Google+

Senin, 15 Maret 2010

Karma Phala dan Punarbhawa

Karma Phala dan Punarbhawa 

Kenapa ada orang-orang yang tidak pernah berbuat curang, dusta, korup, amoral atau jahat selama hidupnya, ternyata mengalami nasib sial, hidup sengsara dan ditimpa bermacam-macam  kesusahan, sedangkan banyak orang yang nyanyata-nyata hidup berdosa  malahan hidup makmur, enak, nyaman dan senang?
Inilah yang sering disebut problem of evil.
Ada 2 (dua) teori yang dikemukakan untuk menjawab fakta paradok atau problem of evil ini yaitu:
1. Teori dosa turunan
  • Manusia menderita karena mewarisi dosa dari leluhur pertama.
  • Hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.
2. Teori ujian Tuhan
  • Manusia lahir tanpa dosa, jadi baik atau jahat karena lingkungan.
  • Dualitas kehidupan (sehat-sakit, senang-susah, pujian-hinaan, dsb) adalah ujian/cobaan yang diberikan oleh Tuhan.
  • Hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.
Kedua teori tersebut tidak mampu menjelaskan kenapa ada problem of evil di masyarakat manusia. Sebab keduanya tidak mampu menjawab pertanyaan berikut.
  • Bila setiap orang mewarisi dosa leluhurnya dalam porsi yang sa-ma, mengapa nasib sang manusia amat berbeda satu dengan yang lainnya? Bila seseorang miskin karena me-warisi dosa leluhur lebih banyak dari si kaya, lalu apa alasan Tuhan menetapkan si miskin harus me-nanggung dosa leluhur lebih banyak dari pada si kaya?
  • Apa alasan Tuhan menguji seseorang dengan membuat dia lahir dalam keluarga miskin dan melarat seumur hidupnya, sedangkan orang lain di-uji dengan lahir dalam keluarga kaya dan senang se-umur hidupnya?
  • Mengapa tiga orang bersaudara yang lahir dalam keluarga sama, besar dalam lingkungan sama, di-didik dengan cara yang sama dan diberi makan sama, harus bernasib berlain-lainan?
  • ikalau setiap bayi lahir suci tanpa dosa, mengapa banyak bayi lahir dengan pisik cacat, berpenyakitan atau abnormal yang menjadi pangkal derita kehidupannya di dunia fana?
Jawaban para penganut Teori dosa turunan, “Hanya Tuhan yang tahu”, tidak memuaskan siapapun yang berpikir kritis. Sedangkan  jawaban  para penganut Teori ujian/cobaan Tuhan, “Itu adalah rahasia Tuhan, hanya Tuhan yang tahu”, pun tidak memuaskan mereka yang berpikir kritis.

TEORI TIDAK LOGIS DAN TIDAK RASIONAL

Teori dosa turunan tidak rasional, sebab kalau ayah saya yang melakukan kejahatan, lalu mengapa saya yang tidak ikut berbuat jahat dan tidak tahu permasalahannya, harus kena hukumqan dan menderita?
Teori bahwa hidup di dunia fana adalah ujian/cobaan Tuhan dan bahwa setiap orang lahir suci tanpa dosa, tidak mencerminkan aturan dan tindakan Tuhan yang maha arif, maha bijaksana, maha benar dan maha adil. Sebab, bagaimanapun juga Tuhan yang maha bijak, maha benar dan maha adil, tidak mungkin membuat hidup seseorang sengsara tanpa sebab dan alasan jelas masuk akal.
Dalam kehidupan sehari-hari  secara  material atau pisik nampak jelas bahwa orang di-hukum dan menderita karena ada sebab dan alasannya. Begitu pula, secara spiritual atau metapisik, seseorang lahir cacat/abnormal, hidup dalam kemiskinan dan menderita, pasti ada sebab-musababnya dan tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Dan Tuhan tidak mungkin menetapkan kehidupan seseorang sengsara atau bahagia secara sewenang-wenang tanpa sebab dan alasan  yang  pasti dan benar.

TAKDIR, NASIB DAN IKHTIAR

Oleh karena ilmu pengetahuan material (maya-tattva) dan ajaran-ajaran rohani mutakhir yang muncul pada masa Kali-Yuga tidak mampu menjelaskan secara logis, rasional dan pilosofis tentang nasib buruk atau derita yang menimpa begitu banyak manusia dalam keadaan yang berbeda-benda, maka banyak sekali orang jadi bingung dan tidak mengerti apa itu takdir, nasib dan ikhtiar.
Oleh karena tidak bisa mengerti takdir, nasib dan ikhtiar secara benar, maka orang-orang berkesadaran materialistik menimpakan kesalahan kepada Tuhan atas takdir, nasib buruk dan kegagalan hidupnya, seraya menyatakan bahwa Tuhan tidak maha kuasa karena tidak mampu meniadakan derita yang menimpa begitu banyak makhluk manusia
Selama sang manusia meng-anggap bahwa kehidupannya di dunia fana ini hanya sekali ini saja, dan bahwa sebelum kehidupan material sekarang tidak ada  kehidupan material yang telah pernah di jalani, dan setelah  kehidupan material sekarang berakhir tidak akan ada lagi kehidupan material yang  harus dijalani, maka sang manusia tidak akan pernah bisa mengerti dengan benar tentang takdir, nasib dan ikhtiar gagal dalam kehidupan yang sedang dijalaninya.

UNGKAPAN MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG YANG MEMBINGUNGKAN

Sifat Tuhan yang “Maha pengasih dan penyayang” paling sering dikumandangkan oleh para penganut ajaran rohani mutakhir. Pernyataan ini seolah berarti bahwa Tuhan tidak memiliki sifat-sifat lain apapun. Dan pernyataan ini sungguh-sungguh membingungkan orang-orang yang tertimpa nasib malang dan hidup menderita.
Jika Tuhan sungguh maha pengasih dan penyayang,
  • Mengapa Tuhan membiarkan begitu banyak manusia hidup sengsara karena kelaparan, perang, teror bom bunuh diri, bencana alam, penyakit dan kecelakaan.
  • Mengapa  Tuhan membiarkan kejahatan, kemunafikan, tindak-kekerasan dan berbagai macam perbuatan amoral terus merajalela di masyarakat manusia?
  • Mengapa Tuhan membiarkan para pembohong, pendusta,  penipu dan koruptor hidup enak dan nyaman dalam kesuka-citaan?  Dan
  • Mengapa Tuhan membiarkan orang-orang baik-hati, saleh,  jujur  dan  dermawan ditimpa bermacam-macam kesulitan dan kesusahan hidup di  dunia fana?

HUKUM KARMA-PHALA ADALAH PENGATUR KEHIDUPAN SEGALA MAKHLUK DI ALAM SEMESTA MATERIAL

Sesungguhnya Tuhan telah menetapkan aturan kehidupan universal bagi segala makhluk dan alam dunia. Aturan universal ini adalah hukum karma-phala, sebab-akibat. Karma = perbuatan, dan phala = akibat, buah, hasil atau reaksi.
Karma baik menimbulkan phala baik dan menyenangkan. Sebaliknya, karma buruk menimbulkan phala buruk yang menyengsaakan. Begitulah, karena rajin bekerja, seserang punya penghasilan dan hidup senang. Sebaliknya, jika seseorang malas bekerja, maka dia tidak berpehasilan dan hidup susah. Karena seseorang berwatak congkak, maka banyak orang tidak suka kepadanya.
Hukum Tuhan ini sungguh sederhana, namun ia menjadi begitu komplek karena beraneka-macam perbuatan (karma) yang dilakukan oleh sang manusia dengan beraneka macam akibat (phala) nya.

KARMA-PHALA DARI SEGI WAKTU

Dari segi waktu timbulnya phala (akibat/buah/hasil), ada tiga macam karma (perbuatan/kegiatan) yaitu:
  • Prarabdha-karma, perbuatan (karma) yang menimbulkan akibat (phala) seketika. Contoh, bila anda mencaci seseorang tanpa alasan jelas, maka anda di pukul dan sakit.
  • Kriyamana-karma, perbuatan (karma) yang akibat (phala) nya baru muncul kemudian setelah beberapa waktu dalam kehidupan seseorang. Contoh, seseorang hidup mewah dari hasil rampokannya, tetapi setahun kemudian ia ditangkap dan masuk penjara berdasarkan penyelidikan polisi.
  • Sancita-karma, perbuatan (karma) yang akibat (phala) nya  ditanggung dalam masa penjelmaan berikutnya. Contoh, seorang pembunuh yang berhasil menghindari hukuman mati karena menyuap hakim, akan terbunuh pula secara kejam dalam penjelmaan berikutnya.

ANALISIS SEDERHANA ATAS KEHIDUPAN SESEORANG

Berdasarkan penjelasan ringkas diatas tentang hukum Karma-phala, sekarang kita bisa menganalisis kehidupan orang sengsara seperti Tuan Amri.
  • Karena tidak mampu meninggalkan kebiasaan merokoksetiap hari, maka dia menderita sakit paru-paru  = Prarabdha-karma.
  • Karena semasih muda dia berjasa kepada negara sebagai pejuang kemerdekaan bangsa, maka kini setelah tua dia mendapat uang pensiun secara rutin per bulan = Kriyamana-karma.
  • Karena dalam masa penjelmaan sebelumnya dia (sebagai jiva) pernah memukul anjing hingga si binatang lumpuh di kaki, maka dalam usianya yang semakim tua, Amri menderita lumpuh di kaki sehingga harus berjalan pakai tongkat = Sancita-karma.
Maka secara pisik kehidupannya nampak sebagai berikut.
“Tuan Amri hidup sengsara karena menderita sakit paru-paru dan kedua kakinya lumpuh. Uang pensiunnya tidak cukup untuk merawat dan menghidupi dirinya sendiri. Sungguh kasihan, dia hidup sengsara seperti itu”.
Jadi dengan memahami adanya hukum Tuhan yaitu Karma-phala yang universal ini, maka beraneka-macam dualitas kehidupan (kaya-miskin, senang-susah, sakit-sehat, dsb) dan paradok kehidupan (yaitu orang baik hati ditimpa kemalangan, sedangkan orang jahat hidup enak dan damai) dapat dijelaskan secara logis, rasional dan memuaskan.

JUTAAN KARMA DAN JUTAAN PHALA

Hukum karma-phala tidaklah sesederhana seperti yang didengar. Sebab setiap orang melakukan beraneka-macam perbuatan (karma) setiap hari yang menimbulkan akibat (phala) yang bermacam-macam pula. Dan oleh karena setiap orang melakukan jutaan karma dengan jutaan phala yang berlain-lainan, maka timbullah jutaan kondisi kehidupan yang berbeda-beda di masyarakat manusia.
Phala (akibat) yang ditimbulkan oleh jutaan karma (perbuatan) berbeda-beda yang dilakukan oleh seseorang dan menentukan kondisi kehidupan dirinya (sebagai sang jiva) dalam penjelmaan berikutnya, hanya bisa diputuskan secara benar, adil dan bijaksana oleh Sri Krishna dalamm aspek-Nya sebagai Paramatma (Bhagavad Gita 13.23 dan 18.61).

Dalam hubungannya dengan hukum karma-phala, kondisi kehidupan manusia yang berlain-lainan itu dapat diringkas secara umum sebagai berikut.

HUTANG KARMA

Beraneka macam akibat (phala) perbuatan (karma) yang mengikat dan mengotori kesadaran dan memaksa sang makhluk hidup (jiva) lahir lagi ke dunia fana, disebut hutang karma.
Bilamana hutang karma buruk dan jahat seseorang begitu banyak, maka dalam penjelmaan berikutnya dia (sebagai jiva rohani-abadi) akan merosot dengan memperoleh badan cacing atau ulat. Sebaliknya, bila hutang karma bajik seseorang begitu banyak, maka dalam penjelmaan berikutnya dia akan meningkat dengan memperoleh badan rihsi, deva atau brahmana.
Tetapi jika seseorang bebas dari segala hutang karma baik ataupun buruk, maka dia tidak akan lahir lagi di dunia fana, melainkan kembali kepada  Tuhan dan tinggal bersama-Nya di alam rohani kebahagiaan abadi  Vaikunthaloka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar