Google+

Makna Banten di Bali

Makna Banten di Bali

Kalo kita pergi ke Bali sering sekali kita melihat warga Hindu Bali melakukan persembahan yang mereka sebut Banten.
Apakah sebenarnya banten itu?
bagaimana sejarah Banten di Bali?
Apa fungsi Banten?
Terbuat dari apakah banten itu?
Mengapa kita membuat Banten…?
kumpulan banten untuk upakara yadnya sering juga disebut "bebanten". karena sangat banyak jenisnya serta membutuhkan pengorbanan lebih, maka sering juga ada plesetan dalam bahasa bali seperti ini:
  • be banten? (sudahkah upakara yang dibuat itu sesuai aturan banten)
  • beban ten? (apakah upakara ini memberatkan atau tidak?
karena beberapa permasalahan itulah, dalam artikel ini akan dibahas sepintas tentang bebanten atau banten upakara yadnya yang merupakan aplikasi dari ajaran Bakti Marga. Didalam Bhagavad Gita ditentukan banten yang paling sederhana, seperti yang dinyatakan sebagai berikut:
Patram pushpam phalam toyam yo me bhaktya prayacchatitad aham bhakty-upahritam ashnami prayatatmanah. (Bhagavad Gita IX.26)
Artinya :
Siapapun yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, atau seteguk air, akan Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.
Dengan memperhatikan sloka tersebut ketulusan hatilah yang menjadi sumber keberhasilan suatu yadnya (korban suci), seperti yang dikutif dalam Manu Smerti berikut;
Nasyanti hawwyah kawyani naranamawijajanatam,bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhih (Manawa Dharmasastra III.97)
artinya:
persembahan kepada dewa dan leluhur yang dilakukan oleh orang yang tidak tahu peraturannya adalah sia-sia, kalau memberi karena kebodohannya memberikan bagiannya kepada brahmana, persembahannya tidak ada bedanya dengan abu.
dari sloka tersebut disebutkan bahwa seseorang yang hendak membuat suatu yadnya ataupun banten tujuan dan maknanya wajib hukumnya untuk diketahui, jika tidak maka yadnya tersebut menjadi sia-sia dan tentunnya tanpa pahala. 

Dalam Lontar Yadnya Prakerti, “Banten” disebutkan sebagai bahasa Agama dalam Bentuk Simbol, ebrikut ini kutipannya:
Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi,

pinaka warna rupaning Ida Bhatara,

pinaka andha buwana.

Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya,
Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.
Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.
Maksudnya:

Semua banten lambang diri kita (manusia), lambang Kemahakuasaan Tuhan, lambang alam semesta. Bunga-bungaan lambang kesucian dan ketulusan melakukan Yadnya. Reringgitan dan tatuwasan (ukir-ukiran pada Banten) lambang kesungguhan pikiran melakukan Yadnya. Raka-raka (buah dan berbagai jajan perlengkapan banten) lambang para ilmuwan-ilmuwan sorga.
menurut beberapa literatur, mengatakan bahwa setiap upacara agama Hindu (Weda) harus ada lima unsur yang bersinergi membangun kesucian upacara agama Hindu tersebut. Lima unsur tersebut adalah:

  1. Mantra: doa pujaan yang dijadikan pengantar upacara oleh pandita atau pinandita. 
  2. Tantra: niat dan hasrat suci yang kuat. 
  3. Yantra: simbol-simbol yang penuh arti. 
  4. Yadnya: laksana yang didasarkan pada keikhlasan yang tulus untuk berkorban, dan 
  5. Yoga, tercapainya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungan.

Dalam lima unsur tersebut, Yantra merupakan unsur yang ketiga. Banten adalah salah satu bentuk Yantra. Sebagaimana dinyatakan dalam Lontar Yadnya Parakerti yang dikutip di atas bahwa banten itu memiliki arti yang demikian dalam dan universal. Banten dalam upacara agama Hindu adalah wujudnya sangat lokal. Namun di dalamnya terkandung nilai-nilai yang universal. 

Jadi, banten itu adalah bahasa untuk menjelaskan ajaran agama Hindu dalam bentuk simbol. Misalnya banten menurut Lontar Yadnya Prakerti adalah simbol ekspresi diri manusia. Misalnya banten peras dinyatakan lambang permohonan hidup untuk sukses dengan menguatkan Tri Guna (Peras Ngarania Prasidha Tri Guna Sakti). Ini artinya hidup sukses itu dengan memproporsikan dan memposisikan dengan tepat dinamika Tri Guna (Sattwam Rajas Tamas) sampai mencapai Sakti. Dalam pandangan umum masyarakat tentang pengertian Sakti sangat negatif. Dalam bahasa Sansekerta, kata Sakti itu artinya mampu atau memiliki kemampuan, sedangkan dalam kitab Wrehaspati sloka 14 menyatakan bahwa:
"Sakti ngarania ikang sarwajnya lawan sarwakarta.
Artinya:

Sakti adalah orang yang memiliki banyak ilmu pengetahuan dan orang yang banyak berbuat baik. 
Artinya kata Peras saja demikian luhur dan mulia artinya. Demikian juga reringgitan dan tatuwasan dinyatakan sebagai lambang kelanggengan melakukan yadnya. Langgeng artinya ketetapan hati untuk melakukan yadnya. Karena dalam melakukan yadnya itu umumnya akan berhadapan dengan berbagai godaan-godaan seperti kehidupan yang lain pada umumnya. Hanya pengertian yadnya inilah umumnya diartikan upacara agama saja. Padahal yadnya ini adalah dapat dilakukan dalam wujud yang lebih nyata dalam melakukan perbuatan mulia dan luhur. Baik dalam rangka memuja Tuhan, mengabdi dengan sesama umat manusia maupun dengan memelihara kesejahtraan alam (Bhuta Hita).

Penggunaan buah dan jenis-jenis makanan dijadikan rakan banten itu disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti sebagai lambang Widyadara-Widyadhari. Kata Widya berarti ilmu pengetahuan dan Dhara artinya merangkul. Widyadhara artinya mereka yang mampu menguasai ilmu pengetahuan suci. Ilmu tersebut diwujudkan dalam perbuatan nyata. Ini artinya kalau rakan banten tersebut sebagai lambang Widyadhara-Widyadhari ini artinya buah-buahan dan berbagai jenis jajan itu mengandung makna agar rakan banten itu hasil sendiri dari pengembangan ilmu pengetahuan tersebut. Buah hasil kebun sendiri, jajan hasil kreasi sendiri. Hal itulah yang paling baik untuk dijadikan rakan banten.

Membeli buah dan jajan untuk rakan banten tentunya boleh-boleh saja. Lebih-lebih zaman modern umumnya orang pada sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri sesuai dengan profesi masing-masing. Namun, penggunaan rakan banten itu bermaksud untuk menuntun umat manusia agar mengkreasi ilmu yang dikuasainya untuk diabdikan kepada Tuhan melalui wujud pelayanan kepada sesama ciptaan Tuhan.

Banten itu bukanlah suguhan untuk makanan Tuhan. Banten itu adalah bahasa agama dalam bentuk simbol yang mona. Mona artinya diam. Banten itu memang diam sama dengan Aksara. Tetapi kalau kita coba ungkap dengan sabar, maka banten itu akan banyak menuturkan kita berbagai ajaran agama Hindu yang sesuai dengan konsep Weda dan kitab-kitab Sastranya. Lewat banten nilai Hindu dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati secara motorik.

Didalam Agastya Parwa dinyatakan bahwa ada tiga hal untuk mencapai keselamatan ataupun kesejahteraan di dunia yaitu Tapa, Yadnya dan Kerthi . Tapa lebih baik daripada Yadnya, Yadnya lebih baik daripada Kerthi.
  • Tapa artinya pengekangan dasa indrya (10 indra) “pengendalian diri”, bertindak selalu berpedoman pada ajaran agama. Secara sederhana berbuat baik,dengan mengendalikan diri itu merupakan sesuatu yang paling utama dalam kehidupan beragama. 
  • Yadnya adalah korban suci, ada lima jenisnya disebut panca Yadnya, sedang, 
  • Kerthi adalah persembahan berupa materi, seperti membangun jembatan untuk umum dan lain sebagainya.
Dalam kitab Upadesa dinyatakan, ada tiga kerangka agama Hindu yaitu:

  • Tattwa; filsafat, 
  • Susila ; etika moral, dan 
  • Yadnya (Upacara) ; korban suci

Tiga kerangka itu diumpamakan bagaikan sebutir telur. Tattwa ibarat kuning telur, Susila agama bagaikan putih telur. Upacara Yadnya bagaikan kulit telur. 
Meskipun upacara agama itu sebagai kulit telur namun telur tanpa kulitnya tentunya hal itu bukan telur namanya. Namun kewajiban kulit telur melindungi kuning dan putih telur tersebut. Upacara yadnya itu salah satu wujudnya adalah dengan banten. 

Jadinya banten itu adalah simbol sakral untuk memancarkan isi Tattwa dan Susila. Jangan sampai banten itu bertentangan dengan Tattwa dan Susila agama. Dalam Lontar Yadnya Prakerti lebih lanjut dinyatakan bahwa:
reringgitan tetuwasan pinaka kelanggengan kayunta meyadnya, sekare pinaka keheningan kayunta, plawa pinaka peh pekayunan suci.
Artinya:

Tetuwasan dan reringgitan (ukir-ukiran) lambang ketetapan hati melakukan yadnya, bunga lambang kesucian pikiran dan plawa lambang pengembangan pikiran yang suci.
Dalam kutipan salinan Lontar Yadnya Prakerti bahwa simbol banten bentuknya sangat lokal, namun di dalamnya terkemas nilai-nilai yang universal global. Karena itu, banten tersebut dalam pengamalannya tidak cukup berhenti direalisasikan dalam wujud ritual semata. 

Nilai-nilai filosofi Hindu yang terkemas di dalamnya harus diaplikasikan lebih lanjut dalam kehidupan individual dan sosial yang lebih nyata. Dengan demikian, nilai-nilai Hindu yang terkemas dalam banten itu secara nyata dapat melahirkan transformasi individual dan sosial ke arah yang diamanatkan dalam banten tersebut.




Misalnya pada banten itu ada reringgitan dan tetuwasan yang melambangkan ketetapan hati atau kelanggengan. Hal ini seyogianya dimaknai sebagai wujud ketahanan diri menghadapi berbagai bentuk godaan dalam kehidupan individual dan kehidupan sosial. Kalau kegiatan beragama tidak membawa perubahan diri dan perubahan sosial ke arah yang lebih baik, itu artinya kita belum berhasil memaknai nilai-nilai suci yang terkemas dalam banten.

Banten menggunakan berbagai jenis bunga. Tujuan penggunaan bunga simbol kesucian dan ketulusan melakukan yadnya. Pengertian yadnya itu sangat luas. Orang yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang ekonomi janganlah hidup dengan memamerkan kemewahan.

Kalau ada orang yang hidup berlebihan tentunya akan ada orang yang hidup kekurangan. Meskipun mereka melangsungkan upacara yang mewah, hal itu tidak akan ada artinya dari sudut pandang agama Hindu. Karena itu, penggunaan bunga dalam banten agar dimaknai sebagai simbol untuk mengingatkan kita untuk secara tulus ikhlas menolong mereka yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan swadharma kita masing-masing.

Ada banten yang melambangkan diri kita (pinaka raganta tuwi). Misalnya Banten Peras. Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai berikut, peras ngarania prasida Tri Guna sakti. Artinya Banten Peras itu adalah lambang sukses (prasida) dengan menguatkan Tri Guna. Tri Guna yang kuat dalam artian positif adalah Tri Guna yang berposisi proporsional ideal.

Dalam kitab Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan keadaan Tri Guna yang berposisi ideal. Tri Guna yang ideal itu apabila Guna Sattwam dan Guna Rajah sama-sama kuat dalam diri seseorang maka Guna Sattwam mendorong orang berkeinginan melakukan Dharma. Sementara Guna Rajah yang menyebabkan orang melakukan perbuatan Dharma itu secara nyata. Hal itu yang akan mengantarkan Atman masuk sorga.

Untuk itu, natab banten peras seyogianya diartikan sebagai suatu dorongan dan peringatan agar kita senantiasa mengendalikan Tri Guna dalam kehidupan sehari-hari. Kalau Tri Guna itu dikendalikan dengan baik, justru Tri Guna itu sebagai modal spiritual yang sangat potensial melahirkan perilaku yang mulia dan sikap mental yang tangguh. Demikian juga banten penyeneng.

Menurut puja penganternya penyeneng, itu merupakan lambang kehidupan yang seimbang. Nyeneng antara kehidupan rohani dan duniawi (kaki penyeneng, nini penyeneng). Hidup yang seimbang adalah hidup yang menciptakan sesuatu yang patut diciptakan, memelihara sesuatu yang patut dipelihara. Dan, meniadakan sesuatu yang sudah patut di-pralina.

Dalam puja banten penyeneng dinyatakan pemujaan kepada Hyang Tri Murti, yaitu dengan puja penganter, ‘kejenganing dening Brahma, Wisnu, Iswara’.

Sejarah Banten di Bali

Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – TegalLalang, Gianyar). 

Maha Rsi Markandeya yang datang ke Bali pada abad ke-8 mendapat wahyu bahwa umat Hindu di Bali perlu: Melengkapi upakara dengan bentuk sesajen, yang kemudian bernama bali. Jadi nama bali berasal dari hal tersebut, artinya yaitu: sajen/ banten/ upakara. Orang yang memuja Tuhan dengan sarana banten/ bali dinamakan orang Bali. Tempat mereka tinggal dinamakan tanah/ pulau Bali. Pada awal kedatangan Maha Rsi Markandeya, beliau tidak tahu bahwa tata-cara di Bali harus menggunakan banten/ upakara. Maka pengikutnya yang berjumlah 400 orang terkena bencana dan meninggal dunia. Beliau kemudian kembali ke Gunung Raung, bersamadhi, di situlah beliau mendapat ‘petunjuk’ dari Yang Maha Kuasa, bahwa Bali jangan disamakan dengan pulau lain. Maka beliau kembali ke Bali, melakukan ritual sesuai dengan ‘petunjuk’ menggunakan banten dan ‘mendem panca datu’ di Besakih. Selamatlah beliau beserta pengikutnya, dan berkembanglah banten di Bali. 

Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara sebagai sarana upacara, mula-mula terbatas kepada para pengikutnya saja, lama kelamaan berkembang ke penduduk lain di sekitar Desa Taro.

Jenis upakara yang menggunakan bahan baku daun, bunga, buah, air, dan api disebut “Bali”, sehingga penduduk yang melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang Bali. Jadi yang dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro.

Lama kelamaan ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau, sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali, dalam pengertian pulau yang dihuni oleh orang-orang Bali, lebih tegas lagi pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan dengan menggunakan sarana upakara (Bali).

Tradisi beragama dengan menggunakan banten kemudian dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti: Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha.

Sejak kapan sarana upakara itu berubah nama dari “Bali” menjadi “Banten” dan mengapa demikian, sulit mencari sumber sastranya. Beberapa Sulinggih yang saya hubungi ada yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten mengalami perubahan dari kata wantu atau bantu.

Fenomena Permasalahan Banten saat ini

Umat Hindu melaksanakan ajaran Agama-nya antara lain melalui empat jalan/ cara (marga), yaitu: Bhakti marga, Karma marga, Jnana marga, dan Raja marga.

Bhakti marga dan Karma marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim disebut sebagai “Apara bhakti”, sedangkan tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar diri masing-masing dilaksanakan Jnana marga dan Raja marga yang disebut sebagai “Para bhakti”.

Pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara lainnya, seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol lainnya berkurang.

Umumnya di Bali keempat marga itu dilaksanakan sekaligus dalam bentuk upacara Agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri dari bahan pokok: daun, bunga, buah, air ,dan api. Sarana-sarana itu mempunyai fungsi sebagai:

  1. Persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi.
  2. Sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi.
  3. Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
  4. Sebagai alat pensucian.
  5. Sebagai pengganti mantra.

Karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya prakerti disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi kepada siapa banten itu akan dihaturkan/ dipersembahkan.

Dalam Buku Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang disahkan PHDI disebutkan bahwa seorang Tukang Banten hendaknya sudah mensucikan diri dengan upacara Pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban Bebangkit).

Tujuannya adalah agar Tukang Banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan mempersembahkannya kepada Hyang Widhi.

Di kala membuat banten kesucian dan kedamaian hati tetap terjaga, antara lain tidak mengeluarkan kata-kata kasar, tidak dalam keadaan kesal atau sedih, tidak sedang cuntaka, tidak sedang berpakaian yang tidak pantas, menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten di sembarang tempat.

Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral, konsentrasi penuh, rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih, tempat membuat banten disebut sebagai “Pesucian” yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan.

“Dewasa” atau hari baik untuk mulai membuat banten ditetapkan dengan teliti oleh para Sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam, atau dipegang oleh anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka. Beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh Sang Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg Gumi.

Untuk menegaskan penting dan sakralnya banten, Mpu Jiwaya salah seorang tokoh pemimpin Agama di abad ke-10 mengajarkan membuat “reringgitan” dengan bahan daun kelapa, enau atau lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus penuh. Jika tidak, bisa reringgitannya rusak atau tangannya yang teriris pisau.

Makna membuat banten seperti yang dikemukakan di atas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bhakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi.

Zaman beredar dan kini kita hidup di zaman millennium. Kemampuan kita menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai masalah, antar lain:

  1. Kelangkaan bahan-bahan baku banten.
  2. Waktu yang terbatas untuk membuat banten.
  3. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.

Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten sudah kita maklumi, karena busung, pisang, kelapa, telur, bebek, dan ayam, tidak sedikit yang sudah didatangkan dari luar Bali antara lain: Sulawesi, Lombok, dan Jawa.

Waktu yang terbatas bagi umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya “nunas puput”. Generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran Agama Hindu di Bali dalam bentuk ritual/ upacara menjadi sangat sulit dan mahal.

“Model” umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini terlihat sudah lumrah seperti: sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas ayaban di Geria lengkap dengan Sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat banten pada Sang Yajamana hilang.

Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya seperti diuraikan di atas, agaknya hal yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten.

Apalah artinya banten jika Sang Yajamana tidak mengerti dengan makna banten yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orang tua kita tetapi ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan pada orang tuamu? Jawabannya ya, nggak tau! Aneh bukan?

Fenomena seperti itu akan terus berkembang lebih-lebih bilamana dalam suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak.

Konsep-konsep Manawadharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara suami/ istri banyak tidak berlaku lagi. Suami mestinya menghidupi keluarga, dan Istri mestinya mengurus rumah, terutama masalah Panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten.

Adakah jalan keluar menghadapi fenomena seperti itu?
Untuk ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan:

  1. Dalam banyak kitab suci antara lain: Manawadharmasastra, Parasaradharmasastra, dll. disebutkan bahwa cara kita beragama di setiap zaman tidaklah sama. Di zaman Kali seperti sekarang ini, cara kita beragama mestinya lebih menekankan pada pencurahan kasih sayang kepada sesama manusia misalnya dalam bentuk dana punia.
  2. Namun demikian tidak berarti bahwa kegiatan ritual keagaman dalam bentuk upacara-upacara yadnya diabaikan. Upacara itu tetap dilaksanakan namun para Sulinggih diharap memberikan dharmawacana agar sang yajamana mengerti dengan makna upacara yadnya yang diselenggarakannya.
  3. Sesuai dengan konsep Desa-Kala-Patra maka umat Hindu di Bali diharapkan menyelenggarkan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan finansial yang nyata dan waktu yang luang. Oleh karena itu banten yang dikategorikan dalam kelompok: alit-madya-ageng hendaknya dijelaskan oleh para Sulinggih kepada umat secara luas, dengan menekankan bahwa banten yang alit tidak berarti nilainya lebih rendah dari banten yang madya-utama, demikian sebaliknya, karena hakekat banten adalah curahan rasa bhakti dan kasih kepada Hyang Widhi. Janganlah sampai umat kita menghadapi kesulitan atau menjadi miskin karena melaksanakan upacara yadnya secara keliru, yaitu membeli banten melebihi batas kemampuan finansialnya yang nyata.
  4. Apabila terpaksa membeli banten, belilah dari orang yang diyakini memenuhi syarat sebagai tukang banten.
  5. Para tukang banten hendaknya turut memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya agar umat kita tidak terlalu mahal membeli banten, lebih-lebih jika diingat bahwa tukang banten adalah kelompok orang yang disucikan dan dengan demikian diharapkan sudah mampu menguasai “Sad-ripu” yang ada dalam dirinya sendiri.
Yang perlu lagi menjadi perhatian kita sebagai umat hindu adalah realisasi atau praktek dari tri kerangka agama Hindu, dimana pada kehidupan bermasyarakat tri kerangka agama Hindu hanya satu yang menonjol terutama Yadnya (korban suci), Padahal kalau dirunut berdasarkan kitab suci, Yadnya kualitasnya paling rendah dari yang lainnya (tattwa dan susila) namun ini yang paling marak terjadi dengan dilaksanakan dengan megah serta meriah, tidak jarang hingga menghabiskan dana miliaran rupiah.

Tidaklah salah bila umat agama tetangga sering mencibir umat Hindu sering dinyatakan membuang – buang uang dengan Yadnya sehingga menjadi mubazir, karena dalam prakteknya masyarakat kebanyakan melaksanakan suatu yadnya tanpa mengetahui maknanya dan adakalanya dilaksanakan dengan rasa terpaksa, seringpula melaksanakan Yadnya dengan Rasa bangga, ego dll , hal itu menjadikan Yadnya atau korban suci tersebut menjadi sia-sia dan mubazir karena bertentangan dengan ajaran agama, bahkan sampai masyarakat Hindu sering menjadi terbebani dengan adanya yadnya besar-besaran. Ritual keagamaan bagi masyarakat adakalanya menjadikan seseorang menjadi banyak hutang, bahkan semakin miskin, peluang kerja diambil oleh orang lain karena terlalu banyak melaksanakan ritual keagamaan. Seharusnya ketiga kerangka dasar agama Hindu harus diseimbangkan, Susila atau etika moral ditingkatkan dan begitu juga dengan tattwa-nya (pemahaman akan ajaran agama). Jangan hanya berkutat pada Yadnya saja, Yadnya merupakan tangga awal atau paling bawah untuk mencapai tingkat spiritual.

Jika kita merujuk kepada ketentuan ketentuan kitab suci, pada jaman sekarang sesungguhnya ritual keagamaan seperti misalnya Banten , sudah kurang efektif dilaksanakan. Namun perlu juga dilakukan tetapi tidak perlu sampai menghabiskan dana hingga miliaran rupiah. Mengapa uang sebesar itu tidak digunakan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu? Seperti misalnya memberikan beasiswa kepada generasi-generasi muda, pembangunan sekolah-sekolah, pengobatan gratis , menjamin kesejahteraan para sulinggih dan lain sebagainya.

Didalam Manu smerti dan Parasara Smerti dengan jelas dinyatakan bahwa kewajiban manusia di jaman Kali (Kali Yuga, jaman sekarang ) adalah dengan bersedekah (ber-Dana Punia), sedangkan didalam Kalisantarana Upanishad dinyatakan kewajiban manusia adalah berbhakti kepada Tuhan dengan Nama Smaranam atau menyanyikan nama-nama suci Tuhan. Dengan demikian seseorang dapat mencapai kebahagian rohani dan jasmani sesuai tujuan agama Hindu Moksartam Jagadhita ya ca iti dharma. Kitab – kitab dharmasastra memberikan ketentuan kewajiban manusia menenkankan pada hubungan manusia dengan manusia, sedangkan Kalisantarana Upanishad menekankan pada hubungan manusia dengan Tuhan untuk mencapai kedamaian dijaman kali (kali yuga).

Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga timbul pengertian bahwa bali atau banten adalah “niyasa” atau simbol keagamaan.

lebih lenjut silahkan baca:
Umat Hindu dari etnis lain di luar Bali, silahkan menggunakan tradisi mereka masing-masing, jangan dipaksakan menggunakan banten, karena sejak dahulu kala, Hindu di Jawa menggunakan sesajen yang berbeda dengan banten di Bali. demikianlah sekilas tentang Makna Banten di Bali, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar