Google+

Atma Tatwa - Panca Sradha

Atma Tatwa - Panca Sradha

Atman atau Atma (IAST: Ātmā, Sanskerta: आत्म‍ ) dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari dengan sinarnya. Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk

Dalam kitab suci Hindu dinyatakan bahwa atma adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab upanisad yang menyatakan bahwa 
Brahma Atma Aikyam” yang artinya brahman dan atman adalah tunggal. 
Atma diumpamakan sebagai setitik embun yang berasal dari penguapan air laut, karena adanya pengaruh suatu temperatur tertentu kemudian embun itu terpencar keseluruh alam semesta.

Atman adalah sinar suci / bagian terkecil dari Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa ). Atman berasal dari kata "an" yang berarti bernafas. Setiap yang bernafas mempunyai atman, sehingga mereka dapat hidup. Atman adalah hidupnya semua makluk ( manusia, hewan, tumbuhan dan sebagainya ). Demikian keadaan atma yang mula-mula berasal dari Brahman kemudian terpencar memasuki serta memberi energi hidup pada jasmani dari semua mahluk. Atma juga disebut siwatma atau jiwatma, yaitu roh yang berasal dari Tuhan dalam fungsi memberi tenaga hidup kepada alam semesta beserta isinya. Pada dasarnya atman adalah suci, namun setelah bersatu dengan tubuh, iapun kena pengaruh maya dengan segala bentuknya. Atman menikmati wisayanya dan terbawa dalam suka duka hindup. Kitab suci Bhagawad gita menyebutkan sebagai berikut :
aham atma gudakeda, sarwabhutasyaathi, aham adis camadhyam ca, bhutanam anta eva ca
artinya :
O, Arjuna, aku adalah atma, menetap dalam hati semua makluk, aku adalah permulaan, pertengahan, dan akhir daripada semua makluk.

Dari kutipan sloka diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa atman itu merupakan bagian dari Tuhan ( Sang Hyang Widi ). Bila Tuhan diibaratkan lautan maka atman itu hanyalah setitik uap embun dari uap airnya. Bila Tuhan diibaratkan matahari maka atman itu merupakan percikan terkecil dari sinarnya. Demikianlah Tuhan asal atman sehingga Ia diberi gelar Paramatman yaitu atma yang tertinggi. Atman berasal dari Tuhan maka pada akhirnya atman kembali kepadanya. Seperti halnya setitik uap air laut yang kembali kelaut saat hujan turun, (Sudirga, Ida Bagus.2003;71). Jivatman adalah atman yang telah masuk kedalam tubuh (wadah), memberikan kekuatan dan hidup. Dan apabila mati atman akan keluar daru tubuh (wadah) dan disebut Roh.

Sifat – Sifat Atman

Atman merupakan bagian dari Tuhan / tunggal adanya dengan Tuhan. Seperti halnya Tuhan yang memiliki sifat – sifat khusus, atman juga mempunyai sifat –sifat, seperti yang tertuang dalam Kitab Bhagawad Gita, yakni :
“na jayate mriyate va kadacin, nayam bhutva bhavita van a bhuyah, ajo nitya sasvato yam purano, na hayate hayamane sarire” (Bhagawad Gita II.20)
artinya :
Ia tidak pernah lahir dan juga tidak pernah mati atau setelah ada tak akan berhenti ada. Ia tak dilahirkan, kekal, abadi, sejak dahulu ada; dan Dia tidak mati pada saat badan jasmani ini mati.

“nai nam chindanti sastrani, nai namdahati pawakah, na cai nam kledayanty apo, na sosayati marutah” (Bhagawad Gita II.23)
artinya :
Senjata tak dapat melukai-Nya, dan api tak dapat membakar-Nya, angin tak dapat mengeringkan-Nya dan air tak dapat membasahi-Nya.

“acchedyo yam adahyo yam, akledyo sasya eva ca, nittyah sarwagatah sthanur, acalo yam sanatanah” (Bhagawad Gita II.24)
artinya :
Sesungguhnya dia tidak dapat dilukai, dibakar dan juga tak dapat dikeringkan dan dibasahi; Dia kekal, meliputi segalanya, tak berubah, tak bergerak, dan abadi selamanya.

“Avyakto yam acityo yam, avikaryo yam ucyate, tasmad evam viditvainam, nanusocitum arhasi” (Bhagawad Gita II.25)
artinya :
Dia tidak dapat diwujudkan dengan kata – kata, tak dapat dipikirkan dan dinyatakan, tak berubah – ubah; karena itu dengan mengetahui sebagaimana halnya, engkau tak perlu berduka.

Berdasarkan uraian sloka – sloka Bhagawad Gita diatas dapat kita simpulkan sifat – sifat atman sebagai berikut :
  1. acchedya berarti tak terlukai senjata,
  2. adahya berarti tak terbakar oleh api,
  3. akledya berarti tak terkeringkan oleh angin,
  4. acesya berarti tak terbasahkan oleh air,
  5. nitya berarti abadi,
  6. sarwagatah berarti ada di mana-mana,
  7. sathanu berarti tidak berpindah – pindah,
  8. acala berarti tidak bergerak, sanatana berarti selalu sama dan kekal,
  9. awyakta berarti tidak dilahirkan,
  10. achintya berarti tak terpikirkan,
  11. awikara berarti tidak berubah,
  12. sanatana berarti selalu sama.

Atman menurut Advaita Vedanta

Jiwa perorangan tidak bisa dipandang sebagai khayalan belaka dari Brahman, karena jiwa adalah Brahman. Hanya saja Brahman disini menampakan dirinya dengan sarana tambahan ( upadhi ), yang konsekuensinya Brahman dibatasi oleh sarana itu sendiri. Atman adalah Brahman seutuhnya sehingga atman mempunyai sifat yang sama dengan Brahman, yaitu berada dimana – mana, tanpa terikat ruang dan waktu, maha tahu, tidak berbuat dan tidak menikmati. Dalam kehidupan sehari – hari ada keanekaragaman perorangan yang disebabkan oleh Avidya. Dalam keadaan avidya manusia tidak dapat membedakan dirinya yang sebenarnya dengan sarana – sarana tambahan ( upadhi ). Avidya atau ketidaktahuan mengakibatkan manusia mengalami segala macam penderitaan. Karma wasana juga termasuk dalam upadhi, sehingga karma wasana juga menyebabkan manusia menjadi avidya. (Sudiani, Ni Nyoman:2012.82)

Atman menurut Visistadvaita Vedanta

Visistadvaita Vedanta menyatakan bahwa atman adalah bagian dari Brahman. Ibarat sebiji buah delima, buah delima merupakan Brahman, sedangkan biji-bijinya merupakan atman. Jivatman benar – benar bersifat pribadi dan secara mutlak nyata dan berbeda dengan Brahman. Sesungguhnya ia muncul dari Brahman dan tidak pernah diluar Brahman, tetapi sekalipun demikian ia menikmati keberadaan pribadi dan akan tetap merupakan sesuatu kepribadian selamanya. Setiap jiwa memperoleh badan ( tubuh ) sesuai dengan karmawasananya. Saat moksa jiwa tidak murni bersatu dengan Brahman, karena masih ada identitas sehingga jiwa hanya tinggal di Vaikuntha sebagai pelayan Brahman.(Sudiani, Ni Nyoman:2012.94)

Atman menurut Dvaita Vedanta

Dalam sistem Dvaita Vedanta dikemukakan bahwa jiwa jumlahnya tidak terhitung. Tiap jiwa berbeda dengan jiwa yang lainnya. Setiap jiwa memiliki pengalaman, cacad dan sengsaranya sendiri. Jiwa – jiwa itu adalah kekal dan penuh kebahagiaan, karena adanya hubungan dengan benda maka jiwa itu mengalami penderitaan dan kelahiran yang berulang – ulang. Selama jiwa/atman tidak bebas dari ketidak murnian, mereka masih tersesat dalam Samsara, mengembara dari satu kelahiran ke kelahiran yang lainnya. Bila ketidak murnianya lepas mereka mencapai moksa atau pembebasan, tetapi roh tidak mencapai kesamaan dengan Brahman, namun hanya berhak melayani-Nya. (Sudiani, Ni Nyoman:2012.100-101)

Hubungan Atma dengan Maya – Tattwa (Acetana)

Setelah atma bersenyawa dengan maya-tattwa atau acetana –tattwa, maka ia menjadi linglung karena terpengaruh oleh sifat-sifat kemayaan itu, sehingga atma menjadi awidya yaitu tidak menyadari sifat-sifat aslinya. Karena adanya pengaruh maya menyebabkan atma itu menjadi semakin jauh dari sumbernya yaitu Tuhan, sehingga akhirnya atma mengalami suka dan duka dalam hidupnya di bumi dan juga akhirat. Karena adanya pengaruh maya menyebabkan atma itu menjadi semakin jauh dari sumbernya yaitu Tuhan, sehingga akhirnya atma mengalami suka dan duka dalam hidupnya di bumi dan juga akhirat.

Dalam hubungannya dengan maya maka atman dapat dikatakan seolah-olah terhukum dan dalam menjalankan hukuman itu dia memiliki beberapa fungsi antara lain:
  1. Sebagai sumber hidup di alam pikiran (citta) dan badan jasmani semua mahluk
  2. Bertanggung jawab terhadap perbuatan semua mahluk
  3. Menjadi tenaga hidup dari badan halus dari semua mahluk
Kaitan fungsi diatas dengan lainnya sangat erat sekali sebab fungsi yang satu sering menjadi akibat dari fungsi yang lainnya atau sebaliknya. Oleh karena demikian halnya maka kedudukan atma dalam hubungannya dengan setiap mahluk adalah sangat penting karena tanpa atma mahluk itu tidak akan dapat hidup dan atma tetap bertanggung jawab terhadap perbuatan semua mahluk.

Dalam cerita-cerita agama hindu sering dinyatakan, bahwa atma yang telah mencapai sorga itu senantiasa dapat menikmati bermacam-macam kesenangan misalnya, mendapat tempat yang baik dan indah yang dihibur oleh para bidadari yang cantik-cantik dan sejenisnya. Sedangkan atma yang berada di alam neraka itu adalah selalu mengalami penderitaan dan bermacam-macam dan siksaan antara lain : dijemur dilapangan yang panas terik (tegal penangsaran), diikat dibawah kayu curiga yaitu pohon kayu yang berdaun keris, direbus dalam jambangan yang besar dan banyak lagi macam-macam siksaan yang dialami oleh atma di alam neraka itu.

Kendatipun demikian beratnya penderitaan yang dialami oleh atma yang berdosa itu tetapi tidak akan dapat mati karena bersifat kekal. Rasa sakit akibat penderitaan itu dirasakan oleh sukma sarira yang masih bersama dengan atma itu sendiri. Selama atma masih bersama dengan sukma sarira, selama itu pula ia dapat merasakan adanya kebahagiaan dan penderitaan.

Yang menentukan pahala terhadap amal dosa perbuatan adalah subha-asubha karma yang dibawa oleh atma diakhir itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab tuhanlah sebagai saksi agung yang maha tahu terhadap segala sesuatu baik yang pernah ada dan yang sedang ada maupun yang akan ada. Oleh karena itu maka manusia dan semua mahluk lainnya tidak akan dapat berbohong terhadapnya dalam pengadilan akhirat.

Pada waktu beliau mengadili amal dosa dari pada karma yang dibawa oleh atma itu beliau digelari Sang Hyang Yamadipati yang diiringi oleh para cikrawala dengan tugas untuk menyiksa atma yang berdosa. Dan pada saat Tuhan memberkati kebahagiaan terhadap karma yang beramal jasa beliau digelari Sang Hyang Dharma.

Demikian tentang keadaan atma dengan sukma sarira dsalam hubungannya dengan sorga dan neraka.
Setelah atma selesai mengalami pahala karmanya dialam sorga dan neraka iapun akan berjelma kembali. Dalam penjelmaan di dunia ini pahala dari karma itu selalu menyertainya maka itu adanya perbedaan tempat kehidupan di dunia.

Sloka – Sloka Yang Berhubungan Dengan Atman

“dehino ‘smin yatha dehe, kaumaram yauvanam jara, tatha dehantara-praptir, dhiras tatra na muhyati”. ( Bhagawadgita II.13 )
artinya :
Sebagaimana halnya sang roh itu ada pada masa kecil, masa muda dan masa tua demikian juga dengan diperolehnya badan baru, orang bijaksana tak akan tergoyahkan.

“matra-sparas tu kaunteya, sitosna-sukha-dukha-dah, agamapayino nityas, tams titiksasva bharata”. ( Bhagawadgita II.14 )
artinya :
Sesungguhnya, hubungan dengan benda- benda jasmaniah, wahai Arjuna, menimbulkan panas dan dingin, senang dan duka, yang datang dan yang pergi, tidak kekal, terimalah hal itu dengan sabar, wahai arjuna.

“sarva-bhuta-sthitam yo mam, bhajaty ekatvam asthitah, sarvatha vartamano ‘pi, sa yogi mayi vartate” ( Bhagawadgita II.31 )
artinya :
Dia yang memuja Aku yang bersemayam pada semua insane, dengan tujuan manunggal, yogi yang demikian itu dapat tinggal dalam diri-Ku, walau bagaimanapun cara hidupnya.

“atmaupamyena sarvatra, samam pasyati yo ‘rjuna, sukham va yadi va duhkham, sa yogi paramo matah” ( Bhagawadgita VI.32 )
artinya :
Yogi yang dianggap tertinggi adalah yang melihat dimana – mana sama atman itu sebagai atman-nya sendiri, wahai Arjuna, baik dalam suka maupun duka.

“ekorasasamutpanna ekanaksatrakanwittah, na bhawanti samacara yatha badarakantakah" ( Slokantara 27-53 )
artinya :
Lahir dari perut ibu yang sama dan diwaktu yang sama, tetapi kelakuannya tidak akan sama. Manusia yang satu berlainan dengan manusia yang lainnya, sebagai berbedanya duri belatung yang satu dengan yang lainnya.

“kadi rupa Sang Hyang Aditya an prakasakan iking sarwa loka mangkana ta sang Hyang atma an prakasakan iking sira marganyam wenang maprawartti" ( Bhisma Parwa )
artinya :
Sebagai rupanya Sang Hyang Aditya menerangi dunia, demikianlah atma menerangi badan. Dialah yang menyebabkan kita dapat berbuat.

Ya atma apahata patma vijara vimrtyur visoko vijighatso, Pipasah satya kamah, satya samkalpah, so’nvesta vyah so, Viji nasitavyah sa sarvams ca lokan apnoti sarirams ca kaman, Yas tam atmanam anu vidya vijanati, iti ha prajapatir uvaca (Chandogya Upanisad VIII.7.1)
Artinya :
Atma bebas dari kejahatan, bebas dari tua, bebas dai kematian, bebas kesedihan, bebas dari lapar dan haus yang keinginannya adalah kebenaran yang dipikirkannya adalah kebenaran. Ia dapat dicari, padanya seseorang dapat berkeinginan untuk memahaminya. Seseorang yang telah menemukannya dan memahaminya. Ia dapat mendapatkan dunia seluruhnya, keinginan seluruhnya. Demikian prajapati berkata.
Naiva setri na puman esa na caivayam napumsakah Yad yac chariram adatte tena sa rakyate
Artinya :
Ia tidak perempuan pun pula tidak laki ini juga tidak banci. Apapun badan yang dia ambil, dengan itulah ia didukung Demikianlah keterangan Upanisad tentang sifat-sifat atman yang murni.
Sariram brahma pravis at sarire adhi prajapatih (atharwa weda XI.8.30)
artinya:
Tuhan (brahman) memasuki tubuh manusia dan dia menjadi raja tubuh itu

vidyas ca va avidyas ca, yac ca anyad upadesyam, sariram brahma pravisad, rcah sama atho yajuh (Atharwa weda XI.8.23)
artinya:
segala zat memasuki tubuh manusia, seperti kebijaksanaan, pengetahuan praktis, setiap pengetahuan yang diajarkan, Tuhan yang maha esa, rg weda, sama weda dan yajur weda.

Iyam kalyani ajara martyasya amrta grhe (Atharwa weda X.8.26)
artinya:
Dia yang kekal dan bertuah ini, bertempat tingal di dalam tubuh manusia yang fana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar