Google+

Jumat, 14 Desember 2012

Kaligrafi Dasabayu, Semar dan Ongkara dalam Budaya Bali

Kaligrafi Dasabayu, Semar dan Ongkara dalam Budaya Bali

Kebudayaan Bali adalah produk masyarakat Bali secara kolektif dan berkelanjutan. Budaya Bali terbina sejak manusia Bali ada, akan terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehidupan manusia Bali. Kehidupan berkebudayaan mencirikan manusia Bali mempunyai suatu tradisi baik yaitu tradisi sastra dan tradisi karya. Dengan tradisi tersebutlah maka sekarang dapat diwarisi berbagai bentuk produk budaya seperti pengetahuan tertulis dalam lontar dan tinggalan arkheologis lainnya.

Kebudayaan Bali dapat dipilah-pilah menjadi beberapa subkomponen seperti kesenian, pekerjaan profesional, bahasa, pemanfaatan dan apresiasi waktu, upakara dan upacara, dan lainnya. Produk dalam berkesenian tersebut berupa seni tabuh, seni lukis, seni grafis, seni tari, seni pahat dan lain-lainnya. Tulisan ini berusaha untuk mengungkapkan salah satu dari produk berkesenian masyarakat Bali yaitu seni kaligrafi.


Kaligrafi pada mulanya didominasi oleh kaligrafi islam. Malahan dikatakan bahwa kaligrafi sebagai lambang persatuan muslimin (Anonim, 2005a, b) atau paling tidak cerminan budaya islam (George, 2004). Walaupun hal itu kurang tepat karena kaligrafi berasal dari bahasa Yunani: kalliberarti keindahan, dan grapos berarti menulis (Anonim, 2005c.). Dengan demikian kaligrafi berarti produk seni menulis yang indah. Memang di Indonesia, kaligrafi dikatakan bernafaskan Islam karena tulisan-tulisan yang dibuat diambil dari Al-Qur’an yang ditulis dengan pena di atas kertas, tetapi tidak jarang tulisan ditatahkan di atas logam atau kulit (Anonim, 2005.b).

Memang melalui seni kaligrafi, diyakini oleh para pakar sangat efektif dalam menciptakan dan menggalang solidaritas kebudayaan berbagai kaum dan bangsa di dunia, dan tidak terbatas kepada dunia Islam saja (Nawi, 2005). Kaligrafi juga menyebabkan terkekalkannya ungkapan-ungkapan lisan manusia dan terjaganya pandangan-pandangan dan pendapat mereka menjadi peninggalan abadi karya manusia (Anonim, 2005.b).

Pelaksanaan pameran gabungan kaligrafi dan kebudayaan antarbangsa beberapa waktu lalu di Kualalumpur, Malaysia, membuktikan bahwa kaligrafi adalah produk universal bersifat lintas-agama, dan lintas-etnis. Peran kaligrafi dalam kebudayaan masing-masing bangsa dan suku bangsa perlu ditonjolkan sehingga dikenal dan dicintai oleh masyarakatnya. Hal itu harus mendapat perhatian semua pihak, karena kaligrafi merupakan salah satu unsur kebudayaan bangsa.

Untuk masyarakat Bali, apakah itu berlaku?

Untuk menjawab hal itu maka studi literatur dilakukan dan diperoleh jawaban bahwa kaligrafi ada dalam budaya Bali yang bernafaskan Agama Hindu.

Kehidupan berkesenian dalam masyarakat Bali dapat dirunut dari bukti peninggalan susastra atau warisan budaya lainnya. Kehidupan kesusastraan di Bali dapat dibuktikan lewat ribuan lontar yang ada. Berbagai pengetahuan tradisional dikandung dalam lontar-lontar tersebut. Salah satunya dapat ditelusuri adalah bentukan kaligrafi. Dalam tulisan ini diajukan dua bentuk kaligrafi, yaitu

  1. kaligrafi berbentuk Dasa Bayu dan
  2. kaligrafi Semar.

Analisis strukturalisme dan fungsional diterapkan dalam studi ini. Kedua contoh kaligrafi tersebut mempunyai struktur dan fungsi yang khas.

  • Kaligrafi Dasa Bayu sebagai produk budaya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempermudah ingatan dalam merafalkan Dasa Bayu. Dasa Bayu sendiri mempunyai nilai magis dan kekuatan yang luar biasa secara niskala yang dapat dipakai dan dimanfaatkan sesuai dengan kehendak si pemakai. 
  • Kaligrafi Semar berfungsi memberikan pencerahan dan kesadaran agar manusia selalu ingat dan waspada bahwa dalam mempelajari ilmu ke-Tuhan-an supaya betul-betul membersihkan diri dan melaksanakan trikaya parisuda tanpa cela.

Dengan demikian tujuan akhir yang diinginkan akan mendapat anugrah dari Tuhan. Anugrah tersebut bisa dipakai untuk menolong orang lain dalam tujuan positif. Fungsi lainnya ialah keindahan itu sendiri. Dengan mengatur menjadi bentukan seperti itu (Dasa Bayu dan Semar) diharapkan memang ada unsur artistik yang dapat dinikmati oleh mereka yang peduli dalam masalah kesenian. Dengan demikian disimpulkan bahwa kaligrafi ada dalam budaya Bali, dengan menampilkan dua buah contoh. Diharapkan ada studi lanjutan yang akan dapat melaporkan bentukan kaligrafi lainnya dalam budaya Bali.

Sebagai materi dalam tulisan ini bahan terbitan yang mengulas budaya Bali dan memakai gambar sebagai wahana penyampaian informasinya. Dari sumber yang diteliti diperoleh dua buah gambar;

  • gambar pertama diperoleh dalam sumber Dnyana Siddanta
  • gambar kedua diperoleh dalam catatan seorang penekun ilmu kedyatmikan dari Buleleng.
  • gambar ketiga yaitu gambar swastika dengan ong-kara di titik sentralnya, diperoleh dari bendanya yang dijual sebagai tanda cendera mata dalam gerakan dana punia pembangunan pura di salah satu tempat di Jawa Tengah

gambar tersebut diupayakan diulas dan dicari arti serta maknanya sesuai dengan pengetahuan umum atau sesuai dengan apa yang dimaksud penciptanya. Tentu-nya pedoman dalam penafsiran tersebut adalah sumber tertulis yang ada.

gambar tersebut diupayakan diulas dan dicari arti serta maknanya sesuai dengan pengetahuan umum atau sesuai dengan apa yang dimaksud penciptanya. Tentu-nya pedoman dalam penafsiran tersebut adalah sumber tertulis yang ada.

Sesuai dengan batasan di atas maka telah diperoleh dua gambar yang ditafsirkan sebagai kaligrafi Bali. Gambar yang dimaksud ialah Dasa Bayu; Gambar Semar; dan Ong-kara.

Dasa Bayu

kaligrafi dasa bayu
Kaligrafi Dasa Bayu didapatkan dalam buku Jnana Siddhanta (Soebadio, 1971). Di samping itu didapatkan pula dalam bukunya Dr Weck yang berjudul: Heilkunda auf Bali. Menurut Nala (1991) kaligrafi itu terdapat juga dalam lontar Usadha Cukil Daki.

Kaligrafi tersebut disusun oleh berbagai huruf. Strukturnya terdiri dari beberapa huruf dan dibingkai oleh aksesori huruf Bali naniya dan guwung. Dengan bingkai tersebut tampak sebagai suatu kesatuan dengan beberapa huruf yang ternyata adalah dasaaksara bergantungan membentuk ucapan seperti di atas. 

Secara individual maka dibaca I, Ha, Ka, Ma, Ra, Sa, La, Wa, Ya , dan U. (Soebadio, 1971). Jumlah seluruhnya sepuluh, sebagai simbol perwujudan dari sepuluh dewata. Tetapi kalau kaligrafi tersebut dihubungkan dengan dasaatma maka pembacaan dari kaligrafi ini berbeda (Soebadio, 1971). Kedua aspek di atas merupakan isi informasi yang ingin disampaikan oleh si pengarangnya (Nawi, 2005).

Unsur kedua dari kaligrafi dasa bayu adalah keindahan atau kehalusan seninya (Nawi, 2005). Dengan keterampilan khusus, maka ujung-ujung huruf yang dilukiskan tersebut mampu mengikat semua komponen menjadi satu kesatuan produk. Untuk menafsirkan produk tersebut diperlukan imaginasi dalam dalam memilah-milah komponen tersebut. Kalau tidak memahami aksara Bali dengan baik, maka pasti ada kesukaran dalam membaca gambar tersebut.

Wujud dalam bentuk gambar dari Dasa Bayu tersebut seperti di bawah ini. Ada 10 unsur yang menjadi simbul dari Dasa Bayu. Simbul tersebut adalah (Haryati Soebadio, 1971):

  • I, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sadasiwa;
  • Ha, sebagai perwujudan dari Sanghyang Wisnu;
  • Ka, sebagai perwujudan dari Sanghyang Mahadewa;
  • Sa, sebagai perwujudan dari Sanghyang Brahma;
  • Ma, sebagai perwujudan dari Sanghyang Iswara;
  • Ra, sebagai perwujudan dari Sanghyang Maheswara;
  • La, sebagai perwujudan dari Sanghyang Rudra;
  • Wa, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sangkara;
  • Ya, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sambhu; dan
  • U, sebagai perwujudan dari Sanghyang Sadasiwa.

Menurut Nala (1991) dasa bayu juga ada dalam lontar usadha Bali. Unsur dasa bayu yang digambarkan menjadi kaligrafi terdiri dari sepuluh elemen. Elemen-elemen tersebut termasuk (Nala, 1991; Adiputra, 2004):

  • nada, simbul dari bintang (Sanghyang Tranggana);
  • windu, simbul dari matahari (Sanghyang Surya);
  • arda-candra, simbul dari bulan (Sanghyang Wulan);
  • Ong-kara, simbul dari dari Sanghyang Widi Wasa;
  • Ing-kara, simbul dari Sanghyang Sadasiwa;
  • Ang-kara, simbul dari Sanghyang Wisnu;
  • Ksa, simbul dari Sanghyang Mahadewa;
  • Mra, simbul dari Sanghyang Sangkara;
  • Lwa, simbul dari Sanghyang Rudra; dan
  • Yeng, simbul dari Sanghyang Sambhu.

Dalam menapsirkan elemen dasa bayu tersebut jelas ada sedikit perbedaan antara yang ditulis oleh Soebadio (1971). Dalam bukunya itu simbol untuk Sanghyang Sadasiwa ditulis dua kali, yaitu untuk I (untuk Ing-kara) dan U (untuk Ung-kara). Kemungkinan besar itu salah ketik, dimana untuk Ing-kara simbol Sanghyang Sadasiwa sedangkan Ung-kara sebagai simbul Sanghyang Siwa.

Semar atau Tualen

Makna dari kaligrafi Semar atau tualen tidak bisa diulas secara jelas. Dalam tulisan ini hanya diinterpretasikan saja. 
Apakah betul si penggagas yang mempunyai ide asli dalam mewujudkan kaligrafi tersebut? 
Kemudian mengapa memakai untaian kata-kata seperti itu? 
Kembalilah disini adanya kebebasan seseorang seniman untuk memakai haknya dalam berkreativitas dalam bentuk gambar atau tulisan untuk mengungkapkan pikirannya (Anonim, 2005.a). Kata-kata tersebut dibuat menjadi pembatas suatu gambaran yang menyerupai semar; dengan mengatur serta menyusun sedemikian rupa sehingga secara sekilas tampak seperti gambaran biasa. Akan tetapi kalau dilihat secara perlahan dan teliti, maka untaian huruf Bali tersebut membentuk kalimat yang mempunyai arti tersendiri. 
Untaian kata-kata mutiara tersebut seolah-olah memberikan suatu nasehat kepada si apa saja yang menekuni ilmu ke-Tuhan-an (kedyatmikan). 
Intinya ialah bahwa membersihan diri secara sakala dan niskala adalah kunci keberhasilan belajar ilmu tersebut. Karenanya nasehat tersebut harus secara berkesinambungan diperdengarkan terus sehingga perilaku sopan dan tidak berdusta menjaid perilaku keseharian seorang yang mengabdikan diri kepada kebajikan atau pengamal ilmu kediyatmikan. Dalam hubungan kasus ini maka gambar tersebut memberikan nasehat atau peringatan, mungkin ditujukan kepada orang yang membacanya atau mungkin juga sebagai peringatan kepada yang membuatnya, agar supaya selalu melaksanakan trikaya parisudha.. Sebagai suatu produk seni, maknanya juga dapat dipakai oleh setiap orang.

Gambar semar atau tualen yang dimaksud ternyata kalau diperhatikan secara teliti dan seksama disusun juga oleh aksara Bali. Aksara Bali tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk kalimat:bayasira arsa mardi kamardikan aywa samar sumingkiring dur kamurkan. Kalau dipilah-pilah maka kalimat dengan aksara Bali tersebut terdiri dari kata-kata atau kalimat sebagai berikut:

  • baya sira artinya kalau saudara;
  • arsa artinya berniat;
  • mardi artinya berbuat;
  • kamardikan artinya mendapatkan kebebasan;
  • aywa artinya jangan;
  • samar artinya ragu-ragu;
  • sumingkiring artinya menyingkirkan atau meniadakan;
  • dur artinya segala sifat dan perilaku jahat;
  • kamurkan artinya kemarahan dan sejenisnya.

Unsur seni dalam gambar semar tersebut juga menimbulkan adanya variasi aksara Bali yang dipakai. Dalam batas toleransi tertentu dan untuk menjaga unsur seni tersebut, kembali diasumsikan bahwa area tersebut merupakan hak si pengarang. Ada pembatas dalam hal itu yaitu misi yang dikandung (supaya menyerupai semar), dan bentuk baku aksara Bali yang dipakai, serta tempat yang tersedia (sehingga membentuk hubungan) menjadi satu kesatuan. Dari pembatas tersebut dikreasikan suatu bentuk yang akan mampu membawa informasi sesuai dengan apa yang ingin dikemukakan oleh si pengarangnya (Nawi, 2005).

Melihat dan menganalisis gambar semar tersebut, penulis yakin bahwa gambar tersebut tergolong ke dalam seni kaligrafi dan dapat dipakai menggalang solidaritas kebudayaan Indonesia, bahkan kebudayaan dunia, sebagaimana dikemukakan dalam Perspektif (Anonim, 2005.a). Dengan terlukiskannya menjadi gambar semar maka paling tidak hasil kreasi ide menjadi terkekalkan dan menjadi peninggalan karya abadi manusia si pengarangnya. Hal itu juga salah satu fungsi dari kaligrafi (Anonim, 2005.a). Semar adalah salah satu perwujudan insan yang mempunyai jiwa abdi yang sangat setia, bhakti, serta mampu menyadarkan kembali boss-nya kalau si boss dalam keadaan bimbang dan ragu untuk bertindak membela kebenaran. Itulah simbul dunia pewayangan. Mungkin itu pula yang dipakai mengapa gambar semar yang dipilih oleh si pengarang.

Ong-kara atau OM-kara

Mengenai kaligrafi ong-kara terbuka untuk didiskusikan. Jelas si pencipta memakai ong-karasebagai titik sentral dari gambar swastika tentu ada maksudnya, mengandung informasi dan ada unsur seni. Dengan ketiga acuan tersebut jelas bahwa gambar tersebut dapat digolongkan ke dalam seni kaligrafi (Anonim, 2005.a,b). Demikian pula fungsinya. Ong-kara mempunyai fungsi khusus dalam aksara Bali (Tinggen, 1994; Simpen, tt; Tonjaya, 2000; Nyoka, 1994 Adiputra, 2002; Dinas Kebudayaan Bali, 2001), sehingga tidak bisa digunakan secara sembarangan. Ong-kara ada dalam aliran Siwa maupun Budha (Hooykaas, 1973). 

Demikian pula dalam lontar Aji Saraswati (tt) dituliskan tatacara menulis, menyalin, mulai membaca serta mengakhiri membaca lontar. Karena aksara Bali dianggap suci (pingit). Peringatan tersebut dalam rangka mendidik dan membina si pembaca atau manusia pendukungnya supaya berperilaku yang selalu baik menurut ajaran agama, yaitu trikaya parisuda (Nala & Wiriatmadja, 1991). Penulis menginterpretasikan fungsinya adalah memberikan suatu kesadaran akan rasa selalu ingat kepadaIda Sanghyang Widi dan waspada pada diri sendiri sebagai mahluk Tuhan, mana kala melihat gambar tersebut. Itulah nilai informasi yang ingin disampaikan; sudah tentu fungsi kedua dari sudut keindahan/ kehalusan seninya, sebagaimana ditulis oleh Nawi (2005). Kemungkinan ketiga, diharapkan dengan memasang gambar tersebut akan mendapat aura gaib dan memberikan perlindungan kepada orang atau area sekeliling gambar tersebut. Paling tidak pihak yang melihat dan membacanya menjadi sadar bahwa di situ tuan rumah mempunyai dimensi spiritualitas.

Dalam tulisan ini ong-kara diasumsikan sebagai salah satu bentuk kaligrafi Bali. Melihat bendanya, dan fungsinya ong-kara, paling tidak memenuhi kriteria dari kaligrafi Bali. Di bawah ini disajikan kaligrafi yang dimaksud.

Bentuk kaligrafi Ong-kara tersebut sudah dijual sebagai pertanda tali kasih dalam gerakan dana punia pembangunan pura di daerah Jawa tengah. Setiap orang yang bersedia menjadi donatur dalam jumlah tertentu, mendapatkan sebuah bentuk kaligrafi. Kaligrafi tersebut dapat dipasang di dinding atau tembok.

Gambarnya berupa Ong-karadi bagian paling tengah, kemudian lapis kedua gambar swastika. Bagian paling luar bingkai berbentuk segi lima. Diharapkan dengan menggantung kaligrafi tersebut, didapatkan vibrasi kerohanian yang tentunya akan memberikan dampak kepada semua isi rumah dimana kaligrafi itu berada. Logikanya, setiap individu melihat kaligrafi tersebut akan membaca dan melafalkannya menjadi Ong. Itulah wujud nyata dari pemasangan kaligrafi tersebut.

Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. kaligrafi ada dalam kebudayaan Bali, yang dalam tulisan ini dipakai contoh tiga buah yaitu: dasa bayu, gambar semar, dan ong-kara; dan
  2. ketiga produk seni kaligrafi tersebut mengandung nilai seni-estetika, informasi, serta dokumentasi produk pemikiran manusia.

Di masa mendatang perlu diupayakan untuk menggali lebih banyak lagi produk seni kaligrafi yang ada dalam budaya Bali, sehingga dapat diketahui masyarakat umum atau bahkan masyarakat dunia.

2 komentar:

  1. semar yg pertama itu artin tulisannya :
    - ing ngarsa sung tuladha
    - ing madya mangun karsa
    - tutwuri handayani tapi, tulisan jawanya salah

    pada tau kan artinya diajarikan sama pa guru bu guru, waktu SD ama SMP, itu semboyannya Kihajar Dewantara. ???

    Terus semar yg ke dua, itu bahasa Jawa Mas..
    Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Dha Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga
    arti tulinnya :

    - ananing rasa cipta karta aji saka
    - datan salah wahyaning lampah
    - padang jagade’ ye’n nyumuruppana
    - marang gambaraning bathara ngaton

    Artinya,.. kalimatnya cari sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aksara jawa dan aksara bali itu sama mas bro..

      Hapus