Google+

Makna Banyu Pinaruh

Makna Banyu Pinaruh


”Banyu Pinaruh” Sucikan Pikiran dengan Air Ilmu Pengetahuan Wuku Watugunung adalah wuku terakhir pada penanggalan Bali. Satu tahun kalender Bali terdiri dari 210 hari. Minggu terakhir dari setahun penanggalan Bali adalah Watugunung, yang ditutup pada hari Sabtu – Umanis – Watugung, dimana umat Hindu Dharma merayakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Saraswati. Nah keesokan harinya pada hari Minggu - Pahing adalah hari pertama pada tahun baru kalender Bali, yang dimulai dengan wuku Sinta, umat Hindu Dharma melaksanakan ritual Banyu Pinaruh.

Apa artinya Banyu Pinaruh?

Banyu Pinaruh adalah air ilmu pengetahuan. Pada hari ini umat Hindu Dharma melaksanakan asuci laksana dengan jalan membersihkkan diri di laut atau di sungai di pagi hari, tepatnya lagi disaat matahari terbit. Setelah mandi di laut atau di sungai, umat berkeramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga-bunga segar dan harum. Setelah itu umat mempersembahkan sesajen berupa labaan nasi kuning serta loloh di merajan, setelah menghaturkannya, kemudian diakhiri dengan nunas lungsuran.


Apa makna filosofinya dari ritual ini?
Banyu Pinaruh adalah hari dimana umat Hindu Dharma melaksanakan penyucian lahir dan batin. Mereka membawa sarana upakara berupa canang dan dupa untuk memohon punyucian lahir batin kepada Hyang Widhi agar segala kekotoran dilebur dan olehNya diberikan kesucian pikiran, jiwa dan raga. Selain itu Banyu Pinaruh merupakan hari pertama di tahun baru Pawukon. Tahun yang perputarannya terdiri dari 210 hari yang diawali dengan wuku Sinta ini, ditandai dengan hari suci Banyu Pinaruh. Di hari ini, di saat matahari terbit, umat Hindu Dharma memuja kebesaranNya, memohon perlindungan dan kesucian jiwa raganya. Mereka melebur keletahan selama setahun kalender Bali di laut, di sungai, atau di danau, agar mereka memperoleh kekuatan untuk melangkah menyongsong hari-hari berikutnya dengan bijak.
bila di tempat kita tinggal ngga deket laut, sungai atau danau, atau cuaca/iklim ngga mengizinkan, maka Banyu Pinaruh bisa dilakukan di rumah saja, dengan mandi yang bersih. Sebelum mandi kita nunas kehadapan Hyang Widhi untuk diberikan kesucian lahir dan batin. Setelah ritual di laut, sungai, danau dan sejenisnya selesai, kita keramas dengan memakai air kum-kuman, yakni air yang berisi berbagai bunga-bunga harum. Ritual ini menyimbulkan kesucian jiwa dan raga, agar harum laksana harum wewangin bunga, dan adem menyejukkan seperti air. Mandi di laut adalah untuk melebur kekotoran, yang kemudian dilanjutkan dengan keramas dan mesiram dengan air kumkuman adalah untuk menyucikan lahir dan batin. Setelah kita selesai, kita ngga boleh mandi atau membilas badan kita. Cukup berganti pakaian bersih, dan melaksanakan persembahyangan di Padmasana dan Merajan. Di Merajan kita menghaturkan labaan kuning dan loloh, untuk kemudian disurud bersama ketika kita sudah selesai menghaturkannya. Titik-titik bara api terlihat jelas di tengah kegelapan. Sinarnya memantul di permukaan air. Sementara desiran angin laut yang dingin mampu menebar bau harum dupa. Samar-samar terlihat bayangan orang duduk bersila dan bersimpuh. Dengan khidmat kedua tangan dicakupkan di atas ubun-ubun, doa-doa pun dipanjatkan. Kemudian, mereka menghempaskan tubuhnya ke dalam air, mandi dan keramas. Ketika sinar merah tebersit di ufuk timur pakaian mereka yang basah tampak jelas dan orang-orang pun makin banyak yang datang lengkap dengan sesajen.


Hakikat Banyu Pinaruh?
Banyu Pinaruh, berasal dari kata banyu (air) dan pinaruh atau pangewuruh (pengetahuan). Secara real, umat memang membersihkan badan–mandi keramas– menggunakan kembang di laut atau sumber-sumber air. Tetapi secara filosofis Banyu Pinaruh bermakna menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu pengetahuan, sebagaimana diuraikan dalam pustaka Bagavadgita sebagai berikut: ”Abhir gatrani sudyanti manah satyena sudayanti.” Artinya, badan dibersihkan dengan air sedangkan pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan. Itu berarti, Banyu Pinaruh bukanlah hanya datang berkeramas atau mandi ke pantai atau sumber air. Tetapi, prosesi itu bermaksud membersihkan kekotoran atau kegelapan pikiran (awidya) yang melekat dalam tubuh umat dengan ilmu pengetahuan, atau mandi dengan air ilmu pengetahuan.
Hal itu sesuai dengan Bagavadgita IV.36 yang berbunyi: ”Api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi.” Artinya, walau engkau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi.” Itu artinya Banyu Pinaruh bukan hanya bermakna simbolis belaka, tetapi sesuai dengan ajaran Hindu. ”Kita dijamin oleh kitab suci bahwa melalui mandi dan keramas menggunakan air ilmu pengetahuan, akan terbebas dari lautan kebodohan dan dosa,” .
Berangkat dari makna itulah, umat terutama generasi muda harus memaknai Saraswati dan Banyu Pinaruh sesuai dengan hakikatnya. Malam Saraswati mesti dimaknai dengan baik, melalui pembacaan sastra dan diskusi (dharmatula) tentang ajaran agama, baik di banjar-banjar, pura, sekolah, kampus dan tempat yang memungkinkan untuk itu. Keesokan paginya dilanjutkan dengan pelaksanaan Banyu Pinaruh. ”Jadi kita jangan hanya melaksanakan Saraswati atau Banyu Pinaruh karena briuk siu atau ikut-ikutan tanpa memperhatikan makna yang dikandung di dalamnya. Umat Hindu terutama anak-anak muda datang ke segara agar betul-betul melakukan Banyu Pinaruh, bukan sekadar mejeng atau tujuan lain. Pada saat Banyu Pinaruh umat melaksanakan suci laksana, mandi dan keramas menggunakan air kumkuman di segara. Kegiatan itu bertujuan untuk ngelebur mala. ”Segara itu kan tempat peleburan dasa mala. Dengan melakukan prosesi itu diharapkan terjadi keseimbangan lahir dan batin,". Redite Pahing Sinta adalah hari Banyu pinaruh. Yaitu bagaimana setelah ilmu pengetahuan itu turun saatnyalah menerima dengan rasa bangga pada diri bahwa kita telah memiliki pengetahuan tentang kesejatian hidup itu. Banyu pinaruh yang berarti air “kaweruh” atau air pengetahuan yang mengalir. Kenapa air? Dalam hal ini diharapkan manusia berperan sebagai air yang mengalir dalam menjalani kehidupan. Banyu pinaruh adalah sebagai pensucian diri telah didapatkan atau teraliri pengetahuan yang ada untuk dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran khalayak.
Dan awal diterimanya pengetahuan itu berbarengan dengan awal bergantinya wuku menjadi awal kembali. Jadi pengetahuan itu digunakan untuk sewaktu wuku itu kembali menemukan awalnya kembali di masa yang akan ada nanti. ‘Sad Rasa‘ dan Nasi Yasa. Sad Rasa ini merupakan 6 rasa yang yang dibuat dari bubur sum-sum (bukan sum-sum dari tulang. lho..). Yang saya rasakan adalah manis, asin, hambar, asam, ada yg seperti pedas2 Nasi Yasa adalah makanan (nasi kuning) yang dicampur dengan daging ayam, lalapan, telur dan saur. Banyu, air, toya, tirta merupakan air suci yang merupakan intisari 'pinaruh', 'pinaweruh' atau pengetahuan batiniah. Dengan melaksanakan pensucian batin semalam suntuk melalu Samya Samadhi, serta disucikan dengan intisari pengetahuan suci (banyu pinaweruh), diharapkan tumbuh dan berkembangnya kebijaksanaan kita. Akan tetapi prosesi bermakna untuk membersihkan kegelapan pikiran yang melekat pada tubuh manusia, dengan ilmu pengetahuan atau mandi dengan ilmu pengetahuan. Pelaksanaan dan tetandingan banten disebutkan dalam babad bali, banyu pinaruh (pinaweruh) pada hari Redite/Minggu Paing wuku Sinta. Asucilaksana, pelaksanaannya di pagi hari (mandi, keramas dan berair kumkuman). Upakara (tetandingan banten), diaturkan antara lain labaan nasi pradnyan, jamu sad rasa dan air kumkuman. Setelah diaturkan pasucian/kumkuman labaan dan jamu, dilanjutkan dengan nunas kumkuman, muspa atau sembahyang, matirta,nunas jamu dan labaan Saraswati/nasi pradnyan barulah upacara diakhiri/lebar. Sumber-sumber sastra yang menguraikan tentang pentingnya penyucian diri dengan melakukan mandi suci banyak sekali jumlahnya.

Dalam Manawa Dharma Sastra V.109 dinyatakan bahwa: adbhir gatrani suddyanti, manah satyena suddhyati, vidyatapobhyam bhutatma, buddhir jnanena suddhyati. Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar (2002:222)

Dalam lontar Wratisasana juga dijelaskan mengenai bermacam-macam sarana penyucian diri. Dijelaskan bahwa ada enam sarana penyucian diri yang disebut dengan Sat Snana. Keenam sarana penyucian diri tersebut yaitu: Agneya, Warun, Brahmya, Wayawya, Manasa, Prtiwi, dan Widya.

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai Sat Snana dalam lontar Wratisasana. Agneya nga , stana makalaksanam bhasma, kunang ikang waruna, masilem ing wai laksananya. Brahmya nga, snana malaksanam mantra. Kunang ikang wayawya nga. Snana makalaksanam sumilemaken sarira tekeng uttamangga, makanimitta welekning lembu, saking suku ning lembu, anginerek ing lemah pawitra. (Wratisasana 17) Agneya ialah penyucian dengan sarana abu suci, adapun waruna adalah (penyucian) dengan cara menyelam ke dalam air. Brahmya adalah penyucian dengan sarana mantra. Adapun wayawya adalah penyucian dengan sarana dengan membenamkan diri dalam air sampai kepala, karena kena pusaran debu, dari kaki sapi, yang dihalau di tanah yang suci. – Kunang ikang manasa snana, makalaksnam japa mantra, ri sedeng ing masa trisandhyopasana, kunang ikang prtivi snana, makanimitta kaharasan ing lemah ning punya tirtha. Nahan ta lwir sat snana, upalaksanakna de sang wiku. (Wratisasana 18) Adapun manasa adalah penyucian dengan sarana japa mantra, pada waktu melaksanakan puja trisandhya, adapun penyucian tanah ialah berdasarkan atas mencium tanah di tempat permandian yang suci. Demikianlah sat snana, enam penyucian, dicontohkan oleh sang wiku. – Hana ta sira waneh tan pasnana, ndan sang hyang widya juga pinaka snananira, makanimitta kapawitra ning haji katama de nira, telas pratistheng hredayakamala. Muwah sawaneh, hana sira makasnana niyama brata, ika ta sang wiku tan pasnana. Ndan ikang bhasma juga wisesa ning snana kabeh. (Wratisasana 19) Ada lagi tanpa penyucian, hanya ilmu pengetahuan saja, yang dijadikan penyucian, berdasarkan atas kesucian pengetahuan yang dikuasainya, yang telah mantap berada dalam hatinya. Dan yang lain, ada yang menjadikan niyama brata sebagai penyucian. Dan bhasma saja yang utama dari segala penyucian. Kitab Wratisasana juga banyak menguraikan mengenai pentingnya melalukan penyucian diri, terutama bagi mereka yang menjadi seorang wiku. Dalam lontar tersebut banyak diuraikan mengenai ajaran-ajaran penyucian diri. Berikut kutipan ajaran penyucian diri dalam lontar Wratisasana. Sauca nga. Nitya masuci laksana, agelem adyus, nitya mahyas, agelem asurayya sewana, m abhasma, macandana, saha we waseh siwambha, mantra sauca Om SA BA TA A I. (Wratisasana 31) Sauca artinya selalu menyucikan diri, senang mandi selalu berhias, tidak jemu-jemunya memuja Bhatara Surya, memakai bhasma candana, dan air pembasuh yaitu air suci Siwa. Mantra penyucian OM SA BA TA A I – Sauca nga acamana bhasma snanadi. (Wratisasana 22) Sauca artinya membersihkan diri dengan bhasma, mandi dan sebagainya. – Sauca nga. Nityasuci acamana. (Wratisasana 23) Sauca artinya selalu bersuci membersihkan diri Pentingnya melakukan mandi suci juga dijelaskan dalam Geguritan Japatuan. Geguritan Japatuan melukiskan perjalanan I Japatuan menuju Indra loka, menyusul kepergian istrinya yang bernama Ratnaningrat. Sepanjang perjalanannya berbagai rintangan yang dialaminya seperti berjumpa dengan buaya, harimau dan raksasa yang menghalangi dirinya untuk mencari istrinya yang ia sayangi di sorga. Dengan bekal ilmu kediatmikan (pendalaman ajaran agama) I Japatuan dapat mengatasi semua rintangan itu. Pada kutipan lain yang bersifat religius ada disebutkan : “Cai enu mawak dunia, muwah cuta keto cai, jalan menuju ke pancakatirta kelesang, letehe jani, pangde cai enu daki, beli ngateh cai mamanjus, I Japatuan angucap inggih titiyang, Ngiring beli, tur memarga, ndatan edoh I Gagakturas, Kamu masih kotor, badanmu cuntaka, agar mandi lebih dahulu di pancakatirta, tinggalkan kotoran itu sekarang, supaya jangan kamu masih kotor, aku menghantarkan kau mandi, Ki Japatuan menjawab, ya aku menuruti kau mandi, lalu berjalan, Ki Gagakturas ikut bersama (Mupu, 1987 : 138).

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa Pancakatirta adalah suatu permandian suci, milik dewata yang artinya lima (5) macam warna, sesuai dengan dewa yang memiliki. Dari kutipan cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan kegiatan-kegiatan suci hendaknya membersihkan diri terlebih dahulu. Ketika badan kita masih kotor maka sesungguhnya tidak pantas untuk melakukan kegiatan-kegiatan suci. Nilai-nilai kesucian akan sulit masuk ke dalam diri kita karena badan fisik kita belum siap menerimanya. Adalah menarik membahas mengenai ditetapkannya hari Banyu Pinaruh pada Redite Paing Sinta.

Berikut penjelasan lontar Wariga Krimping yang banyak menguraikan tentang baik tidaknya suatu hari untuk suatu aktivitas. Ra.BU. Dora, Tungleh, Dangu, Menga, Basah–gede, Sri Tumpuk; Mreta Punja, nga. Turun Hyang Brahma, ngawe pawon ayu, ai, sukasada, tan pahuma, katiban carik, ngawe pedang ayu; Sri Tumpuk, mapikat paksi sami ayu, mwah mangalahang sarwa mandi mwah sarwa memanes, sami ayu, Kala Gotongan nga. Aja angulang wangke, doyan enggal ada nutug mati miwah kataton alanya; Ingkel Mina Sadina, ngawe sawu, anco, bubu, pencar, sami ayu, muani I, bancih 2, Ratu mendem Rare nga. Nandur sarwa buku, sarwa bungkahm kasela, ubi, sami ayu, watek sri, kumba rasinya Redite, Buda, Dora, Tungleh, Dangu, Menga, Basah Gede, Sri Tumpuk, Mreta Punja namanya, turun Hyang Brahma, baik untuk membuat dapur, timur laut, senang selalu, tan pahuma, katibanan carik, baik untuk membuat pedang.
Sri Tumpuk baik untuk berpikat burung dan mengalahkan segala yang manjur serta segala yang menyebabkan sakit, semuanya baik, Kala Gotongan, jangan membakar jenasah, mengubur jenasah, karena doyan akan segera ada yang mengikuti mati serta terluka, itu ketidakbaikannya. Ingkel Mina Sadina, membuat sawu, anco, lukah, jala, semuanya baik. Laki-laki 1, banci 2, Ratu mendem rare namanya, baik untuk menanam yang berbuku, segala yang berumbi, ketela ubi, Watek Sri, rasinya Kumba Dari kutipan lontar tersebut dapat diketahui bahwa Dewa Brahma menjadi dewa utama pada hari tersebut. Dalam tradisi umat Hindu di Bali, Dewa Brahma adalah dewa yang memberikan penyucian diri. Hal yang sama juga dilakukan ketika seseorang baru datang dari kuburan setelah melakukan upacara Pitra Yajna. Ketika seseorang tidak mendapat tirta untuk penyucian diri, maka orang akan menyucikan diri di dapur, memohon panglukatan kepada Dewa Brahma.
Selain itu, filosofi peringatan Banyu Pinaruh juga sangat menarik untuk dicermati. Banyu Pinaruh merupakan hari pertama dalam sistem hari kalender umat Hindu di Bali. Tetua kita ingin sesungguhnya ingin berpesan bahwa segala kegiatan dan hari-hari hendaknya diawali dengan melakukan penyucian diri.

Demikian sekilas prosesi Banyu Pinaruh di salah satu Pantai di bali, sehari setelah perayaan Hari Saraswati. Setelah merayakan piodalan Saraswati, pada Minggu Paing Sinta umat Hindu melanjutkannya dengan malaksanakan prosesi Banyu Pinaruh. Sarana pelaksanaan Banyu Pinaruh menggunakan air kembang (kumkuman). Kumkuman itu dibawa ke tempat-tempat sumber air seperti pancuran, segara, sungai, beji– yang diyakini sebagai tempat penyucian atau peleburan mala atau kotoran batin. Di situ umat membersihkan diri, keramas dan mandi. Tetapi jika tak sempat ke tempat-tempat seperti itu, umat bisa melakukannya di rumah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar