Google+

Buku Punggung Tiwas Ratuning Usadha

PUNGGUNG TIWAS

Buku Punggung Tiwas Ratuning Usadha

Karya IWB. Mahendra

Cetakan Pertama, Oktober 2025 

Punggung Tiwas: Ratuning Usadha adalah buku yang mengulas secara mendalam salah satu ajaran usadha Bali yang paling jarang dibahas secara terbuka. Ajaran ini dikenal sebagai Ratuning Usadha — “rajanya pengobatan” — karena menekankan penyembuhan yang bersumber pada kesadaran, bukan pada banyaknya sarana lahiriah.

Berbeda dari buku pengobatan tradisional pada umumnya, karya ini tidak hanya membahas ramuan atau teknik ritual, tetapi memetakan fondasi filosofis dan spiritual dari penyembuhan dalam tradisi Bali. Di dalamnya, pembaca diajak memahami bahwa tubuh bukan sekadar raga biologis, melainkan medan kesadaran tempat bayu (energi hidup), idep (fokus batin), dan sabda (getaran suci) bekerja sebagai satu kesatuan.



Apa Isi Buku Punggung Tiwas Ini?

Buku setebal ±448 halaman ini disusun secara sistematis dan bertahap, meliputi:

1. Fondasi Filsafat dan Spiritualitas

  • Kesehatan sebagai Dharma dan jalan menuju Mokṣa
  • Filsafat Puruṣa: dari kosmis ke tubuh manusia
  • Śiva sebagai Deva Vaidya (Prinsip Ilahi Penyembuh)
  • Peran balian dalam perspektif Ayurveda

2. Struktur Kesadaran dan Energi

  • Dasa Śīla (fondasi etika spiritual)
  • Dasa Bayu dan Dasa Aksara
  • Pañca Brahma dan Pañca Gni
  • Tri Nāḍī sebagai kerangka membaca tubuh
  • Kanda Pat, Kawitan, dan struktur mistis manusia Bali

3. Hakikat Penyakit dan Penyembuhan

  • Penyakit sebagai dinamika kesadaran
  • Medis sebagai fondasi kesadaran
  • Penyembuhan sebagai penyelarasan batin dan energi

4. Alih Aksara Lontar Punggung Tiwas

Bagian inti buku ini menghadirkan alih aksara ajaran lontar Punggung Tiwas secara langsung dan apa adanya, disertai pengantar reflektif agar pembaca memahami konteksnya dengan bijak dan bertanggung jawab.

5. Lampiran: Tri Nāḍī Resonance

Sebagai jembatan antara tradisi dan kehidupan modern, penulis menyusun pendekatan kontemporer yang membantu pembaca menata napas, rasa, dan pusat kesadaran sebelum memasuki ajaran yang lebih mendalam. Bagian ini disusun secara bertahap, lengkap dengan level latihan dan kerangka etika.


Keunggulan Buku Punggung Tiwas Ini

  • Disusun dengan pendekatan reflektif dan hermeneutik
  • Memisahkan dengan jelas antara ajaran tradisional dan pengembangan modern
  • Tidak mengklaim sebagai manual kesaktian atau pengganti medis
  • Memberikan kerangka pemahaman yang utuh: filsafat, etika, energi, dan praktik batin

Buku ini cocok bagi:

  • Praktisi usadha dan balian yang ingin memperdalam fondasi ajaran
  • Peneliti dan akademisi yang tertarik pada filsafat penyembuhan Bali
  • Pemerhati spiritualitas dan kesadaran
  • Kepala keluarga yang ingin memahami peran spiritualnya dalam menjaga harmoni rumah tangga



Pesan Inti Buku Punggung Tiwas 

Punggung Tiwas bukan sekadar teknik penyembuhan. Ia adalah jalan kesadaran. Ia menuntun pembaca untuk memahami bahwa menjaga tubuh adalah menjaga ladang Dharma, dan menata kesadaran adalah membuka jalan pembebasan.

Buku ini bukan untuk dibaca tergesa-gesa. Ia adalah undangan untuk merenung, menata batin, dan menjalani laku dengan tanggung jawab.


Jika Anda mencari buku yang tidak hanya berbicara tentang pengobatan, tetapi tentang kesadaran sebagai inti kehidupan dan penyembuhan, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha adalah karya yang layak dimiliki dan dipelajari secara mendalam.

Punggung Tiwas: Ratuning Usadha bukan sekadar buku untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan dan dijalani. Ia menghadirkan warisan usadha Bali dalam kerangka yang sistematis, jernih, dan bertanggung jawab—menghubungkan filsafat, etika, energi, dan kesadaran dalam satu kesatuan pemahaman.

Bagi Anda yang ingin memperdalam ajaran ini, menjadikannya bahan kajian akademik, atau menjadikannya pegangan laku spiritual dalam kehidupan sehari-hari, buku ini adalah investasi pengetahuan yang bernilai.

📘 Pemesanan Buku Punggung Tiwas

Silakan hubungi kontak WhatsApp di 081-299-969-973

Segera miliki dan jadikan Punggung Tiwas sebagai bagian dari perjalanan kesadaran Anda.

Isi Buku Punggung Tiwas

Isi Buku Punggung Tiwas

Ratuning Usadha


Penulis: IWB. Mahendra

Cetakan pertama: Oktober 2025

Tebal: ± 448 halaman

Ini bukan buku biasa. Ia adalah kombinasi: filologi, hermeneutika, filsafat kesadaran, usadha Bali, dan pengembangan energi kontemporer.

Buku Punggung Tiwas

Berikut uraikan secara lengkap dan terstruktur.


1. Identitas dan Tujuan Buku Punggung Tiwas

Buku ini berusaha memetakan ajaran usadha Bali yang disebut Punggung Tiwas, yang dipahami sebagai:

  • Jalan pengobatan minimalis (punggung = minimal, tiwas = miskin)
  • Mengandalkan bayu, idep, dan sabda
  • Bukan bertumpu pada ramuan atau sarana lahiriah 

Penulis menegaskan bahwa ini bukan kebenaran mutlak, tetapi tafsir reflektif terhadap lontar dan tradisi. Buku ini tidak mengklaim otoritas balian tradisional.


2. Metodologi Penulisan Buku Punggung Tiwas

Pendekatan buku ini adalah:

  • Reflektif dan hermeneutik
  • Menggabungkan:
    • Pembacaan lontar
    • Perbandingan tradisi
    • Filsafat
    • Pengalaman praktik energi modern 

Penulis secara eksplisit menyatakan:

  • Bukan karya filologi murni
  • Bukan manual pengobatan
  • Bukan pengganti medis modern 

Alih aksara bersifat tentatif dan terbuka untuk koreksi.

Ini penting: secara akademik, ia sadar batas epistemologisnya.


3. Struktur Besar Buku Punggung Tiwas

Berdasarkan daftar isi lengkap, buku terbagi menjadi beberapa bagian utama:

A. Bagian Pendahuluan (Fondasi Teoretis)

  • Pendahuluan
  • Catatan Metodologis
  • Cara Membaca Buku
  • Glosarium Istilah
  • Ruang Lingkup dan Batasan

Penekanan di sini: pembaca harus membedakan antara:

  • Teks tradisi
  • Tafsir penulis
  • Pengembangan kontemporer

B. Bagian I – Gerbang Spiritual Punggung Tiwas

Ini inti filosofis.

Sub-bagiannya meliputi:

  • Kesehatan sebagai Dharma dan Jalan Mokṣa
  • Filsafat Puruṣa
  • Śiva sebagai Deva Vaidya
  • Balian dalam Ayurveda
  • Dasa Śīla
  • Dasa Bayu
  • Dasa Aksara
  • Pañca Brahma
  • Tri Nāḍī
  • Pañca Gni
  • Kanda Pat
  • Kawitan
  • Rajah
  • Hakikat Penyakit
  • Medis sebagai Fondasi Kesadaran 

Secara konseptual, ini adalah ontologi dan kosmologi penyembuhan.

C. Bagian II – Alih Aksara Lontar Punggung Tiwas

Isinya:

  • Suksmāning Punggung Tiwas
  • Usadha Punggung Tiwas
  • Kaputusan Punggung Tiwas
  • Pengringkesan Dasa Aksara

Sebelum memasuki bagian ini, ada peringatan keras kepada pembaca:

  • Jangan membaca dengan ambisi
  • Jangan membaca dengan hasrat kuasa
  • Teks tidak “diaktifkan” oleh ego 

Ini menarik secara fenomenologis: teks diposisikan sebagai cermin kesadaran, bukan instruksi teknis.

D. Lampiran – Tri Nāḍī Resonance (TNR)

Ini adalah pengembangan kontemporer penulis.

Penegasan penting:

  • Bukan pengganti medis
  • Bukan bagian dari lontar asli
  • Bukan jalur pewarisan balian 

TNR diposisikan sebagai:

  • Jalan tengah antara tradisi dan zaman 
  • Perangkat penataan napas, rasa, dan pusat kesadaran
  • Tahap persiapan sebelum masuk ajaran berat

TNR memiliki 4 level:

  • Core Resonance
  • Laku penyelarasan dan penyembuhan
  • Integritas medan dan proteksi
  • Usadha dan panggilan diri 

Secara struktur, ini semacam sistem energi modern berbasis nāḍī dan cakra.


4. Konsep Inti Buku Punggung Tiwas

Ada beberapa poros konseptual utama:

  • Punggung Tiwas = Ratuning Usadha, Pengobatan berbasis kesadaran, bukan material; 
  • Penyembuhan = Penyelarasan Kesadaran, Bukan sekadar hilangnya gejala; 
  • Tubuh = Medan Kesadaran, Tri Nāḍī menjadi kerangka membaca tubuh; 
  • Struktur Ontologis:
    • Puruṣa,
    • Śiva,
    • Dasa Aksara,
    • Bayu,
    • Nāḍī,
    • Kanda Pat.

Buku ini membangun metafisika penyembuhan.


5. Posisi Akademik Buku Punggung Tiwas

Secara ilmiah:

✔ Bukan karya sejarah murni
✔ Bukan teks kritis filologi klasik
✔ Bukan manual terapi

Ia adalah:

  • Tafsir reflektif
  • Rekonstruksi makna
  • Dialog tradisi dan modernitas
  • Eksperimen epistemologis

Ia sadar bahwa modernitas kehilangan “budaya rasa”, sehingga TNR diciptakan sebagai jembatan.


6. Kekuatan Buku Punggung Tiwas

  • Struktur jelas dan sistematis
  • Metodologi dinyatakan secara jujur
  • Tidak mengklaim otoritas tradisional
  • Memisahkan tradisi dan inovasi

Punggung Tiwas bukan sekadar buku tentang pengobatan. Ia adalah undangan untuk kembali memahami tubuh sebagai medan kesadaran, penyembuhan sebagai laku batin, dan kehidupan sebagai jalan Dharma. Buku ini tidak menjanjikan kesaktian instan, melainkan menawarkan pemahaman yang jernih, mendalam, dan bertanggung jawab terhadap warisan spiritual Bali.

Jika Anda ingin memiliki dan mempelajari Punggung Tiwas: Ratuning Usadha, silakan lakukan pemesanan melalui kontak WA 081299969973.

📘 Pemesanan Buku Punggung Tiwas Ratuning Usadha

Silakan hubungi Kontak WhatsApp di 081-299-969-973

Segera miliki dan jadikan Punggung Tiwas sebagai bagian dari perjalanan kesadaran Anda.

Yayur Veda 1

Veda Sruti

Yayurveda 1

Bagian awal Yajurveda ini bukan kumpulan doa lepas, melainkan manual kosmologis untuk menata dunia lewat yajña. Segalanya dimulai dari hal paling konkret: makanan, daya hidup, ternak, hujan, biji-bijian. Namun sejak baris pertama sudah jelas: yang ditata bukan hanya dapur dan ladang, melainkan arus kehidupan semesta. Makanan (iṣ, ūrj) dipahami sebagai energi kosmik yang mengalir dari Savitṛ, Indra, Agni, Soma, Viṣṇu, hingga manusia sebagai yajamāna. Yajña di sini adalah mesin penghubung antara tubuh, alam, dan para dewa.

Lalu muncul tema penyucian dan peneguhan. Air, api, angin, cahaya matahari, batu, kayu, dan mantra berulang kali “dibersihkan”, “ditegakkan”, dan “diposisikan”. Ini bukan obsesif ritualistik, melainkan cara Veda memastikan bahwa setiap unsur berada di tempat kosmiknya yang tepat. Kotor bukan berarti “berdosa”, melainkan “salah posisi”. Karena itu Savitṛ, Aśvin, Pūṣan, dan Agni terus dipanggil sebagai penata ritme dan arah.

Di lapisan berikutnya, teks ini berbicara terang tentang perlindungan dan konflik. Rakṣas, arāti, sapātna—semua yang mengganggu keteraturan—harus dipukul mundur, diikat, dibakar, dipisahkan oleh angin. Ini bukan kebencian personal, melainkan logika pertahanan kosmos: apa pun yang merusak yajña, kehidupan, dan keberlanjutan harus disingkirkan. Di sinilah daya brahman dan kṣatra dipasang berdampingan—pengetahuan dan kekuatan bukan lawan, tapi dua pilar satu tatanan.

Menjelang tengah hingga akhir, fokus menguat pada pematangan dan kesinambungan: hujan turun tepat, tanaman tumbuh, ternak terlindungi, keturunan tidak goyah, umur dibentangkan panjang. Yajña dipahami sebagai proses memasak kosmos—gharma, panas suci—hingga segala sesuatu “matang” pada waktunya. Bahkan metrum (Gāyatrī, Triṣṭubh, Jagatī) ikut dirangkul, menandakan bahwa ritme bahasa adalah ritme realitas.


Yayur Weda 1

Yajurveda bagian ini adalah cetak biru dunia yang berfungsi. Ia mengajarkan bahwa hidup selamat, makmur, dan kuat bukan hasil doa kosong, tetapi hasil penataan presisi: unsur alam, kekuatan ilahi, laku manusia, dan keberanian menghadapi gangguan—semuanya diselaraskan lewat yajña. Ini kitab tentang bagaimana dunia bekerja, bukan sekadar bagaimana manusia berharap.

iṣe tvorje tvā vāyavastha devo vaḥ savitā prārpayatu śreṣṭhatamāya karmaṇa āpyāyadhvaṃ maghnyā indrāya bhāgaṃ prajāvatīr anamīvā ayakṣmā mā va stena īśata māghaśaṃso dhruvā asmin gopatau syāt bahvīr yajamānasya paśūn pāhi ||YV 1.1||

Untuk makanan dan daya hidup aku mempersembahkanmu. Semoga Savitṛ mendorong kalian pada karya terbaik. Bertumbuhlah, wahai yang memberi kemakmuran; berilah bagian bagi Indra. Jadilah subur, bebas penyakit dan malapetaka. Jangan biarkan pencuri menguasai. Semoga kesejahteraan teguh pada pelindung ternak ini; lindungilah banyak ternak milik yajamāna.


vasoḥ pavitram asi dyaur asi pṛthivī asi mātariśvano gharmo ’si viśvadhā asi | parameṇa dhāmnā dṛṃhasva mā hvār mā te yajñapatir hvārṣīt ||YV 1.2||

Engkau adalah penyuci kekayaan; engkau langit dan bumi; panas kosmik Mātariśvan; penopang segalanya. Dengan kediaman tertinggi, jadilah kokoh; jangan mencelakai kami; janganlah engkau mencelakai penguasa yajña.


vasoḥ pavitram asi śatadhāraṃ vasoḥ pavitram asi sahasradhāram | devas tvā savitā punātu vasoḥ pavitreṇa śatadhāreṇa supvā kāmadhukṣaḥ ||YV 1.3||

Engkau penyuci kekayaan beralir seratus dan seribu. Semoga Savitṛ menyucikanmu dengan penyuci beralir seratus, sehingga engkau menjadi pemberi segala yang diinginkan.


sā viśvāyuḥ sā viśvakarmā sā viśvadhāyāḥ | indrasya tvā bhāgaṃ somenātanacmi viṣṇo havyaṃ rakṣa ||YV 1.4||

Ia adalah kehidupan semesta, karya semesta, penopang semesta. Aku menyiapkan bagianmu bagi Indra dengan Soma; wahai Viṣṇu, lindungilah persembahan ini.


agne vratapate vrataṃ cariṣyāmi tac chakeyaṃ tan me rādhyatām | idam aham anṛtāt satyam upaimi ||YV 1.5||

Wahai Agni, penguasa laku suci, aku akan menjalankan laku itu; semoga aku mampu dan berhasil. Dari ketidakbenaran aku menuju kebenaran.


kas tvā yunakti sa tvā yunakti kasmai tvā yunakti tasmai tvā yunakti | karmaṇe vāṃ veṣāya vām ||YV 1.6||

Siapa yang mengikatmu—dialah yang mengikatmu; bagi siapa engkau diikat—baginya engkau diikat. Untuk kerja dan keberhasilan, aku memilih kalian berdua.


pratyuṣṭaṃ rakṣaḥ pratyuṣṭā arātayo niṣṭaptaṃ rakṣo niṣṭaptā arātayaḥ | urvantariṣam anvemi ||YV 1.7||

Para perusak dan musuh dipukul mundur dan dibakar habis. Aku melangkah melalui ruang luas di antara.


dhūras i dhūrva dhūrvantaṃ dhūrva taṃ yo ’smān dhūrvati taṃ dhūrva yaṃ vayaṃ dhūrvāmaḥ | devānām asi vahnitamaṃ sasnitamaṃ papritamaṃ juṣṭatamaṃ devahūtamam ||YV 1.8||

Engkau penghalau; halau siapa pun yang menghalau kami, yang kami halau pun. Engkau pembawa terbaik para dewa, paling murni, paling penuh, paling berkenan, paling dipanggil para dewa.


viṣṇus tvā kramatām uru vātāyāpahataṃ rakṣo yacchantāṃ pañca ||YV 1.9||

Semoga Viṣṇu melangkah luas; semoga angin menghalau para perusak; biarlah mereka terikat pada lima penjuru.


devasya tvā savituḥ prasave ’śvinor bāhubhyāṃ pūṣṇo hastābhyām | agnaye juṣṭaṃ gṛhṇāmy agnīṣomābhyāṃ juṣṭaṃ gṛhṇāmi ||YV 1.10||

Dengan dorongan Savitṛ, dengan lengan Aśvin, dengan tangan Pūṣan, aku menerima ini—berkenan bagi Agni, berkenan bagi Agni dan Soma.


bhūtāya tvā nārātaye svar abhivikhyeṣaṃ dṛṃhantāṃ duryāḥ pṛthivyām urvantariṣam anvemi pṛthivyās tvā nābhau sādāyāmy adityā upasthe ’gne havyaṃ rakṣa ||YV 1.11||

Untuk keberadaan dan penolak musuh aku menempatkanmu; semoga yang berbahaya dipatahkan. Aku menapaki ruang luas; aku menegakkanmu di pusat bumi, di pangkuan Aditi. Wahai Agni, lindungi persembahan.


pavitre stho vaiṣṇavyau savitur vaḥ prasava utpunāmy acchidreṇa pavitreṇa sūryasya raśmibhiḥ | devīr āpo agre guvo agre puvo ’gre imam adya yajñaṃ nayatāgre yajñapatiṃ sudhātuṃ yajñapatiṃ devayuvam ||YV 1.12||

Kalian berdiri sebagai penyuci Vaiṣṇava; oleh dorongan Savitṛ aku menyucikan dengan penyuci tanpa celah, oleh sinar Surya. Wahai air ilahi, tuntunlah yajña hari ini; tegakkan yajñapati dengan baik, yajñapati yang dipersembahkan kepada para dewa.


yuṣmā indro ’vṛṇīta vṛtratūrye yūyam indram avṛṇīdhvaṃ vṛtratūrye prokṣitā stha | agnaye tvā juṣṭaṃ prokṣāmy agnīṣomābhyāṃ tvā juṣṭaṃ prokṣāmi | daivyāya karmaṇe śundhadhvaṃ devayajyāyai yad vo ’śuddhāḥ parājaghnur idaṃ vas tac chundhāmi ||YV 1.13||

Indra memilih kalian untuk kemenangan atas Vṛtra; kalian memilih Indra; kalian telah diperciki. Aku memercikkan ini agar berkenan bagi Agni, bagi Agni-Soma. Sucikan diri untuk kerja ilahi; apa pun yang ternoda, aku menyucikannya.


śarmāsy avadhūtaṃ rakṣo ’vadhūtā arātayo ’dityās tvag asi prati tvād itir vettu | adrir asi vānaspatyo grāvā ’si pṛthubudhnaḥ prati tvādityās tvag vettu ||YV 1.14||

Engkau perlindungan; para perusak dan musuh disingkirkan. Engkau kulit Aditi—biarlah Aditi mengenalimu. Engkau batu dan kayu hutan, beralas luas; biarlah Aditi mengenalimu.


agnis tanūr asi vāco visarjanaṃ devavītaye tvā gṛhṇāmi bṛhadgrāvā ’si vānaspatyaḥ sa idaṃ devebhyo haviḥ śamīṣva suśami śamīṣva | haviṣkṛd ehi haviṣkṛd ehi ||YV 1.15||

Engkau tubuh Agni, pelepasan suara; demi jamuan dewa aku mengambilmu. Engkau batu besar dari hutan; damaikan persembahan bagi para dewa. Datanglah, pembuat persembahan.


kukkuṭo ’si madhujihva iṣam ūrjam āvada tvayā vayaṃ sandhātaṃ sandhātaṃ jeṣma varṣavṛddham asi prati tvā varṣavṛddhaṃ vettu | parāpūtaṃ rakṣaḥ parāpūtā arātayo ’pahataṃ rakṣo vāyur vo vivinaktu devo vaḥ savitā hiraṇyapāṇiḥ pratigṛbhṇāt vacchidreṇa pāṇinā ||YV 1.16||

Engkau ayam jantan, lidah madu; ucapkan makanan dan daya. Bersamamu kami menaklukkan yang terikat. Engkau tumbuh oleh hujan. Para perusak dan musuh disingkirkan; angin memisahkan mereka. Savitṛ bertangan emas menerima dengan tangan tanpa cela.


dhṛṣṭir asy apā ’gne agnim āmādaṃ jahi niṣkravyādaṃ sedhā devayajaṃ vaha | dhruvam asi pṛthivīṃ dṛṃha brahmavani tvā kṣatravani sajātavany upadadhāmi bhrātṛvyasya vadhāya ||YV 1.17||

Engkau adalah kekuatan; wahai Agni, hancurkan pemakan mentah dan penghalang; angkut persembahan ilahi. Engkau teguh—kukuhkan bumi. Aku menempatkanmu sebagai kekuatan brahman dan kṣatra, bagi penundukan musuh.


agne brahma gṛbhṇīṣva dharuṇam asy antarikṣaṃ dṛṃha brahmavani tvā kṣatravani sajātavany upadadhāmi bhrātṛvyasya badhāya | dhartam asi divaṃ dṛṃha brahmavani tvā kṣatravani sajātavany upadadhāmi bhrātṛvyasya badhāya | viśvābhyas tvāśābhy upadadhāmi citta stho ’rdhvacito bhṛgūṇām aṅgirasāṃ tapasā tapyadhvam ||YV 1.18||

Wahai Agni, terimalah brahman; kukuhkan antarikṣa dan langit. Aku menegakkanmu sebagai daya brahman–kṣatra untuk menundukkan musuh. Dari segala penjuru aku menempatkanmu; wahai yang terarah ke atas, para Bhṛgu dan Aṅgiras bertapalah dengan tapas.


śarmāsy avadhūtaṃ rakṣo ’vadhūtā arātayo ’dityās tvag asi prati tvād itir vettu | dhiṣaṇā ’si parvatī prati tvādityās tvag vettu divaskambhanīr asi dhiṣaṇā ’si pārvatīyī prati tvā parvatī vettu ||YV 1.19||

Engkau perlindungan; para perusak dan musuh tersingkir. Engkau kulit Aditi—biarlah Aditi mengenalimu. Engkau Dhiṣaṇā pegunungan, penopang langit—biarlah Parvatī mengenalimu.


dhānyam asi dhinuhi devān prāṇāya tvo dānāya tvā vyānāya tvā | dīrghām anu prasitim āyuṣe dhāṃ devo vaḥ savitā hiraṇyapāṇiḥ pratigṛbhṇāt vacchidreṇa pāṇinā cakṣuṣe tvā mahīnām payo ’si ||YV 1.20||

Engkau biji-bijian; puaskan para dewa. Untuk prāṇa, dāna, dan vyāna aku mempersembahkanmu. Bentangkan keberlangsungan panjang bagi umur. Savitṛ bertangan emas menerima; engkau susu agung bagi penglihatan.


devasya tvā savituḥ prasave ’śvinor bāhubhyāṃ pūṣṇo hastābhyām | saṃ vapāmi samāpa oṣadhībhiḥ samoṣadhayo rasena | saṃ revatīr jagatībhiḥ pṛcyantāṃ saṃ madhumatīr madhumatībhiḥ pṛcyantām ||YV 1.21||

Dengan dorongan Savitṛ, lengan Aśvin, dan tangan Pūṣan aku menabur dan menyatukan dengan tumbuhan dan sarinya. Biarlah kemakmuran berpadu; biarlah yang manis berpadu dengan yang manis.


janayatyai tvā saṃyaumīdam agner idam agnīṣomayor iṣe tvā gharmo ’si viśvāyur astvā savitā śrapayatu varṣiṣṭhe ’dhi nāke ||YV 1.22||

Untuk pembangkitan aku menyatukanmu—ini milik Agni, ini milik Agni-Soma. Untuk makanan aku menempatkanmu; engkau panas kosmik, kehidupan semesta. Savitṛ mematangkanmu pada puncak tertinggi.


mā bher mā saṃvikthā atamerur yajño ’tamerur yajamānasya prajā bhūyāt | tritāya tvā dvitāya tvaikatāya tvā ||YV 1.23||

Jangan takut, jangan goyah. Semoga yajña dan keturunan yajamāna tak tergoyahkan. Untuk Tritā, Dvitā, dan kesatuan aku menempatkanmu.


devasya tvā savituḥ prasave ’śvinor bāhubhyāṃ pūṣṇo hastābhyām | ādade ’dhvarakṛtaṃ devebhya indrasya bāhur asi dakṣiṇaḥ sahasrabhṛṣṭiḥ śatatejā vāyur asi tigmatejā dviṣato vadhaḥ ||YV 1.24||

Dengan dorongan Savitṛ, Aśvin, dan Pūṣan aku mengambil alat pelaksana yajña bagi para dewa. Engkau lengan kanan Indra—berhujan seribu, bercahaya seratus; engkau angin tajam, pemusnah musuh.


pṛthivi devayajany oṣadhyās te mūlaṃ mā hiṃsiṣaṃ vrajaṃ gaccha goṣṭhānaṃ varṣatu te dyaur bādhāna deva savitaḥ paramasyāṃ pṛthivyāṃ śatena pāśair yo ’smān dveṣṭi yaṃ ca vayaṃ dviṣmas tam ato mā mauk ||YV 1.25||

Wahai bumi layak yajña, jangan sakiti akar tanamanmu. Pergilah ke kandang; semoga langit menurunkan hujan. Wahai Savitṛ, ikat dengan seratus jerat siapa pun yang membenci kami dan yang kami benci—jauhkan dari kami.


apāraruṃ pṛthivyai devayajanād vadhyāsaṃ vrajaṃ gaccha goṣṭhānaṃ varṣatu te dyaur bādhāna deva savitaḥ paramasyāṃ pṛthivyāṃ śatena pāśair yo ’smān dveṣṭi yaṃ ca vayaṃ dviṣmas tam ato mā mauk | araror divaṃ mā papto drapsas te dyāṃ mā skan vrajaṃ gaccha goṣṭhānaṃ varṣatu te dyaur bādhāna deva savitaḥ paramasyāṃ pṛthivyāṃ śatena pāśair yo ’smān dveṣṭi yaṃ ca vayaṃ dviṣmas tam ato mā mauk ||YV 1.26||

Singkirkan yang terlepas dari bumi; usir ke kandang; semoga hujan turun. Jangan biarkan tetes dari langit jatuh keliru. Wahai Savitṛ, ikat dengan seratus jerat para pembenci; jauhkan dari kami.


gāyatreṇa tvā chandasā parigṛhṇāmi traiṣṭubhena tvā chandasā parigṛhṇāmi jāgatena tvā chandasā parigṛhṇāmi | sukṣmā cāsi śivā cāsi syonā cāsi suṣadā cāsy ūrjasvatī cāsi payasvatī ca ||YV 1.27||

Aku merangkulmu dengan metrum Gāyatrī, Triṣṭubh, dan Jagatī. Engkau halus, menguntungkan, menenteramkan, kokoh; penuh daya dan susu.


purā krūrasya visṛpo virapśinn udādāya pṛthivīṃ jīvadānum | yāmair ayaṃś candramasi svadhābhis tām u dhīrāso anudiśya yajante | prokṣaṇīr āsādaya dviṣato badho ’si ||YV 1.28||

Dahulu dari yang ganas ia merayap, mengangkat bumi yang memberi hidup. Dengan tahapan ia menuju bulan melalui svadhā; para bijak berkorban mengarah ke sana. Tegakkan air percikan; engkau pemusnah musuh.


pratyuṣṭaṃ rakṣaḥ pratyuṣṭā arātayo niṣṭaptaṃ rakṣo niṣṭaptā arātayaḥ | aniśito ’si sapatnakṣid vājinaṃ tvā vājedhyāyai sammārjmi | pratyuṣṭaṃ rakṣaḥ pratyuṣṭā arātayo niṣṭaptaṃ rakṣo niṣṭaptā arātayaḥ | aniśitā ’si sapatnakṣid vājinīṃ tvā vājedhyāyai sammārjmi ||YV 1.29||

Para perusak dan musuh dipukul dan dibakar. Engkau tak terpotong, pemusnah lawan; kuda/energi juang ini aku bersihkan demi kemenangan.


adityai rāsnāsi viṣṇor veṣpo ’sy ūrje tvā ’dabdhena tvā cakṣuṣāv apaśyāmi | agner jihvās i suhūr devebhyo dhāmne dhāmne me bhava yajuṣe yajuṣe ||YV 1.30||

Engkau ikat pinggang Aditi, langkah Viṣṇu. Untuk daya aku menempatkanmu; dengan mata aku memandangmu tanpa cela. Engkau lidah Agni—jadilah persembahan yang tepat bagi para dewa, bagi tiap dhāman dan mantra.


savitus tvā prasava utpunāmy acchidreṇa pavitreṇa sūryasya raśmibhiḥ | savitur vaḥ prasava utpunāmy acchidreṇa pavitreṇa sūryasya raśmibhiḥ | tejo ’si śukram asy amṛtam asi dhāma nāmāsi priyaṃ devānām anādhṛṣṭaṃ devayajanam asi ||YV 1.31||

Dengan dorongan Savitṛ aku menyucikanmu dengan penyuci tanpa celah oleh sinar Surya. Engkau cahaya, murni, tak mati; engkau dhāman bernama, kesayangan para dewa, tempat yajña yang tak tertandingi.

Bhisma Parwa 6

Mahabharata 6.6

Bhisma Parwa 6

Suatu ketika, Dhṛtarāṣṭra bertanya dengan suara yang lembut namun sarat keingintahuan. Ia ingin tahu nama-nama sungai dan gunung, negeri-negeri dan hutan, segala sesuatu yang membentang di atas bumi. Ia bertanya bukan seperti raja yang hendak menaklukkan, melainkan seperti orang tua yang ingin memahami rumah tempat ia hidup. “Ceritakan semuanya kepadaku, Sañjaya,” katanya, “ukurannya, batas-batasnya, dan apa saja yang dipeluk oleh bumi ini.”

Sañjaya pun menjawab perlahan, seperti guru yang menata benang-benang pengetahuan agar mudah dipahami. Ia berkata bahwa segala yang ada tersusun dari lima unsur besar. Dari kelimanya, bumi memegang tempat utama, sebab di sanalah semua berdiri dan bertahan. Bumi membawa bunyi, sentuhan, rupa, rasa, dan bau; sementara unsur lain membawa lebih sedikit sifat, hingga ruang yang hanya menyimpan bunyi semata. Selama kelima unsur itu seimbang, dunia berjalan tenang. Tetapi bila keseimbangan terganggu, makhluk-makhluk pun saling berbenturan, dan kehancuran tak bisa dihindari.

Ia melanjutkan, bahwa segala sesuatu lahir dan lenyap mengikuti urutan yang tak terukur oleh manusia. Di mana-mana unsur-unsur itu tampak, dan manusia mencoba memahaminya dengan akal. Namun ada batas bagi nalar; yang melampaui alam tak bisa dijangkau oleh pikiran. Di situlah rahasia besar berdiam, seperti senyum seorang kakek yang tahu lebih banyak daripada yang diucapkannya.

Lalu Sañjaya mulai menggambar peta dunia dalam kata-kata. Ia bercerita tentang sebuah pulau bernama Sudarśana, bundar sempurna seperti cakra, dikelilingi air sungai dan gunung yang menjulang bagai awan. Di sana berdiri kota-kota indah dan negeri-negeri yang makmur, pohon-pohonnya sarat bunga dan buah, tanahnya kaya dan berlimpah, dan di sekelilingnya terbentang samudra asin yang memeluknya dari segala arah.

Ia berkata bahwa pulau itu tampak di cakram bulan, sebagaimana seseorang melihat wajahnya sendiri di cermin. Di sana tumbuh pohon pippala dan tampak bayangan kelinci raksasa, dikelilingi ladang obat-obatan dan tumbuhan penyembuh. Begitulah, kata Sañjaya, dunia terpantul di langit, dan langit kembali berdiam di dalam dunia.

Begitulah kisahnya, cucuku. Dunia ini bukan sekadar tanah di bawah kaki, tetapi anyaman unsur, pantulan cahaya, dan keseimbangan halus yang harus dijaga. Dan siapa yang memahami keseimbangan itu, akan melihat bumi bukan sebagai benda untuk direbut, melainkan sebagai rumah yang harus dirawat.


Bhisma Parva 6

MB 6.6.1 dhṛtarāṣṭra uvāca: nadīnāṃ parvatānāṃ ca nāmadheyāni saṃjaya, tathā janapadānāṃ ca ye cānye bhūmim āśritāḥ

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Sebutkanlah kepadaku, Sañjaya, nama-nama sungai dan pegunungan, juga negeri-negeri dan segala yang lain yang bernaung di atas bumi.”


MB 6.6.2 pramāṇaṃ ca pramāṇajña pṛthivyā api sarvaśaḥ, nikhilena samācakṣva kānanāni ca saṃjaya

“Jelaskan pula ukurannya, wahai yang memahami ukuran, tentang bumi secara menyeluruh; terangkan semuanya tanpa tersisa, termasuk hutan-hutannya, Sañjaya.”


MB 6.6.3 saṃjaya uvāca: pañcemāni mahārāja mahābhūtāni saṃgrahāt, jagat sthitāni sarvāṇi samāny āhur manīṣiṇaḥ

Sañjaya berkata:
“Wahai raja agung, ada lima unsur besar yang menyusun segala sesuatu; di dalamnya seluruh jagat berdiri—demikian kata para bijak.”


MB 6.6.4 bhūmir āpas tathā vāyur agnir ākāśam eva ca, guṇottarāṇi sarvāṇi teṣāṃ bhūmiḥ pradhānataḥ

“Bumi, air, angin, api, dan ruang; masing-masing memiliki keutamaannya, namun bumi menempati kedudukan utama di antara semuanya.”


MB 6.6.5 śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca raso gandhaś ca pañcamaḥ, bhūmer ete guṇāḥ proktā ṛṣibhis tattvavedibhiḥ

“Bunyi, sentuhan, rupa, rasa, dan bau—lima inilah sifat-sifat bumi, demikian diajarkan para resi yang memahami hakikat.”


MB 6.6.5* śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca rasaś cāpi prakīrtitāḥ

“Bunyi, sentuhan, rupa, dan rasa juga disebutkan sebagai sifatnya.”


MB 6.6.6 catvāro 'psu guṇā rājan gandhas tatra na vidyate, śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca tejaso 'tha guṇās trayaḥ, śabdaḥ sparśaś ca vāyos tu ākāśe śabda eva ca

“Pada air terdapat empat sifat, wahai raja—bau tidak ada di sana. Pada api ada tiga: bunyi, sentuhan, dan rupa; pada angin ada dua: bunyi dan sentuhan; dan pada ruang hanya bunyi semata.”


MB 6.6.7 ete pañca guṇā rājan mahābhūteṣu pañcasu, vartante sarvalokeṣu yeṣu lokāḥ pratiṣṭhitāḥ

“Kelima sifat ini, wahai raja, berdiam dalam lima unsur besar; di atasnyalah seluruh dunia berdiri dan bertumpu.”


MB 6.6.8 anyonyaṃ nābhivartante sāmyaṃ bhavati vai yadā, yadā tu viṣamībhāvam āviśanti parasparam, tadā dehair dehavanto vyatirohanti nānyathā

“Selama unsur-unsur itu berada dalam keseimbangan, tak saling melampaui, keselarasan pun terjaga. Namun ketika mereka saling timpang dan bertabrakan, makhluk berjasad pun saling bertubrukan—tak ada jalan lain.”


MB 6.6.8* bhāvaṃ na ca bhajantas te nāśaṃ gacchanti nānyathā

“Tanpa kembali pada keseimbangan, mereka menuju kehancuran—tak terelakkan.”


MB 6.6.9 ānupūrvyād vinaśyanti jāyante cānupūrvaśaḥ, sarvāṇy aparimeyāni tad eṣāṃ rūpam aiśvaram

“Mereka lahir dan binasa menurut urutan, juga lenyap dengan urutan yang sama; segala yang tak terukur itu adalah rupa kekuasaan mereka.”


MB 6.6.10 tatra tatra hi dṛśyante dhātavaḥ pāñcabhautikāḥ, teṣāṃ manuṣyās tarkeṇa pramāṇāni pracakṣate

“Di sana-sini tampak unsur-unsur lima ini dalam berbagai bentuk; manusia mencoba mengukurnya dengan akal dan nalar.”


MB 6.6.11 acintyāḥ khalu ye bhāvā na tāṃs tarkeṇa sādhayet, prakṛtibhyaḥ paraṃ yat tu tad acintyasya lakṣaṇam

“Namun yang tak terpikirkan tak dapat dijangkau oleh nalar; apa yang melampaui alam itulah tanda dari yang tak terbayangkan.”


MB 6.6.12 sudarśanaṃ pravakṣyāmi dvīpaṃ te kurunandana, parimaṇḍalo mahārāja dvīpo 'sau cakrasaṃsthitaḥ

“Akan kuceritakan kepadamu Pulau Sudarśana, wahai kebanggaan Kuru; berbentuk bundar sempurna, wahai raja, tersusun laksana cakra.”


MB 6.6.13 nadījalapraticchannaḥ parvataiś cābhrasaṃnibhaiḥ, puraiś ca vividhākārai ramyair janapadais tathā

“Pulau itu diselimuti air sungai, dikelilingi gunung-gunung laksana awan; dipenuhi kota-kota beraneka rupa dan negeri-negeri yang elok.”


MB 6.6.14 vṛkṣaiḥ puṣpaphalopetaiḥ saṃpannadhanadhānyavān, lāvaṇena samudreṇa samantāt parivāritaḥ

“Pohonnya sarat bunga dan buah, berlimpah harta dan hasil bumi; ia dilingkari samudra asin di segala penjuru.”


MB 6.6.15 yathā ca puruṣaḥ paśyed ādarśe mukham ātmanaḥ, evaṃ sudarśanadvīpo dṛśyate candramaṇḍale

“Seperti seseorang melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, demikianlah Pulau Sudarśana terpantul di cakram bulan.”


MB 6.6.16 dvir aṃśe pippalas tatra dvir aṃśe ca śaśo mahān, sarvauṣadhisamāvāpaiḥ sarvataḥ paribṛṃhitaḥ, āpas tato 'nyā vijñeyā eṣa saṃkṣepa ucyate

“Di sana, dua bagian dipenuhi pohon pippala, dua bagian lainnya oleh kelinci raksasa; diperluas ke segala arah oleh ladang segala obat dan tumbuhan. Adapun perairannya yang lain, demikianlah ringkasnya.”


MB 6.6.16* tato 'nya ucyate cāyam enaṃ saṃkṣepataḥ śṛṇu

“Masih ada bagian lain; dengarkanlah penjelasan singkatnya.”

Bhisma Parwa 5

Mahabharata 6.5

Bhisma Parwa 5

Setelah semua nasihat dan tanda-tanda itu diucapkan, Vyāsa pun pergi dengan langkah tenang, meninggalkan Dhṛtarāṣṭra dalam keheningan. Raja tua itu tidak berkata apa-apa. Kata-kata sang resi masih bergaung di dadanya. Ia pun menutup mata, masuk ke dalam perenungan yang dalam, seolah hendak mencari jawabannya sendiri di lorong-lorong batin yang gelap.

Beberapa saat berlalu. Dhṛtarāṣṭra menarik napas panjang, berulang kali, seperti orang yang memikul beban terlalu berat untuk satu dada. Lalu ia memanggil Sañjaya, kusir setia yang berhati teguh. Dengan suara lirih namun penuh kecemasan, ia berkata bahwa para raja perkasa itu—para pahlawan yang mencintai perang—telah saling menghantam tanpa ragu, menggunakan segala jenis senjata. Demi bumi, katanya, mereka telah meninggalkan nyawa mereka sendiri. Mereka membunuh tanpa henti, seakan tak pernah puas, menambah panen kematian bagi Yama.

“Apa sebenarnya bumi ini, Sañjaya?” tanya sang raja. “Mengapa ia begitu diinginkan, sampai manusia rela saling membinasakan?” Ia tahu bahwa di Kurujāṅgala telah berkumpul jumlah yang tak terhitung—ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan pahlawan dari berbagai penjuru. Ia ingin tahu dari mana mereka datang, seberapa luas negeri-negeri dan kota-kota yang mengirimkan anak-anak terbaiknya ke medan maut itu. Dan ia tahu, Sañjaya bisa menjawab, karena resi Vyāsa telah menganugerahkan kepadanya mata pengetahuan dan cahaya kecerdasan ilahi.

Sañjaya pun mulai bercerita, suaranya tenang seperti guru yang mengajar murid kesayangannya. Ia berkata bahwa di dunia ini ada dua jenis makhluk: yang bergerak dan yang diam. Yang bergerak lahir dengan tiga cara—dari telur, dari kelembapan, dan dari rahim. Di antara semuanya, yang lahir dari rahim adalah yang utama. Dan di antara mereka, manusia dan hewan menempati tempat teratas.

Makhluk-makhluk itu, lanjut Sañjaya, terbagi menjadi empat belas golongan: tujuh penghuni hutan dan tujuh penghuni permukiman manusia. Di rimba hidup singa, harimau, babi hutan, kerbau, gajah, beruang, dan kera. Di desa dan kota hidup sapi, kambing, manusia, domba, kuda, bagal, dan keledai. Keempat belasnya, kata para bijak, adalah penopang kehidupan dan pengorbanan suci. Tanpa mereka, dunia tak akan berjalan.

Di antara yang hidup dekat manusia, manusialah yang utama. Di antara yang hidup liar, singalah yang terunggul. Namun tak satu pun hidup sendirian. Semua saling bergantung, saling menopang, saling hidup dari yang lain—seperti anyaman rumit yang bila satu helai ditarik, seluruhnya ikut terguncang.

Lalu Sañjaya berbicara tentang yang diam: tumbuhan. Ada pohon besar, semak, sulur, tanaman merambat, rerumputan, dan segala yang menyimpan sari kehidupan. Semuanya terhubung dengan unsur-unsur besar alam, membentuk tatanan yang luas, teratur, dan suci—seperti Gāyatrī yang memuat dunia dalam iramanya. Barang siapa memahami tatanan itu dengan benar, katanya, tak akan binasa dalam putaran dunia.

Akhirnya, Sañjaya menutup kisahnya dengan suara yang lembut namun pasti: segala sesuatu lahir dari bumi, dan kepada bumi pula semuanya kembali. Bumi adalah landasan semua makhluk, tujuan terakhir segala perjalanan. Dan karena bumi itulah—karena kerakusan untuk memilikinya—para raja saling membunuh, lupa bahwa tanah yang mereka perebutkan kelak akan menerima mereka semua, tanpa membeda-bedakan mahkota dan debu.

Begitulah, cucuku, kisah itu diceritakan. Bukan untuk menambah ketakutan, tetapi untuk mengingatkan: dunia ini bukan milik siapa pun, dan perang sering lahir ketika manusia lupa bahwa ia hanyalah tamu sementara di atas bumi yang sama.

Bhisma Parva 5

MB 6.5.1 vaiśaṃpāyana uvāca: evam uktvā yayau vyāso dhṛtarāṣṭrāya dhīmate, dhṛtarāṣṭro 'pi tac chrutvā dhyānam evānvapadyata

Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, Vyāsa pun pergi meninggalkan Dhṛtarāṣṭra yang bijaksana; dan Dhṛtarāṣṭra, setelah mendengar semuanya, tenggelam pula dalam samādhi.


MB 6.5.2 sa muhūrtam iva dhyātvā viniḥśvasya muhur muhuḥ, saṃjayaṃ saṃśitātmānam apṛcchad bharatarṣabha

Beberapa saat ia berdiam dalam hening, menarik napas panjang berulang kali; lalu ia bertanya kepada Sañjaya, yang berhati teguh, wahai terbaik di antara Bhārata.


MB 6.5.3 saṃjayeme mahīpālāḥ śūrā yuddhābhinandinaḥ, anyonyam abhinighnanti śastrair uccāvacair api

“Wahai Sañjaya, para raja itu—pahlawan yang mencintai perang—saling menghantam satu sama lain dengan senjata besar dan kecil.”


MB 6.5.4 pārthivāḥ pṛthivīhetoḥ samabhityaktajīvitāḥ, na ca śāmyanti nighnanto vardhayanto yamakṣayam

“Mereka, demi bumi, telah meninggalkan nyawa mereka; mereka tak jemu membunuh, terus menambah panen Yama.”


MB 6.5.5 bhaumam aiśvaryam icchanto na mṛṣyante parasparam, manye bahuguṇā bhūmis tan mamācakṣva saṃjaya

“Menginginkan kekuasaan duniawi, mereka tak saling menahan diri. Kupikir bumi ini menyimpan  banyak keutamaan; jelaskanlah itu kepadaku, Sañjaya.”


MB 6.5.6 bahūni ca sahasrāṇi prayutāny arbudāni ca, koṭyaś ca lokavīrāṇāṃ sametāḥ kurujāṅgale

“Ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan pahlawan dunia telah berkumpul di Kurujāṅgala.”


MB 6.5.7 deśānāṃ ca parīmāṇaṃ nagarāṇāṃ ca saṃjaya, śrotum icchāmi tattvena yata ete samāgatāḥ

“Jelaskan kepadaku dengan sebenar-benarnya, Sañjaya, luas negeri-negeri dan kota-kota dari mana  mereka semua datang.”


MB 6.5.8 divyabuddhipradīpena yuktas tvaṃ jñānacakṣuṣā, prasādāt tasya viprarṣer vyāsasyāmitatejasaḥ

“Engkau telah dianugerahi pelita kecerdasan ilahi dan mata pengetahuan, oleh anugerah resi agung Vyāsa yang bercahaya tanpa batas.”


MB 6.5.9 saṃjaya uvāca: yathāprajñaṃ mahāprājña bhaumān vakṣyāmi te guṇān, śāstracakṣur avekṣasva namas te bharatarṣabha

Sañjaya berkata:

“Sesuai daya pemahamanku, wahai maharaja bijaksana, akan kujabarkan keutamaan bumi. Pandanglah dengan mata ajaran; sujudku kepadamu, wahai terbaik di antara Bhārata.”


MB 6.5.10 dvividhānīha bhūtāni trasāni sthāvarāṇi ca, trasānāṃ trividhā yonir aṇḍasvedajarāyujāḥ

“Makhluk di dunia ini ada dua macam: yang bergerak dan yang tak bergerak; yang bergerak memiliki tiga asal kelahiran—dari telur, dari peluh, dan dari rahim.”


MB 6.5.11 trasānāṃ khalu sarveṣāṃ śreṣṭhā rājañ jarāyujāḥ, jarāyujānāṃ pravarā mānavāḥ paśavaś ca ye

“Di antara makhluk bergerak, yang lahir dari rahim adalah yang utama, wahai raja; dan di antara mereka, manusia dan hewan adalah yang terunggul.”


MB 6.5.12 nānārūpāṇi bibhrāṇās teṣāṃ bhedāś caturdaśa, araṇyavāsinaḥ sapta saptaiṣāṃ grāmavāsinaḥ

“Mereka beraneka rupa, terbagi menjadi empat belas golongan: tujuh penghuni hutan, dan tujuh penghuni permukiman.”


MB 6.5.13 siṃhavyāghravarāhāś ca mahiṣā vāraṇās tathā, ṛkṣāś ca vānarāś caiva saptāraṇyāḥ smṛtā nṛpa

“Singa, harimau, babi hutan, kerbau dan gajah, beruang dan kera—itulah tujuh makhluk penghuni rimba, wahai raja.”


MB 6.5.14 gaur ajo manujo meṣo vājyaśvataragardabhāḥ, ete grāmyāḥ samākhyātāḥ paśavaḥ sapta sādhubhiḥ

“Sapi, kambing, manusia, domba, kuda, bagal, dan keledai—itulah tujuh makhluk penghuni desa, demikian diajarkan para bijak.”


MB 6.5.15 ete vai paśavo rājan grāmyāraṇyāś caturdaśa, vedoktāḥ pṛthivīpāla yeṣu yajñāḥ pratiṣṭhitāḥ

“Keempat belas makhluk—liar dan jinak—itulah, wahai raja, yang disebut dalam Weda sebagai  penopang yajña di atas bumi.”


MB 6.5.16 grāmyāṇāṃ puruṣaḥ śreṣṭhaḥ siṃhaś cāraṇyavāsinām, sarveṣām eva bhūtānām anyonyenābhijīvanam

“Di antara makhluk desa, manusia adalah yang utama; di antara penghuni hutan, singa yang terunggul. Semua makhluk hidup satu sama lain—saling menopang, saling bergantung.”


MB 6.5.17 udbhijjāḥ sthāvarāḥ proktās teṣāṃ pañcaiva jātayaḥ, vṛkṣagulmalatāvallyas tvaksārās tṛṇajātayaḥ

“Yang tak bergerak disebut tumbuhan; mereka terbagi menjadi lima jenis: pohon, semak, liana, sulur, kulit dan sari, serta rumput.”


MB 6.5.18 eṣāṃ viṃśatir ekonā mahābhūteṣu pañcasu, caturviṃśatir uddiṣṭā gāyatrī lokasaṃmatā

“Keseluruhan ini—sembilan belas—berkaitan dengan lima unsur agung; dua puluh empat keseluruhannya, sebagaimana dikenal dalam Gāyatrī yang diterima dunia.”


MB 6.5.19 ya etāṃ veda gāyatrīṃ puṇyāṃ sarvaguṇānvitām, tattvena bharataśreṣṭha sa lokān na praṇaśyati

“Siapa memahami Gāyatrī yang suci ini, lengkap dengan segala keutamaannya, ia, wahai terbaik di antara Bhārata, tak akan binasa di dunia-dunia.”


MB 6.5.20 bhūmau hi jāyate sarvaṃ bhūmau sarvaṃ praṇaśyati, bhūmiḥ pratiṣṭhā bhūtānāṃ bhūmir eva parāyaṇam

“Segala sesuatu lahir dari bumi, dan ke bumi pula segalanya lenyap; bumi adalah landasan semua makhluk, bumi pula tujuan terakhir.”


MB 6.5.21 yasya bhūmis tasya sarvaṃ jagat sthāvarajaṅgamam, tatrābhigṛddhā rājāno vinighnantītaretaram

“Siapa menguasai bumi, menguasai seluruh dunia—yang bergerak dan yang diam; karena kerakusan akan bumi itulah, para raja saling membinasakan.”

Bhisma Parwa 4

Mahabharata 6.4

Bhisma Parwa 4

Setelah menyingkapkan rahasia dunia dan tanda-tanda zaman, Vyāsa terdiam sejenak. Sang resi tua itu, yang memahami hakikat hidup seperti orang membaca garis di telapak tangannya sendiri, memandang Dhṛtarāṣṭra—anaknya—dengan iba yang dalam. Lalu ia masuk kembali ke keheningan tapa, seolah menata ulang kata-kata yang paling sulit diucapkan kepada seorang ayah.

Tak lama kemudian, ia berbicara lagi. Suaranya lembut, tetapi tegas, seperti orang tua yang tahu bahwa waktu tak bisa dibujuk. Ia berkata bahwa waktu adalah penguasa sejati: ia memadatkan dunia, menghancurkannya, lalu menciptakannya kembali. Tak ada yang kekal—bukan keluarga Kuru, bukan sahabat, bukan kekuasaan. Semua bergerak, semua berlalu.

Karena itu, Vyāsa menasihati: tunjukkanlah jalan dharma. Jangan biarkan pembunuhan sanak keluarga menjadi pilihan, sebab itu hina dan tak pernah dipuji kitab suci. “Waktu itu sendiri,” katanya lirih, “telah lahir sebagai putramu.” Tetapi walau waktu mendesak, manusia tetap punya pilihan untuk berjalan lurus. Kekuasaan yang membawa penderitaan, seindah apa pun rupanya, sebaiknya dilepaskan. Apa arti kerajaan bila justru menyeret hati ke dalam dosa?

Ia meminta Dhṛtarāṣṭra membuka mata dan menunjukkan dharma kepada putra-putranya. Lebih baik menyerahkan kerajaan kepada Pāṇḍava dan membawa Kaurava menuju ketenteraman, daripada memelihara api yang akan membakar semuanya. Ia bahkan berjanji akan menahan Yudhiṣṭhira dan Bhīma bila perang benar-benar pecah—sebuah janji seorang kakek yang ingin melindungi cucu-cucunya dari kesalahan yang sama.

Dhṛtarāṣṭra mendengar semuanya. Ia menjawab dengan kejujuran yang pahit: ia tahu apa yang benar, tetapi dunia—dan dirinya—sering dibingungkan oleh kepentingan sendiri. Ia memohon belas kasih, mengakui Vyāsa sebagai dharma itu sendiri, sebagai kehormatan, ingatan, dan penopang keluarga. “Lakukanlah apa yang benar,” katanya, “tak ada yang lebih pantas kuikuti selain engkau.”

Vyāsa pun berkata, “Katakanlah apa yang menggelisahkan hatimu.” Dan sang raja bertanya tentang kemenangan—bukan tentang senjata, melainkan tanda-tandanya. Maka Vyāsa menjelaskan dengan sabar, seperti kakek yang mengajarkan cucunya membaca alam: api yang jernih dan harum, suara kerang dan genderang yang mantap, wajah prajurit yang cerah, angin yang mengiringi langkah, burung-burung yang terbang ke arah baik. Kegembiraan para prajurit, katanya, adalah tanda paling pasti. Bukan jumlah pasukan, bukan kilau senjata.

Ia lalu mengingatkan tentang rapuhnya perang. Satu celah kecil bisa merobek pasukan raksasa. Ketika barisan pecah, ketakutan menular seperti api di padang kering. Bahkan pahlawan terbesar tak mampu menyatukan kembali pasukan yang telah tercerai. Karena itu, siasat lebih utama daripada bentrokan; kemenangan karena pertempuran semata adalah yang paling rendah, sebab ia membawa cacat dan kehancuran.

Dan akhirnya, sang kakek menutup kisahnya dengan pelajaran paling sunyi: kemenangan tidak lahir dari banyaknya orang. Takdir selalu ikut berbicara. Bahkan mereka yang menang sering tetap kehilangan sesuatu. Maka yang patut dijaga bukan hanya hasil, melainkan cara—agar ketika cerita ini diceritakan kembali kepada anak cucu, ia menjadi kisah kebijaksanaan, bukan sekadar kisah darah dan air mata.

Bhisma Parva 4

MB 6.4.1 vaiśaṃpāyana uvāca: evam ukto munis tattvaṃ kavīndro rājasattama, putreṇa dhṛtarāṣṭreṇa dhyānam anvagamat param

Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, sang resi memahami hakikat segala sesuatu; penyair agung itu, wahai raja utama, melihat Dhṛtarāṣṭra—putranya—lalu tenggelam kembali dalam samādhi tertinggi.


MB 6.4.2 punar evābravīd vākyaṃ kālavādī mahātapāḥ, asaṃśayaṃ pārthivendra kālaḥ saṃkṣipate jagat

Sekali lagi sang mahātapā, pengucap hukum waktu, berkata:
“Tanpa ragu, wahai raja bumi, waktu menyusutkan dunia ini.”


MB 6.4.3 sṛjate ca punar lokān neha vidyati śāśvatam, jñātīnāṃ ca kurūṇāṃ ca saṃbandhisuhṛdāṃ tathā

“Ia mencipta kembali dunia-dunia, tak ada yang abadi di sini—baik sanak keluarga Kuru, maupun kerabat dan sahabat mereka.”


MB 6.4.4 dharmyaṃ deśaya panthānaṃ samartho hy asi vāraṇe, kṣudraṃ jñātivadhaṃ prāhur mā kuruṣva mamāpriyam

“Tunjukkanlah jalan yang sesuai dharma, engkau mampu menahan kejahatan ini. Pembunuhan kerabat disebut hina; jangan lakukan sesuatu yang tak kusukai.”


MB 6.4.5 kālo 'yaṃ putrarūpeṇa tava jāto viśāṃ pate, na vadhaḥ pūjyate vede hitaṃ naitat kathaṃ cana

“Waktu itu sendiri telah lahir sebagai putramu, wahai raja; pembunuhan tak pernah dipuji dalam Weda, tak membawa kebaikan sedikit pun.”


MB 6.4.6 hanyāt sa eva yo hanyāt kuladharmaṃ svakāṃ tanum, kālenotpathagantāsi śakye sati yathāpathi

“Yang pantas dibunuh hanyalah ia yang membunuh dharma keluarganya sendiri; jangan menyimpang mengikuti arus waktu bila masih mungkin berjalan di jalan yang benar.”


MB 6.4.7 kulasyāsya vināśāya tathaiva ca mahīkṣitām, anartho rājyarūpeṇa tyajyatām asukhāvahaḥ

“Malapetaka yang menjelma sebagai kekuasaan hendaklah ditinggalkan, karena ia membawa kehancuran keluarga ini dan para raja di bumi.”


MB 6.4.8 luptaprajñaḥ pareṇāsi dharmaṃ darśaya vai sutān, kiṃ te rājyena durdharṣa yena prāpto 'si kilbiṣam

“Engkau telah kehilangan kejernihan oleh pengaruh luar; tunjukkanlah dharma kepada putra-putramu. Apa guna kerajaan yang sukar dijaga, bila justru menyeretmu ke dalam dosa?”


MB 6.4.9 yaśo dharmaṃ ca kīrtiṃ ca pālayan svargam āpsyasi, labhantāṃ pāṇḍavā rājyaṃ śamaṃ gacchantu kauravāḥ

“Dengan menjaga dharma, kehormatan, dan kemasyhuran, engkau akan mencapai surga. Biarlah Pāṇḍava memperoleh kerajaan, dan Kaurava mencapai ketenteraman.”


MB 6.4.9* yudhiṣṭhiraṃ ca bhīmaṃ ca vārayiṣyāmi saṃyuge

“Aku sendiri akan menahan Yudhiṣṭhira dan Bhīma bila perang pecah.”


MB 6.4.10 evaṃ bruvati viprendre dhṛtarāṣṭro 'mbikāsutaḥ, ākṣipya vākyaṃ vākyajño vākpathenāpy ayāt punaḥ

Ketika brahmana utama berkata demikian, Dhṛtarāṣṭra, putra Ambikā, menyela dengan jawaban yang cermat, menempuh kembali jalan kata-kata.


MB 6.4.11 dhṛtarāṣṭra uvāca: yathā bhavān veda tathāsmi vettā; bhāvābhāvau viditau me yathāvat, svārthe hi saṃmuhyati tāta loko; māṃ cāpi lokātmakam eva viddhi

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Apa yang engkau ketahui, aku pun mengetahuinya; ada dan tiada telah kupahami sebagaimana mestinya. Manusia, wahai ayah, memang kerap bingung oleh kepentingan diri; anggaplah aku pun cermin dari dunia ini.”


MB 6.4.12 prasādaye tvām atulaprabhāvaṃ; tvaṃ no gatir darśayitā ca dhīraḥ, na cāpi te vaśagā me maharṣe; na kalmaṣaṃ kartum ihārhase mām

“Aku memohon belas kasihmu, wahai yang bercahaya tiada banding; engkaulah jalan kami dan penunjuk yang bijak. Namun aku tak sepenuhnya berada di bawah kehendakmu, wahai resi; jangan engkau anggap aku layak dicemari dosa.”


MB 6.4.13 tvaṃ hi dharmaḥ pavitraṃ ca yaśaḥ kīrtir dhṛtiḥ smṛtiḥ, kurūṇāṃ pāṇḍavānāṃ ca mānyaś cāsi pitāmahaḥ

“Engkau adalah dharma itu sendiri—kesucian, kehormatan, kemasyhuran, keteguhan, dan ingatan; bagi Kuru dan Pāṇḍava, engkau adalah leluhur yang dimuliakan.”


MB 6.4.13* kuruṣva kāryaṃ yat satyaṃ tvatto mānyo na vidyate

“Lakukanlah apa yang benar; tak ada yang lebih layak dihormati selain dirimu.”


MB 6.4.14 vyāsa uvāca: vaicitravīrya nṛpate yat te manasi vartate, abhidhatsva yathākāmaṃ chettāsmi tava saṃśayam

Vyāsa berkata:
“Wahai raja Vaicitravīrya, apa pun yang ada di hatimu, katakanlah. Aku akan memotong keraguanmu.”


MB 6.4.15 dhṛtarāṣṭra uvāca: yāni liṅgāni saṃgrāme bhavanti vijayiṣyatām, tāni sarvāṇi bhagavañ śrotum icchāmi tattvataḥ

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Wahai Bhagavān, aku ingin mendengar dengan sebenar-benarnya tanda-tanda kemenangan dalam perang.”


MB 6.4.16 vyāsa uvāca: prasannabhāḥ pāvaka ūrdhvaraśmiḥ; pradakṣiṇāvartaśikho vidhūmaḥ, puṇyā gandhāś cāhutīnāṃ pravānti; jayasyaitad bhāvino rūpam āhuḥ

Vyāsa berkata:
“Api tampak jernih dan berseri, lidah apinya berputar ke kanan tanpa asap; aroma persembahan menjadi harum—itulah rupa kemenangan yang akan datang.”


MB 6.4.17 gambhīraghoṣāś ca mahāsvanāś ca; śaṅkhā mṛdaṅgāś ca nadanti yatra, viśuddharaśmis tapanaḥ śaśī ca; jayasyaitad bhāvino rūpam āhuḥ

“Di mana kerang dan genderang bergemuruh dalam-dalam, matahari dan bulan bersinar bening—itulah tanda kemenangan.”


MB 6.4.18 iṣṭā vācaḥ pṛṣṭhato vāyasānāṃ; saṃprasthitānāṃ ca gamiṣyatāṃ ca, ye pṛṣṭhatas te tvarayanti rājan; ye tv agratas te pratiṣedhayanti

“Bila suara burung gagak terdengar dari belakang, mereka yang telah berangkat akan dipercepat jalannya; yang bersuara di depan, justru menghalangi—demikian pertandanya, wahai raja.”


MB 6.4.19 kalyāṇavācaḥ śakunā rājahaṃsāḥ; śukāḥ krauñcāḥ śatapatrāś ca yatra, pradakṣiṇāś caiva bhavanti saṃkhye; dhruvaṃ jayaṃ tatra vadanti viprāḥ

“Burung-burung pembawa suara baik—angsa raja, betet, bangau—bila bergerak ke kanan di medan laga, para brahmana menyatakan: kemenangan telah pasti.”


MB 6.4.20 alaṃkāraiḥ kavacaiḥ ketubhiś ca; mukhaprasādair hemavarṇaiś ca nṝṇām, bhrājiṣmatī duṣpratiprekṣaṇīyā; yeṣāṃ camūs te vijayanti śatrūn

“Pasukan yang bersinar oleh perhiasan, zirah, dan panji, wajah-wajahnya cerah bagai emas, berkilau dan sukar ditatap—merekalah yang menundukkan musuh.”


MB 6.4.21 hṛṣṭā vācas tathā sattvaṃ yodhānāṃ yatra bhārata, na mlāyante srajaś caiva te taranti raṇe ripūn

“Di mana para prajurit bersuara riang dan berhati teguh, untaian bunga tak layu—mereka menyeberangi medan dan menaklukkan lawan.”


MB 6.4.22 iṣṭo vātaḥ praviṣṭasya dakṣiṇā pravivikṣataḥ, paścāt saṃsādhayaty arthaṃ purastāt pratiṣedhate

“Angin yang menyenangkan dari kanan menyertai pasukan yang maju; yang datang dari depan menghalangi, yang dari belakang justru menyempurnakan tujuan.”


MB 6.4.23 śabdarūparasasparśagandhāś cāviṣkṛtāḥ śubhāḥ, sadā yodhāś ca hṛṣṭāś ca yeṣāṃ teṣāṃ dhruvaṃ jayaḥ

“Bila bunyi, rupa, rasa, sentuhan, dan aroma tampak baik dan jelas, dan para prajurit selalu gembira—kemenangan pasti bagi mereka.”


MB 6.4.24 anv eva vāyavo vānti tathābhrāṇi vayāṃsi ca, anuplavante meghāś ca tathaivendradhanūṃṣi ca

“Angin, awan, burung-burung, hujan, bahkan pelangi, mengikuti mereka yang akan menang.”


MB 6.4.25 etāni jayamānānāṃ lakṣaṇāni viśāṃ pate, bhavanti viparītāni mumūrṣūṇāṃ janādhipa

“Itulah tanda-tanda kemenangan, wahai raja; bagi mereka yang akan binasa, tanda-tanda itu muncul terbalik.”


MB 6.4.26 alpāyāṃ vā mahatyāṃ vā senāyām iti niścitam, harṣo yodhagaṇasyaikaṃ jayalakṣaṇam ucyate

“Baik pasukan kecil maupun besar, satu tanda kemenangan yang pasti adalah kegembiraan para prajurit.”


MB 6.4.27 eko dīrṇo dārayati senāṃ sumahatīm api, taṃ dīrṇam anudīryante yodhāḥ śūratamā api

“Satu celah kecil saja dapat merobek pasukan yang amat besar; dan para prajurit paling berani pun akan mengikuti keretakan itu.”


MB 6.4.28 durnivāratamā caiva prabhagnā mahatī camūḥ, apām iva mahāvegas trastā mṛgagaṇā iva

“Pasukan besar yang telah pecah sukar dihentikan; ia mengalir deras seperti air bah, lari ketakutan seperti kawanan rusa.”


MB 6.4.29 naiva śakyā samādhātuṃ saṃnipāte mahācamūḥ, dīrṇā ity eva dīryante yodhāḥ śūratamā api, bhītān bhagnāṃś ca saṃprekṣya bhayaṃ bhūyo vivardhate

“Di tengah pertempuran, pasukan yang telah retak tak bisa dipulihkan; melihat yang gentar dan tercerai-berai, ketakutan pun berlipat ganda.”


MB 6.4.30 prabhagnā sahasā rājan diśo vibhrāmitā paraiḥ, naiva sthāpayituṃ śakyā śūrair api mahācamūḥ

“Bila pasukan tercerai tiba-tiba dan tercerabut ke segala arah, tak seorang pahlawan pun mampu menegakkannya kembali.”


MB 6.4.31 saṃbhṛtya mahatīṃ senāṃ caturaṅgāṃ mahīpatiḥ, upāyapūrvaṃ medhāvī yateta satatotthitaḥ

“Karena itu, raja bijaksana hendaknya memimpin pasukan empat unsur dengan siasat dan kesiagaan.”


MB 6.4.31* śaknoti na samādhātuṃ dīrṇām indrasamo yudhi

“Bahkan yang setara Indra dalam perang tak sanggup merapikan pasukan yang telah pecah.”


MB 6.4.32 upāyavijayaṃ śreṣṭham āhur bhedena madhyamam, jaghanya eṣa vijayo yo yuddhena viśāṃ pate, mahādoṣaḥ saṃnipātas tato vyaṅgaḥ sa ucyate

“Kemenangan melalui siasat adalah yang utama, melalui perpecahan adalah menengah; yang terendah ialah kemenangan lewat perang langsung—karena pertempuran massal penuh cacat dan melahirkan kehancuran.”


MB 6.4.32* paraspareṇa saṃdṛṣṭā surair api mahācamūḥ, naiva sthāpayituṃ śakyā prabhagnā bhayavihvalā

“Pasukan besar yang tercerai dan diliputi ketakutan, bahkan para dewa pun tak mampu menegakkannya kembali.”


MB 6.4.33 parasparajñāḥ saṃhṛṣṭā vyavadhūtāḥ suniścitāḥ, pañcāśad api ye śūrā mathnanti mahatīṃ camūm, atha vā pañca ṣaṭ sapta vijayanty anivartinaḥ

“Lima puluh pahlawan yang saling mengenal dan bersemangat dapat menghancurkan pasukan besar; bahkan lima, enam, atau tujuh dapat menang bila tak gentar.”


MB 6.4.34 na vainateyo garuḍaḥ praśaṃsati mahājanam, dṛṣṭvā suparṇopacitiṃ mahatīm api bhārata

“Garuda pun tak memuji kerumunan besar hanya karena jumlahnya, wahai Bhārata, meski tampak mengesankan.”


MB 6.4.35 na bāhulyena senāyā jayo bhavati bhārata, adhruvo hi jayo nāma daivaṃ cātra parāyaṇam, jayanto hy api saṃgrāme kṣayavanto bhavanty uta

“Kemenangan tidak lahir dari banyaknya pasukan; ia tak pernah pasti. Takdirlah sandaran terakhir—bahkan yang menang pun kerap menuai kehancuran.”