Google+

Bhisma Parwa 6

Mahabharata 6.6

Bhisma Parwa 6

Suatu ketika, Dhṛtarāṣṭra bertanya dengan suara yang lembut namun sarat keingintahuan. Ia ingin tahu nama-nama sungai dan gunung, negeri-negeri dan hutan, segala sesuatu yang membentang di atas bumi. Ia bertanya bukan seperti raja yang hendak menaklukkan, melainkan seperti orang tua yang ingin memahami rumah tempat ia hidup. “Ceritakan semuanya kepadaku, Sañjaya,” katanya, “ukurannya, batas-batasnya, dan apa saja yang dipeluk oleh bumi ini.”

Sañjaya pun menjawab perlahan, seperti guru yang menata benang-benang pengetahuan agar mudah dipahami. Ia berkata bahwa segala yang ada tersusun dari lima unsur besar. Dari kelimanya, bumi memegang tempat utama, sebab di sanalah semua berdiri dan bertahan. Bumi membawa bunyi, sentuhan, rupa, rasa, dan bau; sementara unsur lain membawa lebih sedikit sifat, hingga ruang yang hanya menyimpan bunyi semata. Selama kelima unsur itu seimbang, dunia berjalan tenang. Tetapi bila keseimbangan terganggu, makhluk-makhluk pun saling berbenturan, dan kehancuran tak bisa dihindari.

Ia melanjutkan, bahwa segala sesuatu lahir dan lenyap mengikuti urutan yang tak terukur oleh manusia. Di mana-mana unsur-unsur itu tampak, dan manusia mencoba memahaminya dengan akal. Namun ada batas bagi nalar; yang melampaui alam tak bisa dijangkau oleh pikiran. Di situlah rahasia besar berdiam, seperti senyum seorang kakek yang tahu lebih banyak daripada yang diucapkannya.

Lalu Sañjaya mulai menggambar peta dunia dalam kata-kata. Ia bercerita tentang sebuah pulau bernama Sudarśana, bundar sempurna seperti cakra, dikelilingi air sungai dan gunung yang menjulang bagai awan. Di sana berdiri kota-kota indah dan negeri-negeri yang makmur, pohon-pohonnya sarat bunga dan buah, tanahnya kaya dan berlimpah, dan di sekelilingnya terbentang samudra asin yang memeluknya dari segala arah.

Ia berkata bahwa pulau itu tampak di cakram bulan, sebagaimana seseorang melihat wajahnya sendiri di cermin. Di sana tumbuh pohon pippala dan tampak bayangan kelinci raksasa, dikelilingi ladang obat-obatan dan tumbuhan penyembuh. Begitulah, kata Sañjaya, dunia terpantul di langit, dan langit kembali berdiam di dalam dunia.

Begitulah kisahnya, cucuku. Dunia ini bukan sekadar tanah di bawah kaki, tetapi anyaman unsur, pantulan cahaya, dan keseimbangan halus yang harus dijaga. Dan siapa yang memahami keseimbangan itu, akan melihat bumi bukan sebagai benda untuk direbut, melainkan sebagai rumah yang harus dirawat.


Bhisma Parva 6

MB 6.6.1 dhṛtarāṣṭra uvāca: nadīnāṃ parvatānāṃ ca nāmadheyāni saṃjaya, tathā janapadānāṃ ca ye cānye bhūmim āśritāḥ

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Sebutkanlah kepadaku, Sañjaya, nama-nama sungai dan pegunungan, juga negeri-negeri dan segala yang lain yang bernaung di atas bumi.”


MB 6.6.2 pramāṇaṃ ca pramāṇajña pṛthivyā api sarvaśaḥ, nikhilena samācakṣva kānanāni ca saṃjaya

“Jelaskan pula ukurannya, wahai yang memahami ukuran, tentang bumi secara menyeluruh; terangkan semuanya tanpa tersisa, termasuk hutan-hutannya, Sañjaya.”


MB 6.6.3 saṃjaya uvāca: pañcemāni mahārāja mahābhūtāni saṃgrahāt, jagat sthitāni sarvāṇi samāny āhur manīṣiṇaḥ

Sañjaya berkata:
“Wahai raja agung, ada lima unsur besar yang menyusun segala sesuatu; di dalamnya seluruh jagat berdiri—demikian kata para bijak.”


MB 6.6.4 bhūmir āpas tathā vāyur agnir ākāśam eva ca, guṇottarāṇi sarvāṇi teṣāṃ bhūmiḥ pradhānataḥ

“Bumi, air, angin, api, dan ruang; masing-masing memiliki keutamaannya, namun bumi menempati kedudukan utama di antara semuanya.”


MB 6.6.5 śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca raso gandhaś ca pañcamaḥ, bhūmer ete guṇāḥ proktā ṛṣibhis tattvavedibhiḥ

“Bunyi, sentuhan, rupa, rasa, dan bau—lima inilah sifat-sifat bumi, demikian diajarkan para resi yang memahami hakikat.”


MB 6.6.5* śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca rasaś cāpi prakīrtitāḥ

“Bunyi, sentuhan, rupa, dan rasa juga disebutkan sebagai sifatnya.”


MB 6.6.6 catvāro 'psu guṇā rājan gandhas tatra na vidyate, śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca tejaso 'tha guṇās trayaḥ, śabdaḥ sparśaś ca vāyos tu ākāśe śabda eva ca

“Pada air terdapat empat sifat, wahai raja—bau tidak ada di sana. Pada api ada tiga: bunyi, sentuhan, dan rupa; pada angin ada dua: bunyi dan sentuhan; dan pada ruang hanya bunyi semata.”


MB 6.6.7 ete pañca guṇā rājan mahābhūteṣu pañcasu, vartante sarvalokeṣu yeṣu lokāḥ pratiṣṭhitāḥ

“Kelima sifat ini, wahai raja, berdiam dalam lima unsur besar; di atasnyalah seluruh dunia berdiri dan bertumpu.”


MB 6.6.8 anyonyaṃ nābhivartante sāmyaṃ bhavati vai yadā, yadā tu viṣamībhāvam āviśanti parasparam, tadā dehair dehavanto vyatirohanti nānyathā

“Selama unsur-unsur itu berada dalam keseimbangan, tak saling melampaui, keselarasan pun terjaga. Namun ketika mereka saling timpang dan bertabrakan, makhluk berjasad pun saling bertubrukan—tak ada jalan lain.”


MB 6.6.8* bhāvaṃ na ca bhajantas te nāśaṃ gacchanti nānyathā

“Tanpa kembali pada keseimbangan, mereka menuju kehancuran—tak terelakkan.”


MB 6.6.9 ānupūrvyād vinaśyanti jāyante cānupūrvaśaḥ, sarvāṇy aparimeyāni tad eṣāṃ rūpam aiśvaram

“Mereka lahir dan binasa menurut urutan, juga lenyap dengan urutan yang sama; segala yang tak terukur itu adalah rupa kekuasaan mereka.”


MB 6.6.10 tatra tatra hi dṛśyante dhātavaḥ pāñcabhautikāḥ, teṣāṃ manuṣyās tarkeṇa pramāṇāni pracakṣate

“Di sana-sini tampak unsur-unsur lima ini dalam berbagai bentuk; manusia mencoba mengukurnya dengan akal dan nalar.”


MB 6.6.11 acintyāḥ khalu ye bhāvā na tāṃs tarkeṇa sādhayet, prakṛtibhyaḥ paraṃ yat tu tad acintyasya lakṣaṇam

“Namun yang tak terpikirkan tak dapat dijangkau oleh nalar; apa yang melampaui alam itulah tanda dari yang tak terbayangkan.”


MB 6.6.12 sudarśanaṃ pravakṣyāmi dvīpaṃ te kurunandana, parimaṇḍalo mahārāja dvīpo 'sau cakrasaṃsthitaḥ

“Akan kuceritakan kepadamu Pulau Sudarśana, wahai kebanggaan Kuru; berbentuk bundar sempurna, wahai raja, tersusun laksana cakra.”


MB 6.6.13 nadījalapraticchannaḥ parvataiś cābhrasaṃnibhaiḥ, puraiś ca vividhākārai ramyair janapadais tathā

“Pulau itu diselimuti air sungai, dikelilingi gunung-gunung laksana awan; dipenuhi kota-kota beraneka rupa dan negeri-negeri yang elok.”


MB 6.6.14 vṛkṣaiḥ puṣpaphalopetaiḥ saṃpannadhanadhānyavān, lāvaṇena samudreṇa samantāt parivāritaḥ

“Pohonnya sarat bunga dan buah, berlimpah harta dan hasil bumi; ia dilingkari samudra asin di segala penjuru.”


MB 6.6.15 yathā ca puruṣaḥ paśyed ādarśe mukham ātmanaḥ, evaṃ sudarśanadvīpo dṛśyate candramaṇḍale

“Seperti seseorang melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, demikianlah Pulau Sudarśana terpantul di cakram bulan.”


MB 6.6.16 dvir aṃśe pippalas tatra dvir aṃśe ca śaśo mahān, sarvauṣadhisamāvāpaiḥ sarvataḥ paribṛṃhitaḥ, āpas tato 'nyā vijñeyā eṣa saṃkṣepa ucyate

“Di sana, dua bagian dipenuhi pohon pippala, dua bagian lainnya oleh kelinci raksasa; diperluas ke segala arah oleh ladang segala obat dan tumbuhan. Adapun perairannya yang lain, demikianlah ringkasnya.”


MB 6.6.16* tato 'nya ucyate cāyam enaṃ saṃkṣepataḥ śṛṇu

“Masih ada bagian lain; dengarkanlah penjelasan singkatnya.”

Bhisma Parwa 5

Mahabharata 6.5

Bhisma Parwa 5

Setelah semua nasihat dan tanda-tanda itu diucapkan, Vyāsa pun pergi dengan langkah tenang, meninggalkan Dhṛtarāṣṭra dalam keheningan. Raja tua itu tidak berkata apa-apa. Kata-kata sang resi masih bergaung di dadanya. Ia pun menutup mata, masuk ke dalam perenungan yang dalam, seolah hendak mencari jawabannya sendiri di lorong-lorong batin yang gelap.

Beberapa saat berlalu. Dhṛtarāṣṭra menarik napas panjang, berulang kali, seperti orang yang memikul beban terlalu berat untuk satu dada. Lalu ia memanggil Sañjaya, kusir setia yang berhati teguh. Dengan suara lirih namun penuh kecemasan, ia berkata bahwa para raja perkasa itu—para pahlawan yang mencintai perang—telah saling menghantam tanpa ragu, menggunakan segala jenis senjata. Demi bumi, katanya, mereka telah meninggalkan nyawa mereka sendiri. Mereka membunuh tanpa henti, seakan tak pernah puas, menambah panen kematian bagi Yama.

“Apa sebenarnya bumi ini, Sañjaya?” tanya sang raja. “Mengapa ia begitu diinginkan, sampai manusia rela saling membinasakan?” Ia tahu bahwa di Kurujāṅgala telah berkumpul jumlah yang tak terhitung—ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan pahlawan dari berbagai penjuru. Ia ingin tahu dari mana mereka datang, seberapa luas negeri-negeri dan kota-kota yang mengirimkan anak-anak terbaiknya ke medan maut itu. Dan ia tahu, Sañjaya bisa menjawab, karena resi Vyāsa telah menganugerahkan kepadanya mata pengetahuan dan cahaya kecerdasan ilahi.

Sañjaya pun mulai bercerita, suaranya tenang seperti guru yang mengajar murid kesayangannya. Ia berkata bahwa di dunia ini ada dua jenis makhluk: yang bergerak dan yang diam. Yang bergerak lahir dengan tiga cara—dari telur, dari kelembapan, dan dari rahim. Di antara semuanya, yang lahir dari rahim adalah yang utama. Dan di antara mereka, manusia dan hewan menempati tempat teratas.

Makhluk-makhluk itu, lanjut Sañjaya, terbagi menjadi empat belas golongan: tujuh penghuni hutan dan tujuh penghuni permukiman manusia. Di rimba hidup singa, harimau, babi hutan, kerbau, gajah, beruang, dan kera. Di desa dan kota hidup sapi, kambing, manusia, domba, kuda, bagal, dan keledai. Keempat belasnya, kata para bijak, adalah penopang kehidupan dan pengorbanan suci. Tanpa mereka, dunia tak akan berjalan.

Di antara yang hidup dekat manusia, manusialah yang utama. Di antara yang hidup liar, singalah yang terunggul. Namun tak satu pun hidup sendirian. Semua saling bergantung, saling menopang, saling hidup dari yang lain—seperti anyaman rumit yang bila satu helai ditarik, seluruhnya ikut terguncang.

Lalu Sañjaya berbicara tentang yang diam: tumbuhan. Ada pohon besar, semak, sulur, tanaman merambat, rerumputan, dan segala yang menyimpan sari kehidupan. Semuanya terhubung dengan unsur-unsur besar alam, membentuk tatanan yang luas, teratur, dan suci—seperti Gāyatrī yang memuat dunia dalam iramanya. Barang siapa memahami tatanan itu dengan benar, katanya, tak akan binasa dalam putaran dunia.

Akhirnya, Sañjaya menutup kisahnya dengan suara yang lembut namun pasti: segala sesuatu lahir dari bumi, dan kepada bumi pula semuanya kembali. Bumi adalah landasan semua makhluk, tujuan terakhir segala perjalanan. Dan karena bumi itulah—karena kerakusan untuk memilikinya—para raja saling membunuh, lupa bahwa tanah yang mereka perebutkan kelak akan menerima mereka semua, tanpa membeda-bedakan mahkota dan debu.

Begitulah, cucuku, kisah itu diceritakan. Bukan untuk menambah ketakutan, tetapi untuk mengingatkan: dunia ini bukan milik siapa pun, dan perang sering lahir ketika manusia lupa bahwa ia hanyalah tamu sementara di atas bumi yang sama.

Bhisma Parva 5

MB 6.5.1 vaiśaṃpāyana uvāca: evam uktvā yayau vyāso dhṛtarāṣṭrāya dhīmate, dhṛtarāṣṭro 'pi tac chrutvā dhyānam evānvapadyata

Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, Vyāsa pun pergi meninggalkan Dhṛtarāṣṭra yang bijaksana; dan Dhṛtarāṣṭra, setelah mendengar semuanya, tenggelam pula dalam samādhi.


MB 6.5.2 sa muhūrtam iva dhyātvā viniḥśvasya muhur muhuḥ, saṃjayaṃ saṃśitātmānam apṛcchad bharatarṣabha

Beberapa saat ia berdiam dalam hening, menarik napas panjang berulang kali; lalu ia bertanya kepada Sañjaya, yang berhati teguh, wahai terbaik di antara Bhārata.


MB 6.5.3 saṃjayeme mahīpālāḥ śūrā yuddhābhinandinaḥ, anyonyam abhinighnanti śastrair uccāvacair api

“Wahai Sañjaya, para raja itu—pahlawan yang mencintai perang—saling menghantam satu sama lain dengan senjata besar dan kecil.”


MB 6.5.4 pārthivāḥ pṛthivīhetoḥ samabhityaktajīvitāḥ, na ca śāmyanti nighnanto vardhayanto yamakṣayam

“Mereka, demi bumi, telah meninggalkan nyawa mereka; mereka tak jemu membunuh, terus menambah panen Yama.”


MB 6.5.5 bhaumam aiśvaryam icchanto na mṛṣyante parasparam, manye bahuguṇā bhūmis tan mamācakṣva saṃjaya

“Menginginkan kekuasaan duniawi, mereka tak saling menahan diri. Kupikir bumi ini menyimpan  banyak keutamaan; jelaskanlah itu kepadaku, Sañjaya.”


MB 6.5.6 bahūni ca sahasrāṇi prayutāny arbudāni ca, koṭyaś ca lokavīrāṇāṃ sametāḥ kurujāṅgale

“Ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan pahlawan dunia telah berkumpul di Kurujāṅgala.”


MB 6.5.7 deśānāṃ ca parīmāṇaṃ nagarāṇāṃ ca saṃjaya, śrotum icchāmi tattvena yata ete samāgatāḥ

“Jelaskan kepadaku dengan sebenar-benarnya, Sañjaya, luas negeri-negeri dan kota-kota dari mana  mereka semua datang.”


MB 6.5.8 divyabuddhipradīpena yuktas tvaṃ jñānacakṣuṣā, prasādāt tasya viprarṣer vyāsasyāmitatejasaḥ

“Engkau telah dianugerahi pelita kecerdasan ilahi dan mata pengetahuan, oleh anugerah resi agung Vyāsa yang bercahaya tanpa batas.”


MB 6.5.9 saṃjaya uvāca: yathāprajñaṃ mahāprājña bhaumān vakṣyāmi te guṇān, śāstracakṣur avekṣasva namas te bharatarṣabha

Sañjaya berkata:

“Sesuai daya pemahamanku, wahai maharaja bijaksana, akan kujabarkan keutamaan bumi. Pandanglah dengan mata ajaran; sujudku kepadamu, wahai terbaik di antara Bhārata.”


MB 6.5.10 dvividhānīha bhūtāni trasāni sthāvarāṇi ca, trasānāṃ trividhā yonir aṇḍasvedajarāyujāḥ

“Makhluk di dunia ini ada dua macam: yang bergerak dan yang tak bergerak; yang bergerak memiliki tiga asal kelahiran—dari telur, dari peluh, dan dari rahim.”


MB 6.5.11 trasānāṃ khalu sarveṣāṃ śreṣṭhā rājañ jarāyujāḥ, jarāyujānāṃ pravarā mānavāḥ paśavaś ca ye

“Di antara makhluk bergerak, yang lahir dari rahim adalah yang utama, wahai raja; dan di antara mereka, manusia dan hewan adalah yang terunggul.”


MB 6.5.12 nānārūpāṇi bibhrāṇās teṣāṃ bhedāś caturdaśa, araṇyavāsinaḥ sapta saptaiṣāṃ grāmavāsinaḥ

“Mereka beraneka rupa, terbagi menjadi empat belas golongan: tujuh penghuni hutan, dan tujuh penghuni permukiman.”


MB 6.5.13 siṃhavyāghravarāhāś ca mahiṣā vāraṇās tathā, ṛkṣāś ca vānarāś caiva saptāraṇyāḥ smṛtā nṛpa

“Singa, harimau, babi hutan, kerbau dan gajah, beruang dan kera—itulah tujuh makhluk penghuni rimba, wahai raja.”


MB 6.5.14 gaur ajo manujo meṣo vājyaśvataragardabhāḥ, ete grāmyāḥ samākhyātāḥ paśavaḥ sapta sādhubhiḥ

“Sapi, kambing, manusia, domba, kuda, bagal, dan keledai—itulah tujuh makhluk penghuni desa, demikian diajarkan para bijak.”


MB 6.5.15 ete vai paśavo rājan grāmyāraṇyāś caturdaśa, vedoktāḥ pṛthivīpāla yeṣu yajñāḥ pratiṣṭhitāḥ

“Keempat belas makhluk—liar dan jinak—itulah, wahai raja, yang disebut dalam Weda sebagai  penopang yajña di atas bumi.”


MB 6.5.16 grāmyāṇāṃ puruṣaḥ śreṣṭhaḥ siṃhaś cāraṇyavāsinām, sarveṣām eva bhūtānām anyonyenābhijīvanam

“Di antara makhluk desa, manusia adalah yang utama; di antara penghuni hutan, singa yang terunggul. Semua makhluk hidup satu sama lain—saling menopang, saling bergantung.”


MB 6.5.17 udbhijjāḥ sthāvarāḥ proktās teṣāṃ pañcaiva jātayaḥ, vṛkṣagulmalatāvallyas tvaksārās tṛṇajātayaḥ

“Yang tak bergerak disebut tumbuhan; mereka terbagi menjadi lima jenis: pohon, semak, liana, sulur, kulit dan sari, serta rumput.”


MB 6.5.18 eṣāṃ viṃśatir ekonā mahābhūteṣu pañcasu, caturviṃśatir uddiṣṭā gāyatrī lokasaṃmatā

“Keseluruhan ini—sembilan belas—berkaitan dengan lima unsur agung; dua puluh empat keseluruhannya, sebagaimana dikenal dalam Gāyatrī yang diterima dunia.”


MB 6.5.19 ya etāṃ veda gāyatrīṃ puṇyāṃ sarvaguṇānvitām, tattvena bharataśreṣṭha sa lokān na praṇaśyati

“Siapa memahami Gāyatrī yang suci ini, lengkap dengan segala keutamaannya, ia, wahai terbaik di antara Bhārata, tak akan binasa di dunia-dunia.”


MB 6.5.20 bhūmau hi jāyate sarvaṃ bhūmau sarvaṃ praṇaśyati, bhūmiḥ pratiṣṭhā bhūtānāṃ bhūmir eva parāyaṇam

“Segala sesuatu lahir dari bumi, dan ke bumi pula segalanya lenyap; bumi adalah landasan semua makhluk, bumi pula tujuan terakhir.”


MB 6.5.21 yasya bhūmis tasya sarvaṃ jagat sthāvarajaṅgamam, tatrābhigṛddhā rājāno vinighnantītaretaram

“Siapa menguasai bumi, menguasai seluruh dunia—yang bergerak dan yang diam; karena kerakusan akan bumi itulah, para raja saling membinasakan.”

Bhisma Parwa 4

Mahabharata 6.4

Bhisma Parwa 4

Setelah menyingkapkan rahasia dunia dan tanda-tanda zaman, Vyāsa terdiam sejenak. Sang resi tua itu, yang memahami hakikat hidup seperti orang membaca garis di telapak tangannya sendiri, memandang Dhṛtarāṣṭra—anaknya—dengan iba yang dalam. Lalu ia masuk kembali ke keheningan tapa, seolah menata ulang kata-kata yang paling sulit diucapkan kepada seorang ayah.

Tak lama kemudian, ia berbicara lagi. Suaranya lembut, tetapi tegas, seperti orang tua yang tahu bahwa waktu tak bisa dibujuk. Ia berkata bahwa waktu adalah penguasa sejati: ia memadatkan dunia, menghancurkannya, lalu menciptakannya kembali. Tak ada yang kekal—bukan keluarga Kuru, bukan sahabat, bukan kekuasaan. Semua bergerak, semua berlalu.

Karena itu, Vyāsa menasihati: tunjukkanlah jalan dharma. Jangan biarkan pembunuhan sanak keluarga menjadi pilihan, sebab itu hina dan tak pernah dipuji kitab suci. “Waktu itu sendiri,” katanya lirih, “telah lahir sebagai putramu.” Tetapi walau waktu mendesak, manusia tetap punya pilihan untuk berjalan lurus. Kekuasaan yang membawa penderitaan, seindah apa pun rupanya, sebaiknya dilepaskan. Apa arti kerajaan bila justru menyeret hati ke dalam dosa?

Ia meminta Dhṛtarāṣṭra membuka mata dan menunjukkan dharma kepada putra-putranya. Lebih baik menyerahkan kerajaan kepada Pāṇḍava dan membawa Kaurava menuju ketenteraman, daripada memelihara api yang akan membakar semuanya. Ia bahkan berjanji akan menahan Yudhiṣṭhira dan Bhīma bila perang benar-benar pecah—sebuah janji seorang kakek yang ingin melindungi cucu-cucunya dari kesalahan yang sama.

Dhṛtarāṣṭra mendengar semuanya. Ia menjawab dengan kejujuran yang pahit: ia tahu apa yang benar, tetapi dunia—dan dirinya—sering dibingungkan oleh kepentingan sendiri. Ia memohon belas kasih, mengakui Vyāsa sebagai dharma itu sendiri, sebagai kehormatan, ingatan, dan penopang keluarga. “Lakukanlah apa yang benar,” katanya, “tak ada yang lebih pantas kuikuti selain engkau.”

Vyāsa pun berkata, “Katakanlah apa yang menggelisahkan hatimu.” Dan sang raja bertanya tentang kemenangan—bukan tentang senjata, melainkan tanda-tandanya. Maka Vyāsa menjelaskan dengan sabar, seperti kakek yang mengajarkan cucunya membaca alam: api yang jernih dan harum, suara kerang dan genderang yang mantap, wajah prajurit yang cerah, angin yang mengiringi langkah, burung-burung yang terbang ke arah baik. Kegembiraan para prajurit, katanya, adalah tanda paling pasti. Bukan jumlah pasukan, bukan kilau senjata.

Ia lalu mengingatkan tentang rapuhnya perang. Satu celah kecil bisa merobek pasukan raksasa. Ketika barisan pecah, ketakutan menular seperti api di padang kering. Bahkan pahlawan terbesar tak mampu menyatukan kembali pasukan yang telah tercerai. Karena itu, siasat lebih utama daripada bentrokan; kemenangan karena pertempuran semata adalah yang paling rendah, sebab ia membawa cacat dan kehancuran.

Dan akhirnya, sang kakek menutup kisahnya dengan pelajaran paling sunyi: kemenangan tidak lahir dari banyaknya orang. Takdir selalu ikut berbicara. Bahkan mereka yang menang sering tetap kehilangan sesuatu. Maka yang patut dijaga bukan hanya hasil, melainkan cara—agar ketika cerita ini diceritakan kembali kepada anak cucu, ia menjadi kisah kebijaksanaan, bukan sekadar kisah darah dan air mata.

Bhisma Parva 4

MB 6.4.1 vaiśaṃpāyana uvāca: evam ukto munis tattvaṃ kavīndro rājasattama, putreṇa dhṛtarāṣṭreṇa dhyānam anvagamat param

Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, sang resi memahami hakikat segala sesuatu; penyair agung itu, wahai raja utama, melihat Dhṛtarāṣṭra—putranya—lalu tenggelam kembali dalam samādhi tertinggi.


MB 6.4.2 punar evābravīd vākyaṃ kālavādī mahātapāḥ, asaṃśayaṃ pārthivendra kālaḥ saṃkṣipate jagat

Sekali lagi sang mahātapā, pengucap hukum waktu, berkata:
“Tanpa ragu, wahai raja bumi, waktu menyusutkan dunia ini.”


MB 6.4.3 sṛjate ca punar lokān neha vidyati śāśvatam, jñātīnāṃ ca kurūṇāṃ ca saṃbandhisuhṛdāṃ tathā

“Ia mencipta kembali dunia-dunia, tak ada yang abadi di sini—baik sanak keluarga Kuru, maupun kerabat dan sahabat mereka.”


MB 6.4.4 dharmyaṃ deśaya panthānaṃ samartho hy asi vāraṇe, kṣudraṃ jñātivadhaṃ prāhur mā kuruṣva mamāpriyam

“Tunjukkanlah jalan yang sesuai dharma, engkau mampu menahan kejahatan ini. Pembunuhan kerabat disebut hina; jangan lakukan sesuatu yang tak kusukai.”


MB 6.4.5 kālo 'yaṃ putrarūpeṇa tava jāto viśāṃ pate, na vadhaḥ pūjyate vede hitaṃ naitat kathaṃ cana

“Waktu itu sendiri telah lahir sebagai putramu, wahai raja; pembunuhan tak pernah dipuji dalam Weda, tak membawa kebaikan sedikit pun.”


MB 6.4.6 hanyāt sa eva yo hanyāt kuladharmaṃ svakāṃ tanum, kālenotpathagantāsi śakye sati yathāpathi

“Yang pantas dibunuh hanyalah ia yang membunuh dharma keluarganya sendiri; jangan menyimpang mengikuti arus waktu bila masih mungkin berjalan di jalan yang benar.”


MB 6.4.7 kulasyāsya vināśāya tathaiva ca mahīkṣitām, anartho rājyarūpeṇa tyajyatām asukhāvahaḥ

“Malapetaka yang menjelma sebagai kekuasaan hendaklah ditinggalkan, karena ia membawa kehancuran keluarga ini dan para raja di bumi.”


MB 6.4.8 luptaprajñaḥ pareṇāsi dharmaṃ darśaya vai sutān, kiṃ te rājyena durdharṣa yena prāpto 'si kilbiṣam

“Engkau telah kehilangan kejernihan oleh pengaruh luar; tunjukkanlah dharma kepada putra-putramu. Apa guna kerajaan yang sukar dijaga, bila justru menyeretmu ke dalam dosa?”


MB 6.4.9 yaśo dharmaṃ ca kīrtiṃ ca pālayan svargam āpsyasi, labhantāṃ pāṇḍavā rājyaṃ śamaṃ gacchantu kauravāḥ

“Dengan menjaga dharma, kehormatan, dan kemasyhuran, engkau akan mencapai surga. Biarlah Pāṇḍava memperoleh kerajaan, dan Kaurava mencapai ketenteraman.”


MB 6.4.9* yudhiṣṭhiraṃ ca bhīmaṃ ca vārayiṣyāmi saṃyuge

“Aku sendiri akan menahan Yudhiṣṭhira dan Bhīma bila perang pecah.”


MB 6.4.10 evaṃ bruvati viprendre dhṛtarāṣṭro 'mbikāsutaḥ, ākṣipya vākyaṃ vākyajño vākpathenāpy ayāt punaḥ

Ketika brahmana utama berkata demikian, Dhṛtarāṣṭra, putra Ambikā, menyela dengan jawaban yang cermat, menempuh kembali jalan kata-kata.


MB 6.4.11 dhṛtarāṣṭra uvāca: yathā bhavān veda tathāsmi vettā; bhāvābhāvau viditau me yathāvat, svārthe hi saṃmuhyati tāta loko; māṃ cāpi lokātmakam eva viddhi

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Apa yang engkau ketahui, aku pun mengetahuinya; ada dan tiada telah kupahami sebagaimana mestinya. Manusia, wahai ayah, memang kerap bingung oleh kepentingan diri; anggaplah aku pun cermin dari dunia ini.”


MB 6.4.12 prasādaye tvām atulaprabhāvaṃ; tvaṃ no gatir darśayitā ca dhīraḥ, na cāpi te vaśagā me maharṣe; na kalmaṣaṃ kartum ihārhase mām

“Aku memohon belas kasihmu, wahai yang bercahaya tiada banding; engkaulah jalan kami dan penunjuk yang bijak. Namun aku tak sepenuhnya berada di bawah kehendakmu, wahai resi; jangan engkau anggap aku layak dicemari dosa.”


MB 6.4.13 tvaṃ hi dharmaḥ pavitraṃ ca yaśaḥ kīrtir dhṛtiḥ smṛtiḥ, kurūṇāṃ pāṇḍavānāṃ ca mānyaś cāsi pitāmahaḥ

“Engkau adalah dharma itu sendiri—kesucian, kehormatan, kemasyhuran, keteguhan, dan ingatan; bagi Kuru dan Pāṇḍava, engkau adalah leluhur yang dimuliakan.”


MB 6.4.13* kuruṣva kāryaṃ yat satyaṃ tvatto mānyo na vidyate

“Lakukanlah apa yang benar; tak ada yang lebih layak dihormati selain dirimu.”


MB 6.4.14 vyāsa uvāca: vaicitravīrya nṛpate yat te manasi vartate, abhidhatsva yathākāmaṃ chettāsmi tava saṃśayam

Vyāsa berkata:
“Wahai raja Vaicitravīrya, apa pun yang ada di hatimu, katakanlah. Aku akan memotong keraguanmu.”


MB 6.4.15 dhṛtarāṣṭra uvāca: yāni liṅgāni saṃgrāme bhavanti vijayiṣyatām, tāni sarvāṇi bhagavañ śrotum icchāmi tattvataḥ

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Wahai Bhagavān, aku ingin mendengar dengan sebenar-benarnya tanda-tanda kemenangan dalam perang.”


MB 6.4.16 vyāsa uvāca: prasannabhāḥ pāvaka ūrdhvaraśmiḥ; pradakṣiṇāvartaśikho vidhūmaḥ, puṇyā gandhāś cāhutīnāṃ pravānti; jayasyaitad bhāvino rūpam āhuḥ

Vyāsa berkata:
“Api tampak jernih dan berseri, lidah apinya berputar ke kanan tanpa asap; aroma persembahan menjadi harum—itulah rupa kemenangan yang akan datang.”


MB 6.4.17 gambhīraghoṣāś ca mahāsvanāś ca; śaṅkhā mṛdaṅgāś ca nadanti yatra, viśuddharaśmis tapanaḥ śaśī ca; jayasyaitad bhāvino rūpam āhuḥ

“Di mana kerang dan genderang bergemuruh dalam-dalam, matahari dan bulan bersinar bening—itulah tanda kemenangan.”


MB 6.4.18 iṣṭā vācaḥ pṛṣṭhato vāyasānāṃ; saṃprasthitānāṃ ca gamiṣyatāṃ ca, ye pṛṣṭhatas te tvarayanti rājan; ye tv agratas te pratiṣedhayanti

“Bila suara burung gagak terdengar dari belakang, mereka yang telah berangkat akan dipercepat jalannya; yang bersuara di depan, justru menghalangi—demikian pertandanya, wahai raja.”


MB 6.4.19 kalyāṇavācaḥ śakunā rājahaṃsāḥ; śukāḥ krauñcāḥ śatapatrāś ca yatra, pradakṣiṇāś caiva bhavanti saṃkhye; dhruvaṃ jayaṃ tatra vadanti viprāḥ

“Burung-burung pembawa suara baik—angsa raja, betet, bangau—bila bergerak ke kanan di medan laga, para brahmana menyatakan: kemenangan telah pasti.”


MB 6.4.20 alaṃkāraiḥ kavacaiḥ ketubhiś ca; mukhaprasādair hemavarṇaiś ca nṝṇām, bhrājiṣmatī duṣpratiprekṣaṇīyā; yeṣāṃ camūs te vijayanti śatrūn

“Pasukan yang bersinar oleh perhiasan, zirah, dan panji, wajah-wajahnya cerah bagai emas, berkilau dan sukar ditatap—merekalah yang menundukkan musuh.”


MB 6.4.21 hṛṣṭā vācas tathā sattvaṃ yodhānāṃ yatra bhārata, na mlāyante srajaś caiva te taranti raṇe ripūn

“Di mana para prajurit bersuara riang dan berhati teguh, untaian bunga tak layu—mereka menyeberangi medan dan menaklukkan lawan.”


MB 6.4.22 iṣṭo vātaḥ praviṣṭasya dakṣiṇā pravivikṣataḥ, paścāt saṃsādhayaty arthaṃ purastāt pratiṣedhate

“Angin yang menyenangkan dari kanan menyertai pasukan yang maju; yang datang dari depan menghalangi, yang dari belakang justru menyempurnakan tujuan.”


MB 6.4.23 śabdarūparasasparśagandhāś cāviṣkṛtāḥ śubhāḥ, sadā yodhāś ca hṛṣṭāś ca yeṣāṃ teṣāṃ dhruvaṃ jayaḥ

“Bila bunyi, rupa, rasa, sentuhan, dan aroma tampak baik dan jelas, dan para prajurit selalu gembira—kemenangan pasti bagi mereka.”


MB 6.4.24 anv eva vāyavo vānti tathābhrāṇi vayāṃsi ca, anuplavante meghāś ca tathaivendradhanūṃṣi ca

“Angin, awan, burung-burung, hujan, bahkan pelangi, mengikuti mereka yang akan menang.”


MB 6.4.25 etāni jayamānānāṃ lakṣaṇāni viśāṃ pate, bhavanti viparītāni mumūrṣūṇāṃ janādhipa

“Itulah tanda-tanda kemenangan, wahai raja; bagi mereka yang akan binasa, tanda-tanda itu muncul terbalik.”


MB 6.4.26 alpāyāṃ vā mahatyāṃ vā senāyām iti niścitam, harṣo yodhagaṇasyaikaṃ jayalakṣaṇam ucyate

“Baik pasukan kecil maupun besar, satu tanda kemenangan yang pasti adalah kegembiraan para prajurit.”


MB 6.4.27 eko dīrṇo dārayati senāṃ sumahatīm api, taṃ dīrṇam anudīryante yodhāḥ śūratamā api

“Satu celah kecil saja dapat merobek pasukan yang amat besar; dan para prajurit paling berani pun akan mengikuti keretakan itu.”


MB 6.4.28 durnivāratamā caiva prabhagnā mahatī camūḥ, apām iva mahāvegas trastā mṛgagaṇā iva

“Pasukan besar yang telah pecah sukar dihentikan; ia mengalir deras seperti air bah, lari ketakutan seperti kawanan rusa.”


MB 6.4.29 naiva śakyā samādhātuṃ saṃnipāte mahācamūḥ, dīrṇā ity eva dīryante yodhāḥ śūratamā api, bhītān bhagnāṃś ca saṃprekṣya bhayaṃ bhūyo vivardhate

“Di tengah pertempuran, pasukan yang telah retak tak bisa dipulihkan; melihat yang gentar dan tercerai-berai, ketakutan pun berlipat ganda.”


MB 6.4.30 prabhagnā sahasā rājan diśo vibhrāmitā paraiḥ, naiva sthāpayituṃ śakyā śūrair api mahācamūḥ

“Bila pasukan tercerai tiba-tiba dan tercerabut ke segala arah, tak seorang pahlawan pun mampu menegakkannya kembali.”


MB 6.4.31 saṃbhṛtya mahatīṃ senāṃ caturaṅgāṃ mahīpatiḥ, upāyapūrvaṃ medhāvī yateta satatotthitaḥ

“Karena itu, raja bijaksana hendaknya memimpin pasukan empat unsur dengan siasat dan kesiagaan.”


MB 6.4.31* śaknoti na samādhātuṃ dīrṇām indrasamo yudhi

“Bahkan yang setara Indra dalam perang tak sanggup merapikan pasukan yang telah pecah.”


MB 6.4.32 upāyavijayaṃ śreṣṭham āhur bhedena madhyamam, jaghanya eṣa vijayo yo yuddhena viśāṃ pate, mahādoṣaḥ saṃnipātas tato vyaṅgaḥ sa ucyate

“Kemenangan melalui siasat adalah yang utama, melalui perpecahan adalah menengah; yang terendah ialah kemenangan lewat perang langsung—karena pertempuran massal penuh cacat dan melahirkan kehancuran.”


MB 6.4.32* paraspareṇa saṃdṛṣṭā surair api mahācamūḥ, naiva sthāpayituṃ śakyā prabhagnā bhayavihvalā

“Pasukan besar yang tercerai dan diliputi ketakutan, bahkan para dewa pun tak mampu menegakkannya kembali.”


MB 6.4.33 parasparajñāḥ saṃhṛṣṭā vyavadhūtāḥ suniścitāḥ, pañcāśad api ye śūrā mathnanti mahatīṃ camūm, atha vā pañca ṣaṭ sapta vijayanty anivartinaḥ

“Lima puluh pahlawan yang saling mengenal dan bersemangat dapat menghancurkan pasukan besar; bahkan lima, enam, atau tujuh dapat menang bila tak gentar.”


MB 6.4.34 na vainateyo garuḍaḥ praśaṃsati mahājanam, dṛṣṭvā suparṇopacitiṃ mahatīm api bhārata

“Garuda pun tak memuji kerumunan besar hanya karena jumlahnya, wahai Bhārata, meski tampak mengesankan.”


MB 6.4.35 na bāhulyena senāyā jayo bhavati bhārata, adhruvo hi jayo nāma daivaṃ cātra parāyaṇam, jayanto hy api saṃgrāme kṣayavanto bhavanty uta

“Kemenangan tidak lahir dari banyaknya pasukan; ia tak pernah pasti. Takdirlah sandaran terakhir—bahkan yang menang pun kerap menuai kehancuran.”

Bhisma Parwa 3

Mahabharata 6.3

Bhisma Parwa 3

“Kau tahu, Nak,” kata sang kakek, “ada saatnya dunia memberi tanda sebelum ia berubah.”

Vyāsa, orang tua yang rambutnya memutih oleh pengetahuan, melihat tanda-tanda itu satu per satu. Bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kesedihan yang tenang, seperti orang yang tahu badai akan datang, tetapi tak bisa lagi memanggil angin agar berhenti.

Ia melihat tatanan alam mulai terbalik. Keledai lahir dari sapi, dan anak-anak bermain seolah semuanya baik-baik saja. Pohon-pohon berbunga dan berbuah di luar musimnya, seakan lupa pada jam alam. Putri-putri raja melahirkan makhluk-makhluk yang mengerikan, burung pemakan bangkai dan binatang liar, seolah rahim manusia pun ikut diguncang oleh keganjilan zaman. Hewan-hewan lahir dengan bentuk yang tak pernah dikenal: berkepala dua, bertanduk ganjil, berkaki lebih atau kurang dari semestinya, bersuara sial sejak pertama kali membuka mulut.

Bahkan di dalam kota, keanehan tak berhenti. Ada perempuan yang melahirkan burung, ada kuda melahirkan anak sapi, anjing melahirkan serigala. Anak-anak yang baru lahir menari dan tertawa, seolah dunia ini permainan, padahal langit sedang runtuh perlahan. Bayi-bayi menyusu bernyanyi di rumah para pencuri, dan anak-anak kecil berlarian sambil membawa tongkat, mengepung kota seperti pasukan perang mini yang digerakkan oleh waktu itu sendiri.

Langit pun tak lagi setia pada jalurnya. Bumi gemetar tanpa henti. Matahari ditelan bayangan, bintang-bintang menyimpang dari tempatnya. Komet berasap berdiri di langit seperti paku kematian yang ditancapkan para dewa. Planet-planet saling menekan, saling menyimpang, dan cahaya bulan serta matahari pun kehilangan ketenangannya. Bahkan bintang yang biasanya menjadi lambang kesetiaan pun berbalik arah, seolah mengatakan: “Apa yang dulu kokoh, kini tak lagi pasti.”

Bumi tampak subur berlebihan—tanaman tumbuh tak wajar, biji-bijian berkepala banyak, hasil panen melimpah namun terasa hampa. Sapi-sapi, penyangga kehidupan manusia, mengeluarkan darah dari ambingnya, dan siapa pun yang melihatnya tahu: ini bukan pertanda rezeki, melainkan perpisahan. Pedang-pedang berkilat sendiri dari sarungnya, senjata seakan sadar bahwa tugasnya telah dekat. Panji-panji berasap, genderang memuntahkan bara, dan udara dipenuhi bau besi dan kematian yang belum terjadi, namun sudah terasa.

Burung-burung berteriak dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Ada yang terbang dengan satu sayap, satu mata, satu kaki, memuntahkan darah di malam hari sambil mengeluarkan suara murka. Langit dipenuhi cahaya merah, dua planet menyala menutupi cahaya para resi di rasi bintang, dan seakan-akan kebijaksanaan pun diselimuti api. Guruh menggelegar tanpa awan, dan hujan debu menutup segala arah. Pada waktu yang tak seharusnya, matahari dan bulan sama-sama tertelan bayangan, seolah waktu sendiri kehilangan hitungannya.

Lalu datanglah malam-malam yang paling mengerikan. Hujan daging jatuh dari langit. Sungai-sungai mengalir berlawanan arah dengan air bercampur darah. Sumur-sumur meraung seperti hewan terluka. Meteor jatuh berderai, memecah langit dengan suara kering yang membuat anak-anak menangis dalam tidur mereka. Gunung-gunung runtuh, samudra meluap, angin mencabut pohon-pohon suci dari akarnya, dan desa serta kota bergetar seperti daun kering.

Api persembahan berubah warna dan bau, sentuhan menjadi menyakitkan, rasa dan aroma saling tertukar. Burung bangkai bertengger di istana, di gerbang kota, di pucuk panji-panji raja. Kuda dan gajah menangis, gemetar, merasakan sesuatu yang manusia belum sepenuhnya berani ucapkan. Di rumah-rumah dan ladang, gundukan rayap dan sarang lebah muncul tanpa sebab, kandang-kandang dipenuhi burung, dan dunia seakan tak lagi mengenali dirinya sendiri.

Semua itu, kata Vyāsa, bukan sekadar untuk menakuti. Itu adalah panggilan agar manusia sadar bahwa waktunya telah sampai. Maka ia berkata dengan suara seorang ayah kepada anaknya: “Bertindaklah sesuai waktunya, agar dunia tidak runtuh sepenuhnya.”

Dhṛtarāṣṭra mendengarnya, dan kali ini ia tidak membantah. Ia hanya menarik napas panjang, seperti orang yang akhirnya menerima kenyataan pahit. “Semua ini telah ditetapkan sejak lama,” katanya. “Tak ada keraguan lagi.”

Dan di sanalah kisah itu berbelok, Nak. Dari ketakutan menuju penerimaan. Sang kakek selalu mengakhiri ceritanya dengan lembut: bila para kesatria gugur dengan memegang dharma, mereka tak jatuh sia-sia. Di dunia ini mereka dikenang, di dunia sana mereka berbahagia. Mereka yang menyerahkan nyawa di medan besar tidak kehilangan segalanya—mereka justru memperoleh dua dunia sekaligus.

Begitulah, cucuku. Ketika alam berteriak dan langit retak, bukan hanya kehancuran yang datang, tetapi juga pengingat: hidup ini singkat, dan yang tersisa hanyalah cara kita menjalaninya.

Bhisma Parva 3


MB 6.3.1 vyāsa uvāca: kharā goṣu prajāyante ramante mātṛbhiḥ sutāḥ, anārtavaṃ puṣpaphalaṃ darśayanti vane drumāḥ

Vyāsa berkata:
Keledai lahir dari kawanan sapi, anak-anak bersuka ria dengan induknya; pohon-pohon di hutan menampakkan bunga dan buah di luar musimnya.


MB 6.3.2 garbhiṇyo rājaputryaś ca janayanti vibhīṣaṇān, kravyādān pakṣiṇaś caiva gomāyūn aparān mṛgān

Putri-putri raja yang tengah mengandung melahirkan makhluk-makhluk mengerikan; burung pemakan bangkai, anjing hutan, dan binatang liar lainnya.


MB 6.3.3 triviṣāṇāś caturnetrāḥ pañcapādā dvimehanāḥ, dviśīrṣāś ca dvipucchāś ca daṃṣṭriṇaḥ paśavo 'śivāḥ

Hewan-hewan lahir dengan rupa tak wajar: bertanduk tiga, bermata empat, berkaki lima, berkepala dua, berekor dua, bertaring tajam—pertanda celaka.


MB 6.3.4 jāyante vivṛtāsyāś ca vyāharanto 'śivā giraḥ, tripadāḥ śikhinas tārkṣyāś caturdaṃṣṭrā viṣāṇinaḥ

Ada yang terlahir dengan mulut ternganga, mengeluarkan suara-suara sial; berkaki tiga, berjambul, menyerupai Garuḍa, bertaring empat dan bertanduk tajam.


MB 6.3.5 tathaivānyāś ca dṛśyante striyaś ca brahmavādinām, vainateyān mayūrāṃś ca janayantyaḥ pure tava

Demikian pula tampak perempuan-perempuan lain, bahkan istri para pengucap Brahman, melahirkan burung-burung vainateya dan burung merak di kotamu.


MB 6.3.6 govatsaṃ vaḍavā sūte śvā sṛgālaṃ mahīpate, krakarāñ śārikāś caiva śukāṃś cāśubhavādinaḥ

Kuda betina melahirkan anak sapi, anjing melahirkan serigala, wahai raja; burung krakara, burung śārikā, dan betet mengucapkan suara-suara malapetaka.


MB 6.3.7 striyaḥ kāś cit prajāyante catasraḥ pañca kanyakāḥ, tā jātamātrā nṛtyanti gāyanti ca hasanti ca

Ada perempuan yang melahirkan empat atau lima anak perempuan sekaligus; baru saja lahir, mereka menari, menyanyi, dan tertawa.


MB 6.3.8 pṛthagjanasya kuḍakāḥ stanapāḥ stenaveśmani, nṛtyanti parigāyanti vedayanto mahad bhayam

Anak-anak orang kebanyakan, masih menyusu, menari dan bernyanyi di rumah para pencuri, menyampaikan rasa takut yang besar.


MB 6.3.9 pratimāś cālikhanty anye saśastrāḥ kālacoditāḥ, anyonyam abhidhāvanti śiśavo daṇḍapāṇayaḥ, uparundhanti kṛtvā ca nagarāṇi yuyutsavaḥ

Sebagian orang melukis arca-arca bersenjata, didorong oleh waktu yang kejam; anak-anak berlarian saling menyerang dengan tongkat di tangan, mengepung kota-kota seperti hendak berperang.


MB 6.3.10 padmotpalāni vṛkṣeṣu jāyante kumudāni ca, viṣvagvātāś ca vānty ugrā rajo na vyupaśāmyati

Teratai dan bunga kumuda tumbuh di pepohonan, angin kencang berembus dari segala arah, dan debu tak juga mereda.


MB 6.3.11 abhīkṣṇaṃ kampate bhūmir arkaṃ rāhus tathāgrasat, śveto grahas tathā citrāṃ samatikramya tiṣṭhati

Vyāsa berkata:
Bumi bergetar tanpa henti, Rāhu menelan matahari; planet putih pun berdiri melampaui Citrā, tak pada tempat semestinya.


MB 6.3.12 abhāvaṃ hi viśeṣeṇa kurūṇāṃ pratipaśyati, dhūmaketur mahāghoraḥ puṣyam ākramya tiṣṭhati

Ia melihat dengan jelas kebinasaan Kuru, sebab komet berekor asap, amat mengerikan, menindih Puṣya
dan bertahan di sana.


MB 6.3.13 senayor aśivaṃ ghoraṃ kariṣyati mahāgrahaḥ, maghāsv aṅgārako vakraḥ śravaṇe ca bṛhaspatiḥ

Planet besar akan menimpakan malapetaka pada kedua pasukan; Aṅgāraka menyimpang di Maghā, dan Bṛhaspati terganggu di Śravaṇa.


MB 6.3.14 bhāgyaṃ nakṣatram ākramya sūryaputreṇa pīḍyate, śukraḥ proṣṭhapade pūrve samāruhya viśāṃ pate, uttare tu parikramya sahitaḥ pratyudīkṣate

Bintang keberuntungan tertekan oleh putra Matahari; Śukra naik di Proṣṭhapada Timur, wahai raja, lalu berputar di Proṣṭhapada Utara, menunggu dengan gerak tak wajar.


MB 6.3.15 śyāmo grahaḥ prajvalitaḥ sadhūmaḥ sahapāvakaḥ, aindraṃ tejasvi nakṣatraṃ jyeṣṭhām ākramya tiṣṭhati

Planet gelap menyala, berasap, disertai api, menekan nakṣatra Indra yang bercahaya—Jyeṣṭhā—dan menetap di sana.


MB 6.3.16 dhruvaḥ prajvalito ghoram apasavyaṃ pravartate, citrāsvātyantare caiva dhiṣṭhitaḥ paruṣo grahaḥ

Dhruva pun menyala dengan ngeri, bergerak menyimpang dari putaran wajar; di antara Citrā dan Svātī
planet kasar itu berdiam.


MB 6.3.16* rohiṇīṃ pīḍayaty evam ubhau ca śaśibhāskarau

Demikian pula Rohiṇī tertekan, dan kedua cahaya—Bulan dan Matahari—terganggu


MB 6.3.17 vakrānuvakraṃ kṛtvā ca śravaṇe pāvakaprabhaḥ, brahmarāśiṃ samāvṛtya lohitāṅgo vyavasthitaḥ

Dengan gerak berliku dan menyimpang di Śravaṇa, bercahaya seperti api, planet merah berdiam, mengepung rasi Brahma.


MB 6.3.18 sarvasasyapraticchannā pṛthivī phalamālinī, pañcaśīrṣā yavāś caiva śataśīrṣāś ca śālayaḥ

Bumi tertutup tanaman hingga penuh buah, namun jelai berkepala lima tumbuh, dan padi beratus kepala—pertanda tak wajar.


MB 6.3.19 pradhānāḥ sarvalokasya yāsv āyattam idaṃ jagat, tā gāvaḥ prasnutā vatsaiḥ śoṇitaṃ prakṣaranty uta

Sapi-sapi—penopang dunia, tempat kehidupan bergantung—mengalirkan darah dari ambingnya bersama anak-anaknya.


MB 6.3.20 niścerur apidhānebhyaḥ khaḍgāḥ prajvalitā bhṛśam, vyaktaṃ paśyanti śastrāṇi saṃgrāmaṃ samupasthitam

Pedang-pedang menyala keluar dari sarungnya, berkilat hebat; senjata-senjata seakan melihat dengan jelas bahwa perang telah dekat


MB 6.3.21 agnivarṇā yathā bhāsaḥ śastrāṇām udakasya ca, kavacānāṃ dhvajānāṃ ca bhaviṣyati mahān kṣayaḥ

Kilau senjata dan air tampak berwarna api; zirah dan panji-panji akan mengalami kehancuran besar.


MB 6.3.21* pṛthivī śoṇitāvartā dhvajoḍupasamākulā, kurūṇāṃ vaiśase rājan pāṇḍavaiḥ saha bhārata

Bumi berpusar oleh darah, penuh panji dan bintang, menuju pembantaian Kuru, wahai raja, bersama Pāṇḍava, wahai Bhārata.


MB 6.3.22 dikṣu prajvalitāsyāś ca vyāharanti mṛgadvijāḥ, atyāhitaṃ darśayanto vedayanti mahad bhayam

Di segala penjuru, binatang dan burung dengan wajah menyala berbicara ganjil, menunjukkan bahaya yang berlebihan dan menanamkan ketakutan besar.


MB 6.3.23 ekapakṣākṣicaraṇaḥ śakuniḥ khacaro niśi, raudraṃ vadati saṃrabdhaḥ śoṇitaṃ chardayan muhuḥ

Burung śakuni bermata, bersayap, dan berkaki satu terbang di malam hari, berkata garang dalam amarah, memuntahkan darah berulang ka


MB 6.3.24 grahau tāmrāruṇaśikhau prajvalantāv iva sthitau, saptarṣīṇām udārāṇāṃ samavacchādya vai prabhām

Dua planet berjambul tembaga-merah menyala seakan terbakar, menutupi cahaya para Saptaṛṣi yang luhur.


MB 6.3.25 saṃvatsarasthāyinau ca grahau prajvalitāv ubhau, viśākhayoḥ samīpasthau bṛhaspatiśanaiścarau

Kedua planet menyala itu bertahan selama setahun penuh, berdiri dekat Viśākhā—Bṛhaspati dan Śanaiścara.


MB 6.3.26 kṛttikāsu grahas tīvro nakṣatre prathame jvalan, vapūṃṣy apaharan bhāsā dhūmaketur iva sthitaḥ

Planet ganas menyala di Kṛttikā, nakṣatra pertama, merampas wujud dengan cahayanya, berdiri seperti komet berasap.


MB 6.3.26* viṣamaṃ vedayanty eta ākrandajananaṃ mahat

Semua ini menunjukkan ketidakteraturan, melahirkan jerit ratap yang besar.


MB 6.3.27 triṣu pūrveṣu sarveṣu nakṣatreṣu viśāṃ pate, budhaḥ saṃpatate 'bhīkṣṇaṃ janayan sumahad bhayam

Di tiga nakṣatra timur sekaligus, wahai raja, Budha jatuh berulang kali, menimbulkan ketakutan yang amat besar.


MB 6.3.28 caturdaśīṃ pañcadaśīṃ bhūtapūrvāṃ ca ṣoḍaśīm, imāṃ tu nābhijānāmi amāvāsyāṃ trayodaśīm

Hari keempat belas, kelima belas, dan keenam belas pernah terjadi sebelumnya; tetapi Amāvāsyā pada hari ketiga belas ini tak pernah kukenal.


MB 6.3.29 candrasūryāv ubhau grastāv ekamāse trayodaśīm, aparvaṇi grahāv etau prajāḥ saṃkṣapayiṣyataḥ

Bulan dan Matahari keduanya tertelan dalam satu bulan, pada hari ketiga belas; gerhana di luar waktu ini akan memusnahkan umat manusia.


MB 6.3.30 rajovṛtā diśaḥ sarvāḥ pāṃsuvarṣaiḥ samantataḥ, utpātameghā raudrāś ca rātrau varṣanti śoṇitam

Seluruh penjuru tertutup debu, hujan pasir turun dari segala arah; awan pertanda yang mengerikan menurunkan hujan darah di malam hari.


MB 6.3.31 māṃsavarṣaṃ punas tīvram āsīt kṛṣṇacaturdaśīm, ardharātre mahāghoram atṛpyaṃs tatra rākṣasāḥ

Vyāsa berkata:
Hujan daging kembali turun dengan dahsyat pada malam keempat belas bulan gelap; tengah malam itu amat mengerikan, para rākṣasa pun tak pernah kenyang olehnya.


MB 6.3.32 pratisroto 'vahan nadyaḥ saritaḥ śoṇitodakāḥ, phenāyamānāḥ kūpāś ca nardanti vṛṣabhā iva, patanty ulkāḥ sanirghātāḥ śuṣkāśanivimiśritāḥ

Sungai-sungai mengalir berlawanan arah, airnya bercampur darah; sumur-sumur berbuih dan meraung seperti banteng mengamuk. Meteor-meteor berjatuhan dengan dentuman, disertai petir kering yang memecah langit.


MB 6.3.33 adya caiva niśāṃ vyuṣṭām udaye bhānur āhataḥ, jvalantībhir maholkābhiś caturbhiḥ sarvatodiśam

Pagi hari baru saja merekah, namun matahari telah terluka, dihantam empat meteor raksasa yang menyala dari segala penjuru.


MB 6.3.34 ādityam upatiṣṭhadbhis tatra coktaṃ maharṣibhiḥ, bhūmipālasahasrāṇāṃ bhūmiḥ pāsyati śoṇitam

Para resi yang berdiri menghadap matahari berkata:
“Bumi akan meminum darah ribuan raja dan penguasa.”


MB 6.3.35 kailāsamandarābhyāṃ tu tathā himavato gireḥ, sahasraśo mahāśabdaṃ śikharāṇi patanti ca

Dari Kailāsa dan Mandara, juga dari pegunungan Himālaya, puncak-puncak gunung runtuh dengan suara menggelegar, ribuan jumlahnya.


MB 6.3.36 mahābhūtā bhūmikampe caturaḥ sāgarān pṛthak, velām udvartayanti sma kṣobhayantaḥ punaḥ punaḥ

Keempat samudra bergolak hebat oleh gempa bumi yang dahsyat, ombak-ombak melampaui batas pantainya, terus-menerus mengamuk.


MB 6.3.37 vṛkṣān unmathya vānty ugrā vātāḥ śarkarakarṣiṇaḥ, patanti caityavṛkṣāś ca grāmeṣu nagareṣu ca

Angin kencang berembus liar, mencabut pepohonan dan menyeret batu; pohon-pohon suci pun tumbang di desa-desa dan kota-kota.


MB 6.3.37* ābhagnāḥ sumahāvātair aśanībhiḥ samāhatāḥ

Semua itu patah dan hancur oleh angin besar dan sambaran petir.


MB 6.3.38 pītalohitanīlaś ca jvalaty agnir huto dvijaiḥ, vāmārciḥ śāvagandhī ca dhūmaprāyaḥ kharasvanaḥ, sparśā gandhā rasāś caiva viparītā mahīpate

Api persembahan berubah warna—kuning, merah, dan biru—nyalanya condong ke kiri, berbau bangkai,
berasap tebal dan bersuara kasar. Sentuhan, bau, dan rasa pun terbalik, wahai raja.


MB 6.3.39 dhūmāyante dhvajā rājñāṃ kampamānā muhur muhuḥ, muñcanty aṅgāravarṣāṇi bheryo 'tha paṭahās tathā

Panji-panji para raja berasap dan berguncang terus-menerus; genderang dan tambur memuntahkan hujan bara api.


MB 6.3.40 prāsādaśikharāgreṣu puradvāreṣu caiva hi, gṛdhrāḥ paripatanty ugrā vāmaṃ maṇḍalam āśritāḥ

Di puncak istana dan di gerbang kota, burung-burung bangkai beterbangan ganas, mengitari arah kiri yang membawa alamat celaka.


MB 6.3.41 pakvāpakveti subhṛśaṃ vāvāśyante vayāṃsi ca, nilīyante dhvajāgreṣu kṣayāya pṛthivīkṣitām

Burung-burung menjerit keras, seolah berseru “masak—busuk”; mereka hinggap di pucuk panji-panji, alamat kehancuran para raja di bumi.


MB 6.3.42 dhyāyantaḥ prakirantaś ca vālān vepathusaṃyutāḥ, rudanti dīnās turagā mātaṅgāś ca sahasraśaḥ

Kuda-kuda gemetar, mengibaskan ekornya dengan ketakutan, menangis pilu; gajah-gajah pun meraung ribuan jumlahnya.


MB 6.3.42* gṛhakṣa[?kṣe]trakhalādyeṣu valmīkā madhukāni ca, hastyaśvarathaśālās tu [?su] kapotāś cāśritās tathā, ete cānye ca bahava utpātā ghoradarśanāḥ, pṛthivīpālalokānāṃ sarve vai nāśakārakāḥ, evaṃvidhaṃ durnimittaṃ kṣayāya pṛthivīkṣitām, bhaumaṃ divyaṃ cāntarikṣaṃ trividhaṃ jāyate 'niśam

Di rumah-rumah, ladang, dan halaman, gundukan rayap dan sarang lebah bermunculan; kandang gajah,  kuda, dan kereta dipenuhi burung merpati. Ini dan banyak pertanda lain yang mengerikan menjadi alamat kebinasaan para penguasa bumi. Pertanda buruk itu muncul tanpa henti—dari bumi, langit, dan angkasa, tiga lapis sekaligus.


MB 6.3.43 etac chrutvā bhavān atra prāptakālaṃ vyavasyatām, yathā lokaḥ samucchedaṃ nāyaṃ gaccheta bhārata

Mendengar semua ini, hendaklah engkau mengambil keputusan pada waktunya, agar dunia tidak melaju menuju kehancuran total, wahai Bhārata.


MB 6.3.44 vaiśaṃpāyana uvāca: pitur vaco niśamyaitad dhṛtarāṣṭro 'bravīd idam, diṣṭam etat purā manye bhaviṣyati na saṃśayaḥ

Vaiśaṃpāyana berkata:
Mendengar kata-kata ayahnya itu, 
Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Aku tahu, semua ini telah ditetapkan sejak dahulu; tanpa ragu, semua ini akan terjadi.”

MB 6.3.45 kṣatriyāḥ kṣatradharmeṇa vadhyante yadi saṃyuge, vīralokaṃ samāsādya sukhaṃ prāpsyanti kevalam

Jika para kesatria gugur sesuai dharma kesatria di medan perang, mereka akan mencapai alam para pahlawan dan menikmati kebahagiaan sejati.


MB 6.3.46 iha kīrtiṃ pare loke dīrghakālaṃ mahat sukham, prāpsyanti puruṣavyāghrāḥ prāṇāṃs tyaktvā mahāhave

Di dunia ini mereka meraih kemasyhuran, di dunia sana kebahagiaan besar dan panjang; para harimau manusia itu, setelah mengorbankan nyawa di pertempuran dahsyat, akan memperoleh keduanya.

Bhisma Parwa 2

Mahabharata 6.2

Bhisma Parwa 2

Pada suatu senja, ketika cahaya timur dan barat saling menyentuh, Vyāsa—resi tua yang tahu rahasia waktu—berdiam sejenak. Ia memandang dunia bukan dengan mata biasa, melainkan dengan penglihatan yang menembus masa lalu dan masa depan. Putra Satyavatī itu, penguasa segala Veda, melihat apa yang akan terjadi, dan hatinya menjadi berat. Ia tahu: perang besar akan datang, dan di dalamnya Bhīṣma, kakek para Bhārata, akan rebah. Takdir telah menulisnya dengan tinta yang tak bisa dihapus.

Rahasia itu ia sampaikan kepada raja yang sedang larut dalam kesedihan, seorang ayah yang memikirkan nasib putra-putranya. Vyāsa berbicara lembut namun tegas, seperti orang tua yang tahu bahwa kebenaran pahit tak bisa terus disembunyikan. Ia berkata bahwa waktu setiap orang telah tiba—para pangeran, para raja, semuanya. Mereka akan saling bertemu di medan perang, dan di sanalah riwayat mereka berakhir. Bukan karena kebencian semata, melainkan karena roda waktu memang sudah sampai pada putarannya.

“Jangan tenggelam dalam duka,” kata Vyāsa, seolah menenangkan anak kecil yang ketakutan. “Ketahuilah bahwa inilah jalan waktu. Tak ada yang bisa menghentikannya.” Lalu ia menawarkan sesuatu yang ganjil: bila sang raja ingin melihat perang itu, ia akan diberi penglihatan. Namun Dhṛtarāṣṭra menggeleng. Hatinya tak sanggup melihat darah keluarganya sendiri tertumpah. Ia hanya ingin mendengar—mendengar segalanya, tanpa harus menyaksikannya.

Maka Vyāsa pun memberi anugerah lain. Ia menunjuk Sañjaya, kusir setia yang kelak menjadi mata dan telinga sang raja. Sañjaya akan melihat segalanya dengan mata ilahi: terang maupun rahasia, siang atau malam, bahkan bisikan yang hanya terlintas di hati para prajurit. Tak satu senjata pun akan melukainya, tak satu kelelahan pun akan menekannya. Ia akan kembali hidup dari perang yang menelan begitu banyak nyawa.

Setelah itu, Vyāsa menegaskan sesuatu yang lebih dalam lagi: semua ini telah ditetapkan sejak dahulu. Tak ada gunanya meratap berlebihan. Di mana dharma berdiri, di sanalah kemenangan akhirnya berlabuh—meski jalannya penuh air mata.

Namun kisah itu belum selesai. Sang resi kembali berbicara, dan kali ini suaranya seperti angin dingin sebelum badai. Ia berkata bahwa kehancuran besar akan datang, dan alam sendiri telah memberi tanda. Burung-burung pemakan bangkai berkumpul di hutan. Para brahmana melihat mimpi-mimpi yang mengerikan. Daging gajah dan kuda akan menjadi santapan makhluk liar. Suara-suara ganjil menggema di malam hari, dan kawanan burung bergerak ke selatan, seolah mengikuti bayang kematian.

Setiap fajar dan senja, matahari tampak aneh—seakan dikelilingi tubuh-tubuh tanpa kepala. Udara penuh debu, pertanda buruk bertebaran. Awan berwarna ganjil menutup cahaya, siang dan malam kehilangan batas, dan bulan purnama pun pucat seperti api yang hampir padam. Para pahlawan, raja dan putra raja, akan terbaring di bumi, tidur panjang tanpa mimpi.

Di langit terdengar raungan makhluk-makhluk gaib yang saling bertempur. Arca-arca dewa bergetar, tertawa, memuntahkan darah, lalu roboh. Genderang bergemuruh tanpa dipukul, kereta-kereta bergerak sendiri, dan burung-burung mengeluarkan suara yang membuat bulu kuduk meremang. Belalang berhamburan seperti pasukan bersenjata di bawah cahaya fajar merah. Bahkan hujan pun berubah menjadi hujan darah dan tulang.

Bintang-bintang di langit tak lagi setia pada tempatnya. Arundhatī meninggalkan Vasiṣṭha. Planet-planet saling menekan. Guruh menggelegar tanpa awan, dan kendaraan-kendaraan seakan menangis, menjatuhkan air mata.

Begitulah, cucuku, tanda-tanda itu bermunculan satu per satu, bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan: ketika dunia besar hendak berubah, alam pun ikut berbicara. Dan manusia—sekaya apa pun, setinggi apa pun—tetap harus berjalan di jalan takdirnya.


Bhisma Parva 2

MB 6.2.1 vaiśaṃpāyana uvāca: tataḥ pūrvāpare saṃdhye samīkṣya bhagavān ṛṣiḥ, sarvavedavidāṃ śreṣṭho vyāsaḥ satyavatīsutaḥ

Vaiśaṃpāyana berkata:
Pada peralihan senja timur dan barat, sang resi mulia memandang dengan penglihatan batin—Vyāsa, putra Satyavatī, yang utama di antara para penguasa seluruh Veda.


MB 6.2.2 bhaviṣyati raṇe ghore bharatānāṃ pitāmahaḥ, pratyakṣadarśī bhagavān bhūtabhavyabhaviṣyavit

Ia melihat jelas apa yang akan terjadi: dalam perang yang mengerikan, Bhīṣma, kakek para Bhārata, akan gugur—sebab sang Bhagavān melihat masa lalu, kini, dan yang akan datang.


MB 6.2.3 vaicitravīryaṃ rājānaṃ sa rahasyaṃ bravīd idam, śocantam ārtaṃ dhyāyantaṃ putrāṇām anayaṃ tadā

Kepada raja Vicitravīrya ia menyampaikan rahasia ini, saat sang raja diliputi duka, merenungi nasib buruk putra-putranya.


MB 6.2.4 vyāsa uvāca: rājan parītakālās te putrāś cānye ca bhūmipāḥ, te haniṣyanti saṃgrāme samāsādyetaretaram

Vyāsa berkata:
“Wahai raja, waktumu dan waktu putra-putramu telah tiba, demikian pula raja-raja lain; mereka akan saling membinasakan di medan perang.”


MB 6.2.5 teṣu kālaparīteṣu vinaśyatsu ca bhārata, kālaparyāyam ājñāya mā sma śoke manaḥ kṛthāḥ

“Ketika mereka telah disentuh oleh waktu dan menuju kehancuran, ketahuilah putaran takdir itu, wahai Bhārata, dan jangan biarkan hatimu tenggelam dalam duka.”


MB 6.2.6 yadi tv icchasi saṃgrāme draṣṭum enaṃ viśāṃ pate, cakṣur dadāni te hanta yuddham etan niśāmaya

“Namun bila engkau ingin melihat perang itu, wahai penguasa rakyat, akan kuberi engkau penglihatan; lihatlah sendiri pertempuran ini.”


MB 6.2.7 dhṛtarāṣṭra uvāca: na rocaye jñātivadhaṃ draṣṭuṃ brahmarṣisattama, yuddham etat tv aśeṣeṇa śṛṇuyāṃ tava tejasā

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Aku tak sanggup menyaksikan pembunuhan sanak keluarga, wahai resi agung di antara Brahmana; tetapi seluruh perang ini ingin kudengar darimu.”


MB 6.2.8 vaiśaṃpāyana uvāca: tasminn anicchati draṣṭuṃ saṃgrāmaṃ śrotum icchati, varāṇām īśvaro dātā saṃjayāya varaṃ dadau

Vaiśaṃpāyana berkata:
Karena ia tak ingin melihat namun ingin mendengar, sang pemberi anugerah mengaruniakan karunia kepada Sañjaya.


MB 6.2.9 vyāsa uvāca: eṣa te saṃjayo rājan yuddham etad vadiṣyati, etasya sarvaṃ saṃgrāme naparokṣaṃ bhaviṣyati

Vyāsa berkata:
“Wahai raja, Sañjaya inilah yang akan menceritakan perang itu kepadamu; baginya, tak ada satu pun di medan laga yang tersembunyi.”


MB 6.2.10 cakṣuṣā saṃjayo rājan divyenaiṣa samanvitaḥ, kathayiṣyati te yuddhaṃ sarvajñaś ca bhaviṣyati

“Dengan mata ilahi, Sañjaya akan melihat segalanya dan menuturkan perang itu kepadamu; ia akan mengetahui semuanya.”


MB 6.2.11 prakāśaṃ vā rahasyaṃ vā rātrau vā yadi vā divā, manasā cintitam api sarvaṃ vetsyati saṃjayaḥ

“Terang atau rahasia, malam atau siang, bahkan yang hanya terlintas di pikiran, semuanya akan diketahui Sañjaya.”


MB 6.2.12 nainaṃ śastrāṇi bhetsyanti nainaṃ bādhiṣyate śramaḥ, gāvalgaṇir ayaṃ jīvan yuddhād asmād vimokṣyate

“Tak satu pun senjata akan melukainya, tak pula keletihan menyentuhnya; Gāvalgaṇi ini akan selamat dari perang besar ini.”


MB 6.2.13 ahaṃ ca kīrtim eteṣāṃ kurūṇāṃ bharatarṣabha, pāṇḍavānāṃ ca sarveṣāṃ prathayiṣyāmi mā śucaḥ

“Aku pun akan menyebarkan kemasyhuran para Kuru dan seluruh Pāṇḍava; janganlah engkau berduka.”


MB 6.2.14 diṣṭam etat purā caiva nātra śocitum arhasi, na caiva śakyaṃ saṃyantuṃ yato dharmas tato jayaḥ

“Semua ini telah ditetapkan sejak dahulu; tak patut engkau meratapinya. Tak mungkin ditahan apa yang telah berjalan—di mana ada dharma, di sanalah kemenangan.”


MB 6.2.15 vaiśaṃpāyana uvāca: evam uktvā sa bhagavān kurūṇāṃ prapitāmahaḥ, punar eva mahābāhuṃ dhṛtarāṣṭram uvāca ha

Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, leluhur agung para Kuru kembali berbicara kepada Dhṛtarāṣṭra yang berlengan perkasa.


MB 6.2.16 iha yuddhe mahārāja bhaviṣyati mahān kṣayaḥ, yathemāni nimittāni bhayāyādyopalakṣaye

“Dalam perang ini, wahai raja, akan terjadi kehancuran besar; tanda-tanda ini tampak jelas sebagai alamat bencana.”


MB 6.2.17 śyenā gṛdhrāś ca kākāś ca kaṅkāś ca sahitā balaiḥ, saṃpatanti vanānteṣu samavāyāṃś ca kurvate

Elang, bangkai pemakan daging, gagak, dan burung kaṅka datang berkelompok, berkumpul di hutan-hutan.


MB 6.2.18 atyugraṃ ca prapaśyanti yuddham ānandino dvijāḥ, kravyādā bhakṣayiṣyanti māṃsāni gajavājinām

Para dvija melihat perang yang amat dahsyat, sementara para pemakan bangkai akan melahap daging gajah dan kuda.


MB 6.2.19 khaṭākhaṭeti vāśanto bhairavaṃ bhayavedinaḥ, kahvāḥ prayānti madhyena dakṣiṇām abhito diśam

Dengan suara mengerikan mereka berteriak “khaṭākhaṭa,” dan kawanan kahvā bergerak menuju arah selatan.


MB 6.2.20 ubhe pūrvāpare saṃdhye nityaṃ paśyāmi bhārata, udayāstamane sūryaṃ kabandhaiḥ parivāritam

Pada tiap senja dan fajar, wahai Bhārata, kulihat matahari terbit dan terbenam dikelilingi sosok-sosok tanpa kepala.


MB 6.2.20* . . . . . . . . rajoyukte ca bhārata, durnimittāni sarvāṇi . . . . . . . .

Dalam udara penuh debu itu, wahai Bhārata, segala pertanda buruk tampak nyata.


MB 6.2.21 śvetalohitaparyantāḥ kṛṣṇagrīvāḥ savidyutaḥ, trivarṇāḥ parighāḥ saṃdhau bhānum āvārayanty uta

Awan bertepi putih dan merah, berleher hitam, berkilat oleh petir, berwarna tiga, menghalangi matahari di kala senja.


MB 6.2.22 jvalitārkendunakṣatraṃ nirviśeṣadinakṣapam, ahorātraṃ mayā dṛṣṭaṃ tatkṣayāya bhaviṣyati

Kulihat siang dan malam tanpa beda, matahari, bulan, dan bintang seolah menyala bersamaan—tanda kehancuran yang mendekat.


MB 6.2.23 alakṣyaḥ prabhayā hīnaḥ paurṇamāsīṃ ca kārttikīm, candro 'bhūd agnivarṇaś ca samavarṇe nabhastale

Bulan purnama Kārttika tampak pucat tanpa cahaya, berwarna seperti api, tak berbeda dengan langit di sekitarnya.


MB 6.2.24 svapsyanti nihatā vīrā bhūmim āvṛtya pārthivāḥ, rājāno rājaputrāś ca śūrāḥ parighabāhavaḥ

Para pahlawan akan tidur terbujur di bumi, raja-raja dan putra raja, para kesatria bertangan gada.


MB 6.2.25 antarikṣe varāhasya vṛṣadaṃśasya cobhayoḥ, praṇādaṃ yudhyato rātrau raudraṃ nityaṃ pralakṣaye

Di angkasa, raungan Varāha dan Vṛṣadaṃśa yang bertempur terdengar ngeri setiap malam.


MB 6.2.26 devatāpratimāś cāpi kampanti ca hasanti ca, vamanti rudhiraṃ cāsyaiḥ svidyanti prapatanti ca

Arca para dewa bergetar dan tertawa, memuntahkan darah, berkeringat, lalu jatuh ke tanah.


MB 6.2.27 anāhatā dundubhayaḥ praṇadanti viśāṃ pate, ayuktāś ca pravartante kṣatriyāṇāṃ mahārathāḥ

Genderang yang tak dipukul bergemuruh sendiri, wahai raja; kereta-kereta perang para kesatria bergerak tanpa kendali.


MB 6.2.28 kokilāḥ śatapatrāś ca cāṣā bhāsāḥ śukās tathā, sārasāś ca mayūrāś ca vāco muñcanti dāruṇāḥ

Burung kukila, śatapatra, cāṣa, gagak, betet, bangau dan merak mengeluarkan suara-suara mengerikan.


MB 6.2.29 gṛhītaśastrābharaṇā varmiṇo vājipṛṣṭhagāḥ, aruṇodayeṣu dṛśyante śataśaḥ śalabhavrajāḥ

Gerombolan belalang tampak berhamburan, seperti prajurit bersenjata dan berzirah di punggung kuda, muncul ratusan pada cahaya fajar merah.


MB 6.2.30 ubhe saṃdhye prakāśete diśāṃ dāhasamanvite, āsīd rudhiravarṣaṃ ca asthivarṣaṃ ca bhārata

Pada dua waktu senja, segala penjuru tampak menyala seperti terbakar; turun hujan darah dan hujan tulang, wahai Bhārata.


MB 6.2.31 yā caiṣā viśrutā rājaṃs trailokye sādhusaṃmatā, arundhatī tayāpy eṣa vasiṣṭhaḥ pṛṣṭhataḥ kṛtaḥ

Bintang Arundhatī yang termasyhur, dihormati di tiga dunia, tampak meninggalkan Vasiṣṭha di belakangnya—alamat yang ganjil.


MB 6.2.32 rohiṇīṃ pīḍayann eṣa sthito rājañ śanaiścaraḥ, vyāvṛttaṃ lakṣma somasya bhaviṣyati mahad bhayam

Śanaiścara menekan Rohiṇī, wahai raja; tanda-tanda Soma pun terbalik—ketakutan besar akan terjadi.


MB 6.2.33 anabhre ca mahāghoraṃ stanitaṃ śrūyate 'niśam, vāhanānāṃ ca rudatāṃ prapatanty aśrubindavaḥ

Bahkan tanpa awan, guruh mengerikan terus terdengar; kendaraan-kendaraan seolah menangis, menjatuhkan butir-butir air mata.