Google+

Sekilas Perjalanan Kerajaan Dibali


Di mata masyarakat Bali, babad merupakan warisan Leluhur yang sangat di puja dan diyakini sebagai sebuah kebenaran, masih hidup ditengah-tengah masyarakat Bali sampai sekarang, termasuk para peneliti baratpun merintis jalan melalui studi babad yaitu C.C. Berg telah menulis artikel Javaansch Geschiedschrijving dan Javaansch Balische Historicsche Geschrieten Kidung Pamancangah”(1929) dan seorang ilmuwan dari Australia bernama Helen Creese, menulis Balinise Babad as Historical Sources : A Reinterprestation of the Fall of Gelgel (1991), semua penulis barat itu tidak dilengkapi dengan refrensi yang lengkap dan valid baik dari segi sumber data maupun benang merahnya. Mereka para sejarahwan dan ilmuwan berusaha untuk merekontruksi babad yang bersifat tradisional dan lokal yang dibentuk dari kultur yang membentangkan riwayat, sehingga sifat-sifat dan kultur itu mempengaruhi bahkan menentukan penulisan sejarah (historiografi) selalu mencerminkan kultur yang menciptakannya ( Sartono Kartodirjo, 1968 : 25).


Babad di Bali pada umumnya memiliki dua karakter atau bentuk yaitu berbentuk ganjaran (prosa) dan bentuk geguritan/kidung/tembang (puisi). Babad yang ditulis dalam bentuk ganjaran menggunakan bahasa Kawi dan beberapa sisipannya menggunakan bahasa sansekerta. Geguritan/kidung/ tembang kebanyakan menggunakan bahasa Bali baru (bahasa kepara) atau bahsa Bali lumrah (1) Namun, isinya menitikberatkan pada penulisan keturunan (genealogis) terutama babad Dhalem dan Pamancangah Dhalem (2) yang dibuat oleh Ida Pedanda Gede Rai Pidada ( 1741 ) pada masa kerajaan Semara Pura-Klungkung, yang selalu dipakai sumber penulisan oleh C.C. Berg (1929), maupun yang lainnya. Penyalinan Babad banyak menimbulkan versi, karena setiap penyalin ada kecendrungan untuk menambah dan atau menguranginya, malah justru ada pengkaburan sesuai dengan kepentingan dari penyalin atau penulis, apalagi si pencari tidak memahami asal-usulnya.

Penyalinan naskah babad di Bali sudah merupakan suatu tradisi bagi masyarakat Bali dari satu generasi ke generasi malahan ada juga diskontinyuitas inilah yang menyebabkan hilangnya garis keturunan (misling). Ada pula mengalami perubahan karena tidak sesuai dengan keadaan jaman dan akan terus berlangsung sepanjang memungkinkan untuk dijadikan pendukung, baik untuk kepentingan kekuasaan maupun ekonomi. Terbentuknya naskah-naskah Babad di seluruh Nusantara lebih menekankan pada asal mula rajakula yang mystis atau legendaris yang kemudian dari sini semua silsilah atau sejarah keturunan diambil dan cendrung mengambil tokoh yang dipandang sangat dimuliakan sebagai manusia yang menurunkannya. Hampir semua babad dan sejenisnya menceritrakan tentang sejarah keturunan dan cendrung mengambil tokoh yang dimuliakan dan sangat disucikan. 

Oleh karena itu, si penulis babad sebelum memulai menulis ia harus mensucikan diri dan memohoatn kepada Leluhur agar tidak kena kutuk dan mohon diberikan keselamat-an sampai anak cucu seperti :

Om Awighnamastu namo siddhi,
Semoga tidak ada halangan dan menemukan kebahagiaan.

Om Pranamyam sire Sang Dwyam, bhukti mukti hitartwatam prawaksya tattwam widneyah, wisnuwangsa pataswaram, sire grenestityam wakyam bhupalakam satyam loka.
Hamba mulyakan orang yang sudah bergelar Ongkara merta hredaya, yang telah berada di alam gaib, yang telah tersusun di dalam sejarah maupun purana tentang kisah asal-usul dari keluarga keturunan penganut Wisnu wangsa, semoga para keturunanNya senantiasa setia dan teguh berbhakti kehadapan yang Leluhur dan mengemban titah menjaga ketentraman dunia.

Hamba mohon maaf dan ampun yang sebesar-besarnya kehadapan paduka Hyang Leluhur, bebaskanlah hamba dari segala penderitaan dan tidak terkena kutukan. Hyang Leluhur, mudah-mudahan kisah asal-usul ini dapat menenangkan dan diyakini dengan sungguh-sungguh oleh parasanak pratisentana Hyang Leluhur kini maupun kemudian hari. Tujuan utamanya untuk mengingatkan dan menyadarkan sanak saudara seketurunan, supaya mngenal jatidiri ”tuhu pawongan lan kalinggan”, penjelmaan asalusul dan hal-hal yang harus ditaati serta dilaksanakan. Agar parasanak seketurunan bisa bersatupadu tidak bertengkar dengan sesame keturunan serta senantiasa berada dalam keselamatan, kebahagiaan lahir dan bathin dan memperoleh kesempurnaan, begitu pula agar prasanak seketurunan terhindar dari kesalahan, kehilapan serta kutukan paduka Hyang Leluhur.

Pada kesempatan ini, perkenankanlah parasanak keturunan Hyang Leluhur, mengungkapkan, menguraikan dan menetapkan asal-usul Paduka Bhatara Hyang Leluhur, yang akan diwariskan kepada pirati sentana, baik yang terjadi dimasa lampau, masa yang sekarang maupun masa yang akan datang ” atita, anagata, wartamana”.

Demikian pula hal-hal yang bersifat gaib yang serba baik dan utama ”Cakra Dharma Mahottama”. Semoga paduka Bhatara Hyang Leluhur senantiasa memberikan waranugraha kepada semua parasanak keturunan supaya selalu bersatu, gilik saguluk, briyuk sepanggul paras-paros arpanaya selumlum sebayantaka.


Ida Dhalem Kembar dan Ida Dhalem Shri Kesari


Sejak tahun 300 Sebelum Masehi Dinasty Maurya, sering datang ke Bali, itulah yang dicatat di dalam Buku Arta Sastra oleh Mentri Maurya yang bernama Kautilya, bahwa Bali Dwipa diperintah oleh raja kembar yang disebut juga Dhalem Kembar, yang berstana di lembah Gunung Udaya atau Gunung Agung yang stananya bernama Batu Madeg. Di dalam Buku Babad atau lontar beliau sering ditulis dengan nama Shri Haji
Masula-Masuli ( Dhalem Kembar)dan juga beberapa penulis babad sering mengaitkan raja Bali sebagai keturunannya (3;4).


Ida Shri Jaya Kasunu dan Sulinggih Pertama di Bali


Dalam sejarah Bali, keturunan beliau lama tidak meninggalkan bukti-bukti sejarah, karena berumur sangat pendek, akhirnya baru muncul sejarah setelah keturunannya yang bernama Shri Haji Jaya Kasunu, mampu berkuasa kembali dengan aman dan sentausa setelah melaksanakan perintah Ida Bhatari Nini, untuk melaksanakan upacara Hari Raya Galungan. Hari suci ini pertama kali dilaksanakan pada tahun caka 804 atau 882 Masehi dan beliau membangun pusat kerajaan yang diberi nama Dalem Puri (5).

Pada masa pemerintahan Baginda Dhalem, datang seorang penganut waisnawa ke Bali yaitu Rsi Markandya, setelah menghaturkan panca datu di wilayah istana baginda yang sekarang menjadi Pure Puseh Jagat Basukian dan di bawahnya baginda Dhalem membangun Dewalayastana yang diberi nama Merajan Kanginan, Baginda Raja menurunkan putra-putri yang bernama Shri Jaya Kusuma dan Shri Adnya Dewi.

Shri Jaya Kusuma tidak berminat menjadi raja lebih tertarik dengan mempelajari filsafat Agama dan dijadikan Putra Dharma oleh Rsi Markandya dengan abhiseka Hyang Rsi Sunya Wisnu Murti setelah lebih dahulu mempersunting putri raja Galuh Sri Dewi Endrakirana menurunkan dua orang putra yang sulung bernama Shri Jaya Kusuma sama seperti nama ayahnya waktu welaka dan adiknya bernama Shri Raja Kerta (6), dan keduanya menjadi raja di Jawa Dwipa. Sepeninggal keturunannya dari Bali, kerjaan Bali di pegang oleh putri Shri Haji Jaya Kasunu dengan mencarikan suami dari Dinasty Warmadewa, dan mulailah dinasty ini berkuasa di Bali. Pusat pemerintahan Shri Adnya Dewi-Shri Keswari Warmadewa dipindahkan ke Cintamani yang diberi nama Singa Mandawa dan membuat pelabuhan laut atau Belah Jong disebut Singa Dwala, sekarang tempat ini disebut Desa Belanjong.


Ida Shri Adnya Dewi dan Shri Kesari Warmadewa


Setelah Shri Jaya Kasunu, menikahkan putrinya dengan Warmadewa pada tahun saka 835 atau 913 Masehi, pada saat peminangan keturunan raja Warma ini, Maharaja Bali Shri Jaya Kasunu menjemputnya dengan wahana Burung Garuda. Kejadian tersebut dilukiskan pada tatahan padas di gunung Kawi, seekor burung garuda menerbangkan manusia yang dijepit dengan kedua cakarnya. Beliau dinobatkan sebagai raja mendampingi istrinya dengan memakai gelar Shri Kesari Dharma Warmadewa. Selama pemerintahannya berdua, Shri Adnya Dewi banyak meninggalkan prasasti dan beberapa prasasti atas nama suaminya Shri Keswari Warmadewa. Ini menandakan bahwa Warmadewa adalah raja didharma atau diangkat anak di Bali lasim disebut nyentana. Selanjutnya beliau menurunkan keturunan Dinasty Singa-Mandawa, yakni putranya bernama Shri Udayana dan setelah menjadi raja bergelar Shri Dharmodayana Warmadewa. Beliau mengawini putri raja Medang Kemulan yakni Mahendradatta Dharmapatni, dimana perkawinan ini terjadi berkat upaya dari Shri Jaya Kusuma dan Shri Raja Kerta yang lebih dahulu berkuasa di Jawa, yang tidak lain adalah saudara sepupu Shri Dharmodayana yang berkuasa tahun saka 911 – 929 atau 989 – 1007 Masehi. Shri Dharmodayana Warmadewa menurunkan putra-putra yang paling sulung bernama Shri Airlangga, adiknya bernama Shri Marakata dan yang paling bungsu bernama Shri Anak Wungsu. Dinasty ini berkuasa sampai ditundukkan oleh Raja Singasari pada tahun saka 1222 atau 1300 Masehi. Pada masa pemerintahan Shri Haji Jaya Pangus, beliau membuat pusat istananya di Balingkang yang juga disebut Dhalem Balingkang (7).


Berkuasanya Orang Bali di Jawa Dwipa.


Pada tahun caka 919, Shri Airlangga bersama Arya Narottama, hendak berkunjung ke pamanda Shri Haji Teguh Dharmawangsa Utunggadewa, raja Medang Kemula, yakni saudara dari Mahendradata Dharmapatni. Baginda raja Medang Kemulan mengudang keponakannya bersama patih Narottama, karena Teguh Dharmawangsa sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai ke luar pulau Jawa. Namun, ternyata kekuasaannya runtuh di tangan seorang raja bawahannya sendiri, yakni raja Warakawuri. Pada saat itulah Airlangga dan Narottama beserta hamba-hambanya dapat meloloskan diri dan selama berada di tengah hutan, beliau berdua sangat bimbang di daerah yang belum dikenali sepenuhnya, sehingga daerah ini disebut Mimbang yang sekarang menjadi Jombang. Perjalanan Airlangga dengan bawahannya dilanjutkan sampai di suatu tempat baru yang aman dan terang, tempat ini disebut Mpucangan dan kemudian menjadi Pucangan (Prasasti Pucangan; 8). Dalam perjalanannya, Airlangga dan Narottama ingat pada kedua pamannya yang mejadi raja di Pajarakan dan Galuh, serta memutuskan untuk pergi ke Puri Galuh, Shri Jaya Kusuma menjadi rajanya, tempat ini diberi nama Bapuri (Prasasti Poh Parung; 9).

Dengan keberhasilannya bertemu dengan raja Galuh, Airlangga diberikan nasehat untuk menyerang kembali kertajaan Medang Kemulan, dan memusatkan pasukannya di suatu wilayah hutan dan tempat ini kemudian disebut Waton Mas. Airlangga berhasil menundukkan kerajaan Warakawuri, pada tahun caka 939 atau 1017 Masehi, yang disebutnya sebagai Jawa Pralaya dan kemudian Airlangga naik tahta membuat kerajaan yang diberi nama Kadiri. Beliau tampil sebagai rajanya yang pertama, Narottama sebagai patih dan pamannya Shri Jaya Kusuma diangkat menjadi Penasehat Agung Kerajaan Kadiri dengan Abhiseka Hyang Berada (Prasasti Mahasobhya di Simpang, 10; dan Nag., LXVIII, 11). Shri Raja Kerta (Danghyang Kuturan) bersama istrinya Nateng Dirah tetap menjadi raja bawahan di Pejarakan. Peristiwa inilah yang menyebabkan tersinggungnya Nateng Dirah, sehingga menyerang kerajaaan Airlangga dengan kekuatan Teluh. Pada saat yang sama dengan kejadian ini menyebabkan Shri Raja Kerta merasa malu dan pulang kembali ke Bali, kemudian dianggkat oleh Perabu Udayana menjadi Senapati Kuturan (Anda tattwa, 12) sekarang dikenal semacam Perdana Mentri. Maharaja Teguh Dharmawangsa dicandikan oleh Perabu Shri Airlangga yang disebut Dharma Parhyangan di Desa Wwatan pada bulan Caitra tahun caka 939, kisaran tanggal 21 Maret dan 21 April 1017 Masehi. Dengan demikian, keturunan Raja Bali Shri Jaya Kasunu adalah cikal bakal para kesatria atau raja-raja Nusantara yang dikenal sebagai junjunganm jagat (Suhunantara).


Shri Jaya Kusuma dan Shri Raja Kerta

menurunkan Kasuhunan Raja-Raja Nusantara.


Shri Jaya Kusuma putra pertama (tertua) dari Hyang Rsi Sunya Wisnu Murti dan cucu dari Shri Haji Jaya Kasunu, yang menobatkan Airlangga menjadi raja Kadiri, diberikan abhiseka Hyang Berada, menurunkan putra tunggal yang bernama Danghyang Bahula. Untuk menanggulangi keganasan wabah yang dibuat oleh Lalu Nateng Dirah istri Shri Raja Kerta (Anda tattwa, 12), Danghyang Bahula disuruh mengawini putri tunggalnya Ni Dewi Ratna Mangali, kemudian menurunkan Shri Soma Wira Natha yang disebut Danghyang Tantular dan Shri Wira Candra menjadi seorang Tapasuwi dengan gelar Danghyang Siwagandu. Danghyang Tantular mengawini putri Shri Jaya Sabha, saudara dari Arya Kepakisan, yang bernama Shri Dewi Kepakisan menurunkan putra bernama Danghyang Kepakisan. Danghyang Tantular lagi menikah dengan seorang bidadari melahirkan putra yaitu Danghyang Sidhimantra sakti, Danghyang Semaranatha dan Danghyang Panawasikan. Pada Tahun saka 1214 atau 1292 Masehi istri Danghyang Tantular pergi ke Suralaya dan pada saat yang bersamaan Kerajaan Singasari Runtuh, dan Shri Kerta Negara terbunuh dan kerajaan dikuasai oleh Jaya Katwang keturunan Aryeng Kadiri. Jaya Katwang tidak lama berkuasa dan takluk oleh Raden Wijaya dan kemudian mendirikan kerajaan baru yang bernama Maja Pahit pada tahun caka 1216 atau 1294 masehi dan setelah dinobatkan bergelar Shri Kertarajasa Jayawardana. Bali kembali dikuasai oleh Dynasti raja-raja Bali keturunan Shri Haji Masula – Masuli yang bergelar Shri Gajah Wahana. Selanjutnya digantikan oleh putranya Shri Tapoulung, setelah menjadi raja bergelar Shri Astaasura Ratna Bhumi Banten. Karena menentang kekuasaan Majapahit beliau dijuluki Beda Hulu, dan pusat kerajaannya di Pejeng.


Dinasty Kerajaan Badahulu.


Badahulu berarti pusat pemerintahan, kerajaan ini dipusatkan di Pejeng yang berarti Pajeng atau Payung, boleh dibilang Payungnya Bali. Setelah Bali kembali dikuasasi oleh keturunan raja Bali Shri Haji Masula-Masuli, yaitu dari Shri Haji Gajah Wahana pada tahun caka 1222 – 1259 atau 1300 – 1337 Masehi. Selanjutnya beliau digantikan oleh putranya Shri Haji Astasura Ratna Bhumi Banten pada tahun caka 1259– 1265 atau 1337 – 1343 Masehi. Para tanda mantrinya dipegang oleh keturunan dari Wang Bang Sedhimantra Dewa yang memiliki tiga orang putra yang tertua bernama Ki Pasung Giri, adiknya Shri Jaya Katong menurunkan putra Ki Pasung Grigis menjadi Patih Agung dan Ki Girimana menetap di Tengkudak, yang bungsu Ki Karang Buncing malahirkan Putra Ki Kebo Taruna dan Ki Arya Adi Karang.


Berdirinya Kerajaan Majapahit


Setelah runtuhnya Singasari oleh Raja Gegelang Jayakatwang, Raden Wijaya bersembunyi dikudadu kejadian ini dicatat pada perasasti Mula-malurung, kejadian sekitar 11 September 1216, singkat ceritranya adalah; pada waktu fajar Raden Wijaya sampai di desa kudadu dalam keadaan lapar, lelah dan letih, sedih dan berhiba hati, tiada harapan untuk hidup, amat besarlah mala petaka dan kesedihan yang menimpanya. Sesampai di Desa Kudadu, disambut oleh bekel Kudadu, Wijaya diterima dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat. Pejabat Kudadu itu menyembunyikan Wijaya supaya tidak bisa ditemui musuh, setelah terasa aman, ditunjukkan jalan sampai batas daerah perdikan Rembang, hendak mengungsi ke Madura. Itulah kisah tersesatnya Wijaya sampai di Desa Kudadu. Setelah Raden Wijaya menjadi raja Majapahit, Desa ini dijadikan Desa Sukamerta yang berangka tahun caka 1218 sekitar 29 Oktober 1296, sukamerta adalah Desa swatantra. Setelah sampai di Madura, Raja Madura Arya Wiraraja memohonkan Raden Wijaya tanah perdikan kehadapan Shri Jayakatwang, dan permohonannya dikabulkan di daerah tarik, setelah tanah ini di jadikan pemukiman atas bantuan orang-orang Madura, tanah perdikan ini diberinama Padukuhan Maja Pahit. Di Majapahit yang baru dibuka ini, Raden Wijaya, berusaha untuk mengambil hati penduduk terutama orang-orang Tumapel dan Daha.

Diam-diam Wijaya memperkuat diri sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang Singasari. Pada awal tahun 1293, datanglah bala tentara Khubilai Khan, untuk menyerang Singasari, karena Kertanegara tiada lain adalah mertua dari Wijaya, telah menghina utusan Kaisar Shih-Tsu yang bernama Meng-Chi, yang dipimpin oleh tiga panglima perang yaitu Shihpi, iheh-mi-shih dan Kau Hsing, untuk menghukum Kertanegara, tetapi mereka tidak tahu siapa raja Singasari, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wijaya untuk menyerang Jayakatwang dan dapat dikalahkan oleh Wijaya dengan bantuan tentara Khubilai Khan. Setelah Raja Jayakatwang gugur, berakhirlah riwayat kerajaan Singasari yang didirikan oleh Kenarok yang bergelar Kertarajasa Amurwabhumi, digantikan oleh kerajaan Majapahit yang kemudian menurunkan raja-raja Maja Pahit, yang dibangkitkan kembali oleh Raden Wijaya, putra dari Dyah Lembu Tal cucu dari Mahesa Cempaka atau Nara Singhamurti, secara genelogis masih keponakan dari Shri Kertanegara, keturunan dari Ken Arok. Raden Wijaya mendirikan kerajaan Maja Pahit,tahun caka 1216 atau 1294 sampai dengan tahun saka 1449 atau 1527 Masehi.


Danghyang Kepakisan Kasuhunannya raja Majapahit dan Gajah Mada


Setelah Kerajaan Majapahit berdiri, Wijaya menobatkan diri menjadi raja pada tanggal 15 bulan kartika ” ri purneng kartikaningmasa pancadasi” tahun saka 1215 atau tanggal 12 Nopember 1293, dengan nama penobatannya adalah Shri Kertarajasa Jayawarddhana, penobatannya dilaksanakan oleh Danghyang Kepakisan, mengingat ayahndanya Danghyang Tantular semasih hidup adalah Suhunya atau Penasehat Agung Raja Singasari, sampai kemudian Danghyang Kepakisan menjadi Kasuhunan atau Guru Agung paraputra raja dan kemudian menjadi Bapak Angkat dan sekaligus sebagai Suhunya Mahapatih Gajah Mada.


Kembalinya Keturunan Shri Jaya Kasunu.


Setelah Raja Bedahulu dikalahkan oleh Patih Gajah Mada dengan tipu muslihatnya, Gajah Mada hendak mengangkat Putra Suhunya Shri Wang Bang Soma Kepakisan yang terlahir dari dalam Batu,menjadi raja di Bali, namun tidak diberikan oleh Raja Tri Bhuwanautunggadewi, dan ditunjuklah perwakilan sementara memimpin Bali yaitu Ki Patih Ulung, putra dari Mpu Wijaksara dan dibantu oleh Kyayi Gusti Pasek Padang Subadra dan Kiyayi Gusti Toh Jiwa, semasa kepemimpinannya terus terjadi pemberontakan dan Negara Bali tidak pernah aman, sehingga mereka bertiga menghadap ke Maja Pahit, untuk memohon seorang Raja di Bali, dan hal tersebut di kabulkan oleh patih Gajah mada maupun Raja Patni, sehingga diangkatlah putra-putri Danghyang Wangbang Soma Kepakisan yang beribu dari bidadari yaitu Shri Juru dinobatkan menjadi Raja di Belambangan, Shri Bimacili dijadikan raja di Pasuruhan, Shri Nyoman Kepakisan di jadikan Raja di Sumbawa dan yang bungsu Shri Kresna Kepakisan dijadikan Raja di Bali.


( I )

Dinasty Shri Haji Kresna Kepakisan.

Caka 1272 – 1297 atau 1350 – 1375 Masehi.


Keputusan Politik Gajah Mada dan Raja Majapahit, mengangkat Shri Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, melihat dari silsilah Leluhurnya adalah raja Bali kuno, tujuannya supaya mengakhiri perlawanan orang-orang Bali terhadap kekuasaan Majapahit, dan mengikutkan semua trah Aryeng Kediri, supaya tidak ada lagi perlawanan yang dilakukan Aryeng Kediri terhadap Majapahit, seperti yang dilakukan Jayakatwang terhadap Singasari. Penobatan Shri Kresna Kepakisan menjadi raja Bali dilaksanakan” ri purneng kartikamasa, caka 1272 atau 4 Oktober 1350, beristana di bekas pesanggrahan Patih gajah Mada di Samprangan, begitu selesai penobatannya Baginda melaksanakan upacara maligya terhadap Leluhur raja-raja Bali di Pura Tegeh Koripan atau Pura Penulisan di Kintamani pada purnama kelima caka 1274 atau tanggal 3 September 1352, sehingga senanglah orang-orang Bali, dan memberikan beliau gelar Ida I Dewa Ketut Shri Kresna Kepakisan, laksana Dewa turun ke Bumi Banten. Pada masa pemerintahan baginda dibantu oleh Arya Kepakisan menjadi Patih Agung dan Arya Kutawaringin menjadi Patih Muda. Srhi Kresna Kepakisan disebut juga Dhalem Wawu Rawuh menurunkan putra-putra dari istrinya I Gusti Ayu Tirta (Raras) putri dari Arya Gajah Para yaitu I Dewa Agra Samprangan, I Dewa Made Tarukan dan I Dewa Ayu Muter, dari istrinya I Gusti Ayu Kutawaringin, putri dari Arya Kutawaringin menurunkan Ida I Dewa Ketut Ngulesir dan Ida I Dewa Tegal Besung, sedangkan dari istri persembahan Arya Kenceng, seorang Putri Brahmana Tepeng Reges (Jawa Timur) menurunkan Arya Tegeh Kuri.

( II )

Masa Pemerintahan Dhalem Agra Samprangan.

Caka 1297 – 1302 atau 1375 – 1380 Masehi.


Kekuasaan Baginda Dhalem Shri Kresna Kepakisan berakhir pada tahun caka 1297 atau 1375 Masehi dan digantikan oleh putra sulungnya Ida I Dewa Samprangan, dinobatkan pada tahun caka 1297 atau 1375 Masehi, dengan abhiseka Dhalem Shri Agra Samprangan. Baginda tidak cakap memerintah dikarenakan suka bersolek, jarang sekali mau menghadiri rapat-rapat kerajaan, sehingga roda pemerintahan tidak berjalan dengan baik. Dengan demikian, para patih dan tanda mantri melaksanakan pembangkangan yang dipelopori oleh Ki Gusti Kelapodyana, berkumpul di Pura Dhalem Tugu dan diputuskanlah untuk mengganti Dhalem Agra Samprangan dengan adik baginda yaitu Ida I Dewa Ketut Ngulesir, serta diputuskan Gusti Klapodyana untuk menjemputnyadi Desa Pandak, Kediri, Tabanan. (tidak meninggalkan prasasti atau bhisama)

( III )

Masa Pemerintahan Dhalem Semara Kepakisan.

Caka 1302 – 1382 atau 1380 – 1460 Masehi.


Ida I Dewa Ketut Ngulesir memiliki kebiasaan bepergian makanya dijuluki ngulesir. Nama asli beliau adalah Ida I Dewa Ketut Anom Kepakisan, beliau sangat ingin tahu keadaan rakyat di luar istana. Pada saat penjemputan beliau oleh I Gusti Klapodyana, beliau berada di Pandak di arena sabungan ayam, selama beliau ada di Pandak ada keluarga yang sangat perhatian dan sayang, tetapi tidak diketahui siapa beliau itu. Setelah disiapkan segala sesuatunya, beliau diangkat atau dijadikan raja di Bali dan masyarakat yang melayani beliau selama di Pandak dianugrahi wisuda wangsa menjadi para Sang sampai sekarang. Setelah berkuasa menjadi raja pusat kerajaan dipindahkan ke Gelgel, di karang kepatihan Ki Gusti Klapodyana, makanya disebut Suweca Lingarsa Pura. Baginda raja sangat tampan, sehingga pada saat Danghyang Kayumanis tiba di istana, beliau kaget melihat wajah baginda mirip seperti Dewa Mahadewa yang sangat tampan. Di paha baginda ada tanda seperti gambar cakra, makanya beliau sangat pemberani dan cekatan, sehingga kerajaan Gelgel menjadi stabil. Selama perjalanan Danghyang Kayumanis menuju Bali mempunyai pengalaman menarik, terutama pada saat sampai Segara Rupek, beliau dicegat oleh Dewa Mahadewa yang mengulurkan api dari tangannya, Pada saat raja Bali Shri Semara Kepakisan menghadiri undangan perabu Hayam Wuruk melaksanakan upacara srada yang sangat meriah, beliau tanpak sangatlah mempesona sampai dipanggil oleh perabu Hayam Wuruk, dengan tutur kata yang sangat lihai dan bijaksana. Pada saat itu, baginda raja Bali memakai mahkota kebesaran dan di pahanya terlihat ada tanda cawiri, sehingga memunculkan kekaguman bagi para raja dan masyarakat saat menyaksikan kewibawaan dan ketanpananNya. Perabu Hayam Wuruk memberikan sebutan kepada Raja Bali dengan Raja Suhunantara, dikarenakan Leluhurnya dulu adalah Suhunya raja-raja Nusantara.

Kerajaan Majapahit disebut Bra Wilwatikta dan Kerajaan Wengker disebut Bra Wengker sebagai ipar Raja Majapahit. Baginda Dhalem menurunkan seorang putra dan Dua orang putri atas permohonannya di Pura Penataran Besakih, pada saat permohonannya bersama permaisuri Wini Ayu Mas, Padma Tiga Penataran Agung Besakih bergoncang, sehingga kemudian lahir putra diberi nama Ida I Dewa Batur Enggong, dan yang istri diberi nama I Dewa Ayu Laksmi, yang terakhir sakit-sakitan bernama I Dewa Ayu Mas Kuning. Selanjutnya I Dewa Ayu Mas Kuning menikah dengan Sang Garbajata yang menurunkan Satriya Tirta Arum atau Taman Bali. Setelah Ida I Dewa Batur Enggong dinobatkan sebagai raja menggantikan ayah andaNya bergelar Dhalem Shri Haji Baturenggong. Patih Agung pada saat itu adalah I Gusti Agung Batan Jeruk, Patih Muda I Gusti Klapodyana dan menjabat Tumenggung adalah I Gusti Penatih.



( IV )

Masa Pemerintahan Dhalem Shri Haji Tegal Besung.


Ida I Dewa Tegal Besung adik baginda raja Dhalem Shri Semara Kepakisan, diangkat menjadi Iwa Raja atau Pelaksana Tugas Kerajaan pada waktu Dhalem Shri Semara Kepakisan ke Majapahit mengahadiri rapat kerajaan seluruh Nusantara. Kurang lebih selama enam bulan menjalankan roda pemerintahan beliau diberikan gelar Dhalem Tegal Besung atau Dhalem Besang. Beliau menurunkan putra sebanyak lima orang yaitu Ida I Dewa Anggungan, Ida I Dewa Gedong Artha, Ida I Dewa Pagedangan, Ida I Dewa Nusa dan Ida I Dewa Bangli, yang pada Pemerintahan Dhalem Baturenggong diangkat menjadi Penasehat raja atau Dewan Raja dengan sebutan Manca Agung.

( V )

Masa Pemerintahan Dhalem Shri Haji Baturenggong.

Caka 1382 – 1472 atau 1460 – 1550 Masehi.


Pada saat pemerintahan Baginda Dhalem, Majapahit Runtuh dikuasai oleh Raja Islam Demak, Baginda Dhalem Baturenggong sangat mahir dalam keagamaan dan sangat sakti, bisa berjalan di atas air dan kalau menaiki pedati, hanya tenggelam sampai mata kuku pedati tersebut. Pemerintahan Dhalem Baturenggong, dibantu oleh saudara sepupunya putra dari Ida Shri HHaji Tegal Besung, dengan jabatan Manca Agung atau Dewan Penasehat Raja: yaitu Ida I Dewa Anggungan, Ida I Dewa Gedong Artha, Ida I Dewa Pagedangan, Ida I Dewa Nusa dan Ida I Dewa Bangli. Setelah runtuhnya Maja Pahit yang dicandra sengkala Sirna Hilang Kertaning Bhumi atau caka 1400, raja Bali mempunyai wilayah kekuasaan yang cukup luas dari barat Puger, Pasuruhan, Belambangan dan sebelah Timur yaitu Sasak, Sambawa, Gurun dan Gowa. Untuk wilayah timur Baginda menempatkan putra-putranya menjadi raja, yaitu I Dewa Mas Pakel menjadi raja di Sambawa dan I Dewa Mas Panji menjadi raja di Gowa, sedangkan putra-putranya di Bali yang terlahir dari Wini Ayu Midar masih sangat kecil yaitu Ida I Dewa Pemayun dan Ida I Dewa Dimade Sagening. Dari istri baginda yang bernama Ni Ayu Tengenan melahirkan Ida Tebuwana, dan dari istrinya Ni Gusti Ayu Ularan melahirkan putra bernama I Dewa Ularan. Dhalem Baturenggong Berpulang ke Sunyaloka pada sangkala ” Saparenge Sang Pandita muang catur jadma yaitu caka 1472 atau 1550 Masehi, dengan meninggalkan putra yang masih kecil-kecil. Dengan demikian, jabatan raja saat itu diemban oleh Ida I Dewa Anggungan dengan pengukuhannya sebagai Dhalem Mpu HHaji atau Yuwa Raja. Pada saat inilah terjadi pemberontakan I Gusti Agung Batan Jeruk, mertua dari Ida I Dewa Anggungan.

Walaupun demikian, pemberontakan dapat dipadamkan oleh para adik-adiknya Ida I Dewa Anggungan dan para Arya Kebon Tubuh dan yang lainnya. Pada saat yang bersamaan dinobatkanlah Ida I Dewa Pemayun menjadi Raja dan adiknya Ida I Dewa Dimade Seganing sebagai wakilnya.

( VI )

Masa Pemerintahan Dhalem Shri Haji Pemayun.

Caka 1472 – 1492 atau 1550 – 1580 Masehi.


Sejak Pemerintahan di pegang oleh Ida I Dewa Pemayun dengan Abhiseka Dhalem Shri Haji Pemayun dan adiknya menjadi Iwa Raja. Mulai beliau menjalankan roda pemerintahan, tidak pernah lagi meminta pertimbangan dari paman-pamannya, karena dicurigai pernah ikut andil dalam pemberontakan I Gusti Agung Batan Jeruk.

Oleh karena merasa tidak diperhatikan, kelima putra-putra Ida Shri Haji Besung yang menjabat Manca Agung, meninggalkan Gelgel masing-masing menuju Desa-Desa yaitu: Ida I Dewa Anggungan dari Takmung menuju Penarungan (Mengwi), Busungbiu (Buleleng); begitu pula yang lainnya Ida I Dewa Gedong Artha Ke Manggis beserta keluarganya, Ida I Dewa Pegedangan ke Kertapati juga beserta keluarganya, Ida I dewa Nusa Ke Sibang juga dengan keluarganya dan Ida I Dewa Bangli ke Bangli dikarenakan istrinya dari keturunan Bakas Bangli. Sepeninggal Manca Agung dari Istana Gelgel tidak ada lagi yang berani memberikan nasehat atau pertimbangan kepada Dhalem. Kondisi ini memicu terjadinya pemberontakan Kyayi Pande Base yang diakibatkan oleh I Gusti Ayu Samwantiga dan Ki Capung. Kejadian ini mengakibatkan sampai akhirnya Baginda turun tahta dan tinggal di Purasi dan akhirnya pulang lagi ke Gelgel bertempat di Jro Kapal, dan menurunkan seorang putri yang bernama Shri Dewi Pemayun. ( tidak meninggalkan apapun pada saat pemerintahan Dhalem Pemayun banyak terjadi permasalahan didalam kerajaan, pemberonakan Pande Base, menyebabkan beberapa wilayah kekuasaan Gelgel mulai melepaska diri)

( VII )

Masa Pemerintahan Dhalem Shri Haji Sagening.

Caka 1492 – 1587 atau 1580 – 1665 Masehi.


Ida I Dewa Dimade Sagening dinobatkan menjadi raja dengan abhiseka Dhalem Shri Haji Sagening menggantikan Dhalem Pemayun menjadi raja pada tahun caka 1492 atau 1580 masehi. Pergantian kerajaan diwarnai dengan kesedihan, karena Dhalem Pemayun tidak mau tinggal di istana Gelgel, beliau memilih pergi dari istana dan menetap di Purasi, setelah dijemput oleh menantunya Ida I Dewa Anom Pemayun suami dari Srhi Dewi Pemayun putri satu-satunya dari Dhalem Pemayun. Dhalem Sagening seorang raja yang sangat bijaksana, masih bisa mempertahankan wilayah kerajaan Bali seperti yang diwariskan Dhalem Shri Haji Baturenggong. Baginda Dhalem Sagening banyak istri dan juga putra yaitu Putra Sulung beribu dari Ni Gusti Ayu Diler menurunkan Ida I Dewa Anom Pemayun, istri dari Ni Gusti Ayu Pemacekan menurunkan I Dewa Dimade, I Dewa Ayu Rangda Gowang dan I Dewa Anom Dawan. Dari istri-istri yang lain menurunkan beberaa putra, yakni I Dewa Cawu, I Dewa Belayu, I Dewa Sumerta, I Dewa Pemeregan, I Dewa Lebah, I Dewa Sidan, I Dewa Kabetan, I Dewa Pesawahan, I Dewa Kulit, I Dewa Bedahulu, I Dewa Manggis, Ki Gusti Mambal Sakti dan Kyayi Barak Panji (*)

*Pada saat pemerintahan Dalem Sagening, mencoba membangun kekuatan di dalam kerajaan Gelgel saja dengan sistem perkawinan antara putri- putri Anglurah-anglurah, sehingga Dalem banyak mempunyai putra-putra, dengan lepasnya Kerajaan Gowa, dimana Dalem Segening membuat perjanjian dengan Sultan Awaludin keturunan I Dewa Mas Panji, yang disaksikan oleh V.O.C. pada tahun saka 1530 atau 1618 Masehi, dimana wilayah Gelgel masih memiliki wilayah atas Sumbawa dan Sasak, kemudian Karaeng Morowangeng menyerang Sumbawa sebagai Wilayah Gelgel pada tahun caka 1545 atau 1623 masehi, maka tahun caka 1546 atau 1624 masehi diadakanlah traktaat Makasar- Bali yang ditandatangani oleh Raja Gowa Sultan Awaludin dengan Raja Gelgel Srhi Haji Sagening, mengenai wilayah daerah masingmasing, pada tahun saka 1555 atau 1633 masehi Gowa merebut Bhima, beberapa tahun kemudian Lombok, karena di Gelgel terjadi perebutan kekuasaan oleh I Dewa Dimade yang didukung penuh oleh I Gusti Agung Maruti, yang disebut Sandikalaning Suweca Pura.

( VIII )
Masa Pemerintahan Dhalem Anom Pemayun.
Caka 1587 – 1597 atau 1665 – 1675 Masehi.
Setelah berpulangnya Baginda Dhalem Sagening, beliau digantikan oleh putranya yang tertua bernama Ida I Dewa Anom Pemayun, setelah mendapat persetujuan dari Dhalem Pemayun dan Dhalem Sagning. Ida I Dewa Anom Pemayun telah dinikahkan dengan putri Dhalem Pemayun yang bernama Shri Dewi Pemayun, telah melahirkan seorang putri dan dua orang putra. Putrinya bernama Shri Ratu Dewatingpura dan putra-putranya Ida I Dewa Anom Pemayun, sama dengan nama ayahnya dijadikan raja di Mengwi atas permohonan I Gusti Kaler Pranawa dengan sebutan Shri Agung Mengwi dan adiknya bernama Ida I Dewa Pemayun Dimade.

Dhalem Anom Pemayun, mengangkat I Gusti Madya Karang sebagai Patih Agung, keturunan dari Kiyayi Kebon Tubuh, mengingat Leluhurnya begitu tulus dan setia terhadap Dhalem. Kryan Tangkas sebagai Patih Muda, Kryan Berangsinga sebagai Sekretaris Raja semua mentri beliau ganti dan para Pacek dikembalikan fungsinya seperti dahulu. Akhirnya timbullah rasa tidak senang dari I Gusti Maruti dan para kryan lainnya, yang dipelepori oleh Ki Gusti Maruti dengan mendukung I Dewa Di Made menjadi Raja. Karena Ida I Dewa Anom Pemaayun sangat lemah dan mudah diatur, sehingga terjadilah perlawanan yang disebut Congah Andoga Kryan Maruti, akhirnya Dhalem Anom Pemayun mengalah untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak Beliau meninggalkan istana menuju Purasi di bekas Pesanggrahan Dhalem Pemayun bersama putra yang kedua Ida I Dewa Pemayun Dimade. Selanjutkan beliau menetap di Tembega dan terakhir menetap di Sidemen. Setelah dikalahkan oleh I Gusti Agung Putu, menetap di Desa Penulisan lalu putranya I Dewa Gede Sam-sam, membangun Desa Sam-Sam, setelah ada permasalahan di Samsam dan kemudian keturunannya menetap di Kedhatuwan Kawista, Kadipuran Dhalem Baturenggong, Pradesa Naganing Bhumi Belatungan Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan.

( IX )
Masa Pemerintahan Dhalem Dimade
Caka 1597 – 1608 atau 1675 – 1686 Masehi.
Setelah Dhalem Anom Pemayun meniggalkan istana gelgel dan menetap di Sidemen, maka I Dewa Dimade atas dukungan I Gusti Maruti menjadi raja dengan gelar Dhalem Dimade pada tahun saka 1597 atau 1675 masehi. Dalam menjalankan pemerintahannya, sebagai patihnya adalah I Gusti Maruti dan sebagai patih muda adalah Kryan Kaler Pacekan dan sebagai tumenggung adalah Kryan Bebelod.

Pemerintahan beliau sangat lemah, sehingga Pasuruhan dan Belambangan sebagai daerah bawahan melepaskan diri begitu pula wilayah Sasak dan Sumbawa, sedangkan Gowa sudah melepaskan diri sebelumnya. Untuk mengatasi hal tersebut, diutuslah Kiyayi Jelantik dan Kiyayi Wayan Pemedekan keturunan Arya Kenceng, keduanya gugur di Jawa. Begitu pula pemberontakan Ki Kebo Mundar di Sasak, mengutus Ki Munang dari keturunan Arya Tegeh Kuri dan Ki Telabah Keturunan Arya Kencenguntuk membantunya, tetapi mereka tidak mampu mengatasinya, sehingga banyak korban di pihak Bali, para prajurit Bali tinggal sedikit. Situasi inilah digunakan oleh Kryan Maruti untuk memberontak ” Pebalik Congah Andoga Kryan Agung Maruti”. Dhalem Dimade dapat diselamatkan dan akhirnya menetap di Guliyang, wilayah kekuasaan I Dewa Anom Pindi, raja Taman Bali, Bangli. Beliau diikuti oleh putranya yang masih sedang jejaka yaitu I Dewa Pemahyun. Putra-putra lainnya yang beribu dari Desak Bakas yang juga mengikuti jejak ayahandanya, yakni Dewa Budi, I Dewa Batan Nyambu, I Dewa  Bukian dan I Dewa Gianyar serta ada juga tercatat putra bungsu beliau bernama I
Dewa Ketut Jambe

Sebelum itu kami jelaskan beberapa istilah:
  1. Babad, usana dan rajapurana adalah kisah-kisah yang seperti mitologi namun memiliki nilai sejarah.
  2. Pamancangah adalah silsilah raja-raja yang biasanya ditulis dalam karya sastra kidung.
  3. Babad Balipulina : Wasitna ikang kata dlha ri payogannira Hyanging Tolangkir, ri parswaning adya tolangkir, pinujahaken maring tatakelapapita, kumimit dening I bhutarwa, alawas-lawas pinujastawa denuter dening pedang, umujil putra saking rwa bhineda jalwistri buncingnamawaneh, kang inaran i jro gede mekalihan, riwus tutug dewasa ikang putraka buncing winiwaha risang ari, jumenengnatha maring sapta dwipa abhiseka Shri Aji Masula-Masuli,nga ..........;
  4. Bhuwana Tattwa disalin oleh Ketut Ginarsa, Gedung Kertya Singaraja 1957 dan Purana Dhalem Baturenggong Kedhatuwan Kawista- Belatungan Pupuhan ( 1756)
  5. Prasasti Sikawana A II yang berangka tahun saka 804, ini adalah prasasti tertua di Bali, yang merupakan pembuka jalan bagi sejarah Bali, dan para akhli memperkirakan raja-raja Bali kuno adalah kelanjutan dari Kerajaan Sanjayawamsa di Jawa Tengah, setelah kerajaan ini dikalahkan oleh Mpu Sindok dan memindahkan pusat kerajaannya ke Jawa Timur dan pada tahun inilah Shri Jaya Kusunu merayakan hari raya Galungan yang pertama dan menetapkan ajaran Tike (titi kahuripan) untuk masyarakat Bali dalam bentuk Wariga sampai sekarang. Hal ini ada persamaan prasasti Sikawana dengan beberapa prasasti Canggal 732 dan Dinoyo 760.
  6. Purana I Dewa Ababi Desa Waliyang, Kecamatan Abang, Karangasem (1625).
  7. Prasasti Sikawana, Dausa, Canigayan, Campetan, Cintamani, Air Tabar, Catur dan Pinggan
  8. Prasasti Poh Parung, bertarik saka 963 ditulis diatas batu besar oleh Hyang Berada sendiri tentang ajaran beliau, dengan memakai bahasa sansekerta dengan huruf Pali berbunyi : ........, Membangun dan menata agama adalah memegang teguh Dharma dan kebenaran, walaupun mengalami penderitaan di dunia ini, tidak bisa menyamai jalan ini yaitu Wajrayana. Hyang Berada.
  9. Prasasti Mahasobhya di Simpang berdatarik saka 1259 menuliskan : Prasasti ini berbahasa sansekerta oleh Pendeta Buddha, pada jaman pemerintahan Perabu Kertanegara dan merupakan pujian untuk Hyang Berada sebagai Pendeta Agung yang membelah tanah Jawa menjadi dua,........
  10. Nag. LXVIII. Prapanca 1365 menuliskan : (1). Demikian Sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, ..............................., Jenggalanatha di Kahuripan.Shrinaranatha Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena Cinta Airlangga kepada dua putranya; (2). Ada Pendeta Buddhamajana putus dalam tantra dan yoga.Diam ditengah kuburan lemah cetra, jadi pelindung rakyat.Waktu ke Bali berjalan kaki tenang menapak di air lautan.Hyang Berada nama beliau, paham tentang tiga jaman.
  11. Anda Tattwa menyebutkan : “Sire Shri Raja Kerta Jangga Dyah Kuting dateng Balidwipa,turun wentwnging Bali, hadapa hudawuning kapu-kapu, hingidap rwaning banda, tumurun maring kekisiking Bali, nga, ring Silayukti, pradesa Padang, kaladina Buddha wara pahang, titi suklapaksa madukara, candraghni rudira pawaka tirta caksu isaka 923, neher heneng Parhyangan giri Silayukti, ha yogha nyukla brahmacari, lwih astiti maring Dewa stata, maka-muka ring Hyang Besakih, tan katakna panajayanira sira Shri Raja Kerta hneng hikang kata kemantyan.” Artinya : Disebutkan beliau Shri Raja Kerta yang berasal dari Janggala-Kuting datang ke Bali,turun ditengah-tengah Pulau Bali, dengan menaiki daun kapu-kapu, memakai layar daun bila, turun ditepi laut Bali, di Silayukti, Desa Padang, pada hari rabu, wuku pahang, pada bulan terang tahun saka 923, dan membangun Kahyangan Silayukti, sebagai seorang yogi, setiap hari selalu memuja para Dewa, tidak lupa pula memuja Hyang Besakih, sampai beliau mendapatkan kemuliaan, sampai disini dulu di ceritrakan. Juga disebutkan di dalam lontar Raja Purana, disebutkan usaha Shri Raja Kerta setelah diangkat menjadi Senapati Kuturan, untuk membangun tempat-tempat suci serta upacaranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar