Google+

Makna Sarana Upakara Yadnya

Makna Sarana Upakara Persembahyangan

Upakara sering dikenal dengan sebutan banten, upakara berasal dari kata “Upa” dan “Kara”, yaitu
Upa berarti berhubungan dengan, sedangkan,
Kara berarti perbuatan/pekerjaan (tangan). 
Upakara merupakan bentuk pelayanan yang diwujudkan dari hasil kegiatan kerja berupa materi yang dipersembahkan atau dikurbankan dalam suatu upacara keagamaan. Dalam kehidupan agama Hindu di Bali, setiap pelaksanaan upacara keagamaan selalu mempergunakan upakara atau banten sebagai sarana untuk berhubungan/mendekatkan diri dengan pujaannya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/manifestasi-Nya yang akan dihadirkan.

Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Sang Hyang Widhi. Di samping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnana. Bhakti, Karma dan Jnana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbol-simbol atau sarana. Simbol-simbol itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rohaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”. Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Nah sarana-sarana itulah merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci.

Upakara atau banten tersebut dibuat dari berbagai jenis materi atau bahan-bahan yang ada, kemudian ditata dan diatur sedemikian rupa sehingga berwujud aturan atau persembahan yang indah dilihat, mempunyai fungsi simbolis dan makna filosofis keagamaan yang mendalam. Dalam pustaka Bhagawadgita Bab IX sloka 26 menyebutkan tentang unsur-unsur pokok persemambahan itu adalah : 
Patram Puspam phalam to yam yo me bhaktya prayacchati tad aham bhaktyupahrtam asnami prayatatmanah
Artinya :
Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun, bunga, buah-buahan atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari hati suci, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.
Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Sang Hyang Widhi.

Dari sloka diatas dapat dilihat hal-hal sebagai berikut : Daun; dapat berupa janur, ron, tlujungan/daun pisang dan daun yang lainnya yang disebut dengan plawa, sirih, daun pilasa dan sebagainya. Buah; dapat berupa buah-buahan seperti : kelapa, padi,tingkih,pangi,pinang,pisang, jenis kacang-kacangan serta semua jenis buah-buahan yang dapat dimakan. Bunga; dapat berupa segala bentuk dan jenis bunga-bungaan yang harum, segar dan yang ditetapkan dan diperkenankan untuk banten. Air; berupa zat cair seperti : air untuk pembersihan segala sarana banten, air kelapa, arak-berem-tuak, madu, empehan/susu, air kumkuman dan lainnya. Api/Gni; yang berfungsi sebagai pembakar sarana upakara berupa kemenyan, majagau,serbuk kayu-kayuan seperti cendana,dupa,lilin, dan lainnya.

Bahan Upakara

Mengenai bahan-bahan upakara untuk persembahan atau korban suci tersebut, semuanya diambil dari ciptaan Ida Hyang Widhi Wasa di dunia ini dan kesemuanya itu dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :

  1. Mataya Adalah sesuatu yang tumbuh. Bahan-bahan ini terdiri dari tumbuh-tumbuhan yang dipakai sarana upakara terdiri dari berbagai jenis daun,bunga dan buah-buahan. 
  2. Mantiga Adalah sesuatu yang lahir dua kali seperti telur itik, ayam, angsa dan lainnya. 
  3. Maharya Adalah sesuatu yang lahir sekali langsung menjadi binatang, seperti binatang-binatang berkaki empat misalnya sapi,babi,kerbau dan lain sejenisnya.


Fungsi Upakara Yadnya

1. Sebagai alat konsentrasi

Upakara sebagai alat konsentrasi, hal ini disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas adanya, dalam usaha untuk mendekatkan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, untuk menyampaikan rasa terima kasih karena berbagai anugrah yang diberikan. Dengan melihat banten/upakara, pikirannya sudah teringat dan terarah pada yang dihadirkan atau dipuja. Penggunaan upakara sebagai alat konsentrasi, umumnya dilakukan oleh mereka yang menempuh jalan melalui bhakti marga dan karma marga dalam ajaran catur marga. Bagi bhakti marga mengutamakan penyerahan diri dan pencurahan rasa yang didasari dengan cinta kasih terhadap yang dipuja yaitu Ida Hyang Widi Wasa dan segala menifestasi-Nya, untuk mencapai kebahagiaan yang tertinggi.

Bagi karma marga, menekankan rasa bhaktinya pada pengabdian yang berwujud kerja tanpa pamrih. Kerja merupakan simbol hidup, hidup adalah untuk beryadnya, karena melalui yadnyalah semua yang hidup di dunia ini diciptakan oleh Ida Hyang Widhi Wasa pada jaman dahulu. Hidup manusia dibelenggu oleh kerja, seperti dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagai berikut:
yajnarthat karmano’ nyatra lako’yam karma bandhanah adhartham karma kaunteya mukta sangah samachara (III.9)
Artinya :
Kecuali untuk tujuan berbakti, dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja, karenanya bekerjalah demi bhakti, tanpa kepentingan pribadi, oh Kuntipura.

2) Upakara sebagai persembahan atau kurban suci

Upakara sebagai persembahan, apabila ditujukan kehadapan yang lebih tinggi tingkatannya dari manusia. Disebut kurban suci apabila ditujukan kepada yang tingkatannya lebih rendah daripada manusia seperti dalam pelaksanaan upacara bhuta yadnya. Maksud dan tujuan dari persembahan atau korban suci itu adalah sebagai pernyataan dari perwujudan rasa terima kasih manusia kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah yadnya sesa yaitu persembahan yang dilakukan setiap hari setelah selesai memasak. Mengenai tempat dan dasar sastra dari yadnya sesa adalah ada disebutkan pada Manawa Dharma Sastra III. 68-69 sebagai berikut :
Panca suna grhastasya culli pesanyu paskarah, kandani codakumhasca badhyate yastu vahayan.
Tasam kramena sarvasam niskrtyartham mahasibhih, panca kalpta mahayajnah pratyaham grhamedhinam.
Artinya :
Seorang Kepala Keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung, dengan alunya, tempayan tempat tempat air dengan pemakaian mana Ia diikat oleh belenggu dosa
Untuk menebus dosanya yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu,para Maha Rsi telah menggariskan untuk Kepala Keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

3) Upakara sebagai sarana pendidikan memuja Ida Hyang Widhi Wasa.

Upakara yang telah dapat diwujudkan, merupakan hasil dari pengendalian diri terhadap keterikatan akan benda-benda duniawi. Bila hal itu dihayati lebih mendalam, maka mereka yang telah berhasil membuat upakara untuk diyadnyakan, itu berarti ,mereka telah berhasil menyucikan pikirannya dari rasa ego terhadap karunia Ida Hyang Widhi Wasa yang telah menjadi miliknya. Rasa rela dan rasa tulus ikhlas telah diamalkan, sekaligus perbuatan yang demikian itu telah termasuk dalam upaya penyucian diri secara lahiriah dijiwai dengan rasa bathiniah. Usaha untuk membebaskan diri dari keterikatan pada hawa nafsu guna mencapai kesucian secara lahir dan bathin, sangat diperlukan untuk mendekatkan diri kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagai berikut :
Vita raga bhaya krodha manmaya mam upasritah bahavo jnanam pasa puta madbhavam agatah (IV.10)
Artinya :
Terbatas dari hawa nafsu, takut dan benci bersatu dan berlindung pada-ku dibersihkan oleh kesucian budi pekerti banyak yang telah mencapai diri-ku

4) Upakara sebagai perwujudan Ida Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi.

suci yaitu rontal “Yadnya Prakerti, Tegesing Arti Bebantenan”, semua sarana yang dipakai mempunyai arti simbolis, seperti contoh upakara yang paling sederhana yaitu canang, didalam canang itu terdapat daun kayumas (plawa), bunga, dan porosan. Semua itu arti tersendiri, seperti plawa, disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa Plawa adalah lambang pertumbuhan pikiran yang hening dan suci. Dalam proses pelaksanaan pemujaan terhadap Tuhan/Hyang Widhi, sangat wajib hukumnya dilakukan dengan pikiran yang hening dan suci dan atas dasar hati yang tulus ikhlas dengan tanpa berharap akan pahala, karena semua yang dilakukan ini merupakan suatu kewajiban atas ciptaan-Nya. Dalam Bhagawadgita II. 51 disebutkan sebagai berikut :
Karma-jam budhi-yukta hi phalam tyaktva manisinah, janma-bandha-vinirmuktah padam gacchanty anamayam.
Artinya :
Bagi orang bijaksana, yang pikirannya bersatu dengan Yang Maha Tahu, tidak ,mengharap akan hasil dari perbuatannya (sebagai motif), akan tetapi bebas dari perbuatannya karma dan mencapai tempat dimana tak ada penderitaaan.

Makna Upakara Yadnya

Berbicara mengenai Makna Upakara Yadnya atau banten, dapat dipetik dari pustaka Bhagawadgita Bab III pada sloka 10 sampai 16, dalam pembicaraan Sri Krisna dengan Arjuna, mengenai pentingnya upacara yadnya itu. Pemaknaannya diawali dari yadnya yang dipergunakan oleh Prajapati pada jaman dahulu kala menciptakan manusia untuk mengembangkannya guna memenuhi semua keinginannya.

Apabila dihayati secara mendalam, mengenai diciptakannya manusia dengan yadnya mengingatkan pada kita akan peranan dan kedudukan manusia dalam kehidupannya bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk hidup yang lainnya sesama ciptaan-Nya, maka manusia dinilai mempunyai peranan mampu sebagai subyek dan sekaligus obyek dalam memaknai Yadnya itu. Melalui peranan manusia sebagai manusia sebagai subyek dan obyek, akan mampu mengantarkan mencapai tujuan agama Hindu itu yaitu “Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma. Singkatnya mencapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin melalui jalan dharma.

Untuk mempedomi dan menghayati akan makna upakara atau yadnya tersebut, maka “pentingnya yadnya” dalam pustaka suci bhagawadgita pada 7 sloka, dapat dimaknai secara mendalam. Sloka-sloka tersebut berbunyi sebagai berikut :
Sahayajnah prajah srstya puro vaca prajapatih anena prasavisyadhvam esa vo stv ista kamadhuk
Artinya
Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda, dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi Kamadhuk dari keinginanmu.
Kamadhuk adalah sapi Indra yang dapat memnuhi segala keinginan. Makna yang terkandung dalam pengertian sloka ini, adalah sebagai sarana penciptaan manusia pleh Prajapati/Tuhan untuk menciptakan manusia sebagai mahluk utama dan sempurna yang nantinya akan mengembang dan dapat memenuhi semua keinginannya, karena manusia termasuk mahluk hidup yang sempurna dari yang lainnya.

Selanjutnya pada sloka 11, berbunyi sebagai berikut
Devan bhavayata, nena te deva bhavayantu vah parasparam bhavayantah sreyah param avapsyatha
Artinya :
Dengan ini kamu memlihara para Dewa dan dengan ini pula para Dewa memelihara dirimu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebahagiaan yang maha tinggi.

Makna yang terkandung dalam pengertian sloka ini adalah melalui yadnya yang dipakai sebagai sarana pemeliharaan hubungan antara manusia dengan para Dewa, bermakna saling memelihara dapat mencapai kabaikan yang maha tinggi. Singkatnya hubungan antara rasa subhakti manusia dengan anugrah sweca Ida Hyang Widhi Wasa, tetap dipelihara dengan dasar falsafah Tatwam Asi.

Selanjutnya pada sloka 12, berbunyi sebagai berikut :
Istan bhogan hi vo deva dasyante yajnabhavitah tair dattan apradayai ‘bhyo yo bhunkte stena eva sah
Artinya :
Dipelihara oleh yadnya, para Dewa akan memberi kamu kesenangan yang kau ingini. Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini adalah melalui saling memelihara dengan yadnya itu antara manusia yang berhutang hidup pada Dewa (Dewa Rna salah satu dari Tri Rna itu) dengan Dewa yang telah memberikan kesempatan pada manusia untuk hidup, maka para Dewa akan memberikan kesenangan yang diinginkan. Sebaliknya bila manusia hanya menikmatinya saja tanpa memberikan pemeliharaan sebagai balasannya, maka manusia yang demikian dinyatakan sebagai pencuri.

Dalam kehidupan keseharian, manusia telah mendapatkannya apa yang dikehendaki, dan ini semua adalah ciptaan-Nya, maka manusia wajib untuk memelihara dan memanfaaatknnya sesuai dengan maksud dan tujuannya masing-masing. Namun apa yang telah diciptakan oleh Tuhan dan dinikmati umat, wajib untuk dihaturkan kembali sebagaiannya sebagai ungkapan rasa bhakti umat kehadapan Hyang Widhi dengan berupa yadnya.

Selanjutnya pada sloka 13, berbunyi sebagai berikut :
Yajnasistasinah santo mucyante sarvakilbisaih bhunjate te tv agham papa ye pacanty atmakaranat
Artinya :
Orang-orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa. Akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan untuk kepentingannya sendiri mereka itu adalah makan dosanya sendiri.
Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini, adalah orang yang baik, akan beryadnya terlebih dahulu sebelum makan kepada para Dewa agar terhindar dari dosanya, tetapi bagi mereka yang tidak baik atau disebut jahat, semua makanan disediakan atau dimakan hanya untuk kepentingannya saja, hal itu disebut mereka memakan dosanya sendiri sehingga menjadi makin besar dosanya.

Berikut pada sloka 14, berbunyi sebagai berikut :
Annad bhavanti bhutani parjanyad annasambhavah yajnad bhavati parjanyo yajnah karmasamudbhavah
Artinya :
Dari makanan, mahluk menjelma, dari hujan lahirnya makanan dan dari yadnya muncullah hujan dan yadnya lahir dari pekerjaan.
Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini, adalah lingkaran kehidupan yang menghidupkan semua yang ada dan kegunaannya saling memerlukan antara yang satu dengan yang lainnya atau ketergantungan itu terletak pada makna dari yadnya yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi Wasa itu.

Selanjutnya pada sloka 15, berbunyi sebagai berikut :
Karma brahmodbhavam vidhi brahma ksarasamudbhavam tasmat sarvagatam brahma nitya yajne pratisthitam
Artinya :
Ketahuilah asal mulanya “karma” didalam weda dan brahma muncul dari yang abadi. Dari itu brahma yang meliputi semuanya selalu berpusat disekeliling yadnya.
Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini adalah Brahma yaitu manifestasi Tuhan sebagai pencipta untuk semuanya itu berpusat disekililing yadnya melalui karma-Nya, yang didalam pustaka suci Weda dikatakan bahwa Brahma itu muncul dari yang abadi yaitu Tuhan/Ida Hyang Widhi Wasa. Makna yadnya dalam hal ini adalah sebagai sarana pusat penciptaan.

Selanjutnya pada sloka 16, berbunyi sebagai berikut :
Evam pravartitam cakram na nuvartayati ha yah aghayur indriyaramo mogham partha sa jivati
Artinya :
Ia yang di dunia tidak ikut memutar roda (cakra) yadnya yang timbal balik ini adalah jahat dalam alamnya dan ia, O Arjuna hidup sia-sia.
Makna yang terkandung dalam pengertian pada arti sloka ini adalah mengenai penggunaan yadnya secara timbal balik, yang pada awalnya Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan selanjutnya manusia memelihara semua ciptaan-Nya itu dengan yadnya pula. Bila tidak dilaksanakan seperti itu, maka manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya yang paling utama dan sempurna keberadaannya , dinyatakan jahat pada kehidupannya, puas dengan indriyanya dan hidupnya sia-sia serta hampa.

Makna Bunga dan Daun

Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai “... sekare pinaka katulusan pikayunan suci” artinya, bunga itu sebagai lambang ketulus-ikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan oleh umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar petunjuk kitab suci. Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbol, bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya ataupun roh suci leluhur.

Dari bunga dan daun ini dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti Canang dan Kewangen. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tattwa Agama Hindu. Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah:

  • Porosan terdiri dari pinang, kapur dibungkus dengan sirih. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti.
  • Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti.
  • Bunga merupakan lambang keikhlasan
  • Jejahitan, reringgitan dan tetuwasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran.
  • Uras-sari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi.

Dalam Kitab Agastya Parwa disebutkan :
Nihan ikang kembang tan yogya pujakena ring bhatara: kembang uleren, kembang ruru tan inunduh, kembang laywan-laywan ngaranya alewas sekar kembang munggah ring sema, nahan ta lwir ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika.
Artinya :
Inilah bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara, bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa diguncang, bunga yang berisi semut, bunga yang layu yaitu yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh di kuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang baik-baik.
Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan.

Kewangen adalah nama salah satu sarana sembabyang. Kewangen dibuat dari daun pisang atau janur yang berbentuk kojong. Di dalamnya diisi perlengkapan berupa daundaunan, hiasan dari rangkaian janur yang disebut sampian kewangen, bunga, uang kepeng dan porosan yang disebut silih asih. Adapun yang dimaksud dengan porosan silih asih adalah dua potong daun sirih yang diisi kapur dan pinang, diatur sedemikian rupa sehingga bila digulung akan tampak bolak-balik, yaitu yang satu potong tampak bagian perutnya dan satu bagian lagi tampak bagian punggungnya. Dalam persembahyangan kewangen dipakai menyembah Ista Dewata. Yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bakti pemujanya. Karena kewangen itu simbul Tuhan maka cara pemakaiannya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan penyembahnya. Hal ini dimaksudkan agar antara yang menyembah dengan yang disembah berhadap-hadapan. Yang merupakan muka kewangen ialah bagian letak uang kepengnya. Bila uang kepeng sulit didapat diganti dengan uang logam.

Makna Buah

Penggunaan buah dan jenis-jenis makanan dijadikan rakan banten itu disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti sebagai lambang Widyadara-Widyadhari. Kata Widya berarti ilmu pengetahuan dan Dhara artinya merangkul. Widyadhara artinya mereka yang mampu menguasai ilmu pengetahuan suci. Ilmu tersebut diwujudkan dalam perbuatan nyata. Ini artinya kalau rakan banten tersebut sebagai lambang Widyadhara-Widyadhari ini artinya buah-buahan dan berbagai jenis jajan itu mengandung makna agar rakan banten itu hasil sendiri dari pengembangan ilmu pengetahuan tersebut. Buah hasil kebun sendiri, jajan hasil kreasi sendiri. Hal itulah yang paling baik untuk dijadikan rakan banten. Namun tentu juga tidak salah bila buah-buahan dan jajan itu dibeli, mungkin karena kesibukan sehingga tidak sempat membuat.

Selain itu, jika dikaji secara Ilmiah buah sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dalam Bhagawadgita XIV.6,9,11 disebutkan ada tiga golongan atau sifat makanan menurut ajaran Weda yaitu makanan Satwika, Rajasika dan Tamasika. Makanan Satwika adalah segala jenis makanan yang meningkatkan kecenderungan manusia menjadi suci, cerah, tenang, bebas dari dosa. Yang termasuk makanan ini adalah Sayuran, Buah-buahan, susu, dan lain-lain.

Makna Api

Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan :

  • Dupa yaitu api dengan nyala serta asap yang kecil tetapi jelas. Tergolong dalam ini adalah peasepan dan sejenisnya. Biasanya dicampur dengan wewangian sehingga memberikan aroma yang dapat menenangkan pikiran.
  • Dipa adalah api dengan nyala yang memancarkan sinar cahaya yang terang. Misalnya, Padipan, api takep, api dari lilin, lampu dan sejenisnya.
  • Obor yaitu api dengan nyala yang bsar berkobar-kobar. Termasuk jenis ini adalah obor, perakpak, tombrog (obor dari bambu), api tetimpug, dll.

Dupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi :

  1. Sebagai pendeta pemimpin upacara
  2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja
  3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat
  4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan.

Jika hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Di sinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam Agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan Sastra Dresta dan Loka Drsta atau : Desa, Kala, Patra dan Guna.

Makna Air

Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : 

  • Pertama, air untuk membersihkan tubuh, minum, dll. 
  • Kedua air suci yang disebut Tirtha. 

Tirtha ini pun ada dua macamnya yaitu tirtha yang didapat dengan memohon kepada Sang Hyang Widhi dan manifestasiNya yang disebut Wangsuhpada, dan Tirtha dibuat oleh Pendeta dengan puja. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu menumbuhkan persanaan, pikiran yang suci. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha.

Macam-macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut :

  1. Yang berfungsi sebagai penyucian terhadap tempat, bangunan-bangunan, alat-alat upacara ataupun diri seseorang. Tirtha ini diperoleh dengan jalan puja mantra para Pandita/Pinandita, misalnya tirtha penglukatan, tirtha pabersihan, prayascita, byakaon, pasupati, tirtha pemlaspas, dsb.
  2. Yang berfungsi sebagai penyelesaian dalam upacara persembahyangan. Umumnya tirtha ini dimohonkan di suatu pelinggih utama pada suatu pura atau tempat yang dianggap suci. Tirtha ini sering disebut dengan tirtha wangsuhpada.
  3. Yang berfungsi sebagai penyelesaian upacara kematian, misalnya: tirtha penembak, pangentas, pralina, dan tirtha pemanah.


Makna Bija (Wija)

Mawija atau mabija dilakukan setelah usai mathirta, yang merupakan rangkaian terakhir dan suatu upacara persembahyangan. Bija disebut juga Gandaksata, berasal dari Ganda dan Aksata, artinya biji padi-padian yang utuh dan berbau wangi. Oleh karena itu hendaknya menggunkan beras yang masih utuh, dicuci bersih, dicampur dengan wangiwangian. Misalnya dicampur dengan air cendana dan bunga yang harum. Kadangkala juga dicampur kunyit sehingga berwarna kuning, maka disebutlah bija kuning.

Wija atau bija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an yang bersemayam dalam diri setiap orang. Mawija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih keSiwa-an atau sifat-sifat kedewataan dalam diri seseorang. Benih itu akan bisa tumbuh dan berkembang apabila ladangnya bersih dan suci, maka itu mawija dilakukan setelah Mathirta.

Untuk tumbuh dan berkembangnya sifat kedewataan itu dalam pikiran dari hati manusia maka tempat Mawija itu yang terpenting di dua tempat, yaitu: pada pikiran dari hati itu sendiri, masing-masing dengan cara menempelkan di tengah-tengah kedua kening dan dengan menelannya.

lebih lanjut tentang budaya bali, silahkan baca:
demikianlah sekilas tentang makna sarana upakara yadnya, semoga bermanfaat.

4 komentar:

  1. Luar biasa sumber untuk pemahaman makna banten di bali lanjut sempurna lagi

    BalasHapus
  2. bli budi, kok tyang ten nyidayang ngopas nggih? dados tyang copas niki, bli?

    BalasHapus
  3. bli budi, kok tyang ten nyidayang ngopas nggih? dados tyang copas niki, bli?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada email... tyg kirim via email... atau add HP tyg, kita WA atau LINE

      Hapus