Google+

Kedudukan Wayang Sapuleger dalam Seni Pertunjukan Upacara di Bali

Kedudukan Wayang Sapuleger dalam Seni Pertunjukan Upacara di Bali

Fungsi Pertunjukan Wayang Sapuleger Dalam Ruwatan yang dalam Masyarakat Bali disebut Nyapuleger.


Mpu Dalang (puppeteer) sebagai Perantara dalam Upacara Ruwatan Dalang (puppeleer) menurut Hinzler ada tiga macam yaitu ;
  1. Dalang karena keturunan,
  2. Dalang karena permohonan desa atau lewat perantara dan
  3. Dalang karena kemauan sendiri. 
Pada umumnya jenis Dalang yang pertama dan ketiga lebih dominan dalam tradisi pedalangan di Bali. seorang Dalang adalan orang yang telah ditasbih (didiksa), sehingga berhak menyelesaikan suatu rangkaian upacara keagamaan di Bali seperti nglukat dan sebagainya oleh karena itu beliau bergelar Mpu dalang atau mangku dalang. I Made Bandem mengatakan seorang dalang sebelum boleh melaksanakan pementasan, ia diwajibkan untuk menyucikan diri baik secara lahir maupun bathin dengan cara yang disebut “mawinten”. Upacara ini dilakukan dihadapan masyarakat dan biasanya dilaksanakan di sebuah pura kahyangan tiga yang berada di desa dimana dalang itu dilahirkan (1993:172). Dalang  juga melakukan upacara “masakapan” (pernikahan) dengan wayang dan semua perlengkapannya yang dapat menumbuhkan jiwa kesatuan antara dalang dengan wayangnya ltulah sebabnya pertunjukan wayang dianggap pertunjukan “Utameng Lungguh” atau mempunyai kedudukan tertinggi/terhormat (dalam Rota,I996:57).


Menurut Lontar Dharma Pawayangan yaitu sebuah lontar yang berisi tentang aturan-aturan bagi seorang dalang khususnya di Bali, menyebutkan syarat-syarat menjadi seorang dalang yaitu :
  1. Menguasai “Dharma pawayangan” secara benar dan mantap
  2. Menguasai cerita dan lakon untuk menyusun plot atau alur
  3. Pandai bercerita; menguasai bahasa Kawi dan bahasa Bali untuk menyusun dialog dan menolog
  4. Mampu memberikan perwatakan wayang melalui dialog, menyuslun suara yang tepat pada masing-masing tokoh
  5. Pandai membuat “tetikesan” atau sikap wayang (gerak tarian)
  6. Menguasai musik iringan dan lagu-lagu penwayangan
  7. Seorang dalang juga harus mampu memainkan tabuh gamelan
  8. Mampu “mekakawin”/melapalkan bait-bait tertentu
  9. Mampu memainkan “capala" yang baik sebagai ritme
  10. Menguasai ilmu kebathinan untuk menangkal kekuatan magis
  11. Mampu membuat dinamika dalam pertunjukan wayang, seperti sedih, gembira, lucu, horor dan sebagainya. Dengan demikian seorang dalang akan mampu menghidupkan peran-peran yang terdapat dalam pertunjukan (Sugriwa, 1976:39; Bandem, 1993:172).
Seorang dalang tidak hanya cukup dalam pengusaan teknis, tetapi yang paling penting adalah telah menguasai secara lahir-bathin dharma pewayangan itu sendiri. Untuk memperjelas uraian ini kita lihat kutipan berikut :
"Ah ah Amangku dalang, dadi kita angringgit, siapa kita nugraha ?, weruh kita ring Dharma pewayangan? Yan tan kita weruh, ku tadah kita mangke!
“Singgih Pauka Bhatara Kala, nimitani hulun wani angringgit, sakeng panugrahan I Sang Hyang lcwara. Weruh hulun ring Dharma pewayangan (I Gde Soerya, 1941 ;7).
Artinya:
“Hai .. Mangku Dalang, jadi kamu berani mempertunjukan wayang, siapa yang memberi restu (nugraha), apakah kamu tahu tentang Dharma-pewayangan ? jika kamu tidak tahu sekarang kamu akan saya makan.
“Ampun Paduka Bhatara Kala, yang menyebabkan hamba berani mempertunjukan wayang, oleh karena restu (nugraha), Sang Hyang Icwara dan hamba paham yang namanya Dharma-pawayangan.
Jika kita simak percakapan di atas, maka seorang Dalang tidak hanya dituntut berhasil memuaskan selera penonton, tetapi yang lebih penting adalah hubungan bathin kepada Tuhan, agar apa yang dilakukan mangku Dalang memiliki “Taksu” (inner power). “Taksu” itu sendiri dijelaskan sebagai sesuatu daya yang merupakan anugrah dari alam adikodrati (Sedyawati, 1994;11). Dharma-pawayanagan itu sendiri lebih cenderung dikatakan sebagai pengetahuan yang bersifat spiritual (niskala), dibandingkan pengetahuan material (skala).

Makna Wayang Sapuleger Berkaitan dengan Ajaran Agama Hindu

Lakon Dalam Pementasan Wayang Lemah/Sapuleger

Lakon yang digunakan sesuai dengan upacara yang dilaksanakan misalnya upacara Dewa Yadnya mengambil lakon Mandara Giri atau Samudra Mantra dan Semara Dhana, upacara Pitra Yadnya-mengambil lakon Bima Swarga dan Sudamala, upacara Rsi Yadnya mengambil lakon Sapta Rsi, sedangkan upacara Bhuta Yadnya menggunakan lakon Bima Dadi Caru (wawancara tanggal 11 Mei 2001).

Lakon yang akan dibahas adalah lakoni Sapuleger karena berkaitan dengan penelitian ini. 
"Dikisahkan setelah Batara Ciwa mempunyai dua orang anak yakni Batara Kala dan Betara Kumara, keduanya lahir dalam wuku wayang. Batara Kala telah mendapat perintah dari Dewa Siwa untuk melahap setiap orang yang lahir pada wuku Wayang (tumpek wayang). Akhimya adiknya yang bernama Kumara lahir pada wuku wayang, sehingga serta merta Betara Kala ingin memangsanya, tetapi Siwa selalu punya akal, sampai akhimya karena merasa jengkel dengan Dewa Siwa, Betara Kala mengejar adiknya sampai kemana pun Kumara lari. Sampailah pada sebuah pementasan Wayang, dimana si dalang sedang memainkan wayang ketika Kumara bersembunyi di dalam pelawah gender wayang, sambil menunggu adiknya muncul Betara Kala secara tidak sengaja menyantap sesajen si Dalang. Berdasarkan hal tersebut, si dalang bertanya kepada betara Kala seraya mohon sesajen yang dimakan oleh Betara kala di ganti, saat itulah Betara Kala memberi panugrahan kepada si dalang kelak kalau ada yang lahir pada  wuku Wayang, si dalang berhak meruwat si bayi dan sebagai gantinya Batara kala tidak akan memangsa si bayi asalkan disajikan sesajen seperti yang dialkukan oleh si dalang saat itu. Sejak inilah selalu dilakukan upacara ngwatekin bagi bayi yang lahir pada wuku wayang atau tumpek wayang (wawancara dengan dalang). Di samping itu mitosnya menurut versi dalang Ida Made Rai Sogata, adalah demikian: “Sanghyang Kumar Yang lahir dalam minggu Wayang, dianggap pantas oleh Betara Kala untuk dimangsa sesuai dengan ijin yang diberikan oleh Siwa. Padahal Kumara dan Kala sebenamya bersaudara, karena keduanya adalah putra Siwa. Pada suatu siang. Kala sudah hampir berhasil menangkap Kumara ketika tiba-tiba Siwa dan Dewi Uma muncul berwujud sepasang petani yang sedang menunggangi lembu. Mengetahui apa yang sedang diperbuat oleh putranya, Kala, maka Siwa mencari akal dengan mengajaknya bemiain teka-teki.
Sementara itu Kumara berusaha menyelamatkan diri dengan berlari masuk ke sebuah pekarangan orang yang kebetulan sedang mengadakan pertunjukan wayang; kemudian ia bersembunyi dengan cara masuk ke dalam lubang resonator gamelan gender wayang itu. Setelah menyadari bahwa Kumara lenyap, Kala dengan penuh amarah pergi mencarinya kembali; walaupun berhasil ke pekarangan tempat diadakannya peltunjukan wayang itu, tetapi ia tidak berhasil menemukan yang dicarinya.
Akhimya, karena rasa marah dan lapar yang tak tertahankan maka disantaplah semua sesajen yang sedang digelar berkaitan dengan pertunjukan wayang itu. Lalu sebagai reaksi ki Dalang (sebenamya tidak lain dari Siwa sendiri) dia memberitahu Kala bahwa sesajen yang telah disantap itu adalan sama nilainya dengan daging Kumara yang dikejar-kejar itu, maka dari itu kala tidak berhak lagi utuuk memangsa Kumara, adiknya sendiri. Dengan demikian selamatlah Kumara dari Kala” (Ramseyer, 1977:209-214).

Nilai Ritual Pementasan Wayang Sapuleger

Kepercayaan masyarakat yang bersifat feticisme, animisme, dan dinamisme merupakan warisan budaya dari kepercayaan nenek moyang nusantara. Kepercayaan seperti ini masih dimiliki oleh masyarakat Bali yang diwujudkan dalam membuatkan upacara segala sesuatu sebagai pendukung hidup seperti upacara terhadap buku-buku, kendaraan, tumbu-tumbuhan, uang, dan berbagai macam alat yang mampu menunjang hidupnya.

Kebudayaan Bali telah tumbuh dan berkembang melalui suatu perjalanan sejarah yang cukup panjang, melewati beberapa zaman dari zaman prasejarah berlanjut sampai dengan tercapainya integrasi dalam kerangka sistem kebudayaan nasional dan zamanmodern. Secara khusus, fenomena yang mempunyai arti sangat mendalam bagi eksistensi dan perkembangan lanjut kebudayaan bali adalah terjalinnya kebudayaan Bali dengan agama Hindu sejak permulaan tarikh masehi yang kemudian menumbuhkan vitalitas dan kreativitas budaya di kalangan masyarakat Bali.

Struktur kebudayaan dari sudut pandang makro, kekudayaan Bali merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia. Secara mikro, kebudayaan Bali terdiri dari berbagai pariasi, namun ragam pariasi itu tetap merupakan satu kesatuan budaya yang dikokohkan oleh adanya kesatuan bahasa dan agama. Secara esensial struktur kebudayaan Bali dibangun oleh konfigurasi budaya ekspresif (dominannya nilai solidaritas, estetis dan religius). Kebudayaan Bali adalah suatu kebudayaan yang hidup, dihayati dan dikembangkm karena berfungsi sangat mendasar bagi pemenuhan kebutuhan orang Bali dalam mendukung eksistensinya sebagai manusia sosial, estetis, ekonomis, adatif, dan religius.
Nilai religius dalam kehidupan manusia dapat dilihat dari segi :
  1. Pemujaan yaitu suatu kegiatan kepercayaan menyembah Tuhan atau Dewa.
  2. Pengukuhan adalah disahkannya suatu aktivitas dalam suatu masyarakat religius.
  3. Persaudaraan yaitu adanya adanya hubungan rasa persaudaraan diantara sesama masyarakat religius.
  4. Kepastian adalah mempercayai bahwa segala yang ada di dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan.
  5. Harapan yaitu adanya suatu perasaan secara optimis bahwa dalam melakukan kegiatan keagamaan akan mendapat pahala dari yang di puja (Butler, 1951:33). 
Masyarakat Bali jika ditinjau dari pendapat di atas menampakan aktivitasnya di bidang religius seperti penyembahan terhadap Dewa merupakan perwujudan tindakan pemujaan, segala aktivitas masyarakat Bali dikukuhkan melalui upacara dalam komunitas masyarakat yang religius, dalam melaksanakan upacara Bhuta Yadnya tidak lepas dari ikatan persaudaraan, agar upacara dapat diselenggarakan dengan baik, pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya merupakan perwujudan rasa bakti yang mendalam terhadap Tuhannya, dan tujuan yang ingin dicapai oleh masyarakat bali dalam melaksanakan upcara Bhuta Yadnya adalah tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan hidupnya dan manusia dengan Tuhan.

Pentingnya relegi dalam suatu masyarakat sangat terkait dengan tingkah laku, moral dalam hubungan interaksi masyarakat itu sendiri. Kehadiran relegi dalam masyarakat Bali akibat ketaatan dan pengabdian yang besar terhadap ajaran agama yang dianutnya. Peter Salim dalam The Contemporary English Indonesian Dictionary mendefinisikan religius adalah kesalehan, ketaatan pada agama dan pengabdian yang besar terhadap agama (Sali Peter, 1991 :1620-1621). Religius timbul dari sifat-sifat alami manusia yang diekspresikan dalam wujud tingkah laku ritual dan disiplin moral yang berdampak terhadap pengendalian egoisme.

Masyarakat Bali melaksanakan upacara Manusai yadnya dalam hal ini melakukan ruwatan merupakan perwujudan rasa baktinya dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya menunjukan perilaku sifat religius. Hal ini tercermin dalam, upacara pemelaspasan terhadap segala sesuatu yang akan digunakan sebagai pemujaan sebelum dilangsungkan upacara persembahan. Upacara pemelaspasan bertujuan untuk melekatkan nilai religius magis pada perangkat sarana upacara sebelum dipersembahkan, Sarana dan prasarana upacara setelah dibuatkan upacara pemelaspas, bukan lagi dianggap sebagai benda biasa seperti benda-benda lainnya, melainkan sudah mengandung nilai religious magis yang dianggap sebagai benda suci untuk sarana memohon keselamatan dalam menjalankan keserasian hidup.

Manusia memiliki kemampuan untuk mencapai kebahagiaan atas dasar kekuatan manusiawinya sendiri secara terbatas. Menyadari keterbatasannya tersebut, maka manusia menjalankan usaha religius dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tampaklah disini bahwa akhirnya manusia menyerahkan dirinya pada sesuatu yang mutlak dan yang berkuasa atas dirinya. Hal ini menunjukan bahwa manusia adalah mahluk religius, mahluk yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam kitab Chandogia upanisad yang merupakan filsafat ketuhanan menjelaskan tentang hubungan Brahman (Tuhan) dengan Atman (jiwa manusia), menyebutkan dengan istilah Sarwa idam khalu Brahman yang artinya segala yang ada ini tidak lain adalah Brahman (Tuhan) (Sadia, 1982;14). Keyakinan terhadap adanya Tuhan inilah yang mendorong manusia untuk melaksanakan hal-hal yang religius dalam mencapai kestabilan jiwanya, yang dalam hal ini masyarakat Bali mulaksanakan Panca Yadnya sebagai wujud nyatanya. Tetapi dalam penelitian ini Lanya membahas Manusa Yadnya (upacara ngruwat atau nyapu leger).
Wayang jika ditelusuri dari sejarahnya yang sangat panjang itu terungkap pula bahwa kelahiran Wayang kulit bermula dari upacara pemujaan kepada leluhur. Menurut Sri Muljono dalam bukunya, Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, menyebutkan bahwa teater Wayang semula merupakan upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk memuja “Hyang”. Upacara ini dilaksanakan oleh seorang medium (yang kemudian disebut shaman) atau dilaksanakan sendiri oleh kepala keluarga. Dalam kurun waktu berikutnya pekerjaan ini dilaksanakan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus yang kini dikenal dengan sebutan “Dalang”. Upacara itu dimaksudkan untuk memanggil atau berhubungan dengan roh nenek moyang untuk diminta pertolongan dan restunya apabila dalam keluarga itu akan dimulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas (Rota, 1992:2).

Dalam perkembangannya yang terakhir, lahirlah berbagai jenis pertunjukanwayang kulit di Bali dari yang sakral sampai yang jenis sekuler. Menurut seorang pakar sastra daerah (Bali), yakni Wayan Simpen, AB., jenis pertunjukan wayang kulit Bali dapat dikelompokan berdasarkan fungsinya masing-masing sebagai berikut : (a) Wayang Sapuleger; (b) wayang Lemah; (c) wayang Sudamala; dan (d) wayang Biasa atau hiburan (Listibya Daerah Bali, 1974:4). Masing-masing dari keempat kelompok ini memiliki unsur ritus yang tidak persis satu sama lainnya. Hal ini berkaitan dengan fungsinya masing-masing.

Wayang Sapuleger (Samirana) seperti yang telah di singgung di atas adalah pertunjukan wayang kulit Parwa yang bersifat sakral untuk upacara manusa yadnya. Pertunjukan ini dipentaskan dalam upacara manusa yadnya. Pertunjukan ini diperuntukan bagi anak yang lahir dalam wuku (minggu) Wayang (yaitu minggu ke 27 menurut kalender Bali yang terdiri dari 210 hari) terutama sekali yang lahir persis pada hari Sabtu Kliwon Wuku Wayang (Tumpek Wayang). Tujuannya adalah untuk melenyapkan atau mencegah mala petaka yang mungkin akan menimpa anak bersangkutan dari pengaruh buruk (kecemaran) wuku wayang. Tradisi ini masih begitu kuat berlaku bagi keluarga- keluarga Hindu di Bali, karena mereka begitu percaya dengan apa yang termuat dalam lontar Sapu-Leger.

Menurut isi lontar Sapu-Leger, Dewa Siwa memberi ijin kepada Sang Betara Kala untuk memangsa anak-anak yang lahir dalam minggu (Wuku) Wayang (etah, 1974;7). Wayang Sapu Leger hanya boleh dipergelarkan oleh seorang dalang yang telah disucikan dan sudah memahami isi lontar Dharma Pewayangan di samping lontar Sapu-Leger maupun mantram sakralisasi diri dan sesajen-sesajen serta menguasai beberapa Dewastawa yang ada hubungannya pembuatan air-suci (pangruatan).

Dalam tugasnya ini dalang bersangkutan bergelar Ki Mangku Dalang atau Sang Empu Leger. Melalui pergelarannya Ki Mangku Dalang mengucapkan puja mantram sakralisasi diri, mempersembahkan sesajen dan memanjatkan Dewastawanya untuk mendapatkan restu Dewata, terutama dari Dewa Siwa dalam pembuatan air suci pangruatan bagi orang yang diupacarai karena lahir pada wuku wayang, agar ia terhindar dari gangguan (buruan) Betara Kala (Listibiya Daerah Bali, 1974:7).

Menurut dalang I Made Sija, dalam melaksanakan wayang Sapu-Leger, setelah selesai pementasan, diambillah tiga buah wayang (bonekanya) yaitu Sanghyang tunggal, Sanghyang Siwa dan Malen (twalen) lalu dihaturkan segala sesajen berkaitan dengan upacara Sapu-Leger itu dengan mantram-mantram tertentu. Setelah selesai segala upacaranya, ketiga tangkai wayang tadi dicelupkan ke dalam lampu (blencong) untuk memperoleh minyaknya yang kemudian dicampur dengan air suci (sukla) guna diberikan kepada orang yang sedang diupacarai itu (Sika, 1986:11).

Dari uraian masing-masing jenis wayang kulit yang telah dijelaskan di atas, nampak jelas bahwa setiap jenis pertunjukan wayang kulit tersebut selalu disertai dengan suatu situs keagamaan dalam bentuk sesajen dan matra-mantra pemujaan tertentu. Yang lebih istimewa lagi adalah bahwa ketiga jenis pertama, yaitu Wayang Sapu-Leger, Wayang Lemah, Wayang Sudhamala, bukan hanya disertai upacara ritus tetapi bahkan merupakan bagian penting dari upacara yang dilakukan.

Dengan demikian unsur ritus keagamaan dalam pertunjukan wayang kulit Bali adalah sangat dominan. Ditambah lagi dengan adanya bukti autentik tentang dipakainya kata wayang sebagai nama salah satu wuku Wayang yang merupakan Wuku ke-27 dari 30 Wuku yang ada. Hal ini jelas menunjukan bahwa Wayang sudah merupakan bagian integral dari kehidupan keagamaan masyarakat Bali yang beragama Hindu. Untuk lebih jelasnya aspek upacara dalam pementasan wayang Sapuleger di atas, maka akan dikutipkan jenis upakara yang dipakai dalam pementasan wayang sapuleger sebagai bagian dari upacara pengruwatan atau nyapu leger sebagai berikut.
Malih upakaran wayang sampun tiga luire : Suci asoroh maulam bebekputih, ajuman, canang gantal madaging jinah kespeha satus jinah bolong.Sesantun gede roh pat, medaging jinah 1132 bidang. Malih ring arepan dalange, sampun cumawis payuk medaging toya metatakan wanci, tur sampun medaging sekar di samping payuke 11 warna. Puput upakaran wayang kadi ring arep.
 Mangkin sang nunas toya panyapuhleger, angadengaken sanggar tawang(tuntun) taler mategul antuk benang tukelan medaging jinah 250 bidang.
Bebantene munggah ring sanggar tawang: suci asoroh maulam bebekputih, ajuman putih kuning maulam ayam putih siungan pinanggang.
Malih bebantene ring arepan kelire, luwire: sorohan babangkit asoroh, nasi barak maulam ayam biying mapukang-pukang miwah winangun urip sampian antuk don endong. Tatebasan sungsang sumbel duang tanding; tumpeng abungkul maulam ayam mapanggang 2, ngapit tumpenge; tendas siape meliatang menek aukud, meliatang tuun aukud, kacang komak mewadah tamas. Malih tatebasan sapuhleger, tumpeng abungkul matusuk carang bingin maulam ayam, majaja tabangan biyu galahan. Malih talebasan tadah kala, nasi polpolan bucu telu metaledan don candung, matatakan sapul poleng, sirah nasine bucu telu medaging getih bawi, maulam urab barak urab putih.
Malih tatebasan lara malaradan, nasi kuning mewadah takir, maulam balung, taluh medadar sami, Sami dadi adulang.
Malih tatebasan penulak baya, tatebasan pangenteng baju, tatebasanpengalang ati.
Malih daksine panebusan baya, medaging beras 8 patan, nyuh 8, taluh 8bungkul, gu.. 8 bungkul, medaging jinah kutus tali nanggu salus.
Malih buah bancangan, base gulungan wadah Sok, matanceb busungakatih madaging tuak, arak, berem, beras. Puput bebanlene penyapuhleger punika.
Demikian jenis upakara yang digunakan di dalam sebuah upacara ngruwat atau nyapuleger, tentu setiap saat ada yang menggunakan konsep utama, madia dan nista. Namun Secara umum apa yang tercantum dalam kutipan di atas, merupakan sajen (banten) yang umumnya berlaku. Setelah, dikeiahui jenis banten yang digunakan, maka selanjutnya akan dikutipkan mengenai tata cara pengruwatan atau nyapuleger beserta mantranya sebagai berikut:

Dalang raris nginkinang jagi makarya toya panyapuhleger.

Dalang ngawiten nguncarang aji kembang tur ngambil sekar putih. Yanpaing marep mangidul, astuti Betara Brahma, kapulang sekare ring payuke.

Dalang ngambil sekar ireng, yan wage marep utara, astuti Betara Wisnu,kapulang sekare ring payuke.

Dalang ngambil sekar mancawarna, yan klion ana ring tengah, astutiBetara Siwa, kapulang sekare ring payuke.

Dalang ngambil sekar 11 warna, 
mantra: 
Ong nada ya sama nada ya, sama malakwa dulur aditia, angruwatane dasamala, sakaluwiraning larawigne sumalaba de nire Sang Hiang Biksa tuwi, ulun angruwatane dasamala, mala pataka nire sang linukat, ong nada ya sama nada ya, sama nakagana, angruwatane lara raga nire sang linukat, sakaluwiring sapata upadrawa, sumalaha de nire Sang Hiang Biksa tuwi. Ulun angruwatane dasamala kapulang sekare ring payuke.
Dalang nguncarang mantra agni anglayang: 
Ong agni anglayang murubsaking wetan, sakalangan urubire, mijil de nire Batara Iswara, anglukat ujarkadung-kadung kapalisah, anggadakaen tan ana, angliyok sama-sama tumuwul agni anglayang ulun asalah mala pata nire jatma manusa kabeh, wastu sidi puning ulun ong Sri ya wenama nama swaha.
Ong agni anglayang murub saking kidul, kalangan urubire, mijil de nire Batara Brahma anglukat wong angental, andura-dura sadu, ngenda wong tan padosa amateni wang tan padosa nuduk, anumbak, anulup, amaling, ambaak, anumpung, agni anglayang ngonaning ulun, asolah mala pataka nire jatma manusa kabeh, wastu sidi pujaning ulun, ong sri ya wenama nama swaha.
Ong agni anglayang murub saking kulon, sakalangan urubire, mijil denireBatara Mahadewa. wong angreh rabining rabi, angambah marga larangan,anglayani gurune, anglayani kadang-warga, anglayani wong atua, anglayaniawiku, agni anglayang ngonanaing ulun asalah mala patakaning jatma manusakabeh, wastu sidi pujaning ulun, ong sri ya wenama nama swaha.
Ong agni anglayang murub saking lor, sakalangin urubire, mijil denireBatara Wisnu, anglukat wong aneluh amaranjana, angleak, amokpok, anesti,angupas, angracun, agni anglayang nggonaning ulun asalah mala patakaningjatma manusa kabeh, wastu sidi pujaning ulun, ong sri ya wenama nama swaha.
Ong agni anglayang murub saking madia, sakalangan urubire, mijildenire Batara Siwa, anglukat wong angikik gudig, kores, parang, udug, bujan, rumpuh, ayan, buta, tuli, bisu, cekehan, bunglon, bengkuk, kepek, sengkok, perot, gondong, borok, satus dosa lapan malaning jatma agni anglayang nggonaning ulun asalah palakaning jatma manusa kabeh, wastu sidi pujaning ulun, ong sri ya wenama nama swaha.  
Puput agni anglayang, dalang nguncarang astapungku.
Ong ang aslapungku dangascarjva Siwamret anglusrana sakwehing metu .   uku sungsang carik, katadah Kala, katitihaning bawa, Batara Siwa  angilangakena sarwa klesa upadrawa, upataning bapa-ibu, geleh-gelehing sarira tuju telung taranjana, desti prakasa, kalukat wijiling jalma, ring dina carik, carik sinambar dening carik binaksa dening mrega, pesu carik, ngengkadadak, tunggak waring, kerang-kerang macen, saluwirning klesa samangka, kalukat denire Batara Siwa, anglebur moksah saking tan ana, ong sidirastu tat astu ya namah swaha.
Panangkeb panyapuh leger.
Ong ang mang ung, sastra para atmaning wigna suda tastra sukma yanamah.
Mangkin pinih rahina kaambil kayonan punika katikne kaanyudang ringsuare ping tiga, raris kaancebang kapayuke. Mantra: "Ang ah", raris kayonanpunika kagenahang kapenpen ring kropake.

Malih kaambil acintia, taler katikne kaanyungang ring suare ping tiga raris kaencebang ring payuke, mantra: Mang.

Malih kaambil Siwa, taler katikne kaanyungang ring suare ping tiga raris kaencebang ring payuke, mantra: Ang.

Malih kaambil tualen, taler katikne kaanyungang ring suare ping tiga raris kaencebang ring payuke, mantra: Ung.

Puput mantra panyapuhleger kadt ring ajeng, samaliha wayange sami sampun mapenpen ring krapake, tur upakara sampun katurang. Raris i dalang nyimpen wayang, mantra: 
Ong ang ung yang, tatua caritam rem sanjiwaya namah.
Dalang nyaruning kelir antuk peras madaging alam ayam kuku rambut, mantra: 
Ih buta prasapa, kala wigraha, nihan sajinire sowang-sowang, ang ang amretaya namah. Raris kaelus kelir punika.
Mangkin dalang nabdabang pacang ngalukat ring wang anunas taya  panyapuhleger.
Yan lanang sang kalukat, mangda matatakan prabot lanang, luwire: lampit wiadin tenggale.
Yan istri matatakan prabot tunun.
Dalang ngetisen toya, mantra: 
Ang ung mang Siwa yogi parama sidiyam,gangga sarayu sarwatiam, amarnama manda suda ya namah. Puput.
Malih babanlen sane ring sanggar tawange (tuan) kalur ring Ida BataraSurya wireh Ida maraga saksi dijagate.


Berdasarkan hasil Pembahasan di atas, maka ada beberapa hal yang perlu di garis bawahi yang dapat ditarik sebagai sebuah simpulan. Adapun hal-hal yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  1. Seni dan agama Hindu di Bali khususnya dapat dikatakan seperti mata uang, meskipun memiliki dua dimensi, namun memiliki kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Hal ini bukan saja pada zaman sekarang, namun tradisi pertunjukan Wayang telah dibuktikan berabad-abad yang lalu baik yang termuat dalam prasasti maupun tradisi tulis-menulis lainnya. Oleh karena itu pertunjukan wayang kulit di Bali berkaitan dengan sistem upadaca yang dianut dalam agama Hindu, khususnya seni pertunjukan wayang yang berakitan dengan siklus hidup manusia Hindu.
  2. salah satu dari seni pertunjukan wayang yang sangat kental dengan nilai siklus hidup manusia yang telah disebutkan di atas adalah wayang Sapuleger. Wayang Sapuleger adalah berkaitan dengan sistem perhitungan kalender Bali (wewaran), bagaimana sesorang memaknai hidupnya berdasarkan sistem hari baik dan hari buruk dalam kelahiran anak manusia. Pantangan dalam kelahiran seperti apa yang disebut di Bali dengan istilah lekad di Tumpek Wayange sebagai indikasi seseorang perlu melakukan penyupatan atau upacara ruwatan.
  3. Di Balik pertunjukan wayang Sapuleger tersebut, ternyata sarat akan nilai-nilai ajaran agama Hindu yang terkadung di dalamnya, meskipun bingkainya berdasarkan sebuah mitos. Pengungkapan makna di Balik mitos inilah diperlukan sebuah analisis untuk mengungkapkan nilai-nilai ajaran agama Hindu dalam berbagai aspek seperti, nilai simbolik, filsafat, seni atau estetika, upacara, mitologi, nilai magis dan sebagainya.
Terakhir tentu saja pengungkapan nilai-nilai ini tidak akan mampu memberikan nilai praktis, manakala tidak kembali direnungkan di dalam benak kita masing-masing, akan hakikat dari kekuatan Maha Tunggal yang disimbolkan oleh figur-figur kedewataan dalam pementasan wayang Sapuleger tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar