Siapa Sesungguhnya yang Disembah
Siapa Sesungguhnya yang Disembah: Wujud, Nama, atau Kesadaran?
Ketika Tuhan Jadi Gambar Profil
Kita hidup di zaman ketika nama Tuhan bisa jadi stiker motor, dan wajah Tuhan bisa jadi wallpaper HP. Tapi… pertanyaannya:
Siapa sebenarnya yang kamu sembah?
Apakah gambarnya? Namanya? Ceritanya? Atau... sesuatu yang melampaui semuanya?
Banyak orang menyembah Tuhan, tapi hanya sedikit yang bertanya:
“Apa yang sebenarnya kusembah?”
Yuk, kita buka tabirnya pelan-pelan.
Apakah Kita Menyembah Wujud?
Bayangkan kamu melihat patung Krishna, Ganesha, atau Dewa lainnya. Lalu kamu sembah. Apakah kamu menyembah:
-
Bentuknya?
-
Batu atau logamnya?
-
Kisah yang melekat padanya?
Kalau kamu jawab: “Tidak, saya menyembah Tuhan yang diwakili oleh wujud itu.” Maka bagus. Tapi tetap harus diingat:
"na tasya pratimā asti" – Yajur Veda 32.3
“Tak ada gambaran atau bentuk bagi-Nya.”
Wujud bisa membantu fokus, tapi jangan dikira itulah Tuhan. Wujud hanya seperti jendela, bukan pemandangan itu sendiri.
Apakah Kita Menyembah Nama?
Banyak orang menyebut nama Tuhan ribuan kali:
Rāma Rāma… Hare Kṛṣṇa… Śiva Śiva…
Tapi, apakah menyebut nama = menyatu dengan Tuhan?
Nama adalah simbol suara, bukan hakikat.
Menyebut “air” tidak akan menghilangkan haus, kecuali kamu minum airnya.
Begitu juga dengan nama Tuhan—kalau hanya di lidah, tapi tidak dihayati dan direalisasi, ya itu hanya jadi bunyi, bukan kebenaran.
"nāma-rūpaṁ ca bhidyete" – Chāndogya Upaniṣad 6.3.2
“Nama dan bentuk hanyalah perbedaan-perbedaan luar dari hakikat yang sama.”
Ataukah Kita Menyembah Kesadaran?
Inilah yang diajarkan oleh Upaniṣad dan Bhagavad Gītā:
Tuhan bukan hanya di luar, tapi adalah Kesadaran yang menjadi dasar dari semuanya—termasuk kamu.
"ayam ātmā brahma" – Māṇḍūkya Upaniṣad 1.2
“Diri ini adalah Brahman (Tuhan).”
Jadi yang kita sembah bukan lagi bentuk atau nama, tapi Kesadaran itu sendiri, yang mengalir dalam dirimu dan segala makhluk.
Kalau Begitu, Untuk Apa Masih Ada Wujud dan Nama?
Gampangnya begini:
-
Wujud = Fokus untuk pikiran
-
Nama = Jalan masuk untuk hati
-
Kesadaran = Tujuan akhir dari jiwa
Kamu boleh mulai dengan bentuk, lanjut dengan nama, tapi jangan berhenti sampai di situ.
Sampai kapan kamu hanya memandangi foto kekasih, tapi tidak menyatu dengannya?
Tuhan bukan untuk dilihat atau diucap, tapi untuk dialami, sebagai dirimu sendiri.
Lalu Bagaimana Cara Menyembah yang Benar?
Bukan dengan gerakan tangan, tapi dengan getaran batin.
Bukan dengan suara keras, tapi dengan keheningan yang sadar.
Bukan dengan permohonan, tapi dengan pelepasan.
Bhakti yang tertinggi adalah ketika yang menyembah dan yang disembah lenyap dalam satu Kesadaran.
Jangan Terjebak di Simbol, Masuklah ke Hakikat
Simbol boleh ada. Patung boleh ada. Nama boleh disebut. Tapi tujuannya adalah Kesadaran, bukan bentuk atau suara.
Kalau kamu menyembah bentuk tapi tidak pernah menyadari kehadiran-Nya dalam dirimu,
itu seperti memuja peta tapi tak pernah pergi ke tempatnya.
"yadā paśyaḥ paśyate rukma-varṇaṃ kartāram īśaṃ puruṣaṃ brahma-yonim" – Muṇḍaka Upaniṣad 3.1.3
“Saat seseorang melihat Sang Ilahi yang bersinar keemasan, Pencipta dan Sumber segalanya—itulah saat kesadaran sejati lahir.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar