Google+
Tampilkan postingan dengan label Pura Kahyangan Jagat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura Kahyangan Jagat. Tampilkan semua postingan

Sejarah Pura Samuantiga

Sejarah Pura Samuantiga

Sejarah pendirian Pura Samuantiga yang bersumber dari data tertulis seperti halnya prasasti, prakempa, purana atau pun babad sampai saat ini belum banyak diketemukan. Minimnya sumber tertulis yang khususnya menguraikan tentang keberadaan Pura Samuantiga mungkin disebabkan berbagai faktor antara lain: panjangnya perjalanan waktu yang telah dilewati sehingga sangat memungkinkan adanya data- data yang hilang. Di samping itu tradisi penulisan segala sesuatu berkaitan dengan keberadaan suatu peristiwa atau pura belum membudaya di masa lalu. Maka tidaklah berlebihan bila dalam menelusuri kembali sejarah pura Samuantiga berbagai sumber data penunjangnya sekecil apapun serta walaupun bersifat fragmentaris masih relevan untuk dikaji.

Sebagai tonggak awal ada baiknya kita simak sejenak isi lontar Tatwa Siwa Purana, khususnya lembar 11 yang berkaitan dengan penyebutan pura Samuantiga antara lain disebutkan :
".......... Samalih sapamadeg idane prabu Candrasangka, mangwangun pura saluwire : Penataran Sasih, Samuantiga, hilen-hilen rikala aci, nampiyog nganten, siyat sampian, sanghyang jaran nglamuk beha, mapalengkungan siyat pajeng, pendet, hane bale pgat, pgat leteh".
Terjemahan bebasnya:
".......... Dan lagi semasa pemerintahan beliau Prabu Candrasangka, membangun pura antara lain : Penataran Sasih, Samuantiga, tari-tarian di saat upacara, nampiyog nganten, siyat sampian, sanghyang jaran menginjak bara, mapalengkungan perang payung (pajeng) pendet dan ada balai pegat penghapus ketidak sucian (leteh)".

Menelaah vibrasi Tanah Bali, Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

Menelaah vibrasi Tanah Bali, Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

PULAU Bali juga disebut sebagai ‘Pulau Seribu Pura’. Pura selain merupakan tempat suci Hindu, juga sebagai “sentra rohani”. 
Apa saja yang melatarbelakangi perkembangannya dan bagaimana sebaiknya konsep rancangan sebuah pura ke depan?
Sumber prasasti kerap menyebut gunung dan bukit sebagai sthana para dewa. zaman dulu, tempat – tempat tinggi di Bali, di hulu atau di tanah bervibrasi suci, orang-orang membuat suatu bangunan peribadatan, meski sederhana dan sifatnya sementara.

Ketika itu tiangnya dibuat dari turus pohon dapdap, dan sebuah ruangan dengan balai-balai dirakit dari bambu untuk tempat meletakkan sajian (sesajen). Bangunan suci jenis ini disebut Turus Lumbung, bermakna kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. 

  • "Turus dapdap" bermakna tameng atau perisai-alat pelindung diri. 
  • lumbung” mengandung makna: ranah penghidupan. 

Bangunan Turus Lumbung ini sifatnya sementara yang lambat laun diganti menjadi bangunan yang lebih permanen.

Pura Payogan Agung dan Pura Agung Giri Jagat Natha - Sukawati

merupakan Pura Kahyangan Jagat yang terletak di Desa Pekraman Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Berdasarkan sumber sumber yang ada diantaranya “Raja Purana Pura Payogan Agung” dan prasasti di Grya Jaya Purna Rangkan Ketewel disebutkan bahwa Pura Payogan Agung merupakan Stana dari Sang Hyang Pasupati dengan gelar Ida Bhatara Hyang Murtining Jagat. Dalam Raja Purana Pura Payogan Agung, tidak satupun menyebut istilah Pura tetapi disebutkan dengan istilah Kahyangan, hal ini menunjukkan bahwa Pura Payogan Agung termasuk salah satu Pura Kuno yang ada di Bali disamping juga dibuktikan dengan adanya situs Purbakala seperti Lingga Yoni, Patung Siwa Maha Dewa dan situs situs lainnya.

Pura Payogan Agung sebelum bernama Pura Payogan Agung yang lumrah seperti sekarang ini, dalam Raja Purana disebutkan dengan berbagai nama diantaranya: Kahyangan Joran Agung, Kahyangan Puseh Joran Agung dan Kahyangan Payogan Siwa Agung. Pura Payogan Agung merupakan Prahyangan yang dibangun oleh Ida Hyang Pasupati dan Para Dewata dari Gunung Semeru sebagai tempat Paruman ketika memerangi I Kala Sunya (dibaca I Kala Sunia).