Google+

Puri Kesiman

Puri Kesiman: Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Badung

Artikel ditulis dalam rangka menyambut acara “Restorasi Makna, Nilai, Jatidiri Puri Agung Kesiman Sebagai Benteng Pelestari dan Pengembangan Budaya Bali” di Puri Agung Kesiman, tanggal 2 Juli 2011. 

“Tuanku I Gusti Ngurah Mayun,andai tuan masih ada hari penghabisan itu, apakah tuan kuasa tak akan membakar istana, seperti dilakukan dua saudara tuan,di Denpasar dan Pemecutan.” 

“Itulah sebab aku mendahului pergi,aku tak mau bakar membakar,mati tertembak peluru lawan.” 

“Jadi, karena itukah Tuan titahkan pandita,menikam keris pusaka ke dada.” 


“Engkau benar, tapi bukan satu-satunya sebab,aku tak mampu rubuhkan kokoh hati raja,aku sarankan raja melawan pakai otak bukan otot,aku ingatkan raja taktik leluhurku,bersama Lange sang pedagang negeri asing,berhasil luluhkan hati walanda,lima puluh tahun silam,sesudah berhasil rebut Buleleng, Jembrana, Karangasem,walanda angkat senjata,arahkan moncong-moncong meriam ke Puri Klungkung,leluhurku I Gusti Gde Ngurah Kesiman,mampu yakinkan Dewa Agung Klungkung,tak ada guna melawan walanda,pertempuran sehebat apapun akan berakhir derita,walanda pasti menang,tombak dan keris pusaka hanya mampu tikam bangsa sendiri,tak akan dapat kalahkan senapan dan meriam,Dewa Agung Klungkung sadar,perdamaian Bali lebih penting dari ambisi pribadi,bersamaan dengannya, melalui Lange,leluhurku tebar ancaman pada walanda,jika paksakan diri serang Klungkung,pasukan Badung, Tabanan, dan Mengwi, akan berdiri di garis depan acungkan tombak,siap menumpahkan darah,perdamaian pun tercipta.” 

“Apakah tuanku sendirian kehendaki perdamaian?" 

“Tidak, aku tak sendirian,Brahmana-brahmana yang utamakan damai,ksatria-ksatria yang tak suka berpura-pura, wesia-wesia yang cari muka di depan raja, padu katakan, tak ada yang lebih sempurna dari mengalah, mengalah bukan berarti kalah, mengalah untuk menang, orang-orang cina dan arab, siap kirimkan uang tiga ribu ringgit untuk bayar perdamaian, sayangnya raja bergeming, aku kecewa, lebih baik mati ditangan pandita daripada di ujung bedil, lebih baik wariskan istana utuh daripada puing-puing, aku tahu, begitu tinggalkan istana dalam puing-puing, tak lama kemudian, walanda akan bangunkan gedong kantor, mengangkangi merajan suci warisan leluhur, lihatlah sekarang, istana saudaraku di Denpasar, menjelma menjadi hotel, istana saudaraku di Pemecutan, jadi pusat pertokoaan, tak ada bangga di dada, peninggalan masa lampau hilang di balik gemerlap rupiah.” 

“Tetapi….tetapi tuanku.” 

“Sudah…sudahlah tak perlu diperpanjang lagi, alam kita berbeda, aku mau pulang ke kahyangan, lanjutkan perjuanganmu, pengabdianmu, penuhi satu permintaanku, jika esok engkau bertemu cicitku, Kusuma Wardhana, katakan dia sudah tak selayaknya sebut diri, Anak Agung Ngurah Gde, sepantasnya cicitku busung dada sebut diri, I Gusti Gde Ngurah, nama kebesaran leluhur kami turun temurun, bukan tuk kembali duduki singgasana, kebesaran masa lampau, namun, tuk kebesaran masa kini, melangkah ke masa depan, benahi kekurangan bangsa Bali, terlena kemewahan upacara upakara, terjebak riuh suara gamelan, lemah gemulai tari legong, lupa ilmu pengetahuan dan teknologi, jangan ulangi lagi pengalaman kami di masa lampau, sibuk melirik kelengahan lawan, mengasah tombak menghunus keris, bukan semata demi merebut singgasana lawan, tetapi juga kawula tergadai, tuk dijual sebagai budak, yang lebih mahal dari sekantong opium, ingatkan dia cicitku, I Gusti Gde Ngurah Kesiman Kusuma Wardhana, kebudayaan dan orang-orang berbudaya, bukan hanya bergelut upakara dan upacara, bukan hanya memukul gamelan dan menarika legong, ilmu pengetahuan dan teknologi juga kebudayaan, karena itu, gali sedalam mungkin bakat ilmu pengetahuan bangsa Bali, yang terpendam dalam, tersembunyi di balik belenggu hukum adat, peninggalan orang-orang di zamanku, penuh rekayasa untuk selamatkan penguasa, jadikan 20 September hari kebangkitan bangsa Bali, bukan hari perayaan atas kekalahan, bangkitkan puri dengan selenggarakan, lomba-lomba kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan teknologi perang, cukup teknologi tepat guna, yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Latar Belakang

Empat orang tokoh Puri Kesiman Denpasar dipimpin Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardhana mengadakan pertemuan dengan Chusmeru di kampus D4 Pariwisata Jalan Dr. Goris 7 Denpasar. Pertemuan itu membicarakan pernyataan Chusmeru yang merasa dijebak dalam pertemuannya dengan Hartono di Puri Kesiman, beberapa waktu lalu. Kusuma Wardhana memaparkan banyak pihak yang mempermasalahkan dan tersinggung dengan pernyataan itu karena dapat dipandang mencemarkan nama puri. Sementara itu, Chusmeru tidak sependapat dengan pernyataan itu karena dia tak menduga Hartono akan hadir dalam pertemuan yang akan membahas perkembangan isu Jembatan Jawa Bali (JJB). Menurut Chusmeru, kehadiran Hartono di Puri Kesiman membuat dirinya kaget, dan tak bisa mengelak, sehingga hanyut dalam pembicaraan tentang dia dan Planet Bali, kepunyaannya. Jika hal itu memang itu membuat pihak Puri Kesiman tersinggung, Chusmeru meminta maaf.

Kusuma Wardhana mengaku merasa plong dan menerima permintaan maaf Chusmeru. Dia menegaskan bahwa tidak pernah merekayasa pertemuan antara Hartono bersama Chusmeru dan kawan-kawan. Sementara itu, Ketua Umum Forum Pemerhati Hindu Dharma Indonesia (FOHDI) I Dewa Gede Ngurah Swastha, mendukung pernyataan pengamat budaya Profesor I Gusti Ngurah Bagus agar Pemerintah Daerah Badung mencabut izin Planet Bali. Jika Hartono keberatan, bisa mem-PTUN-kan Pemda Badung. Akan tetapi dengan berbagai bukti penyelewengan di Planet Bali dan promosi “ayam” Hartono lewat internet, I Gusti Ngurah Bagus yakin Pemda Badung akan mampu mempertahankan keputusannya. Dukungan lainnya datang dari LPPH Pemuda Pancasila Bali. Melalui ketuanya Drs. Made Buktiyasa, LPPH Bali dikatakannya siap membeking Bupati Badung menghadapi tuntutan Hartono. Itu dilakukan karena LPPH Pemuda Pancasila Bali ingin memberantas perbuatan yang melecehkan agama Hindu dan budaya Bali.

Tulisan tersebut di atas adalah salah satu dari puluhan berita tahun mengenai Puri Kesiman dan Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardhana sebelum dan sesudah masa Reformasi. Saat itu Kusuma Wardhana adalah ketua FIP2B, yang getol mengawasi penyimpangan-penyimpangan konsep pembangunan di Bali. Jadi, tahun 1990-an sampai dengan awal 2000-an, Puri Kesiman adalah markas perjuangan kaum reformis. Jika, ditelusuri lebih jauh, ternyata bukan hanya pada periode itu, melainkan jauh sebelumnya Puri Kesiman sudah pernah tampil sebagai markas perjuangan. Saat itu, tahun 1945-1949, yang disebut sebagai periode Revolusi Fisik, Puri Kesiman tampil sebagai salah satu markas perjuangan pemuda revolusioner. I Gusti Ngurah Kusuma Yudha, yang merupakan ayah kandung Kusuma Wardhana, yang merupakan bagian dari pimpinan pejuang kemerdekaan Bali. Ia membiarkan istana warisan leluhurnya sebagai markas perjuangan, karena kuatnya semangat nasionalisme pada dirinya.

Suatu saat para pemuda revolusioner yang sedang berkumpul di Puri Kesiman tidak menyadari dirinya sudah dikepung oleh pasukan Jepang. Biarpun sudah terkepung, namun mereka berhasil meloloskan diri. Begitu para gerilyawan yang sebelumnya sudah terjepit di Puri Kesiman, Puri Satria, dan beberapa tempat lainnya di Denpasar bisa meloloskan diri, mereka langsung menuju ke Peguyangan atau desa-desa lain yang diperkirakan lebih aman. Di tempat persembunyiannya, para gerilyawan akhirnya sadar, bahwa mereka bertindak terlalu gegabah, melaksanakan suatu kegiatan besar tanpa konsep yang jelas dan dasar-dasar perjuangan yang teratur dan rapi. Oleh karena itulah pimpinan TKR di bawah I Gusti Ngurah Rai mulai memikirkan landasan, strategi, dan siasat perjuangan. Sejak itu para gerilyawan mulai masuk ke desa-desa dan dusun yang jauh dari kota, agar bisa bertemu dengan rakyat, tidak saja untuk mensosialisasikan arti kemerdekaan, tetapi juga mencari dukungan untuk membangun gerakan massa yang lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih jauh dari itu, para pimpinan TKR juga mengambil kesepakatan untuk mencari bantuan senjata ke Jawa. Pada hari Rabu, tanggal 19 Desember 1945 rombongan ekspedisi yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai berangkat ke Jawa. Sementara itu, para pemimpin yang berada di Bali, selain berusaha merebut hati rakyat, mereka juga membenahi struktur organisasi, kemudian melahirkan suatu konsep baru berupa induk perjuangan yang mengkoordinir para gerilyawan dalam menghadapi musuh. Induk perjuangan ini disebut Markas Besar(MB), yang membawahi beberapa cabang yang ada pada satu atau dua distrik, disebut staf. Cabang membawahi ranting yang tersebar di desa-desa. Cara kerjanya, cabang, memperoleh informasi dan pengarahan dari MB yang kemudian diteruskan ke ranting, yang selanjutnya meneruskan ke anak buah masing-masing. Akhir Juli 1946 Induk Pasukan bergerak ke selatan, melintasi leher Gunung Batukaru(Tabanan), lewat Bukit Keladin, menuju suatu tempat di Tabanan. Di sini, di Sarinbuana induk pasukan dipecah: sebagian ke staf Kesiman markas Badung.

Dengan demikian, sudah dua periode dalam sejarah Bali abad XX, Puri Kesiman berfungsi sebagai markas perjuangan. Sebagai satu-satunya istana Raja Badung yang tersisa sampai sekarang ini, tentu sangat menarik untuk mengkaji bagaimana Puri Kesiman bisa bertahan cukup lama dan apa kiprahnya di masa kini, awal abad XXI, terutama dalam kaitannya dengan kedudukan dan peran puri dalam masyarakat Bali, khususnya Desa Kesiman yang semakin majemuk. Karena itu, dalam studi ini akan dibahas sejumlah pertanyaan penelitian, yakni:
  1. bagaimana sejarah berdirinya Puri Kesiman;
  2. Apa peran Puri Kesiman dalam sejarah Bali pada umumnya dan sejarah Badung khususnya; dan
  3. Bagaimana kedudukan Puri Kesiman pada awal zaman kemerdekaan sampai sekarang ini.

Pertanyaan penelitian itu tampak sangat sederhana, namun jika mampu menjawabnya secara maksimal, maka setidaknya akan memberikan gambaran yang relatif utuh mengenai sejarah Puri Kesiman. Tulisan ini memang dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian itu, namun kualitas jawabannya belum maksimal hanya bertumpu pada sumber sejarah sekunder, bahkan tersier. Artinya, jawaban yang dikemukakan dalam tulisan ini masih sangat umum, karena memang merupakan pengetahuan umum mengenai sejarah Puri Kesiman. Karena itu diperlukan sejumlah sumber primer baik yang tradisional maupun modern, terutama dokumen-dokumen rahasia pemerintah kolonial Belanda. Jadi, tepatnya tulisan ini dapat disebut sebagai sebuah proposal terbuka yang ditujukan kepada siapapun yang merasa memiliki sumber-sumber primer yang dimaksud.
sumber: Nyoman Wijaya (sejarawan UNUD)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar