Google+
Tampilkan postingan dengan label Lontar Gong Besi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lontar Gong Besi. Tampilkan semua postingan

Sekilas tentang Lontar Tutur Gong Besi/Wesi

Sekilas tentang Lontar Tutur Gong Besi

Gong Besi adalah termasuk lontar tutur yang besrifat Siwaistik. Lontar ini tergolong muda dan kemungkinan besar ditulis di Bali.

Ditilik dari isinya, lontar ini isinya lebih dari satu, hal ini  dapat dimengerti karena adanya kebiasaan dari para penyalin lontar memasukan beberapa materi dalam satu lontar sehingga terjadi seperti itu. Pokok-pokok isinya dapat disampaikan sebagai berikut:
  1. Bagian yang berisi Tutur Gong Besi
  2. Menyebutkan bahwasanya Bhatar Dalem patut dipuja dengan penuh bakti.Beliau dapat di-utpeti, stiti dan pralina.Untuk dapat memuja Beliau secara tepat maka terlebih dahulu harus diketahui nama-nama lain dari Beliau, karena Beliau meiliki banyak nama sesuai dengan tempat yang ditempati Beliau.
  3. Bagian yang berisi “Keputusan”
    • Keputusan Sanghyang Wimbayagni. Keputusan ini diajarkan oleh Danghyang Dwijendra kepada Ida Manik Angkeran, terakhir kepada Dewa Sakti di Manoaba.Ilmu ini berguna untuk membakar racun dalam tubuh.Keputusan ini juga disebut Sanghyang Kutyagni.
    • Pangaradan Dewa atau disebut pula Pamatuh Ndewasraya. Ilmu ini berguna untuk menarik Dewa tertentu agar hadir memberikan anugrah.
  4. Bagian yang berisi ajaran Sanghyang Dharmatattwa
  5. Bahwasanya manusia memiliki dua aspek yaitu aspek sakala (nyata) dan aspek niskala (tidak nyata), yang menyebabkan manusia mengalami dua hal yang berbeda seperti baik-buruk, tidur-terjaga, hidup-mati, kesemuanya disertai dengan upacara.Upacara untuk orang hidup disebut “Pradhana Sakala” dan untuk orang mati disebut “Pradhana Niskala”.
    Pengetahuan tentang sakala dan niskala sangat perlu bagi seorang Resi dalam menyelesaikan upacara ngaben.Ia harus bisa menghadirkan atma orang yang diaben, maka itu ia harus mengetahui keluar masuknya tujuh atma dalam badan, sebab kalau tidak demikian akan percumalah upacara tersebut.
  6. Bagian yang mengandung ajaran wariga (Wariga Gemet)
  7. Pada bagian ini disebutkan ada tiga tingkatan upacara yaitu ala, madhya, dan utama.Setiap upacara, apakah itu ala, madhya, dan utama tidak boleh lepas dari perhitungan hari baik yang harus dicari dalam Pncawara, Uku, Tanggal, dan Panglong dalam Wariga. Di sini juga diingatkan bahwa pada setiap akhir pelaksanaan yajnya agar nasi yang digunakan untuk menyucikan dewasa itu disantap oleh yang punya yajna beserta seluruh anggota keluarga karena akan berpahala kerahayuan dan kebahagiaan.
  8. Bagian yang berisi sederetan hari baik dan buruk
  9. x Hari baik atau buruk ditentukan berdasarkan perhitungan pertemuan antara Saptawara dengan Pancawara dan Uku.Hari tidak baik haruslah dihindari untuk melakukan suatu kegiatan atau upacara agama.