Niti Sastra
Awighnam Astu
Sargah I
Cardūla wikridita - - - / o o - / o – o / o o - / - - o / - - o / o //
Niti Sastra Ayat 1
Sêmbahning hulun ing Bhatara Hari sarwajnātma bhuh nityaça,
sang tan seng hrêdayantikta tulisen ngke supraptisthenamer,
ring wahyā stuti sembahing hulun i jöng sang hyang sahasrāngçumān,
dadya prâkrêta nīticāstra hinikêt lambang wināktēng prajā.
Sembah saja kehadapan Betara Hari. Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa selama-lamanya. Karena Beliau selalu bersemayam di dalam hati, disini digambarkan, agar seakan-akan terwujudlah Beliau itu agaknya. Keluar sembah saja tertuju ke bawah duli Sang Hyang Seribu sinar (Betara Surya), supaya isi Nitisastra yang saya karang ini menjadi terkenal oleh semua orang.
Niti Sastra Ayat 2
Ring wwang tan wruha ring subhāsita mapunggung mangraseng sadrasa,
tan wruh pangrasaning sêdah pucang adoh tambūla widyāsêpi.
Yan wwantên mawiweka çāstra nirapeksa byakta monabrata.
Yan wwang mangkana tulyaning rahinikā lwirnyan guwekā hidêp.
Orang yang tidak mengetahui bahasa, tidak bisa berkata tentang rasa yang enam (manis, asam, asin, pedas, pahit dan sepat); orang yang tidak mengetahui rasa sirih dan pinang, jadi orang yang tidak suka makan sirih, tidak berpengathuan pula. Jika berkumpul dengan orang-orang yang membicarakan ilmu pengetahuan, tentu ia tidak akan memperhatikannya, ia akan diam saja seperti orang yang membisu. Orang yang semacam itu pada perasaan saya adalah seperti gua.