Google+

Niti Sastra Sargah 8

Niti Sastra

Sargah 8

Ragakusuma ---/oo-/o-o/oo-/ooo/ooo/-o-/oo//

Niti Sastra Ayat 1
Tikṣṇa hyang rawi ring prabhata magawe ksayani tanu halanya manglare.
Yan sore sira manda-teja hatur āmrête pan raming angga durbala.
Dhumojjwālaning anggesêng cawa mareng awak anurudaken kayowanan.
Prāyaçcitta mayajna homa wangunên pangilanganira pāpa kaçmala.
Cahaya matahari pada waktu pagi-pagi merusakkan badan; akibatnya tidak baik, karena menimbulkan penyakit. Pada waktu sore cahaya matahari yang tiada begitu panas lagi itu adalah seperti air penghidupan yang menyiram badan yang sudah kehabisan kekuatan. Jika panas nyala api pembakaran mayat mengenai tubuh, maka ia akan mengurangkan tenaga kembang tubuh itu. Maka sebaiknya adakanlah sesaji untuk menghilangkan kehinaan dan kekotoran.

Niti Sastra Ayat 2
Sakṣāt dagdha gêsêng tikang wadana yan kita tan anginangerikāng sabhā.
Sakṣāt dagdha gêsêng tikang muka yadin prihawak anginangerikang sabhā.
Sakṣāt dagdha gêsêng tikang wwang anwan i wayahnya dumadak ika hina kāsyasih.
Sakṣāt dagdha gêsêng tikang huwus jada pikun dumadak anêmu bhāgya wiryawan.
Seperti terbakar dan hangus mukamu, jika dalam perkumpulan engkau tidak makan sirih. Seperti terbakar dan hangus mukamu, jika engkau makan sirih sendiri saja dalam perkumpulan itu. Seperti terbakar dan hangus orang yang sudah tua renta, lalu mendapat keuntungan dan kemuliaan.


Niti Sastra Ayat 3
Ring rāt pitrê ngaranya pānca-widha sang matulung urip i kālaning bhaya.
Mwang sang nitya maweh bhinojana taman walês i sahananing huripnira.
Lawan sang pangupādhyayān bapa ngaranya sira sang anangaskare kita.
Tan waktan sang amêtwakên ri kita panca-widha bapa ngaranya kawruhi.
Di dunia ini yang disebut Bapak ada lima, yaitu : orang yang menolong jiwamu waktu kamu dalam bahaya; orang yang memberi makan selama kamu hidup, dengan tiada menerima balasan apa-apa; orang yang mengajar kamu; orang yang mensucikan dirimu; dan tentu saja; orang yang menyebabkan kamu lahir; ingat-ingatlah itu semua.

Niti Sastra Ayat 4
Artha stri magawe wirodhanira sang sujana tuwi manahnira geleh.
Tan manggatika kaciwambekira ring rwa karananing akol pada buteng.
Sihning mitra kadang suputra bapa len guru hilang atemah manah geleh.
Anghing sang wiku nisparigraha, wadhujana dhana kadi losta tanpa don.
Harta-benda dan wanita itu sering menyebabkan perselisihan antara orang-orang baik; hati menjadi jahat karenanya. Orang hendak mengecap kenikmatan dari keduanya dengan tiada batasnya, sebab itu orang berkelahi mati-matian memperebutkannya. Cinta kepada sahabat, sanak-saudara, anak, bapak dan guru, hilang; hati orang menjadi busuk karenanya. Hanya sang pendeta yang terhindar dari penyakit itu. Bagi pendeta harta-benda dan wanita itu hanya sebagai segumpal tanah yang tidak berharga.

Niti Sastra Ayat 5
Wwang murkātika duṣṭa hinganing umahnya angalêm ing awaknya ngastuti.
Yan sang pārthiwa hinganing swa-pura ngarcana wara guna wirya wikrama.
Yapwan sang prabhu ring swa-pora pada ngastawa sa-lêbani bhumi maṇḍala.
Sang yogiçwara sarwa bhūmi pada ngarcana ri sira mananya sādara.
Orang bodoh dan jahat, hanya mendapat penghormatan dan pujian di dalam rumahnya sendiri. Pembesar negeri disebut ternama, cakap, berani dan berkuasa, hanya dalam daerah yang dibawah perintahnya. Raja dipuji hanya di dalam lingkungan negerinya. Akan tetapi orang suci dihormati dan dipandang tinggi dimana-mana.

Niti Sastra Ayat 6
Tan mitran tikanang durātmaka, sirang sujana jūga minitra sewakan.
Tan lupteng yaça dharma punya gawayên rahina wêngi taman hêlên-hêlên.
Ewêhning pati tan kênenaku, ng uripta suka wibhawa nora sacwata.
Yatna sewaka ring mahāmuni sipat siku-siku patitis tanakêna.
Jangan bersahabat dengan orang-orang jahat, bersahabat dan bergaullah dengan orang-orang baik saja. Jangan abaikan pekerjaan baik, kerjakanlah keutamaan dan berilah derma siang- malam; jangan sekali-kali hal itu kau pertangguhkan. Yang mengesalkan kita tentang hal kematian ialah, karena kita tidak tahu kapan datangnya. Hidupmu bisa penuh dengan kesenangan dan kekayaan, tetapi hidup itu tidak kekal. Oleh karena itu bergurulah dengan rajin kepada pendeta yang utama. Tanyakanlah jalan mana yang baik, mana yang tidak, supaya dapat mencapai tempat tujuanmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar