Google+

Niti Sastra Sargah 1

Niti Sastra

Awighnam Astu

Sargah I

Cardūla wikridita - - - / o o - / o – o / o o - / - - o / - - o / o //


Niti Sastra Ayat 1
Sêmbahning hulun ing Bhatara Hari sarwajnātma bhuh nityaça,
sang tan seng hrêdayantikta tulisen ngke supraptisthenamer,
ring wahyā stuti sembahing hulun i jöng sang hyang sahasrāngçumān,
dadya prâkrêta nīticāstra hinikêt lambang wināktēng prajā.
Sembah saja kehadapan Betara Hari. Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa selama-lamanya. Karena Beliau selalu bersemayam di dalam hati, disini digambarkan, agar seakan-akan terwujudlah Beliau itu agaknya. Keluar sembah saja tertuju ke bawah duli Sang Hyang Seribu sinar (Betara Surya), supaya isi Nitisastra yang saya karang ini menjadi terkenal oleh semua orang.

Niti Sastra Ayat 2
Ring wwang tan wruha ring subhāsita mapunggung mangraseng sadrasa,
tan wruh pangrasaning sêdah pucang adoh tambūla widyāsêpi.
Yan wwantên mawiweka çāstra nirapeksa byakta monabrata.
Yan wwang mangkana tulyaning rahinikā lwirnyan guwekā hidêp.
Orang yang tidak mengetahui bahasa, tidak bisa berkata tentang rasa yang enam (manis, asam, asin, pedas, pahit dan sepat); orang yang tidak mengetahui rasa sirih dan pinang, jadi orang yang tidak suka makan sirih, tidak berpengathuan pula. Jika berkumpul dengan orang-orang yang membicarakan ilmu pengetahuan, tentu ia tidak akan memperhatikannya, ia akan diam saja seperti orang yang membisu. Orang yang semacam itu pada perasaan saya adalah seperti gua.


Niti Sastra Ayat 3
Ring widyā wisa tulya denikang anabhyāsālasang sampênêh.
Yan tan jīrna tikāng bhinojana hatur wisyātêmah wyadhaya.
Ring hinārtha daridra tulya wisa gostinyātêmah manglare.
Ring kanya wisa tulya ring jada pikun, tanpāmrêtangde wingit.
Bagi orang yang segan dan malas pengetahuan itu sebagai racun. Makanan yang tidak bisa dicernakan, sehingga menjadikan orang sakit, juga dapat disebut racun. Bagi orang yang bodoh dan miskin berkumpul dengan orang banyak juga sebagai kena racun, karena bertambah tidak enak rasa hatinya. Orang tua renta bagi anak perawan muda juga racun, karena tidak menyenangkan hati, hanya mendongkolkan belaka.

Niti Sastra Ayat 4
Ring janmādhika meta citta rêsêping sarwa prajāngenaka.
Ring strī-madhya manohara priya wuwustangde manah kūng lulut.
Yang ring madhyani sang pinandita mucap tatwopadeça prihên.
Yang ring madhyanikāng musuh mucapakên wāk-çūra singhākrêti.
Orang yang terkemuka harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati orang; jika berkumpul dengan wanita, harus dapat mempergunakan perkataan-perkataan manis yang menimbulkan rasa cinta berahi; jika berkumul dengan pendeta, harus dapat membicarakan pelajaran-pelajaran yang baik; jika berhadapan dengan musuh, harus dapat mengucapkan kata-kata yang menunjukkan keberaniannya seperti seekor singa.

Niti Sastra Ayat 5
Krura ng sarpa wisanya somya têkaping mantrāmrêtākarsana.
Singhā wyāghra hilang galaknika têkapning stambhana-mantra ya.
Matta ng kunjara yangkuçāngrubuhakên dadyātēmah mardawa.
Krūrāning ripuçesa durjana gêlêngnya yweki tan wiçwasān.
Bisa ular dapat ditawar dengan mentera untuk mengeluarkan air penghidupan. Singa dan haraimau hilang buasnya oleh mentera yang dapat melumpuhkan binatang buas. Gajah mengamuk dapat ditundukkan dan dapat dijinakkan dengan cis. Akan tetapi amarah seorang penjahat, musuh yang masih ketinggalan, jangan sekali-kali engkau abaikan.

Niti Sastra Ayat 6
Jroning wwe parimāna nāla gaganging tunjung dawut kawruhi.
Yan ring jātikula pracara winaya mwang cila karmenggita.
Yan ring pandita ring ksamā mudita çāntopeksa ris mardawa.
Sang çāstrajna wuwusnirāmrêta padanyāngde sutusteng prajā.
Jika engkau akan mengetahui dalamnya air, cabutlah batang tunjung untuk penduga. Kebangsawanan seseorang nampak pada tingkah-laku, tabiat serta geraknya. Tanda pendeta ialah kesabaran, keikhlasan, kehalusan dan ketenangan budi. Tanda orang yang sempurna ilmunya : bahasa yang sebagai air penghidupan dapat membikin tenang dan girang orang.

Niti Sastra Ayat 7
Wwantên wwang artha hina sabhinuktinyālpa ring bhūsana.
Wwantên wwang gunamanta çila naya hinānūt rikāng durjana.
Wwang dirghāyusa wrêddha hina tan arêp ring dharmaçāstrolahen.
Yeku ng janma nirarthaka traya wilangnyoripnya nir tanpa don.
Orang kaya, yang makanannya tidak baik dan berpakaian tidak selayaknya; orang ‘alim, tetapi rendah tabi’atnya dan suka berkumul dengan orang-orang jahat; orang tinggi umurnya, tetapi rendah kelakuannya dan tidak mengamalkan ajaran suci; ketiga macam manusia ini, adalah orang yang hidupnya tidak berarti dan tidak berharga.

Niti Sastra Ayat 8
Yan ring paksi tinucca kāka hinaran pāpātmaka ng candala
Ring sarwāmrêga gardabheka hinaran tuccātmaka ng candala
Ring buddhiki tinucca candala si kopāngde hilangning ksamā
Ring durmitra cinandaleng jana kasor tang candala trinucap
Diantara jenis burung, burung gagak dianggap hina, terkenal buruk hatinya. Diantara jenis binatang berkaki empat, keledai tersohor nista hatinya. Tentang watak tabi’at suka marah rendah sekali, karena tidak kenal belas kasihan. Yang paling rendah, melebihi ketiga hal di atas, ialah orang yang tidak menetapi janji kepada sahabat.

Niti Sastra Ayat 9
Ring dyun alpa banunya kampita kucak, yapwan hibêk wwe sthiti.
Yan ring go rawa ghora çabdanika göng alpa ksiranyākêdik.
Yang ring janma kurūpa cestitanikākweh bhāwa solahnika.
Ring janmālpaka çāstra garwita têrêh çabdanya tanpāmrêta.
Buyung yang tidak penuh air, jika dikelek, kocak jika penuh, tenang airnya. Lembu yang keras dan besar suaranya, sedikit air susunya. Orang yang jelek rupanya, tingkah-lakunya banyak dibuat-buat. Orang yang tidak berpengetahuan, kasar bicaranya, keras dan tidak menarik hati.

Niti Sastra Ayat 10
Singhā raksakaning halas, halas ikangrakseng hari nityaça.
Singhā mwang wana tan patūt pada wirodhāngdoh tikang keçari.
Rug brāsta ng wana denikang jana tinor wrêksanya çirnapadang.
Singhānghöt ri jurangnikang têgal ayūn sāmpun dinon durbala.
Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan hutan. Hutannya dirusak binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang. Singa yang lari bersembunyi di dalam curah, di tengah-tengah ladang, diserbu orang dan dibinasakan.

Niti Sastra Ayat 11
Ring wwang haywa nirāçrayeka gawayên tekang mahā n āçaraya.
tong tang nāga mengāçraye sira bathāra tryambakāngarcana.
Sangke Bhaktinikāpagêh dadi sawit dehyang trirājyāntaka.
Prāptekāng garuda prasomya mulating nāga pranateng ruhur.
Manusia tidak boleh tak berkawan, wajib mencari pelindung yang kuasa. Lihatlah ular naga yang mencari perlindungan kepada betara bermata tiga (Betara Siwa) seraja sujud kepadanya. Karena baktinya seteguh itu, ia lalu jadi kalung betara yang memusnahkan tiga negeri (Betara Siwa). Burung garuda, seteru naga, melihat naga itu, sujud dari udara (karena hormatnya kepada Siwa).

Niti Sastra Ayat 12
Tingkahning suta mānuteng bapa gawenya mwang guna pindanên.
ton tang matsya wihanggamekana si kurmenaknya noreniwő.
ring mineka rinakṣaṇeka dinêlő ng andanya tan sparcanan.
ring kūrmekana ng aṇḍa yeningêt-ingêt tan ton tuhun dyānaya.
Seorang anak lelaki harus menurut jejak bapanya, meniru perbuatan dan kecakapannya. Lihatlah kepada ikan, burung dan kura-kura; tidak ada diantaranya yang mendidik anaknya. Ikan menjaga telurnya hanya dengan dilihatnya, tidak pernah dirabanya. Kura-kura hanya mengingat tempat telurnya, tidak dilihatnya, hanya ditunggu dengan bermenung-menung.

Niti Sastra Ayat 13
Yapwan hantiganing wihanggama hinasparçanya tan niṣṭura.
mengêt ring samayānya sangka ri kanang koca swayam-putra ya.
byakta mwang bapa rakwa rūpa guna len kāryanya tan bheda ya.
tan mangka ng jana-putra winwang iniwō tan sah rinaksenamêr.
Adapun burung, betul ia meraba telurnya, tetapi tidak keras-keras; jika tiba saatnya, anaknya keluar sendiri dari kulit telurnya. Walaupun begitu, rupa, kecakapan dan kelakuannya tidak berbeda dengan induk dan bapanya. Tidak demikian hal anak manusia, sungguhpun ia mendapat didikan, dipelihara baik-baik, dan selalu dijaga serta dimanjakan.

Niti Sastra Ayat 14
Sang wedajna phalanya homa wangunên byaktāmrêteng rat kabeh.
çilāwrêtti phalanua ring çruti pagêh ring buddhi tan cancala.
Bhogānindya phalanya yan kinahanan ring artha dāneng prajā.
Ring stri putra pahalanya ring surata len çardūla wikriḍita.
Orang yang faham kepada Weda, perlu mengadakan sasaji (kurban), agar mendatangkan keselamatan bagi segala orang. Watak yang tetap dan hati yang teguh, tidak guncang-guncang, adalah kesenangan hidup yang suci dan sedekah kepada orang lain. Buat orang perempuan anak laki-lakilah yang menjadi buah kesenangan percintaan.

1 komentar: