Google+
Tampilkan postingan dengan label Belajar Meditasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Meditasi. Tampilkan semua postingan

Apakah Yoga Itu Ibadah atau Kesadaran?

Apakah Yoga Itu Ibadah atau Kesadaran?

Apakah Yoga Itu Ibadah atau Kesadaran? Meluruskan Jalan yang Disesatkan

Yoga, Bukan Sekadar Nama dan Sujud

Hari ini banyak orang menyangka bahwa yoga itu berarti:

  • Menyembah Krishna dengan nama suci (japa)

  • Tunduk kepada avatāra atau guru (seolah wajib)

  • Melakukan upacara bhakti yang terus-menerus

  • Bahkan menganggap "tanpa guru tertentu" kamu tidak bisa mencapai mokṣa

Tapi pertanyaannya:

Apakah ini definisi sejati Yoga?
Ataukah ini hanyalah bentuk “ibadah” yang menyamar sebagai Yoga?

Mari kita lihat langsung dari sumber tertinggi: Bhagavad Gītā dan Upaniṣad.


Yoga Menurut Gītā: Kesadaran, Bukan Penyembahan

Dalam Bhagavad Gītā 6.6, Kṛṣṇa berkata:

"bandhur ātmātmanas tasya yena ātmāivātmanā jitaḥ"
"Bagi orang yang telah menaklukkan diri, Diri menjadi sahabat sejatinya."

Artinya, Yoga adalah kemenangan atas diri, bukan menyembah guru atau tokoh tertentu.
Yoga adalah kondisi batin, bukan ritual.

Lebih lanjut, dalam BG 6.20–6.21, dijelaskan bahwa:

"yatroparamate cittaṃ niruddhaṃ yoga-sevayā..."
“Dimana pikiran terhenti, tenang dalam Diri melalui latihan yoga.”

Di mana di sini disebutkan ibadah? Mantra? Guru eksternal?
Yang ada adalah diam, keheningan, kesadaran—bukan keramaian bhakti ritus.


Sai Baba dan Hare Krishna Mereduksi Yoga Jadi Ritual Emosional

Kedua kultus ini mengajarkan bahwa Yoga = penyembahan Tuhan tertentu.

Mereka menyamakan japa nama Krishna, atau menyentuh kaki Sai Baba, dengan jalan yoga tertinggi.

Padahal:

Yoga bukan pemujaan personalitas, tapi penyatuan kesadaran.

"yogaḥ citta-vṛtti-nirodhaḥ"Yoga Sūtra 1.2
"Yoga adalah penghentian gerak pikiran."

Jadi kalau pikiranmu masih sibuk memuja bentuk atau tokoh luar, kamu belum Yoga.
Kamu baru beribadah. Dan ibadah bukan yoga.


Śruti Tidak Pernah Memerintahkan Ibadah Kepada Figur

Lihat sendiri isi Upaniṣad—tak satu pun menyerukan:

  • “Sembahlah Krishna sebagai anak Vasudeva.”

  • “Hafalkan nama Sai Baba agar selamat.”

  • “Ikatkan dirimu pada satu guru.”

Yang ada adalah:

"ātmanam eva vijānīyāt"Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.4.5
“Ketahuilah hanya Diri ini saja.”

"na anyaḥ panthā vidyate ayanāya"Śvetāśvatara Upaniṣad 3.8
“Tak ada jalan lain menuju keabadian selain mengenali Diri.”

Jadi jika jalanmu membuatmu semakin menggantungkan diri pada sosok luar, itu bukan Yoga, tapi ketergantungan rohani.


Penyembahan Adalah Tahap, Kesadaran Adalah Tujuan

Bhakti, japa, puja—semuanya boleh jadi langkah awal.
Tapi tidak boleh berhenti di situ.

Dalam Bhagavad Gītā 6.47, Kṛṣṇa menyatakan:

"yoginām api sarveṣāṃ mad-gatenāntar-ātmanā..."
“Di antara semua yogi, yang memusatkan kesadarannya dalam Diri-Ku (sebagai Kesadaran), itulah yang paling utama.”

Jadi yang tertinggi adalah kesatuan batin dengan Kesadaran, bukan pemujaan fisik terhadap satu figur.


Yang Sejati Tidak Menyuruhmu Sujud, Tapi Menyadari Diri

Tuhan yang sejati tidak minta disembah, tidak memaksa dilayani, dan tidak marah jika namanya tak disebut.
Karena Tuhan bukan ego, tapi Keberadaan murniyang menjadi dasar dari segala sesuatu, termasuk dirimu.

"tat tvam asi"Chāndogya Upaniṣad 6.8.7
“Engkau adalah Itu (Kesadaran tertinggi).”

Itulah inti Yoga: sadar bahwa yang kamu cari selama ini... adalah kamu sendiri.


Yoga Adalah Kesadaran Diri, Bukan Ibadah Kepada Figur

Jika jalanmu:

  • Menjauhkanmu dari keheningan batin,

  • Membuatmu bergantung pada nama atau manusia tertentu,

  • Menanamkan rasa takut jika tak ikut kultus...

Maka itu bukan Yoga. Itu agama sektarian berkedok spiritualitas.

Yoga adalah jalan kesadaran, bukan ritual.
Yoga adalah pembebasan dari dualitas, bukan ketakutan karena tidak tunduk pada tokoh.

Meditasi Mahavakya: Panduan Harian Realisasi Diri

Meditasi Mahavakya: Panduan Harian Realisasi Diri

Di Balik Kata, Ada Pintu Kesadaran

Di tengah riuhnya dunia dan banyaknya metode meditasi modern, kadang kita lupa bahwa para Ṛṣi Upaniṣad telah memberikan peta langsung menuju realisasi tertinggi—yaitu melalui mahāvākya, kalimat-kalimat besar yang mengandung intisari Veda. Tapi bagaimana mahāvākya bisa digunakan dalam latihan harian meditasi, bukan sekadar jadi kutipan keren atau hafalan filsafat?

Artikel ini akan mengurai bagaimana mahāvākya bukan hanya ajaran, tapi alat meditasi tertinggi untuk mengenali bahwa Diri yang sejati adalah Brahman.


1. Apa itu Mahāvākya? Bukan Sekadar Kalimat Besar

Mahāvākya adalah pernyataan puncak dari Upaniṣad, yang menyingkap hubungan antara ātman dan brahman. Ada empat yang paling terkenal:

  1. prajnānam brahmaKesadaran adalah Brahman (Aitareya Upaniṣad 3.1.3)

  2. ayam ātmā brahmaDiri ini adalah Brahman (Māṇḍūkya Upaniṣad 1.2)

  3. tat tvam asiEngkau adalah Itu (Chāndogya Upaniṣad 6.8.7)

  4. aham brahmāsmiAku adalah Brahman (Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 1.4.10)

Kalimat ini bukan teori, tapi petunjuk langsung untuk meditasi introspektif, yang bila direnungi dengan benar, mampu menghancurkan dualitas.


2. Mengapa Meditasi Mahāvākya Lebih Efektif daripada Sekadar Japa Nama?

Nama-nama Tuhan mengarah ke aspek manifestasi-Nya. Tapi mahāvākya mengarah pada realisasi tanpa bentuk. Dalam japa biasa, ada pemuja dan yang dipuja. Dalam mahāvākya, “yang mengucap” dan “yang dipahami” menyatu.

"ātma vā are draṣṭavyaḥ śrotavyo mantavyo nididhyāsitavyaḥ"
“Diri ini harus dilihat, didengar, direnungkan, dan diselami.”
Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 2.4.5

Meditasi mahāvākya adalah nididhyāsana—kontemplasi berulang atas kebenaran non-dual.


3. Panduan Praktis Meditasi Mahāvākya Harian

WAKTU Terbaik: Subuh atau senja (saat sattva-guṇa dominan).

POSISI: Duduk nyaman, punggung tegak, mata tertutup. Diamkan tubuh. Heningkan napas.

Langkah-langkah:

  1. Ambil Satu Mahāvākya
    Misalnya: “tat tvam asi”Engkau adalah Itu

  2. Ulangi perlahan dalam hati:
    “Tat” (Itu – Brahman)
    “Tvam” (Engkau – diri ini)
    “Asi” (adalah – identik)

  3. Renungkan makna terdalamnya:
    Siapakah "aku" ini? Apakah aku tubuh, pikiran, atau kesadaran?
    Apakah “Itu” adalah sesuatu jauh di luar sana, atau justru yang menghidupi diriku?

  4. Larutkan pertanyaan keheningan.
    Jangan kejar jawaban mental. Rasakan kehadiran diam yang tetap setelah kata-kata hilang.

  5. Akhiri dengan duduk dalam keheningan penuh, tanpa japa atau visualisasi.
    Cukup hadir sebagai saksi. Menjadi itu.


4. Apa yang Terjadi Jika Dilakukan Secara Konsisten?

Dengan praktik rutin, mahāvākya akan berpindah dari pikiran ke penghayatan. Awalnya hanya kata. Lalu jadi makna. Akhirnya, jadi dirimu sendiri.

"brahmavid brahmaiva bhavati"
“Yang mengenal Brahman, menjadi Brahman itu sendiri.”
Muṇḍaka Upaniṣad 3.2.9

Artinya: yang merenung bukan lagi pembelajar, tapi menjadi Kebenaran itu sendiri.


5. Meditasi Mahāvākya Adalah Jalan Para Jñānī

Ritual membutuhkan perantara. Nama butuh objek. Tapi mahāvākya mengantar langsung. Inilah sebabnya para Ṛṣi besar seperti Yājñavalkya, Śvetāśvatara, Uddālaka, dan lainnya memilih jalan meditasi langsung atas makna mahāvākya.

"nāyam ātmā pravacanena labhyo na medhayā na bahunā śrutena"
“Diri ini tak bisa dicapai dengan ceramah, kecerdasan, atau hafalan banyak kitab...”
Kaṭha Upaniṣad 1.2.23

Hanya dengan batin yang hening dan kontemplatif, kebenaran mahāvākya dapat tersingkap.


Jadikan Mahāvākya Sahabat Harianmu

Di dunia yang penuh distraksi dan debat agama, mahāvākya adalah cahaya yang tak tergoyahkan. Ia tidak menyuruhmu menyembah, tapi mengingat siapa dirimu. Tidak menyuruh mencari ke luar, tapi mengajak pulang ke dalam.

Mulai hari ini, pilih satu mahāvākya sebagai mantra batinmu. Renungi. Hiduplah bersama kalimat itu. Hingga suatu hari, kalimat itu hilang... dan hanya Diri sejati yang tersisa.


Mengapa Yoga Meditatif Lebih Disukai Para Rsi?

Mengapa Yoga Meditatif Lebih Disukai Para Rsi?

Jalan Sunyi Para Pencari Kebenaran

Para Ṛṣi bukanlah pendeta megah yang mengatur upacara besar. Mereka hidup di hutan, menyatu dengan alam, dan menyelami batin hingga kedalaman tak terukur. Mereka meninggalkan keramaian, memilih jalan sunyi yang memurnikan kesadaran. Dan dalam jalan itu, mereka tidak membawa dupa, bunga, atau lonceng—mereka membawa dhyāna: meditasi murni. Sebab bagi para Ṛṣi, meditasi adalah satu-satunya jembatan menuju Brahman.


1. Ṛṣi Tidak Mencari Surga, Mereka Mencari Yang Tak Terlahirkan

Banyak ritual Veda ditujukan untuk mencapai svarga atau hasil karma baik. Tapi para Ṛṣi tidak tertarik pada hasil duniawi atau surgawi. Mereka ingin mokṣa, bukan pahala. Dalam Muṇḍaka Upaniṣad 1.2.10, dikatakan:

"parīkṣya lokān karmacitān brāhmaṇo nirvedam āyāt"
"Sang brāhmaṇa yang bijak menyadari bahwa hasil tindakan itu terbatas dan menjadi jenuh karenanya."

Setelah memahami keterbatasan semua ritual, para Ṛṣi berhenti dari ‘melakukan’ dan mulai ‘menyadari’. Maka mereka memilih yoga meditatif, karena hanya melalui kesadaran hening, Brahman bisa dikenal, bukan melalui aktivitas.


2. Meditasi adalah Penglihatan Tanpa Mata

Dalam Kaṭha Upaniṣad 1.3.12, digambarkan bahwa Diri yang sejati hanya bisa disadari oleh batin yang terkendali dan terfokus:

"indriyebhyaḥ parā hy arthāḥ"
“Indra berada di bawah objek, dan di atas semua itu adalah Manas.”

Para Ṛṣi tahu bahwa kebenaran tidak bisa ditemukan di luar, tapi di balik indera, dalam batin yang diam. Maka mereka menutup mata, bukan karena menghindar, tetapi karena ingin melihat lebih dalam.


3. Hanya dalam Meditasi, Ātman dan Brahman Menyatu

Dalam Śvetāśvatara Upaniṣad 2.15, disebutkan:

"yadā hi evaiṣa etasminn ātmani..."
"Ketika ia melihat Sang Purusha melalui kesunyian dalam batin, ia memperoleh keabadian."

Para Ṛṣi tahu bahwa Brahman bukan entitas terpisah, tetapi diri sejati yang terselubung oleh pikiran. Maka dengan yoga meditatif, mereka menyibak tabir-tabir itu—bukan melalui mantra, tetapi dengan diam total.


4. Meditasi Adalah Ritual Batin yang Tak Pernah Usang

Ritual bisa berubah: caranya, bahannya, bahkan kalendernya. Tapi meditasi adalah abadi. Seperti yang disampaikan dalam Bhagavad Gītā 6.19:

"yathā dīpo nivāta-stho neṅgate sopamā smṛtā"
“Seperti nyala api yang tak bergoyang di ruang tanpa angin—begitulah pikiran seorang yogi yang bermeditasi.”

Para Ṛṣi tidak butuh altar. Mereka membuat altar di dalam hati yang tenang. Dan di sanalah, Brahman menyala tanpa suara.


5. Mereka Menjadi Ṛṣi Karena Meditasi, Bukan Sebaliknya

Kata ṛṣi sendiri berasal dari akar kata ṛṣ = melihat (melalui pengetahuan batin). Artinya, yang disebut Ṛṣi bukan orang yang hafal mantra, tetapi yang telah melihat kebenaran melalui intuisi rohani (darśana). Seperti dalam Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 3.9.26:

"ātmanam paśyati"
“Ia melihat Sang Diri.”

Melihat di sini bukan dengan mata, tapi dengan kesadaran hening. Maka meditasi bukan hanya disukai oleh para Ṛṣi—meditasi adalah yang menjadikan mereka seorang Ṛṣi.


Meditasi adalah Sumber Wahyu, Ritual adalah Warisan

Ritual diwariskan dari Ṛṣi ke manusia. Tapi wahyu yang diterima Ṛṣi lahir dari meditasi, bukan dari tindakan luar. Maka jika kita ingin menjadi penerus ajaran Ṛṣi, jangan sekadar meniru ritualnya—teladani keheningan batinnya.

Meditasi adalah tempat di mana mantra tidak lagi diucapkan, tapi langsung dirasakan. Di mana Tuhan tidak dipanggil, tapi disadari sebagai Diri sendiri.


Mengapa Meditasi Lebih Tinggi dari Ritual?

 Mengapa Meditasi Lebih Tinggi dari Ritual?

Dari Tindakan Luar ke Penghayatan Batin

Ritual memang indah. Ada dupa, mantra, dan gerakan penuh makna. Tapi adakah itu cukup? Banyak yang mengira spiritualitas adalah tentang melakukan sesuatu yang “sakral” di luar. Tapi Sruti mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa kebebasan sejati bukan dicapai melalui tindakan, melainkan melalui pengenalan diri—melalui meditasi (dhyāna).



1. Sruti Menyatakan: Pengetahuan Diri Melampaui Segalanya

Dalam Muṇḍaka Upaniṣad 1.2.10, disebutkan:

"parīkṣya lokān karmacitān brāhmaṇo nirvedam āyāt"
"Setelah mengamati dunia yang diperoleh melalui karma, sang bijak menjadi jenuh dan menyadari bahwa tidak ada yang abadi dari hasil tindakan itu."

Artinya, ritual hanya menghasilkan buah sementara. Mereka memberikan hasil di dunia ini atau di surga, tapi tetap terikat oleh kelahiran dan kematian. Meditasi, yang mengantar kepada ātma-jñāna, membawa seseorang melampaui karma dan reinkarnasi.


2. Ritual Terikat Waktu, Meditasi Melampaui Waktu

Ritual butuh waktu, tempat, peralatan, bahkan pendeta. Ia bersifat laukika (duniawi), tergantung kondisi eksternal. Meditasi? Cukup satu titik kesadaran. Bahkan dalam Bhagavad Gītā 6.10, Kṛṣṇa berkata:

"yogī yuñjīta satatam ātmānaṃ rahasi sthitaḥ"
“Yogī seharusnya senantiasa memusatkan diri dalam keheningan.”

Meditasi tidak tergantung tempat suci. Yang dibutuhkan hanyalah rahasi = keheningan batin. Maka meditasi lebih tinggi karena ia mandiri, tidak bergantung alat atau orang lain.


3. Ritual Dapat Mengikat Ego, Meditasi Meleburkan Ego

Banyak orang menjalankan ritual untuk menunjukkan kesalehan atau mendapat pahala, sehingga menambah ahamkāra (keakuan). Tapi dalam meditasi sejati, ego harus dilepas. Dalam Kaṭha Upaniṣad 2.3.10, dijelaskan:

"yadā sarve pramucyante kāmā ye ’sya hṛdi śritāḥ"
“Saat semua keinginan yang melekat di hati dilepaskan, maka manusia menjadi bebas.”

Meditasi bukan untuk mendapatkan sesuatu, tapi untuk menyadari siapa yang menginginkan. Ia adalah jalan menuju kebebasan dari keinginan dan identitas palsu, sedangkan ritual kerap jadi kendaraan pemenuhan keinginan.


4. Pengetahuan Brahman Tak Bisa Diraih dengan Ritual

Dalam Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 3.5.1, Yājñavalkya berkata:

"neti neti"
“Bukan ini, bukan itu.”

Ini adalah cara meditasi—menyisihkan semua yang bukan Diri. Brahman tak bisa disentuh oleh aksi, mantra, atau upacara. Maka dalam Muṇḍaka Upaniṣad 1.2.12, jelas dikatakan:

"na karmaṇā na prajayā dhanena tyāgenaike amṛtatvam ānaśuḥ"
“Bukan dengan ritual, keturunan, atau kekayaan, hanya dengan pelepasanlah keabadian dicapai.”

Ritual berhenti pada perbuatan. Meditasi mengantar pada pengalaman langsung kesadaran murni.


5. Ritual Tanpa Meditasi = Kosong; Meditasi Tanpa Ritual = Utuh

Bukan berarti ritual harus ditinggalkan seluruhnya. Tapi tanpa kesadaran batin, ritual hanyalah kulit tanpa isi. Dalam Bhagavad Gītā 6.46, Kṛṣṇa menegaskan:

"tapasvibhyo ’dhiko yogī jñānibhyo ’pi mato ’dhikaḥ karmibhyaś cādhiko yogī tasmād yogī bhavārjuna"
“Yogī lebih mulia dari para pelaku tapa, lebih luhur dari para pemuja ilmu, dan lebih agung dari para pelaku ritual. Maka jadilah yogī, wahai Arjuna.”

Ini adalah perintah langsung dari Kṛṣṇa: tinggalkan sekedar bentuk luar, dan masuklah ke kedalaman diri.


Saat Meditasi Menjadi Ritual Tertinggi

Ritual adalah jalan menuju, tapi meditasi adalah tiba di tujuan. Di titik ini, tidak ada lagi pemuja dan yang dipuja—yang ada hanya keheningan abadi di mana subjek dan objek melebur.

"yadā viniyataṃ cittam ātmany evāvatiṣṭhate" (BG 6.18)
“Saat pikiran yang terkendali berdiam hanya pada Diri…”

Inilah tujuan sejati spiritualitas. Maka, jangan hanya berhenti di ritual. Duduklah, masuk, dan heninglah. Di sanalah Tuhan yang sejati menunggu.

Urutan Berjapa dan Meditasi Siwaisme

Urutan Berjapa dan Meditasi Siwaisme

Berjapa atau meditasi dengan tujuan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tentu ada aturan atau urutan, agar proses berjapa itu akan lebih terhayati (himat) dan penuh konsentrasi.
mohon diingat, meditas apa itu meditasi, agar menjadi lebih mermanfaat.
meditasi intinya hening dalam ketenangan, salah satu cara termudah untuk memulai meditasi adalah dengan mengatur nafas anda (pranayama). dengan pengaturan nafas, anda akan mencapai ketenangan dan dapat dengan nyaman memasuki alam meditasi.
duduklah dengan santai, tegakkan punggung anda.
aturlah nafas anda se-relaks mungkin, senyaman mungkin dan senyaman mungkin, bernafaslah dengan santai, gunakan nafas panjang tetapi jaga kenyamanan anda dalam bernafas. 
setelah posisi tersebut dapat anda capai, barulah memulai prosesi japa berikut ini.
apabila anda mengalami kesulitan, silahkan baca Belajar Tenaga Dalam Asli Bali, karena dalam tehnik tersebut dijelaskan tatacara meditasi yang paling dasar, yang akan dapat membantu anda dalam menjalankan Japa dan Meditasi Siwaisme ini.
Berikut cara atau urutan meditasi/berjapa menurut Siwaisme yang merupakan praktek meditasi yang dikembangkan dari sekte Siwa Sidhanta;

Rahasia Yoga Kawisesan Bali

Rahasia Yoga Kawisesan Bali

iki gegelaran manusa sakti, jalma luwih, kawruhakena dening prayatna, rumegep Sang Hyang Wisesa, tingkahing pati, lawan urip, manusa sakti bernama I Jaratdrana, ika Wisnu Buwana ngaran. Yan teka ring patine, jalanang manusa saktine, yang bernama I Jaratdrana ane ada di sor, ne nongos di bongkol tulang jringe, irika pagenahing atmane, apange matunggung menek, adan atmane I Belis, ne been apine, ne beduwur yeh, yen suba yan matungga lan dadi abesik, ya madan Gni Rakasya, margane terus kematane, away simpang, apan marga utama ya, anggon ngeseng lara, sehananing lara wenang kageseng denya.
Yan terka ring pati, majalan makejang, apan tunggal pati lawan urip. Rupan manusa saktine putih, ne nongos di bongkol tulang jringe. Irika genah Sang Wenara Petak. Matane tengen mangaran Bhatara Guru, matane di tengah mangaran Simaralaya, matane di kiwa mangaran indraloka, pasyakan matane di tengah bernama Wisnu Buwana, gegelaran manusa sakti manderaguna manusia setengah Dewa.
Karena itu, di dalam hidup ini hendaknya dengan tekun dan sadar selalu membersihkan diri. Mengurangi keangkaraan hati. Dan bilamana datang dari kematiannya, maka berjalanlah dengan tenang, "margannya menek ke pabahane (ubun-ubun), budinta apang enak, yang sida semangkana, ya mangaran manusa sakti, ya mangaran manusia setengah Dewa sakti manderaguna. Yan kita sampun wruh semangkana, wenang kita mabrata, ngurangin pangan kinum, mwah aturu lan senggama. Away wera dahat, nadyan kita mati tan pabya, tan urung kita anungkap swarg luwih". Kalau memang sudah bisa begitu, bila nanti kita mati, walaupun tanpa di aben, tanpa dibuatkan upakara, kita akan tetap masuk sorga.

Ilmu Kawisesan Asli Bali

Ilmu Kawisesan Asli Bali

Zaman dulu ilmu Kawisesan (kesaktian) sangat dibutuhkan untuk membentengi daerah atau kerajaan dari serangan luar. dalam perkembangannya, Ilmu Kawisesan asli bali kemudian sering disebut ilmu leak atau "ngeleak". Dalam mempelajari ilmu kawisesan ini tidaklah asal-asalan, melainkan membutuhkan pengendalian diri yang sangat kuat. Haruslah orang-orang yang tahu tentang hakekat kesucian diri karena ngeleak dalam prosesnya membutuhkan kesabaran bagi yang mempelajarinya.
"Apapun ilmu yang kita pelajari yang bersumberkan pada sastra agama harus secara kesucian hati tanpa ada ambisi di dalamnya
begitupun juga dengan ngeleak, Jangan selalu menganggap ngeleak itu sama dengan ilmu hitam dan menyakiti orang. Ilmu hitam dan cencerung berbuat jahat adalah desti, teluh, terangjana, maupun yang lainnya. Inilah ilmu hitam yang dikatakan menyakiti orang. Biasanya orang yang melakukan ini karena dendam, iri hati, ambisi untuk menguasai, inilah yang cukup berbahaya. Sedang ngeleak sendiri tidak berbahaya ilmu berhubungan dengan kekuatan sastra yang sering disebut pancaksara maupun dasaksara.

Pengobatan Gratis dan Penerimaan Murid Baru Mei 2013

Pengobatan Gratis 

Yayasan Taman Bukit Pengajaran kembali mengadakan kegiatan Rutin Bulanan yaitu Bakti Sosial PENGOBATAN dan KONSULTASI GRATIS, yang diadakan pada:
  • Hari I: Minggu, 12 Mei 2013
  • Hari II: Minggu, 26 Mei 2013
  • Pukul: 16.30 - 18.30 wita
  • Tempat: Lapangan Puputan Niti Mandala Renon Denpasar - BALI
Klinik Jala Sidhi hadir untuk mengabdikan Diri, membantu mempermudah permasalahan yang anda hadapi, KAMI akan bantu hingga tuntas, BIAYA SUKARELA, melayani
  • Terapi penyembuhan berbagai penyakit medis dan non medis,
  • mempercepat jodoh, keharmonisan keluarga,
  • memproteksi pekarangan, proteksi diri dan keluarga,
  • melancarkan rejeki, bisnis dan usaha
  • meningkatkan karismatik menjadi semakin disegani (berwibawa)
  • membangkitkan iner beauty (kecantikan dari dalam diri)
  • meningkatkan kemampuan otak dan kecerdasan anak-anak dalam belajar
Pengobatan GRATIS di Denpasar Bali

menerima Murid baru

Bimbingan Pernafasan dan Meditasi

Jika anda benar - benar ingin belajar dan berlatih Pernapasan dan tehnik Meditasi terutama untuk Kesehatan, Teraphy diri sendiri dan orang lain, meningkatkan Percaya Diri (PD), proteksi diri dan keluarga, bisa Mendeteksi dan Mentransfer Energi ke benda/seseorang dan merasakan getaran energi alam, melancarkan bisnis dan rejeki, menambah dan membuka aura kewibawaan (bagi Pria) serta kecantikan (bagi wanita), kami siap membantu anda.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
  • Hari: Selasa,
  • Pukul: 18.00 wita - selesai
  • Tempat: Klinik Jalasidhi, Jl. Pralina No 18 Kesiman Denpasar
Pendaftaran:
  1. Bala Ghanta, mempelajari tehnik kawisesan (ilmu kebal, tenaga dalam dll) Level 1 Rp. 350.000,-
  2. Usadha Ghanta, mempelajari tehnik pengobatan (medis dan non medis) Level 1 Rp. 350.000,-
  3. Sridhana Ghanta, mempelajari tehnik manejemen rejeki (usaha/bisnis) Level 1 Rp. 500.000,-
  4. Padma Negara Ghanta, mempelajari tehnik inner beauty (khusus wanita) Level 1 Rp. 500.000,-
  5. Pradnya Ghanta, mempelajari tehnik mengajar. Level 1 Rp. 350.000,-
tehnik Meditasi ini tidak bisa dipelajari sekaligus, sehingga bimbingan Guru sangat diperlukan.
bagi yang telah mengikuti Lokakarya  - bulan April 2013 - Life Skills Spiritual yang telah lulus level 1, silahkan melanjutkan ke level 2
bagi level 2 dan seterusnya yang sudah mendapat rekomendasi dari pelatih atau sudah siap naik level dipersilahkan menghubungi sekretariat yayasan.

kami GARANSI setiap murid akan mencapai tujuan dari setiap tahapan, bila murid mau menjalankan saran Guru/Pelatih. dan siap di uji dilapangan...

keterangan lebih lanjut silahkan hubungi:
Budi (koordinator Sridhana) 0361 8757377
SMS-Center yayasan: 087860065000 atau 08993182858
Wechat : Budi_guAng
LINE : budajuz

Penerimaan Murid Baru - Tehnik Yoga Meditasi April 2013

Penerimaan Murid Baru

Yayasan Taman Bukit Pangajaran dengan Ajaran Ghanta Yoga

menerima Murid baru
Bimbingan Pernafasan dan Meditasi
Jika anda benar - benar ingin belajar dan berlatih Pernapasan dan tehnik Meditasi terutama untuk Kesehatan, Teraphy diri sendiri dan orang lain, meningkatkan Percaya Diri (PD), proteksi diri dan keluarga, bisa Mendeteksi dan Mentransfer Energi ke benda/seseorang dan merasakan getaran energi alam, melancarkan bisnis dan rejeki, menambah dan membuka aura kewibawaan (bagi Pria) serta kecantikan (bagi wanita), kami siap membantu anda.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Hari: Kamis, 18 April 2013
Pukul: 18.00 - selesai
Tempat: Klinik Jalasidhi, Jl. Pralina No 18 Kesiman Denpasar
SMS: 087860065000 atau 08993182858

Pendaftaran:
  • Bala Ghanta, mempelajari tehnik kawisesan (ilmu kebal, tenaga dalam dll) Level 1 Rp. 350.000,-
  • Usadha Ghanta, mempelajari tehnik pengobatan (medis dan non medis) Level 1 Rp. 350.000,-
  • Sridhana Ghanta, mempelajari tehnik manejemen rejeki (usaha/bisnis) Level 1 Rp. 500.000,-
  • Padma Negara Ghanta, mempelajari tehnik inner beauty (khusus wanita) Level 1 Rp. 500.000,-
  • Pradnya Ghanta, mempelajari tehnik mengajar. Level 1 Rp. 350.000,-
tehnik Meditasi ini tidak bisa dipelajari sekaligus, sehingga bimbingan Guru sangat diperlukan.
bagi yang telah lulus level 1, silahkan melanjutkan ke level 2 dan seterusnya.