Google+

Raja Mengwi ke III - XI

Raja Mengwi ke III - XI

I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng Raja III Mengwi

Setelah I Gusti Ngurah Made Agung wafat, digantikan oleh adiknya I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, yang bergelar Cokorda Munggu

Hal ini disebabkan putera mahkota I Gusti Agung Made Agung tidak kuasa dicegah, melanggar bisama leluhur, mengambil isteri ke Puri Kuramas. I Gusti Agung Made Agung mengungsi ke desa Kapal, menjadi Pangeran Kapal.

I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng mempunyai beberapa putera, yakni: 

  • I Gusti Agung Mbahyun, 
  • I Gusti Agung Made Munggu, 
  • I Gusti Ngurah Jembrana (pemguasa di Jembrana), dan 
  • I Gusti Gede Meliling.

I Gusti Mbahyun (Mayun) Raja IV Mengwi

Setelah I Gusti Agung Alangkajeng tua, beliau yang masih beristana di dua Puri (Angaron Puri) wafat di Puri Munggu. Oleh masyarakat diberi gelar Bhatara Ring Pasaren Belimbing
Putera sulungnya I Gusti Mbahyun (Mayun) menggantikan bergelar Cokorda Mayun.

Pada masa pemerintahanya, laskar Mangha-pura berperang dengan laskar I Gusti Ngurah Bun. Terjadinya perang tersebut, dikarenakan I Gusti Ngurah Bun tidak setia kepada Kawya-pura. I Gusti Mayun tewas dalam pertempuran yang terjadi di desa Lambing. 
I Gusti Agung Made Munggu, setelah mendengar kakaknya tewas, memukul kentongan mengirim laskar bantuan. Laskar I Gusti Ngurah Bun dapat dikalahkan. I Gusti Ngurah Bun dapat dibunuh, anggota laskarnya dikejar sampai ke desa – desa. 
Itu sebabnya desa Bun berganti nama dengan desa Sedang, Angantaka, dan Jagapati. 
Jenasah I Gusti Mbahyun setelah diupacarai diberi gelar Bhatara ring Bun. Beliau meninggalkan seorang putera I Gusti Putu Mayun, masih anak – anak.

I Gusti Agung Made Munggu Raja V Mengwi

Setelah wafatnya I Gusti Mayun terjadi huru–hara antara sesama keturunan kerajaan Mengwi saling serang, memisahkan diri. Atas permintaan para pemuka kerajaan I Gusti Agung Made Munggu didaulat menduduki tahta Kawya-pura. Beliau melangkah ke istana Kawya-pura sambil membawa pusaka – pusaka. Tempat pemujaan dibangun berhadapan dengan Puri, sebelah Timur jalan, bernama Pemerajan Mayun. Beliau bergelar Cokorda Munggu. Sementara itu I Gusti Agung Kapal diserahkan memelihara Pemerajan dan Taman Ayun.

Dalam masa pemerintahannya I Gusti Agung Made Munggu menyerang, merebut kembali bekas–bekas wilayah kerajaan Mengwi yang melepaskan diri, seperti desa Abian Semal, Sangeh, dan Mambal.

Setelah lama memerintah, beliau pindah keraton di Puri Agung Kaleran, lengkap dengan tembok yang megah. Beliau beristerikan puteri dari Anglurah Tabanan yang beristana di Puri Kubon Tingguh, berputera I Gusti Agung Putu Agung. Serta seorang isteri puteri dari I Gusti Ngurah Kaba – Kaba, bernama I Gusti Ayu Oka tidak diceritakan keturunannya

I Gusti Ayu Oka Raja (Ratu) VI Mengwi

I Gusti Agung Made Munggu setelah lanjut usia dan wafat bergelar Bhatara Ring Pasaren Gede. I Gusti Ayu Oka isteri beliau dari Puri Kaba–Kaba untuk sementara mengisi kekosongan, oleh karena putera kandung I Gusti Agung Putu Agung dan kemenakannya, I Gusti Putu Mayun masih anak – anak.

Tersiar fitnah yang mengatakan Blambangan melepaskan diri. Ratu kemudian memanggil Pangeran Blambangan. Pangeran Blambangan datang memenuhi panggilan namun tidak diperkenankan masuk ke Puri. 
Pangeran beristirahat di pesanggrahan di Tegal Waru, sebelah Barat-daya Puri bernama Banjar Jawa
Pengiring Pangeran Blambangan diberi tempat di sebelah Barat Sahibang (Sibang), yang sekarang dinamakan Janggala Blambangan, dan Tan Hayu.

Pangeran Blambangan terkenal sakti, sempat memperliatkan kehebatannya berjalan–jalan di atas air telaga Tama Ayun. Ratu I Gusti Ayu Oka sempat mendengar kejadian ini semakin menjadi marah, kemudian menyuruh I Gusti Agung Kamasan dari Sibang dan Mekel Munggu membunuh Pangeran di Pantai Seseh. Pangeran Blambangan dengan tabah menerima maut yang segera datang. Sesaat sebelum menghembus napas terakhir, Pangeran mengutuk Kawya-pura akan mengalami masa – masa surut. Setelah wafat Pangeran Blambangan dibuatkan Kramat dan Meru Tunpang Solas, yang disembah oleh orang – orang di desa Munggu, Cemagi dan Sibang.

I Gusti Agung Putu Agung Raja VII Mengwi

Setelah memerintah beberapa lama I Gusti Ayu Oka sudah tua dan wafat. Putera tiri beliau I Gusti Agung Putu Agung menggantikan bergelar Cokorda Putu Agung. Dalam pemerintahannya beliau dibantu oleh adik misannya sebagai Raja Muda bernama I Gusti Agung Putu Mayun, putera dari Bhatara Ring Bun.

Cokorda Putu Agung wafat di Ukiran, bergelar Bhatareng Ring Ukiran. Beliau berputera I Gusti Agung Made Agung, beribu dari I Gusti Ayu Ngurah, puterinya I Gusti Ngurah Teges dari Puri Kaba-Kaba.

I Gusti Agung Made Agung Raja VIII Mengwi

I Gusti Agung Made Agung dinobatkan menjadi raja bergelar Cokorda Agung Ngurah Made Agung. Beliau didampingi oleh Raja Muda Cokorda Made Kandel, seorang putera yang diangkat (diperas) dari Dewa Agung Made dari kerajaan Dalem Sukawati, oleh I Gusti Agung Putu Mayun. I Gusti Agung Putu Mayun setelah wafat bergelar Bhatara Ring Pasaren Anyar.

Setelah wafat Cokorda Agung Ngurah Made Agung bergelar Bhatara Angluhur. Beliau banyak mempunyai isteri baik dari kalangan Puri maupun dari sudra. Adapun putera yang terkemuka adalah: 

  • I Gusti Agung Made Agung, beribu Jro Sengguan dari Kekeran, 
  • I Gusti Agung Ketut Agung, beribu dari Kapal Kanginan.

Sedangkan Cokorda Made Kandel setelah wafat bergelar Bhatareng Saren Sibang, berputera I Gusti Agung Putu Mayun Mreta, dan I Gusti Agung Nyoman Munggu.

I Gusti Agung Made Agung Raja IX Mengwi

I Gusti Agung Made Agung seorang putera kelahiran sudra, setelah diangkat anak oleh ibu tirinya (permaisuri dari Munchan), naik menggantikan ayahnya menjadi raja Mengwi, bergelar Cokorda Ngurah Made Agung. Beliau beristeri I Gusti Agung Istri Agung, puteri dari I Gusti Ketut Kamasan Sibang. Istrinya ini membawa abdi tatadan dari desa Sedang dan Angantaka, berikut harta benda, mas, sawah, sebab beliau adalah puteri satu – satunya. 

Dari isteri ini melahirkan puteri satu – satunya bernama I Gusti Agung Istri Agung Muter, yang diperisteri oleh raja Klungkung Dewa Agung Gede Putera. 

Putera tiri dari I Gusti Agung Istri Agung Muter yang bernama Dewa Agung Gede Jambe, bergelar Dewa Agung Putera inilah yang gugur dalam Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908. 

Dalam masa pemerintahannya, I Gusti Agung Made Agung berselisih dengan adiknya tirinya I Gusti Agung Ketut Agung. Raja juga menjalankan fitnah terhadap I Gusti Agung Nyoman Munggu, hingga dibuang oleh Dewa Agung Klungkung ke Nusa Barong (Nusa Penida)

Raja ingin menyingkirkan saudaranya dengan mengangkat derajat dari orang – orang yang tidak pantas. Raja memberi gelar kepada I Gusti Made Kedewatan dengan Anak Agung Gede Putera, yang disiapkan untuk menggantikan kedudukannya, sebab beliau tidak punyai putera laki – laki.

Sebaliknya I Gusti Agung Ketut Agung membuktikan diri beliau sebagai seorang Raja Putera. Beliau diuji oleh Dewa Agung Klungkung untuk memasuki Goa Lawah sampai tembus ke Pura Besakih. Ujian itu dilaksanakan dengan berhasil berkat restu dari Ida Bhatara Tolangkir. Semenjak itu beliau diberi gelar I Gusti Agung Ketut Agung Bhusakih

Dewa Agung Klungkung kemudian memberi tahu pihak Mangha-pura tentang keagungan I Gusti Agung Ketut Agung. Namun raja Mangha-pura tidak mau percaya dan tidak mau menerima kedatangan adiknya tirinya. Itu sebabnya I Gusti Agung Ketut Agung dibuatkan istana di Klungkung bernama Puri Batan Waru.

Singkat cerita, dalam perkembangan selanjutnya kedudukan Raja menjadi terhimpit, oleh karena banyak pemuka – pemuka kerajaan memihak I Gusti Agung Ketut Agung. Tokoh – tokoh dari warga desa seperti Marga, Sembung, Cau tidak suka kepada Anak Agung Gede Putera. Mereka memisahkan diri dengan Kawya-pura dan mengabdi ke kerajaan Tabanan. Inilah awal permusuhan kerajaan Tabanan dengan Mengwi.

I Gusti Agung Ketut Agung Raja X Mengwi

I Gusti Agung Ketut Agung yang berkedudukan di Puri Batan Waru Klungkung pulang kembali ke Mngha-pura, tetapi tidak ke Puri Agung, beliau tinggal di Jeroan Bakungan. I Gusti Agung Nyoman Munggu, yang sempat dibuang oleh Dewa Agung Klungkung ke Nusa Penida, kembali pulang ke Mangha-pura membangun istana bernama Puri Mayun.

Di Puri Mayun inilah diselenggarakan Pesamuhan Agung keluarga Raja dengan pemuka – pemuka masyarakat, yang menghasilkan kesepakatan, mendudukkan I Gusti Agung Ketut Agung sebagai Raja, dan I Gusti Agung Nyoman Munggu beserta I Gusti Agung Putu Mayun Merta sebagai Iwa Raja (raja muda).

Hasil kesepakatan Pesamuhan Agung disampaikan kepada Raja. Raja bersedia menerima kesepakatan tersebut. Kemudian I Gusti Agung Ketut Agung diangkat menjadi Raja bergelar Cokorda Agung Ketut Agung Bhusakih
I Gusti Agung Nyoman Munggu menjadi raja muda bergelar Cokorda Nyoman Mayun dan I Gusti Agung Putu Agung Mayun bergelar Cokorda Mayun Mreta. Tetapi I Gusti Agung Ketut Agung Bhusakih belum bersedia memasuki Puri Agung, oleh karena Anak Agung Gede Putera masih tinggal di Puri Agung.

Anak Agung Gede Putera mendengar berita, laskar Munggu akan menyerang dirinya. Dengan dibekali keris Pusaka Ki Panglipur oleh Raja IX secara diam – diam pergi ke arah Barat, tujuannya ke Tabanan. Laskar Munggu yang mengetahui Anak Agung Gede Putera lari, dapat dikejar sampai di persawahan desa Kelaci. Raja IX yang berusaha melindungi, menghalanginya hingga terjadi perang dengan laskar Munggu. Laskar Munggu tidak mengatahui bahwa yang diserang dan dibunuh itu adalah rajanya sendiri (Raja IX). Sementara Anak Agung Gede Putera dapat meloloskan diri. Raja I Gusti Agung Made Agung yang terbunuh oleh laskar Munggu bergelar Bhatara Ring Suradana.

Raja I Gusti Agung Ketut Agung belum bersedia melangkah memasuki Puri Agung, oleh karena keris pusaka Ki Panglipur masih dibawa oleh Anak Agung Gede Putera yang bersembunyi di Tabanan. Dengan segala upaya keris pusaka dapat dikembalikan, dan Anak Agung Gede Agung diampuni diberikan rakyat di Moncos, Baha dan Banjar Sayan, yang kemudian dijadikan manca. Setelah mendapat keris pusaka Ki Panglipur, barulah Raja I Gusti Agung Ketut Agung Bhusakih melangkah memasuki Puri Agung.

Oleh karena desa Wratmara (Marga) sudah bergabung ke kerajaan Tabanan, maka sulitlah Raja Mengwi mendatangi (tangkil) ke Pura Kahyangan Beratan, untuk memuja Bhatara Gunung Mangu. Itu sebabnya Cokorda Mayun mendirikan Pura Penataran Kahyangan Tinggan di desa Tinggan, yang kerjakan oleh penduduk desa Tinggan, Tiyingan, Semanik, Plaga, Kiadan, Nungnung, Bon, Sidan, dan desa Belok, yang diplaspas tahun 1830 M. Tahun 1832 dibangun lagi Pura Penataran Agung Bon. Tahun 1834 lagi dibangun Pura Puncak Gunung Tedung oleh Cokorda Mayun.

Raja Cokorda Ketut Agung Bhusakih setelah tua, dan wafat bergelar Bhatara Ring Pasaren Agung. Beliau hanya meninggalkan seorang puteri I Gusti Agung Istri Mayun, yang bergelar Cokorda Istri Agung. 

Raja Muda (Iwa Raja) Cokorda Nyoman Mayun setelah tua dan wafat bergelar Bhatara Ring Galungan. Beliau meninggalkan putera I Gusti Agung Made Raka, beribu Jro Serongga , keluarga Bendesa Mas Mambal. I Gusti Agung Istri Putu dan adiknya I Gusti Agung Made Agung, kedua beribu patni dari Puri Grana.

Raja Muda Cokorda Mayun Mreta setelah wafat bergelar Bhatara Ring Pekerisan. Beliau meninggalkan seorang putera I Gusti Agung Gede Mayun, beribu Gusti Luh Kajeng dari Bindhu.

I Gusti Agung Made Agung Raja XI (Terakhir) Mengwi

Oleh karena Raja hanya mempunyai seorang puteri, maka para pemuka di kalangan Puri Agung mengadakan Pesamuhan untuk menunjuk pengganti Raja berikutnya. Dalam pesamuhan itu disepakati untuk mendudukkan I Gusti Agung Made Agung, putera Bhatara Ring Galungan menjadi Raja Mengwi, bergelar Cokorda Ngurah Made Agung
Kakak beliau I Gusti Agung Made raka diangkat sebagai Raja Muda (Iwa Raja) bergelar Anak Agung Gede Alangkajeng. Kemudian Puri Mayun dibagi 2 bagian. Bagian Utara tetap bernama Puri Mayun, tempat tinggal dari I Gusti Agung Gede Mayun atau Anak Agung Gede Mayun nama lainnya. Bagian Selatan bernama Puri Anyar, kediaman dari Anak Agung Gede Alangkajeng. Puri Anyar dan Pemerajannya diplaspas pada tahun 1860 M.

Anak Agung Gede Alangkajeng terkenal sakti dan kebal, tidak dapat ditembus oleh peluru. Adapun kesaktiannya berkat anugrah dari Bhatara Gunung Mangu. Pada suatu hari tengah malam beliau bersemadi. Di dalam daksina didengar suara berisik. Beliau mengambil dan membuka isi daksina, yang ternyata ada ular hitam – putih. Ular tersebut dililitkan ditubuhnya. Tiba – tiba ular tersebut berubah menjadi selempang bahu berwarna Hitam – Putih, diberi nama Ki Naga Poleng.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar