Google+

Ilmu Leak dalam Teologi Hindu Bali

Ilmu Leak dalam Teologi Hindu

Keberadaan Agama Hindu membawa pengaruh besar bagi kebudayaan masyarakat Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya. Pengaruh Hindu menyebabkan masyarakat menghayati keberadaan Tuhan dengan sebuah pembuktian yang tidak dapat dipikirkan dengan akal sehat, yaitu dengan kekuatan ilmu gaib. Dengan kemampuan tersebut seseorang akan dipandang dan dihormati serta disegani, terlebih kemampuan yang dimiliki dipergunakan untuk membantu sesama.

Hindu merupakan agama bersumber dari kitab suci Weda dan merupakan agama wahyu yang diterima oleh maharsi berdasarkan pengalaman intuisi spiritual (Aparoksa-Anubhuti) dalam kitab-kitab upanisad, pengalaman-pengalamanya ini bersifat langsung dan sempurna. Pengalaman spiritual para rsi ini merupakan autoritas kebenaran-kebenaran yang tak ternilai dan membentuk kemuliaan Hinduisme (Sivananda, 2003: 2). Kekuatan Spiritual maharsi mampu mendengarkan suara alam yang diwahyukan Tuhan dan dipercaya oleh umat manusia sebagai sebuah ajaran agama yaitu Hindu. Kekuatan spiritual yang diterima maharsi merupakan warisan kepada seluruh umat manusia mencapai kebebasan. Sumber spiritual Hinduisme dalam Kitab suci Weda terdiri dari 4 bagian ditulis dalam bahasa Sansekerta kuno, bahasa Suci India dan Weda merupakan otoritas religius tertinggi bagi hampir semua tradisi Hinduisme. Masing-masing bagian weda memiliki beberapa periode berbeda kemungkinan antara tahun 1500 dan 500 SM. Bagian tertua adalah Reg, Weda berisikan kidung pujian dan doa-doa suci dilanjutkan dengan ritual-ritual pengorbanan yang berkenaan dengan kidung pujian vedik dan terakhir kitab-kitab upanisad. Kitab Upanisad berisikan intisari pesan spiritual Hinduisme, filosofis dan praktisnya (Capra, 2000:80).

Perkembangan Hindu di Indonesia pada abad ke-4, membawa pengaruh dan perubahan besar bagi masyarakat Indonesia, antara lain berupa tulisan dan sistem kerajaan, sehingga lahirlah kerajaan-kerajaan bersifat Hindu di Indonesia (Gelgel, 1996: 104). Kerajaan Hindu pertama di Indonesia berada di Kalimantan, pada abad ke-4 yaitu Kutai sampai runtuhnya Majapahit di Jawa pada abad ke-15, bukti perkembangan agama Hindu di Indonesia yang dapat kita temukan sampai hari ini, berupa peninggalan-peninggalan diantaranya bangunan candi, seperti Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Singosari. Peninggalan berupa arca dewa seperti Arca Siwa, Arca Ganesha, Arca Durga, Arca Wisnu dan lain sebagainya, serta peninggalan karya seni berupa hiasan-hiasan pengisi pada bangunan candi, relief, pola hiasanya berupa mahluk gaib yang dipasang di depan candi yang disebut Kepala Kala atau Banaspati dan peninggalan berupa kesusastraan seperti Arjunawiwaha, Lubdhaka dan beberapa sastra-sastra tentang kekuatan ilmu gaib seperti Calonarang (Gelgel, 1996: 124-133).

Peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia membuktikan bahwa Agama Hindu dapat diterima dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia sampai sekarang. Peninggalan kerajaan Hindu juga dirasakan masyarakat di Pulau Bali, sebab Hindu masuk ke Bali dan berkembang karena pengaruh jawa, tepatnya Jawa Timur, diantaranya pengaruh politik, ekonomi, kesusastraan maupun keagamaan. Sejarah Indonesia mengaratakan raja-raja Jawa Timur mengadakan hubungan dengan Pulau Bali karena alasan-alasan politik ataupun kekeluargaan dengan raja-raja di Bali (Pendit, 1963:18). Salah satu dampak bagi Bali terhadap Kejayaan Majapahit ialah kesusastraan dan Agama Hindu. Kesusastraan yang paling dikenal pada masa Mahendradata ialah Calonarang, yang berisikan cerita ilmu gaib dan sangat digemari masyarakat Bali sampai saat ini. Masyarakat percaya Raja Mahendradata dimakamkan di daerah Kutri, Gianyar dan di makam beliau dilukiskan Arca Durga Mahisasura Wardhini, arca ini menguatkan dugaan bahwa Mahendradata sebagai penganut ajaran-ajaran ilmu gaib dan Dewi Durga yang memberikan anugrah kesaktian tersebut (Pendit, 1963:54). Menurut Capra (2000: 80) mayoritas orang Hindu adalah penduduk desa sederhana yang menjaga agama popular ini tetap hidup dalam ritual pemujaan mereka sehari-hari, Hinduisme melahirkan banyak guru spiritual luar biasa yang menyebarkan berbagai wawasan mendalamnya. Hal itu disebabkan Hinduisme mengajarkan mistik, Istilah Mistik berasal dari bahasa Yunani “Muo” yang berarti tersembunyi dan mengandung rahasia. Dengan demikian Mistik mengacu pada ritus yang rahasia, bukan mengacu kepada ajaran atau pengetahuan yang bersifat esoterik (Surahardjo, 1983:1). Masyarakat Hindu di Bali mengenal ajaran-ajaran mistik dan sangat dirahasiakan atau sering disebut Aja Wera. Ajaran tersebut dituangkan dalam teks-teks Hindu lokal yang disebut lontar, pada zaman kerajaan di Bali masyarakat melaksanakan kehidupan spiritual dengan belajar kediatmikan berupa ajaran-ajaran yang dirahasiakan untuk membantu dan melindungi kerajaan dari musuh. Selain itu ajaran kediatmikan sering dipergunakan membantu sesama, yaitu melindungi masyarakat dari serangan binatang buas, wabah penyakit, serta memahami keberadaan Tuhan. Ajaran kediatmikan mengandung kekuatan gaib dan mistik, sehingga banyak para Mpu, Rsi maupun orang suci dari Jawa datang ke Bali mencapai penglepasan atau Moksa.

Kedatangan orang suci ke Bali memberikan perubahan besar pada kehidupan masyarakat Bali, seperti diangkatnya orang Bali sebagai murid, sehingga ajaran-ajaran Hindu menjadi ajaran yang diterima masyarakat berdasarkan Lokal Genius. Orang Bali dapat menjadi seorang pemimpin maupun menjadi seorang brahmana, asalkan menguasai ajaran kesusastraan maupun ajaran rahasia, karena ajaran tersebut menjadikan seseorang cerdas, bijaksana dan memiliki kesidhian melindungi rakyatnya. Tentunya ajaran rahasia tidak mudah dipelajari tanpa adanya tuntunan atau anugrah dari seorang guru maupun Ida Bhatara atau anugrah para Dewa.

Oleh karena itu ajaran Leak juga tidak bisa diartikan sebagai black magic maupun white magic, sesungguhnya Leak adalah ajaran lurus, jika tidak dikesampingkan. Hal ini dibuktikan masyarakat Bali, menjadikan ajaran leak yang dianggap magis dalam pementasan tari sakral, seperti Calonarang, yang biasanya dipentaskan pada upacara di Pura Dalem (Kahyangan Durga saktinya Siwa), hal ini dilaksanakan karena Ilmu Leak merupakan ajaran yang termuat dalam kesusastraan, kemudian masyarakat Bali dalam perkembanganya memiliki pula cerita Ki Balian Batur. Kedua cerita ini sangat dipercaya dan diyakini sebagai awal adanya ilmu Leak di Bali.

Ilmu Leak secara tersirat dan tersurat menjadi icon ajaran kadiatmikan masyarakat Bali. Begitu pula perkembangan ilmu pangleakan berlahan-lahan berubah menjadi ajaran sesat, hitam dan negative, karena ajaran yang dipergunakan untuk melindungi kerajaan dan wabah penyakit digantikan oleh perubahan zaman, seperti wabah penyakit dapat disembuhkan dengan pemberian vaksin di rumah sakit, kegelapan lampu jalan digantikan lampu penerangan, keamanan masyarakat menjadi tanggung jawab pemerintah dan masih banyak lagi peran ilmu leak digantikan mesin-mesin modern, berbeda dengan zaman dulu siapapun menguasai ilmu leak sampai tingkat tertinggi, secara otomatis ilmu leak rendah akan menghormati dan tidak berani melawan ilmu leak tinggi, sehingga orang yang menguasai ilmu leak tinggi dan cinta rakyat maupun kerajaan, maka kerajaan dan rakyat bertambah besar dan agung, begitu pula sebaliknya. Perkembangan ilmu Leak menjadi ajaran yang dianggap negatife oleh pandangan masyarakat karena ilmu ini dipergunakan untuk menyakiti orang sekitar, terutama keluarganya sendiri, karena karakter orang Bali memiliki dendam dan iri hati terhadap keluarga terutama saudaranya sendiri. Banyak pandangan masyarakat memberikan penilaian terhadap orang Bali, yaitu susah melihat saudara maju, sukses dan menjadi kaya, sehingga muncul niat-niat buruk mencarikan hambatan terhadap karier keluarganya. Ada sebuah anekdok masyarakat Bali seperti ayam Bali yang sibuk berkelahi dengan saudaranya sendiri tanpa menghiraukan ayam bangkok yang datang dan makan di daerahnya. Hal ini terjadi karena tidak ada musuh, seperti zaman kerajaan, akibatnya keluarga sendirilah yang dijadikan musuh.

Ilmu Leak dipercaya oleh masyarakat Bali, terdiri dari dua ajaran, yaitu Pangiwa dan Panengen. Berarti ajaran Kiri dan kanan, dengan demikian ilmu ini dapat dipergunakan sebagai kekuatan negative dan dapat pula dipergunakan untuk hal yang positif, tergantung pemakaianya. Pengertian tersebut sama halnya dengan berbagai ilmu yang berkembang, seperti ilmu Nuklir dapat dipergunakan untuk kebaikan dan dapat pula untuk mencelakakan orang, Ilmu fisika, Biologi, Kimia dan lain sebagainya dapat dipergunakan untuk positif maupun negative. Bagi masyarakat Bali orang yang menguasai ilmu usadha (pengobatan) pun dikatakan menguasai ilmu Leak, praktisi ilmu leak disebut Balian, Mangku Balian, Jro Balian, bahkan hampir profesi di bidang spiritual masyarakat Bali mempelajari ilmu Leak, karena dipercaya setiap belajar kediatmikan mendapat kesidhian dasarnya ilmu leak.

ilmu Leak dalam historisnya merupakan ajaran yang mendapat pengaruh Hinduisme dan merupakan bagian dari Mistik Timur, bahkan merupakan bagian dari teologi Hindu. Hal ini dibuktikan adanya aksara-aksara suci Hindu, mantra-mantra Hindu, penyebutan Dewa-Dewa Hindu dan sarana-sarana umat Hindu dalam ilmu leak, tetapi dalam perkembanganya ilmu Leak dianggap sesat, negative dan cenderung Black Magic. Oleh Karena itu karya tulis ini ingin mengetahui jika benar leak ajaran hitam, mengapa ia memakai ajaran Hinduisme, padahal Hinduisme mengajarkan dharma menuju Moksa (panglepasan).

Mantra-mantra dalam Ilmu Leak

Mantra merupakan sebuah kata yang sangat sakral dan religus, diucapkan oleh banyak orang terutama yang meyakini mantra tersebut. Berbagai orang bahkan diseluruh negeri tahu dan mengetahui tentang kekuatan mantra, bahkan mantra dipergunakan pula dalam berbagai kegiatan hiburan, seperti sulap (bimsalabim abrakadabraaa) yang tak tampak berubah menjadi tampak, inilah membuktikan kata mantra menunjukan sesuatu hal yang bersifat magis atau gaib.

Mantra-mantra suci merupakan mantra yang hanya diperuntukan bagi mereka yang mendapat wewenang mengucapkanya, bahkan dihormati para pengikutnya. Tidak sembarang orang dapat mengucapkan mantra suci tersebut, karena perlu proses untuk mengucapkanya, jika tidak mantra tersebut dapat membalik menyerang atau menyakiti orang tersebut. Bagi masyarakat Indonesia memiliki berbagai kebudayaan unik dan menarik yang dapat mendatangkan kekuatan gaib ke dalam dunia, maupun dalam diri seseorang. Proses pemanggilan kekuatan gaib tersebut, pastilah mengucapkan mantra-mantra atau istilah lainya jampi-jampi.

Begitu pula bagi umat Hindu memiliki banyak mantra pada setiap ritual keagamaanya dan mantra tersebut terdapat dalam kitab sucinya yaitu weda. Mantra ini dapat dibedakan menjadi mantra keseharian dan mantra sewaktu-waktu, tergantung situasi dan kondisi. Mantra menurut agama Hindu berasal dari kata man dan tra. Artinya adalah pengendalian pikiran atau pemusatan pikiran. Jika seseorang bermantra dengan pikiran ditujukan terhadap sebuah objek, maka mantra tersebut akan hidup, begitu pula sebaliknya, sehingga orang yang mengucapkan mantra harus memiliki pikiran yang fokus.

Masyarakat Hindu khususnya di Bali, mengucapkan mantra dapat berupa weda maupun bahasa sehari-hari, sebab inti dari pengucapan sebuah mantra adalah fokusnya pikiran, meskipun pengucapan mantranya sampai membuat orang gembira, tapi tidak diimbangi dengan fokusnya pikiran, maka tak akan ada gunanya mantra tersebut. Mantra dan pikiran merupakan satu kesatuan yang wajib dipelajari dan dilatih oleh para penekun kediatmikan, sebab kedua hal tersebut ibarat korek api dan pematiknya, jika korek tersebut tidak dipatik, maka tak akan mengeluarkan api begitu pula sebaliknya. Seseorang yang ingin menyakiti orang lain atau ingin memberikan pengasih-asih pada seseorang, maka hal yang dilakukan adalah membayangkan wajahnya sampai jelas dan pengucapan mantra-mantra, sehingga orang yang dituju menjadi tergila-gila dengan orang yang mengirim mantra tersebut, apabila seseorang mulai berpikir tentang sesuatu kemudian diucapkan dengan kata-kata sebenarnya mereka telah bermantra. inilah kekuatan pikiran didalam mantra, begitu pula dengan mantra-mantra terdapat dalam ilmu Leak mantra-mantra dipergunakan hampir sama dengan mantra yang sering diucapkan para rohaniawan, mantra dalam ilmu leak menyebutkan beberapa istilah-istilah dalam Hindu terutama Dewa dan butha, serta paling terpenting adalah kesiapan diri seseorang untuk mempelajari ilmu leak ini. Hal ini termuat dalam Tutur Pangiwa, sebagai berikut:
1b. Aji Pangleakan utawi pangiwa, ong awigenam astu. Iki pinaka dasaring pangiwa, yan sira mahyun manggelaraken pangiwa, iki maka pangawit gelaraken ring sarira, iki pasiwyan pangiwa, nga., salwiring pangiwa, wenang iki regepakena rumuhun, iki maka pasiwanya, phalanya sidha kahidep denta, wetu ikang sariranta, kadi iki regepang: Bhutane di sarira mwah dewane di sarira, ne rumaksa ring sariranta, dewa ring jero, bhuta ring jaba 
Terjemahannya:
Aji Pangleakan atau pangiwa, Ong Awigenam astu, ini adalah dasar dari pangiwa, apabila seseorang berkeinginan mempelajari pangiwa, ini semua diawali dari dalam diri. Ini adalah Pasiwyan Pangiwa namanya, semua pangiwa perlu dipikirkan terlebih dahulu, setelah dipersiapkan dalam diri maka yang akan dipejari nantinya adalah tentang bhuta dan Dewa yang terdapat dalam diri manusia, dimana Dewa di dalam dan butha di luar.

Mantra-mantra dalam ilmu leak, memiliki ciri-ciri khusus, yaitu hampir semuanya menyebutkan istilah-istilah tentang kemarahan, keangkuhan, kesombongan, ingin menguasai, paling hebat, paling kuasa dan semuanya bersifat keakuan atau ego yang sangat tinggi, bahkan Dewa pun diperintahkan untuk menyembah. Jadi ilmu leak ini merupakan pembangkitan kekuatan dalam tubuh seseorang, sehingga menjadi lebih percaya diri dan memotivasi seseorang untuk membangkitkan kekuatan diri dalam tubuh manusia.

Ciri-ciri tersebut, memang benar adanya, sebab kekuatan dalam diri yang ada dalam mantra-mantra ilmu leak, sebenarnya motivasi dalam diri untuk kebangkitan rasa superior dalam diri yang dibentuk ego manusianya, berikut beberapa mantra-mantra dalam ilmu leak:
Iti Pangiwa Cambra Berag, sa., kasa ne genten surat kadi iki rajahanya ring sor. Mantra ngalekasang, ma: Ong yang nini mala, tan sang angungkuli I Cambra Berag megulung kurung, tumurun ring Indraprasta, amungkah sakwehing guna kawisesan,muwah kasaktyan. Yang Nini Saraswati pangaris wong angleak, apan aku angaji ing leyak, Ah3x, wetu kawisesan, mlesat aku i cambra berag ring akasa, sumurup ring kuranta bolong, ring tengahing Sang Hyang Surya, apan aku I Cambra Berag amurtining lewih ring Sang Hyang Surya, mangendih gunankune ring tengahing Sang Hyang Surya, sing tumoning kasaktyaning hulun padha sinunglap, tuminghalin awak sariranning hulun,AH3X, tuhun aku ka mrecapada, anuwut aku rante mas, tumurun ka mrecapada angepang-ngepang, I Cembra Berag magelung kurung, apan I Cambra Berag lewehing kasaktyane ring mercapada, tan hana waniya, apan aku saktining lewih pangleakane, sing teka pada anembah ring awah sariranku. Mijil I Leyak Putih ring wetan, I Siwagandhu angadakang I Leyak Putih ne ring aku, mijil I Leayak abang ring kidul, I Calonarang angadakang I Leyak Barak nembah ring aku, mijil Leyak Kuning saking Kulon, sang paripurna angadakang I Leyak Kuning, nembah ring aku, mijil I Leyak ireng saka lor, sang nagalomba angadakang I Leyak Ireng, pada nembah ring aku, AH3X, angadeg aku I Cambra Berag megelung kurung, sing kadleng pada nembah sakwehing mabayu tan kawasa angucap-ucap awak sarirankune, apan aku sakti, tan hana weni ring aku, sing teka pada nembah, sing teka pada dungkul..... (dan seterusnya)

Ajaran I Cambra Berag merupakan ajaran pangiwa dalam ilmu leak, mantra dalam ajaran tersebut menunjukan kesombongan dan keangkuhan, dibuktikan dengan penyebutan kata aku, kata aku menunjukan ego, seperti kutipan baris akhir mantra di atas, ”apan aku sakti, tan hana weni ring aku, sing teka pada nembah, sing teka pada dungkul” (karena aku adalah paling sakti, tidak ada yang berani dengan aku, semuanya menyembah kepada aku dan semuanya tunduk pada aku)

Kekuatan mantra ilmu leak hampir semuanya berisikan tentang pengider-ider, atau arah mata angin. Hal ini dilakukan agar kekuatan alam semesta dari berbagai penjuru dengan kekuatan berbeda-beda dapat merasuk dalam diri seseorang tersebut, sehingga akan menambah magis atau kegaiban yang memicu seseorang mencapai kesidhian, berikut kutipan mantra ilmu leak tentang pengider-ider:
Iki I Panca butha, nga. Yan dijaba mawak dhengen, mwah kadi iki, Sanghyang Iswara jumeneng ring papusuha, kairing dening butha putih -/- Sang Hyang Brahma jumeneng ring hati ingiring de butha /2a/bang, Sanghyang Mahadewa jumeneng ring ungsilan, kahiring dening butha jenar, Sanghyang Wisnu jumneng ring nail, hati, ampru, kahiring de Bhuta ireng. Sanhhyang Siwa jumeneng ring unduh-unduhaning hati, ingiring dening I Butha mancawarna, genahnya ring undhuh-undhuhaning hati. Telas mangkana dening pangeregepang (aji pangiwa).

Berdasarkan hal tersebut di atas mantra-mantra dalam ilmu leak memakai mantra-mantra Hindu dengan penyebutan beberapa ajaran-ajaran yang memang diajarakan dalam teologi lokal masyarakat Bali oleh leluhur masyarakat Bali, contohnya pengider-ider, dewa-dewa, aksara suci dan lain sebagainya.

Aksara-aksara suci dalam Ilmu Leak

Konsep Teologi Hindu merupakan sebuah konsep tentang ketuhanan yang meliputi banyak unsur, salah satunya adalah aksara-aksara suci. Disebut aksara suci karena memang aksara ini mempunyai kekuatan gaib atau magis religius untuk menyucikan atau membersihkan sesuatu. Aksara ini pada umumnya dopergunakan sewaktu ada upacara agama atau dalam pengobatan. Aksara suci terdiri dari 1). Aksara Wijaksara dan 2). Aksara Modre (Nala, 2006: 27).

Aksara bijaksara (bija = benih, biji) terdiri dari aksara swalalita ditambah dengan aksara amsa (U O Ā) atau berupa ulu chandra, kecuali aksara ah, aksara bijaksara terdiri dari eka aksara ongkara, dwi aksara dan tri aksara, panca aksara, dasa aksara, catur dasa aksara dan sad dasa aksara, misalnya:
û (Ung), ö (Ang), m‰ (Mang). (Nala, 2006: 27-28)

Aksara modre lebih berfungsi dan bersifat sebagai lambang, simbol atau niasa dibandingkan penggunaanya sebagai aksara untuk berkomunikasi. Aksara modre merupakan aksara yang ditutup anusuara, yang sulit untuk dibaca karena memperoleh berbagai perlengkapan, busana, pengangge aksara dengan berbagai variasinya, tidak sesuai dengan aturan tata bahasa bali, apalagi ditulis dengan sebuah gambaran atau tulisan berwujud simbol atau lambang berkekuatan magis religius. Untuk membacanya dibutuhkan buku petunjuk khusus yang telah disusun untuk keperluan tersebut, kitab yang dimaksud adalah Krakah, krakah modre, krakah modre aji griguh, tutur krakah durakah. Aksara Modre memiliki kekuatan magis dan spiritual religius sangat tinggi, karena mengandung kekuatan inti dari para dewa, terutama Dewa Tri Murti, itulah dikatakan bermanfaat apabila diterapkan dengan banar dan tepat, terutama dalam bidang usada (pengobatan) (Nala, 2006: 28)

Kekuatan aksara-aksara suci menurut Hindu, merupakan sebuah kekuatan dari sinar Tuhan, apabila aksara tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan diperlakukan demi kepentingan orang lain, maka masyarakat akan banyak dibantu, terutama masalah pengobatan dan apabila seseorang salah menerapkan aksara-aksara suci tersebut, maka dipastikan banyak penderitaan yang akan terjadi tidak saja diri sendiri, tapi juga orang lain

Orang yang mampu membaca aksara suci merupakan orang suci, karena aksara-aksara suci merupakan lambang dari para dewa, hanya orang sucilah yang mampu menembus alam dewa, tapi banyak orang suci yang menyalahgunakan kesucianya dengan memberdaya orang lain, sehingga hidupnya menderita dan berpengaruh pada anak cucunya. Siapapun yang mampu menyolahkan sastra (menarikan sastra), maka dia akan diberikan sebuah hak, seperti hak preogratif untuk melakukan apapun didunia ini, jika dipergunakan untuk kebaikan, maka dia mampu menjadi orang yang tak terkalahkan dalam membantu sesama yang memiliki kesalahan, namun jika dipergunakan untuk kejahatan dengan mudahnya menyakiti orang, cukup dengan pandangan mata saja, tapi jika orang tersebut tidak kekiri atau kekanan, tapi lurus ke atas, maka orang ini akan mencapai penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Aksara suci yang terbagi dalam aksara bijaksara serta modre sebagai sebuah simbol berperanan menambah kekuatan magis religius usada di Bali. Setiap balian usada mesti menguasai tentang pembuatan, fungsi, makna dan cara penggunaan aksara suci Bali tersebut sebagai sarana dalam pengobatan dan mempercepat proses pengobatan pasiennya. Oleh karena itu para balian ini harus mempelajari dengan benar dan sungguh-sungguh tentang tulisan dan makna dari masing-masing aksara tersebut dan tata cara penggunaanya. Jikalau salah dalam penulisan dan pemanfaatnya serta ritual yang mengiringinya akan menimbulkan akibat yang tidak diinginkan baik oleh balianya sendiri maupun pasienya. Penulisan aksara ini tidak boleh sembarangan, ada aturan yang harus diikuti dan ditaati oleh setiap balian yang mau menerapkan aksara suci dalam pencegahan, pengobatan, kewibawaan, kesehatan dan rehabilitasi (Nala, 2006: 32-33)

Balian yang mendalami tentang pengangge aksara, terutama Balian Pangiwa, disebut menguasai ajaran Durga. Penyebutan ini didasarkan atas tujuan penguasaan ilmu ini disasarkan dan diarahkan ke hal-hal negatif atau kiwa yang sejalan dengan tujuan keberadaan dewi atau Bhattari Durga. Bhattari Durga bertempat di Pura Dalem dekat kuburan. Ketika berada di Sorgaloka, sebagai istri Dewa Siwa, Dewi Durga berparas cantik disebut Dewi Uma. Pada suatu ketika Dewi Uma berbuat kesalahan, kemudian dikutuk menjadi Durga dan makanannya adalah mayat. Pada suatu hari tidak ada orang yang meninggal, sehingga Dewi Durga kelaparan, kemudian beliau beryoga memohon anugrah kepada Dewa Brahma, agar mampu membuat penyakit (wabah), sehingga manusia jatuh sakit dan meninggal. Melihat ketekunan Dewi Durga, maka Dewa Brahma memberikan anugrah, tetapi orang terkena wabah adalah orang perbuatan di dunia menyalahi dharma atau kebenaran. Jika seseorang sudah berbuat dharma, berbuat kebajikan dalam menjalani kehidupanya didunia, hidup sesuai aturan kesehatan, maka dia tidak akan terkena wabah yang disebar Dewi Durga. (Nala, 2006: 48-49)

Setiap aksara mengandung sebuah kekuatan magis, jika aksara satu saja diputar-putar atau dimainkan kemudian diarahkan ke tujuanya, pasti akan ada reaksi, contoh jika aksara Ongkara Sungsang ( ¹) ditempatkan di setiap sudut pengusung bade ditambah dengan kekuatan dasabayu, maka berapapun pengusung bade akan merasa berat untuk mengangkat bade tersebut, begitu pula sebaliknya, jika ongkara ngadeg ( ý ) ditempatkan disetiap sudut, meskipun pengusung hanya beberapa orang, namun bade terasa ringan jika diangkat itulah kehebatan orang yang dapat memainkan sastra.

Di Bali para Balian Pangiwa sering memanfaatkan pengangge aksara untuk tujuan membencanai orang lain. Tujuanya bertentangan dengan dharma, pengangge aksara wisah ( ; ) dapat dipergunakan untuk aneluh, sebuah kemampuan membuat teluh. Teluh merupakan sosok mahluk mirip manusia dengan muka bengkak besar, mata mencorong, seperti rangda. Bila mampu menggabungkan pengangge aksara wisah ( ; ) dengan taling ( e ), maka kemampuanya dapat dipergunakan untuk anerangjana, suatu kemampuan untuk terangjana. Terangjana adalah sosok lawat atau bayangan mahluk berwujud manusia. Jika Pengangge Wisah ( ; ) , taling ( e ), dan cecek ( .... ) ) digabungkan jadi satu dapat dipergunakan untuk anuju, suatu kemapuan untuk membuat tuju teluh, berarti dia mampu membuat sosok mahluk mirip manusia dengan berbagai bentuk yang menakutkan sesuai dengan sasaran yang dituju. Agar mampu mengubah diri menjadi binatang atau bentuk lainya dipergunakan pengangge Wisah ( ; ), taling ( e ),, cecek ( .... ) ) dan suku (... .u), sehingga menjadi ( ;;*e e*** *,.u.u ),, maka dia disebut Leak, leak adalah sosok mahluk manusia yang tampak seperti binatang atau benda lainnya akibat mata orang tersihir atau terhipnotis oleh kekuatan gaib yang dipancarkan oleh badan orang yang menjadi Leak tersebut. Leak tingkat pertama adalah leak rendah yang baru bisa menjadi kera, tingkat kedua menjadi kambing, tingkat ketiga menjadi bangkal, tingkat keempat menjadi ular, bahkan mobil, pada tingkat lima menjadi gegendu (kerbau kaki tiga), tingkat enam menjadi Bade pengusung mayat, tingkat tujuh menjadi pudak sitegal atau wanita cantik, tingkat delapan menjadi waringin sungsang (pohon beringin terbalik), tingkat sembilan menjadi sinar atau apapun yang diinginkanya. Apabila sudah mencapai tingkat sembilan, maka orang tersebut sudah menjalankan aksara dengan bebas, sesuai kemauan, maka dia sudah disebut seorang Desti. Dimaksud dengan Desti adalah kemampuan untuk menyakiti orang lain agar jatuh sakit melalui media, media berupa rambut, kuku, tanah, pakaian, perhiasan dan benda milik target. Apalagi balian tersebut mampu mempergunakan Panca Aksara, Tri Aksara, Dwi Aksara sebagai badan kasarnya, maka dia disebut Raja Agung atau raja besar, ahli Desti Mahautama.(Nala, 2006: 49-51)

Aksara-aksara suci Bali dalam teologi lokal Bali, merupakan warisan para leluhur masyarakat Bali, yang tertuang dalam beberapa teks-teks termasuk juga teks-teks berkaitan tentang ilmu leak, aksara-aksara suci terdapat dalam mantra-mantra ilmu leak, bahkan eka aksara yang merupakan perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sering dipergunakan dalam ajaran ilmu leak, berikut penjelasan tentang eka aksara:

Simbol diatas merupakan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, terdiri dari Nada merupakan simbol Sang Hyang Parama Siwa, paragayan Purusa; Arda Chandra berbentuk bulan sabit, simbol Sang Hyang Siwa, paragayan Pradana; Windu berbentuk bulatan, merupakan simbol Sang Hyang Sadasiwa, paragayan banci. Ulu Chandra: Ulu Chandra biasanya dipakai menyengaukan huruf-huruf gaib, yang lazim dipergunakan menulis kata-kata bijaksara, weda dan mantra, misalnya s‰,b‰,t‰,ö,÷‰,n‰,m‰,µ, w‰,y‰, Yan mangkana suarania pengundang Dewa. (Nyoka, 1994: 23)

Dalam sastra-sastra ilmu leak yang sering dipergunakan adalah penyatuan terhadap aksara-aksara suci, jika mampu memanunggalkan aksara-aksara tersebut sampai pada tingkat ongkara, maka mereka mendapat sebuah anugrah luar biasa. Aksara tersebut menggabungkan Sodasaksara menjadi Catur Dasa Aksara, Catur Dasa Aksara menjadi dasa aksara, dasa aksara menjadi panca aksara, panca aksara menjadi tri aksara, tri aksara menjadi dwi aksara, dwi aksara menjadi eka aksara yaitu ongkara itu sendiri, maka yang bersangkutan akan mampu berbuat apapun didunia ini, bahkan pada tahap penyatuan.

Dewa-dewa dalam ilmu Leak

Konsep ajaran agama Hindu khususnya pada teologi pastilah berpedoman Pada kekuatan Tuhan atau manifestasi-Nya. Kekuatan manifestasi tersebut terdapat beberapa sebutan kemahakuasaan beliau, seperti Bhattara/bhattari, Dewa-dewa, rerencangan, pepatih dan lain sebagainya, semuanya ini terdapat dalam teologi lokal suatu daerah.

Selain sebutan Tuhan secara khusus, Tuhan juga memiliki sebutan umum, seperti Tuhan mahakuasa, maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun dan lain sebagainya, berdasarkan sebutan tersebut Tuhan akan memberikan anugrah kepada siapapun yang berbhakti lebih khusuk dibandingakan orang lainya, sehingga Tuhan juga akan memberikan anugrah kepada umatnya, meskipun permintaan umatnya menyimpang dari ajaran agama, karena tujuanya agar orang yang disakiti lebih sadar menjalankan ajaran dharma, hal tersebut terdapat dalam beberapa lontar, salah satunya lontar kalatattwa:
................kunang yan hana wang wruha ring pengastutyane kita wenang sira aweha kasidyan ta, sapamintanya yogya tuten den ta lawan sawadwan ta kabeh, apan ika wang sanak ta jati. Ki Manusa Jati, sira makaharan kamanusa jati. Ki Bhuta Jati juga wenang arok lawan bhuta kala Durga, Bhuta Kala Durga wenang arok lawan Dewa Bhattara Yang, karaning tunggal ika kabeh, sira manusa, siradewa, sira bhuta. Bhuta ya, Dewa ya, Manusa ya
Artinya:
..................Janganlah memakan yang tak patut dimakan, tetapi apabila ada orang tahu perihal pemujaan terhadap dirimu, maka kamu dapat memberikan anugrah kesidhianmu, apapun yang dimintanya engkau patut memberikanya bersama seluruh rakyatmu, oleh karena orang yang demikian itulah saudaramu yang sesungguhnya. Ia disebut sebagai manusa sejati, manusa sejati dapat bercampur dengan Bhuta Kala Durga. Bhuta Kala Durga dapat bercampur dengan Dewa Bhattara Hyang, karena semua itu adalah satu, ia adalah manusia, ia adalah dewa, ia adalah butha, bhuta adalah ia, Dewa adalah ia, manusia adalah ia.

Demikian sabda Bhattari Uma dan Dewa Siwa kepada putra beliau Bhattara Kala, kemudian diberi gelar Bhattari Durga, sebagai anugrah Bhattari Uma di muliakan di Pura Dalem, Sang Hyang Panca Mahabhuta nama Bhattara Kala yang lain, karena beliau sebagai dewa segala yang dahsyat dan beliau di puja di Pura Baleagung.

Bhattara Siwa bersabda,”Aum putraku, mulai saat ini engkau kuberi nama Hyang Kala, engkau patut tinggal di Desa Pakraman. Engkau boleh mengambil jiwa manusia ataupun binatang setiap tahun pada sasih kasanga, terutama menghukum orang berdosa, jahat, bersenggama tidak sesuai dengan sila-krama, dharma sasana dan agamanya.

Sabda Bhattara Siwa tersebut, memiliki makna terdalam, sabda tersebut berisikan ajaran tentang etika sebagai orang beragama, jika ditaati, maka manusia akan bahagia selamanaya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu seseorang yang merasa hidupnya menderita, mesti berintrospeksi diri, agar dapat hidup lebih baik lagi, siapa tahu penderitaan kita hadapi saat ini adalah karena ulah kita sendiri, menyebabkan Bhattara kala merasuk dalam diri kita sebagai manusia. Disamping itu di jelaskan pula siapapun yang datang hendak memohon anugrah pasti dapat dikabulkan asalkan permohonan dilakukan dengan kasih dan penuh bhakti, termasuk juga memohon kesidhian menerapkan Ilmu Leak dan menyakiti seseorang.

Menurut Ida Pandita Nabe Natha Ratu Bagus mengatakan Tuhan dalam wujudnya berbentuk sinar adalah maha pemberi dan pengasih, jadi ketika seseorang meminta sebuah penyakit untuk dikirim ke dalam tubuh orang lain, Tuhan pasti mengabulkan, asalkan dilakukan dengan penuh hati dan cinta dan karma tetap berjalan dan ditanggung dalam kehidupanya. Meskipun demikian tidak sembarang orang bisa disakiti, tentu orang tersebut memiliki kesalahan, berbuat jahat, berdosa, sehingga dengan adanya penyakit menyerang orang tersebut, diharapkan agar sadar dan tidak mengulangi perbuatanya lagi, inilah pesan moral luar biasa, yaitu mengajarkan orang untuk meminta maaf dan bertaubat.
Wujud anugrah Tuhan kepada umat, terdapat juga dalam kitab suci Bhagawadgitha, IX, 22, yaitu:
Ananyas cintayanto mam
Ye janah paryupasate
Tesam nityabhiyuktanam
Yoga-ksenam vahamy aham (Bhagawad gita IX.22)
Artinya:
Mereka yang hanya memuja-Ku saja, tanpa memikirkan yang lainnya serta dengan senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka-Ku bawakan apa yang mereka minta dan melindungi apa yang mereka miliki.

Agama Hindu mengenal manifestasi Tuhan yang disebut Dewa-dewa, Dewa ini merupakan sinar Tuhan yang menguasai alam semesta, diantara para dewa, sembilan dewa sangat terkenal dan sering disebutkan dalam beberapa teks ilmu Leak sembilan dewa itu disebut Dewata Nawa Sanga penguasa 9 penjuru mata angin. Dewata Nawa Sanga merupakan sembilan dewa utama dalam agama Hindu, beliau memilikiperan penting di dunia ini, seperti: menjadi guru dewa yang telah menurunkan berbagai ilmu pengetahuan kepada manusia, serta menuntun kita menuju moksa. Dewata Nawa Sanga merupakan penguasa arah angin dan menjadipelindung serta meberikan vibrasi kesucian di setiap hari. Dewata Nawa Sanga terdiri dari tiga kata, yaitu: Dewa berarti sinar suci Tuhan, Nawa berarti sembilan, Sangga berarti kumpulan. Jadi Dewata Nawa Sanga berarti kumpulan sembilan dewa utama dalam agama Hindu. (Pekandelan, 2009: 5) Dewa-dewa tersebut antara lain:

  1. Dewa Iswara penguasa arah timur
  2. Dewa Brahma Penguasa arah Selatan
  3. Dewa Mahadewa penguasa arah barat
  4. Dewa Wisnu penguasa arah utara
  5. Dewa Maheswara penguasa arah Tenggara
  6. Dewa Rudra penguasa arah Barat Daya
  7. Dewa Sangkara penguasa arah Barat Laut
  8. Dewa Sambhu penguasa arah Timur Laut
  9. Dewa Siwa penguasa arah Tengah


Ajaran Ilmu Leak menurut Jro Dasaran I Nyoman Suadi mengatakan kekuatan Dewata Nawa Sanga ini merupakan kekuatan Tuhan yang menguasai alam semesta dengan kekuatan penjuru mata angin, kekuatan Dewata Nawa Sanga sering dipergunakan dalam berbagai macam yajna di Bali, bahkan dalam ilmu kediatmikan sering dipergunakan untuk menambah kekuatan, sehingga semakin berguna ilmu yang sedang dipelajari, bahkan para pendeta di Bali pasti memakai kekuatan Dewata Nawa Sanga untuk melindungi diri beliau sebelum melaksanakan swadharmanya. Hal ini dibenarkan dalam teks Pudak Sategal disebutkan sebagai berikut:
Panugrahan Salwiring Gawe:
Iki Panugrahan Salwiring Gawe, sasantun jinah, 250, sasapan sasantun, konkoning Bhagawan Swakrama angrumakas salwiring gawe, aja ta mamiruda manusa iki, tadah sajin ingsun, tlas. Kasidyana mantra, reh ngranasika, ma.,” Ang Sang Hyang Candra Wisesa, Sang Hyang Prabangkara Wisesa, Sang Hyang Murti Jati Wisesa, Sang Hyang Siwa Pramana, Sang Hyang Kawisesa, saptha munggah ring ngelak-lakan ning ulun, bungkah ing atin ngulun, Ong Siwa muksah ring langit, Ong Bhatara Guru muksah mungguh ring Padmasana manik, dening dewata Nawasangha Iswara, Mahesora, Brahma, Ludra, Maha dewa, Singkara, Wisnu, Sambu, Siwa, Korsika, Garga, Metri, Kurusya, sang Pratanjala, Indra, Baruna, Yama, Kwera, Bayu Bajra Swarana, itinuting marga tiga jnanya, Ong Ang Mang, 3, kumdhap, bayunya ring tngen, muksa miber rin langit, masiluman dadi aku singa putih, umetu aku Sang Hyang Bhagawan Masnu,Ong Ong Ang Mang Sang Bang Tyi Dyi Pyi Kyi,3, wrda amarga ring ambara, putih ring arpanya, Ah, 3, Ong Mang Ung, 3, jeng... (dan seterusnya)

Dewa-dewa dalam ilmu Leak sering dipergunakan dalam ajaran Pangiwa, seperti: Yogan Hyang Siwa Andakaru, Sang Hyang Siwa Tiga, Sang Hyang Siwa Bhuwana, Sang Hyang Raja Pinulah, Sang Hyang Rampetagu, Bhagawan Pu Ceranggah, Sang Hyang Tukuping-bhuana, Durga maya-maya, Durga-werawa, Sang Hyang Lingga Bhuwana, Sang Hyang Durga Catur Wisesa, Sang Hyang Mertyu Wisesa, Sang Surya Ketu

Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat disimpulkan kekuatan para dewa juga terdapat dalam kekuatan Pangiwa yang merupakan ajaran ilmu leak. Hal ini menunjukan kekuatan para dewa tersebut, akan berguna dan bermanfaat asalkan sang pemakai mempercayai dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Hal ini menunjukan kekuatan para dewa, selalu dipergunakan karena kekuatan tersebut merupakan ciptaan Tuhan beserta manifestasinya, bertujuan agar manusia dapat sadar dan eling tentang adanya kekuatan besar lainya, selain dirinya sendiri. Jika seseorang tersebut mampu membuka rahasia alam semesta ini dengan sastra-sastra yang ada dan dipergunakan dengan baik tentu akan menambah kesucian kita, sehingga ilmu leak dapat mengantarkan manusia menuju kalepasan menyatu dengan Tuhan dan manifestasi-Nya.

Sarana-sarana dalam Ilmu Leak

Kekuatan sebuah ajaran pada intinya bermula dari konsentrasi pikiran dan fokus mencapai tujuan. Oleh karena itu dipergunakanlah sarana-sarana dalam ritualnya, sarana-sarana tersebut telah disebutkan dalam kitab Bhagawadgitha, IX, 26, sebagai berikut:
Patram puspam phalam toyamYo me bhaktya prayacchatiTad aham bhakty-upatamAsnami prayatatmanah (Bhagawad gita IX.26)
Artinya
Siapapun dengan bhakti mempersembahkan kepada-Ku sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci

Menurut Jro Mangku Puspa (wawancara, 9 januari 2010), sarana-sarana upacara yang dipergunakan dalam pangleakan, hampir sama dengan sarana-sarana upacara lainya di Bali, karena sarana upacara menjadi satu kesatuan bagi masyarakat Hindu di Bali, karena segala sesuatunya pasti memakai sarana upacara, sehingga banyak pro-kontra atas pemakaian saran upacara tersebut.

Menurut Jro Dasaran I Nyoman Suadi (wawancara, 5 Januari 2010), mengatakan sarana-sarana dalam ritual pangleakan, tentu sama dengan sarana upacara lainya di Bali, karena semuanya produk Bali yang telah dimodifikasi, jadi semuanya ada tingkatanya, yaitu Nista, Madya, Utama dan penjelasan lainya. Kalau utama, maka tebusan dan lain sebagainya pun lebih banyak, karena ini telah menjadi hukum alam.

Berikut beberapa teks yang menjelaskan tentang sarana-saran yang terdapat dalam ilmu Leak:
Iki pengater pengiwa……….. yan mahyun sira weruh mangleak rekep iki tigang kajeng kliwon, maring, natar kamulane, nga, aturan maring Hyang Guru. Maring kemulan, sesayut panca ronga, atanding maiwak sata putih, mapanggang. Ring sang manglekas namping sesayut siddha karya atanding, canang, 11, tanding, sarwa miik asep, menyan, majegau, rengep antuk mantra, wus mangidepang wtuwang mantrane, suing, ping 3. Pinang gni tabunane, mang……. ( dasar Pengiwa )
Pangiwa Siwa Wijaya
Iki Pengelesuannia……………Sa : Wastra putih ne suci sekar tunjung putih lawa 9. Sekarang disiwa duara bantenia suci 4, catur warna nganutin genah ulamnia ring sucine 1 itik putih ne purwwa itik mebulu ulam ne daksina, angsa ne pascima banyak ne utara ma-malih ajengan selaan nganutin urip meulam sata catur warna olahan manut ing genah rauhin jajatah lembat asem calon pulung metatakan kelebang don buah miyek sesantun 4, jinahnia pur 5.000 da, 9 ,pa, 7 u, 4.pigung sami 25.000. beras 25, catu ditengah ing latri. (Aji pengeleakan)

Dari dua mantra tersebut diatas dapat diperhatikan, bahwa semakin tinggi tujuan yang akan dicapai, maka sarana yang dipergunakan pun semakin besar, karena labaan yang di berikan semakin banyak untuk mencapai cita-cita penekun ilmu leak tersebut.

Belajar Menjadi Leak

Menurut Jro Mangku Pekandelan (2006: 24-25), Tata cara menjadi Leak Sari ini, berbeda dengan tata cara untuk menjadi Leak Pamoroan, Leak Ugig. Pada malam tanggal apisan, yakni hari pertama terang bulan, diperempatan jalan dihaturkan sajen berupa nasi Tumpeng barak (nasi tumpeng merah), ayam panggang buik (bulu merah), kelapa beras dan uang kepeng yang jumlahnya masing-masing 9 buah. Sajen ini ditaruh di sanggah cukcuk yang ditancapkan diperempatan jalan tersebut. Orang yang akan mempelajari ajaran ini, berdiri menghadap ke selatan, tempat kedudukan Dewa Brahma dan mengucapkan mantra:
Om, Ah, Ang Sang Hyang Brahma Wisesa, ingsun aminta lugraha kesaktian. Ong sidhi rastu astu”. 
Mantra ini diucapkan tiga kali. Tubuh dilemaskan, napas ditahan beberapa saat, ujung lidah dilipat ke langit-langit. Bayangkan Dewa Brahma bersemayan di hati. Kemudian berputar kekiri (putar kiwa) sambil membaca mantra, mula-mula kearah utara, lalu ke barat kemudian ke timur. Seterusnya tengadahkan kepala ke atas dan kemudian menunduk ke bawah. Ingat, pada setiap arah pandangan itu, mantra tersebut diatas diucapkan sebanyak tiga kali. Selanjutnya bayangkan Dewa Brahma keluar dari hati naik ke atas dan keluar lewat mata kanan atau mulut. Dia memancarkan sinar yang terang benderangmenuju kearah tenggara, tempat kedudukan Dewa Sangkara yang bersenjatakan dupa murub, mantra:
Om, Ah, Ang Sang Hyang Brahma Wisesa. Ong agni murub sakalangan, murub angabar-abar sekadi gunung Mahameru, ebek menyeleg panes, bedah ring akasa, tagel betel ring sapta patala, metu gni maring tingale Betara Hyang Parameswara, ring tingale tengen ida metu, mengeseng mengelebur sakwehing………………………….(dasamala) Ong sidhi rastu-astu, poma, poma, poma”.

Berdasarkan hal itu, sarana upacara yang diperlukan dalam proses pelaksanaan ritual pangleakan sama dengan upacara Hindu di Bali, namun tujuanya yang berbeda-beda, sebab sarana adalah sebuah jembatan untuk mencapai sesuatu, termasuk penyatuan terhadap Tuhan melalui proses Ilmu Leak.

olehMade Adi Surya Pradnya, S.Ag.,M.Fil.H adalah Dosen Filsafat dan Teologi Hindu di IHDN Denpasar
Daftar Pustaka
Capra, Fritjof. The Tao Of Physics Menyikap Kesetaraan Modern dan Mistisme timur. Bandung: Jalasutra
Kardji, I Wayan. 1999. Ilmu Hitam dari Bali. Denpasar: Upada Sastra.
Kardji, I Wayan. 2006. Tutur Penangkal Ilmu Hitam. Surabaya: Paramita.
Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali Dalam usadha. Surabaya: Paramita.
Nyoka. 1994. Kerakah Modre-II. Denpasar: Ria.
Sivananda, Sri Svami. 2003. Intisari Ajaran Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
Titib, I Made. 2003. Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar