Google+

Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya, karena pada Hari Raya Saraswati ini sebagai hari pemujaan turunnya ilmu pengetahuan bagi umat Hindu
secara Etimologi Saraswati terdiri dari kata : Saras dan Wati.
  • Saras berarti sesuatu yang mengalir, dan kecap atau ucapan.
  • Wati berarti yang memiliki/ mempunyai. 

Jadi, Saraswati berarti : yang mempunyai sifat mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dalam ajaran Tri Murti menurut Agama Hindu Sang Hyang Saraswati adalah Saktinya Sanghyang Brahman. Sang Hyang Saraswati adalah Hyang-Hyangning Pangaweruh sehingga Aksara merupakan satu- satunya Lingga Stana Sang Hyang Saraswati. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan.


Saraswati sebagai dewi di dalam hindu, memiliki peran penting dalam perkembangan serta pemahaman hindu bahkan di dunia sendiri. Saraswati diibaratkan sebagai dewi yang menggambarkan pengetahuan. Pengetahuan yang cantik dan indah seperti paras dewi Saraswati dan keibuan yang melindungi serta mengasuh umat manusia. Dalam reg weda dan purana Dewi Saraswati dianggap sebagai dewi pengetahuan dan seni serta dewi kebijaksanaan . Sebagai pemahaman bahwa seni serta ilmu pengetahuan dapat membawa manusia pada kemoksaan (kebebasan) bagi yang meyakininya.

Sebuah kata atau ucapan baru akan mempunyai makna lebih bilamana didasari oleh ilmu pengetahuan. Sebab hanya ilmu pengetahuan (dalam arti luas) yang mampu menjadi dasar bagi seseorang untuk memperoleh kebijaksanaan yang merupakan landasan untuk mencapai suatu kebahagiaan lahir bhatin (Ananda).

Pada saat pelaksanaan upacara hari raya Saraswati, umat Hindu di Bali khususnya merayakan dengan menghaturkan upakara kepada tumpukan lontar-lontar dan kitab sastra-sastra agama, serta buku-buku ilmu pengetahuan lain, sebagai wujud syukur atas ilmu pengetahuan yang telah terbit menerangi kehidupan manusia. Umat Hindu memandang Aksara sebagai lambang sthana Sang Hyang Aji Saraswati. Aksara yang termuat dalam bentuk lontar ataupun buku-buku adalah serangkaian huruf-huruf yang membentuk ilmu pengetahuan baik Apara Widya maupun Para Widya.

  • Apara widya adalah segala pengetahuan yang mengetengahkan tentang ciptaan-ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang keberadaan Bhuwana agung dan Bhuwana alit. 
  • Para Widya adalah ilmu pengetahuan yang mengajarkan tetang hakekat Ketuhanan itu sendiri.
Dalam Kekawin Niti sastra dikatakan bahwa : Orang yang tanpa ilmu pengetahuan, amatlah tidak menarik, meskipun masih muda usia , berwajah tampan, dari keturunan yang baik ataupun bangsawan, karena orang seperti itu ibarat bunga teratai yang berwarna merah menyala namun tidak memiliki bau yang harum, yang mampu menarik kumbang-kumbang untuk mendekat, tiadalah gunanya.

Memiliki dan memperdalam ilmu pengetahuan sedalam – dalamnya adalah suatu hal yang sangat positif. Tuhan tidak menghendaki umatnya menjadi bodoh (avydia) dan karena kebodohannya lalu menjadi miskin. Tuhan telah mewujudkan dirinya sebagai Dewi Saraswati, dan Sakti dari Dewa Brahma. Dewi Saraswati digambarkan sebagai sesosok wanita cantik dengan atribut lainnya. Maksud dari lambang itu antara lain adalah agar umatnya senang dan cinta pada ilmu pengetahuan.

Dalam canakya Niti Sastra Bab IV. Sloka 5 disebutkan : Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan. Dari sloka di atas, ada 4 macam yang dapat dicatat, bahwa ilmu pengetahuan adalah :

1. Setiap orang dapat memenuhi segala keinginannya

2. Sebagai seorang ibu yang selalu memelihara kita

3. Kekayaan yang rahasia

4. Harta yang tak kelihatan

Meninjau kesimpulan yang dimaksud oleh sloka di atas, ternyata ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang insan. Dari sloka lain masih dapat kita sebutkan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai makna yang berbeda yaitu dikatakan sebagai berikut : “Lahir di keluarga mulia, tampan, muda, sehat dan kuat, tidak berguna sama sekali kalau tidak berpengetahuan, bagaikan bunga kimsuka yang amat indah tetapi tidak ada bau harumnya”. (Canakya Niti Sastra, Bab IV. 21).

Jadi dari sloka ini, pemilikan pengetahuan dikaitkan dengan kegunaan sebagai seorang manusia. Itu berarti bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup dianggap telah mampu menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang bermanfaat.

Dari sloka lain “Canakya Niti Sastra” Bab X. 1 disebutkan sebagai berikut :

“dhana hina na hinas ca

dhanikah sa suniscayah

vydiratnena yo hinah

sa hinah sarvavastusu

Artinya :

Orang yang kurang dalam harta benda, bukanlah orang miskin Sebaliknya orang kaya adalah dia yang memiliki ilmu pengetahuan Dia yang kurang dalam ilmu pengetahuan, sesungguhnya dalam segala keadaan ia disebut orang miskin

Jadi, jelas sekali bagaimana posisi pentingnya arti pemilikan terhadap ilmu pengetahuan itu. Dari Niti Sataka karya Bhartihari, seorang raja di kerajaan Ujayini yang sekarang dikenal dengan nama kota Ujain di India, karya ini diterjemahkan oleh Dr. Somvir, kita mendapat pandangan yang lebih luas lagi tentang pengetahuan itu, antara lain pada sloka 12 disebutkan sebagai berikut :

“Harturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatservad

hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti Vrddhimparam

kalpantesvapi na prayati nidhanam vidhyakhy – amantardhanam

yesam tanprati manamujjnata nrpah kastai saha spardhate”

Dr. Somvir memberikan penjelasan terhadap isi sloka tersebut sebagai berikut :
pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun, semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan memiliki pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia

Dalam sloka diatas penyair mengkritik para penguasa atau pemimpin yang menunjukkan kesombongan terhadap para ahli dalam sastra, agama dan mereka bukan hanya perlu dihormati di negaranya sendiri, akan tetapi di seluruh dunia. (Dr. Somvir, 2007 : 8).

Dari penjelasan di atas, ada 4 (empat) hal yang dapat dicatat :

  1. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri.
  2. Semakin banyak diberikan (diajarkan) akan semakin berkembang.
  3. Dengan memiliki pengetahuan akan menghadirkan kedamaian bagi pemiliknya
  4. Ada suatu pesan dan kritik oleh penulis Niti Sataka ini, adalah agar orang yang berilmu dihormati baik di dalam dan di luar negeri. Para penguasa hendaknya tidak sombong terhadap para ilmuwan tersebut.
Dari kedua sumber ini yakni Canakya Niti Sastra dan Niti Sataka, dapat dipetik inti sarinya, bahwa ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan dapat dipandang sebagai :

  1. Kamadhenu ; yang dapat memenuhi segala keinginan setiap saat.
  2. Seorang ibu yang selalu memelihara kita.
  3. Kekayaan atau harta yang sangat rahasia.
  4. Memiliki pengetahuan adalah memiliki kegunaan sebagai seorang manusia.
  5. Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri.
  6. Semakin banyak pengetahuan itu diajarkan pengetahuan itu makin berkembang.
  7. Pemilik pengetahuan mampu menghadirkan kedamaian dalam dirinya
  8. Para ilmuwan seyogyanya dihormati oleh para penguasa (pemimpin bangsa) baik di dalam dan di luar negeri.

Canakya Niti Sastra Bab IV.5 yaitu :
Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan.

Sebagaimana pula bahwa disebutkan kebodohan adalah musuh dunia, seperti yang tercantum pada Sarasamuscaya sloka 399, yaitu :
Hanya satulah yang sesungguhnya yang bernama musuh, tak lain hanya kebodohan saja; tidak ada yang menyamai pengaruh kebodohan itu, sebab orang yang dicengkram kebodohan itu, niscaya, ia akan melakukan perbuatan buruk”.

Selanjutnya Sarasamuscaya 400, disebutkan bahwa :
Sebab suka duka yang dialami; pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karenanya kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu

Demikian pula pentingnya ilmu pengetahuan yang terdapat pada Bhagawadgita IV.33 dikemukakan :
Ilmu pengetahuan sebagai yajna, lebih unggul dari pada yajna material apa pun, wahai Paramtapa (arjuna), karena segala kegiatan kerja tanpa kecuali memuncak pada kebijaksanaan, wahai Partha (Arjuna)

Selanjutnya dalam Bhagawadgita IV.42 dikemukakan:
Oleh sebab itu, setelah memotong keragu-raguan dengan pedangnya ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dalam hati yang berasal dari ketidaktahuan,berlindunglah pada yoga dan bangkitlah, wahai Bharata (Arjuna)”.

Maka pengetahuan adalah sebagai pedang yang berharga yang dimiliki untuk memotong keragu-raguan yang berasal dari kebodohan itu sendiri untuk bisa lepas dari kesengsaraan. Yang merupakan harta serta kekayaan yang rahasia dan tidak kelihatan.

Alangkah penting dan strategisnya nilai pengetahuan dan ilmuwan itu. Karena itu siapapun tanpa kecuali wajib mempelajari ilmu pengetahuan itu seluas – luasnya dan sedalam – dalamnya. Ilmu pengetahuan sangat ajaib sifatnya, makin banyak dipelajari terasa makin sedikit yang diketahui, karena ilmu pengetahuan adalah tak terbatas.

Tak ada seorang manusia pun yang mampu menyombongkan dirinya, bahwa ia telah menguasai keseluruhan ilmu pengetahuan itu, walaupun ia telah menjuruskan dirinya pada hal – hal yang bersifat spesialis. Ada ahli (ilmuwan) pertanian, peternakan, kedokteran, hukum, teknik, perbintangan, ekonomi, politik, budaya, agama dan masih ada ratusan bahkan ribuan spesialis lainnya. Ini suatu pertanda bahwa ilmu pengetahuan itu sangat tak terbatas. Karena itu, kesombongan terhadap suatu spesialisasi adalah kesombongan yang sia – sia belaka. Dengan kesombongan – kesombongan tersebut, menunjukkan adanya suatu kemabukan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini sangat dilarang dan dalam ajaran agama Hindu termuat dalam sapta timira yaitu kemabukan (kegelapan) terhadap 7 hal, yaitu  kegelapan (mabuk) karena:

  1. dhana (kekayaan), 
  2. surupa (ketampanan), 
  3. kulina (keturunan), 
  4. yowana (keremajaan), 
  5. kasuran (kemenangan), 
  6. sura (minuman keras) dan 
  7. guna (kepandaian, tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki).
Jika seseorang mabuk (mengalami kegelapan) terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka orang itu belum mengambil makna daripada pengetahuan yang telah ia miliki itu. Tingginya kepandaian yang diraih oleh seseorang itu seharusnya mampu menekan egonya, dan menjadi orang yang bijaksana. Ditinjau dari atribut/symbol dari Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan antara lain terhadap symbol angsa di kakinya. Makna symbol itu adalah agar seseorang yang telah memiliki pengetahuan itu agar mampu menekan egonya dan menjadi sosok manusia yang bijaksana analog dengan sifat angsa itu sendiri yang dapat membedakan makanannya walaupun berada di lumpur dan bercampur dengan kerikil dan lumpur.

Kemabukan, kesombongan seseorang akan pengetahuan dan kepandaiannya yang tinggi itu menandakan bahwa orang itu belum mampu membedakan antara pengetahuan keduniawian dan rohani. Pengetahuan matematika, akunting, ekonomi, sosial politik, budaya dan lain-lainnya adalah pengetahuan untuk kehidupan bahagia di dunia ini, sedangkan pengetahuan rohani adalah pengetahuan untuk mempersiapkan diri hidup bahagia di alam yang kekal dan abadi. Keangkuhan ketakaburan dan bentuk-bentuk lain setelah memiliki kepandaian, ilmu pengetahuan yang tinggi itu, adalah pertanda runtuhnya kemuliaan manusia, sebab manusia yang sadar, kepandaian yang dimiliki itu belum seberapa besar dibandingkan dengan pengetahuan yang tak terbatas itu. Pengetahuan itu sendiri adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Sat Citta Ananda Brahman (Sesungguhnya) Tuhan Adalah KEBENARAN, PENGETAHUAN TAK TERBATAS (Mahanirwana Tantra : Gde Pudja, 1983, 15)

Di Bali dan di Indonesia pada umumnya tidak terdapat pelinggih khusus untuk memuja Sang Hyang aji Saraswati. Gambar maupun patung Dewi Saraswati yang kita kenal saat ini berasal dari India. Ada yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang duduk, ada pula yang menggambarkan Dewi Saraswati sedang berdiri di atas seekor angsa dan bunga teratai. Pun ada yang melukiskan Beliau berdiri di atas setangkai bunga teratai (Padma), dengan ditemani seekor angsa dan merak yang berdiam di kedua sisinya atau mengapit Beliau. Perbedaan versi tersebut bukanlah suatu masalah yang harus di permasalahkan atau di perdebatkan.

Namun yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai simbol-simbol yang ada untuk memperoleh sari-sari filosofis yang termuat di dalamnya. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya tangan- tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi.

  • Dewi Saraswati yang digambarkan sebagai seorang Dewi yang cantik rupawan, dimaksudkan untuk menyatakan dan melambangkan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang demikian menarik dan mengagumkan, sehingga banyak yang tergila-gila untuk mengenalnya. Maka dari itu, seseorang yang dipenuhi oleh ilmu pengetahuan akan memancarkan aura daya tarik yang luar biasa, yang mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk mendekat.
  • Cakepan atau Lontar yang di bawa oleh Dewi Saraswati merupakan perlambang dari ilmu pengetahuan.
  • Genitri/Japa Mala, melambangkan bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnyalah sesuatu yang tiada akhirnya, tidak akan ada habis-habisnya untuk dipelajari, bagaikan putaran sebuah genitri/japamala yang tiada terputus.
  • Wina/Rebab adalah sejenis alat musik yang suaranya amat merdu dan melankolis, sebagai perlambang bahwa ilmu pengetahuan mengandung suatu keindahan dan nilai estetika yang sangat tinggi.
  • Bunga Padma/Teratai berdaun delapan adalah lambang dari pada Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa dengan Asteswarya-Nya,dan juga merupakan lambang kesucian yang menjadi hakekat daripada ilmu pengetahuan.
  • Angsa adalah sejenis unggas yang dikatakan memiliki sifat-sifat kebaikan, kebersamaan dan kebijaksanaan. Mereka memiliki kemampuan untuk memilih makanannya, meskipun makanan itu bercampur dengan lumpur atau air kotor. Yang dimasukkan kedalam perutnya hanyalah makanan-makanan yang baik saja, sedangkan yang kotor dan merugikan disisihkannya. Demikianlah seseorang yang telah memahami hakekat kesujatian dari ilmu pengetahuan, akan dapat memilah-milah secara bijak hal-hal yang baik dan benar serta menyisihkan hal-hal yang buruk. Burung Merak adalah perlambang suatu kewibawaan, sehingga seseorang telah memahami hakekat ilmu pengetahuan dengan baik dan benar akan memancarkan aura kewibawaan, disegani dan dihormati oleh masyarakat.

Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.

Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan.

Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai.

Artikel yang terkait dengan Hari Raya Saraswati:

Etika ritual Hari Raya Saraswati:

  • Pemujaan Saraswati dilakukan sebelum tengah hari.
  • Sebelum perayaan Saraswati, tidak diperkenankan membaca atau menulis.
  • Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.
  • Dalam mempelajari segala pangaweruh selalu dilandasi dengan hati Astiti kepada Hyang Saraswati, termasuk dalam hal merawat perpustakaan
demikianlah sekilas tentang perayaan Hari Raya Saraswati, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar