
Yoga bukan pemujaan personalitas, tapi penyatuan kesadaran.
"yogaḥ citta-vṛtti-nirodhaḥ" – Yoga Sūtra 1.2
"Yoga adalah penghentian gerak pikiran."
Jadi kalau pikiranmu masih sibuk memuja bentuk atau tokoh luar, kamu belum Yoga.
Kamu baru beribadah. Dan ibadah bukan yoga.
Śruti Tidak Pernah Memerintahkan Ibadah Kepada Figur
Lihat sendiri isi Upaniṣad—tak satu pun menyerukan:
-
“Sembahlah Krishna sebagai anak Vasudeva.”
-
“Hafalkan nama Sai Baba agar selamat.”
-
“Ikatkan dirimu pada satu guru.”
Yang ada adalah:
"ātmanam eva vijānīyāt" – Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.4.5
“Ketahuilah hanya Diri ini saja.”
"na anyaḥ panthā vidyate ayanāya" – Śvetāśvatara Upaniṣad 3.8
“Tak ada jalan lain menuju keabadian selain mengenali Diri.”
Jadi jika jalanmu membuatmu semakin menggantungkan diri pada sosok luar, itu bukan Yoga, tapi ketergantungan rohani.
Penyembahan Adalah Tahap, Kesadaran Adalah Tujuan
Bhakti, japa, puja—semuanya boleh jadi langkah awal.
Tapi tidak boleh berhenti di situ.
Dalam Bhagavad Gītā 6.47, Kṛṣṇa menyatakan:
"yoginām api sarveṣāṃ mad-gatenāntar-ātmanā..."
“Di antara semua yogi, yang memusatkan kesadarannya dalam Diri-Ku (sebagai Kesadaran), itulah yang paling utama.”
Jadi yang tertinggi adalah kesatuan batin dengan Kesadaran, bukan pemujaan fisik terhadap satu figur.
Yang Sejati Tidak Menyuruhmu Sujud, Tapi Menyadari Diri
Tuhan yang sejati tidak minta disembah, tidak memaksa dilayani, dan tidak marah jika namanya tak disebut.
Karena Tuhan bukan ego, tapi Keberadaan murni—yang menjadi dasar dari segala sesuatu, termasuk dirimu.
"tat tvam asi" – Chāndogya Upaniṣad 6.8.7
“Engkau adalah Itu (Kesadaran tertinggi).”
Itulah inti Yoga: sadar bahwa yang kamu cari selama ini... adalah kamu sendiri.
Yoga Adalah Kesadaran Diri, Bukan Ibadah Kepada Figur
Jika jalanmu:
-
Menjauhkanmu dari keheningan batin,
-
Membuatmu bergantung pada nama atau manusia tertentu,
-
Menanamkan rasa takut jika tak ikut kultus...
Maka itu bukan Yoga. Itu agama sektarian berkedok spiritualitas.
Yoga adalah jalan kesadaran, bukan ritual.
Yoga adalah pembebasan dari dualitas, bukan ketakutan karena tidak tunduk pada tokoh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar