Google+

Paket Dua Buku: Jalan Belajar yang Tidak Melompat, Tidak Tersesat

Paket Dua Buku:

Jalan Belajar yang Tidak Melompat, Tidak Tersesat

Belajar ilmu tradisi tidak sama dengan mengumpulkan pengetahuan.
Ia adalah proses pendewasaan, bukan perlombaan.

Karena itu, paket dua buku ini disusun bukan untuk dibaca cepat, tetapi untuk dijalani bertahap—sesuai irama tubuh, pikiran, dan rasa.


Langkah Pertama: Tenung & Usadha — Mengenal Diri Sebelum Mengubah Hidup

Setiap perjalanan yang benar selalu dimulai dari mengenal diri sendiri.
Di sinilah Tenung & Usadha mengambil peran.

Buku ini menuntun pembaca memahami:

  • potensi diri melalui weton, wewaran, dan numerologi,
  • karakter bawaan, kecenderungan hidup, dan dinamika relasi,
  • dasar ilmu energi, vibrasi, napas, dan kesadaran tubuh,
  • praktik usadha energi dan meditasi dasar secara aman dan bertahap.

Tenung di sini bukan alat menakut-nakuti masa depan, melainkan cermin untuk membaca kecenderungan hidup.
Usadha bukan janji kesembuhan instan, melainkan latihan membangun kepekaan dan keseimbangan.

Tahap ini penting, karena tanpa pengalaman langsung, ilmu hanya akan tinggal sebagai konsep. Buku ini menyiapkan pembaca agar mengerti sebelum mempraktikkan, dan merasakan sebelum melangkah lebih jauh.


Langkah Kedua: Punggung Tiwas — Memasuki Kedalaman Keilmuan

Setelah pembaca:

  • memahami potensi dan pola hidupnya,
  • terbiasa membaca tanda-tanda kehidupan,
  • dan memiliki pengalaman dasar dalam praktik energi,

barulah Punggung Tiwas: Ratuning Usadha layak dipelajari.

Inilah wilayah keilmuan yang lebih dalam.
Tubuh tidak lagi dipahami sekadar sebagai wadah energi, tetapi sebagai medan kesadaran. Penyembuhan tidak berhenti pada keseimbangan, melainkan diarahkan sebagai laku Dharma—jalan pengenalan diri menuju makna hidup yang lebih luas.

Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, buku ini menyajikan:

  • filsafat kesadaran dan tubuh secara mendalam,
  • alih aksara lontar Punggung Tiwas lengkap: aksara Bali, romanisasi, dan terjemahan bahasa Indonesia,
  • pemetaan bayu, idep, dan sabda sebagai struktur kehidupan,
  • serta bonus ilmu energi sebagai jembatan agar pembaca dapat mempraktikkan isi lontar dengan sikap yang benar.

Punggung Tiwas tidak ditujukan untuk pemula yang terburu-buru.
Ia ditujukan bagi mereka yang sudah siap berpikir lebih jernih dan melangkah lebih dalam.


Mengapa Harus Dibaca sebagai Paket?

Karena ilmu tidak berdiri sendiri.

  • Tenung & Usadha mengajarkan cara membaca hidup.
  • Punggung Tiwas mengajarkan cara memahami keberadaan.

Yang satu menata arah, yang lain menata kedalaman.
Dibaca berurutan, keduanya membentuk jalan belajar yang utuh, aman, dan bertanggung jawab—tanpa melompati tahapan, tanpa kehilangan pijakan.

Ini bukan paket buku untuk mencari kesaktian.
Ini paket buku untuk mereka yang ingin belajar dengan tenang, matang, dan berakar.



📚 Tersedia Paket Dua Buku:

  • Tenung & Usadha
  • Punggung Tiwas: Ratuning Usadha (400+ halaman, filsafat, alih aksara lontar, bonus ilmu energi)

📩 Pemesanan langsung melalui WhatsApp:

Satu pesan kecil bisa menjadi langkah awal menuju pemahaman yang lebih jernih.
Ilmu yang baik tidak mengajak tergesa—ia mengajak bertumbuh.

Paket Belajar Berjenjang: Dari Membaca Potensi Diri hingga Memahami Kesadaran Terdalam

Paket Belajar Berjenjang:

Dari Membaca Potensi Diri hingga Memahami Kesadaran Terdalam


Dalam tradisi Bali, ilmu tidak pernah diberikan sekaligus. Ia diturunkan bertahap, sesuai kesiapan pikiran, rasa, dan laku seseorang. Melompati tahapan bukan mempercepat kemajuan—justru sering menjadi sumber kebingungan dan kesalahan praktik.

Karena itulah Tenung & Usadha dan Punggung Tiwas: Ratuning Usadha sebaiknya dipahami sebagai paket belajar berjenjang, bukan dua buku yang dibaca secara acak.


Tahap Pertama:
Tenung & Usadha — Mengenal Diri dan Membaca Kehidupan

Perjalanan belajar dimulai dari Tenung & Usadha.
Buku ini berfungsi sebagai fondasi awal untuk memahami diri sendiri dan kehidupan yang dijalani.

Di tahap ini, pembaca belajar:

  • menghitung dan membaca potensi diri melalui weton, wewaran, dan numerologi,
  • memahami karakter bawaan, kecenderungan hidup, serta relasi sosial,
  • mengenal dasar ilmu energi, vibrasi, napas, dan kesadaran tubuh,
  • mempraktikkan teknik usadha energi dan meditasi dasar secara bertahap.

Tenung di sini bukan ramalan kosong, melainkan alat analisis diri dan waktu. Usadha bukan klaim penyembuhan instan, tetapi latihan membangun kepekaan rasa, fokus, dan keseimbangan energi. Tahap ini sangat penting agar pembelajar memiliki pijakan praktis dan pengalaman langsung, bukan sekadar teori.

Tanpa tahap ini, banyak orang tergoda masuk ke ajaran yang lebih dalam tanpa kesiapan—dan akhirnya hanya memahami istilah, bukan makna.


Tahap Kedua:
Punggung Tiwas — Memasuki Keilmuan yang Lebih Mendalam

Setelah pembaca:

  • memahami potensi dirinya,
  • terbiasa membaca tanda kehidupan,
  • dan sudah mampu mempraktikkan dasar tenung serta usadha energi,

barulah Punggung Tiwas: Ratuning Usadha menjadi relevan untuk dipelajari.

Punggung Tiwas bukan pengantar. Ia adalah keilmuan tingkat lanjut.
Di sinilah tubuh tidak lagi dibaca sekadar sebagai objek energi, tetapi sebagai medan kesadaran. Penyembuhan tidak lagi berhenti pada keseimbangan, tetapi diarahkan sebagai laku Dharma dan jalan menuju pemahaman puruṣa.

Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, buku ini memuat:

  1. filsafat kesadaran dan tubuh secara mendalam,
  2. alih aksara lontar Punggung Tiwas lengkap (aksara Bali, romanisasi, terjemahan bahasa Indonesia),
  3. pemetaan bayu, idep, sabda sebagai struktur hidup,
  4. serta bonus ilmu energi untuk menjembatani pembaca agar praktik lontar tidak dilakukan secara serampangan.

Tanpa pengalaman dari tahap pertama, Punggung Tiwas mudah disalahpahami sebagai konsep abstrak atau bahkan disakralkan secara keliru. Dengan fondasi yang matang, buku ini justru menjadi peta laku yang jernih dan bertanggung jawab.


Mengapa Harus Berjenjang?

  1. Tenung & Usadha melatih membaca kehidupan
  2. Punggung Tiwas melatih memahami keberadaan

Yang satu menata arah hidup, yang lain menata kedalaman kesadaran.
Dibaca berurutan, keduanya membentuk jalur belajar yang utuh—tidak tergesa, tidak liar, dan tidak menyesatkan.

Ini bukan paket buku untuk mencari kesaktian.
Ini paket buku untuk membangun pemahaman yang matang dan tahan uji.



📚 Tersedia Paket Buku Berjenjang:

  1. Tenung & Usadha — fondasi membaca potensi diri dan dasar ilmu energi
  2. Punggung Tiwas: Ratuning Usadha — keilmuan mendalam (400+ halaman, filsafat, alih aksara lontar, bonus ilmu energi)

📩 Pemesanan langsung melalui WhatsApp:

Mulailah dari fondasi yang benar. Ilmu yang baik tidak membuat Anda terburu-buru—ia membuat langkah Anda semakin mantap.

Tenung & Usadha dan Punggung Tiwas: Dua Gerbang, Satu Jalan Kesadaran

Tenung & Usadha dan Punggung Tiwas:

Dua Gerbang, Satu Jalan Kesadaran

Dalam tradisi Bali, ilmu tidak pernah berdiri tunggal. Ia selalu berlapis, bertahap, dan saling menopang. Karena itu, memahami Tenung & Usadha tanpa Punggung Tiwas, atau sebaliknya, sering kali membuat seseorang pincang dalam membaca dan mempraktikkan ajaran.

Kedua buku ini bukan pesaing. Mereka adalah dua gerbang berbeda dalam satu jalan yang sama.


Tenung & Usadha:
Membaca Waktu dan Kehidupan

Buku Tenung & Usadha berfungsi sebagai alat baca dunia.
Ia mengajarkan bagaimana manusia hidup di dalam waktu, siklus, dan kecenderungan yang membentuk perjalanan hidupnya.

Di dalamnya, pembaca diajak memahami:

  • weton, wewaran, wuku, sasih, dan hierarki waktu,
  • karakter kelahiran dan relasi sosial,
  • metode membaca tanda kehidupan, konflik, dan penyakit,
  • hingga teknik penyembuhan holistik berbasis energi, napas, dan meditasi dasar.

Tenung di sini tidak diposisikan sebagai ilmu gaib, tetapi sebagai kemampuan analisis potensi dan kecenderungan hidup. Ia membantu praktisi memahami kapan, mengapa, dan bagaimana suatu peristiwa muncul.

Namun Tenung & Usadha bekerja terutama pada lapisan fenomenal:
kehidupan sehari-hari, masalah sosial, psikologis, kesehatan, dan keseimbangan energi.


Punggung Tiwas:
Membaca Tubuh sebagai Kesadaran

Jika Tenung & Usadha membaca waktu dan kehidupan, maka Punggung Tiwas: Ratuning Usadha membaca manusia itu sendiri.

Punggung Tiwas tidak fokus pada ramalan atau terapi lahiriah. Ia bekerja pada lapisan terdalam:
tubuh sebagai medan aksara, kesadaran sebagai inti penyembuhan, dan puruṣa sebagai tujuan laku.

Di dalam buku ini, pembaca menemukan:

  • fondasi filsafat kesadaran dan tubuh,
  • alih aksara lontar Punggung Tiwas lengkap: aksara Bali, romanisasi, dan terjemahan bahasa Indonesia,
  • pemetaan bayu, idep, sabda sebagai struktur hidup,
  • serta bonus ilmu energi untuk menjembatani pemula agar dapat mulai mempraktikkan isi lontar dengan aman dan bertahap.

Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, Punggung Tiwas bukan buku cepat. Ia adalah fondasi berpikir dan bersikap, agar praktik tidak menjadi liar, dan ilmu tidak jatuh menjadi alat ego.


Perbedaan Level, Bukan Pertentangan

Secara sederhana:

  • Tenung & Usadha membantu seseorang membaca hidupnya di dunia,
  • Punggung Tiwas membantu seseorang memahami dirinya sebagai kesadaran.

Tenung tanpa Punggung Tiwas berisiko menjadi teknis dan reaktif.
Punggung Tiwas tanpa Tenung sering menjadi terlalu abstrak bagi pemula.

Dibaca bersama, keduanya membentuk jalur belajar yang utuh:
mulai dari membaca waktu dan gejala, lalu beranjak menuju pemahaman tubuh, kesadaran, dan laku Dharma.


Untuk Siapa Paket Buku Ini?

Paket ini sangat tepat bagi:

  • pembelajar usadha dan tenung yang ingin dasar yang rapi,
  • praktisi energi yang ingin pijakan filosofis dan etis,
  • pencari jalan batin yang sadar bahwa praktik harus didahului pemahaman.

Ini bukan paket buku untuk pamer ilmu.
Ini paket buku untuk membangun fondasi yang tidak mudah runtuh.



📚 Tersedia Buku:

  • Tenung & Usadha (400+ halaman, ramal nasib dan terai energi)

  • Punggung Tiwas: Ratuning Usadha (400+ halaman, filsafat, alih aksara lontar, bonus ilmu energi)

📩 Pemesanan langsung melalui WhatsApp:
0812-9996-9973

Satu pesan sederhana bisa menjadi awal perjalanan belajar yang lebih jernih, terarah, dan bertanggung jawab.

Tenung dan Usadha

Tenung dan Usadha

Identitas & Posisi Buku

Judul: Tenung dan Usadha: Mengungkap Rahasia Waktu, Pengobatan, dan Transformasi Kehidupan
Penulis: I Wayan B. Mahendra
Halaman: >400 halaman
Terbit: Cetakan I (2024), Cetakan II (2025)
Buku ini secara eksplisit diposisikan sebagai pengantar sistematis untuk memahami tenung (peramalan/analisis waktu & potensi) dan usadha (penyembuhan holistik), dengan orientasi praktis namun tetap filosofis



Kerangka Besar Isi
Buku Tenung & Usadha


1) Landasan Filsafat & Etika

Bagian awal menanamkan dasar karma, dharma, dan kesadaran diri, dengan kutipan Upaniṣad dan Bhagavad Gītā untuk menegaskan bahwa tenung dan usadha tidak berdiri di luar hukum moral. Penekanan kuat: hasil lahir dari tindakan, bukan dari klaim magis

Makna pentingnya:
Tenung diposisikan sebagai alat membaca kecenderungan, bukan alat menakuti atau menghakimi nasib.


2) Definisi Tenung (Diluruskan Sejak Awal)

Buku ini secara tegas menyatakan:

Tenung tidak selalu berhubungan dengan hal-hal gaib, mistis, atau kawisesan.

Tenung dijelaskan sebagai kemampuan analitis berbasis angka, waktu, tanda tubuh, dan respons psikis, sehingga ia dekat dengan numerologi dan psikologi simbolik, bukan perdukunan hitam


3) Sistem Weton & Wewaran (Local Genius Bali)

Bagian terbesar buku jilid awal membahas Weton, Wewaran, Wuku, Sasih, Dawuh, hingga Triodasa Saksi.
Strukturnya jelas:

  • Ekawara hingga Dasawara
  • Pancawara & Saptawara
  • Wuku sebagai siklus besar
  • Prinsip hierarki waktu: wewaran < wuku < sasih < dawuh < Triodasa Saksi 

Ini bukan sekadar hitungan hari, tetapi cara membaca kualitas waktu.


4) Karakter Pancawara, Saptawara hingga Wuku

Setiap hari kelahiran (Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon; Redite–Saniscara) dibahas lengkap:

  • Dewa naungan
  • Unsur (bayu, teja, apah, pertiwi, akasa)
  • Karakter psikologis
  • Potensi konflik dan kelebihan

Ini menjadikan tenung sebagai alat membaca karakter dan relasi sosial, bukan hanya ramalan nasib.


5) Metode Analisis Kasus

Buku ini tidak berhenti di teori. Ada:

  • Metode 1–5 analisis tenung
  • Contoh kasus nyata
  • Cara membaca tanda “buruk” (sakit, konflik, kegagalan) tanpa jatuh ke tafsir fatalistik

Penulis berulang kali mengingatkan: salah tafsir lebih berbahaya daripada tidak menenung.


6) Integrasi Numerologi Modern

Menariknya, buku ini tidak anti-metode luar.
Numerologi Pythagoras dipakai sebagai pembanding, bukan pengganti sistem Bali.
Disertakan:

  • Makna angka 1–9
  • Kombinasi angka nama & tanggal lahir
  • Formasi angka khusus (isolasi, deret, dominan)
  • Contoh kasus konkret

Ini menunjukkan sikap inklusif tapi terkontrol.


7) Bagian Usadha & Penyembuhan Holistik

Masuk ke jilid berikutnya, fokus bergeser ke penyembuhan:

  • Energi, vibrasi, frekuensi
  • Hukum tarik-menarik (law of attraction) dalam kerangka etis
  • Pikiran, emosi, dan tubuh sebagai satu sistem

8) Sistem Chakra, Nadi, & Mantra

Bagian ini sangat teknis dan padat:

  • Muladhara hingga Sahasrara
  • Nadi Ida–Pingala–Sushumna
  • Bija mantra
  • Mudra
  • Petunjuk meditasi bertahap

Penulis memberi peringatan keras: tidak semua latihan boleh dilompati, terutama bagi pemula


9) BONUS Praktik Energi

Disediakan bagian bonus:

  • Teknik napas Kundalini dasar
  • Metode Rasa & Visual
  • Penanganan abreaksi/kerasukan
  • Catatan etis dan batas latihan

Ini jelas dimaksudkan sebagai jembatan praktis, bukan klaim kesempurnaan spiritual



Kesimpulan isi BUKU TENUNG dan USADHA

Buku Tenung dan Usadha adalah:

  • Buku sistem, bukan buku mantra cepat
  • Pengantar serius, bukan klaim kawisesan
  • Alat membaca kehidupan, bukan penentu nasib

Ia sangat cocok sebagai fondasi awal sebelum pembaca:

  • mendalami lontar tenung Bali,
  • mempelajari usadha tingkat lanjut,
  • atau masuk ke praktik energi dengan disiplin.


📩 Pemesanan buku Tenung dan Usadha

langsung melalui WhatsApp: 0812-9996-9973

Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal untuk belajar dengan cara yang benar: tidak tergesa, tidak sembarangan, tetapi berakar, bertanggung jawab, dan setia pada kedalaman tradisi.


Sebelum Membaca Lontar Usadha, Bacalah Buku Ini

Sebelum Membaca Lontar Usadha,
Bacalah Buku Ini

Banyak orang ingin langsung membaca lontar. Lebih sedikit lagi yang berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah cara berpikirku sudah siap?”
Padahal, dalam tradisi usadha dan kawisesan Bali, kesalahan paling awal bukan terletak pada praktik—melainkan pada cara memahami.

Punggung Tiwas: Ratuning Usadha ditulis justru untuk mengisi ruang yang sering terlewat itu. Buku ini tidak menggantikan lontar, tidak pula mengklaim diri sebagai ajaran rahasia. Perannya lebih mendasar: menyiapkan pembacanya—secara intelektual, etis, dan batiniah—agar tidak salah langkah ketika memasuki wilayah usadha, tenung, dan kawisesan.

Di dalam buku ini, tubuh tidak diperlakukan sebagai objek sakit–sehat semata, melainkan sebagai altar kesadaran. Penyembuhan tidak dipahami sebagai sekadar penghilangan gejala, tetapi sebagai penyelarasan hidup—antara bayu, idep, sabda, dan makna keberadaan. Tradisi pun tidak dibekukan menjadi dogma, melainkan dibaca dengan sikap hormat, kritis, dan bertanggung jawab.

Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, buku ini disusun sebagai fondasi yang utuh dan berlapis. Isinya mencakup:

  • materi filsafat tentang kesadaran, puruṣa, tubuh, dan penyembuhan sebagai jalan Dharma,
  • alih aksara lontar Punggung Tiwas yang disajikan lengkap: aksara Bali, romanisasi, dan terjemahan dalam bahasa Indonesia,
  • serta bonus ilmu energi yang dirancang sebagai jembatan bagi pemula, agar pembaca modern memiliki sarana penataan napas, rasa, dan fokus sebelum mencoba memahami serta mempraktikkan isi lontar Punggung Tiwas secara bertanggung jawab.

Bagian ilmu energi ini bukan klaim ajaran asli lontar, melainkan perangkat pendamping—agar pembaca tidak terjebak pada hafalan teks atau imajinasi spiritual, tetapi benar-benar memiliki kesiapan batin. Dengan cara ini, lontar tidak diperlakukan sebagai formula instan, melainkan sebagai ajaran yang dihayati perlahan dan matang.

Karena itu, buku ini sangat tepat dibaca:

  • sebelum mendalami lontar usadha dan tenung,
  • sebelum belajar praktik penyembuhan non-ramuan,
  • sebelum merasa diri “sudah mengerti” tradisi Bali.

Ia bukan buku yang membuat Anda merasa sakti.
Ia buku yang membuat Anda lebih hati-hati, lebih jernih, dan lebih dewasa.

Dan dalam dunia spiritual, justru itulah kualitas yang paling langka—dan paling dibutuhkan.

📩 Pemesanan buku Punggung Tiwas: Ratuning Usadha

langsung melalui WhatsApp: 0812-9996-9973

Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal untuk belajar dengan cara yang benar: tidak tergesa, tidak sembarangan, tetapi berakar, bertanggung jawab, dan setia pada kedalaman tradisi.

Bukan Manual Kesaktian: Mengapa Punggung Tiwas Perlu Dibaca dengan Dewasa

Bukan Manual Kesaktian: 

Mengapa Punggung Tiwas Perlu Dibaca dengan Dewasa

Banyak orang mendekati dunia spiritual dengan satu harapan: hasil cepat. Ingin segera bisa mempraktikkan, ingin segera merasakan “daya”, ingin segera melihat bukti. Punggung Tiwas: Ratuning Usadha justru berdiri berseberangan dengan cara berpikir semacam itu—dan melakukannya dengan sadar sejak halaman pertama.

Buku ini secara tegas menyatakan dirinya bukan manual pengobatan, bukan buku legitimasi kesaktian, dan bukan pula pengganti otoritas balian, sulinggih, atau tenaga medis. Penegasan ini bukan bentuk penyangkalan terhadap tradisi, melainkan perlindungan terhadap tradisi itu sendiri. Tradisi tidak dijaga dengan sensasi, tetapi dengan kejernihan sikap dan kedewasaan berpikir.

Di dalam buku ini, Punggung Tiwas tidak diposisikan sebagai teknik instan, melainkan sebagai peta kesadaran. Tubuh dibaca sebagai medan aksara, penyakit dipahami sebagai ketidakseimbangan makna hidup, dan penyembuhan ditempatkan sebagai laku Dharma—jalan panjang yang menuntun manusia bukan hanya menuju sehat, tetapi menuju pemahaman diri dan Mokṣa.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada alih aksara lontar Punggung Tiwas yang disajikan secara serius dan bertanggung jawab. Teks lontar ditampilkan lengkap dalam aksara Bali, disertai romanisasi, serta terjemahan dalam bahasa Indonesia, sehingga pembaca tidak hanya “mengutip”, tetapi benar-benar memahami isi ajaran dari sumbernya. Pendekatan ini dilakukan dengan sikap filologis yang jujur: sadar akan sifat simbolik bahasa lontar, terbuka untuk kajian ulang, dan tidak memaksakan satu tafsir tunggal.

Lebih dari itu, buku ini tidak berhenti pada pemaparan filsafat dan teks. Di dalamnya juga disertakan pengembangan ilmu energi sebagai bonus, yang secara khusus dirancang untuk menjembatani pembaca pemula. Bagian ini bukan klaim ajaran asli lontar, melainkan sarana pendamping—agar pembaca yang belum hidup dalam laku tradisi tetap memiliki alat penataan napas, rasa, dan kesadaran, sebelum mencoba memahami dan mempraktikkan isi lontar Punggung Tiwas secara bertanggung jawab.

Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, buku ini memuat:

  • fondasi filsafat kesadaran dan puruṣa,
  • pemetaan usadha Bali dan struktur aksara,
  • alih aksara lontar lengkap (aksara Bali, romanisasi, terjemahan Indonesia),
  • serta bonus ilmu energi sebagai jembatan awal bagi pembaca modern.

Buku ini sangat relevan bagi:

  • praktisi usadha yang ingin memperdalam dasar filosofisnya,
  • peneliti dan pemerhati spiritualitas Bali,
  • serta pencari jalan batin yang sadar bahwa berpikir jernih harus mendahului berpraktik.

Jika Anda mencari jalan pintas, buku ini bukan untuk Anda.
Namun jika Anda mencari fondasi yang kokoh, jujur, dan tidak menyesatkan, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha adalah bacaan yang layak dimiliki dan dipelajari perlahan.

📩 Pemesanan buku dapat dilakukan langsung melalui WhatsApp:

Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal untuk memahami Punggung Tiwas dengan cara yang benar—bukan tergesa, bukan sembrono, tetapi berakar, jernih, dan bertanggung jawab.

Punggung Tiwas: Ratuning Usadha, Jalan Sunyi Penyembuhan Bali

Punggung Tiwas: Ratuning Usadha

Jalan Sunyi Penyembuhan Bali

Di tengah maraknya praktik spiritual instan dan klaim kesaktian tanpa dasar, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha hadir sebagai buku yang mengambil jalur berbeda: tenang, jujur, dan berakar kuat pada tradisi intelektual Bali.

Punggung Tiwas bukan sekadar teknik pengobatan. Ia adalah jalan kesadaran, sebuah ajaran usadha Bali yang dengan sadar menanggalkan ketergantungan pada sarana lahiriah, lalu kembali ke inti manusia itu sendiri: bayu, idep, dan sabda. Kesederhanaan ini bukan tanda kemiskinan ajaran, melainkan disiplin batin—latihan untuk tidak bergantung pada alat, ramuan, atau simbol kosong, melainkan pada kejernihan kesadaran yang terlatih.

Karena itulah Punggung Tiwas disebut Ratuning Usadha. Bukan karena ia mengklaim diri paling ampuh, tetapi karena ia berdiri pada lapisan paling dalam dari penyembuhan: pemahaman tentang tubuh sebagai medan kesadaran, bukan sekadar objek sakit dan sembuh.

Buku ini dengan tegas tidak menjanjikan kesaktian. Ia justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar dan langka: cara membaca ajaran tradisi dengan jernih dan bertanggung jawab. Pembaca diajak membedakan dengan jelas antara teks lontar, tafsir penulis, dan pengembangan kontemporer—agar tradisi tidak disalahgunakan, dan modernitas tidak kehilangan arah.

Di dalamnya, Dasa Aksara, Dasa Bayu, Pañca Brahma, Tri Nāḍī, hingga filsafat puruṣa dibahas bukan sebagai simbol magis untuk dipamerkan, melainkan sebagai struktur kesadaran yang hidup dalam tubuh manusia. Dari titik inilah usadha dipahami bukan sekadar pengobatan, tetapi laku Dharma yang menopang jalan menuju Mokṣa.

Bagi siapa pun yang ingin memahami usadha Bali secara serius—bukan sebagai folklor, bukan sebagai jalan pintas, melainkan sebagai sistem pemikiran dan laku batin yang matang—buku ini adalah gerbang awal yang kokoh. Ia menyiapkan cara berpikir, cara membaca, dan cara bersikap, sebelum seseorang melangkah lebih jauh ke dunia lontar dan praktik.

Jika Anda merasa sudah saatnya belajar dengan lebih jernih, lebih hati-hati, dan lebih bertanggung jawab, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha layak berada di rak buku Anda.

📩 Pemesanan buku dapat dilakukan langsung melalui WhatsApp:

Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal menuju pemahaman yang lebih dalam. Buku ini tidak menjanjikan perubahan instan—tetapi menawarkan fondasi yang tidak mudah runtuh.

Syarat menjadi Balian (paranormal di Bali)

 

 Syarat menjadi Balian (paranormal di Bali)

Balian adalah dukun tradisional Bali—seorang penyembuh yang bekerja pada persimpangan tubuh, jiwa, dan kosmos, bukan sekadar pada gejala fisik. Ia menangani sakit sebagai ketidakseimbangan—antara raga (sekala) dan niskala—lalu memulihkannya lewat usada (pengetahuan pengobatan), mantrarerajahan (rajah), tumbuhan obat, dan ritus. Keabsahannya tidak datang dari ijazah, melainkan dari taksu (otoritas spiritual) yang diperoleh melalui garis keturunan, pawisik (wahyu), laku tapa, atau pengalaman krisis.

Dalam tradisi Bali, istilah balian tidak lahir sebagai label profesi, melainkan sebagai penanda peran dalam jalinan kosmis manusia–alam–kesadaran. Secara etimologis, balian berakar dari dua unsur: balya-n yang berarti kekuatan, dan vali-an yang menunjuk pada ritus atau yadnya.  

Tugas balian, dalam kerangka ini, melampaui tindakan terapeutik. Ia membaca sakit sebagai ketidakseimbangan makna—retaknya relasi antara tubuh, batin, leluhur, dan kosmos—lalu menjahitnya kembali. Penyembuhan adalah yajña etis: welas asih yang menata ulang kehidupan agar kembali selaras. Karena itu, balian tidak hanya “mengobati”, tetapi menjaga: menjaga tatanan batin pasien, menjaga etika laku, dan menjaga agar pengetahuan tidak jatuh menjadi teknik instan.

Dari akar balya–vali, tugas balian menjadi jelas: menjaga dan memulihkan keseimbangan hidup. Penyakit dibaca sebagai tanda ketidakharmonisan—antara tubuh, kesadaran, leluhur, dan kosmos. Tugas balian adalah membaca pola itu, lalu menatanya kembali melalui laku yang tepat.

Karena itu, balian bekerja:

  • bukan hanya pada tubuh,
  • bukan hanya pada batin,
  • tetapi pada makna hidup yang terganggu.

Di titik ini, penyembuhan adalah Dharma, dan laku balian adalah jalan kesadaran.

Punggung Tiwas juga menempatkan balian sebagai pelaku ngredana—pemujaan batin—di mana tubuh dipahami sebagai altar, aksara sebagai struktur kesadaran, dan idep sebagai daya arah. Pada tingkat tertentu, diagnosis dan terapi dapat berlangsung tanpa sentuhan dan tanpa obat, karena yang disentuh adalah akar kesadaran itu sendiri. Namun ini bukan jalan pintas; ia menuntut disiplin panjang dan etika ketat.

Karena balian memiliki banyak jenis—usadha, tenung, panglukatan, kawisesan, dan lainnya—fondasi bersama menjadi keharusan sebelum penjurusan. Untuk pemula, kompetensi minimal yang wajib dimiliki adalah:

  1. Literasi Teks Tradisi
    Membaca dan memahami lontar tenung dan lontar usadha sebagai dasar membaca sebab sakit dan pola gangguan. Ini bukan hafalan, melainkan pemahaman simbolik dan kontekstual.

  2. Fondasi Kesadaran (Bayu–Idep–Sabda)
    Punggung Tiwas menuntut kemampuan menata napas batin (bayu), fokus dan niat (idep), serta getaran makna (sabda). Tanpa fondasi ini, praktik mudah tergelincir menjadi sugesti atau klaim.

  3. Etika Laku (Dasa Śīla)
    Penyembuhan tanpa etika melahirkan penyimpangan. Disiplin batin, kejujuran, welas asih, dan tanggung jawab adalah prasyarat, bukan pelengkap.

  4. Kemampuan Membaca Batas
    Mengetahui kapan tidak bertindak, kapan merujuk, dan kapan berhenti. Punggung Tiwas menolak mentalitas demonstratif; kematangan diukur dari ketepatan, bukan sensasi.

  5. Kerendahan Metodologis
    Menyadari bahwa teks bersifat simbolik dan tafsir bersifat tentatif. Pengetahuan hidup melalui laku dan pembuktian, bukan klaim final

Ajaran Punggung Tiwas menegaskan satu hal yang sering dilupakan dalam dunia spiritual dan kebatinan: kawisesan tidak lahir dari mantra, tetapi dari fondasi kesadaran. Mantra hanyalah sabda; tanpa idep yang tertata dan bayu yang matang, ia tidak memiliki daya kerja. Kekuatan tidak tumbuh dari keinginan akan kesaktian, melainkan dari laku yang benar dan bertahap.

Karena itu, bagi siapa pun yang ingin belajar kawisesan, atau menapaki jalan sebagai praktisi balian, langkah awal yang paling masuk akal bukanlah langsung mempelajari lontar-lontar tingkat lanjut, bukan pula mengejar tenaga dalam atau ilmu-ilmu sakti paranormal. Jalan yang lebih aman dan jernih adalah membangun fondasi terlebih dahulu.

Fondasi itu minimal bertumpu pada pemahaman ajaran dalam Buku Tnung dan Usadha, serta pendalaman di Buku Punggung Tiwas: Ratuning Usadha. Kedua rujukan ini tidak menawarkan kesaktian instan, tetapi memberikan jalan setapak menuju gerbang kawisesan:
  • menata perbedaan antara idepkonsentrasi, dan imajinasi;
  • melatih kepekaan bayu tanpa ilusi;
  • serta menempatkan sabda sebagai kekuatan makna, bukan sekadar bunyi.

Tanpa fondasi ini, praktik akan mudah tersesat. Mantra tidak bekerja atau bekerja lemah, power terasa tidak stabil, dan pelaku kerap bingung membedakan antara pengalaman batin yang sah dengan sugesti pikiran. Di titik inilah banyak orang terjebak: merasa “bertenaga”, tetapi sesungguhnya rapuh.

Maka, sebelum melangkah lebih jauh ke dunia lontar Bali, sebelum menyentuh wilayah tenaga dalam dan ilmu-ilmu sakti, tegakkan dahulu dasar kesadaran. Di sanalah kawisesan mulai memiliki arah, batas, dan tanggung jawab.

Bagi pembaca yang berminat mempelajari dan memiliki bukunya, baik buku tenung dan usadha maupun Punggung Tiwas: Ratuning Usadha, dapat menghubungi salah satu reseller resmi melalui WhatsApp: 081-299-969-973.

Jalan balian bukan jalan cepat. Ia adalah jalan sunyi yang menuntut fondasi kuat. Dan fondasi itu selalu dimulai dari pemahaman yang benar, sebelum kekuatan apa pun bekerja.

Wayang Kulit Bali Sukawati: Seni Ritual, Kerajinan, dan Sosok Dalang Ketut Darsana

Wayang Kulit Bali Sukawati: Seni Ritual, Kerajinan, dan Sosok Dalang Ketut Darsana


Wayang kulit Bali adalah salah satu mahakarya seni pertunjukan Nusantara yang masih hidup dan berkembang kuat hingga hari ini. Dari berbagai daerah penghasil wayang di Bali, Sukawati, Gianyar, dikenal sebagai pusat ekosistem seni—tempat para seniman, pengerajin wayang kulit Bali, dan para dalang Bali ritual berkumpul serta mewariskan tradisi lintas generasi.
Salah satu sosok yang menonjol adalah Ketut Darsana, maestro muda yang aktif dalam dunia pewayangan baik sebagai dalang maupun pengerajin wayang kulit berkualitas.


Keunikan Wayang Kulit Bali

Wayang kulit Bali memiliki karakter estetika yang berbeda dari Jawa maupun Lombok. Setiap tokoh dibuat dengan detail rumit, garis tegas, dan simbol-simbol sakral yang memuat nilai filosofi Hindu Bali.

Gaya Visual dan Filosofi

• Ukiran halus dan ornamen padat
• Penggunaan pewarnaan natural
• Simbolisme dharma–adharma
• Tokoh-tokoh epik Ramayana & Mahabharata
Bagi masyarakat Bali, wayang bukan sekadar tontonan—tetapi sarana yadnya yang menghadirkan kesucian, pelindung, serta harmoni bagi desa maupun keluarga.


Wayang Kulit Sukawati, Sentra Seni Tradisi

Sukawati sudah dikenal sejak lama sebagai pusat kerajinan Bali. Banyak maestro lahir dari kawasan ini, terutama dari lingkungan banjar-banjar seni.

Sentra Pengerajin Wayang Kulit Bali

Di Sukawati, proses pembuatan wayang kulit dilakukan secara turun-temurun:
• Pemilihan kulit terbaik
• Proses ngukir (melubangi motif)
• Pewarnaan
• Perakitan tangkai
Teknik-teknik tradisional membuat wayang asal Sukawati dikenal berkualitas tinggi, menjadi rujukan para kolektor, peneliti, hingga sesajen ritual.


Wayang Lemah dan Wayang Gedog dalam Tradisi Bali

Dalam dunia pewayangan Bali, terdapat dua jenis pementasan penting:

Wayang Lemah

Wayang yang dipentaskan pagi–siang hari, khusus untuk upacara adat, manusa yadnya, dan pembersihan ruang. Wayang lemah berfungsi sebagai penyelarasan energi dan pelindung niskala.

Wayang Gedog / Gledog

Wayang yang dimainkan pada malam hari dengan alur cerita epik dan dramatik. Biasanya menghadirkan suasana lebih hidup, penuh petuah moral dan hiburan sakral.

Kedua jenis wayang ini tidak hanya seni pertunjukan, tetapi komponen penting upacara agama Hindu Bali.


Profil Ketut Darsana – Dalang dan Pengerajin Wayang Kulit dari Sukawati

Ketut Darsana, atau yang akrab dikenal sebagai Ketut Genduk, berasal dari Banjar Babakan, Desa Sukawati, Gianyar. Rumahnya berada di timur SMPN 1 Sukawati / timur Pura Penataran Dalem Sukawati.

Ia dikenal sebagai:
Pengerajin wayang kulit Bali berkualitas tinggi
Dalang Bali ritual untuk wayang lemah & wayang gedog
• Seniman yang aktif dalam pentas adat dan upacara keagamaan

Pasangannya para pemangku, serati banten, dan keluarga yang membutuhkan upacara pewayangan sering mempercayakan prosesi kepada beliau karena ketelatenan dan sikap ngayah yang kuat.

Keahlian dan Karya

Ketut Darsana mengerjakan:
• Wayang Ramayana & Mahabharata
• Tokoh-tokoh sakral untuk upacara
• Wayang custom untuk koleksi seni
• Pementasan ritual sesuai pakem Sukawati

Setiap karyanya memiliki ciri: presisi, detail padat, dan finishing khas Sukawati.

Kontak Dalang & Pengerajin

Untuk pemesanan wayang, konsultasi, atau jadwal pementasan ritual:
👉 WhatsApp langsung: 089-53946-13112


Mengapa Seniman Sukawati Sangat Dicari?

Ada beberapa alasan mengapa wilayah ini menjadi pusat seni:

  1. Tradisi seni diwariskan dalam keluarga dan banjar

  2. Dekat dengan pasar seni Sukawati dan sentra budaya Gianyar

  3. Banyak dalang besar berasal dari wilayah ini

  4. Kualitas pengerjaan wayang yang sangat rapi dan simetris

  5. Kemampuan seniman menggabungkan fungsi ritual dengan estetika


Pentingnya Dalang Bali Ritual dalam Upacara

Dalam tradisi Bali, dalang bukan sekadar pemain wayang; ia adalah pemimpin spiritual, penutur mantra, dan penjaga kesucian.

Dalang ritual memiliki peran dalam:
• Pembersihan energi keluarga
• Upacara bayi & manusa yadnya
• Piodalan & karya desa adat
• Pelepasan energi negatif secara niskala

Ketut Darsana adalah salah satu dalang yang menjalankan peran ini dengan taat pakem.


Penutup – Wayang Kulit Bali sebagai Warisan yang Tetap Hidup

Wayang kulit Bali bukan hanya tradisi, tetapi napas kebudayaan itu sendiri. Sukawati menjadi pusatnya, tempat para seniman dan dalang menjaga kesinambungan nilai leluhur. Melalui karya dan dedikasinya, Ketut Darsana menjadi salah satu penerus penting dalam menjaga warisan ini tetap hidup, relevan, dan sakral.

Jika Anda mencari pengerajin wayang kulit Bali, seniman Sukawati, atau dalang wayang ritual untuk upacara adat maupun kebutuhan seni, Sukawati—dan sosok Ketut Darsana—adalah rujukan utama.