Google+

Tabuh Rah Tajen bukanlah sekedar Judi sabung ayam

Tabuh Rah Tajen bukanlah sekedar Judi sabung ayam

Tajen di Bali 1915
Bali sebagai tujuan wisata, banyak tamu asing yang kebetulan lewat dan melihat aktifitas Tabuh Rah Tajen, ini mungkin perlu mendapatkan penjelasan yang benar dari pemandu wisatanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap tradisi Tabuh Rah Tajen ini.
Maraknya sabung ayam Tajen alias gocekan di seluruh pelosok Bali disebabkan bukanlah karena umat Hindu di Bali tidak taat beragama, tetapi karena belum memahami bahwa Tajen yang dibarengi judi itu dilarang dalam Agama.

Kalau kita lihat kehidupan dan aktifitas seputar tempat tajen akan banyak dijumpai orang berjualan nasi, kopi, buah-buahan, bakso dan lain-lain. Bebotoh dan penonton menikmati sekali makanan yang dijajakan oleh para pedagang tersebut. Selain pedagang, yang bisa mengais rejeki di tempat tajen adalah tukang ojek, tukang parkir, tukang sapu, dan tukang karcis. Itulah sebabnya, para pembela tajen senang mengatakan bahwa uang yang berputar di tempat tajen tidak lari keluar pulau, melainkan hanya berputar dikalangan masyarakat. Maksudnya barangkali menyindir togel (toto gelap) yang menyedot uang masyarakat dan uang tersebut lari keluar pulau.
karenalah itu, untuk memberantas tajen memang sangat dilematis sekali, sekarang kita saja, masyarakat Bali yang harus menilai, apakah tajen ini perlu dilestarikan atau tidak.


Tajen adalah sebutan dari kegiatan Tabuh Rah, dimana kata Tajen ini diperkirakan berasal dari kata "Tajian", Taji merupakan sejenis pisau tajam yang memiliki 2 sisi mata pisau, yang panjangnya kira-kira sejari telunjuk orang dewasa yang dipasang di kaki ayam jago. tujuan dari pemasangan "Taji" ini agar ayam jago yang diadu tersebut dapat melukai lawannya sehingga ada darah yang menetes ke tanah. nah, tetesan darah inilah yang disebut "Tabuh Rah" yang artinya ritual menebarkan darah suci.

Tajen” merupakan bagian dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam masyarakat Hindu Bali. Yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol / syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan/ keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi.
Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.

Judi khususnya tajen sudah mentradisi di Bali.

Dampak negatif pariwisata dalam hal ini seolah-olah membenarkan tajen sebagai objek wisata antara lain terlihat dari banyaknya lukisan atau patung kayu yang menggambarkan dua ekor ayam sedang bertarung, atau gambaran seorang tua sedang mengelus-elus ayam kesayangannya.

  • Berjudi juga sering menjadi simbol eksistensi kejantanan. Laki-laki yang tidak bisa bermain judi dianggap banci.
  • Judi juga menjadi sarana pergaulan (menyame-braya), mempererat tali kekeluargaan dalam satu Banjar. Oleh karena itu bila tidak turut berjudi dapat tersisih dari pergaulan, dianggap tidak bisa “menyama beraya”.

Di zaman dahulu sering pula status sosial seseorang diukur dari banyaknya memiliki ayam aduan. Raja-raja Bali khusus menggaji seorang “Juru kurung” untuk merawat ayam aduannya.
adapun ayam jago atau ayam kurung yang biasanya dikenal di area Taen di bali, yang sudah tersohor namana dan sebutan-sebutan ayam ini banyak ditemukan di lonar pengayam-ayaman yang sering dijadikan refrensi oleh para penggemar ayam aduan (bebotoh).

berikut ini Ayam yang pntang dijadikan aduan dalam arena Tajen (tabuh Rah):
  • Raja Wilah, merupakan Ayam Jantan yang mempunyai satu flek hitam di kakinya
  • Camah Brahma, merupakan Ayam Jago yang memiliki ciri-ciri warna merah di seluruh urat, lidah, maupun kulit
Kedua ayam itu pantang diadu dalam tajen. Bila pemilik ayam nekad, risikonya bisa berupa perkelahian, atau serangan penyakit dadakan. Tak hanya si pemilik, anggota keluarganya pun bisa menjadi korban. Dalam kitab anutan bebotoh (petaruh), disebut sebagai Lontar Pengayam-ayam, banyak disinggung tentang ayam yang dijamin tidak keok saat diadu. Selain ciri bawaan ayam yang mendatangkan keberuntungan, hari pertandingan pun berpengaruh. 

disamping itu penamaan Ayam Jago Tajen diberikan penamaan atau sebutan berdasarkan warna dan keadaan bulunya, adapun sebutan dari ayam Jago Tajen di Bali diantarana:

  • Buik, merupakan sebutan untuk Ayam Jago yang bulunya berwarna-warni
  • Kelau, untuk ayam jago berbulu abu-abu
  • Bihing, sebutan ayam jago yang berbulu merah
  • Wangkas, sebutan untuk ayam jago yan dadanya berbulu putih dengan sayapnya berwarna merah
  • Brumbun untuk “petarung” dengan kombinasi bulu merah, putih, dan hitam. 
  • Sa, sebutan ayam berbulu putih.
  • Ook, sebutan untuk ayam jago yang memiliki keadaan bulu leher sangat lebat
  • Jambul, merupakan sebutan untuk ayam jago bila tumbuh bulu (jambul) di kepala
  • Godek, untuk ayam yang berbulu dikaki. 

kode-kode teriakan yang sering meramaikan arena Tabuh Rah Tajen juga memiliki arti, adapun kode teriakan-teriakan tersebut diantaranya:

  • Gasal adalah sistem taruhan dengan perbandingan lima banding empat. 
  • Cok, sistem taruhan tiga lawan empat, 
  • Pada (sama), adalah taruhan satu lawan satu. 
  • Telude, dua banding tiga, 
  • Apit, menggunakan satu banding dua, 
  • Kedapang, sembilan banding sepuluh. 

Relief Tentang Tajen di Dalem Poerwatempel Bangli 1947
(Koleksi http://www.kitlv.nl)
Biasanya sebelum pertarungan dimulai, dua pakembar, “petugas” yang melepas ayam sebelum bertarung, terlebih dahulu memperkenalkan setiap ayam dengan cara meletakkannya dalam sebuah segi empat di tengah wantilan. Saat itu, akan tampak mana ayam yang pantas diunggulkan dan mana yang tidak.
Misalnya seorang pakembar membawa ayam jambul, sedangkan yang lain membawa ayam kelau. Jika ada bebotoh yang menjagokan ayam jambul, ia berteriak menyambut. Jika hingga pakembar selesai dengan acara perkenalan itu tidak ada bebotoh yang mengunggulkan ayam kelau, otomatis ayam jambul menjadi unggulan. Selanjutnya, para bebotoh riuh menawarkan taruhan. Bebotoh yang ingin mendapatkan “musuh” biasanya meneriakkan sistem taruhan yang dipilih dari tempatnya, tanpa perlu berkeliling arena. Maka, yang menimpali teriakannya akan menjadi lawan taruhan. Bebotoh pun dapat menggunakan jari tangan sebagai isyarat sistem taruhan yang ia inginkan. Maka lawan yang berminat pun membalas dengan isyarat serupa. Setelah seekor ayam dinyatakan sebagai “petarung unggulan”, seseorang yang meneriakkan “cok” berarti memegang ayam yang menjadi lawan si unggulan. Syaratnya, kalau menang ia akan mendapatkan uang sebesar taruhan, sedangkan kalau kalah ia hanya membayar tiga perempat dari jumlah taruhan yang disepakati. Dalam tajen pun ada wasit, yang disebut saya.

Saye - Juri Tajen

Di setiap tajen ada empat saya (saye - juri) yang bertugas yakni saya kemong, ketek, garis, dan lap.
Saya kemong biasanya selalu didampingi gong kecil yang disebut kemong, paling tinggi jabatannya. Ia menentukan kapan memulai dan mengakhiri pertarungan. Jika salah seekor ayam aduan sudah terkapar, bebotoh yang kalah akan menghampiri lawan untuk menyerahkan uang taruhan.

Permainan Judi Dilarang Agama

Ketidaktahuan atau awidya bahwa judi dilarang Agama Hindu antara lain karena pengetahuan agama terutama yang menyangkut Tattwa dan Susila kurang disebarkan ke masyarakat.

Motivasi lain berjudi adalah keinginan untuk mendapatkan uang dengan cepat tanpa bekerja. Yang dimaksud dengan bekerja menurut Agama Hindu adalah pekerjaan yang berhubungan dengan yadnya sebagaimana ditulis dalam Bhagawadgita Bab III.9 :
Yajnarthat karmano nyatra, loko yam karmabandhanah, tadartham karma kaunteya, muktasangah samacara
Artinya
“Kecuali pekerjaan yang dilakukan sebagai dan untuk yadnya, dunia ini juga terikat dengan hukum karma. Oleh karenanya Oh Arjuna, lakukanlah pekerjaanmu sebagai yadnya, bebaskan diri dari semua ikatan.” 
Dengan demikian mereka yang ingin dapat hasil tanpa bekerja tergolong orang tamasik. Walaupun dalam judi ada unsur untung-untungan atau sesuatu yang tidak pasti, tidak menyurutkan keberanian orang-orang tamasik berjudi, malah makin mendorong keinginan mereka berspekulasi dengan harapan mendapat kemenangan.


dalam Manawa Dharmasastra V.45, yaitu “Yo’himsakaani bhuutani hina. Tyaatmasukheashayaa, sa jiwamsca mritascaiva na, Kvacitsukhamedhate” artinya: “Ia yang menyiksa mahluk hidup yang tidak berbahaya dengan maksud untuk mendapatkan kepuasan nafsu untuk diri sendiri, orang itu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan . Ia selalu berada dalam keadaan tidak hidup dan tidak pula mati.”

Orang bali berprinsip harus terjadi keseimbangan diantara keduanya. Selain itu masih dalam kitab suci Manawa Dharmasastra Buku IX (Atha Nawano Dyayah) sloka 221 sampai 228 dengan jelas menyebutkan adanya larangan mengenai judi. Sloka 223 membedakan antara perjudian dengan pertaruhan. Bila objeknya benda-benda tak berjiwa disebut perjudian. Misalnya uang, mobil, tanah dan rumah. Sedangkan bila objeknya mahluk hidup disebut pertaruhan. Misalnya, binatang peliharaan,manusia, bahkan istri sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh panca pandawa dalam epos Bharata Yudha ketika Dewi Drupadi yang dijadikan objek pertaruhan melawan Korawa. Selain itu dalam kitab suci Rg Veda Mandala X. Sukta 34. Mantra 3,10 dan 13 dengan tegas melarang orang berjudi. Berjudi itu dapat menyengsarakan keluarga. Kerjakanlah sawah ladang cukupkan serta puaskanlah penghasilan itu.


Menurut sejarah, tajen dianggap sebagai sebuah proyeksi profan dari salah satu upacara yadnya di Bali yang bernama tabuh rah.
Tabuh rah merupakan sebuah upacara suci yang dilangsungkan sebagai kelengkapan saat upacara macaru atau bhuta yadnya yang dilakukan pada saat tilem. Upacara tabuh rah biasanya dilakukan dalam bentuk adu ayam, sampai salah satu ayam meneteskan darah ke tanah. Darah yang menetes ke tanah dianggap sebagai yadnya yang dipersembahkan kepada bhuta, lalu pada akhirnya binatang yang dijadikan yadnya tersebut dipercaya akan naik tingkat pada reinkarnasi selanjutnya untuk menjadi binatang lain dengan derajat lebih tinggi atau manusia. Matabuh darah binatang dengan warna merah inilah yang konon akhirnya melahirkan budaya judi menyabung ayam yang bernama tajen. Sampai saat ini, persoalan tajen di Bali tetap menjadi sesuatu yang cukup dilematis. Dalam perspektif hukum positif, kegiatan apapun yang mengandung unsur permainan dan menyertakan taruhan berupa uang, maka dianggap sebagai perjudian dan dianggap terlarang.

Namun di sisi lain, tajen yang sebenarnya merupakan sebuah proyeksi profan dari tabuh rah sebagai salah satu bentuk upacara adat yang sakral, patut dijunjung tinggi, dihormati dan tentu saja dilestarikan.

Kedua hal di atas, yaitu antara makna hakiki upacara adat di Bali dan pola pergeseran makna yang terjadi pada kasus tajen pada kenyatannya saling berintegrasi dan secara konkret sulit dipisahkan. Pergeseran makna yang terjadi sudah terlanjur terinternalisasi dalam kesadaran intelektual dan perasaan orang Bali. Tanpa disadari pergeseran makna tersebut “mencengkeram masyarakat Bali”, tentunya masyarakat Bali yang menyetujui dan mempertahankan adanya tajen.

Tajen yang mulanya dianggap berasal dari upacara tabuh rah, telah berdiri sendiri menjadi satu konstruksi budaya yang tanpa disadari mereka terjebak dalam konstruksi nilai yang bertentangan dengan hakikat nilai yang sebenarnya dianut oleh masyarakat Hindu-Bali. Sebuah harmonisasi antara bhuana agung dan bhuana alit, upakara suci untuk upacara suci, upacara suci untuk menjaga realitas ambang antara yang abstrak dan yang nyata. Antara nilai adat, Agama hukum positif dan kepentingan industri pariwisata.

Tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai).  Di jaman Majapahit diistilahkan dengan “Menetak gula ayam” Penaburan darah dilaksanakan dengan nyambleh, perang sata (telung perahatan) dilengkapi dengan adu-aduan : kemiri, telor, kelapa, andel-andel, beserta upakaranya
Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup
Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200. Serupa dengan berbagai aktivitas lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pedoman yang bersandar pada dasar sastra.

Dasar Sastra Tabuh Rah Tajen

Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya pun banyak disebut dalam berbagai lontar.

Dalam rontal Ciwa Tatwa purana isinya :
Mwah ri tileming kesanga,hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana rug ikang ing madya
Maksudnya :
Lagi pada tilem kesange (saat bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali – Red.), aku ( dewa Ciwa ) mengadakan yoga, berkewajibanlah orang di bumi ini membuat persembahan masing-masing, lalu adakan pertarungan ayam dan nyepi sehari, ketika itu berhidangan sang kala dasa bhumi, jika tidak rusaklah manusia di bumi.
Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan,
...rikalaning reya- reya, prang uduwan, masanga kunang wgila yamanawunga makantang tlung parahatan saha upakara dena jangkep...
Artinya :
“ ... pada waktu hari raya, diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan Kasanga, patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet lengkap dengan upakaranya... “

Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.

Prasasthi batur Abang A Tahun caka 933 isinya:
Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka saksi
Artinya :
Lagi pula mengadakan Upacara upacara misalnya tawur kesange, patutlah mengadakan sabungan ayam, tiga angkatan (saet) di desanya, tidaklah minta ijin, tidaklah memberitahukan kepada Pemerintah.
Prasasthi Batuan tahun caka 944 berbunyi :
Kunang yang manawung ing pangudwan makatang tlung marahatan tan pamwinta mayaka sanksi mwang sawung tangur, tan knana minta pamli
Maksudnya:
Adapun bila mengadu ayam ditempat suci dilakukan tiga saet tidak minta ijin kepada Pemerintah dan juga kepada Pengawas sabungan, tidak dikenakan pajak.

Dalam Tabuh Rah juga bukan Himsa Karma karena disini adalah Himsa yang diperkenankan untuk Upacara Agama (upacara Yadnya) sebagaimana ditentukan dalam Pustaka Suci Wreti Sesana yang bunyinya sebagai berikut:
Kunang pwa wwang, yan makedon dharma, tan dosa ika, ndya tang himsaka makedon dharma, ring amatiani sarwa sato makedon ginawe Caru ring Dewapuji tan dosa sira yan samangkana”.
Adapun artinya adalah bahwa seseorang yang membunuh binatang untuk persembahan Caru dan Panca Yadnya tidaklah berdosa.

Jadi walaupun Himsa adalah dosa yang besar, tetapi Himsa itu dapat dilakukan untuk keperluan Dharma, yaitu keperluan Agama, bersedekah untuk Dewa Puja (Persembahan terhadap Dewa), Pitra Puja (Persembahan terhadap roh leluhur), Athitipuja (untuk persembahan atau disuguhkan kepada tamu) dan lain-lainnya seperti yang telah ditentukan dalam Lontar Silakrama. Selain itu, untuk Tabuh Rah ini dilengkapi pula dengan upacara/sesajen tertentu dengan doa pujanya yang bermaksud bermohon kepada Hyang Widhi Wasa agar roh binatang yang dijadikan upakara yadnya tersebut mendapat tempat yang baik di sunia loka (mantram patika wenang) dan doa agar dikemudian hari kalau ia akan menjelma kembali ke dunia ini, dapat menjelma dalam keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya, oleh karena matinya itu dalam beryadnya dan berperang (perang satha)

Jika ditinjau dari rontal tersebut diatas, jelas adanya korban darah yang dipergunakan dalam upacara agama, mengapa mempergunakan darah sebagai korban kepada bhuta - Bhuta yadnya, darah dianggap suatu zat yang mengandung kekuatan magis, memberikan kekuatan secara spiritual.

Hal ini dapat kita tinjau dari pemelaspas bangunan , pada waktu melaspas diberikan pengurip urip yang dipoles tiang-tiang, tembok-tembok dengan darah yang mempunyai makna agar bangunan tersebut mempunyai kekuatan spiritual, sehingga rumah tersebut memberikan suasana yang baik, darah berfungsi penting dalam melaksanakan kurban kepada bhuta kala, setiap bentuk bhuta yadnya mempergunakan darah.

Pada hakekatnya tabuh rah diperuntukan kepada bhuta bhucari , kala bhcari dan Durga bhucari tidak dipergunakan kepada pitra dan dewa. jadi wujud dari Tabuh Rah adalah Perang Sata (tajen) dan Penyambleh,dengan binatang yang dijadikan korban yaitu : ayam, babi, itik, kerbau, dan lain- lainnya
  • Penyambleh adalah penaburan darah binatang korban dengan jalan memotong leher binatang itu atau menikamnya dengan keris. Di zaman Majapahit diistilahkan dengan "Menetak gulu ayam ".
  • Perang satha atau Tajen adalah pertarungan ayam yang diadakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya). Dalam hal ini dipakai adalah ayam sabungan, dilakukan tiga babak. ( telung perahatan) yang mengandung makna arti magis bilangan tiga yakni sebagai lambang dari permulaan tengah dan akhir. 
Hakekatnya perang adalah sebagai symbol daripada perjuangan (Galungan) antara dharma dengan adharma.
Penaburan darah dilaksanakan dengan menyembelih, "perang satha " yang dilaksanakan telung perahatan (3 partai/pertandingan) dilengkapi dengan adu- aduan : kemiri; telur; kelapa; andel- andel; beserta upakaranya.
Pelaksanaan Tabuh Rah Tajen:

  1. Diadakan pada tempat dan saat- saat upacara berlangsung oleh sang Yajamana.
  2. Pada waktu perang satha disertakan toh dedamping yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi.
Lebih lanjut mengenai pelaksanaan tabuh rah dengan aduan ayam yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut di atas tidaklah perang satha dan bukan pula runtutan upacara Yadnya.

Mengapa menggunakan darah?

Hal ini disebabkan darah dianggap mengadung kekuatan magis, memberikan kekuatan secara spiritual. Pada hakekatnya tabuh rah diperuntukkan kepada Bhuta Bhucari, Kala Bhucari dan Durga Bhucari tidak dipergunakan kepada pitra dan dewa. Kata butha kala dapat diartikan sebagai berikut:

  • kala berarti energy, juga berarti waktu. 
  • Bhuta kala berarti energy yang timbul. 

Secara philosopis menyatakan bhuta kala adalah sesuatu kekuatan negative yang tibul akibat terjadinya ketidak harmonisan antara makrokosmos (bhuana agung) dengan mikrokosmos (bhuana alit) yang oleh manusia ketidak harmonisan itu dipersonifikasikan seperti makhluk halus atau gaib yang dapat mengganggu ketentraman hidup manusia. Manusi dengan bhuta kala mempunyai hubungan. Dalam lontar Kanda pat menyebutkan bahwa manusia lahir tidaklah sendirian melainkan disertai dengan empat saudaranya yang disebut dengan sang catur sanak. Keempat saudaranya itu apabila diketahui dan dipelihara akan memberikan kekuatan positif yang membantu kehidupan manusia. Dan apabila tidak dihiraukan akan menimbulkan kekuatan negative yang mengganggu kehidupan manusia.

Fungsi dari Tabuh Rah adalah runtutan/rangkaian dari upacara/upacara Agama (yadnya). Upacara Bhuta Yadnya yang boleh disertai perang sata adalah:

  • Caru Panca Kelud (Pancasanak Madurgha).
  • Caru Rsi Ghana.
  • Caru Balik Sumpah.
  • Tawur Agung.
  • Tawur Labuh Gemtuh.
  • Tawur Pancawalikrama.
  • Tawur Eka Dasa Rudra.

Dalam pelaksanaan Tabuh Rah diperbolehkan tidak minta ijin kepada yang berwenang. Karena Tabuh Rah bukanlah judi, Tabuh Rah adalah rangkaian dari upacara keagamaam (yadnya). Tapi sekarang Tabuh Rah malah salah artikan yaitu masyarakat mengadakan lebih dari 3 sehet. Dan tabuh rah digunakan sebagai kedok buat melaksanakan Tajen.

Sabung ayam dapat dikatakan judi apabila :

  1. Dilaksanakan lebih dari tiga sehet.
  2. Tidak dilengkapi dengan adu-aduan kemiri, telur, kelapa.
  3. Tidak disertai upakara yadnya.
  4. Adanya taruhan dengan harapan untuk menang. 

Sabung ayam dikatakan tabuh rah apabila :

  1. Dilaksanakan hanya tiga sahet.
  2. Dilengkapi dengan adu-aduan kemiri, telur, kelapa.
  3. Adanya upakara yadnya pada saat itu.
  4. Adanya toh dedamping, tidak bermotif judi sebagaiperwujudan keiklasan berkorban untuk yadnya.


Macam-macam tajen Lantas bagaimana ritual suci semacam tabuh rah berubah menjadi tajen?
Menurut beberapa narasumber menjelaskan bahwa itu tidak lepas dari daya pikat yang ditampilkan dari seni bertarung dua ayam jagoan. Asal tidak melampaui batas secara hukum adat, tajen tidak dilarang. Apalagi aturan main antarsesama bebotoh harus dipatuhi. Aturan itu ternyata juga disebutkan dalam lontar Darma Pajuden. Kalaupun ada yang curang, otomatis tidak akan ada yang mengajaknya bertaruh lagi. Maka, muncul pemahaman, ada perbedaan jelas antara tabuh rah dan tajen, meski awal mula tajen memang dari pelaksanaan tabuh rah.

Tabuh rah adalah rangkaian upacara, berbeda dengan tajen atau krecan (dari kata ica yang artinya tertawa).
Jadi, falsafah tabuh rah dan tajen tidak boleh dibaurkan agar tidak menimbulkan degradasi tatwa (nilai).

Meski tergolong sebagai ritual upacara, ternyata tabuh rah tidak dilakukan di semua daerah di Bali. Tapi bila suatu daerah sudah berkeyakinan harus melaksanakan upacara tabuh rah, maka mutlak pula dilakukan. Kalau tidak, justru akan mendatangkan musibah (sima) bagi daerah tersebut.

Pakar hukum adat dari Universitas Udayana Prof. Dr. Nyoman Sirtha, M.S. menyatakan, tajen berawal dari kebiasaan yang bersumber dari pelaksanaan upacara agama saat ada odalan (perayaan tahunan) di pura, yang selalu menghadirkan caru (kurban). Contohnya, upacara pada Dewa Yadnya diikuti dengan persembahan caru, salah satunya dengan menyembelih ayam yang ditujukan kepada butha kala. Perkembangan selanjutnya, beberapa daerah menyimbolkan penyembelihan ayam dengan mengadu kelapa dengan telur, sampai telurnya pecah. Namun, ada daerah yang mengganti kebiasaan itu dengan cara mengadu ayam, yang akhirnya berkembang menjadi tajen, berasal dari kata tajian, karena setiap kaki kiri ayam aduan selalu dipasangi taji.
Namun secara sosiologis, lanjut Nyoman Sirtha, pelaksanaan tajen ada tiga macam.

  1. Tajen dalam ritual tabuh rah yang lazim diadakan berkaitan dengan upacara agama. Tabuh berarti mencecerkan dan rah adalah darah. Pelaksanaan tajen dalam tabuh rah dianggap sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan upacara sehingga pelaksanaannya tidak dilarang. 
  2. Tajen terang sengaja digelar desa adat untuk menggalang dana. Berdasarkan hukum adat, tajen terang tidak dilarang, bahkan setiap desa adat memiliki awig-awig yang mengatur tata cara tajen meski tidak tertulis. Tajen terang dilakukan terbuka dengan melibatkan pecalang, saya. Bahkan didahului dengan upacara kepada Dewa Tajen agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung.
  3. Tajen branangan yang tanpa didahului izin kepala desa adat serta semata-mata berorientasi judi. 
Ada perbedaan mendasar. Kalau tajen terang, meski memakai taruhan, soal menang dan kalah bukan hal terpenting. Yang utama, mendapat hiburan. Berbeda dengan tajen branangan yang bisa disebut pelalian (bermain), karena rata-rata yang terlibat lebih mengutamakan berjudi, bahkan sampai lupa diri,” 
disamping itu ada nilai-nilai sosiologis yang harus dicermati dalam Tajen, diantaranya:

  • Sikap Ikhlas, yang dengan ikhlas menyerahkan dana pendamping yadnya, kalah dengan bahagia menang dengan kesenangan. kalah menang dalam tajen tetap memberikan kebahagiaan bagi bebotohnya, dimana yang kalah dalam tajen selalu diberi subsidi makan sekenyang-nya oleh yang menang.
  • Sportifitas Tinggi, dimana yang kalah akan datang menyerahkan taruhannya kepada yang menang, walau lawan taruhan tidak dikenal dan mereka berjauhan posisi taruhannya, tetapi yang kalah dengan sportif menyerahkan ayam aduan serta taruhannya kepada yang menang. tidak ada yang mencoba lari dari kekalahan dalam Tajen. disamping itu, ada aturan penting dalam tajen, dimana ayam jago kesayangan yang kalah, walaupun lukanya sedikit tapi ayam tersebut akan dipotong kakinya dan disembelih di tempat tajen, dan istilah daging ayam yang kalah tersebut disebut dengan "Be Cundang" alias pecundang. sedangkan ayam yang menang, walaupun terluka parah dan besar kemungkinan akan mati, harus dirawat sampai akhir umurnya. 
  • Persaudaraan, dengan adanya Tajen semua orang dari berbagai penjuru berkumpul, tiada rasa persaingan, tiada perbedaan ras apalagi kasta. semua dianggap keluarga, sehingga rasa ini sebenarnya dapat meredam konflik antar daerah ataupun antar desa adat, karena dalam arena Tajen, mereka semua sesama bebotoh.
Baca juga artikel yang terkait dengan Tajen:
Terlepas dari pandangan serta sorotan tentang tajen, sebenarnya kegiatan ini telah mengacu kepada aktivitas budaya yang rasanya amat sulit untuk dilepaskan dari dinamika kehidupan masyarakat Bali. Beberapa waktu lalu, tajen bahkan telah dikemas sebagai atraksi wisata bagi wisatawan asing. Nyatanya wisatawan asing yang disuguhi atraksi langka itu sangat antusias sewaktu menyaksikannya. Agar lepas dari pendapat pro dan kontra, tajen memang lebih pas bila diteropong dari kacamata budaya Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar