Google+

Wanita dalam Kitab Suci Hindu

Wanita dalam Kitab Suci Hindu

banyak agama yang "PROMOSI" dan mengtakan bahwa dalam kepercayaan agamanya, hak-hak wanita diperhatikan, dan posisi wanita dalam kehidupan menurut agamanya sangat mendapat perhatian penting.
lalu, bagaimana dengan agama hindu?
apakah para wanita/perempuan hindu tidak diperhatikan?
kalau benar-benar diperhatikan dan mendapatkan perhatian khusus, mana buktinya?
berikut ini beberapa sloka tentang wanita dalam Agama Hindu:

Slokantara 29
Śatrantadāpīwa waśānprakāśāt
Mudhsya santoşa ewam latabhah
Sa katore kumbha matonyawetti
Dījñānadipāh kutah ewa dŗştah
Terjemahannya:
Ilmu itu bersinar diwajah orang bijaksana. Orang bodoh itu sebagai tumbuhan menjalar, ilmu itu bagai orang bijaksana tersimpan di dalam hati sebagai lampu dalam periuk, merupakan obor kehidupannya.

Sesuai terjemahan sloka tersebut, ilmu pengetahuan adalah cahaya kehidupan. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan akan terbebas dari kegelapan kehidupan. Demikian halnya wanita yang memiliki ilmu pengetahuan, akan mampu mengatasi masalah dalam hidupnya dan mampu mengangkat martabatnya. Wanita yang memiliki ilmu pengetahuan akan terbebas jurang kenistaan dan mampu menjadi penerang keluarga dan masyarakat. Mengisi diri dengan pengetahuan akan membuat wanita menjadi sosok yang disegani. Dengan berpengetahuan wanita akan menjadi sosok yang benar-benar dikagumi. Wanita adalah sumber dari segala kehidupan yang ada di bumi, maka menjadi seorang wanita haruslah berpengetahuan.

Wanita dalam Kitab Manawa Dharmasastra:

Dwidha krtwatmano deham Ardhena puruso’bhawat,
Ardhena nari tasyam sa Wirayama smrjat prabhuh (Manawa Dharmasastra I.32)
Terjemahannya:
Dengan membagi dirinya menjadi sebagian laki-laki dan sebagian perempuan (ardha nari), ia ciptakan wiraja dari wanita itu.

Sesungguhnya adanya laki-laki dan perempuan itu adalah atas ciptaan Tuhan. Maka dari itu antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang lebih baik, lebih buruk, lebih tinggi lebih rendah, karena baik laki-laki maupun perempuan sama-sama tercipta dari Tuhan.

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai suatu keseimbangan. Keseimbangan akan tercipta jika laki-laki dan perempuan bisa bersatu. Ibarat gunung dan lautan, walau tempatnya berjauhan, tetapi tetap bersatu dan selaras menjaga keseimbangan dunia.

Sloka di atas menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Laki-laki dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan karena keduanya tercipta dari Tuhan. Dengan demikian, maka perempuan dalam Hindu bukan merupakan subordinasi dari laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Kedua makhluk yang berbeda jenis kelamin ini memang tidak sama. Perbedaan tersebut adalah untuk saling melengkapi.

Ini artinya menurut sloka Manawa Dharmasastra tersebut bahwa laki dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan. Sayang dalam adat istiadat Hindu seperti di Bali misalnya wanita masih belum sepenuhnya setara terutama dalam perlakuan adat beragama Hindu.

Padahal kesetaraan wanita dan laki itu terdapat juga dalam ceritra Lontar Medang Kamulan. Dalam lontar tersebut ada mitology tentang terciptanya laki dan perempuan. Dalam mitology itu diceritrakan Dewa Brahma menciptakan secara langsung laki dan perempuan. Pada awalnya Dewa Brahma atas kerjasama dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa membuat manusia dari tanah, air, udara, api dan akasa. Selanjutnya Dewa Bayu memberikan napas dan tenaga, Dewa Iswara memberikan suara dan kemampuan berbahasa. Sang Hyang Acintya memberikan idep sehingga manusia bisa berpikir.

Setelah tugas membuat manusia itu selesai ternyata manusia yang diciptakan oleh Dewa Brahma atas penugasan Hyang Widhi itu tidak memiliki kelamin. Jadinya tidak laki dan tidak perempuan. Karena itu Dewa Brahma masuk dalam diri manusia ciptaanNya itu. Kemudian menghadap dan mencipta ke timur laut. Dari ciptaan itu munculah manusia laki dari timur laut. Kemudian menghadap ke tenggara untuk mencipta terus munculah manusia perempuan dari arah tenggara.

Dari konsepsi terciptanya manusia ini sudah tergambar bahwa laki dan perempuan secara azasi harkat dan martabat serta gendernya adalah sejajar. Perbedaan laki dan perempuan itu adalah perbedaan yang komplementatif artinya perbedaan yang saling lengkap melengkapi. Artinya tanpa perempuan laki-laki itu tidak lengkap. Demikian juga sebaliknya tanpa laki-laki perempuan itu disebut tidak lengkap.

Ksetrabhuta smrta nari bijahbhutah smrtah puman, 
ksetrabija samayogat sambhawah sarwa dehinam (Manawa Dharmasastra IX.33)
Terjemahannya:
Menurut Smrti wanita dinyatakan sebagai tanah, laki-laki dinyatakan sebagai benih, hasil terjadinya jazad badaniah yang hidup terjadi karena melalui hubungan antara tanah dan benih

Seorang wanita adalah tanah, dimana tanah memberikan tempat hidup bagi semua makhluk hidup dan sebagai tempat berseminya segala makhluk hidup. Sementara laki-laki diumpamakan sebagai benih atau sumber kehidupan. Benih bisa tumbuh dan berkembang jika laki-laki dan wanita saling bekerja sama. Benih tidak akan bisa tumbuh dan berkembang tanpa adanya tanah, demikian juga tanah tidak mungkin bisa melahirkan kehidupan tanpa adanya benih. Dengan demikian sesungguhnya laki-laki dan wanita itu sudah mempunyai tugas dan perannya masing-masing dan jika salah satunya tidak ada maka kehidupan di dunia tidak akan seimbang.

Wiçstam kutra cidbijam striyonistwewa kutra cit,
ubhayam tu samam yatra sa prasutih praçasyate (Manawa Dharmasastra IX.34)
Terjemahannya:
Dalam hal-hal tertentu, benih lebih menonjol dan lainnya garbha wanitalah yang menonjol, tetapi kalau kedua-duanya adalah sama, turunan itu akan sangat dimuliakan.

Menurut terjemahan sloka Manawa Dharmasastra IX. Sloka 34, pada suatu ketika bisa saja laki-laki lebih berperan dalam kehidupan, demikian juga sebaliknya, wanita juga bisa bisa berperan lebih di dalamnya. Akan tetapi apabila keduanya bisa menyeimbangkan tugas dan peranannya dalam kehidupan maka hal itulah yang paling utama. Suatu misal dalam hal mendidik anak dalam rumah tangga. Baik dan buruknya perilaku anak tidak hanya tergan pada ibunya saja atau ayahnya saja, melainkan hendaknya keduanya harus bisa meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan non formal di dala keluarga. Sehingga tidak ada saling menyalahkan antara suami dan istri ketika anaknya melakukan perbuatan yang menyimpang dari etika dan norma.

dalam Rgveda laki dan perempuan yang sudah menjadi suami istri disebut dengan satu istilah yaitu Dampati artinya tidak dapat dipisahkan. Dalam bahasa Bali disebut ''dempet''. Karena itu dalam Manawa Dharmasastra IX.45 dinyatakan bahwa suami istri itu adalah tunggal. Demikian juga adanya istilah suami dan istri. Kalau orang disebut istri sudah termasuk didalamnya pengertian suami. Kalau ada perempuan yang sudah disebut sebagai istri sudah dapat dipastikan ada suaminya. Karena kalau ada perempuan yang belum bersuami tidak mungkin dia disebut istri.

Etawanewa puruso yajjya atma prajeti ha,
wiprah prahustatha caitadyo bharta sa smritanggana (Manawa Dharmasastra IX.45)
artinya:
ia merupakan orang yang sempurna yang terdiri atas tiga orang yang menjadi satu, istrinya, ia sendiri dan keturunannya, demikian dalam ajaran dharma dan brahmana menyatakan dalam perumpamaannya suami dinyatakan satu dengan istrinya.

Demikian juga kalau ada laki-laki disebut sebagai suami sudah dapat dipastikan ada istrinya. Tidak ada laki-laki yang bujangan disebut suami. Mereka disebut suami dan istri karena mereka sejajar tetapi beda fungsi dalam rumah tangga. Kata suami dalam bahasa sansekerta artinya master, lord, dominion atau pemimpin. Sedangkan kata istri berasal dari bahasa sanskerta dari akar kata ''str'' artinya pengikat kasih. Istri berasal dari wanita. Kata wanita juga berasal dari bahasa sansekerta dari asal kata ''van'' artinya to be love (yang dikasihi).

Hal itulah yang menyebabkan wanita setelah menjadi istri kewajibannya menjadi tali pengikat kasih seluruh keluarga. Dalam Mahabharata Resi Bisma menyatakan bahwa dimana wanita dihormati disanalah bertahta kebahagiaan. Karena itu Rahvana yang menghina Dewi Sita dan Duryudana yang menghina Dewi Drupadi, kedua-duanya menjadi raja yang terhina. Dalam Manawa Dharmasastra III.56 seperti yang dikutif di atas dinyatakan bahwa:

Yatra naryastu pujyante Ramante tarra dewatah, 
yatraitastu na pujyante sarvastatra phalah kriyah (Manawa Dharmasastra III.56)
Maksudnya:
Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia.

mengenai "Warisan" Kitab Manawa Dharmasastra juga telah mengaturnya yakni dalam sloka 132, 133 dan 118, yang menyatakan bahwa:
dauhitro hyakhilam rikthama putrasya piturharet,
sa ewa dadyad dwau pindau pitre mata mahayaca (Manawa Dharmasastra IX.132)
artinya:
anak wanita yang diangkat statusnya sesungguhnyaakan menerima juga harta warisan dari ayah sendiri yang tidak berputra lelaki, ia akan menyelenggarakan tarpana bagi kedua orang tuanya.

pautra dauhitrayorloke na wiseso 'sti dharmatah,
tayorhi mata pitarau sambhutau tasya dehitah (Manawa Dharmasastra IX.133)
artinya:
tida ada perbedaan antara putra laki atau wanita yang diangkat statusnya,  baik yang berhubungan masalah duniawi ataupun masalah kewajiban suci karena ayah maupun ibu mereka, kedua-duanya lahir dari badan yang sama.

swebhyom' sebhyastu kanyabhyah pradadyurbhratarah prithak,
swatswadamsaccaturbhagam patitah syuraditsawah (Manawa Dharmasastra IX.118)
artinya:
tetapi kepada saudara wanita, saudara-saudara (laki) akan memberikan beberapa bagian dari mereka, masing-masing seperempat bagiannya, mereka yang menolak memberikan akan terkucil.

Kalau saudara lakinya banyak bisa saudara wanitanya lebih banyak mendapat dari saudara lakinya. Meskipun setelah ia bersuami wanita itu tidak memiliki beban kewajiban formal pada keluarga asalnya, namun ia memiliki hak waris. Itu menurut pandangan kitab suci.

Tetapi dalam adat istiadat Hindu di Bali wanita itu tidak dapat waris apa lagi ia kawin keluar lingkungan keluarganya. Di samping wanita mendapatkan artha warisan juga mendapatkan pemberian artha jiwa dana dari ayahnya. Jumlahnya tergantung kerelaan orang tuanya.

Dalam hal karier menurut Manawa Dharmasastra IX.29,
patim ya nabhicarati manowagdehasamyata,
sa bharti lokanapnoti sadbhih sadhwiti cocyate (Manawa Dharmasastra IX.29)
artinya:
wanita yang mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan (tri kaya parisudha), tidak melangar kewajiban terhadap suaminya akan memperoleh tempat tinggal di Surga, setelah meninggal dan di dunia ini, ia disebut Sadhwi, istri yang baik dan setia.

wanita dapat memilih sebagai sadwi atau sebagai brahmawadini. Kalau sebagai sadwi artinya wanita itu memilih berkarier dalam rumah tangga sebagai pendidik putra-putrinya dan pendamping suami. Karena dalam Vana Parwa 27.214 ibu dan ayah (Mata ca Pita) tergolong guru yang setara. Dalam Manawa Dharmasastra IX.27 dan 28 ada dinyatakan bahwa: melahirkan anak, memelihara dan telah lahir, lanjutnya peredaran dunia wanitalah sumbernya. Demikian juga pendidikan anak-anak, melangsungkan upacara Yadnya, kebahagiaan rumah tangga, sorga untuk leluhur dan dirinya semuanya itu atas dukungan istri bersama suaminya.
utpadanamapatyasya jatasya paripalanam,
pratyaham lokayatrayah pratyaksam strinibandhanam (Manawa Dharmasastra IX.27)
artinya:
kelahiran daripada anak-anak, pemeliharaan terhadap mereka yang lahir itu dan kehidupan sehari-hari bagi orang-orang laki, akan semua kejadian itu, nyatanya wanitalah yang menyebabkannya.

apatyam dharmakaryani susrusa ratiruttama,
daradhinastatha swargah priti rnanatmanascaha (Manawa Dharmasastra IX.28)
artinya:
keturunannya, terselenggaranya upacara-upacara keagamaan, pelayanan yang setia, hubungan senggama yang memberikan nikmat tertinggi dan mencapai pahala disurga bagi nenek moyang dan seseorang, tergantung pada istri sendiri.

Wanita yang berkarier di luar rumah tangga disebut brahma vadini. Ia bisa sebagai ilmuwan, politisi, birokrasi, kemiliteran maupun berkarier dalam bidang bisnis. Semuanya itu mulia dan tidak terlarang bagi wanita. Itu semua konsep normatifnya kedudukan perempuan menurut pandangan Hindu. Tetapi sayangnya dalam tradisi empirisnya konsepsi normatif itu belum terlaksana betapa mestinya.

disamping itu sifat-sifat utama wanita patut di tumbuh kembangkan agar menjadi wanita utama dalam kehidupan terermin dalam sloka weda berikut ini:

Aksayu nau madhusamkāśe anīkam nau samañjanam
Antah kŗņusva mām hŗdi mana innau sahāsati (Atharva Veda VII. 36.1)
Terjemahannya:
Mata kami masing-masing akan memiliki sifat seperti madu;wajah kami menjadi bagaikan balsem (yang berharga); taruhlah aku dihatimu;semoga pikiran kita selalu menyatu.

Apabila seorang wanita bisa dihargai dan dihormati maka wanita bisa bersifat semanis madu yang tidak ada yang bisa mengalahkan manisnya. Serta bila wanita jaga bisa memberikan kehangatan kedapa semua orang. Hendaknya wanita selalu memiliki tempat pada setiap hati manusia, karena manusia terlahir dari wanita.

Yantrī rād yantryasi yamanī
Dhruvā’si dharitrī, işe tvorje tvā
Rayyai tvā poşāya tvā lokam tā indram (Yajur Veda XIV. 22)
Terjemahannya:
Pengendalian, engkau yang pintar, pengatur pengendali, penguasa yang tegas. Untuk kekuatan, engkau untuk energi, engkau untuk kekayaan, engkau untuk kemakmuran. Memenuhi ruangan, ternak yang diikat.

Menurut terjemahan sloka Yajur Veda XIV. 22, wanita yang memiliki pengetahuan mampu menjadi pengendali kehidupan dan menjadi pemimpin yang tegas. Di dalam kekuatan wanita sebagai energi. Ibarat para dewa memiliki dewi-dewi sebagai saktinya. Bila seorang wanita padai mengatur keuangan dalam keluarga, maka keluarga tersebut akan mendapatkan kemakmuran dan kebahagiaan.

Samrājñī śvaśure bhava samrājñī ŚvaŚrvām bhava
Nanādari samrājñi bhava samrājñĪ adhi devŗşu (Reg Veda X.85.46)
Terjemahannya:
Jadilah ratu bagi mertua lelakimu; ratu bagi mertua perempuanmu; ratu bagi ipar-ipar perempuanmu dan ratu bagi ipar-ipar lelakimu.

Sesuai dengan terjemahan sloka Reg Veda X.85.46, seorang wanita yang sudah menikah hendaknya mampu menjadi ratu bagi semua anggota keluarga di rumah suaminya. Menjadi ratu dalam hal ini bukan berarti berlaku seenaknya dan boleh memerintah siapa saja. Menjadi ratu untuk keluarga suami adalah mampu menjadi wanita yang dimuliakan, dihormati, dan mampu menjadi kebanggaan seluruh keluarga. Wanita sebagai istri, menantu, dan ipar bagi saudara-saudara suaminya hendaknya mampu menjadi tauladan dan mampu mengayomi keluarganya.

baca juga artikel yang berkaitan dengan Wanita dalam Kitab Suci Hindu, diantaranya:

demikianlah sekilas kutipan sloka keutamaan Wanita dalam Kitab Suci Hindu, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar